Jurnal Kesehatan Masyarakat Inovatif https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkmi id-ID Mon, 31 Aug 2026 05:32:33 +0000 OJS 3.3.0.7 http://blogs.law.harvard.edu/tech/rss 60 USULAN PENELITIAN HUBUNGAN DURASI, JENIS DAN FREKUENSI PENGGUNAAN GADGET DENGAN POLA TIDUR MASYARAKAT DESA PLOSO KUDUS https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkmi/article/view/27016 <p>Penggunaan gadget yang berlebihan pada usia produktif berdampak signifikan terhadap pola tidur. Berdasarkan rekomendasi WHO, durasi penggunaan layar untuk tujuan rekreasi pada remaja sebaiknya tidak melebihi 2 jam per hari di luar kebutuhan akademik dan pekerjaan, termasuk penggunaan smartphone, laptop, tablet, dan berbagai platform media sosial (Tiktok, Instagram, Facebook dll). Durasi penggunaan gadget yang panjang, terutama pada malam hari sebelum tidur, dapat menyebabkan keterlambatan waktu tidur, penurunan kualitas tidur, serta berkurangnya durasi tidur. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui Hubungan Durasi, Jenis dan Frekuensi Penggunaan Gadget Dengan Pola Tidur Masyarakat Desa Ploso Kudus. Desain penelitian korelasi dengan pendekatan crosssectional.&nbsp; Populasi penelitian ini adalah pengguna gadget usia 20-50 tahun di Desa Ploso Kudus sejumlah 100 orang&nbsp; dan sampel penelitian ada 80 responden menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan Data menggunakan kuesioner Smartphone Addiction Scale – Short Version (SAS-SV) dan kuesioner Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI).</p> Andhini Yustya Wardani, Rusnoto, Dewi Hartinah Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Masyarakat Inovatif https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkmi/article/view/27016 Wed, 16 Sep 2026 00:00:00 +0000 GAMBARAN PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG ASAM FOLAT DALAM PENCEGAHAN BAYI DENGAN BERAT LAHIR RENDAH (BBLR) DI PUSKESMAS DTP MANDE https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkmi/article/view/25093 <p>Pendahuluan : Asam folat merupakan salah satu zat gizi penting selama kehamilan yang berperan dalam pertumbuhan dan perkembangan janin. Pemenuhan kebutuhan asam folat menjadi salah satu upaya untuk mendukung kesehatan kehamilan dan mencegah berbagai masalah pada bayi, termasuk Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR). Pengetahuan ibu hamil mengenai manfaat, sumber, dosis, dan waktu konsumsi asam folat berperan penting dalam mendukung pemenuhan kebutuhan asam folat selama kehamilan. Tujuan : Mengetahui gambaran pengetahuan ibu hamil tentang asam folat dalam pencegahan Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) di Puskesmas DTP Mande Kabupaten Cianjur. Metode : Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian berjumlah 98 ibu hamil yang dipilih menggunakan teknik accidental sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner tertutup dan dianalisis secara univariat menggunakan distribusi frekuensi dan persentase. Hasil : Sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan baik dan cukup dengan jumlah yang sama, yaitu masing-masing sebanyak 38 orang (38,8%), sedangkan responden dengan tingkat pengetahuan kurang sebanyak 22 orang (22,4%). Kesimpulan dan saran : Sebagian besar ibu hamil di Puskesmas DTP Mande Kabupaten Cianjur memiliki tingkat pengetahuan tentang asam folat dalam pencegahan BBLR pada kategori baik dan cukup, masing-masing sebesar 38,8%. Namun, masih terdapat 22,4% ibu hamil dengan pengetahuan kurang. Oleh karena itu, tenaga kesehatan diharapkan meningkatkan edukasi dan konseling secara berkesinambungan mengenai manfaat, sumber, dosis, dan waktu konsumsi asam folat melalui pelayanan Antenatal Care (ANC), kelas ibu hamil, dan konseling kesehatan.</p> <p><em>Introduction : Folic acid is a crucial nutrient during pregnancy that plays a role in fetal growth and development. Meeting folic acid requirements is a measure to support a healthy pregnancy and prevent various infant health issues, including Low Birth Weight (LBW). Pregnant women's knowledge regarding the benefits, sources, dosage, and timing of folic acid consumption plays a vital role in ensuring these nutritional needs are met during pregnancy. Objective : To assess the knowledge of pregnant women regarding folic acid in the prevention of Low Birth Weight (LBW) at Puskesmas DTP Mande, Cianjur Regency. Methods : This study employed a quantitative descriptive design with a cross-sectional approach. The sample consisted of 98 pregnant women selected