Jurnal Kajian Ilmiah Multidisipliner
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkim
id-IDJurnal Kajian Ilmiah MultidisiplinerALIH KODE DALAM BUKU CERPEN PARUMAN BETARA KARYA I WAYAN SADHA: KAJIAN SOSIOLINGUISTIK
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkim/article/view/21772
<p>Penelitian ini mengkaji fenomena alih kode (code switching) dalam buku kumpulan cerpen Paruman Betara karya I Wayan Sadha dengan pendekatan sosiolinguistik. Tujuan penelitian adalah untuk mendeskripsikan wujud alih kode dan fungsi alih kode yang terdapat dalam lima cerpen terpilih dari kumpulan tersebut. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa studi dokumen dan studi pustaka. Data dianalisis melalui tahapan reduksi data, penyajian data, verifikasi, dan penarikan simpulan. Teori yang digunakan adalah Tipologi Pinjaman Bahasa dari Einar Haugen serta Tipologi Alih Kode dari Blom dan Gumperz untuk menganalisis wujud alih kode, dan Teori Fungsi Bahasa dari M.A.K. Halliday untuk menganalisis fungsinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa alih kode dalam kumpulan cerpen Paruman Betara terbagi menjadi dua wujud utama, yaitu: (1) alih kode internal yang mencakup peralihan antarbahasa Bali dengan variasi tingkat tutur (sor singgih basa) dan peralihan ke bahasa Indonesia; dan (2) alih kode eksternal yang melibatkan unsur bahasa asing seperti bahasa Inggris dan bahasa Jawa. Di samping itu, ditemukan pula fenomena campur kode (code mixing) serta tipologi multilingual berupa ekabahasawan dan dwibahasawan. Adapun fungsi alih kode yang ditemukan meliputi fungsi instrumental, regulasi, representasional, interaksional, personal, heuristik, dan imajinatif. Penelitian ini menegaskan bahwa alih kode dalam karya sastra Bali modern bukan sekadar fenomena linguistik, melainkan representasi dinamika sosial, budaya, dan identitas masyarakat Bali kontemporer.</p> <p><em>This study examines the phenomenon of code switching in the short story anthology Paruman Betara by I Wayan Sadha through a sociolinguistic approach. The research aims to describe the forms and functions of code switching found in five selected short stories from the collection. A qualitative descriptive method was employed, with data collected through document study and literature review. Data were analyzed through stages of reduction, display, verification, and conclusion drawing. The study applies the Loan Typology Theory by Einar Haugen and Code Switching Typology by Blom and Gumperz to analyze the forms of code switching, and M.A.K. Halliday's Language Function Theory to analyze its functions. The results reveal that code switching in Paruman Betara manifests in two main forms: (1) internal code switching, encompassing shifts within Balinese language varieties (sor singgih basa) and switches to Indonesian; and (2) external code switching involving foreign language elements such as English and Javanese. Additionally, code mixing phenomena and multilingual typologies (monolingual and bilingual) were identified. The functions of code switching include instrumental, regulatory, representational, interactional, personal, heuristic, and imaginative functions. This research affirms that code switching in modern Balinese literary works is not merely a linguistic phenomenon but represents the social, cultural, and identity dynamics of contemporary Balinese society.</em></p>Ni Kadek Arisma DewiI Made WiradnyanaI Kadek Widiantana
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kajian Ilmiah Multidisipliner
2026-05-302026-05-30105PERAN MEDIA SOSIAL DALAM MEMBENTUK OPINI PUBLIK TERHADAP REFORMASI HUKUM
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkim/article/view/21510
<p>Perkembangan media sosial saat ini telah membawa perubahan besar dalam cara masyarakat membentuk sekaligus menyampaikan opini publik, termasuk ketika menanggapi isu-isu reformasi hukum. penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana media sosial berperan sebagai ruang diskusi publik yang memengaruhi cara pandang, sikap, serta keterlibatan masyarakat terhadap agenda reformasi hukum di Indonesia. dengan menggunakan pendekatan sosiologi hukum, penelitian ini menyoroti hubungan antara struktur hukum, budaya hukum, dan pengaruh media sosial sebagai faktor eksternal yang turut membentuk tingkat kesadaran hukum masyarakat. metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif melalui studi literatur dan analisis terhadap fenomena yang berkembang di ruang digital. hasil kajian menunjukkan bahwa media sosial memiliki pengaruh yang cukup besar dalam mempercepat penyebaran informasi terkait hukum, membentuk opini publik secara luas, serta mendorong partisipasi masyarakat dalam mengawasi kebijakan hukum. Namun demikian, di balik peran positif tersebut, media sosial juga memiliki potensi negatif, seperti penyebaran informasi yang tidak akurat, munculnya fenomena “pengadilan oleh publik”, serta polarisasi opini yang dapat memengaruhi objektivitas dalam penegakan hukum. oleh karena itu, diperlukan peningkatan literasi digital di masyarakat serta peran aktif negara dalam mengelola ruang digital, agar tetap mendukung terciptanya sistem hukum yang adil, seimbang, dan responsif terhadap kebutuhan sosial.</p> <p><em>The current development of social media has brought about significant changes in the way society forms and expresses public opinion, including when responding to legal reform issues. This study aims to understand how social media acts as a public discussion space that influences public perspectives, attitudes, and engagement with the legal reform agenda in Indonesia. Using a sociological-legal approach, this study highlights the relationship between legal structure, legal culture, and the influence of social media as external factors that contribute to shaping public legal awareness. The method used in this research is qualitative through literature review and analysis of emerging phenomena in the digital space. The results indicate that social media has a significant influence in accelerating the dissemination of legal information, shaping public opinion broadly, and encouraging public participation in oversight of legal policies. However, despite these positive roles, social media also has negative potential, such as the spread of inaccurate information, the emergence of the "trial by the public" phenomenon, and the polarization of opinion that can affect objectivity in law enforcement. Therefore, increased digital literacy in the community and an active role for the state in managing the digital space are needed to support the creation of a legal system that is fair, balanced, and responsive to social needs.</em></p>Sinari TelaumbanuaStince SidayangCelsi Aer
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kajian Ilmiah Multidisipliner
2026-05-302026-05-30105ANALISIS KUALITATIF PERAN FLEKSIBILITAS KERJA DAN WORK-LIFE BALANCE DALAM MEMBENTUK LOYALITAS KARYAWAN GENERASI Z
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkim/article/view/21875
<p>Perubahan dunia kerja pascapandemi telah mendorong organisasi untuk meninjau ulang strategi pengelolaan sumber daya manusia, terutama dalam menghadapi masuknya Generasi Z ke dunia kerja. Generasi Z memiliki karakteristik yang berbeda dari generasi sebelumnya karena tumbuh dalam lingkungan digital, terbiasa dengan teknologi, serta memiliki perhatian besar terhadap fleksibilitas kerja, keseimbangan kehidupan kerja dan pribadi, serta makna dalam pekerjaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara kualitatif peran fleksibilitas kerja dan work-life balance dalam membentuk loyalitas karyawan Generasi Z. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka, yaitu mengkaji berbagai artikel jurnal, buku, dan sumber ilmiah yang relevan pada periode 2020–2025. Hasil kajian menunjukkan bahwa fleksibilitas kerja berperan penting dalam meningkatkan otonomi, kenyamanan, efisiensi kerja, serta kepuasan karyawan Generasi Z. Sementara itu, work-life balance membantu karyawan menjaga kesehatan mental, mengurangi stres, meningkatkan keterikatan kerja, dan memperkuat keinginan untuk bertahan dalam organisasi. Namun, fleksibilitas kerja tidak secara otomatis menciptakan loyalitas apabila tidak didukung oleh komunikasi yang jelas, keadilan kebijakan, dukungan atasan, budaya kerja sehat, dan peluang pengembangan karier. Penelitian ini menyimpulkan bahwa loyalitas karyawan Generasi Z bukan hanya dibentuk oleh gaji atau status pekerjaan, tetapi juga oleh pengalaman kerja yang memberi ruang bagi keseimbangan, kepercayaan, perkembangan diri, dan kesesuaian nilai antara karyawan dan organisasi.</p> <p><em>Post-pandemic workplace transformation has encouraged organizations to reconsider their human resource management strategies, particularly in responding to the growing presence of Generation Z employees in the workforce. Generation Z has different characteristics from previous generations because they grew up in a digital environment, are accustomed to technology, and place high importance on work flexibility, work-life balance, and meaningful work. This study aims to qualitatively analyze the role of work flexibility and work-life balance in shaping Generation Z employee loyalty. This research uses a qualitative method with a library research approach by reviewing relevant journal articles, books, and scientific sources published between 2020 and 2025. The findings indicate that work flexibility plays an important role in increasing autonomy, comfort, work efficiency, and job satisfaction among Generation Z employees. Meanwhile, work-life balance helps employees maintain mental well-being, reduce stress, improve work engagement, and strengthen their intention to remain in the organization. However, work flexibility does not automatically create loyalty if it is not supported by clear communication, fair policies, supervisor support, a healthy work culture, and career development opportunities. This study concludes that Generation Z employee loyalty is not only shaped by salary or employment status, but also by work experiences that provide balance, trust, self-development, and alignment between employee values and organizational values.</em></p>Jovita Nurul LestariAulia SapinaSarah Ramadani
