https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkmi/issue/feedJurnal Kesehatan Masyarakat Inovatif2026-05-30T17:51:25+00:00Open Journal Systemshttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkmi/article/view/21540STRATEGI KESEHATAN LINGKUNGAN DI INDONESIA2026-05-02T04:52:34+00:00Hijrahhijrah.1913@sma.belajar.idM. Askariaskari@usimar.ac.idNovitanovita@usimar.ac.id<p>Kesehatan lingkungan merupakan salah satu determinan utama dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat di Indonesia. Permasalahan seperti rendahnya akses sanitasi, pencemaran air dan udara, pengelolaan limbah yang belum optimal, serta dampak perubahan iklim masih menjadi tantangan serius. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi kesehatan lingkungan yang efektif dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat di Indonesia melalui pendekatan studi literatur. Sumber data diperoleh dari berbagai jurnal nasional dan internasional serta laporan lembaga kesehatan global seperti World Health Organization. Hasil kajian menunjukkan bahwa strategi yang efektif meliputi peningkatan akses terhadap sanitasi layak, edukasi dan perubahan perilaku masyarakat, penguatan kebijakan pemerintah, serta kolaborasi lintas sektor. Selain itu, pemanfaatan teknologi dan pendekatan berbasis komunitas juga berperan penting dalam mendukung keberhasilan program kesehatan lingkungan. Implementasi strategi yang terintegrasi dan berkelanjutan diharapkan mampu meningkatkan derajat kesehatan masyarakat serta menciptakan lingkungan yang sehat dan berkelanjutan di Indonesia.</p>2026-05-30T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Masyarakat Inovatifhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkmi/article/view/22240CASE REPORT PENDEKATAN PENDAMPINGAN HOLISTIK PADA KEHAMILAN PRIMIPARA DENGAN PERDARAHAN ANTEPARTUM IDIOPATIK2026-05-26T07:45:04+00:00Nafi'atus Sa'diyyahnafiatussadiyyah67@gmail.comRestiningsihguest@jurnalhst.comSofia Al Fariziguest@jurnalhst.com<p>Latar Belakang: Perdarahan antepartum merupakan perdarahan yang terjadi setelah usia kehamilan 20 minggu hingga sebelum persalinan dan menjadi salah satu komplikasi kehamilan yang dapat meningkatkan risiko morbiditas maternal maupun fetal. Sebagian kasus perdarahan antepartum dapat terjadi tanpa penyebab yang teridentifikasi meskipun pemeriksaan antenatal dilakukan secara rutin. Kondisi tersebut memerlukan pemantauan kehamilan yang berkesinambungan untuk mendukung deteksi dini tanda bahaya dan mempercepat penanganan obstetri. Laporan kasus ini bertujuan melaporkan peran pendampingan kehamilan melalui telehealth dan kunjungan rumah dalam mempertahankan kehamilan dengan perdarahan antepartum tanpa penyebab yang diketahui hingga mencapai usia kehamilan aterm. Laporan Kasus: Seorang ibu usia 24 tahun dengan G1P0A0 usia kehamilan 29 minggu mengalami spotting setelah acara tujuh bulanan kehamilan. Ibu segera melaporkan keluhan melalui telehealth dan diarahkan ke rumah sakit untuk evaluasi lebih lanjut. Hasil pemeriksaan menunjukkan kondisi maternal dan fetal stabil, tanpa kelainan plasenta maupun penyebab spesifik perdarahan. Ibu dirawat di rumah sakit untuk observasi ketat, pematangan paru janin, dan pembatasan aktivitas. Pendampingan dilakukan secara berkesinambungan sejak awal munculnya perdarahan melalui telehealth dan kunjungan rumah, meliputi pemantauan kondisi ibu dan janin, edukasi tanda bahaya kehamilan, dukungan emosional, dan pemantauan kepatuhan kontrol lanjutan. Kehamilan berhasil dipertahankan hingga usia aterm dengan kondisi ibu dan janin baik. Kesimpulan: Pendampingan kehamilan secara berkesinambungan melalui telehealth dan kunjungan rumah berperan dalam mempertahankan kehamilan pada ibu dengan perdarahan antepartum tanpa penyebab yang diketahui hingga mencapai usia aterm.