https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/issue/feed Jurnal Kesehatan Unggul Gemilang 2026-02-28T05:33:54+00:00 Open Journal Systems https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/19855 RIVIEW: POLIMER ALAMI YANG DIGUNAKAN DALAM FARMASI 2026-02-03T09:08:09+00:00 Indri Aranti indriartanti30@gmail.com Intan Hapsari intnhpsari05@gmail.com Mayla Fasha Azla mylhafaesha@gmail.com Anggi Septiara anggiseptiara433@gmail.com Elpa Giovana Zola guest@jurnalhst.com <p>Polimer alami semakin banyak digunakan dalam formulasi sediaan farmasi karena sifatnya yang biokompatibel, biodegradabel, dan mudah diperoleh dari sumber hayati lokal. Review ini menganalisis penggunaan berbagai polimer alami pada sediaan farmasi dan kosmetik berdasarkan 40 jurnal nasional dan internasional. Pati, gelatin, kolagen, kitosan, pektin, guar gum, xanthan gum, dan natrium alginat merupakan polimer yang paling sering digunakan dalam sediaan seperti gel, hidrogel, masker peel-off, krim, lotion, spray gel, tablet lepas lambat, nanopartikel, dan edible film. Sebagian besar studi melaporkan bahwa jenis dan konsentrasi polimer sangat memengaruhi viskositas, pH, homogenitas, waktu kering, daya sebar, dan stabilitas. Beberapa polimer seperti kitosan, kolagen, dan gelatin juga memberikan aktivitas tambahan berupa sifat antimikroba, mucoadhesive, atau kemampuan membentuk film. Tantangan utama terkait variabilitas bahan baku alami dan ketidakstabilan viskositas, sehingga diperlukan optimasi formulasi. Secara keseluruhan, polimer alami memiliki potensi besar sebagai eksipien atau komponen aktif pendukung dalam formulasi modern yang lebih aman dan ramah lingkungan.</p> <p><em>Natural polymers are increasingly used in pharmaceutical formulations due to their biocompatibility, biodegradability, and availability from local biological sources. This review analyzes the use of various natural polymers in pharmaceutical and cosmetic preparations based on 40 national and international journals. Starch, gelatin, collagen, chitosan, pectin, guar gum, xanthan gum, and sodium alginate were identified as the most commonly utilized polymers in dosage forms such as gels, hydrogels, peel-off masks, creams, lotions, spray gels, sustained-release tablets, nanoparticles, and edible films. Most studies report that polymer type and concentration strongly influence viscosity, pH, homogeneity, drying time, spreadability, and stability. Some polymers, including chitosan, collagen, and gelatin, also provide added antimicrobial, mucoadhesive, or film-forming benefits. Challenges mainly relate to variability of natural raw materials and viscosity instability, indicating the need for formulation optimization. Overall, natural polymers show significant potential as excipients or supportive active components in safer and more eco-friendly modern formulations.</em></p> 2026-02-28T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilang https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/19690 ARTIKEL REVIEW: SUSPENDING AGENT DAN WETTING AGENT YANG DIGUNAKAN DALAM SEDIAAN SUSPENSI 2026-01-30T09:08:12+00:00 Marsya marsyaaaaa6@gmail.com Suci Fabilla guest@jurnalhst.com Dini Anjani guest@jurnalhst.com Elpa Giovana Zola guest@jurnalhst.com <p><em>Pharmaceutical suspensions are liquid dosage forms in which insoluble solid particles are uniformly dispersed in a liquid medium. The formulation of suspensions requires careful selection of active pharmaceutical ingredients (API), suspending agents, and wetting agents to ensure physical stability, homogeneity, and therapeutic efficacy. Suspending agents maintain particles in suspension and prevent rapid sedimentation, while wetting agents facilitate particle wetting, promoting uniform dispersion and minimizing aggregation. This review discusses various types of suspending and wetting agents, their mechanisms of action, and formulation strategies to prevent sedimentation, caking, and particle aggregation. Additionally, the review highlights aspects of bioavailability, patient compliance, and recent innovations and challenges in suspension development. It serves as a comprehensive guide for researchers and pharmaceutical practitioners in designing stable, effective, and safe suspension formulations for clinical use.</em></p> <p>Suspensi farmasi merupakan sediaan cair yang mengandung partikel padat tak larut yang terdispersi secara merata dalam medium cair. Formulasi suspensi memerlukan pemilihan zat aktif, suspending agent, dan wetting agent yang tepat untuk memastikan stabilitas fisik, homogenitas, serta efektivitas terapeutik. Suspending agent berfungsi untuk mempertahankan partikel tetap tersuspensi dan mencegah pengendapan cepat, sedangkan wetting agent membantu membasahi permukaan partikel sehingga mudah tersebar dalam cairan dan mengurangi penggumpalan. Artikel ini meninjau berbagai jenis agen suspensi dan pembasah, mekanisme kerja, serta strategi formulasi yang efektif untuk mencegah sedimentasi, penggumpalan, dan pengerasan partikel. Selain itu, aspek bioavailabilitas, kepatuhan pasien, serta tantangan dan inovasi terkini dalam pengembangan suspensi farmasi juga dibahas. Review ini memberikan panduan komprehensif bagi peneliti dan praktisi dalam merancang suspensi yang stabil, efektif, dan aman untuk penggunaan klinis.</p> 2026-02-28T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilang https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/19893 ALIRAN NON-NEWTON YANG DIGUNAKAN DALAM SEDIAAN FARMASI 2026-02-04T12:19:20+00:00 Nailla Indayani Sumardi naillaindayani@gmail.com Dea Miranda Saputri deamiranda321@gmail.com Nanik Apriyanti nanikapriyanti208@gmail.com Elpa Giovana Zola elpagiovanazola@gmail.com <p>Parameter viskositas berperan penting dalam menentukan karakteristik fisik dan performa sediaan farmasi, termasuk stabilitas, daya sebar, pelepasan bahan aktif, dan kenyamanan penggunaan. Review ini mengkaji hasil penelitian mengenai nilai viskositas pada berbagai sediaan farmasi seperti gel, krim, emulsi, emulgel, dan suspensi beserta metode pengukurannya. Sebagian besar sediaan menunjukkan profil aliran non-Newtonian, khususnya pseudoplastik, plastis, dan tiksotropik. Instrumen yang paling banyak digunakan ialah viskometer Brookfield dengan variasi spindle sesuai bentuk sediaan. Faktor yang memengaruhi viskositas meliputi jenis dan konsentrasi bahan pembentuk gel, surfaktan, bahan aktif, serta pengaruh penyimpanan. Berdasarkan kajian literatur, viskositas yang optimal terbukti mendukung stabilitas fisik dan meningkatkan mutu sediaan sesuai persyaratan farmasetika.</p> <p><em>Viscosity parameters play an important role in determining the physical characteristics and performance of pharmaceutical preparations, including stability, spreadability, active ingredient release, and ease of use. This review examines the results of studies on viscosity values in various pharmaceutical preparations such as gels, creams, emulsions, emulgels, and suspensions, along with the methods used to measure them. Most preparations exhibit non-Newtonian flow profiles, particularly pseudoplastic, plastic, and thixotropic. The most widely used instrument is the Brookfield viscometer with spindle variations according to the form of the preparation. Factors affecting viscosity include the type and concentration of gel-forming agents, surfactants, active ingredients, and the effects of storage. Based on a literature review, optimal viscosity has been proven to support physical stability and improve formulation quality in accordance with pharmaceutical requirements.