using accidental sampling. Data were collected via a closed-ended questionnaire and analyzed using univariate analysis (frequency distribution and percentages). Results : The majority of respondents possessed either a "good" or "sufficient" level of knowledge, with an equal number in each category—38 respondents (38.8%) each—while 22 respondents (22.4%) had a "poor" level of knowledge. Conclusion and Recommendations : Most pregnant women at Puskesmas DTP Mande, Cianjur Regency, fell into the "good" and "sufficient" categories regarding knowledge of folic acid for LBW prevention (38.8% in each category). However, 22.4% of pregnant women still demonstrated poor knowledge. Therefore, healthcare workers are encouraged to enhance continuous education and counseling regarding the benefits, sources, dosage, and timing of folic acid consumption through Antenatal Care (ANC) services, classes for pregnant women, and health counseling sessions.</em></p> Shalma Khoirunisa, Papat Patimah, Shinta Arini Ayu Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Masyarakat Inovatif https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkmi/article/view/25093 Mon, 31 Aug 2026 00:00:00 +0000 GAMBARAN KEBUTUHAN SPRITUAL PADA LANSIA DENGAN DIABETES MELITUS TIPE 2 DI PUSKESMAS CILAKU https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkmi/article/view/25596 <p>Pendahuluan : Diabetes Melitus (DM) Tipe 2 merupakan penyakit kronis yang dapat memberikan dampak fisik, psikologis, sosial, dan spiritual. Kebutuhan spiritual menjadi salah satu aspek penting dalam membantu pasien menghadapi penyakit kronis, meningkatkan ketenangan batin, serta mendukung kemampuan beradaptasi terhadap kondisi penyakit. Tujuan : Mengetahui gambaran kebutuhan spiritual pada lansia dengan Diabetes Melitus Tipe 2 di Puskesmas Cilaku Kabupaten Cianjur. Metode : Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 88 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner karakteristik responden dan kuesioner kebutuhan spiritual, kemudian dianalisis secara univariat menggunakan distribusi frekuensi dan persentase. Hasil : Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki kebutuhan spiritual dalam kategori sedang, yaitu sebanyak 44 responden (50%), kategori tinggi sebanyak 29 responden (33%), dan kategori rendah sebanyak 15 responden (17%). Kesimpulan dan saran : Sebagian besar lansia dengan DM Tipe 2 memiliki kebutuhan spiritual dalam kategori sedang. Diharapkan tenaga kesehatan dapat memperhatikan aspek spiritual dalam pemberian pelayanan kesehatan melalui dukungan spiritual, komunikasi terapeutik, serta melibatkan keluarga dalam pemenuhan kebutuhan spiritual pasien.</p> <p><em>Introduction : Type 2 Diabetes Mellitus (DM) is a chronic disease that can have physical, psychological, social, and spiritual impacts. Spiritual needs constitute a crucial aspect in helping patients cope with chronic illness, fostering inner peace, and supporting their ability to adapt to the condition. Objective : To determine the profile of spiritual needs among the elderly with Type 2 Diabetes Mellitus at the Cilaku Community Health Center, Cianjur Regency. Method : This study employed a descriptive quantitative design with a cross-sectional approach. The sample consisted of 88 respondents selected using purposive sampling. Data were collected using questionnaires on respondent characteristics and spiritual needs, then analyzed via univariate analysis using frequency distributions and percentages. &nbsp;Results : The study results indicate that the majority of respondents fell into the moderate category for spiritual needs (44 respondents or 50%), followed by the high category (29 respondents or 33%) and the low category (15 respondents or 17%). Conclusion : Most elderly individuals with Type 2 DM have spiritual needs falling within the moderate category. It is recommended that healthcare professionals consider spiritual aspects when providing care—specifically through spiritual support, therapeutic communication, and involving families in meeting patients' spiritual needs.