EKSPLORASI SENYAWA BIOKIMIA TANAMAN OBAT BERBASIS KEARIFAN LOKAL SUKU ANAK DALAM DI TANJUNG JABUNG BARAT

Penulis

  • Marsya Universitas Adiwangsa Jambi
  • Maryam Universitas Adiwangsa Jambi
  • Nadiah Universitas Adiwangsa Jambi
  • Dinda Fadilah Najih Universitas Adiwangsa Jambi
  • Marsyalena Universitas Adiwangsa Jambi
  • Alika Haifah Aurora Universitas Adiwangsa Jambi
  • Ardi Mustakim Universitas Adiwangsa Jambi

Kata Kunci:

Suku Anak Dalam, Tanaman Obat, Senyawa Biokimia, Metabolit Sekunder, Tanjung Jabung Barat

Abstrak

Suku Anak Dalam (SAD) di Tanjung Jabung Barat memiliki kearifan lokal yang kaya dalam memanfaatkan tanaman obat hutan sebagai bagian dari pengobatan tradisional. Praktik ini diwariskan secara turun-temurun dan digunakan untuk menangani berbagai keluhan kesehatan seperti demam, infeksi, gangguan pencernaan, hingga peradangan. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi kandungan senyawa biokimia dari sepuluh tanaman obat utama yang digunakan SAD, yaitu padipayo, jerna, rotan, pisang kaya, sagu, labu prenggi, durian hutan, cupak, kasai, dan buah kepayang. Identifikasi senyawa dilakukan melalui telaah literatur terkini (2020–2024) serta pemetaan metabolit sekunder yang umumnya ditemukan pada spesies berkerabat. Analisis potensi farmasi mencakup aktivitas antibakteri, antioksidan, antidiabetes, antiradang, dan antiparasit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar tanaman mengandung flavonoid, alkaloid, terpenoid, tanin, dan saponin yang memiliki prospek tinggi dalam pengembangan obat berbasis bahan alam. Studi ini menegaskan pentingnya dokumentasi ilmiah terhadap pengetahuan etnobotani SAD sebagai langkah awal dalam konservasi dan pemanfaatan tanaman obat secara berkelanjutan.

The Suku Anak Dalam (SAD) community of Tanjung Jabung Barat possesses rich indigenous knowledge regarding the use of forest medicinal plants for traditional healing practices. These remedies, passed down through generations, are applied to treat various health issues including fever, infections, digestive disturbances, inflammation, and general aches. This study aims to explore the biochemical compounds present in ten key medicinal plants traditionally used by SAD, namely padipayo, jerna, rotan, pisang kaya, sagu, labu prenggi, durian hutan, cupak, kasai, and buah kepayang. Compound identification was carried out through recent literature (2020–2024) and comparative mapping of secondary metabolites commonly found in related species. The pharmaceutical potential evaluated includes antibacterial, antioxidant, anti-inflammatory, antidiabetic, and antiparasitic activities. The results reveal that most plants contain flavonoids, alkaloids, terpenoids, tannins, and saponins, which hold significant promise for the development of natural-based therapeutic agents. This study highlights the importance of scientifically documenting SAD’s ethnobotanical knowledge as a foundation for future conservation efforts and sustainable medicinal plant utilization.

Unduhan

Diterbitkan

2026-01-30