</em></p> 2026-02-06T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilang https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/19831 MANAJEMEN ASUHAN KEBIDANAN PADA TN.B USIA 51 TAHUN DENGAN TUBERKULOSIS PARU DIRUANGAN SHAFA MARWA RUMAH SAKIT UMUM HAJI MEDAN 2026-02-03T01:40:22+00:00 Dia Astami diahastami@gmail.com Kismiasih Adethia kismiasihaditya@mitrahusada.ac.id <p>Tuberkulosis paru merupakan salah satu penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat dan memerlukan penanganan komprehensif, termasuk peran tenaga kesehatan dalam pemberian asuhan. Asuhan kebidanan pada pasien dengan tuberkulosis paru bertujuan untuk meningkatkan status kesehatan, mencegah komplikasi, serta mendukung kepatuhan pasien terhadap pengobatan. Studi kasus ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan manajemen asuhan kebidanan pada Tn. B usia 51 tahun dengan tuberkulosis paru di Ruangan Shafa Marwa Rumah Sakit Umum Haji Medan. Metode yang digunakan adalah studi kasus dengan pendekatan manajemen kebidanan yang meliputi pengkajian, diagnosis, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Data diperoleh melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, observasi, serta dokumentasi medis. Hasil asuhan menunjukkan bahwa pasien mengalami keluhan utama batuk lama disertai sesak napas dan penurunan kondisi fisik. Setelah dilakukan asuhan kebidanan secara komprehensif, terdapat perbaikan kondisi umum pasien serta peningkatan pemahaman pasien mengenai penyakit dan kepatuhan terhadap pengobatan. Diharapkan asuhan kebidanan yang diberikan dapat meningkatkan kualitas hidup pasien dan mendukung keberhasilan terapi tuberkulosis paru.</p> 2026-02-28T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilang https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/19890 PENDIDIKAN KESEHATAN REPRODUKSI DAN SEKSUAL BERBASIS SYARIAH (PK-RSS) MENINGKATKAN PENGETAHUAN DAN SIKAP REMAJA PUTRI TENTANG INFEKSI MENULAR SEKSUAL 2026-02-04T11:11:57+00:00 Novi Sebriyana novisebriana@gmail.com Apriliani Yulianti Wuriningsih guest@jurnalhst.com Tutik Rahayu guest@jurnalhst.com <p>Latar Belakang: Infeksi Menular Seksual (IMS) merupakan salah satu masalah kesehatan reproduksi yang masih sering terjadi pada kalangan remaja. Rendahnya pengetahuan dan sikap yang kurang tepat terhadap kesehatan reproduksi dapat menyebabkan meningkatnya risiko penularan infeksi menular seksual, khususnya pada remaja putri. Metode : Penelitian ini menggunakan desain Quasi Eksperimen dengan pendekatan pretest-posttest control group design. Sampel yang digunakan berjumlah 76 siswi kelas XI di SMA Islam Sultan Agung 1 Semarang dan SMA Islam Sultan Agung 3 Semarang, yang dibagi menjadi kelompok intervensi dan kelompok kontrol masing-masing 38 responden. Pengumpulan data menggunakan kuesioner mengenai pengetahuan dan sikap terhadap kesehatan reproduksi dan infeksi menular seksual.Hasil : Hasil karakteristik responden sebagian besar siswi berumur 16 tahun sebanyak 30 responden (18,4%). Penelitian menunjukan adanya peningkatan yang signifikan pada tingkat pengetahuan (p = 0,000) dan sikap (p = 0,000) setelah diberikan penyuluhan materi mengenai Pendidikan reproduksi dan seksual. Simpulan : Pendidikan kesehatan reproduksi dan seksual terbukti efektif dalam meningkatka&nbsp; pengetahuan&nbsp; dan membentuk sikap positif remaja putri terhadap pencegahan infeksi menular seksual (IMS).</p> <p><em>Background : Sexually Transmitted Infections (STIs) are one of the reproductive health problems that frequently occur among adolescents. Low levels of knowledge and inappropriate attitudes toward reproductive health can increase the risk of sexually transmitted infection (STIs).Method : The methodology used is pretest-posttes control group design. The sampel consisted of 76 female students in grade XI at SMA Islam Sultan Agung 1 Semarang and SMA Islam Sultan Agung 3 Semarang, divided into intervention and control group with 38 respondent. Data were collected using questionnaires on knowledge and attitudes toward reproductive health and sexually transmitted.Results : The results of the respondent characteristics were mostly 30 respondents aged 16 years (18,4%). The study showed a significant increase in the level of knowledge (p= 0,000) and attitude (p= 0,000) after being given counseling material on reproductive and sexual education. Conclusion ; Reproductive and sexual health education has been proven to be effective in increasing knowledge and forming positive attitudes of adolescent girls towards the prevention of sexually transmitted infections (STIs).</em></p> 2026-02-28T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilang https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/19826 MENCEGAH RESIKO CEMARAN MIKROBA PADA MAKANAN, MINUMAN, LINGKUNGAN, DAN KOSMETIK DI SMA MUHAMMADIYAH 3 MEDAN 2026-02-02T13:27:34+00:00 Devina Chandra devinazchandra94@gmail.com Manuppak Irianto Tampubolon guest@jurnalhst.com Supartiningsih guest@jurnalhst.com Aipak Halizah guest@jurnalhst.com Ariszon Buulolo guest@jurnalhst.com Friska Lismawati Siahaan guest@jurnalhst.com Mawar Lestari guest@jurnalhst.com Radiah Lingga guest@jurnalhst.com Widi Prajora Sirait guest@jurnalhst.com <p>Cemaran mikroba pada makanan, minuman, lingkungan, dan kosmetik merupakan salah satu faktor yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan pada remaja. Kurangnya pengetahuan tentang kebersihan diri, cara mencuci tangan yang benar, serta penggunaan produk kosmetik secara aman masih menjadi permasalahan di lingkungan sekolah. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran siswa SMA Muhammadiyah 3 Medan mengenai pencegahan risiko cemaran mikroba. Metode yang digunakan meliputi penyuluhan, pemaparan video pengujian sampel saus menggunakan media Plate Count Agar (PCA), demonstrasi cara mencuci tangan yang benar, serta diskusi interaktif. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa siswa lebih memahami bahaya cemaran mikroba serta pentingnya menjaga kebersihan diri, lingkungan, dan penggunaan kosmetik secara pribadi. Selain itu, terjadi perubahan sikap siswa menjadi lebih peduli terhadap pola hidup bersih dan sehat. Dengan demikian, kegiatan ini efektif dalam meningkatkan literasi kesehatan remaja dan mendukung terciptanya lingkungan sekolah yang sehat dan aman.</p> <p><em>Microbial contamination in food, beverages, environment, and cosmetics is one of the factors that can cause health problems among adolescents. Lack of knowledge about personal hygiene, proper handwashing techniques, and safe use of cosmetic products remains a major issue in school environments. This community service activity aimed to improve the knowledge and awareness of students at SMA Muhammadiyah 3 Medan regarding the prevention of microbial contamination risks. The methods used included educational counseling, presentation of a video on sauce sample testing using Plate Count Agar (PCA), demonstration of proper handwashing techniques, and interactive discussions. The results showed that students gained better understanding of the dangers of microbial contamination and the importance of maintaining personal hygiene, environmental cleanliness, and personal use of cosmetic products. In addition, positive changes in students’ attitudes toward clean and healthy living behaviors were observed. Therefore, this activity was effective in improving adolescent health literacy and supporting the creation of a healthy and safe school environment.