Jurnal Kesehatan Masyarakat Inovatif https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkmi id-ID Jurnal Kesehatan Masyarakat Inovatif GAMBARAN PENGETAHUAN WANITA USIA SUBUR TENTANG PERSIAPAN KEHAMILAN PERTAMA DI DESA CIKUTAMAHI KECAMATAN CARIU KABUPATEN BOGOR https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkmi/article/view/24203 <p>Pendahuluan: Persiapan kehamilan masa prakonsepsi sangat penting untuk menjamin kesehatan ibu dan janin serta menekan angka kematian. Namun, pemahaman Wanita Usia Subur (WUS) mengenai hal ini sering kali masih terbatas.Tujuan: Mengetahui gambaran pengetahuan WUS tentang persiapan kehamilan pertama di Desa Cikutamahi, Kecamatan Cariu, Kabupaten Bogor.Metode: Penelitian kuantitatif deskriptif ini melibatkan 104 responden WUS menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen berupa kuesioner terstruktur dengan data yang dianalisis secara univariat.Hasil:Mayoritas responden berusia 35-39 tahun (25,0%), lulusan SMA (58,7%), dan bekerja sebagai ibu rumah tangga (43,3%). Sebanyak 48,1% responden memiliki pengetahuan kategori baik, namun 46,2% lainnya memiliki pengetahuan kategori kurang, sementara kategori cukup hanya sebesar 5,8%. Kesenjangan yang tajam ini dipengaruhi faktor latar belakang pendidikan dan keterbatasan waktu bagi kelompok wanita pekerja untuk mengakses informasi kesehatan.Kesimpulan dan Saran :Terdapat polarisasi pemahaman yang kontras di antara WUS, di mana proporsi tingkat pengetahuan baik dan kurang hampir seimbang. Puskesmas dan tenaga kesehatan desa diharapkan mengintensifkan program edukasi prakonsepsi yang menyasar WUS sebelum masa kehamilan serta memfasilitasi waktu penyuluhan yang lebih fleksibel.</p> <p><em>Introduction: Preconception pregnancy preparation is crucial to ensure the health of both mother and fetus and to reduce mortality rates. However, the understanding of Women of Childbearing Age (WCA) regarding this matter remains limited.Objective: To determine the overview of WCA's knowledge concerning first pregnancy preparation in Cikutamahi Village, Cariu District, Bogor Regency.Method: This descriptive quantitative research involved 104 WCA respondents selected using a purposive sampling technique. The instrument utilized was a structured questionnaire, with data analyzed univariately.Results: The majority of respondents were aged 35-39 years (25.0%), high school graduates (58.7%), and worked as housewives (43.3%). A total of 48.1% of respondents possessed good knowledge, whereas 46.2% fell into the poor knowledge category, and only 5.8% were in the fair category. This sharp disparity was influenced by educational background factors and time constraints for working women in accessing health information.Conclusion and suggestions:There is a contrast polarization of understanding among WCA, where the proportion of good and poor knowledge levels is nearly balanced. Public health centers (Puskesmas) and village health workers are expected to intensify preconception education programs targeting WCA prior to pregnancy and facilitate more flexible counseling schedules.</em></p> Novia Febrianti Papat Patimah Obar Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Masyarakat Inovatif 2026-07-30 2026-07-30 9 7 PENGARUH TEKHNIK RELAKSASI NAFAS DALAM DAN DZIKIR TERHADAP PENURUNAN NYERI GASTRISTIS PADA REMAJA DI PUSKESMAS GROBOGAN https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkmi/article/view/25587 <p>Gastristis merupakan salah satu masalah kesehatan yang banyak dialami remaja, nyeri gastristis dapat menganggu aktivitas belajar dan menurunkan kualitas hidup, tekhnik relaksasi nafas dalam dan dzikir merupakan intervemsi non-farmakologi yang dipercaya dapat menurunkan intensitas nyeri. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh relaksasi nafas dan dzikir terhadap penurunan intensitas nyeri gastritis pada remaja. Jenis penelitian ini yaitu kuantitatif dengan desain quasi eksperimen pretest dan posttest with control group. Populasi penelitian ini berjumlah 98 responden remaja usia 15-18 tahun dengan gastristis di puskesmas grobogan. Tekhnik pengambilan sample menggunakan purprosive sample dengan jumlah populasi 170 responden dan jumlah sampel 70 responden yang akan terbagi menjadi kelompok kontrol dan kelompok intervensi masing-masing 35 responden. Kelompok intervensi diberikan kombinasi relaksasi nafas dan dzikir selama 10 menit, 2 kali sehari selama 7 hari, sedangkan kelompok kontrol mendapatkan perawatan standar. Intensitas nyeri diukur menggunakan Numeric Rating Scale dan dianalisis dengan uji Paired t-test dan Independent t-test. Hasil penelitian menunjukkan pada kelompok intervensi terjadi penurunan intensitas nyeri dari mean 9,37 kategori nyeri berat sebelum intervensi menjadi 4,50 kategori nyeri sedang setelah intervensi dengan nilai p-value 0,000. Sedangkan pada kelompok kontrol tidak terjadi penurunan yang signifikan dengan nilai mean sebelum 9,41 dan sesudah 9,41 dengan p-value 0,085. Hasil uji Independent t-test menunjukkan ada perbedaan yang signifikan antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol dengan p-value 0,000. Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat pengaruh teknik relaksasi nafas dalam dan dzikir terhadap penurunan intensitas nyeri gastritis pada remaja di Puskesmas Grobogan. Disarankan kepada pihak Puskesmas untuk menerapkan teknik relaksasi nafas dalam dan dzikir sebagai terapi komplementer dalam penanganan nyeri gastritis pada remaja.</p> Ardino Yulianto Sukarmin Noor Hidayah Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Masyarakat Inovatif 2026-08-19 2026-08-19 9 7 HUBUNGAN MOTIVASI BELAJAR DAN TANGGUNG JAWAB DENGAN INDEKS PRESTASI MAHASISWA KEPERAWATAN SEMESTER 7 DI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH KUDUS https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkmi/article/view/23711 <p>Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan motivasi belajar dan tanggung jawab akademik dengan indeks prestasi mahasiswa keperawatan semester VII di Universitas Muhammadiyah Kudus menggunakan desain kuantitatif analitik korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 138 mahasiswa yang dipilih menggunakan teknik proportional random sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner motivasi belajar dan tanggung jawab akademik serta dokumentasi indeks prestasi, kemudian dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman Rank. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa memiliki motivasi belajar dan tanggung jawab akademik pada kategori sedang, sedangkan indeks prestasi didominasi kategori baik. Analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan yang sangat kuat dan signifikan antara motivasi belajar dengan indeks prestasi (p = 0,001; r = 0,977) serta hubungan yang signifikan antara tanggung jawab akademik dengan indeks prestasi (p = 0,002; r = 0,267). Dengan demikian, semakin tinggi motivasi belajar dan semakin baik tanggung jawab akademik mahasiswa, maka cenderung semakin tinggi pula indeks prestasi yang diperoleh, sehingga kedua faktor tersebut perlu terus ditingkatkan untuk mendukung keberhasilan akademik mahasiswa keperawatan.</p> Sulhi Kholid Al Abid Indanah Edi Wibowo Suwandi Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Masyarakat Inovatif 2026-07-30 2026-07-30 9 7 PERSEPSI RISIKO PADA PEROKOK KRETEK REMPAH DI DESA PALAKAHEMBI, KABUPATEN SUMBA TIMUR, PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkmi/article/view/24448 <p><em>Background: Herbal clove cigarettes are increasingly used in rural communities in Indonesia due to the belief that they are safer than conventional cigarettes because they are made from natural ingredients. This study aimed to explore risk perceptions among herbal clove cigarette users in Palakahembi Village, East Sumba Regency, based on the perceived susceptibility and perceived severity constructs of the Health Belief Model (HBM).</em></p> <p><em>Methods: A qualitative study with a phenomenological approach was conducted involving ten informants, consisting of six active herbal clove cigarette users and four supporting informants, selected through purposive sampling. Data were collected through in-depth interviews, observation, and documentation, and were analyzed using thematic analysis with in vivo coding.</em></p> <p><em>Results: Most informants demonstrated low perceived susceptibility and low perceived severity regarding the health risks associated with herbal clove cigarette use. These perceptions were shaped by beliefs that herbal clove cigarettes contain no or only low levels of nicotine, positive personal experiences, the influence of family members and peers, and testimonials shared on social media.</em></p> <p><em>Conclusion: The low level of risk perception among herbal clove cigarette users in Palakahembi Village reinforces the continued use of herbal clove cigarettes, despite scientific evidence indicating that they remain harmful to health. Community-based health education is needed to address these misconceptions and improve public awareness of the potential health risks associated with herbal clove cigarette use.</em></p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><em> Risk Perception, Herbal Clove Cigarattes, Health Belief Model.</em></p> <p>&nbsp;</p> Irene Ngguna Maramba Meha Helga J. N. Ndun Galuh Wiedani K. D. Larasati Eryc Z. Haba Bunga Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Masyarakat Inovatif 2026-07-30 2026-07-30 9 7 PENINGKATAN DERAJAT KESEHATAN GIGI DAN MULUT MASYARAKAT MELALUI BAKTI SOSIAL DI KAMPUNG UJOH BILANG https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkmi/article/view/24105 <p>Kesehatan gigi dan mulut merupakan bagian penting dari kesehatan umum yang berpengaruh terhadap kualitas hidup masyarakat. Rendahnya pengetahuan mengenai pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut serta keterbatasan akses pelayanan kesehatan menjadi salah satu penyebab tingginya masalah kesehatan gigi di daerah terpencil. Kegiatan bakti sosial ini bertujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan gigi dan mulut masyarakat di Kampung Ujoh Bilang melalui penyuluhan kesehatan, pemeriksaan gigi dan mulut, serta pemberian tindakan promotif dan preventif. Metode pelaksanaan meliputi edukasi mengenai cara menjaga kebersihan gigi dan mulut, demonstrasi teknik menyikat gigi yang benar, pemeriksaan kesehatan gigi, konsultasi, serta pemberian pelayanan dasar sesuai kebutuhan masyarakat. Kegiatan ini diikuti oleh masyarakat dari berbagai kelompok usia. Hasil pelaksanaan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan masyarakat mengenai pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut, meningkatnya kesadaran untuk melakukan perawatan gigi secara rutin, serta teridentifikasinya berbagai permasalahan kesehatan gigi yang memerlukan tindak lanjut. Program bakti sosial ini diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam meningkatkan perilaku hidup sehat dan memperkuat upaya promotif serta preventif kesehatan gigi dan mulut di masyarakat, khususnya di wilayah dengan keterbatasan akses pelayanan kesehatan.