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kajian Ilmiah Multidisipliner
2026-05-302026-05-30105TANTANGAN HUKUM KELUARGA ISLAM DALAM DINAMIKA KEHIDUPAN MODERN: ANALISIS TERHADAP IMPLEMENTASI PERATURAN DI INDONESIA
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkim/article/view/21758
<p>Hukum Keluarga Islam (faraidh) menghadapi berbagai tantangan dalm kehidupan modern di Imdonesia, di mana nilai-nilai traditional bertemu dengan dinamika sosial seperti urbanisasi, teknologi, dan hak perempuan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan analisis yuirdis normatif untuk mengkaji implementasi peraturan seperti Undang-Undang Perkawinan no.1/1974, kompilasi Hukum Islam (KHI), dan putusan mahkamah terkait konstitusi poligami serta hak waris. Data dikumpulkan dari literatur primer (UU dan fatwa MUI) dan sekunder (jurnal, buku). Temuan menunjukan tantangan utama berupa konflik antara Syariah dan Pancasila, ketak adilan gender dalam warisan dan cerai, serta adaptasi dalam pernikahan beda agama. Teori ijtihad kontekstal (Abdullah Ahmed an-Na’im) dan maqasid syariah (Jasser Auda) digunakan untuk analisis. Penelitian merekomendasikan reformasi KHI agar lebih insklusif.</p> <p><em>Islamic family law (faraidh) faces various challenges in modern-day Indonesia, where traditional values intersect with social dynamics such as urbanization, technology, and women’s rights. This study employs a qualitative method with a normative legal analysis approach to examine the implementation of regulations such as the Marriage Law No. 1/1974, the Compilation of Islamic Law (KHI), and Constitutional Court rulings regarding polygamy and inheritance rights. Data were collected from primary sources (laws and MUI fatwas) and secondary sources (journals, books). Findings reveal key challenges, including conflicts between Sharia and Pancasila, gender inequality in inheritance and divorce, and adaptation to interfaith marriages. The theories of contextual ijtihad (Abdullah Ahmed an-Na'im) and maqasid al-sharia (Jasser Auda) were used for analysis. The study recommends reforming the KHI to make it more inclusive.</em></p>M. Fikry Hilmanul Hakim
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kajian Ilmiah Multidisipliner
2026-05-302026-05-30105ANALISIS EVOLUSI VISUAL REWORK SKILL DRAGONKNIGHT DI VIDEO GAME THE ELDER SCROLLS ONLINE TERHADAP PENGALAMAN PEMAIN ESO INDONESIA
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkim/article/view/22385
<p>Perubahan visual dalam game tidak hanya berfungsi sebagai elemen estetika, tetapi juga memengaruhi pengalaman pemain selama gameplay berlangsung. Penelitian ini membahas pengaruh visual rework class Dragonknight pada update tahun 2026 di The Elder Scrolls Online terhadap persepsi pemain komunitas ESO Indonesia. Penelitian menggunakan metode mixed methods melalui observasi visual, dokumentasi gameplay, dan penyebaran kuesioner kepada pemain aktif. Analisis dilakukan melalui perbandingan visual before-after pada skill Molten Whip, Dragonfire, Earthspike Mantle, dan Dragon Blood. Hasil penelitian menunjukkan bahwa visual rework meningkatkan combat readability, game feel, dan kepuasan bermain pemain. Molten Whip dan Dragonfire menjadi skill yang paling diapresiasi karena visualnya lebih jelas dan impactful. Sementara itu, Dragon Blood dan Earthspike Mantle mendapatkan respons beragam karena beberapa pemain merasa perubahan visualnya mengurangi identitas dan pengaruh skill dibanding versi sebelumnya. Penelitian ini menunjukkan bahwa desain visual dalam MMORPG berpengaruh terhadap pengalaman emosional, keterbacaan pertarungan, dan keterikatan pemain terhadap identitas visual kelas.</p> <p><em>Visual changes in video games do not only function as aesthetic elements, but also influence player experience during gameplay. This study discusses the impact of the Dragonknight visual rework in the 2026 update of The Elder Scrolls Online on the perceptions of the Indonesian ESO community. The research used a mixed methods approach through visual observation, gameplay documentation, and questionnaire distribution to active players. The analysis was conducted through before-after visual comparisons of the Molten Whip, Dragonfire, Earthspike Mantle, and Dragon Blood skills. The results show that the visual rework improved combat readability, game feel, and player satisfaction. Molten Whip and Dragonfire received the most positive responses due to their clearer and more impactful visuals. Meanwhile, Dragon Blood and Earthspike Mantle received mixed responses because some players felt that the visual changes reduced the identity and impact of the skills compared to their previous versions. This study shows that visual design in MMORPGs influences emotional experience, combat readability, and players’ attachment to class visual identity.</em></p>Khansa Adyudina SyakirahChairunisaAzizah Nur AuliaMuawan Bisri
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kajian Ilmiah Multidisipliner
2026-05-312026-05-31105METODE LANGSUNG DALAM PEMBELAJARAN GENDING JANGER BANJAR BENGKEL, DESA SUMERTA KELOD, KECAMATAN DENPASAR TIMUR, DENPASAR
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkim/article/view/21839
<p>Gending Janger merupakan salah satu bentuk kesenian tradisional Bali yang memiliki fungsi sebagai hiburan sekaligus media pewarisan nilai budaya kepada masyarakat. Salah satu kelompok Janger yang masih aktif melestarikan tradisi tersebut adalah Janger Banjar Bengkel, Desa Sumerta Kelod, Denpasar Timur. Keberadaan Janger Banjar Bengkel tidak hanya mempertahankan bentuk pertunjukan tradisional, tetapi juga menjaga proses regenerasi pragina melalui pembelajaran gending secara turun-temurun. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, studi dokumen, dan kepustakaan, kemudian dianalisis menggunakan teori struktural, teori behavioristik, dan teori semiotika. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur Gending Janger Banjar Bengkel terdiri atas empat bagian utama, yaitu gending pangaksama, papeson, pangawak, dan mulih yang membentuk satu kesatuan pertunjukan secara utuh. Pembelajaran gending dilaksanakan melalui metode langsung dengan proses mendengar, menirukan, latihan berulang, serta penguatan berupa motivasi dan koreksi dari pelatih. Selain itu, Gending Janger Banjar Bengkel mengandung berbagai makna, seperti makna religius, sosial, gotong royong, etika, estetika, nasionalisme, pendidikan moral, serta hubungan manusia dengan alam. Dengan demikian, Gending Janger Banjar Bengkel tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media pendidikan budaya dan pelestarian tradisi lisan Bali.</p> <p><em>Gending Janger is one of the traditional Balinese performing arts that functions not only as entertainment but also as a medium for transmitting cultural values within society. One of the Janger groups that continues to preserve this tradition is Janger Banjar Bengkel in Sumerta Kelod Village, East Denpasar. The existence of Janger Banjar Bengkel reflects not only the preservation of traditional performances, but also the continuity of performer regeneration through the hereditary learning process of Janger songs. This study employed a qualitative approach with a descriptive method. Data were collected through observation, interviews, document studies, and literature reviews, then analyzed using structural theory, behavioristic theory, and semiotic theory. The findings revealed that the structure of Gending Janger Banjar Bengkel consists of four main parts, namely pangaksama, papeson, pangawak, and mulih, which form a unified performance structure. The learning process is carried out through a direct method involving listening, imitation, repetitive practice, and reinforcement in the form of motivation and correction from the instructors. This process is in line with Albert Bandura’s social learning theory, Edward Thorndike’s law of exercise, and B. F. Skinner’s positive reinforcement theory. In addition, Gending Janger Banjar Bengkel contains various meanings, including religious, social, mutual cooperation, ethical, aesthetic, nationalism, moral education, and human–nature relationship values. Therefore, Gending Janger Banjar Bengkel serves not only as entertainment, but also as a medium for cultural education and the preservation of Balinese oral traditions.