</em></p> 2026-02-28T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilang https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/20188 HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU TERHADAP UPAYA PENCEGAHAN STUNTING PADA BALITA 2026-02-16T09:00:34+00:00 Nurul Mutamimah bundauwais12@gmail.com Friska Realita friskarealita@unissula.ac.id <p>Stunting masih menjadi masalah kesehatan masyarakat dengan dampak jangka panjang pada kualitas sumber daya manusia. Upaya pencegahan di tingkat keluarga dipengaruhi pengetahuan dan sikap ibu terkait nutrisi dan perawatan balita. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan pengetahuan dan sikap ibu dengan upaya pencegahan stunting pada balita di wilayah kerja Puskesmas Sokorejo Kota Pekalongan. Penelitian analitik cross-sectional dengan populasi ibu balita usia 0-59 bulan, sampel 66 responden dipilih proportional random sampling. Data primer dari kuesioner tervalidasi dan reliabel, dianalisis univariat dan bivariat dengan Fisher Exact Test menggunakan SPSS. Hasil menunjukkan tidak ada hubungan pengetahuan ibu dengan upaya pencegahan stunting (p=0,845 &gt;0,05), tetapi ada hubungan sikap ibu (p=0,000 &lt;0,05). Sikap ibu lebih berperan daripada pengetahuan dalam mendorong perilaku pencegahan stunting.</p> <p><em>Stunting remains a major public health problem with long-term impacts on human resource quality. Preventive efforts at the family level are strongly influenced by maternal factors, particularly knowledge and attitudes related to child nutrition and care. This study aimed to analyze the relationship between maternal knowledge and attitudes and stunting prevention efforts among under-five children in the working area of Sokorejo Public Health Center, Pekalongan City. This analytical study employs a cross-sectional approach. The target population comprises all mothers with toddlers aged 0-59 months, with a sample of 66 respondents selected via proportional random sampling. Data were collected using questionnaires that underwent validity and reliability testing. Data analysis was conducted through univariate and bivariate methods utilizing the Fishers Exact Test. Statistical analysis using SPSS indicates no significant relationship between maternal knowledge and stunting prevention efforts (p=0.845 &gt;0.05). Conversely, a significant relationship exists between maternal attitudes (p=0.000 &lt;0.05). Therefore, attitude factors play a more prominent role than knowledge in shaping maternal behaviors toward stunting prevention.</em></p> 2026-02-28T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilang https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/19886 REVIEW POLIMER ALAMI YANG DIGUNAKAN DALAM SEDIAAN FARMASI 2026-02-04T09:30:08+00:00 Muthiya Amalia tia087082@gmail.com Nama Afrida Syah afridasyah26@gmail.com Novita Maharani novitamaharanii19@gmail.com Elpa Giovana Zola guest@jurnalhst.com <p>Polimer alami (biopolimer)—terutama Kitosan, Selulosa, Pati, Gelatin, Alginat, dan Pektin—adalah fondasi bagi material berkelanjutan karena biokompatibilitas dan biodegradabilitasnya. Tinjauan ini menganalisis 40 studi utama (2021-2024) mengenai modifikasi struktural dan fungsional polimer ini. Metode modifikasi kunci meliputi: Pautan Silang Ionik (TPP/Ca2+), Rekayasa Partikel (Spray-freeze-drying, Ultrasonication), dan Pencetakan Lanjut (3D Bioprinting, Electrospinning). Hasil menunjukkan lonjakan kinerja material yang kritis: Nanopartikel Kitosan (120-200 nm) mencapai efisiensi enkapsulasi 70-85% (No. 5); Hidrogel PVA-Kitosan menunjukkan swelling capacity hingga 800% (No. 18); dan scaffold Alginat-Gelatin pasca-cetak mempertahankan viabilitas sel &gt;90% (No. 36). Aplikasi fungsional didominasi oleh Sistem Penghantaran Obat Terkontrol (misalnya, pH/thermo responsive hydrogel, No. 38) dan Material Cerdas (misalnya, kemasan aktif Pektin-AgNPs antimikroba, No. 32). Penelitian ini menegaskan bahwa kontrol struktural pada skala nano adalah pendorong utama bagi evolusi polimer alami menjadi material fungsional berkinerja tinggi.</p> <p><em>Natural polymers (biopolymers)—primarily Chitosan, Cellulose, Starch, Gelatin, Alginate, and Pectin—are the foundation for sustainable materials due to their biocompatibility and biodegradability. This review analyzes 40 key studies (2021-2024) on the structural and functional modification of these polymers. Key modification methods include: Ionic Crosslinking (TPP/Ca2+), Particle Engineering (Spray-freeze-drying, Ultrasonication), and Advanced Manufacturing (3D Bioprinting, Electrospinning). The results show critical performance jumps: Chitosan Nanoparticles (120-200 nm) achieved encapsulation efficiencies of 70-85% (No. 5); PVA-Chitosan hydrogels displayed a swelling capacity up to 800% (No. 18); and post-printed Alginate-Gelatin scaffolds maintained cell viability &gt;90% (No. 36). Functional applications are dominated by Controlled Drug Delivery Systems (e.g., pH/thermo responsive hydrogels, No. 38) and Smart Materials (e.g., Pectin-AgNPs antimicrobial active packaging, No. 32). This research confirms that structural control at the nanoscale is the primary driver for the evolution of natural polymers into high-performance functional materials.</em></p> 2026-02-28T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilang https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/19797 HUBUNGAN USIA IBU, STATUS PERNIKAHAN DAN KUALITAS HUBUNGAN ORANG TUA DAN ANAK DENGAN PERKEMBANGAN SOSIAL EMOSIONAL ANAK USIA SEKOLAH DI SDN 5 GONDANGMANIS KABUPATEN KUDUS 2026-02-01T10:54:12+00:00 Diyah Novita Sari 142022030031@std.umku.ac.id Indanah indanah@umkudus.ac.id Ns. Ashri Maulida Rahmawati arahmawati@umkudus.ac.id <p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara usia ibu, status pernikahan, dan kualitas hubungan orang tua dan anak dengan perkembangan sosial emosional anak usia sekolah. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada pentingnya peran keluarga, khususnya ibu, dalam memberikan dukungan emosional dan sosial yang memengaruhi perkembangan anak. Faktor-faktor seperti kedewasaan usia ibu, stabilitas pernikahan, serta kualitas interaksi dalam keluarga merupakan aspek penting yang dapat memberi dampak pada kemampuan sosial emosional anak. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan jumlah populasi 91 siswa dan sampel 48 responden yang ditentukan menggunakan rumus Slovin. Sampel diambil secara proporsional dari kelas 4, 5, dan 6. Instrumen yang digunakan meliputi kuesioner usia ibu, status pernikahan, kualitas hubungan orang tua dan anak, serta perkembangan sosial emosional anak yang diukur menggunakan skala Likert dan instrumen standar yang telah dimodifikasi. Data dianalisis menggunakan uji Spearman Rank karena seluruh variabel menggunakan skala ordinal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usia ibu tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan perkembangan sosial emosional anak. Demikian pula, status pernikahan orang tua tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan perkembangan sosial emosional anak. Pada variabel kualitas hubungan orang tua dan anak, secara deskriptif anak dengan hubungan orang tua yang baik cenderung memiliki perkembangan sosial emosional yang normal, namun secara statistik hubungan tersebut tidak bermakna. Dengan demikian, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa usia ibu, status pernikahan, dan kualitas hubungan orang tua dan anak tidak memiliki hubungan yang signifikan secara statistik dengan perkembangan sosial emosional anak usia sekolah. Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa faktor keluarga memiliki peran besar dalam perkembangan sosial emosional anak, dan interaksi positif orang tua-anak harus ditingkatkan untuk mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.</p> 2026-02-28T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilang https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/19949 WHEITING AGENT DAN SUSPENDING AGENT YANG DIGUNAKAN DIDALAM SEDIAAN SUSPENSI 2026-02-06T03:40:38+00:00 Mawar Indah Purnama mawarip88@gmail.com Nazwa Nayla Putri nazwanaylaputri.09@icloud.com Zinda Rizkia Aprilia zindarizkia2@gmail.com Elpa Giovana Zola elpagiovanazola@gmail.com <p>Suspensi merupakan salah satu bentuk sediaan farmasi yang terdiri atas partikel padat berukuran mikron yang terdispersi dalam fase cair. Stabilitas fisik suspensi sangat dipengaruhi oleh kemampuan partikel untuk tetap terdistribusi merata tanpa mengalami pengendapan cepat dan kesulitan redispergasi. Oleh karena itu, penggunaan suspending agent dan wetting agent memegang peranan penting dalam formulasi suspensi. Suspending agent berfungsi meningkatkan viskositas medium dispersi, menghambat sedimentasi, dan menjaga kestabilan distribusi partikel dengan memperlambat proses flokulasi serta meningkatkan kemampuan redispersi. Bahan yang sering digunakan sebagai suspending agent antara lain natrium CMC, tragakan, bentonit, PVP, dan xanthan gum. Sementara itu, wetting agent berperan menurunkan tegangan antar muka antara partikel padat dengan cairan dispersi, sehingga mempermudah penetrasi cairan pada permukaan partikel yang bersifat hidrofob dan mencegah terbentuknya agregat. Contoh wetting agent yaitu surfaktan seperti Tween 80, Span 80, dan natrium lauril sulfat. Kombinasi kedua zat tambahan ini sangat penting untuk menghasilkan suspensi yang stabil, homogen, memiliki daya sebar yang baik, mudah dikocok, serta memenuhi parameter mutu fisik dan terapetik. Dengan demikian, pemilihan jenis dan konsentrasi suspending agent dan wetting agent menjadi aspek kritis dalam pengembangan formulasi sediaan suspensi.</p> <p><em>A suspension is a pharmaceutical preparation consisting of micron-sized solid particles dispersed in a liquid phase. The physical stability of a suspension is greatly influenced by the particles' ability to remain evenly distributed without experiencing rapid settling and difficulty in redispergation. Therefore, the use of suspending and wetting agents plays a crucial role in suspension formulation. Suspending agents increase the viscosity of the dispersion medium, inhibit sedimentation, and maintain the stability of particle distribution by slowing the flocculation process and increasing redispergability. Materials frequently used as suspending agents include sodium CMC, tragacanth, bentonite, PVP, and xanthan gum. Meanwhile, wetting agents reduce the interfacial tension between the solid particles and the dispersion liquid, thereby facilitating liquid penetration onto the hydrophobic particle surface and preventing aggregate formation. Examples of wetting agents include surfactants such as Tween 80, Span 80, and sodium lauryl sulfate. The combination of these two additives is crucial for producing a stable, homogeneous suspension with good spreadability, easy mixing, and meeting physical and therapeutic quality parameters. Therefore, selecting the type and concentration of the suspending agent and wetting agent is a critical aspect in developing a suspension formulation. </em></p> 2026-02-28T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilang https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/19866 KECERDASAN EMOSIONAL DAN PENGARUHNYA TERHADAP KOMUNIKASI TERAPIEUTIK PERAWAT 2026-02-03T12:55:31+00:00 Erwin Silitonga erwin.publikasipenelitian@gmail.com Edriyani Yonlafado Simanjuntak edriyani260481@gmail.com Novita Aryani novitaaryaniusm@gmail.com Meliana Pakpahan guest@jurnalhst.com <p>Kecerdasan emosional adalah kemampuan mengenali makna emosi dan hubungan emosional, serta kemampuan menyampaikan alasan dan solusinya. Komunikasi Terapeutik merupakan proses penyampaian pesan dari perawat kepada pasien baik secara verbal maupun non verbal yang diukur dengan adanya kejelasan, kesabaran, kesopanan, dan mudah dimengerti dalam berkomunikasi. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh kecerdasan emosional terhadap komunikasi terapeutik perawat dalam pemberian asuhan keperawatan. Jenis penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain penelitian analitik korelasi menggunakan pendekatan cross sectional. Populasi dan sampel pada penelitian ini adalah seluruh perawat yang bekerja di ruang rawat inap RS Advent Medan dengan jumlah 81 orang, yang diambil menggunakan teknik total sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner kecerdasan emosional dan komunikasi terapeutik perawat yang sudah valid dan reliable. Hasil penelitian ini menunjukkan Kecerdasan Emosional Mayoritas Adalah Baik sebanyak 86,4% dan Komunikasi Terapeutik Perawat Adalah Efektif sebanyak 54,3%. Berdasarkan hasil uji statistik chi-square diperoleh p-value = 0,010 (p&lt;0,05) sehingga Ha diterima dan Ho ditolak yang berarti bahwa ada pengaruh kecerdasan emosional terhadap komunikasi terapeutik perawat dalam pemberian asuhan keperawatan di RS Advent Medan tahun 2024. Berdasarkan hasil dari penelitian tersebut diharapkan kepada perawat dalam upaya mengatasi kecerdasan emosional serta meningkatkan komunikasi terapeutik yang efektif.</p> 2026-02-28T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilang https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/19693 PENGARUH PEMBERIAN MINYAK ZAITUN TERHADAP PERUBAHAN KELEMBABAN KULIT KAKI LANSIA DENGAN DM DI PSTW KHUSNUL KHATIMAH 2026-01-30T09:32:32+00:00 Isna Ovari isnaovari70@gmail.com M.Jodi Rijaldi rijaldijodi@gmail.com <p><em>Dry skin in the elderly can cause various symptoms including scaly skin, itching, and spots on the skin. The itchiness that arises on dry skin can damage the integrity of the skin and tissues if it is scratched continuously, and cause disturbance of comfort due to itching so that it causes you to always wake up while sleeping. The purpose of this scientific paper is to determine the effect of Olive Oil therapy in overcoming the problem of impaired skin integrity. Impaired skin integrity. This research is quantitative using a quasi-experimental design. The research design used was pre and post test without control. This research was conducted at the Khusnul Khatimah Pstw, Pekanbaru City in September 2023 by intervening Olive Oil therapy and measuring skin tests to assess skin moisture in the elderly. This study used a non-random (non- probability) sampling technique using purposive sampling. The sample of this research is 10 people. The analysis used is the distribution of the dependent t-test. The results of this study can be concluded that there was an effect of giving olive oil on changes in skin moisture on the feet of the elderly with diabetes mellitus at Pstw Khusnul Khatimah with p value = 0.000, which means p &lt;0.05. Olive Oil has good moisture for the skin which contains 24% saturated fat, omega 6 contains omega 3 and oleic fatty acids which help the body reduce inflammation. Applying olive oil against damage to the integrity of the skin 2 times a day can help improve skin conditions. Conclusion The application of olive oil therapy is proven to be able to overcome the problem of diagnosing skin integrity disorders.