https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkmi/issue/feedJurnal Kesehatan Masyarakat Inovatif2026-03-31T00:00:00+00:00Open Journal Systemshttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkmi/article/view/20329ANALISIS IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PROGAM JKN : A SYSTEMATIC REVIEW2026-02-26T10:19:37+00:00 Mega Assyfaa Fauziaassyfaamega@gmail.comLaila Dwi Nur Arfahlailadwinurarfah@gmail.com<p>Latar Belakang: Implementasi kebijakan kesehatan merupakan jembatan krusial yang menghubungkan rumusan rencana dengan dampak nyata bagi derajat kesehatan masyarakat. Tanpa pelaksanaan yang efektif, kebijakan hanya akan menjadi dokumen administratif tanpa nilai manfaat. Tujuan: Artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengertian, urgensi, prinsip, serta model-model implementasi dan evaluasi dalam kebijakan kesehatan, khususnya pada Program JKN. Metode: Menggunakan pendekatan literature review terhadap artikel ilmiah terkait. Hasil: Ditemukan bahwa meski JKN telah mencakup lebih dari 98% penduduk, tantangan seperti ketimpangan fasilitas, kendala sistem digital, dan masalah distribusi sumber daya tetap menjadi hambatan utama dalam mencapai keadilan pelayanan kesehatan. Kesimpulan: Hasil analisis menunjukan perlunya evaluasi berkala untuk memastikan kebijakan tidak hanya berhenti pada capaian kuantitas, tetapi memberikan dampak kualitas kesehatan bagi Masyarakat luas.</p>2026-03-30T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Masyarakat Inovatifhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkmi/article/view/20679PERAN TEKNOLOGI INFORMASI DALAM KEPATUHAN PENGOBATAN TUBERKULOSIS2026-03-25T05:25:43+00:00Mutiara Musamutiaramusa14@gmail.comNs Fadli Samsyuddinfadlsyamsuddin@umgo.ac.idNikmawati Puluhulawanikmawatypuluhulawa@gmail.com<p><strong>Tuberculosis (TB) merupakan penyakit menular yang membutuhkan pengobatan jangka panjang serta kepatuhan tinggi untuk mencegah kegagalan terapi dan resistensi obat, sehingga pemanfaatan teknologi informasi menjadi strategi penting dalam mendukung keberhasilan pengobatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran teknologi informasi terhadap kepatuhan pengobatan tuberculosis di Puskesmas Limboto. Metode penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan cross sectional dan melibatkan 133 responden yang dipilih melalui teknik accidental sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner terkait penggunaan teknologi informasi dan kepatuhan pengobatan, kemudian dianalisis melalui hubungan antar variable menggunakan Chi-Square. Hasil penelitian menunjukan bahwa sebagian besar responden menilai penggunaan teknologi informasi sangat mudah (69,2%) dan mayoritas berada dalam kategori patuh (65,4%). Uji statistic menujukan adanya hubungan signifikan antara teknologi informasi dengan kepatuhan pengobatan tuberculosis (p-value = 0,001), berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa teknologi informasi memiliki peran penting dalam mendukung proses pengobatan tberkulosis, terutama dalam mempermudah akses informasi aplikasi SI TB bagi pasien sehingga dapat menjadi strategi yang efektif untuk meningkatkan kepatuhan pengobatan tuberculosis, di Puskesmas Limboto. Oleh karena itu, digunakan agar Puskesmas Limboto meningkatkan optimalisasi penggunaan aplikasi SI-TB dengan memberikan edukasi literasi digital kepada pasien, dan memperkuat komunikasi berbasis teknologi untuk memastikan pengobatan berlangsung teratur hungga tuntas.</strong></p> <p><em>Tuberculosis (TB) is an infectious disease that requires long-term treatment and high compliance to prevent therapy failure and drug resistance, so the use of information technology is an important strategy in supporting treatment success. This study aims to determine the role of information technology on tuberculosis treatment compliance at the Limboto Community Health Center. The research method used a quantitative method with a cross-sectional approach and involved 133 respondents selected through accidental sampling techniques. Data collection used a questionnaire related to the use of information technology and treatment compliance, then analyzed through the relationship between variables using Chi-Square. The results showed that the majority of respondents considered the use of information technology very easy (69.2%) and the majority were in the compliant category (65.4%). Statistical tests showed a significant relationship between information technology and tuberculosis treatment compliance (p-value = 0.001), based on these results, it can be concluded that information technology has an important role in supporting the tuberculosis treatment process, especially in facilitating access to information on the TB SI application for patients so that it can be an effective strategy to improve tuberculosis treatment compliance, at the Limboto Community Health Center. Therefore, the Limboto Community Health Center is utilizing the SI-TB application to optimize its use by providing digital literacy education to patients and strengthening technology-based communication to ensure consistent and complete treatment.