</p> <p><em>Oral health is an essential component of overall health that significantly influences people's quality of life. Limited knowledge of oral hygiene practices and restricted access to dental health services contribute to the high prevalence of oral health problems in remote areas. This community service program aimed to improve the oral health status of the community in Ujoh Bilang Village through health education, oral examinations, and promotive and preventive dental services. The program included oral health education, demonstrations of proper toothbrushing techniques, dental examinations, consultations, and the provision of basic dental care according to community needs. Participants consisted of community members from various age groups. The program resulted in increased public knowledge regarding the importance of maintaining oral health, greater awareness of routine dental care, and the identification of oral health problems requiring further treatment. This community service initiative is expected to serve as an initial step toward improving healthy behaviors and strengthening promotive and preventive oral health efforts, particularly in communities with limited access to dental health services.</em></p> Melkior Pancasiyanuar Yuli Peristiowati Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Masyarakat Inovatif 2026-07-30 2026-07-30 9 7 PROGRAM STUDI MAGISTER KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KEBIJAKAN MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN UNIVERSITAS STRADA INDONESIA KEDIRI 2026 https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkmi/article/view/24801 <p>Integrasi Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) dengan Jaringan Komunikasi Data (Jarkomdat) merupakan salah satu upaya mendukung transformasi digital kesehatan dalam meningkatkan efektivitas pelaksanaan rujukan online. RSUD Gerbang Sehat Mahulu Kabupaten Mahakam Ulu telah menerapkan SIMRS sebagai sistem pendukung pelayanan kesehatan, namun hingga saat ini sistem tersebut belum terintegrasi dengan Jarkomdat sehingga proses pertukaran data pelayanan dan pelaksanaan rujukan online belum dapat berjalan secara optimal. Berdasarkan hasil identifikasi, masih ditemukan beberapa kendala yang memengaruhi kesiapan integrasi, antara lain keterbatasan jumlah dan kompetensi tenaga teknologi informasi, belum adanya administrator khusus SIMRS, belum tersedianya roadmap dan kebijakan teknis integrasi, keterbatasan sarana dan prasarana teknologi informasi, belum tersedianya modul bridging dan Application Programming Interface (API), keterbatasan anggaran, serta belum tersedianya operator Jarkomdat pada instansi terkait.Kegiatan residensi ini bertujuan untuk menganalisis kesiapan integrasi Jarkomdat dalam mendukung pelaksanaan rujukan online di RSUD Gerbang Sehat Mahulu Kabupaten Mahakam Ulu serta menyusun strategi yang dapat diterapkan untuk meningkatkan kesiapan implementasi integrasi sistem informasi kesehatan. Metode yang digunakan meliputi observasi lapangan, wawancara mendalam, telaah dokumen, serta analisis manajemen menggunakan Diagram Fishbone untuk mengidentifikasi akar penyebab masalah, metode Urgency, Seriousness, Growth (USG) untuk menentukan prioritas masalah, dan analisis SWOT yang dilanjutkan dengan penyusunan Matriks IFAS, EFAS, serta strategi pengembangan.Hasil analisis menunjukkan bahwa prioritas utama permasalahan adalah belum tersedianya modul bridging SIMRS dengan Jarkomdat dan belum tersedianya API integrasi sebagai media pertukaran data antar sistem. Analisis SWOT menunjukkan bahwa RSUD Gerbang Sehat Mahulu berada pada Kuadran I (Growth Strategy), yang menunjukkan bahwa rumah sakit memiliki kekuatan internal dan peluang eksternal yang besar untuk mendukung implementasi integrasi sistem. Strategi yang direkomendasikan meliputi pengembangan modul bridging dan API, penyusunan roadmap integrasi, pembentukan tim integrasi, peningkatan kompetensi sumber daya manusia, penyusunan kebijakan teknis, peningkatan infrastruktur teknologi informasi, serta penguatan koordinasi dengan Dinas Kesehatan, Kominfo, dan BPJS Kesehatan. Implementasi strategi tersebut diharapkan mampu mempercepat integrasi SIMRS dengan Jarkomdat sehingga pelaksanaan rujukan online menjadi lebih efektif, efisien, terintegrasi, serta berkontribusi terhadap peningkatan mutu pelayanan kesehatan di RSUD Gerbang Sehat Mahulu Kabupaten Mahakam Ulu.</p> <p><em>The integration of the Hospital Management Information System (HMIS) with the Government Data Communication Network (JARKOMDAT) is one of the strategic initiatives to support digital health transformation by improving the effectiveness of the online referral system. Gerbang Sehat Mahulu Regional General Hospital, Mahakam Ulu Regency, has implemented a Hospital Management Information System (HMIS) to support healthcare services. However, the system has not yet been integrated with JARKOMDAT, resulting in suboptimal healthcare data exchange and online referral implementation. Based on the assessment, several challenges affecting integration readiness were identified, including the limited number and competency of information technology personnel, the absence of a dedicated HMIS administrator, the lack of an integration roadmap and technical policies, inadequate information technology infrastructure, the absence of a bridging module and an Application Programming Interface (API), limited financial resources, and the unavailability of JARKOMDAT operators within the relevant government institutions.This residency project aimed to analyze the readiness for JARKOMDAT integration in supporting the implementation of the online referral system at Gerbang Sehat Mahulu Regional General Hospital, Mahakam Ulu Regency, and to formulate strategic recommendations to improve the readiness for healthcare information system integration. The methods employed included field observation, in-depth interviews, document review, and management analysis using the Fishbone Diagram to identify root causes, the Urgency, Seriousness, and Growth (USG) method to determine priority issues, and SWOT analysis followed by the development of IFAS and EFAS matrices to formulate strategic interventions.The findings revealed that the primary issues were the absence of an HMIS bridging module integrated with JARKOMDAT and the lack of an Application Programming Interface (API) for data exchange between systems. SWOT analysis positioned the hospital in Quadrant I (Growth Strategy), indicating that the organization possesses strong internal capabilities and significant external opportunities to support system integration. The recommended strategies include developing the bridging module and API, establishing an integration roadmap, forming an integration team, enhancing the competency of information technology personnel, developing technical policies, improving information technology infrastructure, and strengthening collaboration with the District Health Office, the Department of Communication and Informatics, and BPJS Kesehatan. The implementation of these strategies is expected to accelerate the integration of HMIS with JARKOMDAT, improve the effectiveness and efficiency of the online referral system, facilitate integrated healthcare services, and contribute to enhancing the quality of</em> <em>healthcare services at Gerbang Sehat Mahulu Regional General Hospital, Mahakam Ulu Regenc.</em></p> Josimar Hagusvaro Sinaga Ratna Wardani Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Masyarakat Inovatif 2026-07-30 2026-07-30 9 7 PENYEBAB KASUS SEPSIS DAN MORTALITAS PASIEN POST OPERASI KRANIOTOMI DI RUANG BANGSAL RAWAT INAP PASCA PERAWATAN DI ICU DAN IMPLEMENTASI PENCEGAHAN KEPERAWATAN https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkmi/article/view/24382 <p>Latar Belakang: Sepsis dianggap sebagai salah satu faktor utama morbiditas dan mortalitas di antara pasien bedah saraf yang menjalani trepanasi. Ini terjadi pada saat pasien pergi dari&nbsp; intensive care unit (ICU) ke bangsal rawat inap. Pada periode ini, pasien cenderung mengalami infeksi karena berbagai faktor termasuk prosedur invasif, penekanan kekebalan, dan proses penyakit itu sendiri. Perawatlah yang memberikan kontribusi signifikan terhadap deteksi dini tanda-tanda sepsis, pencegahan infeksi, dan pemanfaatan praktik keperawatan berbasis bukti. (Xu et al.,2024) Tujuan: Umbrella review ini bertujuan untuk menentukan faktor-faktor yang bertanggung jawab atas sepsis dan mortalitas pada pasien pasca operasi setelah trepanasi yang telah dipindahkan dari ICU ke bangsal rawat inap. Tujuan lain dari penelitian ini adalah untuk menyoroti literatur yang ada mengenai efektivitas intervensi keperawatan untuk mencegah sepsis dan mengoptimalkan hasil klinis pengobatan pasien di ruang bangsal. Metode: Pencarian akan dilakukan melalui enam basis data elektronik (PubMed / MEDLINE, EMBASE, CINAHL, Cochrane Library, Web of Science, dan Scopus). Kriteria inklusi akan terdiri dari artikel yang terkait dengan tinjauan sistematis, meta-analisis, tinjauan pelingkupan, dan tinjauan integratif tentang topik sepsis, infeksi pascaoperasi, dan infeksi yang didapat di rumah sakit di antara pasien bedah atau pasien ICU. Penilaian kualitas akan dilakukan dengan menggunakan kriteria AMSTAR-2 dan JBI. Hasil: Total 34 artikel dimasukkan dalam tinjauan tersebut. Pemicu utama infeksi sepsis termasuk infeksi di tempat pembedahan (SSI-CRAN) dengan tingkat kejadian 4,03%-6,17% (Lee et al., 2024), pneumonia terkait ventilator/VAP (Howroyd et al., 2025), dan infeksi aliran darah terkait kateter dengan ATAU mortalitas 3,19; 95% CI: 2,44-4,16 (Elangovan et al., 2024). Faktor risiko yang terkait dengan perkembangan infeksi sepsis adalah operasi ulang (RR 1,58), riwayat radioterapi (RR 1,69), durasi operasi yang lama dan kebocoran CSF (RR 14,26) (Lee et al., 2024). Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan pada pasien dengan infeksi sepsis adalah menggabungkan perawatan ventilator dengan ATAU 0,42 untuk VAP (Martinez-Reviewjo et al., 2023), intervensi pengendalian infeksi IPC multi-modal (Hill et al., 2024; Sonpar dkk., 2025), sinbiotik / probiotik dengan OR 0,37-0,52 untuk infeksi nosokomial (Li et al., 2021). Kesimpulan: Implementasi care bundle sistematis, meningkatkan kemampuan keperawatan dalam diagnosis dini sepsis (Abdalhafith et al., 2025), berbagai pendekatan IPC dan teknologi pendukung keputusan (Porcellato et al., 2025) merupakan bagian penting dari strategi pencegahan dalam kasus pasien bedah pasca-trepanasi.