</em></p> <p>Kulit kering pada lansia dapat menimbulkan berbagai gejala diantara adalah kulit bersisik, gatal, dan bintik bintik pada kulit. Rasa gatal yang timbul pada kulit kering dapat mengakibatkan kerusakan integritas kulit dan jaringan jika di garus terus menerus, dan menyebabakan gangguan kenyamanan akibat gatal sehingga menyebababkan selalu terjaga saat tidur. Tujuan karya tulis ilmiah ini adalah untuk mengetahui pengaruh terapi Minyak Zaitun dalam mengatasi masalah gangguan integritas kulit. Gangguan integritas kulit. Penelitian ini bersifat kuantitatif dengan menggunakan desain quasi experiment rancangan penelitian yang digunakan adalah pre and post test without control. Penelitian ini dilakukan di Pstw Khusnul Khatimah Kota Pekanbaru pada bulan September 2023 dengan melakukan intervensi terapi Minyak Zaitun dan pengukuran skin test untuk menilai kelembapan kulit pada lansia. Penelitian ini menggunakan teknik Non Random (Non Probability) sampling secara purposive sampling. Sampel penelitian ini berjumlah 10 orang. Analisa yang digunakan adalah distribusi uji dependent t-test. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa di peroleh ada pengaruh Pemberian Minyak Zaitun Terhadap Perubahan Kelembaban Kulit Kaki Lansia Dengan DM Di Pstw Khusnul Khatimah dengan p value = 0,000 yang artinya p &lt; 0,05. Minyak Zaitun memiliki kelembaban yang baik untuk kulit yang mengandung 24% lemak jenuh, omega 6 mengandung asam lemak omega 3 dan oleat yang membantu tubuh dalam mengurangi peradangan. Mengoleskan minyak zaitun terhadap kerusakan integritas kulit setiap 2 kali sehari dapat membantu memperbaiki keadaan kulit. kesimpulan Penerapan terapi minyak zaitun terbukti dapat mengatasi masalah diagnosa gangguan integritas kulit.</p> 2026-02-28T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilang https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/19910 ARTIKEL REVIEW: ALIRAN NEWTON YANG DIGUNAKAN DALAM SEDIAAN FARMASI 2026-02-05T04:05:18+00:00 Aulia Fadhila auliafadhila297@gmail.com Destianti Awaliyah destiantiawaliyah12@gmail.com Rezky Maulidia rezkymaulidya@gmail.com Elpa Giovana Zola elpagiovanazola@gmail.com <p>Aliran Newton merupakan konsep fundamental dalam reologi yang menjelaskan perilaku fluida dengan viskositas konstan dan tidak di pengaruhi besarnya gaya geser yang diberikan. Dalam bidang formulasi sediaan farmasi, pemahaman mengenai sifat aliran Newton sangat penting karena berkaitan langsung dengan mutu produk, stabilitas, dan kenyamanan penggunaan produk. riview jurnal ini bertujuan untuk membahas dan mengkaji penerapan konsep aliran Newton pada berbagai bentuk sediaan farmasi di antaranya sirup, suspensi, emulsi, gel, dan krim. Berdasarkan hasil kajian, diketahui bahwa sediaan farmasi yang memiliki sifat dengan karakteristik Newtonian atau mendekati Newtonian umumnya menunjukan perilaku aliran yang lebih stabil dan mudah diprediksi. Karakteristik ini memberikan keuntungan dalam proses produksi, pengisian, pengemasan, serta saat penggunaan produk oleh konsumen. Beberapa sediaan Newton menjadi aspek yang sangat penting dalam perancangan dan pengembangan formulasi sediaan farmasi yang aman, stabil, dan berkualitas cair, seperti sirup parasetamol dan beberapa jenis suspensi di ketahui memiliki karakteristikaliran yang mendekati Newtonian dengan nilai viskositas yang relative konstan. Selain itu pemahaman yang baik mengenai aliran Newton juga berperan sebagai dasar penting dalam pengembangan sediaan dengan sifat aliran non-Newtonian yang lebih kompleks seperti gel dan krim, yang banyak digunakan dalam produk farmasi modern. Dengan demikian, penguasaan konsep aliran.</p> <p><em>Newtonian flow is a fundamental concept in rheology that explains the behavior of fluids with constant viscosity and is not affected by the magnitude of the applied shear force. In the field of pharmaceutical formulation, understanding the properties of Newtonian flow is very important because it is directly related to product quality, stability, and comfort of use. This journal review aims to discuss and examine the application of the Newtonian flow concept in various pharmaceutical dosage forms including syrups, suspensions, emulsions, gels, and creams. Based on the results of the study, it is known that pharmaceutical preparations with Newtonian or near-Newtonian characteristics generally show more stable and predictable flow behavior. These characteristics provide advantages in the production process, filling, packaging, and during product use by consumers. Some liquid preparations, such as paracetamol syrup and several types of suspensions are known to have flow characteristics that are close to Newtonian with relatively constant viscosity values. In addition, a good understanding of Newtonian flow also plays an important role in the development of preparations with more complex non-Newtonian flow properties such as gels and creams, which are widely used in modern pharmaceutical products. Thus, mastering the concept of Newton's flow is a very important aspect in the design and development of safe, stable, and high-quality pharmaceutical formulations.</em></p> 2026-02-28T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilang https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/19853 HUBUNGAN ANTARA DURASI SCREEN TIME DENGAN KEJADIAN SPEECH DELAY PADA BALITA 2026-02-03T08:16:49+00:00 Lia Mufida liamufida73@gmail.com Friska Realita friskarealita@unissula.ac.id Alfiah Rahmawati alfiahrahmawati@unissula.ac.id <p>Latar Belakang: Screen time yang melebihi batas rekomendasi dapat mengakibatkan dampak negatif terhadap perkembangan anak usia balita, salah satunya pada perkembangan bahasa. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan durasi screen time dengan kejadian speech delay pada balita. Metode Penelitian: Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 98 responden. Penelitian ini dilakukan pada tanggal 8 s.d 29 September 2025 di Pekalongan. Hasil Penelitian: Hasil uji statistik menggunakan SPSS dengan uji Chi Square didapatkan hasil p = 0,000 &lt; α = 0,05, artinya terdapat hubungan antara durasi screen time dengan kejadian speechdelay Kesimpulan: Maka dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara durasi screen time dengan kejadian speech delay pada anak balita. Diharapkan orang tua dapat membatasi screen time anak dengan cara memberikan kegiatan yang lain dan juga mengajak anak untuk berinteraksi secara langsung untuk mencegah terjadinya speech delay.</p> <p><em>Background: Excessive screen time that exceeds recommended limits can negatively affect the development of toddlers, including their language development. Objective: This study aims to determine the relationship between the duration of screen time and the incidence of speech delay among toddlers. Methods: This research employed a quantitative method with a cross-sectional design. The sample consisted of 98 respondents. The study was conducted from September 8 to 29, 2025, at Pekalongan. Results: Statistical analysis using SPSS with the Chi-Square test showed a p-value of 0.000 &lt; α = 0.05, indicating a significant relationship between screen time and the incidence of speech delay. Conclusion: It can be concluded that there is a significant association between the duration of screen time and the occurrence of speech delay among toddlers at Pekalongan. Parents are encouraged to limit children’s screen time by providing alternative activities and engaging them in direct interactions to prevent speech delay.