https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/issue/feedJurnal Kesehatan Unggul Gemilang2026-04-29T15:41:59+00:00Open Journal Systemshttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/21441HASIL PENELITIAN FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEGAGALAN DALAM PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF PADA BAYI USIA 0 - 6 BULAN DI PUSKESMAS BATUA TAHUN 2025 2026-04-28T10:57:06+00:00Ummul Aimah1ummulaimah20@gmail.comRina Silvana Jamalrinasilvanajamal@gmail.comAsriany Tunruasriannytunru@gmail.com<p>Latar Belakang : Pemberian ASI eksklusif sangat penting untuk pertumbuhan, perkembangan, dan pencegahan penyakit pada bayi, termasuk diare. Pemberian ASI Eksklusif yang gagal dan tidak optimal dapat berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan anak di masa yang akan datang. Kegagalan ini juga dapat meningkatkan angka kematian dan kesakitan ibu dan anak. Tujuan : Penelitian ini bertujuan mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kegagalan pemberian ASI eksklusif pada bayi usia 0–6 bulan di Puskesmas Batua tahun 2025. Metode : Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan sampel ibu yang memiliki bayi usia 0–6 bulan. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian : menunjukkan adanya hubungan signifikan antara tingkat pengetahuan ibu (p=0,006), status pekerjaan ibu (p=0,004), dan promosi susu formula (p=0,002) terhadap kegagalan pemberian ASI eksklusif. Sementara itu, tidak ditemukan hubungan signifikan antara status kesehatan ibu dan pemberian ASI eksklusif (p=0,678). Kesimpulan: Pengetahuan, pekerjaan ibu, dan promosi susu formula berhubungan terhadap kegagalan pemberian ASI eksklusif, sedangkan kesehatan ibu tidak menunjukkan hubungan yang signifikan.</p> <p>Background : Exclusive breastfeeding is very important for the growth, development, and prevention of diseases in babies, including diarrhea. Failed and not optimal exclusive breastfeeding can have an impact on the growth and development of children in the future. This failure can also increase the death rate and pain of mother and child. The Purpose : This research aims to find out the factors related to the failure of exclusive breastfeeding in babies aged 0–6 months at the Batua Health Center in 2025. Method : The study used a cross-sectional design with a sample of mothers who had babies aged 0–6 months. Research Results : Data is collected through a questionnaire and analyzed using a chi square test. The results of the study showed a significant relationship between the mother's knowledge level (p=0,006), the mother's job status (p=0,004), and the promotion of formula milk (p=0,002) against the failure of exclusive breastfeeding. Meanwhile, no significant relationship was found between maternal health status and exclusive breastfeeding (p=0,678). Conclusion : Knowledge, maternal occupation, and formula milk promotion are associated with the failure of exclusive breastfeeding, whereas maternal health does not show a significant association</p>2026-04-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilanghttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/20823HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN KELUARGA, PEMANFAATAN MEDIA SOSIAL DAN TINGKAT KEMANDIRIAN ACTIVITY OF DAILY LIVING (ADL) DENGAN KUALITAS HIDUP LANSIA DI DESA KEDUNG RUKEM2026-04-05T05:46:56+00:00Diana Aura Litadianaauralita12@gmail.comErvi Suminarervisuminar@umg.ac.id<p>Pendahuluan: Orang tua sering menghadapi tantangan dalam hidup. Ada banyak kemunduran yang terjadi seperti rendahnya dukungan teman sebaya, tidak aktif menggunakan media sosial dan Activity of Daily Living(ADL) mandiri yang mempengaruhi kualitas hidup lansia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara dukungan teman sebaya, penggunaan media sosial dan tingkat kemandirian dalam kegiatan kehidupan sehari-hari (ADL) dengan kualitas hidup lansia di Desa Kedung Rukem. Metode: Desain penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Populasinya adalah 151 lansia, sampel 110 lansia