</p> Andayani Wahyu Sutopo Ayudya Fadila Tutus Fibri Ajimas Budi Matrahman Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Masyarakat Inovatif 2026-07-30 2026-07-30 9 7 HUBUNGAN ANTARA KARAKTERISTIK INDIVIDU DAN KONDISI LINGKUNGAN TEMPAT TINGGAL DENGAN KEJADIAN INFLUENZA LIKE ILLNESS (ILI) DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SIKUMANA https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkmi/article/view/23994 <p>Influenza Like Illness (ILI) merupakan sindrom infeksi saluran pernapasan akut yang ditandai dengan demam disertai batuk dan/atau nyeri tenggorokan serta masih menjadi masalah kesehatan masyarakat karena tingginya angka penularan. Kejadian ILI dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik karakteristik individu maupun kondisi lingkungan tempat tinggal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara karakteristik individu dan kondisi lingkungan tempat tinggal dengan kejadian Influenza Like Illness (ILI) di wilayah kerja Puskesmas Sikumana. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan rancangan case control. Sampel penelitian berjumlah 70 responden yang terdiri atas 35 kasus dan 35 kontrol dengan perbandingan 1:1. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan teknik simple random sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara menggunakan kuesioner dan lembar observasi, kemudian dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kepercayaan 95% (α = 0,05). Besarnya risiko dinilai menggunakan Odds Ratio (OR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa usia berhubungan secara signifikan dengan kejadian ILI (p=0,000; OR=0,143; 95% CI=0,063–0,322). Jenis kelamin tidak berhubungan dengan kejadian ILI (p=0,611; OR=1,477; 95% CI=0,541–4,032). Kepadatan hunian juga tidak berhubungan dengan kejadian ILI (p=0,591; OR=0,646; 95% CI=0,223–1,873). Sebaliknya, ventilasi rumah berhubungan signifikan dengan kejadian ILI (p=0,004; OR=5,063; 95% CI=1,791–14,310), sehingga responden yang tinggal pada rumah dengan ventilasi tidak memenuhi syarat memiliki risiko 5,063 kali lebih besar mengalami ILI. Keberadaan perokok dalam rumah juga berhubungan signifikan dengan kejadian ILI (p=0,000; OR=7,667; 95% CI=2,595–22,646), sehingga responden yang tinggal bersama anggota keluarga yang merokok memiliki risiko 7,667 kali lebih besar mengalami ILI. Terdapat hubungan antara usia, ventilasi rumah, dan keberadaan perokok dalam rumah dengan kejadian Influenza Like Illness (ILI), sedangkan jenis kelamin dan kepadatan hunian tidak berhubungan dengan kejadian ILI. Upaya pencegahan ILI perlu difokuskan pada peningkatan kualitas ventilasi rumah, penerapan rumah bebas asap rokok, serta edukasi kepada masyarakat mengenai pencegahan penyakit infeksi saluran pernapasan.</p> <p><em>Influenza-Like Illness (ILI) is an acute respiratory infection syndrome characterized by fever accompanied by cough and/or sore throat. It remains a major public health concern due to its high transmissibility. The occurrence of ILI is influenced by both individual characteristics and residential environmental conditions. This study aimed to analyze the relationship between individual characteristics and residential environmental conditions and the incidence of Influenza-Like Illness (ILI) in the working area of the Sikumana Community Health Center. This analytical observational study employed a case-control design. A total of 70 respondents were enrolled, consisting of 35 cases and 35 controls with a 1:1 ratio. Participants were selected using simple random sampling. Data were collected through structured interviews using questionnaires and observation checklists. Univariate and bivariate analyses were performed using the Chi-square test with a 95% confidence level (α=0.05). The magnitude of risk was measured using the Odds Ratio (OR). Age was significantly associated with the incidence of ILI (p=0.000; OR=0.143; 95% CI=0.063–0.322). Sex was not significantly associated with ILI (p=0.611; OR=1.477; 95% CI=0.541–4.032). Housing density was also not significantly associated with ILI (p=0.591; OR=0.646; 95% CI=0.223–1.873). In contrast, inadequate home ventilation was significantly associated with ILI (p=0.004; OR=5.063; 95% CI=1.791–14.310), indicating that respondents living in houses with inadequate ventilation had a 5.063-fold higher risk of developing ILI. The presence of smokers in the household was also significantly associated with ILI (p=0.000; OR=7.667; 95% CI=2.595–22.646), indicating a 7.667-fold higher risk among respondents living with smokers. Age, home ventilation, and the presence of smokers in the household were significantly associated with the incidence of Influenza-Like Illness (ILI), whereas sex and housing density were not. Strengthening health promotion programs focusing on improving household ventilation, implementing smoke-free homes, and increasing public awareness regarding respiratory infection prevention is recommended to reduce the incidence of ILI.</em></p> Gloria Andra Umbu Amas Pius Weraman Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Masyarakat Inovatif 2026-07-30 2026-07-30 9 7 OPTIMALISASI PENGADAAN OBAT UNTUK MENINGKATKAN MUTU PELAYANAN DI PUSKESMAS UJOH BILANG DENGAN SIPATUH OBAT (SISTEM PEMANTAUAN STOK DAN PELAPORAN OBAT TERINTEGRASI) https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkmi/article/view/24714 <p>Pengadaan obat merupakan salah satu komponen penting dalam pelayanan kefarmasian di puskesmas yang berperan dalam menjamin ketersediaan obat yang tepat jenis, tepat jumlah, tepat waktu, dan sesuai dengan kebutuhan pelayanan kesehatan. Berdasarkan hasil identifikasi di Puskesmas Ujoh Bilang Kabupaten Mahakam Ulu, masih ditemukan berbagai permasalahan dalam proses pengadaan obat, antara lain perencanaan kebutuhan obat yang belum sepenuhnya akurat, monitoring stok obat yang masih dilakukan secara manual, keterlambatan pelaporan penggunaan obat dari Puskesmas Pembantu (Pustu), serta belum optimalnya pemanfaatan teknologi informasi dalam mendukung pengelolaan logistik farmasi. Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan terjadinya stock out, overstock, keterlambatan pengadaan obat, serta berdampak pada penurunan mutu pelayanan kesehatan.Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan untuk mengoptimalkan pengadaan obat melalui implementasi SIPATUH OBAT (Sistem Pemantauan Stok dan Pelaporan Obat Terintegrasi) sebagai inovasi yang mendukung monitoring stok obat, pelaporan penggunaan obat, dan penyusunan kebutuhan obat secara lebih cepat, tepat, dan terintegrasi. Metode pelaksanaan kegiatan menggunakan pendekatan Satuan Acara Penyuluhan (SAP) yang meliputi penyuluhan, demonstrasi, praktik penggunaan SIPATUH OBAT berbasis Google Spreadsheet dan WhatsApp, serta pendampingan kepada petugas farmasi dan petugas Puskesmas Pembantu (Pustu). Evaluasi kegiatan dilakukan melalui pre-test, post-test, observasi keterampilan peserta, dan monitoring penerapan sistem.Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan dan keterampilan petugas dalam melakukan monitoring stok obat, pelaporan penggunaan obat, serta pemanfaatan data sebagai dasar penyusunan kebutuhan pengadaan obat. Implementasi SIPATUH OBAT juga mendukung proses pengadaan obat yang lebih efektif, mengurangi risiko stock out dan overstock, serta meningkatkan ketepatan perencanaan kebutuhan obat. Dengan demikian, SIPATUH OBAT diharapkan dapat menjadi inovasi yang mendukung transformasi digital pelayanan kefarmasian dan berkontribusi terhadap peningkatan mutu pelayanan kesehatan di Puskesmas Ujoh Bilang Kabupaten Mahakam Ulu.</p> <p><em>Medicine procurement is an essential component of pharmaceutical services at community health centers (Puskesmas), playing a crucial role in ensuring the availability of the right medicines in the right quantity, at the right time, and according to healthcare service needs. Based on the findings at Ujoh Bilang Community Health Center, Mahakam Ulu Regency, several challenges were identified in the medicine procurement process, including inaccurate medicine needs planning, manual medicine stock monitoring, delays in medicine usage reporting from auxiliary health centers (Puskesmas Pembantu/Pustu), and the limited utilization of information technology to support pharmaceutical logistics management. These conditions may result in stock-outs, overstocking, delays in medicine procurement, and ultimately reduce the quality of healthcare services.This Community Service Program aimed to optimize medicine procurement through the implementation of SIPATUH OBAT (Integrated Medicine Stock Monitoring and Reporting System) as an innovation to support medicine stock monitoring, medicine usage reporting, and medicine needs planning in a faster, more accurate, and integrated manner. The program was implemented using a Health Education Activity Plan (Satuan Acara Penyuluhan/SAP) approach, including health education sessions, demonstrations, hands-on training using the Google Spreadsheet and WhatsApp-based SIPATUH OBAT system, and mentoring for pharmacy personnel and auxiliary health center staff (Pustu). Program evaluation was conducted through pre-tests, post-tests, participant skill observations, and monitoring of system implementation.The results of the program demonstrated an improvement in participants' knowledge and skills regarding medicine stock monitoring, medicine usage reporting, and the utilization of data for medicine procurement planning. Furthermore, the implementation of SIPATUH OBAT supported a more effective medicine procurement process, reduced the risks of stock-outs and overstocking, and improved the accuracy of medicine needs planning. Therefore, SIPATUH OBAT is expected to become an innovative tool that supports the digital transformation of pharmaceutical services and contributes to improving the quality of healthcare services at Ujoh Bilang Community Health Center, Mahakam Ulu Regency.</em></p> Yuliana Sintia Abilio Noviandi Jung Lira Suti Sefanya Atik Setiawan Wahyuningsih Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Masyarakat Inovatif 2026-07-30 2026-07-30 9 7 GAMBARAN PENGETAHUAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS) PADA ANAK SEKOLAH DASAR NEGERI JAMBUDIPA 3 https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkmi/article/view/24289 <p>Pendahuluan: PHBS merupakan perilaku yang dilakukan atas dasar kesadaran untuk menjaga dan meningkatkan kesehatan. Pengetahuan yang baik mengenai PHBS pada anak usia sekolah sangat penting karena menjadi dasar dalam pembentukan kebiasaan hidup sehat serta pencegahan berbagai penyakit. Namun, masih ditemukan anak sekolah dasar yang memiliki pengetahuan PHBS yang belum optimal. Tujuan: Mengetahui gambaran PHBS pada anak di SD Negeri Jambudipa 3 Kabupaten Cianjur. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 44 siswa kelas IV SD Negeri Jambudipa 3 yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner pengetahuan PHBS dan dianalisis secara univariat dalam bentuk distribusi frekuensi dan persentase. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan PHBS dalam kategori cukup sebanyak 32 responden (72,7%), kategori kurang sebanyak 12 responden (27,3%), dan tidak terdapat responden yang memiliki tingkat pengetahuan dalam kategori baik (0%).. Kesimpulan dan saran: Sebagian besar siswa memiliki tingkat pengetahuan PHBS dalam kategori cukup, namun belum ada yang mencapai kategori baik. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan edukasi kesehatan secara berkelanjutan melalui program Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), penyuluhan kesehatan, serta keterlibatan guru, tenaga kesehatan, dan orang tua untuk meningkatkan pengetahuan dan penerapan PHBS pada anak usia sekolah</p> <p><em>Introduction : PHBS refers to actions taken based on an awareness of maintaining and improving health. Good knowledge regarding PHBS among school-aged children is crucial, as it serves as the foundation for establishing healthy lifestyle habits and preventing various diseases. However, there are still elementary school children whose knowledge of PHBS is suboptimal.. Objective : To determine the level of knowledge regarding PHBS among children at Jambudipa 3 State Elementary School, Cianjur Regency. Method : This study employed a descriptive quantitative design with a cross-sectional approach. The sample consisted of 44 fourth-grade students from Jambudipa 3 State Elementary School, selected using a total sampling technique. Data were collected using a PHBS knowledge questionnaire and analyzed univariately in the form of frequency distributions and percentages. Results : The results showed that the majority of respondents fell into the "sufficient" category for PHBS knowledge (32 respondents or 72.7%), followed by the "poor" category (12 respondents or 27.3%); no respondents fell into the "good" category (0%). Conclusion and recommendation : Most students possessed a "sufficient" level of PHBS knowledge, yet none reached the "good" category. Therefore, continuous health education is required through the School Health Unit (UKS) program and health outreach, alongside the involvement of teachers, healthcare workers, and parents, to improve knowledge and the practice of PHBS among school-aged children</em></p> Resti Oktapiani Obar Sri Kurnia Dewi Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Masyarakat Inovatif 2026-07-30 2026-07-30 9 7 MANAGEMEN SEPSIS PEDIATRIK BERDASARKAN PHOENIX CRITERIA 2024 : NARRATIVE LITERATURE REVIEW/PEDIATRIC SEPSIS MANAGEMENT BASED ON THE 2024 PHOENIX CRITERIA: A NARRATIVE LITERATURE REVIEW https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkmi/article/view/23873 <p>Latar Belakang: Sepsis pediatrik tetap menjadi penyebab utama mortalitas anak di seluruh dunia. Pengenalan kriteria baru Phoenix Sepsis Criteria 2024 menggantikan kriteria Systemic Inflammatory Response Syndrome (SIRS) yang telah lama digunakan, menandai perubahan besar menuju pendekatan disfungsi organ yang berbasis data empiris multinasional. Tujuan penulisan ini untuk mengulas secara komprehensif konsep deteksi dini, diagnosis, serta manajemen akut dan kritis sepsis anak menggunakan kriteria Phoenix dan pedoman Surviving Sepsis Campaign (SSC) 2026. Metode: yang digunakan adalah tinjauan literatur naratif dengan pencarian sistematis menggunakan kerangka PICO dan seleksi PRISMA terhadap lima jurnal internasional mutakhir. Hasil Menunjukkan bahwa kriteria Phoenix memiliki spesifisitas dan akurasi prognostik yang jauh lebih tinggi dibandingkan SIRS dalam memprediksi mortalitas anak, sehingga secara signifikan mengurangi risiko alarm fatigue. Manajemen awal menitikberatkan pada program peningkatan mutu, pengukuran laktat, kultur darah tanpa menunda antibiotik empiris (target &lt;1 jam untuk syok septik), resusitasi cairan kristaloid terukur (10–20 mL/kg per bolus) dengan evaluasi ketat terhadap fluid overload, serta inisiasi dini agen vasoaktif (epinefrin atau norepinefrin). Perawat di ruang akut-kritis memegang peran krusial sebagai garda terdepan dalam pengenalan dini berbasis skor Phoenix, pelaksanaan bundel perawatan, dan monitoring respons klinis dinamis.</p> <p><em>Background: Pediatric sepsis remains a leading cause of childhood mortality worldwide. The introduction of the new Phoenix Sepsis Criteria 2024 replaces the long-standing Systemic Inflammatory Response Syndrome (SIRS) criteria, marking a major shift toward an organ dysfunction approach backed by multinational empirical data. This study aims to comprehensively review the concepts of early detection, diagnosis, and acute-critical management of pediatric sepsis using the Phoenix criteria and the updated Surviving Sepsis Campaign (SSC) 2026 guidelines. method A narrative literature review was employed with a systematic search strategy guided by the PICO framework and PRISMA selection on five recent high-impact international journals. The review demonstrates that the Phoenix criteria offer significantly higher specificity and prognostic accuracy for predicting mortality compared to SIRS, substantially reducing alarm fatigue. Initial management emphasizes performance improvement programs, lactate measurement, blood cultures without delaying empirical antibiotics (&lt;1 hour target for septic shock), targeted crystalloid fluid resuscitation (10–20 mL/kg per bolus) with vigilant evaluation for fluid overload, and early initiation of vasoactive agents (epinephrine or norepinephrine). Critical care nurses play a pivotal role as the frontline in early recognition using the Phoenix score, implementing care bundles, and continuously monitoring dynamic clinical responses.</em></p> Endang Saprina Nyimas Heny Purwati Anita Apriliawati Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Masyarakat Inovatif 2026-07-30 2026-07-30 9 7 HUBUNGAN PEMESANAN MAKANAN ONLINE, SCREEN TIME, DAN TINGKAT STRES DENGAN INDEKS MASSA TUBUH PADA MAHASISWA FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS HALU OLEO TAHUN 2026 https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkmi/article/view/24585 <p>Perkembangan teknologi telah memudahkan akses makanan melalui layanan pemesanan online, namun turut berkontribusi terhadap gaya hidup kurang sehat yang memengaruhi indeks massa tubuh (IMT) mahasiswa. Survei awal pada mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Halu Oleo menunjukkan proporsi IMT tidak normal tertinggi dibanding fakultas lain, disertai tingginya penggunaan layanan pesan makanan online, durasi screen time, dan tekanan akademik yang berpotensi memicu stres. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan pemesanan makanan online, screen time, dan tingkat stres dengan IMT pada mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Halu Oleo tahun 2026. Desain penelitian ini yaitu observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel berjumlah 291 mahasiswa dipilih dengan Teknik random sampling menggunakan proportionate stratified random sampling. Data dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan taraf signifikansi 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 291 responden, sebagian besar memiliki IMT kategori normal (62,5%), sebagian besar intensitas pemesanan makanan online rendah (53,6%), sebagian besar responden termasuk kategori screen time cukup (50,2%), dan mayoritas mengalami stres sedang (73,2%). Hasil uji Chi-Square pemesanan makanan online diperoleh nilai p-value sebesar 0,041, sedangkan screen time diperoleh p-value 0,198 dan diperoleh nilai p-value tingkat stres sebesar 0,028. Dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antaran pemesanan makanan online dengan IMT, sedangkan screen time tidak terdapat hubungan yang signifikan dengan IMT, dan terdapat hubungan antara tingkat stres dengan IMT mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Halu Oleo.</p> <p><em>Technological developments have facilitated access to food through online ordering services, but have also contributed to unhealthy lifestyles that affect students' body mass index (BMI). An initial survey of students at the Faculty of Public Health, Halu Oleo University, showed the highest proportion of abnormal BMI compared to other faculties, accompanied by high use of online food ordering services, screen time duration, and academic pressure that can potentially trigger stress. This study aims to determine the relationship between online food ordering, screen time, and stress levels with BMI in students at the Faculty of Public Health, Halu Oleo University in 2026. The study design was observational analytic with a cross-sectional approach. A sample of 291 students was selected using a random sampling technique using proportionate stratified random sampling. Data were analyzed univariately and bivariately using the Chi-Square test with a significance level of 0.05. The results showed that of the 291 respondents, the majority had a normal BMI category (62.5%), most had low online food ordering intensity (53.6%), most respondents were in the moderate screen time category (50.2%), and the majority experienced moderate stress (73.2%). The results of the Chi-Square test for online food ordering obtained a p-value of 0.041, while screen time obtained a p-value of 0.198 and a p-value for stress levels of 0.028. It can be concluded that there is a relationship between online food ordering and BMI, while screen time has no significant relationship with BMI, and there is a relationship between stress levels and BMI of students at the Faculty of Public Health, Halu Oleo University.</em></p> Mimi Kasmiati Hariati Lestari Jumakil Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Masyarakat Inovatif 2026-07-30 2026-07-30 9 7 HUBUNGAN PERILAKU MEROKOK, STATUS GIZI DAN TINGKAT STRES TERHADAP KEJADIAN HIPERTENSI PADA LANSIA DI PUSKESMAS NGEMPLAK KABUPATEN KUDUS https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkmi/article/view/24246 <p>Latar Belakang: Peningkatan jumlah lansia di Indonesia diikuti dengan tingginya prevalensi penyakit degeneratif, salah satunya adalah hipertensi. Puskesmas Ngemplak Kabupaten Kudus mencatat hipertensi sebagai salah satu penyakit dengan kunjungan tertinggi pada kelompok lansia. Hipertensi pada lansia bersifat multifaktorial yang dapat dipicu oleh faktor gaya hidup dan kondisi psikologis, seperti kebiasaan merokok, status gizi yang tidak seimbang, serta tingkat stres yang tidak terkelola dengan baik.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara perilaku merokok, status gizi, dan tingkat stres terhadap kejadian hipertensi pada lansia di Puskesmas Ngemplak Kabupaten Kudus.Metode: Jenis penelitian ini adalah kuantitatif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh lansia yang berkunjung ke Puskesmas Ngemplak Kabupaten Kudus. Sampel dipilih menggunakan teknik probability sampling (atau purposive sampling) sebanyak [... masukkan jumlah sampel ...] responden. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner perilaku merokok, pengukuran antropometri (IMT) untuk status gizi, kuesioner DASS-42 (atau PSS-10) untuk tingkat stres, serta sphygmomanometer untuk mengukur tekanan darah. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square ($\alpha = 0,05$).Hasil: Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara perilaku merokok dengan kejadian hipertensi ($p\text{-value} = 0,...$), terdapat hubungan yang signifikan antara status gizi dengan kejadian hipertensi ($p\text{-value} = 0,...