</em></p> 2026-02-28T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilang https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/19891 REVIEW: GELLING AGENT DAN HUMEKTAN YANG DIGUNAKAN DI DALAM SEDIAAN GEL 2026-02-04T11:49:24+00:00 Putri Rahmadani putrirahmadani162345@gmail.com Khalim Purnomo khalimpurnomo27@gmail.com Annisa Tuzzahra atuzzahra385@gmail.com Tassa tasytassa@gmail.com Elpa Giovana Zola elpagiovanazola@gmail.com <p>Penelitian ini merupakan tinjauan terhadap 40 jurnal formulasi gel dari berbagai bahan aktif alamiah untuk melihat pola penggunaan gelling agent, humektan, serta menentukan formula terbaik berdasarkan stabilitas fisik dan aktivitas farmakologis. Hasil telaah menunjukkan bahwa Carbopol 940/Ultrez, HPMC, dan CMC-Na merupakan gelling agent yang paling banyak digunakan dalam konsentrasi 0,5–4% karena mampu menghasilkan viskositas, homogenitas, pH, serta daya sebar yang sesuai standar. Humektan yang mendominasi adalah propilen glikol dan gliserin pada kisaran 5–15%. Sebagian besar penelitian melaporkan bahwa peningkatan konsentrasi gelling agent meningkatkan viskositas dan daya lekat, sedangkan peningkatan konsentrasi ekstrak meningkatkan aktivitas biologis, seperti antioksidan, antibakteri, penyembuhan luka, maupun tabir surya. Dari keseluruhan data, hampir semua bahan alam dapat diformulasikan menjadi sediaan gel yang stabil, dengan formula optimal berbeda-beda sesuai karakteristik bahan aktif dan jenis gelling agent yang digunakan.</p> <p><em>This study is a review of 40 journals on gel formulations from various natural active ingredients to observe the usage patterns of gelling agents and humectants, and to determine the best formula based on physical stability and pharmacological activity. The results of the review indicate that Carbopol 940/Ultrez, HPMC, and CMC-Na are the most widely used gelling agents in concentrations of 0.5–4% because they are able to produce viscosity, homogeneity, pH, and spreadability according to standards. The dominant humectants are propylene glycol and glycerin in the range of 5–15%. Most studies report that increasing the concentration of gelling agents increases viscosity and adhesiveness, while increasing the concentration of extracts increases biological activities, such as antioxidant, antibacterial, wound healing, and sunscreen. From the overall data, almost all natural ingredients can be formulated into stable gel preparations, with optimal formulas varying according to the characteristics of the active ingredients and the type of gelling agent used.</em></p> 2026-02-28T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilang https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/19829 ARTIKEL REVIEW : GELLING AGENT DAN EMOLIEN SEDIAAN PASTA 2026-02-02T13:56:47+00:00 Atazila Huzil Afwa atazilafwa@gmail.com Sri Nanda srinanda383@gmail.com Desmara Dewi desmaradewi17@gmail.com Sabnatun Nikmah sbnatunnikmah@gmail.com Elpa Giovana Zola elpagiovanazola@gmail.com <p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis berbagai formulasi pasta gigi herbal tahun 2020–2025 berdasarkan komposisi gelling agent, emolien, dan ekstrak tanaman yang digunakan, serta mengevaluasi pengaruhnya terhadap stabilitas fisik dan aktivitas antibakteri. Data dihimpun dari 40 penelitian yang mencakup formulasi pasta gigi berbahan herbal seperti daun murbei, belimbing wuluh, delima merah, kersen, lemon, jahe, pandan, cengkeh, hingga cangkang telur. Hasil analisis menunjukkan bahwa Na- CMC merupakan gelling agent paling umum dan konsisten menghasilkan viskositas, daya sebar, dan homogenitas yang stabil. Emolien seperti gliserin dan sorbitol terbukti berperan penting dalam meningkatkan plastisitas serta mempertahankan pH sediaan. Aktivitas antibakteri terhadap Streptococcus mutans pada sebagian besar penelitian berada dalam kategori kuat hingga sangat kuat, terutama pada formula dengan konsentrasi ekstrak tinggi dan formula kombinasi. Hasil ini menegaskan bahwa pasta gigi herbal dapat diformulasikan dengan stabil, aman, dan efektif bila komponen gel dan ekstrak disusun secara proporsional. Temuan ini mendukung pemanfaatan ekstrak tanaman sebagai alternatif produk oral care yang kompetitif dan ramah lingkungan.</p> <p><em>This study aims to analyze various herbal toothpaste formulations published from 2020 to 2025 by evaluating the composition of gelling agents, emollients, and plant extracts, as well as their effects on physical stability and antibacterial activity. Data were obtained from 40 studies covering herbal toothpaste formulations using ingredients such as mulberry leaves, bilimbi, pomegranate, kersen leaves, lemon peel, ginger, pandan, clove, and eggshell powder. The analysis revealed that Na-CMC is the most widely used gelling agent and consistently provides stable viscosity, spreadability, and homogeneity. Emollients such as glycerin and sorbitol play an essential role in enhancing plasticity and maintaining pH stability. Most formulations demonstrated strong to very strong antibacterial activity against Streptococcus mutans, particularly in formulas with higher extract concentrations and combination extracts. These findings confirm that herbal toothpaste can be formulated to be stable, safe, and effective when gelling agents and extracts are properly optimized. Overall, the results support the development of plant-based toothpaste as a competitive and environmentally friendly alternative for oral care products.</em></p> 2026-02-28T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilang https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/20221 MONITORING EFEK SAMPING OBAT PADA PASIEN TB YANG MENDAPATKAN TERAPI FDC (FIXED DOSE COMBINATION) DI RSI SUNAN KUDUS 2026-02-19T04:02:46+00:00 Yuli Nugraheni nugraheniheni66@gmail.com Endang Setyowati endangsetyowati@umkudus.ac.id Ulviani Yulia Husna ulvianiyulia24@gmail.com <p>Tuberkulosis (TB) adalah suatu penyakit yang paling berbahaya di dunia dan menjadi penyebab kematian terbanyak kedua setelah virus corono (COVID-19), Saat ini, hal ini merupakan salah satu tantanvan kesehatan yang paling signifikan di seluruh dunia. Penelitian ini bertujuan untuk mengenali dampak yang dialami oleh pasien tuberkulosis yang mendapatkan perawatan di RSI Sunan Kudus. Metode yang diterapkan dalam penelitian ini adalah deskriptif observasional dengan pendekatan retrospektif dengan memanfaatkan data dari catatan rekam medis pasien dan teknik pengambilan purposive sampling. Penelitian ini dilakukan di RS Islam Sunan Kudus dengan populasi sebanyak 129 pasien dan mengambil sampel sebanyak 56 responden, teknik pengumpulan datanya dilakukan melalui rekam medis pasien, kemudian dilakukan analisis dengan metode uji Chi square. Temuan pada penelitian ini menunjukan bahwa sebagian besar responden laki-laki (60,7%), usia yang paling banyak 41 – 80 tahun (75%), pekerjaan yang paling banyak yaitu wiraswasta (32,1%), efek samping yang sering teerjadi efek samping minor (71,4%), dan jenis obat yang paling banyak yaitu paket dosis harian (96,4%). Hubungan antara jenis kelamin, usia, pekerjaan, dan jenis obat dengan efek samping obat tidak terdapat hubungan karena nilai p value &gt;0,05. Kesimpulan pada penelitian ini efek sampung pengobatan TB tidak ada hubungannya dengan karakteristik pasien dan jenis obat.