</em></p> Zidan Al Faqih, Obar, Rizal Fauzi Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Masyarakat Inovatif https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkmi/article/view/25596 Mon, 31 Aug 2026 00:00:00 +0000 PENGARUH KOMBINASI HEALING TOUCH DAN DZIKIR TERHADAP TINGKAT KECEMASAN PADA PASIEN DIABETES DI DESA GRIBIG KABUPATEN KUDUS https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkmi/article/view/25567 <p>Diabetes melitus merupakan penyakit kronis yang tidak hanya berdampak pada kondisi fisik, tetapi juga dapat menimbulkan masalah psikologis, salah satunya kecemasan. Kecemasan pada pasien diabetes dapat memengaruhi kemampuan pasien dalam menjalankan perawatan dan pengelolaan penyakit. Salah satu pendekatan nonfarmakologis yang dapat digunakan untuk membantu mengurangi kecemasan adalah kombinasi healing touch dan dzikir. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kombinasi healing touch dan dzikir terhadap tingkat kecemasan pada pasien diabetes di Desa Gribig Kabupaten Kudus. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain [isi sesuai desain penelitian, misalnya quasi-experimental]. Sampel penelitian adalah pasien diabetes di Desa Gribig yang memenuhi kriteria inklusi dengan teknik pengambilan sampel [isi teknik sampling]. Tingkat kecemasan diukur menggunakan instrumen [isi nama instrumen, misalnya Zung Self-Rating Anxiety Scale (SAS)] sebelum dan sesudah diberikan intervensi kombinasi healing touch dan dzikir. Analisis data dilakukan menggunakan [isi uji statistik]. Hasil penelitian diharapkan menunjukkan adanya perubahan tingkat kecemasan setelah diberikan kombinasi healing touch dan dzikir. Intervensi tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif terapi nonfarmakologis yang sederhana dan dapat diterapkan dalam membantu mengelola kecemasan pada pasien diabetes.</p> Bima Dwi Saputra, Sukarmin, Noor Hidayah Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Masyarakat Inovatif https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkmi/article/view/25567 Mon, 31 Aug 2026 00:00:00 +0000 CASE REPORT PADA MULTIGRAVIDA TRIMESTER III DENGAN RESIKO TINGGI DI BPM ”S” BURNEH BANGKALAN https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkmi/article/view/25140 <p>Kehamilan risiko tinggi pada ibu multigravida dengan faktor usia ≥35 tahun dan paritas tinggi (≥4) merupakan kondisi rentan yang berpotensi memicu komplikasi obstetri seperti anemia, preeklamsia, hingga perdarahan postpartum. Di Kabupaten Bangkalan tahun 2024, estimasi ibu hamil risiko tinggi/komplikasi mencapai 3.861 jiwa. Selain risiko komplikasi medis, perubahan fisiologis dan hormonal (peningkatan hormon relaksin serta pergeseran pusat gravitasi ke depan) pada trimester III sering memicu timbulnya ketidaknyamanan fisik berupa nyeri pinggang bawah (lordosis) yang berdampak pada gangguan aktivitas dan timbulnya kecemasan. Pemberian terapi komplementer non-farmakologis seperti prenatal massage, edukasi body mechanics, serta teknik relaksasi napas panjang menjadi salah satu pendekatan efektif dan holistik untuk meredakan nyeri serta kecemasan pada ibu hamil. Tujuan: Menjelaskan dan mendeskripsikan secara komprehensif asuhan kebidanan pada ibu multigravida trimester III dengan kehamilan resiko tinggi di BPM “S” Burneh, Kabupaten Bangkalan. Metode: Laporan kasus (case report) ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif pada satu subjek ibu hamil multigravida trimester III risiko tinggi. Pengumpulan data dilaksanakan melalui wawancara/anamnesis (data subjektif), pemeriksaan fisik dan penunjang (data objektif), penentuan analisis/diagnosa kebidanan, serta penatalaksanaan intervensi komplementer berbasis manajemen kebidanan yang didokumentasikan dalam format SOAP secara berkala pada kunjungan rumah. &nbsp;&nbsp; Hasil atau kesimpulan: Hasil pengkajian awal pada Ny. N (37 tahun, G4P3A0, UK 33-34 minggu) menunjukkan skor Kartu Skor Poedji Rochjati (KSPR) sebesar 10 (skor awal 2, usia ≥35 tahun skor 4, paritas ≥4 skor 4) yang tergolong Kehamilan Risiko Tinggi (KRT), disertai masalah keluhan nyeri pinggang bawah tingkat sedang (skala NRS 5) dan rasa cemas. Intervensi komplementer yang diberikan meliputi tindakan prenatal massage pada area punggung selama 15 menit, teknik relaksasi napas panjang, edukasi body mechanics, konseling tanda bahaya trimester III, serta motivasi kepatuhan konsumsi Multi-Micronutrient Supplements (MMS). Evaluasi berkesinambungan hingga kunjungan ketiga menunjukkan efektivitas penatalaksanaan yang signifikan, ditandai dengan teratasinya keluhan nyeri pinggang secara penuh (penurunan skala nyeri menjadi NRS 0) dan hilangnya kecemasan pada ibu. Kesimpulannya, pemberian asuhan kebidanan komplementer yang tepat dan berkesinambungan efektif menurunkan tingkat nyeri pinggang serta meningkatkan kenyamanan dan kesiapsiagaan ibu hamil risiko tinggi</p> <p><em>High-risk pregnancy in multigravida women aged ≥35 years