</em></p> <p>Gending Janger merupakan salah satu bentuk kesenian tradisional Bali yang memiliki fungsi sebagai hiburan sekaligus media pewarisan nilai budaya kepada masyarakat. Salah satu kelompok Janger yang masih aktif melestarikan tradisi tersebut adalah Janger Banjar Bengkel, Desa Sumerta Kelod, Denpasar Timur. Keberadaan Janger Banjar Bengkel tidak hanya mempertahankan bentuk pertunjukan tradisional, tetapi juga menjaga proses regenerasi pragina melalui pembelajaran gending secara turun-temurun. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, studi dokumen, dan kepustakaan, kemudian dianalisis menggunakan teori struktural, teori behavioristik, dan teori semiotika. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur Gending Janger Banjar Bengkel terdiri atas empat bagian utama, yaitu gending pangaksama, papeson, pangawak, dan mulih yang membentuk satu kesatuan pertunjukan secara utuh. Pembelajaran gending dilaksanakan melalui metode langsung dengan proses mendengar, menirukan, latihan berulang, serta penguatan berupa motivasi dan koreksi dari pelatih. Selain itu, Gending Janger Banjar Bengkel mengandung berbagai makna, seperti makna religius, sosial, gotong royong, etika, estetika, nasionalisme, pendidikan moral, serta hubungan manusia dengan alam. Dengan demikian, Gending Janger Banjar Bengkel tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media pendidikan budaya dan pelestarian tradisi lisan Bali.</p> <p><em>Gending Janger is one of the traditional Balinese performing arts that functions not only as entertainment but also as a medium for transmitting cultural values within society. One of the Janger groups that continues to preserve this tradition is Janger Banjar Bengkel in Sumerta Kelod Village, East Denpasar. The existence of Janger Banjar Bengkel reflects not only the preservation of traditional performances, but also the continuity of performer regeneration through the hereditary learning process of Janger songs. This study employed a qualitative approach with a descriptive method. Data were collected through observation, interviews, document studies, and literature reviews, then analyzed using structural theory, behavioristic theory, and semiotic theory. The findings revealed that the structure of Gending Janger Banjar Bengkel consists of four main parts, namely pangaksama, papeson, pangawak, and mulih, which form a unified performance structure. The learning process is carried out through a direct method involving listening, imitation, repetitive practice, and reinforcement in the form of motivation and correction from the instructors. This process is in line with Albert Bandura’s social learning theory, Edward Thorndike’s law of exercise, and B. F. Skinner’s positive reinforcement theory. In addition, Gending Janger Banjar Bengkel contains various meanings, including religious, social, mutual cooperation, ethical, aesthetic, nationalism, moral education, and human–nature relationship values. Therefore, Gending Janger Banjar Bengkel serves not only as entertainment, but also as a medium for cultural education and the preservation of Balinese oral traditions.</em></p>Ni Putu Diah FebriyantiGek Diah Desi SentanaGede Agus Budi Adnyana
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kajian Ilmiah Multidisipliner
2026-05-302026-05-30105ANALISIS METODOLOGI PENELITIAN HUKUM NORMATIF DAN EMPIRIS DALAM PENYUSUNAN PROPOSAL TESIS
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkim/article/view/21682
<p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan metodologi penelitian hukum normatif dan empiris dalam penyusunan proposal tesis pada Program Magister Hukum serta mengkaji integrasi kedua pendekatan tersebut melalui studi kasus putusan Mahkamah Agung. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan, konseptual, dan kasus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelemahan utama mahasiswa terletak pada ketidaksesuaian antara rumusan masalah dan metode penelitian. Studi kasus Putusan Mahkamah Agung Nomor 46 PK/TUN/2011 menunjukkan pentingnya pendekatan empiris dalam memahami implementasi norma hukum. Penelitian ini menemukan kebaruan berupa model integratif metodologi hukum berbasis “normative-empirical alignment” dalam penyusunan proposal tesis.</p> <p><em>This study analyzes the application of normative and empirical legal research methodologies in preparing thesis proposals in Master of Law programs and examines their integration through a Supreme Court case study. Using a normative juridical method with statutory, conceptual, and case approaches, the study finds that the main weakness of students lies in the mismatch between research problems and methodology. The case of Supreme Court Decision No. 46 PK/TUN/2011 highlights the importance of empirical approaches in understanding legal implementation. The novelty of this research is the integrative model of “normative-empirical alignment” in thesis proposal design.</em></p>Irwan SoeharlimSiti HumulhaerHikmat AnsoriSupriadiSukirmanMuhammad Ruhunussa
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kajian Ilmiah Multidisipliner
2026-05-302026-05-30105UBAH STIGMA, SELAMATKAN MASA DEPAN : SOSIALISASI PENCEGAHAN BAHAYA NARKOBA DAN REHABILITASI SEBAGAI LANGKAH PULIH KORBAN PENYALAHGUNAAN NARKOBA DI SISWA SMP NEGERI 3 PALU
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkim/article/view/22153
<p>Penyalahgunaan narkoba di kalangan siswa menjadi isu yang harus mendapatkan perhatian serius karena dapat merusak kesehatan, pendidikan, dan masa depan generasi muda. Minimnya pemahaman siswa tentang risiko narkotika, dampak hukum yang timbul dari penyalahgunaan narkotika, serta informasi tentang rehabilitasi yang berkontribusi pada terus munculnya stigma negatif terhadap korban penyalahgunaan narkotika. Banyak siswa yang masih beranggapan bahwa pengguna narkotika hanya layak dihukum dan dipenjara tanpa menyadari bahwa rehabilitasi adalah salah satu bentuk pemulihan yang diatur dalam hukum di Indonesia. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran siswa mengenai ancaman narkotika serta pentingnya rehabilitasi melalui sosialisasi dan penyuluhan hukum di SMP Negeri 3 Palu yang bekerja sama dengan BNN Kota Palu. Metode yang dipakai melalui sosialisasi, pendidikan hukum, diskusi interaktif, sesi tanya jawab, dan observasi. Materi yang disampaikan mencakup definisi narkotika, akibat dari penyalahgunaan narkotika, peraturan hukum yang berhubungan dengan narkotika, serta signifikansi rehabilitasi bagi para korban penyalahgunaan narkotika. Hasil dari kegiatan ini menunjukan siswa lebih paham untuk meghindari narkotika dan mengurangi stigma negatif terhadap para korban penyalahgunaan narkotika.</p>Yayuk Arini Isabel MadudeAuliya PutriFirly AnandaTatssa ZiziliaNuraimanMuh Ficqhi Taufik Insan
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kajian Ilmiah Multidisipliner
2026-05-302026-05-30105ANALISIS DESAIN KARAKTER DALAM VIDEO GAME PRAGMATA SEBAGAI MEDIA PENYAMPAIAN IDENTITAS DAN NARASI
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkim/article/view/21802
<p>Penelitian ini meneliti desain karakter dalam Pragmata, game yang dibuat oleh Capcom untuk media hiburan sekaligus penyampaian identitas dan narasi visual dalam video game bergenre fiksi ilmiah. Kajian ini berfokus pada latar belakang perkembangan desain karakter dalam video game modern yang tidak hanya berfungsi sebagai elemen estetis, tetapi juga sebagai sarana komunikasi visual yang mampu merepresentasikan identitas yang kuat pada tiap tokoh, emosi yang mendalam, dan tema cerita yang mampu tersampaikan dengan baik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi literatur dan analisis semiotika visual melalui pengamatan saya selama memainkan game dan mempelajari tiap detailnya, artwork promosi dan cara promosinya yang unik, serta data dokumentasi visual Pragmata. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa desain karakter dalam Pragmata memuat berbagai simbol visual yang menonjolkan hubungan unik antara manusia dan teknologi khususnya AI. Karakter utama pria bernama Hugh divisualisasikan sebagai simbol eksplorasi yang terasa emosional dengan perkembangan karakter yang cukup acuh sampai berproses seperti sosok ayah yang mengajar anaknya nilai-nilai filosofis kehidupan dan rela berkorban, di tengah isolasi, dan ketahanan manusia di lingkungan futuristik dengan latar tempat bulan di masa depan, sedangkan karakter anak perempuan Diana dengan nama asli D-I-03367 merepresentasikan kecerdasan buatan yang lebih cerdas dari AI itu sendiri karena ia terasa seakan memiliki jiwa anak-anak pada umumnya walaupun ia teknologi melalui elemen holografik untuk meretas namun ekspresi emosionalnya sangat menyerupai anak polos yang perlu belajar banyak hal. Selain itu, interaksi visual antara kedua karakter berfungsi sebagai media penyampaian narasi tanpa dominasi dialog verbal yang berlebihan. Penelitian ini menunjukkan bahwa desain karakter dalam Pragmata tidak hanya membangun identitas visual permainan, tetapi juga memperkuat penyampaian tema naratif dan pengalaman emosional pemain melalui pendekatan visual yang simbolis dan sinematiknya yang apik.</p>Ryan SetyawanMuawan BisriYugo Dwi Prasetio