</p> <p><em>Tuberculosis (TB) is one of the most dangerous diseases&nbsp; in the wod in the second leading cause of death after the corona virus (COVID-19), currently posing a major global health problem. This study aims to identify the side effects experienced by tuberculosis patients undergoing treatment at RS Islam Sunan Kudus. The research employed a descriptiive observational method with a retrospective approach, utilizing patient medical record data and purposive sampling technique. Conducted at RS Islam Sunan Kudus with a population of 129 patients, a sample of 56 respondents was selected. Data collection was performed through patient medical records and analyzed using the chi-square test. The results showed that the majority of respondents were male (60.7%), aged 41-80 years (75%), self-employed (32.1%), experienced minor side effects (71.4%), and received daily dose packages (96.4%). There was no association between gender, age, occupation, and type of medication with side effects, as the p-value was &gt;0,05. The conclousion of this study is that the side effects of TB treatment have no relationship with patient characteristics and the type of medication.</em></p> 2026-02-28T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilang https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/19887 RIVIEW ARTIKEL: SUSPENDING AGENT DAN HUMEKTAN DALAM SEDIAAN GEL 2026-02-04T10:02:22+00:00 Lulu Wafiq Wafizo gindabe86@icloud.com Syaila Khoirunnisa syaila8454@gmail.com Okti Sonya Rahmadani oktisonya03@gmail.com Putri Bunga Difa putribungadifa@gmail.com <p>Pengembangan sediaan gel berbasis bahan alam menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Keberhasilan formulasi gel sangat ditentukan oleh pemilihan suspending agent dan humektan, karena kedua komponen tersebut berperan penting dalam menjaga stabilitas, konsistensi, serta kenyamanan saat diaplikasikan. Kajian ini merangkum empat puluh penelitian formulasi gel berbahan alam yang memanfaatkan berbagai suspending agent, antara lain Carbopol 934/940, CMC-Na, HPMC, xanthan gum, dan PVA, serta humektan berupa gliserin dan propilenglikol. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa Carbopol 940 dan HPMC merupakan agen pembentuk gel yang paling konsisten dalam menghasilkan stabilitas fisik sediaan, sedangkan gliserin dan propilenglikol berfungsi mempertahankan kelembapan sekaligus meningkatkan sifat aplikasi gel. Temuan kajian ini menegaskan bahwa ketepatan konsentrasi kedua komponen tersebut menjadi faktor krusial dalam menentukan kualitas akhir sediaan gel.</p> <p><em>The formulation of natural-based gel preparations has shown a notable increase in recent years. The effectiveness of gel formulations is strongly influenced by the selection of suspending agents and humectants, as these components play a crucial role in determining stability, consistency, and user comfort. This review summarizes forty studies on natural gel formulations employing various suspending agents, including Carbopol 934/940, CMC-Na, HPMC, xanthan gum, and PVA, along with humectants such as glycerin and propylene glycol. The evaluation results indicate that Carbopol 940 and HPMC consistently provide optimal physical stability, while glycerin and propylene glycol contribute to moisture retention and improved application properties. The findings highlight that appropriate concentration levels of these components are critical factors in achieving high-quality gel formulations.</em></p> 2026-02-28T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilang https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/19814 REVIEW TANAMAN OBAT TRADISIONAL INDONESIA: KANDUNGAN FITOKIMIA DAN POTENSI FARMAKOLOGIS 2026-02-02T09:29:43+00:00 Lulu Wafiq Wafizo gindabae86@icloud.com Indri Artanti indriartanti30@gmail.com Agistha Dwi Lestari agistahagistah@gmail.com Aulia Fadhila auliafadhila297@gmail.com <p>Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi dan telah lama memanfaatkan tanaman obat tradisional untuk pengobatan berbagai penyakit. Tanaman seperti akar penyengar, senggani (Melastoma malabathricum), ganda rusa (Justicia gendarussa), mineral, srekubum, kemuning (Murraya paniculata), ruku-ruku (Ocimum tenuiflorum), pecah piring (Excoecaria cochinchinensis), lidah buaya (Aloe vera), dan jerenang (Daemonorops sp.) digunakan secara empiris untuk meningkatkan kesehatan dan mengatasi berbagai gangguan. Artikel ini meninjau kandungan fitokimia dan potensi farmakologis tanaman-tanaman tersebut berdasarkan kajian literatur ilmiah. Metode yang digunakan adalah literature review terhadap artikel nasional dan internasional yang membahas senyawa bioaktif dan aktivitas biologis tanaman obat tradisional Indonesia. Hasil kajian menunjukkan bahwa tanaman-tanaman ini mengandung flavonoid, alkaloid, tanin, saponin, terpenoid, senyawa fenolik, dan resin yang berperan dalam aktivitas farmakologisnya. Aktivitas yang dilaporkan meliputi antioksidan, antimikroba, antiinflamasi, analgesik, antidiabetes, serta penyembuhan luka. Temuan ini menegaskan potensi besar tanaman obat tradisional Indonesia sebagai sumber bahan baku obat herbal dan fitofarmaka berbasis bukti ilmiah, sekaligus menjadi dasar penelitian lanjutan.</p> 2026-02-28T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilang https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/20088 PENGARUH DEEP BREATHING MINDFULNESS TERHADAP ANSIETAS PADA CAREGIVER PASIEN DENGAN GANGGUAN JIWA DI DESA BULUNG KULON KECAMATAN JEKULO KABUPATEN KUDUS 2026-02-11T08:39:24+00:00 Mayza Nabila Hamida mayzanabila13@gmail.com Anny Rosiana Masithoh annyrosiana@umkudus.ac.id Ashri Maulida Rahmawati arahmawati@umkudu.ac.id <p>Ansietas adalah gangguan psikologis yang ditandai dengan rasa takut kekhawatiran yang intens terhadap peristiwa di masa depan yang potensial. Caregiver pasien dengan gangguan mental terkadang mengalami ansietas&nbsp; tetapi terkadang mereka tidak tau cara untuk menanganinya. Jika ansietas tidak dapat ditangani dengan baik akan berpengaruh pada pasien yang dirawat oleh caregiver. Kesulitan yang dihadapi caregiver dapat menyebabkan rasa bersalah, putus asa, dan kecemasan. Salah satu metode yang dapat diterapkan adalah dengan terapi deep breathing mindfulness, yang bertujuan untuk membantu caregiver dalam mengelola ansietas mereka. Terapi ini melibatkan penyampaian informasi, pelatihan, dan dukungan kepada caregiver agar mereka dapat memahami manfaat dan menerapkan teknik relaksasi secara mandiri. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif dengan dengan Quasy-Eksperiment, menggunakan rancangan control group pre-test post-test untuk membandingkan perbedaan tingkat kecemasan sebelum dan sesudah diberikan intervensi pada kelompok yang menerima terapi dan kelompok kontrol,&nbsp; untuk mengetahui efektivitas terapi yang diterapkan. Hasil dari pengaruh terapi deep breathing mindfulness dan kecemasan yang sudah dilakukan analisa oleh peneliti didapati hasil bahwa “Terdapat Pengaruh Deep Breating Mindfulness Terhadap Kecemasan”. Deep breathing mindfulness signifikan menurunkan kecemasan pada kelompok intervensi dibandingkan kelompok kontrol. Dosis intervensi dapat dilakukan selama 6x selama 2 minggu dengan durasi selama 30 menit. Intervensi ini dapat direkomendasikan sebagai salah satu asuhan keperawatan dalam progam majemen dan perawatan pasien dengan kecemasan.