with high parity (≥4) represents a vulnerable condition that potentially increases the risk of obstetric complications such as anemia, preeclampsia, and postpartum hemorrhage. In Bangkalan Regency in 2024, the estimated number of high-risk pregnant women reached 3,861. Beyond medical risks, physiological and hormonal changes (increased relaxin levels and a forward shift in the center of gravity) during the third trimester frequently cause physical discomfort, notably lower back pain (lordosis), leading to daily activity limitations and anxiety. Complementary non-pharmacological interventions, such as prenatal massage, body mechanics education, and deep breathing relaxation techniques, serve as effective and holistic approaches to relieve back pain and maternal anxiety. Objective: To describe comprehensive midwifery care for a third-trimester multigravida woman with a high-risk pregnancy at PMB ‘S’ Burneh, Bangkalan Regency.</em> <em>Methods: This case report employed a descriptive qualitative approach focused on a single subject—a high-risk third-trimester multigravida woman. Data were collected through subjective history taking, objective physical/laboratory examinations, data analysis/midwifery diagnosis, and the implementation of complementary management documented systematically using the SOAP method across multiple home visits.</em> <em>Results or conclusion: Initial assessment of Mrs. N (37 years old, G4P3A0 at 33–34 weeks of gestation) revealed a Poedji Rochjati Score Card (KSPR) total score of 10 (base score 2, age ≥35 years score 4, parity ≥4 score 4), categorizing her into the High-Risk Pregnancy (KRT) group. She presented with moderate lower back pain (NRS score 5) accompanied by anxiety. Complementary midwifery interventions included 15-minute back prenatal massage, deep breathing techniques, body mechanics education, third-trimester danger sign counseling, and encouragement for Multi-Micronutrient Supplements (MMS) adherence. Serial evaluation by the third visit demonstrated significant clinical improvement, resulting in complete resolution of lower back pain (NRS score 0) and alleviation of anxiety. In conclusion, tailored complementary midwifery care effectively reduces lower back pain and enhances physical comfort as well as preparedness in high-risk pregnant women.</em></p> Fainatur Rohmah, Esyuananik, Rodiyatun, Sri Wayanti Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Masyarakat Inovatif https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkmi/article/view/25140 Mon, 31 Aug 2026 00:00:00 +0000 CASE REPORT PRIMIGRAVIDA TRIMESTER I DENGAN KURANG ENERGI KRONIS (KEK) DI TPMB “H’’ BERBELUK AROSBAYA https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkmi/article/view/25138 <p>Kurang Energi Kronis (KEK) pada ibu hamil merupakan salah satu masalah gizi yang ditandai dengan Lingkar Lengan Atas (LiLA) &lt;23,5 cm akibat kekurangan asupan energi dan protein yang berlangsung dalam waktu lama. KEK pada ibu hamil dapat meningkatkan risiko anemia, abortus, persalinan prematur, bayi berat lahir rendah (BBLR), gangguan pertumbuhan janin, serta meningkatkan morbiditas dan mortalitas ibu maupun bayi. Berdasarkan data SKI tahun 2023, prevalensi ibu hamil dengan KEK di Indonesia sebesar 16,9%, sedangkan di Jawa Timur sebesar 9,2%. Berdasarkan studi pendahuluan di TPMB Husnul Hosi'ah Berbeluk Arosbaya pada bulan Maret–April 2026 masih ditemukan 2 kasus ibu hamil dengan KEK. Penanganan KEK dilakukan melalui edukasi gizi seimbang, pemberian makanan tambahan (PMT) berbahan lokal, pemberian Multiple Micronutrient Supplement (MMS), pemantauan berat badan dan LiLA, serta dukungan keluarga secara berkelanjutan. Tujuan laporan kasus ini adalah mendeskripsikan asuhan kebidanan&nbsp; pada ibu primigravida trimester I dengan Kurang Energi Kronis (KEK) di TPMB Husnul Hosi’ah Berbeluk Arosbaya Kabupaten Bangkalan. Pendekatan laporan kasus (case report) manajemen asuhan kebidanan ini dilakukan berdasarkan empat langkah utama, yaitu: pengkajian data subjektif, pengkajian data objektif, analisa, dan penatalaksanaan. Sesuai hasil pengamatan, Ny. M usia 19 tahun, primigravida trimester I usia kehamilan 9 minggu mengalami Kurang Energi Kronis (KEK) disertai keluhan mual dan muntah serta kecemasan karena berat badan belum mengalami peningkatan. Penatalaksanaan yang diberikan meliputi edukasi mengenai kebutuhan nutrisi ibu hamil, pemberian PMT berbahan lokal yang tinggi energi dan protein, anjuran konsumsi MMS 1×1 tablet per hari, pemantauan berat badan dan LiLA, edukasi tanda bahaya kehamilan, pemenuhan kebutuhan istirahat, dukungan keluarga, serta kolaborasi dengan ahli gizi. Hasil evaluasi menunjukkan ibu memahami pentingnya pemenuhan kebutuhan gizi selama kehamilan, patuh mengonsumsi MMS, bersedia mengonsumsi PMT secara teratur, dan berkomitmen menerapkan pola makan bergizi untuk meningkatkan status gizinya. Dalam memberikan asuhan kebidanan pada ibu hamil dengan KEK, bidan diharapkan mampu melakukan deteksi dini, memberikan edukasi yang tepat, serta melakukan pemantauan status gizi secara berkesinambungan sehingga komplikasi pada ibu maupun janin dapat dicegah.