</p> <p><em>Background: Antepartum hemorrhage is bleeding that occurs after 20 weeks of gestation and before delivery, and it is one of the pregnancy complications that can increase the risk of both maternal and fetal morbidity. Some cases of antepartum hemorrhage may occur without an identifiable cause despite routine antenatal examinations. This condition requires continuous pregnancy monitoring to support the early detection of danger signs and facilitate prompt obstetric management. This case report aims to describe the role of pregnancy assistance through telehealth and home visits in maintaining a pregnancy complicated by antepartum hemorrhage of unknown etiology until term gestation was achieved. Case Report: A 24-year-old woman with G1P0A0 at 29 weeks of gestation experienced spotting after a traditional seven-month pregnancy celebration. The patient immediately reported her complaint through telehealth and was referred to the hospital for further evaluation. Examination results showed stable maternal and fetal conditions, with no placental abnormalities or specific cause of bleeding identified. The patient was hospitalized for close observation, fetal lung maturation, and activity restriction. Continuous assistance was provided from the onset of bleeding through telehealth and home visits, including monitoring of maternal and fetal conditions, education regarding pregnancy danger signs, emotional support, and monitoring adherence to follow-up care. The pregnancy was successfully maintained until term gestation, with good maternal and fetal outcomes. Conclusion: Continuous pregnancy assistance through telehealth and home visits played an important role in maintaining the pregnancy in a mother with antepartum hemorrhage of unknown etiology until term gestation was achieved.</em></p>2026-05-30T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Masyarakat Inovatifhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkmi/article/view/21662ANALISIS FAKTOR RISIKO GEJALA CARPAL TUNNEL SYNDROME (CTS) PADA KARYAWAN BANK TABUNGAN NEGARA KANTOR CABANG KUPANG2026-05-07T03:54:56+00:00Amelia Raras Watiameliararaswati26@gmail.comLuh Putu Ruliatiguest@jurnalhst.comNoorce Christiani Berekguest@jurnalhst.comJacob Matheos Ratuguest@jurnalhst.com<p>Carpal Tunnel Syndrome (CTS) merupakan salah satu gangguan muskuloskeletal akibat kerja yang sering dialami pekerja komputer dikarenakan aktivitas gerak pada tangan yang berulang dalam waktu yang lama dan posisi kerja yang kurang ergonomis. Karyawan perbankan, termasuk di Bank Tabungan Negara (BTN) Kantor Cabang Kupang, memiliki risiko tinggi mengalami CTS karena lamanya waktu bekerja di depan komputer setiap hari. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor risiko yang berhubungan dengan gejala CTS pda karyawan Bank Tabungan Negara Kantor Cabang Kupang. Jenis penelitian ini adalah analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian terdiri dari seluruh karyawan BTN Kantor Cabang Kupng sebanyak 85 orang dengan sampel sebanyak 46 responden yang dipilih secara simple random sampling Pengumpulan data dilakukan melaui kuesioner, observasi, pengukuran goniometer, dan pemeriksaan phalent’s test. Analisis data menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara variabel usia (p = 0,034), masa kerja (p = 0,006), dan lama kerja menggunakan komputer (p = 0,009), postur pergelangan tangan kanan dan kiri masing-masing (p = 0,002) dan (p = 0,007) dengan gejala CTS. Faktor usia ≥ 35 tahun, masa kerja ≥ 4 tahun, lama kerja di depan komputer ≥ 4 jam per hari, dan postur pergelangan tangan ≥ 15°berhubungan siginifikan dengan munculnya gejala Carpal Tunnel Syndrome pada karyawan Bank Tabungan Negara Kantor Cabang Kupang. Sementara itu, faktor paling dominan (signifikan) terhadap CTS adalah variabel lama kerja dengan nilai OR 8,412.</p> <p><em>Carpal Tunnel Syndrome (CTS) is one of the most common work-related muskuloskeletal disorders, particulary among computer users, caused by repetitive hand movement and non-ergonomic working postures. Bank employees, including those at the Bank Tabungan Negara (BTN) Kupang Branch Office, ate at high risik developing CTS due to prongoled computer use durung working hours. This study aims to analyze the risk factors associated with CTS symptoms among employees of the Bank Tabungan Negara Kupang Branch Office. The was an analytical study using a cross sectional design. The population consited of 85 employees, and