HUBUNGAN BODY SHAMING DENGAN KESEHATAN MENTAL REMAJA DI SMA N 2 KUDUS
Kata Kunci:
Body Shaming, Kesehatan Mental, Remaja, SMA N 2 KudusAbstrak
Latar Belakang: Body shaming atau tindakan mengomentari, mengkritik, atau mempermalukan bentuk dan ukuran tubuh seseorang telah menjadi fenomena yang marak terjadi di kalangan remaja. Masa remaja merupakan fase kritis perkembangan identitas, sehingga penilaian negatif terhadap fisik dapat berdampak serius pada kondisi psikologis mereka. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara perilaku body shaming dengan kondisi kesehatan mental remaja di SMA N 2 Kudus. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan korelasional. Sampel penelitian dipilih menggunakan teknik stratified random sampling dari siswa-siswi SMA N 2 Kudus. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner skala body shaming dan skala kesehatan mental (seperti tingkat kecemasan, depresi, dan harga diri). Analisis data menggunakan uji korelasi untuk melihat keeratan hubungan antar variabel. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang signifikan dan negatif antara body shaming dengan kesehatan mental remaja. Semakin tinggi tingkat kecemasan atau intensitas body shaming yang diterima individu, maka semakin rendah tingkat kesehatan mental mereka, yang ditandai dengan munculnya gejala kecemasan, penurunan rasa percaya diri, hingga gejala depresi ringan. Kesimpulan: Perilaku body shaming memiliki dampak buruk yang nyata terhadap kesehatan mental remaja di SMA N 2 Kudus. Oleh karena itu, diperlukan peran aktif dari pihak sekolah, guru BK, dan orang tua untuk menciptakan lingkungan yang suportif serta mengedukasi siswa mengenai pentingnya body positivity.
Background: Body shaming, or the act of mocking, criticizing, or humiliating someone's body shape and size, has become a widespread phenomenon among adolescents. Adolescence is a critical phase for identity development, making negative physical evaluations severely impactful on their psychological condition. Objective: This study aims to determine the relationship between body shaming behavior and the mental health status of adolescents at SMA N 2 Kudus. Method: This study employed a quantitative method with a correlational approach. The research sample was selected using a stratified random sampling technique from the students of SMA N 2 Kudus. Data collection was conducted through questionnaires consisting of a body shaming scale and a mental health scale (measuring anxiety levels, depression, and self-esteem). Data analysis used a correlation test to examine the strength of the relationship between variables. Result: The results indicated a significant and negative relationship between body shaming and adolescent mental health. The higher the intensity of body shaming received by individuals, the lower their mental health status, characterized by the emergence of anxiety symptoms, decreased self-confidence, and mild depressive symptoms. Conclusion: Body shaming behavior has a tangibly adverse impact on the mental health of adolescents at SMA N 2 Kudus. Therefore, an active role from the school, guidance counselors, and parents is highly required to create a supportive environment and educate students on the importance of body positivity.