</em></p>2026-03-30T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Masyarakat Inovatifhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkmi/article/view/20549ANALISA EMPAT TANTANGAN UTAMA DALAM PERUMUSAN KEBIJAKAN KESEHATAN DI INDONESIA2026-03-11T08:39:22+00:00Auralia Zahra Maulidaauraliazahramaulida@gmail.comCece Hidayatcephot77@gmail.comDessy Andika Saridessyandika8@gmail.comBudi Hartonobudihartono@htp.ac.id<p style="margin: 0cm; margin-bottom: .0001pt; text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"><span style="font-size: 11.0pt;">Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis empat tantangan utama dalam perumusan kebijakan kesehatan di Indonesia, yaitu kendala geografis, ketimpangan distribusi Sumber Daya Manusia Kesehatan (SDMK), keterbatasan pembiayaan, dan beban penyakit ganda (double burden of disease). Meskipun berbagai regulasi seperti Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) telah diimplementasikan, sistem kesehatan Indonesia masih menghadapi hambatan struktural yang kompleks dalam mencapai pemerataan layanan. Metode yang digunakan adalah literature review dengan pendekatan narrative review. Data bersumber dari literatur ilmiah nasional dan internasional dalam rentang tahun 2015–2026 yang dianalisis secara tematik untuk mengidentifikasi akar permasalahan dalam proses perumusan kebijakan. Hasil analisis menunjukkan bahwa karakteristik geografis sebagai negara kepulauan menjadi determinan utama ketimpangan akses, terutama di wilayah terpencil dan Indonesia bagian timur. Hal ini diperburuk oleh distribusi SDMK yang masih terkonsentrasi di wilayah maju, kapasitas fiskal daerah yang rendah, serta sistem pembiayaan yang belum sepenuhnya berbasis kebutuhan wilayah. Selain itu, transisi epidemiologi yang ditandai dengan tingginya penyakit menular bersamaan dengan peningkatan penyakit tidak menular menambah tekanan pada sistem kesehatan yang belum siap secara struktural.</span></p> <p style="margin: 0cm; margin-bottom: .0001pt; text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"> </p> <p style="margin: 0cm; margin-bottom: .0001pt; text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"><span style="font-size: 11.0pt;"><em>Indonesia continues to face structural challenges in achieving equitable health service delivery despite the implementation of various health policies, including the National Health Insurance (JKN) program. This study aims to analyze four major challenges in the formulation of health policy in Indonesia: geographical constraints, unequal distribution of the Health Human Resources (HHR), limited health financing, and the double burden of disease. The study employs a literature review using a narrative review approach. Data were obtained from national and international scientific literature published between 2015 and 2026 and analyzed thematically to identify the root causes influencing the health policy formulation process. The findings indicate that Indonesia’s geographical characteristics as an archipelagic country constitute a major determinant of unequal access to health services, particularly in remote areas and the eastern regions of Indonesia. This condition is further exacerbated by the unequal distribution of health human resources, which remain concentrated in more developed regions, limited regional fiscal capacity, and a health financing system that has not yet fully adopted a needs-based allocation approach. In addition, the ongoing epidemiological transition, characterized by the persistence of infectious diseases alongside the increasing prevalence of non-communicable diseases places additional pressure on a health system that is not yet structurally prepared to address these challenges. These findings suggest that future health policy formulation should adopt a more contextual and region-sensitive approach while strengthening the integration of geographical considerations, human resource distribution, health financing mechanisms, and strategies to address the double burden of disease.