</p> 2026-02-28T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilang https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/19881 PENGETAHUAN ORANG TUA DENGAN PERILAKU PENANGANAN PERTAMA KEJADIAN LUKA BAKAR PADA ANAK DI DESA GETAS 2026-02-04T07:18:28+00:00 Nisaul Khomariyah nisa8579@gmail.com Kurnia Wijayanti guest@jurnalhst.com Nopi Nur Khasanah guest@jurnalhst.com <p>Latar Belakang: Luka bakar merupakan salah satu bentuk kecelakaan yang sering terjadi pada anak, terutama di lingkungan rumah. Keterbatasan kemampuan anak dalam mengenali bahaya menyebabkan peran orang tua menjadi sangat penting dalam melakukan penanganan pertama untuk mencegah keparahan luka. Rendahnya tingkat pengetahuan orang tua serta perilaku penanganan yang kurang tepat dapat meningkatkan risiko komplikasi, seperti infeksi dan keterlambatan penyembuhan luka bakar pada anak. Oleh karena itu, diperlukan pemahaman yang baik mengenai hubungan antara pengetahuan orang tua dan perilaku penanganan pertama kejadian luka bakar pada anak. Metode: Penelitian ini menggunakan desain penelitian analitik kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 95 orang tua yang memiliki anak usia 1–10 tahun dan pernah mengalami luka bakar di Desa Getas, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Demak. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner yang mengukur tingkat pengetahuan orang tua dan perilaku penanganan pertama kejadian luka bakar pada anak. Analisis data dilakukan menggunakan uji Rank Spearman untuk mengetahui hubungan antar variabel.Hasil : Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan yang baik mengenai penanganan pertama kejadian luka bakar pada anak, yaitu sebanyak 89,5%. Sementara itu, perilaku orang tua dalam penanganan pertama luka bakar sebagian besar berada pada kategori positif, yaitu 57,9%. Hasil analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan orang tua dengan perilaku penanganan pertama kejadian luka bakar pada anak dengan nilai korelasi r = 0,318 dan p = 0,002 (p &lt; 0,05).Simpulan : Penelitian ini menyimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan orang tua dengan perilaku penanganan pertama kejadian luka bakar pada anak di Desa Getas. Semakin baik tingkat pengetahuan orang tua, maka semakin positif perilaku yang ditunjukkan dalam melakukan penanganan pertama luka bakar pada anak. Oleh karena itu, peningkatan edukasi kesehatan mengenai penanganan luka bakar perlu terus dilakukan guna meningkatkan keselamatan dan kesehatan anak.</p> 2026-02-28T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilang https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/19777 MANAJEMEN ASUHAN KEBIDANAN PADA NY. S DENGAN CA MAMMAE DI RUANGAN THA IF UPTD KHUSUS RSU HAJI MEDAN PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2025 2026-02-01T06:56:17+00:00 Lydia Riska Dini Pinem diaapinem@gmail.com Djanius Mariati zen360107@gmail.com Seppe Nola Manik seppenolamanik09@gmail.com Nayla Safitri n48051780@gmail.com Nuranisa anisanst0813@gmail.com Asnita Sinaga guets@jurnalhst.com Sahnijar guest@jurnalhst.com <p>Carcinoma mammae merupakan permasalahan kesehatan serius pada perempuan yang membutuhkan penanganan menyeluruh, termasuk peran bidan dalam pemberian asuhan kebidanan. Laporan kasus ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan manajemen asuhan kebidanan pada Ny. S dengan diagnosis carcinoma mammae yang dirawat di Ruang Tha’if UPTD Khusus RSU Haji Medan Provinsi Sumatera Utara tahun 2025. Metode yang digunakan adalah studi kasus dengan pendekatan manajemen kebidanan Varney yang mencakup tahap pengkajian, penetapan diagnosis dan masalah, identifikasi masalah potensial, tindakan segera, perencanaan, pelaksanaan, serta evaluasi asuhan kebidanan. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa Ny. S berusia 60 tahun mengalami keluhan nyeri pada payudara, kecemasan, serta terdapat benjolan pada payudara kiri dan direncanakan menjalani tindakan mastektomi. Asuhan kebidanan yang diberikan meliputi pemantauan tanda-tanda vital, penatalaksanaan nyeri, pemberian dukungan psikologis, edukasi sebelum dan sesudah operasi, kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi, serta pendokumentasian asuhan secara sistematis. Hasil evaluasi menunjukkan adanya perbaikan kondisi pasien yang ditandai dengan penurunan intensitas nyeri, berkurangnya kecemasan, serta kesiapan pasien dalam menjalani perawatan lanjutan. Dapat disimpulkan bahwa penerapan manajemen asuhan kebidanan yang komprehensif dan holistik pada pasien carcinoma mammae berperan penting dalam memenuhi kebutuhan fisik dan psikologis pasien serta meningkatkan mutu pelayanan kebidanan.</p> 2026-02-28T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilang https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/19915 PENGARUH RELAKSASI HYPNOBREASTFEEDING TERHADAP BREASTFEEDING SELF-EFFICACY PADA IBU POST SC HARI 1-3 DI RUANG NIFAS RSI PKU MUHAMMADIYAH PEKAJANGAN 2026-02-05T04:28:28+00:00 Siti Maesaroh maesaroh2728@gmail.com Hanifatur Rosyidah hanifa.r@unissula.ac.id Muliatul Jannah muliatuljannah@unissula.ac.id Meilia Rahmawati Kusumaningsih meilia.rahmawati@unissula.ac.id <p>Latar belakang: ibu post sc sering mengalami hambatan pada awal menyusui yang disebabkan rasa nyeri dan kecemasan yang tinggi, sehingga akan menurunkan rasa percaya diri dan keinginan untuk menyusui (breastfeeding self-efficacy). Relaksasi hypnobreastfeeding sebagai intervensi non-farmakologis dapat meningkatkan breastfeeding self-efficacy ibu post SC dengan cara memberikan afirmasi positif untuk membantu ibu merasa lebih tenang selama menyusui. Tujuan: mengetahui pengaruh relaksasi hypnobreastfeeding terhadap breastfeeding self-efficacy pada ibu post SC hari 1-3 di ruang nifas RSI PKU Muhammadiyah Pekajangan, Pekalongan. Metode: Quasy-experiment dengan desain two group pretest-posttest, nonequivalent control group. Sampel 40 ibu post SC hari 1-3 yang terbagi dalam kelompok intervensi dan kontrol (masing-masing 20 orang). Analisis menggunakan uji independent T-test dan instrument yang digunakan adalah Breastfeeding self-efficacy Scale Short Form (BSES-SF). Hasil: Relaksasi hypnobreastfeeding secara signifikan menaikkan breastfeeding self-efficacy pada kelompok intervensi (p=0,002). Kesimpulan: Relaksasi hypnobreastfeeding efektif meningkatkan breastfeeding self-efficacy pada ibu post SC hari 1-3</p> <p><em>Background: Post-Sectio Caesarea mothers often experience difficulties in early breastfeeding due to pain and high anxiety. This can reduce their confidence and desire to breastfeed (breastfeeding self-efficacy). Hypnobreastfeeding relaxation as a non-pharmacological intervention can increase breastfeeding self-efficacy in post-sectio caesarea by providing positive affirmations to help mothers feel calmer during breastfeeding. Objective: To determine the effect of hypnobreastfeeding relaxation on breastfeeding self-efficacy in post-sectio caesarea mothers on days 1-3 in the postnatal room of RSI PKU Muhammadiyah Pekajangan, Pekalongan. Method: Quasi-experimental study with a two-group pretest-posttest design and a nonequivalent control group. Sample: 40 post-sectio caesarea mothers on days 1-3, divided into an intervention group and a control group (20 people each). Analysis: Independent T-testusing the Breastfeeding Self-Efficacy Scale Short Form (BSES-SF) instrument. Results: Hypnobreastfeeding relaxation significantly increased breastfeeding self-efficacy (p=0.002). Conclusion: Hypnobreastfeeding relaxation is effective in increasing breastfeeding self-efficacy in post-sectio caesarea mothers 1-3 days</em></p> 2026-02-28T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilang