PENYEBAB KASUS SEPSIS DAN MORTALITAS PASIEN POST OPERASI KRANIOTOMI DI RUANG BANGSAL RAWAT INAP PASCA PERAWATAN DI ICU DAN IMPLEMENTASI PENCEGAHAN KEPERAWATAN
Kata Kunci:
Sepsis, Trepanasi, Kraniotomi, Pencegahan Keperawatan, ICU, Mortalitas, Umbrella ReviewAbstrak
Latar Belakang: Sepsis dianggap sebagai salah satu faktor utama morbiditas dan mortalitas di antara pasien bedah saraf yang menjalani trepanasi. Ini terjadi pada saat pasien pergi dariĀ intensive care unit (ICU) ke bangsal rawat inap. Pada periode ini, pasien cenderung mengalami infeksi karena berbagai faktor termasuk prosedur invasif, penekanan kekebalan, dan proses penyakit itu sendiri. Perawatlah yang memberikan kontribusi signifikan terhadap deteksi dini tanda-tanda sepsis, pencegahan infeksi, dan pemanfaatan praktik keperawatan berbasis bukti. (Xu et al.,2024) Tujuan: Umbrella review ini bertujuan untuk menentukan faktor-faktor yang bertanggung jawab atas sepsis dan mortalitas pada pasien pasca operasi setelah trepanasi yang telah dipindahkan dari ICU ke bangsal rawat inap. Tujuan lain dari penelitian ini adalah untuk menyoroti literatur yang ada mengenai efektivitas intervensi keperawatan untuk mencegah sepsis dan mengoptimalkan hasil klinis pengobatan pasien di ruang bangsal. Metode: Pencarian akan dilakukan melalui enam basis data elektronik (PubMed / MEDLINE, EMBASE, CINAHL, Cochrane Library, Web of Science, dan Scopus). Kriteria inklusi akan terdiri dari artikel yang terkait dengan tinjauan sistematis, meta-analisis, tinjauan pelingkupan, dan tinjauan integratif tentang topik sepsis, infeksi pascaoperasi, dan infeksi yang didapat di rumah sakit di antara pasien bedah atau pasien ICU. Penilaian kualitas akan dilakukan dengan menggunakan kriteria AMSTAR-2 dan JBI. Hasil: Total 34 artikel dimasukkan dalam tinjauan tersebut. Pemicu utama infeksi sepsis termasuk infeksi di tempat pembedahan (SSI-CRAN) dengan tingkat kejadian 4,03%-6,17% (Lee et al., 2024), pneumonia terkait ventilator/VAP (Howroyd et al., 2025), dan infeksi aliran darah terkait kateter dengan ATAU mortalitas 3,19; 95% CI: 2,44-4,16 (Elangovan et al., 2024). Faktor risiko yang terkait dengan perkembangan infeksi sepsis adalah operasi ulang (RR 1,58), riwayat radioterapi (RR 1,69), durasi operasi yang lama dan kebocoran CSF (RR 14,26) (Lee et al., 2024). Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan pada pasien dengan infeksi sepsis adalah menggabungkan perawatan ventilator dengan ATAU 0,42 untuk VAP (Martinez-Reviewjo et al., 2023), intervensi pengendalian infeksi IPC multi-modal (Hill et al., 2024; Sonpar dkk., 2025), sinbiotik / probiotik dengan OR 0,37-0,52 untuk infeksi nosokomial (Li et al., 2021). Kesimpulan: Implementasi care bundle sistematis, meningkatkan kemampuan keperawatan dalam diagnosis dini sepsis (Abdalhafith et al., 2025), berbagai pendekatan IPC dan teknologi pendukung keputusan (Porcellato et al., 2025) merupakan bagian penting dari strategi pencegahan dalam kasus pasien bedah pasca-trepanasi.