diperoleh dengan menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner tentang dukungan sebaya, penggunaan media sosial, tingkat kemandirian ADL dan kualitas hidup. Analisis data uji statistik Chi-Square. Hasil: Hasil uji korelasi dukungan sebaya dengan kualitas hidup diperoleh nilai p 0,005, hasil uji korelasi penggunaan media sosial dengan kualitas hidup diperoleh nilai p 0,097 dan hasil uji korelasi tingkat kemandirian ADL dengan kualitas hidup diperoleh nilai p 0,004. Kesimpulan: Ada hubungan antara dukungan sebaya dan tingkat kemandirian dalam Kegiatan Kehidupan Sehari-hari (ADL) dan kualitas hidup lansia dan tidak ada hubungan antara penggunaan media sosial dan kualitas hidup lansia. Untuk meningkatkan kualitas hidup lansia, dilakukan upaya promosi kesehatan promotif dan preventif untuk kelangsungan hidup lansia.</p>2026-04-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilanghttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/21288HUBUNGAN PENGGUNAAN ALAT PELINDUNG DIRI DENGAN KELUHAN DERMATITIS PADA NELAYAN KECAMATAN PANGKALAN SUSU2026-04-24T02:46:16+00:00Nurly Fadilanurlyfadila@gmail.comWasiyemguest@jurnalhst.com<p>Dermatitis merupakan salah satu penyakit akibat kerja yang sering dialami oleh nelayan. Penyakit ini biasanya disebabkan oleh kontak langsung dengan air laut, paparan sinar matahari, dan kurangnya kesadaran nelayan dalam menggunakan alat pelindung diri saat bekerja di laut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pemakaian alat pelindung diri dan keluhan dermatitis pada nelayan di Kecamatan Pangkalan Susu. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kuantitatif menggunakan desain potong lintang (cross-sectional). Sebanyak 145 nelayan dipilih sebagai sampel dari total 234 nelayan aktif, menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner tertutup yang telah lolos uji validitas dan reliabilitas. Hubungan antar variabel dianalisis menggunakan uji chi-square, dengan hasil signifikan (p=0,000). Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara penggunaan APD dan keluhan dermatitis (p < 0,05). Nelayan yang tidak menggunakan APD memiliki tingkat keluhan dermatitis yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang rutin menggunakannya. Temuan ini menunjukkan bahwa penggunaan APD berperan penting dalam mencegah risiko penyakit kulit akibat pekerjaan. Oleh karena itu, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi para nelayan, tenaga kesehatan di puskesmas, serta pembuat kebijakan dalam merancang program pencegahan penyakit kerja, khususnya dermatitis.</p> <p><em>Dermatitis is one of the occupational diseases commonly experienced by fishermen. This condition is usually triggered by direct contact with seawater, exposure to sunlight, and the fishermen's low awareness of using personal protective equipment while working at sea. This study aims to examine the relationship between Personal Protective Equipment usage and complaints of dermatitis among fishermen in the Pangkalan Susu sub-district. A quantitative approach with a cross-sectional design was used in this research. A total of 145 fishermen were selected as respondents from a population of 234 active fishermen using purposive sampling technique. Data were collected using a closed-ended questionnaire that had been tested for validity and reliability. The relationship between variables was analyzed using the chi-square test, with a significant result (p = 0.000). The findings showed a statistically significant relationship between the use of Personal Protective Equipment and complaints of dermatitis (p < 0.05). Fishermen who did not use Personal Protective Equipment tended to report higher rates of dermatitis compared to those who used it regularly. These findings highlight the importance of adopting safe work practices, particularly through the consistent use of Personal Protective Equipment, to reduce the risk of occupational skin diseases. Therefore, the results of this study are expected to serve as a reference for fishermen, healthcare workers at community health centers (puskesmas), and policymakers in developing programs to prevent occupational diseases, especially dermatitis.