</p> <p><em>Kurang Chronic Energy Deficiency (KEK) in pregnant women is a nutritional issue characterized by a Mid-Upper Arm Circumference (MUAC) of &lt;23.5 cm, resulting from prolonged insufficient energy and protein intake. CED in pregnancy increases the risk of anemia, miscarriage, preterm birth, low birth weight (LBW), and fetal growth disorders, while also raising maternal and infant morbidity and mortality rates. Data from the 2023 Indonesian Health Survey (SKI) indicate a CED prevalence of 16.9% among pregnant women nationally, and 9.2% in East Java. A preliminary study conducted at the Husnul Hosi'ah Independent Midwifery Practice (TPMB) in Berbeluk, Arosbaya, between March and April 2026, identified two cases of pregnant women with CED. Management of CED involves education on balanced nutrition, the provision of locally sourced supplementary food (PMT), administration of Multiple Micronutrient Supplements (MMS), monitoring of body weight and MUAC, and ongoing family support. The purpose of this case report is to describe the midwifery care provided to a first-trimester primigravida with Chronic Energy Deficiency (CED) at the Husnul Hosi’ah Independent Midwifery Practice (TPMB) in Berbeluk, Arosbaya, Bangkalan Regency.</em> <em>This midwifery care case report follows a four-step approach: subjective data assessment, objective data assessment, analysis, and management.</em> <em>Observations revealed that Mrs. M, a 19-year-old primigravida in her first trimester (9 weeks of gestation), was suffering from CED accompanied by nausea, vomiting, and anxiety regarding her lack of weight gain. Management provided included education on nutritional needs during pregnancy, provision of high-energy and high-protein locally sourced supplementary food, a recommendation to take one MMS tablet daily, monitoring of weight and MUAC, education on pregnancy danger signs, ensuring adequate rest, family support, and collaboration with a nutritionist. Evaluation results indicate that the mother understands the importance of meeting nutritional needs during pregnancy, adheres to the consumption of Multiple Micronutrient Supplements (MMS), is willing to consume Supplementary Feeding (PMT) regularly, and is committed to adopting a nutritious diet to improve her nutritional status. When providing midwifery care to pregnant women with Chronic Energy Deficiency (CED), midwives are expected to perform early detection, provide appropriate education, and continuously monitor nutritional status to prevent complications for both the mother and the fetus.</em></p> Elisa Fitria Putri , Anis Nur Laili, dosen Sri Wayanti, Esyuananik Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Masyarakat Inovatif https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkmi/article/view/25138 Mon, 31 Aug 2026 00:00:00 +0000 EFEKTIVITAS POSTNATAL MASSAGE DALAM MEMPERCEPAT INVOLUSI UTERI BERDASARKAN PENGUKURAN TINGGI FUNDUS UTERI PADA IBU NIFAS https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkmi/article/view/25598 <p>Perdarahan postpartum masih menjadi salah satu penyebab utama kematian ibu di dunia maupun di Indonesia. Sebagian besar perdarahan postpartum terjadi akibat atonia uteri, yaitu kondisi ketika otot uterus gagal berkontraksi secara efektif setelah persalinan. Kontraksi uterus yang optimal sangat diperlukan untuk menjepit pembuluh darah bekas implantasi plasenta sehingga dapat menghentikan perdarahan dan mempercepat proses involusi uterus. Oleh karena itu, berbagai upaya nonfarmakologis dikembangkan untuk meningkatkan kontraksi uterus dan mempercepat involusi selama masa nifas. Desain penelitian menggunakan Quasi Experimental menggunakan Pretest–Posttest Control Group Design. Desain ini digunakan untuk mengetahui efektivitas pemberian postnatal massage terhadap percepatan involusi uteri berdasarkan pengukuran tinggi