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kajian Ilmiah Multidisipliner
2026-05-302026-05-30105DINAMIKA KORUPSI DI INDONESIA: ANALISIS FAKTOR PENYEBAB DAN STRATEGI PENCEGAHAN BERBASIS PENGUATAN SISTEM HUKUM DAN INTEGRITAS PUBLIK
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkim/article/view/21631
<p>Artikel ini bertujuan untuk menganalisis dinamika korupsi di Indonesia, analisis faktor penyebab dan strategi pencegahan berbasis penguatan sistem hukum dan integritas publik. Faktor penyebab dan strategi pecegahan ini bertujuan untuk mengatasi tindakan korupsi di Indonesia. Metode yang digunakan dalam tulisan ini adalah metode kepustakan dengan mengalisis sumber-sumber dari buku. Hasil penelitian menunjukan bahwa korupsi di Indonesia tidak bisa dipandang sebagai kasus terpisah melainkan sebagai gejala struktural dalam sistem Pemerintahan yang memerlukan pendekatan multidimensional untuk menanganinya. Dampak korupsi di Indonesia sangat luas dan multidimensioanl. Dari segi ekonomi korupsi menghambat pertumbuhan, mengurangi efisiensi, dan merusak iklim investasi. sedangkan dari sisi politik dan sosial, korupsi menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah, melemahkan legitimasi institusi demokrasi, serta memperluas ketimpangan sosial akibat alokasi sumber daya negara yang tidak tepat sasaran. Kerugian makro dan mikro yang ditimbulkan korupsi menunjukkan bahwa fenomena ini bukan sekadar pelanggaran hukum, tetapi sebuah ancaman terhadap pembangunan nasional dan stabilitas negara. Hasil penelitian diharapkan mampu memberikan pemahaman kepada masyarakata bahwa korupsi memberikan dampak yang buruk bagi kesejahteraan bangsa.</p> <p><em>This article aims to analyze the dynamics of corruption in Indonesia, analyzing its causal factors and prevention strategies based on strengthening the legal system and public integrity. These causal factors and prevention strategies aim to address corruption in Indonesia. The method used in this paper is a library method, analyzing sources from books. The results of the study indicate that corruption in Indonesia cannot be viewed as an isolated case but as a structural phenomenon within the government system that requires a multidimensional approach to address. The impact of corruption in Indonesia is extensive and multidimensional. From an economic perspective, corruption hampers growth, reduces efficiency, and damages the investment climate. Meanwhile, from a political and social perspective, corruption undermines public trust in the government, weakens the legitimacy of democratic institutions, and widens social inequality due to the inefficient allocation of state resources. The macro and micro losses caused by corruption demonstrate that this phenomenon is not simply a violation of the law, but a threat to national development and state stability. The results of this study are expected to provide public understanding that corruption has a negative impact on the nation's welfare.</em></p>Yohanes De NggeduWilhelmus RanggaSilvanus Asa
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kajian Ilmiah Multidisipliner
2026-05-302026-05-30105HUKUM HINDU SEBAGAI SUMBER ETIKA DAN MORAL BAGI MAHASISWA
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkim/article/view/22092
<p>Mahasiswa merupakan representasi entitas intelektual yang memegang peranan sentral dalam transformasi sosial dan moral masyarakat. Namun, tantangan globalisasi dan disrupsi nilai sering kali menjerumuskan civitas akademika ke dalam krisis moralitas, seperti pelanggaran integritas akademik dan perilaku amoral lainnya. Artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi secara komprehensif kedudukan Hukum Hindu sebagai sumber etika dan moral bagi mahasiswa. Dengan menggunakan metode studi literatur terhadap sumber hukum suci (Sruti dan Smrti) serta hasil penelitian multidisipliner, kajian ini meninjau integrasi nilai-nilai Dharma, Susila, Tri Kaya Parisudha, Catur Purusa Artha, dan doktrin Karma Phala. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa Hukum Hindu menyediakan kerangka kerja etis yang mampu bertindak sebagai instrumen kontrol diri (self-control) dan pemandu perilaku mahasiswa dalam mencapai keberhasilan akademik yang bermartabat.</p>Made WidhiyanaNi Komang Sekar Devi PatraPutu Vella Elisa
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kajian Ilmiah Multidisipliner
2026-05-302026-05-30105TRADISI NENDOK BATUR MASYARAKAT ETNIS PASER PEMBESI DI KABUPATEN PASER TAHUN 1997–2002
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkim/article/view/21773
<p>Penelitian ini mengkaji tradisi Nendok Batur pada masyarakat Etnis Paser Pembesi di Kabupaten Paser pada tahun 1997–2002. Tradisi Nendok Batur merupakan ritual pemasangan batu nisan (batur mesan) sebagai bentuk penghormatan kepada orang yang telah meninggal dunia sekaligus penanda identitas keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui asal-usul tradisi, makna dan nilai, serta perubahan sosial dan ekonomi yang memengaruhi pelaksanaannya ritual tersebut. Adapun yang digunakan dalam penelitian ini yakni metode sejarah yang meliputi heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Sementara itu, teknik pengumpulan data diperoleh melalui wawancara dengan tokoh adat dan masyarakat, serta studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Nendok Batur telah dilaksanakan secara turun-temurun dan memiliki makna spiritual, sosial, dan budaya. Pada periode 1997–2002 terjadi perubahan sosial ekonomi yang berdampak pada penyesuaian pelaksanaan tradisi, seperti penggunaan bahan nisan modern dan penyederhanaan beberapa tahapan ritual. Namun demikian, makna dan nilai tetap dipertahankan oleh masyarakat sebagai bagian dari identitas Budaya masyarakat Etnis Paser Pembesi di Kabupaten Paser.</p> <p><em>This study examines the Nendok Batur tradition among the Paser Pembesi ethnic group in Paser Regency from 1997 to 2002. The Nendok Batur tradition is a ritual of installing a tombstone (batur mesan) as a form of respect for the deceased and as a marker of family identity. This study aims to determine the origins of the tradition, its meaning and values, as well as the social and economic changes that influence its implementation. The historical method used in this study includes heuristics, source criticism, interpretation, and historiography. Meanwhile, data collection techniques were obtained through interviews with traditional and community leaders, as well as documentation studies. The results of the study indicate that the Nendok Batur tradition has been carried out for generations and has spiritual, social, and cultural significance. In the period 1997 to 2002, socio-economic changes occurred that impacted the implementation of the tradition, such as the use of modern tombstone materials and the simplification of several ritual stages. However, the meaning and values are still maintained by the community as part of the cultural identity of the Paser Pembesi ethnic group in Paser Regency.</em></p>Meysa EvitriSainal A.NorhidayatMuhamad Sopyan
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kajian Ilmiah Multidisipliner
2026-05-302026-05-30105IMPLEMENTASI HAK ASASI MANUSIA DALAM SISTEM HUKUM INDONESIA
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkim/article/view/21549
