UJI DAYA TERIMA DAN NILAI KANDUNGAN GIZI TEH KULIT RAMBUTAN (Nephelium lappaceum L.)

Penulis

  • Jusmaini Universitas Islam Negeri Sumatera Utara
  • Eliska Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

Kata Kunci:

Teh Herbal, Kulit Rambutan, Uji Organoleptik, Uji Beda, Protein, Serat

Abstrak

Kulit buah rambutan (Nephelium lappaceum L.) merupakan limbah organik yang berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan dasar teh herbal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya terima, kandungan gizi, serta perbedaan tingkat kesukaan antara teh kulit rambutan dan teh Camellia sinensis. Penelitian menggunakan desain eksperimen post-test only control group dengan melibatkan 30 panelis tidak terlatih yang menilai empat parameter organoleptik, yaitu aroma, warna, rasa, dan tekstur. Analisis laboratorium dilakukan untuk mengetahui kandungan protein dan serat, sedangkan uji beda menggunakan Wilcoxon Signed-Rank Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teh kulit rambutan diterima panelis dengan kategori “suka” pada semua parameter. Uji laboratorium menunjukkan teh kulit rambutan mengandung protein sebesar 4,94 g dan serat kasar 19,3 g per 100 g, sedangkan teh Camellia sinensis mengandung protein 24,5 g dan serat 8,7 g per 100 g. Hal ini menegaskan bahwa meskipun kandungan protein teh kulit rambutan lebih rendah, produk ini memiliki keunggulan dalam kandungan serat yang bermanfaat bagi kesehatan pencernaan. Hasil uji beda memperlihatkan adanya perbedaan signifikan pada parameter aroma (p=0,037), warna (p=0,021), rasa (p=0,034), dan tekstur (p=0,026) antara kedua produk. Secara keseluruhan, temuan ini menunjukkan bahwa teh kulit rambutan tidak hanya dapat diterima secara sensoris, tetapi juga memiliki kandungan gizi yang berkontribusi terhadap kesehatan. Dengan demikian, teh kulit rambutan dapat direkomendasikan sebagai alternatif minuman herbal yang mendukung asupan serat masyarakat serta berpotensi digunakan dalam program edukasi gizi untuk meningkatkan pola konsumsi pangan sehat dan bergizi.

Rambutan peel (Nephelium lappaceum L.) is an organic by-product that has the potential to be utilized as a raw material for herbal tea. This study aimed to evaluate the acceptability, nutritional content, and differences in preference between rambutan peel tea and Camellia sinensis tea. The research applied a post-test only control group experimental design involving 30 untrained panelists who assessed four organoleptic parameters, namely aroma, color, taste, and texture. Laboratory analyses were conducted to determine protein and crude fiber content, while differences between treatments were tested using the Wilcoxon Signed-Rank Test.The results showed that rambutan peel tea was generally well accepted by panelists, falling into the “like” category across all parameters. Laboratory tests revealed that rambutan peel tea contained 4.94 g protein and 19.3 g crude fiber per 100 g, while Camellia sinensis tea contained 24.5 g protein and 8.7 g fiber per 100 g. These findings indicate that although rambutan peel tea has lower protein content, it provides a substantial advantage in fiber content, which is essential for digestive health. Statistical analysis confirmed significant differences in aroma (p=0.037), color (p=0.021), taste (p=0.034), and texture (p=0.026) between the two tea types.In conclusion, rambutan peel tea is not only acceptable from a sensory perspective but also offers nutritional benefits that may contribute to public health. Therefore, it can be recommended as an alternative functional herbal beverage that supports both fiber intake and may be promoted in nutrition education programs to encourage healthier dietary patterns.

Unduhan

Diterbitkan

2026-01-30