PEMBELAJARAN BAHASA BALI OLEH PENYULUH BAHASA BALI DI SD NEGERI PINGGAN, KECAMATAN KINTAMANI, KABUPATEN BANGLI
Kata Kunci:
Kurikulum Merdeka, Metode Ekspositori, Pembelajaran Bahasa Bali, Penyuluh Bahasa Bali, Respons SiswaAbstrak
Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan dan menganalisis secara mendalam tiga aspek utama pembelajaran bahasa Bali oleh Penyuluh Bahasa Bali di SD Negeri Pinggan, Kintamani, Bangli, pada kelas II, III, dan V, meliputi perencanaan pembelajaran, metode pembelajaran yang diterapkan, serta respons yang ditunjukkan siswa. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif fenomenologi; data dikumpulkan melalui observasi non-partisipan, wawancara semi-terstruktur, dan dokumentasi, kemudian dianalisis melalui reduksi data, penyajian data, serta penarikan simpulan. Kerangka analisis mengintegrasikan tiga teori, yaitu Teori Behaviorisme untuk meninjau kondisi pembelajaran, Teori Konstruktivisme sebagai dasar pengembangan metode, dan Teori Koneksionisme untuk melihat dinamika stimulus-respons siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perencanaan pembelajaran telah disusun berbasis Capaian Pembelajaran Kurikulum Merdeka secara bergradasi serta mengintegrasikan nilai kearifan lokal pertanian dan lingkungan alam Kintamani. Metode utama yang diterapkan penyuluh adalah metode ekspositori terstruktur yang dipadukan dengan pendekatan kontekstual-humanis, tanya jawab dua arah, dan latihan motorik halus menulis huruf tegak bersambung. Respons siswa kelas II, III, dan V menunjukkan hasil positif pada ranah kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Disimpulkan bahwa pembelajaran bahasa Bali oleh Penyuluh Bahasa Bali di SD Negeri Pinggan telah memenuhi standar pedagogi modern yang berorientasi pada siswa.
This study aims to describe and analyze in depth three main aspects of Balinese language learning conducted by the Balinese Language Extension Officer at SD Negeri Pinggan, Kintamani, Bangli, in grades II, III, and V, covering lesson planning, the teaching methods applied, and student responses. The study employs a qualitative approach with a phenomenological-descriptive method; data were collected through non-participant observation, semi-structured interviews, and documentation, then analyzed through data reduction, data display, and conclusion drawing. The analytical framework integrates three theories: Behaviorism to examine learning conditions, Constructivism as the basis for method development, and Connectionism to observe the dynamics of student stimulus-response. The results show that lesson planning has been graded according to the Learning Outcomes of the Merdeka Curriculum and integrates local wisdom values of Kintamani's agrarian environment. The main method applied by the extension officer is a structured expository method combined with a contextual-humanistic approach, two-way question-and-answer sessions, and fine motor exercises such as cursive handwriting. Student responses in grades II, III, and V showed positive results across cognitive, affective, and psychomotor domains. It is concluded that Balinese language learning by the Balinese Language Extension Officer at SD Negeri Pinggan has met modern student-centered pedagogical standards.