<p>Hak asasi manusia merupakan hak dasar yang melekat pada setiap manusia sejak lahir sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa. Hak ini bersifat universal dan tidak dapat dicabut oleh siapa pun, sehingga negara memiliki kewajiban untuk menghormati, melindungi, dan memenuhi hak asasi manusia bagi setiap warga negara. Di Indonesia, pengaturan mengenai hak asasi manusia telah diakomodasi dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 serta berbagai peraturan perundang-undangan lainnya. Namun demikian, dalam praktiknya, implementasi hak asasi manusia dalam sistem hukum nasional masih menghadapi berbagai tantangan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi hak asasi manusia dalam sistem hukum nasional Indonesia, mengidentifikasi kendala yang dihadapi, serta mengkaji upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan perlindungan hak asasi manusia. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan konseptual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara normatif Indonesia telah memiliki perangkat hukum yang memadai dalam menjamin hak asasi manusia. Akan tetapi, dalam implementasinya masih terdapat berbagai kendala, seperti lemahnya penegakan hukum, rendahnya kesadaran hukum masyarakat, serta belum optimalnya peran lembaga penegak hukum. Oleh karena itu, diperlukan upaya yang komprehensif melalui penguatan penegakan hukum, peningkatan kesadaran masyarakat, serta optimalisasi peran lembaga terkait dalam menjamin perlindungan hak asasi manusia.</p> <p><em>Human rights are fundamental rights inherent in every human being and must be protected by the state. These rights are universal and cannot be revoked, therefore the state has an obligation to respect, protect, and fulfill human rights for every citizen. In Indonesia, the regulation of human rights has been accommodated in the 1945 Constitution of the Republic of Indonesia, as well as in various laws and regulations.However, in practice, the implementation of human rights within the national legal system still faces various challenges. This study aims to analyze the implementation of human rights in Indonesia’s national legal system, identify the obstacles encountered, and examine the efforts that can be undertaken to improve the protection of human rights. The research method used is normative juridical, with statutory and conceptual approaches. The results show that, normatively, Indonesia already has adequate legal instruments to guarantee human rights. However, in its implementation, there are still various obstacles, such as weak law enforcement, low public legal awareness, and the suboptimal role of law enforcement institutions. Therefore, comprehensive efforts are required through strengthening law enforcement, increasing public awareness, and optimizing the role of related institutions in ensuring the protection of human rights.</em></p>Utia Ulan DariFasa Ranel
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kajian Ilmiah Multidisipliner
2026-05-302026-05-30105ANALISIS TRADISI BERBURU MASYARAKAT NGADA DALAM PERSPEKTIF ORDO AMORIS BERDASARKAN PEMIKIRAN AGUSTINUS DARI HIPPO: KAJIAN FILOSOFIS KRITIS KONTEKSTUAL
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkim/article/view/22074
<p>Tradisi berburu dalam masyarakat Ngada merupakan praktik kultural yang mengandung nilai sosial, ekologis, dan spiritual, namun juga mamunculkan pertanyaan etis dalam konteks modern. Penelitian ini bertujuan menganalisis tradisi tersebut melalui perspektif ordo amoris menurut Agustinus dari Hippo untuk menilai keteraturan cinta dan nilai moral yang mendasarinya. Metode yang digunakan adalah studi kualitatif berbasis kajian literatur dengan pendekatan filosofis-kritis dan kontekstual. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tradisi berburu masyarakat Ngada tidak semata-mata berorientasi pada eksploitasi alam, melainkan mengundang dimensi relasional antara manusia, alam, dan Yang Ilahi yang dapat dipahami sebagai bentuk cinta yang teratur, meskipun msaih tedapat ketegangan antara nilai tradisional dan tuntutan etika kontemporer. Selain itu, tradisi berburu juga memiliki makna sosial dan simbolik yang memperkuat solidaritas komunitas serta mempertahankan identitas budaya masyarakat Ngada. Implikasi penelitian ini menegaskan pentingnya reinterpretasi nilai budaya lokal dalam terang refleksi filosofis agar tetap relevan dan etis dalam konteks global, khususnya di tengah krisis ekologis modern dan meningkatnya kesadaran akan pentingnya relasi manusia yang berkelanjutan dengan alam.</p> <p><em>The hunting tradition of the Ngada community represents a cultural practice embedded with social, ecological, and spiritual values, yet it also raises ethical questions in the modern context. This study aims to analyze the tradition through the perspective of ordo amoris as proposed by Augustine of Hippo in order to evaluate the moral order of love underlying it. The method employed is a qualitative literature based study using a philosophical-critical and contextual approach. The findings reveal that Ngada hunting tradition is not merely oriented toward exploitation of nature but reflects a relational dimension between humans, nature, and the Divine, which can be understood as an ordered form of love, although tensions remain between traditional values and contamporary ethical demands. Furthermore, this tradition contains communal, symbolic, and ecological meanings that strengthen social solidarity and cultural identity within the Ngada community. This implication of the study highlights the importance of reinterpreting local cultural values through philosophical reflection to maintain their relevance and ethical significance in a global contest, especially amid contemprary ecological crises and the increasing need for sustainable human relationshi with nature.</em></p>Virgilio Yogie Damiano Beke WatuNikodemus Lado KeuPankrasius Oswaldus Roga
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kajian Ilmiah Multidisipliner
2026-05-302026-05-30105ANALISIS PERUBAHAN GAYA VISUAL PADA DRAGON BALL Z (1989) DAN DRAGON BALL DAIMA (2024)
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkim/article/view/21771
<p>Penelitian ini membahas perubahan gaya visual pada anime Dragon Ball Z (1989) dan Dragon Ball Daima (2024) sebagai representasi dua periode berbeda dalam perkembangan estetika animasi Jepang. Tujuan penelitian adalah menganalisis perubahan desain karakter, garis visual, warna, komposisi, gerak, efek animasi, dan kontinuitas identitas visual dalam waralaba Dragon Ball. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan analisis visual komparatif. Data diperoleh melalui observasi visual terhadap materi animasi, studi dokumentasi, serta kajian pustaka yang meliputi teori estetika visual, studi animasi, dan teori media digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Dragon Ball Z menampilkan estetika klasik dengan garis tegas, pewarnaan datar, tekstur analog, dan dramatisasi visual yang kuat. Sebaliknya, Dragon Ball Daima menghadirkan visual yang lebih halus, cerah, ekspresif, dan didukung teknologi digital. Namun, perubahan tersebut tidak menghapus identitas visual Dragon Ball karena elemen khas seperti siluet rambut, bentuk wajah, ekspresi karakter, dan bahasa tubuh tetap dipertahankan. Dengan demikian, perubahan gaya visual Dragon Ball dapat dipahami sebagai bentuk modernisasi estetika yang tetap menjaga kesinambungan identitas kreatif Akira Toriyama.</p> <p><em>This study examines the transformation of visual style in Dragon Ball Z (1989) and Dragon Ball Daima (2024) as representations of two distinct periods in the development of Japanese animation aesthetics. The study aims to analyze changes in character design, line quality, color, composition, motion, visual effects, and the continuity of visual identity within the Dragon Ball franchise. This research applies a descriptive qualitative method with a comparative visual analysis approach. The data were collected through visual observation, documentation study, and literature review involving visual aesthetics, animation studies, and digital media theory. The findings indicate that Dragon Ball Z presents a classic visual style characterized by bold lines, flat colors, analog texture, and strong visual dramatization. In contrast, Dragon Ball Daima demonstrates a smoother, brighter, more expressive, and digitally enhanced visual approach. Nevertheless, these changes do not erase Dragon Ball’s visual identity, as iconic elements such as hair silhouettes, facial structures, character expressions, and body language remain consistent. Therefore, the visual transformation of Dragon Ball can be interpreted as an aesthetic modernization that preserves the creative continuity of Akira Toriyama’s visual identity.</em></p>Reynaldi Bhakti WigunaYugo Dwi Prasetio
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kajian Ilmiah Multidisipliner
2026-05-302026-05-30105PAMARGIN MODÉL PAPLAJAHAN KOOPERATIF GROUP INVESTIGATION (GI)SAJERONING PAPLAJAHAN SOR SINGGIH BASA BALI KAWANTU ANTUK VIDEO ANIMASI KARTUN RING SMA NEGERI 1 BANGLI
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkim/article/view/21851
<p>Model pembelajaran kooperatif group investigation dianggap sulit untuk diterapkan dalam pembelajaran dasar bahasa Indonesia, karena model ini menekankan pada hubungan antara materi pelajaran dengan konteks nyata. Penelitian ini akan membahas dua topik utama yaitu: (1) Bagaimana penerapan Model pembelajaran kooperatif group investigation (GI) dalam pembelajaran Sor singgih basa Bali berbantuan Video Animasi Kartun di kelas XI SMA Negeri 1 Bangli? (2) Tantangan dan usaha dalam penerapan Model pembelajaran Group investigation (GI)dalam pemebelajaran sor singgih basa Bali berbantuan Video Animasi Kartun di SMA Negeri 1 Bangli? Teori-teori yang digunakan untuk menganalisis masalah adalah teori behaviorisme dan teori konstruktivisme. Penelitian ini menggunakan sumber data utama dan sumber data pendukung. Data dikumpulkan melalui latihan, diskusi, dokumentasi, dan pustaka. Data kemudian dianalisis. Tipe data yang digunakan adalah data deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini adalah (1) Penggunaan Model pembelajaran koperatif GI dalam pembelajaran Sor singgih bahasa Bali berbantuan Video Animasi Kartun di kelas XI SMA Negeri 1 Bangli, (2) Tantangan dalam menggunakan model pembelajaran GI guru sulit memantau keikutsertaan siswa dalam diskusi kelompok, munculnya ketimpangan antara kelompok 1 dengan kelompok lainnya pada saat mempresentasikan hasil karena perbedaan kemampuan berfikir setiap anak. Siswa diberikan kebebasan untuk mencari materi sendiri dan guru hanya sebagai fasilitator. Dalam menyiampakan perangkat lunak guru seringkali mengalami penguluran waktu. Selain itu siswa juga perlu menyesuaikan diri untuk menunjukkan kemampuannya dalam diskusi kelompok dan siswa lain mampu melengkapi kekurangan yang dimiliki teman kelompoknya. Sehingga pembagian tugas yang merata tidak membuat siswa merasa terbebani akan tugas yang diberikan guru.</p> <p><em>The cooperative group investigation learning model is considered difficult to implement in basic Indonesian language learning because it emphasizes the relationship between subject matter and real-world contexts. This study will discuss two main topics: (1) How is the cooperative group investigation (GI) learning model implemented in Balinese language learning using animated cartoon videos in grade XI students at SMA Negeri 1 Bangli? (2) What are the challenges and efforts involved in implementing the group investigation (GI) learning model in Balinese language learning using animated cartoon videos at SMA Negeri 1 Bangli? The theories used to analyze the problem are behaviorism and constructivism. This study uses primary and supporting data sources. Data were collected through exercises, discussions, documentation, and literature. The data were then analyzed. The data type used is descriptive qualitative data. The results of this study are (1) The use of the GI cooperative learning model in learning Sor Singgih Balinese language assisted by Cartoon Animation Videos in class XI SMA Negeri 1 Bangli, (2) Challenges in using the GI learning model teachers have difficulty monitoring student participation in group discussions, the emergence of inequality between group 1 and other groups when presenting results due to differences in each child's thinking ability. Students are given the freedom to find their own material and the teacher only acts as a facilitator. In delivering software teachers often experience delays. In addition, students also need to adjust to demonstrate their abilities in group discussions and other students are able to complement the shortcomings of their group mates. So that the distribution of tasks evenly does not make students feel burdened by the tasks given by the teacher.</em></p>Sang Ayu Putu Widya Juni ArianiGek Diah Desi SentanaI Kadek Widiantana
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kajian Ilmiah Multidisipliner
2026-05-302026-05-30105ANALISIS PENERAPAN PASAL 340 KUHP DALAM PUTUSAN NO.907/PID.B/2020/PN MEDAN DITINJAU DARI PERSPEKTIF HAK HIDUP
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkim/article/view/21729
<p>Hak untuk hidup berdiri sebagai hak asasi manusia yang bersifat non-derogable, yang dalam sistem hukum Indonesia dijamin oleh Pasal 28A dan Pasal 28I UUD 1945. Namun, dalam praktiknya, hak ini sering kali dilanggar melalui tindak pidana pembunuhan berencana, sebagaimana terjadi dalam kasus Zuraida Hanum (Putusan No. 907/Pid.B/2020/PN Mdn). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kedudukan dan perlindungan hak hidup dalam sistem hukum Indonesia, serta meninjau penerapan Pasal 340 KUHP terhadap Terdakwa Zuraida Hanum dalam perspektif perlindungan hak hidup korban dan rasa keadilan substantif, dengan turut mempertimbangkan paradigma pemidanaan dalam UU No. 1 Tahun 2023 tentang KUHP Nasional. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif dengan pendekatan kasus (case approach) dan pendekatan perundang-undangan (statute approach). Data utama diperoleh melalui studi dokumen terhadap Putusan Pengadilan Negeri Medan Nomor 907/Pid.B/2020/PN Mdn serta literatur terkait teori hak asasi manusia dan hukum pidana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedudukan hak hidup di Indonesia adalah hak tertinggi yang perlindungannya diwujudkan melalui sanksi pidana maksimal bagi pelanggarnya. Penerapan Pasal 340 KUHP terhadap Zuraida Hanum dinilai sebagai manifestasi perlindungan represif negara terhadap hak hidup korban yang telah dirampas secara keji. Majelis Hakim dalam pertimbangannya mengutamakan keadilan retributif dan substantif mengingat sifat kejahatan yang terencana dan sadis. Selain itu, dari paradigma KUHP Nasional (UU No. 1 Tahun 2023), penjatuhan pidana mati kini bertransformasi menjadi pidana khusus dengan masa percobaan, yang menunjukkan adanya upaya penyeimbangan antara perlindungan hak hidup korban dan penghormatan terhadap hak hidup pelaku melalui mekanisme evaluasi. Maka, Putusan PN Medan tersebut telah mencerminkan perlindungan terhadap hak hidup korban dan memenuhi rasa keadilan bagi masyarakat, sekaligus menjadi preseden penting dalam penegakan hukum asasi manusia di Indonesia.</p> <p><em>The right to life as a non-derogable human right, which in the Indonesian legal system is guaranteed by Article 28A and Article 28I of the 1945 Constitution. However, in practice, this right is often violated through the crime of premeditated murder, as seen in the case of Zuraida Hanum (Decision No. 907/Pid.B/2020/PN Mdn). This study aims to analyze the position and protection of the right to life within the Indonesian legal system, as well as to review the application of Article 340 of the Criminal Code against the Defendant Zuraida Hanum from the perspective of the victim's right to life and substantive justice, while also considering the sentencing paradigm in Law No. 1 of 2023 concerning the National Criminal Code. The research method used is normative legal research with a case approach and a statute approach. The primary data were obtained through a document study of the Medan District Court Decision Number 907/Pid.B/2020/PN Mdn and literature related to human rights theory and criminal law. The results show that the position of the right to life in Indonesia is the highest right, the protection of which is manifested through maximum criminal sanctions for its violators. The application of Article 340 of the Criminal Code to Zuraida Hanum is considered a manifestation of the state's repressive protection of the victim's right to life, which was brutally seized. In its consideration, the Panel of Judges prioritized retributive and substantive justice given the planned and sadistic nature of the crime. Furthermore, viewed from the paradigm of the National Criminal Code (Law No. 1 of 2023), the death penalty has been transformed into a special penalty with a probationary period, indicating an effort to balance the protection of the victim's right to life and respect for the perpetrator's right to life through an evaluation mechanism. The Medan District Court Decision reflects the protection of the victim's right to life and fulfills the sense of justice for the community, while also serving as an important precedent in human rights law enforcement in Indonesia.</em></p>Bintang Yogi VilanoSendy TjongZico Ricardo Aritonang
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kajian Ilmiah Multidisipliner
2026-05-302026-05-30105KLAIM HISTORIS VS YURIDIS: MENGUJI KLAIM NINE-DASH LINE VIA UNCLOS TAHUN 1982
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkim/article/view/22285
<p>Klaim sepihak yang didasarkan pada hak-hak historis merupakan akar penyebab ketegangan di Laut Cina Selatan. Berdasarkan Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut (UNCLOS) 1982 dan putusan Pengadilan Arbitrase Permanen (PCA) tahun 2016 dalam sengketa antara Filipina dan Tiongkok, penelitian ini mengkaji validitas klaim garis sembilan garis putus-putus Republik Rakyat Tiongkok (RRT). Metode legislatif, konseptual, historis, dan berbasis kasus digunakan dalam metodologi penelitian hukum normatif studi ini. Menurut UNCLOS 1982, temuan analisis menunjukkan bahwa nine dash line tidak memiliki dasar hukum. karena hak-hak historis bertentangan dengan UNCLOS 1982. Selain itu, berdasarkan penafsiran Pasal 121(3) UNCLOS 1982, fitur-fitur laut Kepulauan Spratly dikategorikan sebagai “batu karang,” yang tidak menghasilkan ZEE maupun landas kontinen. Klaim Tiongkok atas wilayah penangkapan ikan adat di kawasan tersebut batal demi hukum sebagai akibat dari penegasan Indonesia atas hak kedaulatan eksklusif atas sumber daya alam yang dilindungi secara sah berdasarkan hukum internasional di Laut Natuna Utara.</p>Gol Abdurrahman Garda Muda I
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kajian Ilmiah Multidisipliner
2026-05-302026-05-30105ANALISIS KEMAMPUAN GOING CONCERN PT BUKIT ASAM TBK DITINJAU DARI KONDISI KEUANGAN DAN OPERASIONAL PERIODE 2022–2024
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkim/article/view/21835
<p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kemampuan perusahaan dalam mempertahankan kelangsungan usaha (going concern) pada PT Bukit Asam Tbk selama periode 2022–2024. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kondisi industri batu bara yang menghadapi berbagai dinamika, seperti fluktuasi harga batu bara global, transisi energi, dan meningkatnya tuntutan penerapan Environmental, Social, and Governance (ESG) yang dapat memengaruhi keberlangsungan usaha perusahaan tambang. Dalam kondisi tersebut, perusahaan dituntut mampu menjaga stabilitas keuangan dan operasional guna mempertahankan keberlangsungan usahanya. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dengan pendekatan analisis laporan keuangan. Data penelitian diperoleh dari laporan keuangan tahunan PT Bukit Asam Tbk periode 2022–2024. Analisis dilakukan melalui penilaian kondisi keuangan perusahaan, seperti profitabilitas, likuiditas, kemampuan memenuhi kewajiban, serta stabilitas operasional perusahaan dalam mendukung going concern. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PT Bukit Asam Tbk memiliki kondisi keuangan dan operasional yang relatif baik selama periode penelitian. Perusahaan mampu menjaga stabilitas pendapatan, profitabilitas, serta kemampuan memenuhi kewajibannya di tengah dinamika industri batu bara. Selain itu, perusahaan juga melakukan transformasi bisnis melalui pengembangan hilirisasi batu bara dan energi baru terbarukan sebagai strategi keberlanjutan usaha. Dengan demikian, PT Bukit Asam Tbk dinilai masih memiliki kemampuan untuk mempertahankan kelangsungan usahanya (going concern).</p> <p><em>This study aims to analyze the company’s ability to maintain business continuity (going concern) at PT Bukit Asam Tbk during the 2022–2024 period. This research is motivated by the dynamic conditions of the coal industry, including fluctuations in global coal prices, energy transition issues, and increasing demands for the implementation of Environmental, Social, and Governance (ESG) principles, which may affect the sustainability of mining companies. Under these conditions, companies are required to maintain financial and operational stability in order to sustain their business continuity. The research method used is a descriptive method with a financial statement analysis approach. The research data were obtained from the annual financial statements of PT Bukit Asam Tbk for the 2022–2024 period. The analysis was conducted by evaluating the company’s financial condition, including profitability, liquidity, ability to meet obligations, and operational stability in supporting going concern. The results of the study indicate that PT Bukit Asam Tbk had relatively good financial and operational conditions during the research period. The company was able to maintain revenue stability, profitability, and its ability to fulfill obligations amid the dynamics of the coal industry. In addition, the company carried out business transformation through coal downstreaming development and renewable energy initiatives as part of its business sustainability strategy. Therefore, PT Bukit Asam Tbk is considered to still have the ability to maintain its business continuity (going concern).</em></p>Lia Damita SariCarmel Meiden
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kajian Ilmiah Multidisipliner
2026-05-302026-05-30105KONSTRUKSI WANPRESTASI DALAM PERJANJIAN ELEKTRONIK PADA TRANSAKSI E-COMMERCE DI INDONESIA
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkim/article/view/21672
<p>Perkembangan pesat e-commerce telah mendorong pergeseran signifikan dalam cara perjanjian dibuat dan dijalankan menurut hukum perdata: dari bentuk tradisional yang bersifat fisik dan manual beralih ke mekanisme elektronik yang sepenuhnya berbasis sistem digital. Transformasi ini membawa implikasi hukum yang tidak sederhana, terutama dalam hal pengertian dan penerapan konsep wanprestasi karena perjanjian elektronik memiliki sifat unik yang berbeda dari perjanjian konvensional, seperti ketergantungan pada teknologi, otonomi sistem, serta peran platform sebagai pihak ketiga. enelitian ini fokus pada dua aspek utama yaitu, pertama analisis terhadap bentuk dan cakupan wanprestasi dalam kerangka perjanjian elektronik di ranah e-commerce, dan kedua identifikasi bentuk pertanggungjawaban hukum yang dapat dikenakan akibat pelanggaran tersebut. Pendekatan yang digunakan bersifat yuridis normatif, dengan penekanan pada telaah terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku serta pengembangan kerangka konseptual yang relevan. Temuan menunjukkan bahwa meskipun dibentuk secara digital, perjanjian elektronik tetap memenuhi semua unsur sah perjanjian sebagaimana diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Konsep wanprestasi-nya memang masih berakar pada pemahaman klasik, namun ruang lingkupnya meluas akibat kompleksitas interaksi antara pelaku usaha, konsumen, dan infrastruktur teknologi pendukung termasuk platform sebagai penyedia sarana transaksi.</p> <p><em>The rapid growth of e-commerce has triggered a significant shift in how agreements are formed and executed under civil law from traditional, physical, and manual arrangements toward fully digital, system-based electronic mechanisms. This transformation carries complex legal implications, particularly concerning the definition and application of default (wanprestasi), as electronic agreements possess distinctive characteristics absent in conventional contracts: dependence on technology, system autonomy, and the intermediary role of digital platforms as third parties. This study focuses on two core aspects: first, an analysis of the forms and scope of default within electronic agreements in the e-commerce context; and second, the identification of applicable legal liabilities arising from such breaches. The research adopts a normative juridical approach, emphasizing critical examination of prevailing statutory regulations and the development of a sound conceptual framework. Findings indicate that, despite being concluded digitally, electronic agreements still satisfy all essential elements of validity prescribed under the Indonesian Civil Code (Kitab Undang-Undang Hukum Perdata). While the concept of default remains rooted in classical doctrine, its practical scope has expanded due to the layered interactions among business actors, consumers, and supporting technological infrastructure including platforms acting as transaction facilitators.</em></p>Rohma Diah YulianaShyfa Herlin WilaniNadirohTarifa Nesya MunandarDevika Rosa Guspita
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kajian Ilmiah Multidisipliner
2026-05-302026-05-30105ANALISIS PERILAKU KONSUMEN PADA DESTINASI WISATA ENCHANTING VALLEY DI ERA DIGITAL
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkim/article/view/22097
<p>Perkembangan industri pariwisata di Indonesia mengalami pertumbuhan yang signifikan seiring dengan perubahan gaya hidup masyarakat dan perkembangan teknologi digital. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perilaku konsumen pada destinasi wisata Enchanting Valley serta mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi keputusan wisatawan dalam memilih destinasi wisata modern. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan metode observasi lapangan, wawancara semi terstruktur, dan dokumentasi. Data diperoleh melalui pengamatan langsung terhadap aktivitas pengunjung, persepsi terhadap fasilitas dan pelayanan, serta pengaruh media sosial terhadap keputusan berkunjung.’Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku konsumen di Enchanting Valley dipengaruhi oleh faktor psikologis, sosial, gaya hidup, dan perkembangan teknologi digital. Motivasi utama pengunjung meliputi kebutuhan relaksasi, rekreasi keluarga, pencarian pengalaman baru, dan aktualisasi diri melalui media sosial. Platform digital seperti Instagram dan TikTok terbukti memiliki pengaruh besar dalam membentuk persepsi konsumen dan proses pengambilan keputusan wisatawan melalui konten visual dan electronic word of mouth (e-WOM). Selain itu, kualitas fasilitas, kenyamanan lingkungan, dan pelayanan yang baik turut memengaruhi tingkat kepuasan dan loyalitas pengunjung.Penelitian ini juga menunjukkan bahwa wisata modern tidak lagi hanya dipandang sebagai aktivitas rekreasi, tetapi telah menjadi bagian dari gaya hidup dan identitas sosial masyarakat. Secara teoritis, hasil penelitian memperkuat relevansi teori perilaku konsumen dalam memahami perilaku wisatawan modern. Secara praktis, penelitian ini memberikan rekomendasi strategis bagi pengelola destinasi wisata untuk memperkuat promosi digital, meningkatkan kualitas pelayanan, dan mengembangkan pengalaman wisata berbasis experience tourism guna meningkatkan kepuasan dan loyalitas konsumen.