$), dan terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat stres dengan kejadian hipertensi ($p\text{-value} = 0,...$) pada lansia di Puskesmas Ngemplak.Kesimpulan: Perilaku merokok, status gizi (obesitas/gizi lebih), dan tingkat stres yang tinggi terbukti memiliki hubungan yang signifikan dengan peningkatan kejadian hipertensi pada lansia. Pihak Puskesmas Ngemplak diharapkan dapat meningkatkan program promotif dan preventif melalui Posyandu Lansia, seperti penyuluhan berhenti merokok, konseling gizi, serta manajemen stres untuk mengontrol angka kejadian hipertensi.</p> Citra Azzhura Octaviana Rusnoto Sri Siska Mardiana Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Masyarakat Inovatif 2026-07-30 2026-07-30 9 7 PEMANFAATAN TELEMEDICINE DALAM PENGELOLAAN TUBERKULOSIS PADA ANAK: SCOPING REVIEW https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkmi/article/view/23848 <p>Latar Belakang: Tuberkulosis (TB) pada anak masih menjadi masalah kesehatan global yang memerlukan pengobatan jangka panjang dengan tingkat kepatuhan yang tinggi. Telemedicine berkembang sebagai salah satu strategi untuk mendukung pengelolaan TB melalui peningkatan akses dan pemantauan terapi. Tujuan: Memetakan bukti ilmiah mengenai penggunaan telemedicine dalam pengelolaan tuberkulosis pada anak dan remaja. Metode: Scoping review dilakukan berdasarkan framework Arksey dan O'Malley. Pencarian literatur dilakukan pada database PubMed dan ScienceDirect untuk artikel yang dipublikasikan tahun 2019–2025. Seleksi artikel menggunakan alur PRISMA sesuai kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan. Hasil: Sebanyak 7 artikel memenuhi kriteria inklusi. Intervensi yang ditemukan meliputi Tele-TB, telehealth monitoring, mobile health application, Video Observed Therapy (VOT), Video Directly Observed Therapy (VDOT), dan platform diagnostik berbasis chest X-ray. Secara umum, telemedicine berkontribusi terhadap peningkatan akses layanan kesehatan, keteraturan follow-up, komunikasi antara pasien dan tenaga kesehatan, serta kepatuhan pengobatan. Beberapa studi juga menunjukkan peningkatan efektivitas terapi dan percepatan diagnosis. Kesimpulan: Telemedicine berperan dalam mendukung pengelolaan TB pada anak dan remaja melalui peningkatan akses layanan, pemantauan terapi, dan kepatuhan pengobatan. Namun, implementasinya masih menghadapi tantangan terkait akses teknologi dan literasi digital pengguna.</p> <p>Background: Tuberculosis (TB) in children is still a global health issue that requires long-term treatment with high adherence. Telemedicine has developed as one of the strategies to support TB management by improving access and therapy monitoring.&nbsp; &nbsp;Objective: To map the scientific evidence on the use of telemedicine in managing tuberculosis in children and adolescents.&nbsp; &nbsp;Method: A scoping review was conducted based on the Arksey and O'Malley framework. Literature searches were carried out in PubMed and ScienceDirect for articles published from 2019–2025. Article selection followed the PRISMA flow according to the predetermined inclusion and exclusion criteria. &nbsp;Results: A total of 7 articles met the inclusion criteria. The interventions found included Tele-TB, telehealth monitoring, mobile health applications, Video Observed Therapy (VOT), Video Directly. Observed Therapy (VDOT), and chest X-ray-based diagnostic platforms. Overall, telemedicine contributed to improved access to health services, regular follow-ups, communication between patients and healthcare providers, and treatment adherence. Some studies also showed increased therapy effectiveness and faster diagnosis. Conclusion: Telemedicine plays a role in supporting TB management in children and adolescents by enhancing access to services, monitoring therapy, and ensuring treatment adherence. However, its implementation still faces challenges related to technology access and users' digital literacy.</p> Amelia Sabili Dintya Islami Anita Apriliawati Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Masyarakat Inovatif 2026-07-30 2026-07-30 9 7 HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN, DUKUNGAN ORANG TUA, TEMAN SEBAYA, DAN AKSES INFORMASI KESEHATAN DENGAN KESIAPAN MENGHADAPI MENARCHE PADA SISWI SMP NEGERI AINIBA https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkmi/article/view/24452 <p>Menarche merupakan menstruasi pertama yang dialami oleh remaja putri sebagai tanda kematangan sistem reproduksi. Kurangnya kesiapan dalam menghadapi menarche dapat menimbulkan berbagai dampak psikologis, seperti rasa takut, cemas, bingung, malu, serta menurunnya kepercayaan diri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan, dukungan orang tua, teman sebaya dan akses informasi kesehatan dengan kesiapan menghadapi menarche pada siswi SMP Negeri Ainiba. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 60 responden yang dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner tertutup. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji chi-square dengan tingkat kemaknaan α = 0,05. Keeratan hubungan antar variabel dianalisis menggunakan koefisien Phi. Hasil penelitian menunjukkan tingkat pengetahuan, dukungan orang tua, dan teman sebaya berhubungan dengan kesiapan menghadapi menarche sedangkan akses informasi kesehatan tidak berhubungan dengan kesiapan menghadapi menarche. Pihak sekolah diharapkan bekerja sama dengan tenaga kesehatan untuk meningkatkan akses informasi dan edukasi kesehatan reproduksi, khususnya mengenai menarche, guna meningkatkan kesiapan siswi dalam menghadapi menarche.</p> Sandarisa Gysela Wili Boko Yendris Krisno Syamruth Helga J. N. Ndun Marni Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Masyarakat Inovatif 2026-07-30 2026-07-30 9 7 HUBUNGAN TINGKAT STRES DENGAN KEJADIAN GASTRITIS PADA PASIEN DI PUSKEMAS PAKIS KABUPATEN MALANG https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkmi/article/view/24129 <p>Gastritis merupakan salah satu masalah kesehatan yang banyak ditemukan di masyarakat, ditandai dengan peradangan pada mukosa lambung yang dapat menimbulkan berbagai keluhan seperti nyeri ulu hati, mual, dan gangguan pencernaan. Fenomena meningkatnya stres dalam kehidupan sehari-hari berkontribusi pada peningkatan produksi asam lambung yang dapat memicu gastritis dan berdampak pada penurunan kualitas hidup. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara tingkat stres dengan kejadian gastritis. Metode yang digunakan adalah pendekatan cross sectional dengan jumlah responden sebanyak 40 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden mengalami stres sedang sejumlah 22 orang (55%) dan mayoritas mengalami gastritis sejumlah 34 orang (85%). Berdasarkan uji Spearmen’s rank didapatkan nilai p value yaitu 0,000 (p&lt;0,05) yang berarti terdapat hubungan antara tingkat stres dengan tingkat kejadian gastritis di Puskesmas Pakis Kabupaten Malang.</p> <p><em>Gastritis is a common health problem in the community, characterized by inflammation of the gastric mucosa that can cause various symptoms such as epigastric pain, nausea, and digestive disturbances. The increasing phenomenon of stress in daily life contributes to elevated gastric acid production, which can trigger gastritis and negatively impact quality of life.This study aimed to analyze the relationship between stress levels and the incidence of gastritis. A cross-sectional approach was used with a total of 40 respondents. The results showed that most respondents experienced moderate stress, totaling 22 individuals (55%), and the majority experienced gastritis, totaling 34 individuals (85%). Based on Spearman’s rank test, the p-value =0,000 (p&lt;0,05), indicating a significant relationship between stress levels and the incidence of gastritis at Pakis Public Health Center, Malang Regency.</em></p> Vany Triswanda Ratna Roesardhyati Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Masyarakat Inovatif 2026-07-30 2026-07-30 9 7 PENINGKATAN KAPASITAS TENAGA KESEHATAN MELALUI SOSIALISASI INTEGRASI LAYANAN PRIMER (ILP) DALAM MENDUKUNG TRANSFORMASI LAYANAN PRIMER DI UPTD PUSKESMAS UJOH BILANG https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkmi/article/view/24813 <p>Integrasi Layanan Primer (ILP) merupakan salah satu strategi utama Transformasi Layanan Primer yang dikembangkan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia untuk memperkuat pelayanan kesehatan dasar berbasis siklus hidup. UPTD Puskesmas Ujoh Bilang merupakan fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama yang tengah mengimplementasikan ILP sebagai bagian dari Transformasi Layanan Primer di wilayah Kecamatan Long Bagun, Kabupaten Mahakam Ulu. Berdasarkan hasil residensi, ditemukan bahwa keterbatasan jumlah tenaga kesehatan dibandingkan luas wilayah kerja, tingginya beban kerja petugas, keterbatasan sarana dan prasarana, kendala digitalisasi pelayanan, serta rendahnya pengetahuan tenaga kesehatan mengenai konsep dan implementasi ILP menjadi kendala utama dalam optimalisasi pelaksanaannya. Kondisi tersebut mendorong dilaksanakannya kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat berupa sosialisasi ILP yang bertujuan meningkatkan pengetahuan, pemahaman, dan kapasitas tenaga kesehatan mengenai konsep, prinsip, dan implementasi Integrasi Layanan Primer dalam mendukung Transformasi Layanan Primer di UPTD Puskesmas Ujoh Bilang. Metode pelaksanaan kegiatan menggunakan Satuan Acara Penyuluhan (SAP) berupa ceramah, diskusi interaktif, tanya jawab, dan studi kasus, yang dilaksanakan pada 13 Juni 2026 di Ruang Pertemuan UPTD Puskesmas Ujoh Bilang dengan sasaran ± 20 tenaga kesehatan lintas profesi. Evaluasi keberhasilan kegiatan dilakukan melalui pretest dan posttest untuk mengukur peningkatan pengetahuan peserta, serta observasi partisipasi aktif peserta selama kegiatan berlangsung. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta yang ditunjukkan oleh nilai rata-rata posttest yang lebih tinggi dibandingkan pretest, disertai partisipasi aktif peserta dalam diskusi serta komitmen untuk mendukung implementasi ILP di unit kerja masing-masing. Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat koordinasi lintas program, mendukung optimalisasi Transformasi Layanan Primer, serta meningkatkan mutu pelayanan kesehatan primer di UPTD Puskesmas Ujoh Bilang. Pelaksanaan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini merupakan wujud kontribusi perguruan tinggi dalam penerapan Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia kesehatan</p> <p><em>Primary Care Integration (ILP) is one of the main strategies of Primary Care Transformation developed by the Ministry of Health of the Republic of Indonesia to strengthen basic health services based on a life-cycle approach. UPTD Puskesmas Ujoh Bilang is a first-level health care facility currently implementing ILP as part of Primary Care Transformation in Long Bagun Subdistrict, Mahakam Ulu Regency. Based on residency findings, a limited number of health workers relative to the size of the working area, high workloads, limited facilities and infrastructure, digitalization constraints, and low knowledge of health workers regarding the concept and implementation of ILP were identified as the main obstacles to optimizing its implementation. These conditions prompted the implementation of a Community Service Program in the form of ILP socialization aimed at improving the knowledge, understanding, and capacity of health workers regarding the concept, principles, and implementation of Primary Care Integration in supporting Primary Care Transformation at UPTD Puskesmas Ujoh Bilang. The activity was implemented using a Health Education Plan (SAP) consisting of lectures, interactive discussions, question-and-answer sessions, and case studies, held on 13 June 2026 at the Meeting Room of UPTD Puskesmas Ujoh Bilang with approximately 20 cross-profession health workers as participants. The success of the activity was evaluated through a pretest and posttest to measure the increase in participants' knowledge, along with observation of participants' active involvement during the activity. The results showed an increase in participants' knowledge, indicated by a higher average posttest score compared to the pretest, along with active participant involvement in discussions and commitment to supporting ILP implementation in their respective work units. This activity is expected to strengthen cross-program coordination, support the optimization of Primary Care Transformation, and improve the quality of primary health services at UPTD Puskesmas Ujoh Bilang. The implementation of this Community Service Program represents higher education institutions' contribution to the Tri Dharma Perguruan Tinggi through improving the capacity of health human resources</em></p> Yanuarius Karun Byba Melda Suhita Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Masyarakat Inovatif 2026-07-30 2026-07-30 9 7 HUBUNGAN BODY SHAMING DENGAN KESEHATAN MENTAL REMAJA DI SMA N 2 KUDUS https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkmi/article/view/24399 <p>Latar Belakang: Body shaming atau tindakan mengomentari, mengkritik, atau mempermalukan bentuk dan ukuran tubuh seseorang telah menjadi fenomena yang marak terjadi di kalangan remaja. Masa remaja merupakan fase kritis perkembangan identitas, sehingga penilaian negatif terhadap fisik dapat berdampak serius pada kondisi psikologis mereka. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara perilaku body shaming dengan kondisi kesehatan mental remaja di SMA N 2 Kudus. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan korelasional. Sampel penelitian dipilih menggunakan teknik stratified random sampling dari siswa-siswi SMA N 2 Kudus. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner skala body shaming dan skala kesehatan mental (seperti tingkat kecemasan, depresi, dan harga diri). Analisis data menggunakan uji korelasi untuk melihat keeratan hubungan antar variabel. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang signifikan dan negatif antara body shaming dengan kesehatan mental remaja. Semakin tinggi tingkat kecemasan atau intensitas body shaming yang diterima individu, maka semakin rendah tingkat kesehatan mental mereka, yang ditandai dengan munculnya gejala kecemasan, penurunan rasa percaya diri, hingga gejala depresi ringan. Kesimpulan: Perilaku body shaming memiliki dampak buruk yang nyata terhadap kesehatan mental remaja di SMA N 2 Kudus. Oleh karena itu, diperlukan peran aktif dari pihak sekolah, guru BK, dan orang tua untuk menciptakan lingkungan yang suportif serta mengedukasi siswa mengenai pentingnya body positivity.</p> <p><em>Background: Body shaming, or the act of mocking, criticizing, or humiliating someone's body shape and size, has become a widespread phenomenon among adolescents. Adolescence is a critical phase for identity development, making negative physical evaluations severely impactful on their psychological condition. Objective: This study aims to determine the relationship between body shaming behavior and the mental health status of adolescents at SMA N 2 Kudus. Method: This study employed a quantitative method with a correlational approach. The research sample was selected using a stratified random sampling technique from the students of SMA N 2 Kudus. Data collection was conducted through questionnaires consisting of a body shaming scale and a mental health scale (measuring anxiety levels, depression, and self-esteem). Data analysis used a correlation test to examine the strength of the relationship between variables. Result: The results indicated a significant and negative relationship between body shaming and adolescent mental health. The higher the intensity of body shaming received by individuals, the lower their mental health status, characterized by the emergence of anxiety symptoms, decreased self-confidence, and mild depressive symptoms. Conclusion: Body shaming behavior has a tangibly adverse impact on the mental health of adolescents at SMA N 2 Kudus. Therefore, an active role from the school, guidance counselors, and parents is highly required to create a supportive environment and educate students on the importance of body positivity.</em></p> Fitri Ayu Kusumawati Anny Rosiana Edi Wibowo Suwandi Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Masyarakat Inovatif 2026-07-30 2026-07-30 9 7 RANCANGAN DAN IMPLEMENTASI PROGRAM REGIKA (REMAJA PENGGERAK KESEHATAN GIGI KELUARGA) SEBAGAI INOVASI PROMOTIF PREVENTIF DI WILAYAH KERJA UPTD PUSKESMAS MALINAU KOTA https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkmi/article/view/24015 <p>Masalah kesehatan gigi dan mulut masih menjadi tantangan besar di masyarakat, khususnya di wilayah kerja UPTD Puskesmas Malinau Kota. Diperlukan sebuah pendekatan promotif dan preventif yang inovatif dengan melibatkan peran serta aktif masyarakat, khususnya generasi muda. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk merancang dan mengimplementasikan program REGIKA (Remaja Penggerak Kesehatan Gigi Keluarga) sebagai upaya inovatif dalam meningkatkan kesadaran dan kemandirian keluarga dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut. Metode: Penelitian ini menggunakan metode action research (penelitian tindakan) atau deskriptif kualitatif/kuantitatif (pilih yang sesuai dengan metode asli Anda). Program diimplementasikan melalui pelatihan remaja pilihan sebagai kader REGIKA yang kemudian melakukan edukasi, pemantauan, dan penggerakan kesehatan gigi di lingkungan keluarga masing-masing. Hasil: Implementasi program REGIKA menunjukkan peningkatan yang signifikan pada pengetahuan, sikap, dan tindakan remaja terkait kesehatan gigi. Selain itu, terjadi perubahan perilaku positif di tingkat keluarga dalam menjaga kebersihan mulut dan pola kunjungan ke fasilitas kesehatan. Kesimpulan: Program REGIKA efektif sebagai inovasi promotif dan preventif dalam memberdayakan remaja sebagai agen perubahan untuk meningkatkan derajat kesehatan gigi keluarga di wilayah UPTD Puskesmas Malinau Kota.</p> <p><em>Oral and dental health problems remain a major challenge in the community, particularly within the working area of the UPTD Puskesmas Malinau Kota. An innovative promotive and preventive approach involving active community participation, especially from the younger generation, is highly required. Objective: This study aims to design and implement the REGIKA program (Remaja Penggerak Kesehatan Gigi Keluarga / Youth Mobilizers for Family Dental Health) as an innovative effort to increase family awareness and independence in maintaining oral health. Methods: This study employed an action research method or descriptive qualitative/quantitative method (choose the one that matches your actual methodology). The program was implemented by training selected adolescents as REGIKA youth cadres, who then conducted education, monitoring, and mobilization for dental health within their respective families. Results: The implementation of the REGIKA program showed a significant increase in adolescents' knowledge, attitudes, and practices regarding dental health. Furthermore, positive behavioral changes were observed at the family level concerning oral hygiene maintenance and routine visits to healthcare facilities. Conclusion: The REGIKA program is effective as a promotive and preventive innovation in empowering adolescents as agents of change to improve the status of family dental health in the UPTD Puskesmas Malinau Kota area.</em></p> Erlis Oktavia Martha Syela Maria Novita Sentot Imam Suprapto Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Masyarakat Inovatif 2026-07-30 2026-07-30 9 7 PENERAPAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS) SEBAGAI UPAYA PENCEGAHAN PENULARAN DAN PENINGKATAN KEPATUHAN PENGOBATAN PADA PASIEN TUBERKULOSIS DAN KELUARGANYA DI FUNDASAUN KLIBUR DOMIN https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkmi/article/view/24764 <p>Tuberkulosis (TBC) masih menjadi salah satu permasalahan kesehatan masyarakat di Timor-Leste yang berdampak terhadap kondisi kesehatan individu, keluarga, serta aspek sosial dan ekonomi masyarakat. Fundasaun Klibur Domin merupakan salah satu lembaga pelayanan kesehatan yang berperan dalam penanganan pasien TBC dan TBC resistan obat (MDR-TB). Berdasarkan kondisi lapangan, masih ditemukan keterbatasan pengetahuan pasien dan keluarga mengenai pencegahan penularan TBC serta penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dalam kehidupan sehari-hari. Rendahnya penerapan PHBS, seperti kurangnya penerapan etika batuk, penggunaan masker, kebersihan lingkungan, dan optimalisasi ventilasi rumah, dapat meningkatkan risiko penularan TBC serta memengaruhi keberhasilan pengobatan pasien. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, dan kemampuan pasien TBC serta keluarga dalam menerapkan PHBS sebagai upaya pencegahan penularan TBC dan mendukung keberhasilan pengobatan di Fundasaun Klibur Domin. Metode pelaksanaan kegiatan dilakukan melalui edukasi kesehatan dan pendampingan kepada pasien TBC dan keluarga dengan materi meliputi pengertian TBC, cara penularan, pencegahan penularan, etika batuk, penggunaan masker, pentingnya ventilasi rumah, kebersihan lingkungan, gizi seimbang, serta kepatuhan dalam menjalani pengobatan. Melalui kegiatan ini diharapkan terjadi peningkatan pemahaman dan kesadaran pasien serta keluarga mengenai pentingnya penerapan PHBS dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan keterlibatan keluarga dalam mendukung pengobatan pasien, mengurangi risiko penularan TBC, serta berkontribusi terhadap peningkatan kualitas hidup pasien dan keluarga. Pelaksanaan kegiatan PkM ini merupakan bentuk kontribusi perguruan tinggi dalam penerapan ilmu pengetahuan dan keterampilan melalui promosi kesehatan serta pemberdayaan masyarakat dalam mendukung program pengendalian TBC.