fundus uteri (TFU) pada ibu nifas. Teknik penelitian ini menggunakan Purposive Sampling, Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok yang memperoleh postnatal massage mengalami penurunan tinggi fundus uteri lebih besar dibandingkan kelompok kontrol. Analisis statistik menggunakan Independent t-test menunjukkan nilai p = 0,001 (p&lt;0,05), sehingga dapat disimpulkan bahwa postnatal massage efektif mempercepat involusi uteri. Secara fisiologis, pijatan pada masa postpartum memberikan stimulasi pada sistem saraf parasimpatis yang meningkatkan rasa relaksasi serta merangsang pelepasan hormon oksitosin melalui hipofisis posterior. Penerapannya perlu didukung oleh SOP, pelatihan tenaga kesehatan, edukasi kepada ibu dan keluarga, serta integrasi dalam pembelajaran keperawatan dan kebidanan. Selain itu, penelitian selanjutnya diharapkan melibatkan sampel yang lebih besar, wilayah yang lebih luas, serta membandingkan postnatal massage dengan intervensi lain dan menggunakan indikator pemulihan ibu nifas yang lebih beragam.</p> <p><em>Postpartum hemorrhage remains a leading cause of maternal mortality globally and in Indonesia. Most cases of postpartum hemorrhage result from uterine atony, a condition where the uterine muscles fail to contract effectively after childbirth. Optimal uterine contraction is essential to compress the blood vessels at the former placental implantation site, thereby stopping bleeding and accelerating uterine involution. Consequently, various non-pharmacological interventions have been developed to enhance uterine contractions and accelerate involution during the postpartum period. This study employed a quasi-experimental design—specifically, a pretest-posttest control group design—to determine the effectiveness of postnatal massage in accelerating uterine involution, as measured by fundal height (TFU) in postpartum mothers. Purposive sampling was used to select participants. The results showed a greater reduction in fundal height in the group receiving postnatal massage compared to the control group. Statistical analysis using an independent t-test yielded a p-value of 0.001 (p&lt;0.05), leading to the conclusion that postnatal massage is effective in accelerating uterine involution. Physiologically, postpartum massage stimulates the parasympathetic nervous system, promoting relaxation and triggering the release of oxytocin from the posterior pituitary gland. Implementation requires support through standard operating procedures (SOPs), healthcare worker training, education for mothers and their families, and integration into nursing and midwifery curricula. Furthermore, future research should involve larger samples and broader geographic areas, compare postnatal massage with other interventions, and utilize a wider range of indicators for postpartum maternal recovery.</em></p> Papat Patimah, Dhinny Novryanthi, Nazmi Rizkania S Putri Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Masyarakat Inovatif https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkmi/article/view/25598 Mon, 31 Aug 2026 00:00:00 +0000 PENGARUH AKTIVITAS FISIK JALAN KAKI TERHADAP PERUBAHAN KADAR GULA DARAH PADA PASIEN DIABETES MELLITUS DI PUSKESMAS II SUKOLILO PATI https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkmi/article/view/25590 <p>Diabetes Mellitus (DM) merupakan penyakit metabolik yang ditandai dengan peningkatan kadar glukosa darah dan berisiko menimbulkan komplikasi apabila tidak dikendalikan. Aktivitas fisik, khususnya jalan kaki, dapat menjadi intervensi nonfarmakologis yang sederhana, aman, dan mudah dilakukan. Studi pendahuluan di Puskesmas II Sukolilo menunjukkan rata-rata kadar gula darah 8 lansia penderita DM sebesar 245 mg/dL. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh aktivitas fisik jalan kaki terhadap perubahan kadar gula darah pada pasien DM di Puskesmas II Sukolilo Kabupaten Pati. Penelitian menggunakan desain quasi experiment pretest-posttest control group dengan 38 responden yang dibagi menjadi kelompok intervensi dan kontrol, masing-masing 19 responden. Kelompok intervensi diberikan aktivitas fisik jalan kaki selama 30 menit, sedangkan kelompok kontrol mendapatkan perawatan standar. Kadar gula darah diukur menggunakan glukometer sebelum dan sesudah penelitian. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon dan Mann-Whitney. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata kadar gula darah kelompok intervensi menurun dari 226,37 mg/dL menjadi 197,11 mg/dL, dengan penurunan sebesar 29,26 mg/dL, sedangkan kelompok kontrol meningkat dari 223,68 mg/dL menjadi 223,79 mg/dL sebesar 0,11 mg/dL. Uji Wilcoxon menunjukkan p-value 0,001 pada kelompok intervensi dan 0,681 pada kelompok kontrol, sedangkan uji Mann-Whitney menunjukkan p-value 0,001. Dengan demikian, aktivitas fisik jalan kaki selama 30 menit berpengaruh signifikan terhadap penurunan kadar gula darah pada pasien Diabetes Mellitus di Puskesmas II Sukolilo Kabupaten Pati.</p> Indhaka Syahrul Mubarrok, Heny Siswanti, Sukarmin Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Masyarakat Inovatif https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkmi/article/view/25590 Mon, 31 Aug 2026 00:00:00 +0000 EVALUASI NILAI GIZI DAN SENSORIK DODOL RENDAH GULA DENGAN SUBSTITUSI GULA AREN DAN STEVIA https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkmi/article/view/25476 <p>Obesitas merupakan masalah kesehatan global yang diperburuk oleh konsumsi makanan tinggi gula secara berlebihan. Dodol sebagai camilan tradisional Indonesia mengandung gula tinggi sehingga perlu diformulasi ulang menjadi alternatif yang lebih sehat. Penelitian ini bertujuan menilai perbedaan mutu sensorik antar formulasi serta menganalisis kandungan gizi formulasi terpilih dari dodol rendah gula berbasis gula aren dan stevia untuk penderita obesitas. Rancangan Acak Lengkap diterapkan dengan tiga variasi konsentrasi stevia (F1: 19,25%; F2: 16,75%; F3: 14,25%) dan satu kontrol (F0), masing-masing tiga ulangan. Evaluasi sensorik dilakukan oleh 30 panelis semi-terlatih melalui uji hedonik dan mutu hedonik. Analisis laboratorium meliputi kadar gula total (anthrone), kadar air (gravimetri), serta stabilitas mikrobiologis (ALT dan AKK). Hasil menunjukkan perbedaan nyata pada atribut warna, tekstur, dan penerimaan keseluruhan antar formulasi. Formulasi F2 ditetapkan sebagai terbaik karena profil sensoriknya sebanding dengan kontrol. Kadar gula total sebesar 17,14%, kadar air 19,69% sesuai SNI, serta seluruh nilai ALT dan AKK berada di bawah batas maksimum SNI 2986:2013 hingga hari ke-21 penyimpanan.</p> <p><em>Obesity is a growing global health concern largely attributed to excessive consumption of high-sugar foods. Dodol, a popular traditional Indonesian confection, contains high levels of sugar, necessitating reformulation into a healthier alternative. This study aimed to assess sensory quality differences across formulations and analyze the nutritional content of the best formulation of low-sugar dodol using palm sugar and stevia as sweetener substitutes for individuals with obesity. A completely randomized design was applied with three stevia concentration variations (F1: 19.25%; F2: 16.75%; F3: 14.25%) and one control (F0), each replicated three times. Sensory evaluation involved 30 semi-trained panelists through hedonic and hedonic quality tests. Laboratory analyses included total sugar content (anthrone method), moisture content (gravimetry), and microbiological stability (TPC and mold-yeast count). Results revealed significant differences in color, texture, and overall acceptance among formulations. Formulation F2 was selected as optimal due to its sensory profile comparable to the control. Total sugar content was 17.14%, moisture content 19.69% complying with SNI, and all TPC and mold-yeast values remained below the maximum limits of SNI 2986:2013 throughout 21 days of storage.</em></p> Yusup, Ahdiyatul Fauza, Asti Dewi Rahayu Fitrianingsih, Putri Novitasari Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Masyarakat Inovatif https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkmi/article/view/25476 Mon, 31 Aug 2026 00:00:00 +0000 CASE REPORT ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU HAMIL MULTIGRAVIDA DENGAN EMESIS GRAVIDARUM DI PMB U DESA TAMBEGAN AROSBAYA https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkmi/article/view/25139 <p>Kehamilan yakni proses fisiologis yang disertai perubahan hormonal sehingga dapat menimbulkan mual dan muntah (emesis gravidarum). Apabila tidak ditangani dengan baik, kondisi tersebut dapat menyebabkan gangguan pemenuhan nutrisi ibu, dehidrasi, serta berdampak pada kesehatan ibu dan janin. Tujuan case report ini yakni mendeskripsikan asuhan kebidanan pada ibu hamil multigravida trimester II dengan emesis gravidarum di PMB U Desa Tambegan Arosbaya melalui pendekatan SOAP. Case report dengan pendekatan manajemen asuhan kebidanan menggunakan SOAP. Di dalam studi kasus ini yakni Ny. I, ibu hamil multigravida