</em></span></p>2026-03-30T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Masyarakat Inovatifhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkmi/article/view/20482PENGARUH PEMBERIAN GLUTEUS STRENGTHENING EXERCISE TERHADAP PENINGKATAN FUNGSIONAL DISABILITAS PADA PASIEN LOW BACK PAIN MYOGENIC: CASE STUDY2026-03-07T10:56:49+00:00Selvianorakkddselvi@gmail.comNoraeni Arsyadnoraeni.arsyad88@gmail.comZulfikar H. Wadazulfikar.wada@binawan.ac.id<p><em>Low back pain myogenic</em> merupakan salah satu gangguan muskuloskeletal yang dapat menyebabkan nyeri, keterbatasan gerak, dan penurunan kemampuan fungsional dalam aktivitas sehari-hari. Kelemahan otot <em>gluteal</em> diketahui berkontribusi terhadap menurunnya stabilitas <em>lumbopelvic</em> sehingga dapat memperberat disabilitas fungsional pada pasien dengan <em>low back pain myogenic</em>. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh pemberian <em>gluteus strengthening exercise</em> terhadap peningkatan fungsional disabilitas pada pasien <em>low back pain myogenic</em>. Penelitian menggunakan desain <em>case study</em> pada tiga pasien dengan diagnosis klinis <em>low back pain myogenic</em> yang menjalani intervensi fisioterapi selama 6 minggu dengan frekuensi 2 kali per minggu, sehingga total terdapat 12 sesi terapi. Intervensi yang diberikan meliputi <em>side-lying hip abduction</em>, <em>clamshell</em>, <em>unilateral hip bridge</em>, <em>side-lying hip bridge</em>, <em>single-leg wall squat</em>, dan <em>donkey kick</em>. Penilaian kemampuan fungsional dilakukan menggunakan <em>Modified Oswestry Disability Index</em> (<em>MODI</em>) sebelum intervensi dan secara berkala selama terapi. Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan skor <em>MODI</em> pada seluruh subjek. Pada subjek pertama skor <em>MODI</em> menurun dari 21 menjadi 0, pada subjek kedua dari 29 menjadi 3, dan pada subjek ketiga dari 18 menjadi 0. Penurunan skor tersebut menunjukkan adanya peningkatan kemampuan fungsional dan penurunan disabilitas setelah pemberian intervensi. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa <em>gluteus strengthening exercise</em> berpotensi efektif dalam meningkatkan kemampuan fungsional dan menurunkan disabilitas pada pasien <em>low back pain myogenic</em>.</p> <p><em>Myogenic low back pain</em><em> is a musculoskeletal disorder that may cause pain, limited movement, and decreased functional ability in daily activities. Weakness of the gluteal muscles is known to contribute to reduced lumbopelvic stability, which may worsen functional disability in patients with myogenic low back pain. This study aimed to evaluate the effect of gluteus strengthening exercise on improving functional disability in patients with myogenic low back pain. This study used a case study design involving three patients with a clinical diagnosis of myogenic low back pain who underwent physiotherapy intervention for 6 weeks, twice per week, with a total of 12 treatment sessions. The intervention program consisted of side-lying hip abduction, clamshell, unilateral hip bridge, side-lying hip bridge, single-leg wall squat, and donkey kick. Functional ability was assessed using the Modified Oswestry Disability Index (MODI) before the intervention and periodically throughout the treatment sessions. The results showed a reduction in MODI scores in all subjects. In the first subject, the MODI score decreased from 21 to 0; in the second subject, from 29 to 3; and in the third subject, from 18 to 0. The decrease in these scores indicates improved functional ability and reduced disability after the intervention. In conclusion, gluteus strengthening exercise has the potential to be an effective intervention for improving functional ability and reducing disability in patients with myogenic low back pain.</em></p>2026-03-30T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Masyarakat Inovatifhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkmi/article/view/20564PENGARUH EDUKASI KESEHATAN VULVA HYGIENE TERHADAP TINGKAT PENGETAHUAN REMAJA DALAM MENCEGAH FLOUR ALBUS DI SMPN 1 PADANGAN2026-03-12T10:19:49+00:00Ridha Tri Kusumawati ridhakusumawati1@gmail.comAhmad Zainal Abidin ahmadzainalabidin14@gmail.com Hasan Bisri bisri15@gmail.com<p><strong>Flour albus atau disebut juga dengan keputihan adalah salah satu masalah kesehatan reproduksi yang sering terjadi dikalangan remaja putri dan penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh edukasi kesehatan vulva hygiene terhadap tingkat pengetahuan remaja dalam mencegah