a total of 45 respondents using a questionnaire, observation, and phalent’s test. Data were analyzed using the Chi-Square test with a 0,005 significance level. The result revealde significant associations between CTS symptoms and age (p = 0,005), years of service (p = 0,014), duration of computer use (p = 0,040, ), the posture of the right and left wrists each (p = 0.002) and (p = 0.007) with CTS symptoms. Age factor ≥ 35 years, work period ≥ 4 years, duration of computer work ≥ 4 hours per day, and wrist posture ≥ 15° are significantly associated with the appearance of Carpal Tunnel Syndrome symptoms in employees of Bank Tabungan Negara Kupang Branch Office. Meanwhile, the most dominant (significant) factor for CTS is the work duration variable with an OR value of 8.412. </em></p>2026-05-30T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Masyarakat Inovatifhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkmi/article/view/21564STRATEGI PERENCANAAN KESEHATAN BERBASIS DATA DALAM UPAYA PENINGKATAN DERAJAT KESEHATAN MASYARAKAT2026-05-03T07:50:52+00:00Adevia Putri Dinantiadeviaputridinanti@gmail.comTommy adhiyaksyah putratommyputra2007@gmail.comRika Aulia Maharani Siregarrikaulia566@gmail.com Raisya Rhadella Br Gintingraisyarhadella25@gmail.comAfra Fitri Aulia Khair auliakhairr05@gmail.comNatya Amelya Yahyanatyaamelya0@gmail.com Nasyah Adzkiah Afrizal nasyaa685@gmail.comRifa nafiah br tariganrifanafiah221@gmail.com arkaan fathriasyah lolarkaan@gmail.com Aiskha Tittahiraaiskhatittahira@gmail.comFadilla Albi Harahapfadillaalbiharahap@gmail.comSafira Afifahafifahsafiraa12@gmail.comSyaskiah Aqilahsyaskiahaqilah@gmail.com Dewi Agustinadewiagustina@uinsu.ac.id<p>Perencanaan kesehatan merupakan salah satu aspek yang sangat penting untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Namun, itu masih banyak perencanaan yang belum berbasis data sehingga intervensi yang dilakukan itu kurang efektif dan tidak tepat sasaran. Nah penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi perencanaan kesehatan berbasis data dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan pendekatan deskriptif analitik terhadap berbagai sumber data sekunder seperti laporan kesehatan nasional, jurnal ilmiah, serta kebijakan kesehatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan data epidemiologi, sistem informasi kesehatan, serta analisis data yang komprehensif dapat meningkatkan efektivitas program kesehatan. Selain itu, integrasi data lintas sektor serta penggunaan teknologi digital seperti dashboard kesehatan mampu mempercepat pengambilan keputusan. Strategi berbasis data terbukti dapat meningkatkan efisiensi alokasi sumber daya dan ketepatan intervensi kesehatan. Kesimpulannya, perencanaan kesehatan berbasis data menjadi kunci dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan serta derajat kesehatan masyarakat secara berkelanjutan.</p> <p><em>Health planning is a crucial aspect of improving public health. However, much planning is still not data-driven, resulting in ineffective and poorly targeted interventions. This study aims to analyze data-driven health planning strategies for improving public health. The method used was a literature review with a descriptive analytical approach, utilizing various secondary data sources such as national health reports, scientific journals, and health policies. The results show that the use of epidemiological data, health information systems, and comprehensive data analysis can increase the effectiveness of health programs. Furthermore, cross-sectoral data integration and the use of digital technologies such as health dashboards can accelerate decision-making. Data-driven strategies have been shown to improve the efficiency of resource allocation and the accuracy of health interventions. In conclusion, data-driven health planning is key to improving the quality of health services and the sustainable health of the community.