G3P0A2 usia kehamilan 17–18 minggu dengan emesis gravidarum. Asuhan dilakukan melalui tiga kali kunjungan yang meliputi pengkajian, analisis, penatalaksanaan, dan evaluasi perkembangan kondisi ibu. Hasil asuhan berdasarkan pendekatan SOAP menunjukkan bahwa&nbsp; ibu mengeluh mual dan muntah 5–6 kali sehari disertai pusing, lemas, penurunan nafsu makan, serta sensitif terhadap aroma menyengat. Serta menunjukkan keadaan umum baik, kesadaran composmentis, tekanan darah 110/70 mmHg, berat badan 50,4 kg, IMT 22,4 kg/m², LiLA 26 cm, wajah tidak pucat dan tidak edema, konjungtiva merah muda, sklera putih, bibir tidak pucat, ekstermitas tidak ada sianosis maupun edema, menunjukkan TFU 17 cm, turgor kulit baik, DJJ 145x/menit, serta kadar hemoglobin 12,1 g/dL. Ditegakkan G3P0A2 Uk 17-18 minggu dengan Emesis Gravidarum. Asuhan yang dilakukan yaitu mengedukasi tirah baring posisi miring ke kiri, konseling pola makan small and frequent feedings tinggi karbohidrat dan protein, Anjuran menghindari makanan berlemak, Menghindari makanan yang mengandung gas dan berbau menyengat, pemberian aromaterapi lemongrass, Memberikan konseling mengenai dukungan keluarga, serta mengedukasi mengenai tanda bahaya kehamilan. Evaluasi setelah tiga kali kunjungan menunjukkan frekuensi mual dan muntah menurun dari 5–6 kali sehari menjadi 1 kali sehari hingga tidak ada keluhan, nafsu makan meningkat, pola istirahat membaik, berat badan meningkat dari 50,4 kg menjadi 52,4 kg, serta kondisi ibu dan janin tetap baik dengan DJJ dalam batas normal. Asuhan kebidanan yang diberikan secara komprehensif melalui pendekatan SOAP efektif membantu mengurangi keluhan emesis gravidarum dan meningkatkan status kesehatan ibu hamil</p> <p><em>Appendices Pregnancy is a physiological process accompanied by hormonal changes that can lead to nausea and vomiting (emesis gravidarum). If not managed properly, this condition can impair the mother's nutritional intake and cause dehydration, thereby affecting the health of both the mother and the fetus. The objective of this case report is to describe the midwifery care provided to a multigravida pregnant woman in her second trimester suffering from emesis gravidarum at PMB U, Tambegan Village, Arosbaya, utilizing the SOAP approach. This case report employs the SOAP Approach to midwifery care management. The subject of the study is Mrs. I, a multigravida pregnant woman (G3P0A2) at 17–18 weeks of gestation presenting with emesis gravidarum. Care was administered over three visits, encompassing assessment, analysis, management, and evaluation of the mother's condition. Care outcomes based on the SOAP approach revealed that the mother complained of nausea and vomiting 5–6 times daily, accompanied by dizziness, weakness, reduced appetite, and sensitivity to strong odors. Clinical findings showed a good general condition and clear consciousness (compos mentis); blood pressure was 110/70 mmHg, body weight 50.4 kg, BMI 22.4 kg/m², and mid-upper arm circumference (MUAC) 26 cm. Physical examination showed no facial pallor or edema; pink conjunctiva; white sclera; no lip pallor; and no cyanosis or edema in the extremities. Fundal height was 17 cm, skin turgor was good, fetal heart rate was 145 beats per minute, and hemoglobin level was 12.1 g/dL. The diagnosis established was G3P0A2 at 17–18 weeks of gestation with emesis gravidarum. The care provided included educating the patient on left-lateral recumbent positioning (lying on the left side); counseling on a diet of small, frequent meals high in carbohydrates and protein; advising against fatty, gas-producing, and strong-smelling foods; administering lemongrass aromatherapy; providing counseling on family support; and educating the patient on pregnancy danger signs. Evaluation after three visits showed a decrease in the frequency of nausea and vomiting from 5–6 times daily to once daily or none at all; improved appetite and rest patterns; a weight increase from 50.4 kg to 52.4 kg; and a stable condition for both mother and fetus, with fetal heart rates remaining within normal limits. Comprehensive midwifery care delivered via the SOAP approach proved effective in alleviating symptoms of emesis gravidarum and improving the pregnant woman's health status.</em></p> Susi Iriyanti, Esyuananik, Suryaningsih, Sri Wayanti Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Masyarakat Inovatif https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkmi/article/view/25139 Mon, 31 Aug 2026 00:00:00 +0000