flour albus di SMPN 1 Padangan.Desain penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan pre-eksperimental dengan rancangan one-group pra-post test design. Populasi terdiri dari 317 remaja putri dari kelas 8 dan 9. Sampel penelitian ini menggunakan metode purposive sampling dengan jumlah 32 responden. Data dianalisis dengan uji statistic wilcoxon.Hasil penelitian ini menunjukkan nilai uji Wilcoxon signed rank test (ρ value = 0,000 < 0,05) maka dapat disimpulkan secara statistik ada pengaruh edukasi kesehatan vulva hygiene terhadap tingkat pengetahuan remaja dalam mencegah flour albus di SMPN 1 Padangan.Kesimpulan bahwa edukasi kesehatan vulva hygiene terhadap tingkat pengetahuan remaja dalam mencegah flour albus di SMPN 1 Padangan dengan metode demonstrasi disertai media phantom sebagai alat peraga dan media leaflet sebagai media baca dapat mempengaruhi tingkat pengetahuan remaja putri</strong><strong>.</strong></p> <p><em>Fluor albus, also known as vaginal discharge, is a common reproductive health issue among adolescent girls. This study aims to analyze the effect of vulva hygiene health education on the knowledge level of adolescents in preventing fluor albus at SMPN 1 Padangan.This research employed a quantitative method with a pre-experimental approach using a one-group pretest-posttest design. The population consisted of 317 female adolescents from grades 8 and 9. The sample was selected using purposive sampling with 32 respondents. Data were analyzed using the Wilcoxon statistical test.The results showed a Wilcoxon signed-rank test value (p=0.000<0.05), indicating a statistically significant effect of vulva hygiene health education on adolescents' knowledge level in preventing fluor albus at SMPN 1 Padangan.In conclusion, vulva hygiene health education using demonstration methods with phantom models as teaching aids and leaflets as reading materials effectively improves the knowledge level of adolescent girls.</em></p>2026-03-30T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Masyarakat Inovatifhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkmi/article/view/20548LITERATURE REVIEW : ANALISIS SITUASI KOMPERHENSIF SEBAGAI KUNCI PENGAMBILAN KEPUTUSAN STRATEGIS SEKTOR KESEHATAN2026-03-11T08:13:15+00:00Moh. Saleh Al-Amin Raja Alamrjalam53@gmail.comNugroho Dwi Atmojosatrionugroho100811@gmail.comTubagus Mumtaz Elfikritbmumtaz.08@gmail.comBudi Hartonobudi.hartono@htp.ac.id<p><strong>Latar belakang :</strong> Analisis situasi dan penentuan prioritas masalah kesehatan merupakan tahapan krusial dalam perencanaan strategis bidang kesehatan. Kompleksitas masalah kesehatan yang dipengaruhi faktor sosial, ekonomi, lingkungan, dan sistem pelayanan menuntut pendekatan berbasis data dan lintas sektor. Proses ini menjadi penting mengingat keterbatasan sumber daya serta tuntutan peningkatan derajat kesehatan masyarakat secara berkelanjutan. <strong>Tujuan : <em>literature review</em> </strong>ini bertujuan untuk mengetahui proses analisis situasi dan penentuan prioritas masalah kesehatan dalam perencanaan strategis, serta mengidentifikasi pendekatan, kriteria, dan strategi yang digunakan dalam menetapkan masalah kesehatan <strong>Metode:</strong> Penelitian ini menggunakan pendekatan <em>literature review</em> dengan menelaah lima artikel ilmiah yang diperoleh melalui database Google Scholar dan PubMed pada periode 2023-2024, yang relevan dengan analisis situasi dan penentuan prioritas masalah kesehatan dalam perencanaan strategis. <strong>Hasil:</strong> Hasil telaah menunjukkan bahwa Permasalahan kesehatan yang teridentifikasi meliputi penyakit menular, penyakit tidak menular, kesehatan ibu dan anak, masalah sanitasi, serta faktor perilaku masyarakat. Penentuan prioritas dilakukan berdasarkan besarnya masalah, tingkat keparahan, dampak terhadap masyarakat, serta ketersediaan sumber daya. Kesimpulan : berdasarka hasil <em>literature riview</em>, analisis situasi dan penentuan prioritas masalah kesehatan merupakan tahapan fundamental dalam perencanaan strategis yang berbasis bukti. Analisis situasi memberikan gambaran komprehensif mengenai kondisi kesehatan masyarakat, sedangkan proses prioritisasi memastikan pemilihan masalah yang paling mendesak dan feasible untuk ditangani sesuai ketersediaan sumber daya. Integrasi kedua tahapan ini berkontribusi terhadap penyusunan kebijakan dan program kesehatan yang lebih efektif, efisien, serta berkelanjutan dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.</p>2026-03-30T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Masyarakat Inovatif