</em></p>2026-05-30T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Masyarakat Inovatifhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkmi/article/view/22342OPTIMALISASI PERAN KADER SEBAGAI CASE MANAGER DALAM MENURUNKAN ANGKA LOSS TO FOLLOW-UP PASIEN TUBERKULOSIS2026-05-29T10:47:11+00:00Dahliadahliacallysta@gmail.comRatna Wardhaniratnawardani61278@gmail.com<p>Tuberkulosis (TB) masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat yang memerlukan penanganan berkelanjutan. Salah satu tantangan utama dalam program pengendalian TB adalah tingginya angka loss to follow-up pasien selama pengobatan. Kondisi ini dapat menyebabkan kegagalan terapi, resistensi obat, serta meningkatnya risiko penularan di masyarakat. Optimalisasi peran kader kesehatan sebagai case manager menjadi salah satu strategi yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan TB. Kader berperan dalam melakukan pendampingan, edukasi, pemantauan minum obat, kunjungan rumah, serta menjembatani komunikasi antara pasien dan tenaga kesehatan. Melalui pendekatan yang aktif dan berkesinambungan, kader dapat membantu mengidentifikasi hambatan pengobatan serta memberikan dukungan psikososial kepada pasien. Dengan optimalisasi peran tersebut, diharapkan angka loss to follow-up pasien tuberkulosis dapat menurun sehingga keberhasilan pengobatan meningkat dan program pengendalian TB dapat berjalan lebih efektif.</p> <p><em>Tuberculosis (TB) remains one of the major public health problems requiring continuous management. One of the main challenges in TB control programs is the high rate of patient loss to follow-up during treatment. This condition may lead to treatment failure, drug resistance, and an increased risk of disease transmission in the community. Optimizing the role of health cadres as case managers is one strategy that can improve patient adherence to TB treatment. Health cadres play important roles in patient assistance, health education, medication monitoring, home visits, and facilitating communication between patients and healthcare workers. Through active and continuous approaches, cadres can help identify treatment barriers and provide psychosocial support to patients. Therefore, optimizing the role of cadres is expected to reduce the loss to follow-up rate among tuberculosis patients, improve treatment success rates, and strengthen the effectiveness of TB control programs.</em></p>2026-05-30T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Masyarakat Inovatifhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkmi/article/view/22028GAMBARAN HIGIENE DAN SANITASI PENGOLAHAN ROTI PADA TOKO ROTI DI KOTA KUPANG2026-05-20T07:26:40+00:00Leonny Victoria Elimonyyyony612@gmail.comSoni Dokeguest@jurnalhst.comCahtrin W. D. Geghiguest@jurnalhst.comMustakim Sahdanguest@jurnalhst.com<p>Higiene dan sanitasi pengolahan roti merupakan aspek penting dalam menjaga keamanan pangan dan mencegah kontaminasi makanan yang dapat berdampak pada kesehatan masyarakat. Toko roti perlu menerapkan higiene dan sanitasi yang baik mulai dari personal hygiene penjamah makanan, sanitasi fasilitas produksi, pemilihan bahan makanan, penyimpanan bahan makanan, hingga proses pengolahan roti. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran higiene dan sanitasi pengolahan roti pada toko roti di Kota Kupang Tahun 2026. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari–Maret 2026 di Toko Roti Borneo Liliba, Toko Roti Angello, dan Toko Roti Sulung di Kota Kupang. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner dan lembar observasi berdasarkan Permenkes RI Nomor 1096 Tahun 2011 tentang Higiene Sanitasi Jasaboga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa personal hygiene penjamah makanan secara umum telah memenuhi syarat, meskipun masih terdapat pekerja yang belum menggunakan alat pelindung diri secara lengkap dan belum melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin. Sanitasi fasilitas produksi, pemilihan bahan makanan, dan pengolahan roti termasuk kategori memenuhi syarat. Namun, penyimpanan bahan makanan belum sepenuhnya memenuhi syarat karena masih ditemukan tata letak dan kondisi ruang penyimpanan yang belum se suai dengan prinsip higiene sanitasi. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar aspek higiene dan sanitasi pengolahan roti pada toko roti di Kota Kupang telah memenuhi syarat, namun masih diperlukan perbaikan pada penggunaan alat pelindung diri, pemeriksaan kesehatan pekerja, dan sistem penyimpanan bahan makanan.</p> <p><em>Hygiene and sanitation in bread processing is an important aspect of maintaining food safety and preventing food contamination that may affect public health. Bakeries need to implement proper hygiene and sanitation practices, including food handlers’ personal hygiene, production facility sanitation, food ingredient selection, food ingredient storage, and bread processing practices. This study aimed to determine the overview of hygiene and sanitation in bread processing at bakeries in Kupang City in 2026. This study used a descriptive research design with a quantitative approach. The study was conducted from January to March 2026 at Borneo Liliba Bakery, Angello Bakery, and Sulung Bakery in Kupang City. The sampling technique used was purposive sampling. Data were collected through questionnaires and observation sheets based on the Regulation of the Minister of Health of the Republic of Indonesia Number 1096 of 2011 concerning Catering Hygiene and Sanitation. The results showed that the personal hygiene of food handlers generally met the requirements, although there were still workers who did not use complete personal protective equipment and did not undergo routine health examinations. Production facility sanitation, food ingredient selection, and bread processing practices were categorized as meeting the requirements. However, food ingredient storage had not fully met the requirements because there were still improper food arrangement systems and storage room conditions that were not in accordance with hygiene and sanitation principles. The conclusion of this study showed that most aspects of hygiene and sanitation in bread processing at bakeries in Kupang City had met the required standards. However, improvements are still needed in the use of personal protective equipment, workers’ health examinations, and food ingredient storage systems</em><em>. </em></p>2026-05-30T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Masyarakat Inovatifhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkmi/article/view/21626FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMANFAATAN LAYANAN KB PADA PASANGAN USIA SUBUR DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SIKUMANA KOTA KUPANG2026-05-06T02:48:56+00:00Simplisius Dosimplisiusdo563@gmail.comSerlie K.A. Littikguest@oaj.jurnalhst.comTasalina Y.P. Gustamguest@oaj.jurnalhst.comFransiskus G. Madoguest@oaj.jurnalhst.com<p>Pemanfaatan layanan Keluarga Berencana (KB) merupakan salah satu upaya penting dalam mengendalikan pertumbuhan penduduk serta meningkatkan kesehatan ibu dan anak. Namun, tingkat pemanfaatan layanan KB pada pasangan usia subur (PUS) masih dipengaruhi oleh berbagai faktor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan pemanfaatan layanan KB pada pasangan usia subur di wilayah kerja Puskesmas Sikumana Kota Kupang. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasangan usia subur di wilayah kerja Puskesmas Sikumana, dengan sampel yang diambil menggunakan teknik accidental sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner yang meliputi variabel umur, pendidikan, pengetahuan, sikap, jumlah anak, dukungan suami, serta akses terhadap layanan kesehatan. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji chi-square dengan tingkat kepercayaan 95% (α = 0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan, sikap, jumlah anak, dan dukungan suami dengan pemanfaatan layanan KB (p < 0,05). Sementara itu, variabel umur dan pendidikan tidak menunjukkan hubungan yang signifikan (p > 0,05). Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa faktor pengetahuan, sikap, jumlah anak, dan dukungan suami berperan penting dalam pemanfaatan layanan KB. Oleh karena itu, disarankan kepada tenaga kesehatan untuk meningkatkan edukasi serta melibatkan suami dalam program KB guna meningkatkan cakupan penggunaan kontrasepsi.</p>2026-05-30T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Masyarakat Inovatif