</p> <p><em>Tuberculosis (TB) remains one of the major public health problems in Timor-Leste, affecting not only individual health conditions but also families and the social and economic aspects of communities. Fundasaun Klibur Domin is one of the healthcare institutions that plays an important role in managing patients with TB and drug-resistant tuberculosis (MDR-TB). Based on field observations, there are still patients and families with limited knowledge regarding TB transmission prevention and the implementation of Clean and Healthy Living Behaviors (PHBS) in daily life. Low implementation of PHBS, such as improper cough etiquette, limited use of masks, inadequate environmental hygiene, and poor home ventilation, may increase the risk of TB transmission and affect the success of patient treatment. This Community Service Program (PkM) aims to improve the knowledge, attitudes, and abilities of TB patients and their families in implementing PHBS as an effort to prevent TB transmission and support successful treatment at Fundasaun Klibur Domin. The activity was conducted through health education and mentoring for TB patients and their families. The educational materials included the definition of TB, modes of transmission, prevention strategies, cough etiquette, mask usage, the importance of home ventilation, environmental cleanliness, balanced nutrition, and adherence to TB treatment. Through this activity, it is expected that patients and families will gain improved understanding and awareness regarding the importance of implementing PHBS in daily life. Furthermore, this program is expected to strengthen family involvement in supporting patient treatment, reduce the risk of TB transmission, and contribute to improving the quality of life of patients and their families. The implementation of this Community Service Program represents the contribution of higher education institutions in applying knowledge and skills through health promotion and community empowerment to support TB control programs</em></p> Herminio Ladi Abilio De Jesus Sentot Imam Suprapto Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Masyarakat Inovatif 2026-07-30 2026-07-30 9 7 HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP DENGAN PERSEPSI PENGGUNAAN ROKOK ELEKTRIK (VAPE) PADA MAHASISWA PRODI TEKNIK ELEKTRO FST UNDANA https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkmi/article/view/24329 <p><em>The use of e-cigarettes (vapes) among college students continues to increase due to the misconception that vaping is safer than conventional smoking. This study aims to determine the relationship between knowledge and attitude and the perception of e-cigarette (vape) use among students of the Electrical Engineering Study Program, FST UNDANA. This research is an analytical survey with a cross-sectional design. The population consisted of 446 students, with a sample of 79 respondents selected using the proportional random sampling technique. Data were collected using questionnaires and analyzed using the chi-square statistical test (p&lt;0.05). The results showed a significant relationship between the variables of knowledge (p=0.000) and attitude (p=0.000) with the perception of e-cigarette (vape) use. Insufficiency of knowledge regarding the dangers of electronic cigarettes and a supportive attitude toward their usage shape a flawed perception concerning the safety of the product. Intensive education and the reinforcement of smoke-free (vape) campus policies are required.</em></p> <p>Penggunaan rokok elektronik (vape) di kalangan mahasiswa terus meningkat karena adanya anggapan bahwa vape lebih aman dibandingkan rokok konvensional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan dan sikap dengan persepsi penggunaan rokok elektronik (vape) pada mahasiswa Program Studi Teknik Elektro, Fakultas Sains dan Teknik (FST) Universitas Nusa Cendana (UNDANA). Penelitian ini merupakan penelitian survei analitik dengan desain *cross-sectional*. Populasi penelitian berjumlah 446 mahasiswa, dengan sampel sebanyak 79 responden yang dipilih menggunakan teknik *proportional random sampling*. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dianalisis dengan uji statistik *Chi-square* (p&lt;0,05).Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara variabel pengetahuan (p=0,000) dan sikap (p=0,000) dengan persepsi penggunaan rokok elektronik (vape). Kurangnya pengetahuan mengenai bahaya rokok elektronik serta sikap yang mendukung penggunaannya membentuk persepsi yang keliru mengenai keamanan produk tersebut. Oleh karena itu, diperlukan edukasi yang lebih intensif serta penguatan kebijakan kawasan kampus bebas asap rokok (termasuk vape).</p> Yulen Talitha Marni Marni Helga J. N. Ndun Yendris K. Syamruth Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Masyarakat Inovatif 2026-07-30 2026-07-30 9 7 INTERVENSI KEPERAWATAN PADA PASIEN ANAK DENGAN PENYAKIT JANTUNG BAWAAN: PENEKANAN PADA PERAWATAN DAN FOLLOW-UP PASCAOPERASI : SCOPING REVIEW/ NURSING INTERVENTIONS FOR PEDIATRIC PATIENTS WITH CONGENITAL HEART DISEASE WITH AN EMPHASIS ON POSTOPERATIVE CARE https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkmi/article/view/23878 <p>Latar Belakang: Penyakit jantung bawaan (PJB) merupakan kelainan struktural jantung sejak lahir yang dapat memengaruhi tumbuh kembang, status nutrisi, kapasitas fisik, kualitas hidup, serta beban psikososial keluarga, terutama pada fase pascaoperasi. Scoping review ini bertujuan memetakan jenis intervensi keperawatan pada pasien anak dengan PJB dan/atau orang tua sebagai caregiver, dengan penekanan pada perawatan dan follow-up pascaoperasi. Metodologi Review disusun mengikuti scoping review Joanna Briggs Institute (JBI) yang diperbarui oleh Peters et al. (2020) dan dilaporkan sesuai PRISMA Extension for Scoping Reviews (PRISMA-ScR), melalui tahapan penetapan pertanyaan berbasis kerangka PCC, pencarian literatur, seleksi, ekstraksi, serta sintesis naratif. Pencarian dilakukan pada lima basis data—PubMed, ScienceDirect, CINAHL, Scopus, dan Google Scholar—menggunakan kombinasi kata kunci, istilah terindeks (MeSH/CINAHL Headings), dan operator Boolean (AND/OR), hasil 1.750 artikel; setelah penyisihan duplikat dan penyaringan, lima artikel utama memenuhi kriteria. Kelima artikel meliputi dua intervensi aktivitas fisik berbasis digital pada anak/remaja PJB serta tiga intervensi edukasi, telehealth, dan nursing care/home follow-up pada orang tua bayi pascaoperasi PJB. Hasil menunjukkan bahwa intervensi edukasi dan follow-up keperawatan pascaoperasi cenderung meningkatkan kemampuan perawatan orang tua, kualitas hidup, kepatuhan terapi, status nutrisi, dan self-efficacy, serta menurunkan kecemasan dan beban perawatan; intervensi latihan fisik berbasis digital aman pada anak/remaja yang telah disaring secara medis meskipun dampaknya terhadap kebugaran bervariasi. Perbedaan hasil antar-artikel berkaitan dengan desain penelitian, karakteristik populasi, intensitas intervensi, dan luaran yang diukur. Disimpulkan bahwa intervensi pada anak dengan PJB perlu bersifat multidimensi, berpusat pada keluarga, aman secara klinis, serta didukung teknologi digital dan follow-up pascaoperasi berkelanjutan.</p> <p><em>Background: Congenital heart disease (CHD) is a structural cardiac defect present from birth that can significantly impact growth and development, nutritional status, physical capacity, quality of life, and the psychosocial burden on families, particularly during the postoperative phase.</em></p> <p><em>Objective: This scoping review aims to map the types of nursing interventions tailored for pediatric patients with CHD and/or their parents as caregivers, with a specific emphasis on postoperative care and follow-up.Methods: The review was conducted following the Joanna Briggs Institute (JBI) scoping review methodology updated by Peters et al. (2020) and reported in accordance with the PRISMA Extension for Scoping Reviews (PRISMA-ScR). The process involved establishing a PCC-framework-based research question, literature searching, study selection, data extraction, and narrative synthesis. Searches were performed across five databases—PubMed, ScienceDirect, CINAHL, Scopus, and Google Scholar—using a combination of keywords, indexed terms (MeSH/CINAHL Headings), and Boolean operators (AND/OR). Results: Out of 1,750 retrieved articles, five primary studies met the inclusion criteria after duplicate removal and screening. These included two digital-based physical activity interventions for children/adolescents with CHD and three educational, telehealth, and nursing care/home follow-up interventions for parents of infants </em></p> <p><em>&nbsp;</em></p> <p><em>post-CHD surgery. The findings indicated that postoperative educational interventions and nursing follow-up tended to enhance parental caregiving capabilities, quality of life, treatment adherence, nutritional status, and self-efficacy, while reducing anxiety and caregiver burden. Meanwhile, digital-based physical exercise interventions were safe for medically screened children/adolescents, although their impact on physical fitness varied. Variations in outcomes across studies were related to research designs, population characteristics, intervention intensity, and measured outcomes.</em></p> <p><em>Conclusion: Interventions for children with CHD need to be multidimensional, family-centered, clinically safe, and supported by digital technology as well as continuous postoperative follow-up.</em></p> Endang Saprina Anita Apriliawati Titin Sutini Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Masyarakat Inovatif 2026-07-30 2026-07-30 9 7 UJI EFEKTIVITAS EKSTRAK KUNYIT (CURCUMA LONGA) DAN BAWANG PUTIH (ALLIUM SATIVUM L.) SEBAGAI ALTERNATIF PENGAWET PADA PRODUK PANGAN: KAJIAN LITERATUR https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkmi/article/view/24586 <p>Maraknya penggunaan pengawet kimia berbahaya seperti formalin dan boraks pada produk pangan di Indonesia mendorong kebutuhan akan pengawet alami yang aman dan efektif. Penelitian ini bertujuan mengkaji efektivitas ekstrak kunyit (Curcuma longa) dan ekstrak bawang putih (Allium sativum L.) sebagai alternatif pengawet alami pada produk pangan, meliputi kemampuannya menghambat mikroorganisme perusak serta memperpanjang masa simpan. Metode yang digunakan adalah studi literatur (literature review) terhadap 25 jurnal nasional dari database Google Scholar, Garuda, PubMed, dan Sinta, yang kemudian disaring berdasarkan relevansi topik dan jenis sampel pangan (tahu, mi basah, daging ayam, daging sapi, dan ikan bandeng), menghasilkan 10 jurnal sebagai data akhir yang dianalisis secara deskriptif komparatif. Hasil kajian menunjukkan bahwa ekstrak bawang putih lebih efektif memperpanjang masa simpan pada daging sapi, mi basah, dan ikan bandeng, sedangkan ekstrak kunyit lebih unggul pada tahu dan daging ayam. Efektivitas keduanya bergantung pada senyawa bioaktif (kurkumin, minyak atsiri, allicin, flavonoid) dan karakteristik masing-masing produk pangan. Disimpulkan bahwa kedua ekstrak berpotensi besar sebagai pengawet alami, dengan pemilihan jenis ekstrak yang perlu disesuaikan dengan jenis produk pangan agar hasil pengawetan optimal.</p> Natanael Priltius Mainal Furqan Ira Syahputri Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Masyarakat Inovatif 2026-07-30 2026-07-30 9 7 GAMBARAN PENGETAHUAN IBU TENTANG PERAWATAN ATTENTION DEFICIT HYPERACTIVITY DISORDER DI SEKOLAH DASAR NEGERI BOJONGHERANG https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkmi/article/view/24283 <p>Pendahuluan: Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) merupakan gangguan perkembangan saraf yang ditandai dengan kesulitan memusatkan perhatian, hiperaktivitas, dan impulsivitas. Peran ibu sebagai pengasuh utama sangat penting dalam mendukung perawatan anak dengan ADHD, terutama di lingkungan sekolah. Tingkat pengetahuan ibu berpengaruh terhadap kemampuan memberikan perawatan yang tepat.Tujuan: Mengetahui gambaran pengetahuan ibu tentang perawatan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) di SD Negeri Bojongherang Kabupaten Cianjur.Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif. Populasi penelitian adalah seluruh ibu yang memiliki anak dengan ADHD di SD Negeri Bojongherang sebanyak 34 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling, sehingga seluruh populasi dijadikan responden. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner pengetahuan berisi 23 pertanyaan dengan skala Guttman dan dianalisis secara univariat menggunakan distribusi frekuensi dan persentase.Hasil: Sebagian besar responden berusia 36–45 tahun (50,0%), berpendidikan SMA (32,4%), bekerja sebagai ibu rumah tangga (61,8%), dan telah mengetahui tentang ADHD (70,6%). Tingkat pengetahuan ibu tentang perawatan ADHD sebagian besar berada pada kategori kurang sebanyak 22 responden (64,7%), kategori cukup 11 responden (32,4%), dan kategori baik 1 responden (2,9%).Kesimpulan dan saran: Mayoritas ibu memiliki tingkat pengetahuan yang masih kurang mengenai perawatan anak dengan ADHD. Diperlukan edukasi yang berkelanjutan dari tenaga kesehatan dan pihak sekolah untuk meningkatkan pengetahuan ibu sehingga mampu mendukung perawatan dan perkembangan anak secara optimal.</p> <p><em>Introduction : Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) is a neurodevelopmental disorder characterized by difficulty concentrating, hyperactivity, and impulsivity. The role of mothers as primary caregivers is crucial in supporting the care of children with ADHD, especially in the school environment. Mothers' knowledge levels influence their ability to provide appropriate care.Objective : To determine the overview of mothers' knowledge of Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) treatment at Bojongherang Public Elementary School, Cianjur Regency.Method : This study used a quantitative descriptive design. The study population was all 34 mothers of children with ADHD at Bojongherang Public Elementary School. The sampling technique used total sampling, so the entire population was selected as respondents. Data were collected using a 23-question knowledge questionnaire with a Guttman scale and analyzed univariately using frequency distribution and percentages. Results : Most respondents were aged 36–45 (50.0%), had a high school education (32.4%), worked as housewives (61.8%), and were knowledgeable about ADHD (70.6%). The mothers' knowledge of ADHD treatment was mostly in the poor category (22 respondents (64.7%), fair (11 respondents (32.4%), and good (1 respondent (2.9%).Conclusion and recommendation : Most mothers have insufficient knowledge regarding the care of children with ADHD. Ongoing education from health professionals and schools is needed to improve mothers' knowledge so they can support optimal child care and development.</em></p> Feni Rosa Junita Obar Shinta Arini Ayu Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Masyarakat Inovatif 2026-07-30 2026-07-30 9 7 POSISI RECOVERY SEBAGAI INTERVENSI KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN KEJANG DEMAM KOMPLEKS: NARRATIVE LITERATURE REVIEW https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkmi/article/view/23850 <p>Latar Belakang: Kejang demam kompleks merupakan kegawatdaruratan neurologis pada anak yang dapat menyebabkan gangguan kesadaran, penurunan refleks proteksi jalan napas, serta meningkatkan risiko aspirasi dan gangguan respirasi pada fase postiktal. Recovery position (posisi lateral) direkomendasikan untuk mempertahankan patensi jalan napas. Tujuan: Menganalisis efektivitas recovery position sebagai intervensi keperawatan pada anak dengan kejang demam kompleks. Metode: Penelitian ini menggunakan metode Narrative Literature Review (NLR). Pencarian literatur dilakukan pada database PubMed dan ScienceDirect. Sebanyak 542 artikel teridentifikasi pada tahap awal pencarian dan setelah proses seleksi diperoleh 5 artikel penelitian primer yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil: Seluruh studi menunjukkan bahwa fase postiktal merupakan periode kritis yang rentan terhadap gangguan respirasi. Posisi lateral lebih aman dibandingkan posisi prone dalam mempertahankan jalan napas. Posisi lateral hanya berlanjut menjadi prone pada sekitar 2–3% kasus dan berhubungan dengan risiko gangguan respirasi yang lebih rendah (p&lt;0,05), sedangkan posisi prone lebih sering dikaitkan dengan airway compromise (p&lt;0,05). Gangguan pernapasan seperti apnea dan hipoksemia juga berhubungan signifikan dengan perubahan postur selama dan setelah kejang (p&lt;0,001). Kesimpulan: Recovery position (posisi lateral) merupakan intervensi keperawatan berbasis bukti yang efektif dalam menjaga patensi jalan napas dan menurunkan risiko gangguan respirasi pada fase postiktal, sehingga direkomendasikan dalam penatalaksanaan awal kejang demam kompleks pada anak.</p> <p>Background: Complex febrile seizures are a neurological emergency in children that can cause impaired consciousness, reduced airway protective reflexes, and increase the risk of aspiration and respiratory problems in the postictal phase. The recovery position (lateral position) is recommended to maintain airway patency. Objective: To analyze the effectiveness of the recovery position as a nursing intervention in children with complex febrile seizures. Method: This study used the Narrative Literature Review (NLR) method. Literature searches were conducted in the PubMed and ScienceDirect databases. A total of 542 articles were identified in the initial search, and after the selection process, 5 primary research articles met the inclusion criteria. Results: All studies showed that the postictal phase is a critical period prone to respiratory disturbances. The lateral position is safer than the prone position for maintaining the airway. The lateral position only turned into the prone position in about 2–3% of cases and was associated with a lower risk of respiratory problems (p&lt;0.05), whereas the prone position was more often linked to airway compromise (p&lt;0.05). Breathing issues like apnea and hypoxemia were also significantly associated with positional changes during and after seizures (p&lt;0.001).Conclusion: The recovery position (lateral position) is an evidence-based nursing intervention that is effective in maintaining airway patency and reducing the risk of respiratory problems in the postictal phase, so it is recommended for the initial management of complex febrile seizures in children.</p> Amelia Sabili Dintya Islami Nyimas Heny Purwati Titin Sutini Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Masyarakat Inovatif 2026-07-30 2026-07-30 9 7 PENGARUH PHOTONOVEL TERHADAP PENGETAHUAN BAHAYA JAJAN SEMBARANGAN DALAM PENCEGAHAN DIABETES MELITUS TIPE 2 PADA SISWA SDK NOEMUTI 2 https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkmi/article/view/24453 <p>Diabetes melitus tipe 2 merupakan penyakit tidak menular yang prevalensinya terus meningkat termasuk pada anak dan remaja. Kebiasaan mengonsumsi jajanan yang mengandung tinggi gula, garam, dan lemak. Edukasi kesehatan sejak dini diperlukan untuk meningkatkan pengetahuan siswa mengenai bahaya jajan sembarangan. Salah satu media edukasi yang sesuai dengan karakteristik anak sekolah dasar adalah photonovel.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh media photonovel terhadap pengetahuan tentang bahaya jajan sembarangan sebagai upaya pencegahan diabetes melitus tipe 2 pada siswa SDK Noemuti 2. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain true eksperimental menggunakan pretest-posttest control group design. Sampel penelitian berjumlah 51 siswa yang terdiri dari 26 siswa kelompok eksperimen dan 25 siswa kelompok kontrol. Data dikumpulkan memggunakan kuesioner pengetahuan yang diberikan sebelum dan sesudah intevensi, kemudian dianalisi menggunakan uji Wilcoxon Signden Rank Test dan Mann Whitney U Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa skor pengetahuan pada kelompok eksperimen meningkat dari 68,79 menjadi 82,53 sedangkan pada kelompok kontrol hanya meningkat dari 64,17 menjadi 66,52. Hasil uji Wilcoxon menunjukkan peningkatan siginifikan pada kelompok eksperimen (p = 0,001), sedangkan pada kelompok kontrol tidak terdapat peningkatan yang signifikan. Hasil uji Mann-Whitney menunjukkan terdapat perbedaan skor posttest pada kedua kelompok (p = 0,000).&nbsp; Hasil ini menunjukkan bahwa photonovel berpengaruh terhadap peningkatan pengetahuan siswa.&nbsp; Disarankan agar photonovel digunakan sebagai salah satu media edukasi di sekolah mengenai bahaya jajan sembarangan dalam mencegah diabetes melitus tipe 2.</p> <p><em>This study aimed to analyze the effect of photonovel on students' knowledge of the dangers of unhealthy snacking as an effort to prevent type 2 diabetes mellitus among students of SDK Noemuti 2. This quantitative study employed a **true experimental design with a pretest-posttest control group design. The sample consisted of 51 students, including 26 students in the experimental group and 25 students in the control group. Data were collected using a knowledge questionnaire administered before and after the intervention and were analyzed using the Wilcoxon Signed Rank Test and the Mann-Whitney U Test. The results showed that the mean knowledge score in the experimental group increased from 68.79 to 82.53, while the control group increased from 64.17 to 66.52. The Wilcoxon test indicated a significant improvement in the experimental group (p = 0.001), whereas no significant improvement was found in the control group. The Mann-Whitney U test showed a significant difference in posttest scores between the two groups (p = 0.000). These findings indicate that the photonovel had a significant effect on improving students' knowledge. It is recommended that photonovel be used as a health education medium in schools to improve students' knowledge of the dangers of unhealthy snacking as an effort to prevent type 2 diabetes mellitus.</em></p> Marsela Larajita Bengu Helga J. N. Ndun Tanti Rahayu Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Masyarakat Inovatif 2026-07-30 2026-07-30 9 7