</p> <p><em>This study aims to analyze consumer behavior at the Enchanting Valley tourist destination and identify the factors influencing tourists’ decisions in choosing modern tourism destinations. The research employed a descriptive qualitative approach using field observations, semi-structured interviews, and documentation methods. Data were collected through direct observation of visitor activities, perceptions of facilities and services, and the influence of social media on visiting decisions. The findings indicate that consumer behavior at Enchanting Valley is influenced by psychological, social, lifestyle, and digital technology factors. The main motivations of visitors include relaxation, family recreation, seeking new experiences, and self-actualization through social media. Social media platforms such as Instagram and TikTok were found to have a significant influence in shaping consumer perceptions and tourists’ decision-making processes. In addition, the quality of facilities, environmental comfort, and good service also affect visitor satisfaction and loyalty. The study further reveals that modern tourism is no longer merely a recreational activity but has become part of people’s lifestyle and social identity. Theoretically, the results reinforce the relevance of consumer behavior theory in understanding modern tourist behavior. Practically, this study provides strategic recommendations for the management of Enchanting Valley to improve service quality, strengthen digital promotion strategies, and develop experience-based tourism in order to enhance visitor satisfaction and customer loyalty.</em></p>Muhammad Hafiz AbdillahHana Sazidah AprillaMuhammad Yusuf AhriHari Muharam
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kajian Ilmiah Multidisipliner
2026-05-302026-05-30105METODE GAME BASED LEARNING PADA PEMBELAJARAN MEMBACA AKSARA BALI SISWA KELAS VII SMP NEGERI 1 DENPASAR
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkim/article/view/21797
<p>Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya minat dan kemampuan siswa dalam membaca aksara Bali yang disebabkan oleh penggunaan metode pembelajaran yang kurang bervariatif. Oleh karena itu dalam penelitian ini terdapat dua pembahasan yaitu, (1) Penerapan métode Game Based Learning pada pembelajaran membaca aksara Bali pada kelas VII SMP Negeri 1 Denpasar (2) Dampak yang dirasakan guru dan siswa dalam penerapan métode Game Based Learning dalam pembelajaran membaca aksara Bali. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori konstruksivisme, behaviorisme, dan kognitif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualititatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data dianalisis melalui tahap reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukan bahwa penerapan metode Game Based Learning melalui permainan kartu aksara Bali seperti tebak kata dan sambung kata yang mampu meningkatkan motivasi, minat dan keaktifan siswa dalam pembelajaran. Selain itu, kemampuan siswa dalam membaca aksara Bali juga mengalami peningkatan. Metode ini juga mampu meningkatkan kemampuan siswa dalam memperkuat interaksi sosial serta menumbuhkan rasa kompetitif yang positif diantara siswa. Dengan demikian, metode Game Based Learning dapat menjadi alternatif pembelajaran yang efektif dalam meningkatkan kualitas pembelajaran aksara Bali.</p> <p><em>This research is motivated by the low interest and ability of students in reading Balinese script caused by the use of less varied learning methods. Therefore, in this study there are two discussions, namely, (1) The application of the Game Based Learning method in learning to read Balinese script in class VII SMP Negeri 1 Denpasar (2) The impact felt by teachers and students in the application of the Game Based Learning method in learning to read Balinese script. The theories used in this study are constructivism, behaviorism, and cognitive theories. This study uses a descriptive qualitative approach with data collection techniques in the form of observation, interviews, and documentation. Data are analyzed through the stages of reduction, presentation, and drawing conclusions. The results of the study show that the application of the Game Based Learning method through Balinese script card games such as guessing words and connecting words is able to increase student motivation, interest and activeness in learning. In addition, students' ability to read Balinese script also increased. This method is also able to improve students' abilities in strengthening social interactions and fostering a positive sense of competitiveness among students. Thus, the Game-Based Learning method can be an effective alternative to improve the quality of Balinese script learning.</em></p>Putu Sri UtaminingsihGusti Nyoman MastiniI Kadek Widiantana
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kajian Ilmiah Multidisipliner
2026-05-302026-05-30105ANALISIS SOSIOLOGI HUKUM TERHADAP IMPLEMENTASI RESTORATIVE JUSTICE DI INDONESIA
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkim/article/view/21612
<p>Penelitian ini bertujuan menganalisis implementasi restorative justice di Indonesia dalam perspektif sosiologi hukum. restorative justice menekankan pemulihan hubungan antara pelaku, korban, dan masyarakat serta mencerminkan nilai-nilai musyawarah dan keadilan sosial yang hidup dalam masyarakat Indonesia. dalam praktiknya, pendekatan ini telah diakomodasi oleh aparat penegak hukum, namun masih menghadapi berbagai kendala, seperti perbedaan pemahaman, keterbatasan pengaturan, dan kuatnya paradigma penghukuman. dari perspektif sosiologi hukum, keberhasilan restorative justice sangat dipengaruhi oleh keselarasan antara hukum formal dan nilai sosial masyarakat. oleh karena itu, diperlukan penguatan implementasi melalui dukungan kebijakan, peningkatan kualitas aparat, serta keterlibatan aktif masyarakat guna mewujudkan sistem peradilan yang lebih humanis, adil, dan responsif.</p> <p><em>This study aims to analyze the implementation of restorative justice in Indonesia from a sociological perspective. restorative justice emphasizes restoring relationships between perpetrators, victims, and the community and reflects the values of deliberation and social justice inherent in Indonesian society. in practice, this approach has been embraced by law enforcement officials, but still faces various obstacles, such as differing understandings, limited regulations, and a strong punitive paradigm. from a sociological perspective, the success of restorative justice is strongly influenced by the alignment between formal law and societal values. therefore, strengthening its implementation through policy support, improving the quality of officers, and active community involvement is necessary to create a more humane, just, and responsive justice system.</em></p>Yonatan Laksono NugrohoStince SidayangInjil Yesika Krisia Pangemanan
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kajian Ilmiah Multidisipliner
2026-05-302026-05-30105PEMANFAATAN MEDIA CANVA PADA PEMBELAJARAN SEJARAH SISWA DI SMA NEGERI 7 PALU
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkim/article/view/22078
<p>Pembahasan dalam tulisan ini adalah (1) Bagaimana pemanfaatan media canva pada pembelajaran sejarah siswa di SMA Negeri 7 Palu? (2) Bagaimana kemampuan guru dalam pemanfaatan media canva pada pembelajaran sejarah siswa di SMA Negeri 7 Palu? Tujuan penulisan yaitu : (1) Mendeskripsikan pemanfaatan media canva pada pembelajaran siswa di SMA Negeri 7 Palu. (2) Menjelaskan faktor pendukung dan penghambat pemanfaatan media canva pada pembelajaran sejarah siswa di SMA Negeri 7 Palu. Artikel hasil penelitian menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif, teknik pengumpulan data yang digunakan adalah penelitiaan kepustakaan dan penelitian lapangan yang terdiri dari observasi, wawancara dan dokumentasi. Penelitian ini di lakukan di SMA Negeri 7 Kota Palu lokasi terletak di Tawaeli Jl. Baiyah Raya No 29 Kota Palu, Provinsi Sulawesi Tengah. Setelah data berhasil di kumpulkan dan dianalisis secara kualitatif dengan model alur meliputi reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menujukan bahwa Pemanfaatan media canva pada pembelajaran sejarah di SMA Negeri 7 Palu menunjukan bahwa guru mata pelajaran sejarah menggunakan media teknologi untuk menunjang pembelajaran di SMA Negeri 7 Palu, dalam strategi mengajar atau proses belajar mengajar telah sesuai dengan peraturan permendikbudristek No 16 tahun 2022 tentang standar Kurikulum Merdeka. Standar proses pendidikan yang terdiri dari kegiatan perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian pembelajaran.</p>Mohammad Ayub MewengkangHasanMahfud M. GamarIdrus Rore
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kajian Ilmiah Multidisipliner
2026-05-302026-05-30105