</em></p>2026-04-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilanghttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/20963EDUKASI DIET 3J UNTUK MENGONTROL KADAR GLUKOSA DARAH PADA LANSIA DENGAN DIABETES MELLITUS BERBASIS ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA DI WILAYAH PUSKESMAS KEDUNG MUNDU2026-04-11T10:29:34+00:00Fadhila Al Wafiqfadhilaalwafiq11@gmail.comFery Agusman Motuho Mendrofafery.mendrofa21@gmail.com<p>Latar belakang: Lansia adalah tahap akhir perkembangan pada siklus kehidupan manusia yang mengalami penurunan dalam kemampuan fisik dan mental yang berdampak untuk kesehatan lansia, termasuk penyakit degeneratif seperti diabetes mellitus. Salah satu penyebab terjadinya diabetes mellitus yaitu dari pola makan yang tidak sehat. Pasien diabetes mellitus memiliki pengetahuan terbatas mengenai pemilihan makanan, porsi makan, serta jadwal yang sesuai. Oleh karena itu, edukasi diet 3 J menjadi intervensi penting dalam meningkatkan pemahaman, keterampilan, dan kepatuhan pasien terhadap manajemen nutrisi. Tujuan: karya ilmiah ini adalah untuk mengetahui pengaruh edukasi diet 3j untuk mengontrol kadar glukosa darah pada lansia dengan diabetes mellitus berbasis asuhan keperawatan keluarga di wilayah Puskesmas Kedung Mundu. Metode: Jenis penelitian ini adalah deskriptif analitik dalam bentuk studi kasus. Hasil: pasien dan keluarga mengetahui, memahami, serta menerapkan diet 3J dalam kehidupan sehari – hari. Kesimpulan: pasien dan keluarga menerapkan diet 3J dan efektif dalam mengontrol kadar glukosa darah.</p> <p><em>Background: Elderly age is the final stage of development in the human life cycle, characterized by a decline in physical and mental abilities that impact the health of the elderly, including degenerative diseases such as diabetes mellitus. One cause of diabetes mellitus is an unhealthy diet. Patients with diabetes mellitus have limited knowledge regarding food selection, portion sizes, and appropriate meal schedules. Therefore, 3J diet education is an important intervention in improving patient understanding, skills, and compliance with nutritional management. Purpose: This scientific paper aims to determine the effect of 3J diet education on controlling blood glucose levels in elderly people with diabetes mellitus based on family nursing care at the Kedung Mundu Community Health Center. Method: This research is a descriptive analytical study in the form of a case study. Results: Patients and their families know, understand, and apply the 3J diet in their daily lives. Conclusion: Patients and their families apply the 3J diet and it is effective in controlling blood glucose levels.</em></p>2026-04-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilanghttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/20843ANALISIS RISIKO KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA DENGAN METODE HIRADC PADA PEKERJA DI PT PERKEBUNAN NUSANTARA IV REGIONAL I PABRIK KELAPA SAWIT2026-04-07T02:40:44+00:00Nielsa Sastyanielsasastya@gmail.comSusilawatisusilawati@gmail.com<p>Penelitian ini menganalisis risiko Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) pada pekerja di PT Perkebunan Nusantara Regional I Pabrik Kelapa Sawit Rambutan Tebing Tinggi. Dilatarbelakangi oleh pentingnya manajemen K3 sesuai standar ISO 45001 dan Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2012, serta tingginya kasus kecelakaan kerja di Indonesia, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi, menilai, dan mengendalikan risiko K3 menggunakan metode HIRADC (Hazard Identification, Risk Assessment, and Determining Control). Metodologi yang digunakan adalah survei deskriptif kuantitatif dengan pengumpulan data melalui observasi dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hampir seluruh stasiun kerja di PKS Rambutan memiliki potensi bahaya dengan tingkat risiko bervariasi, dari rendah hingga ekstrem. Bahaya umum meliputi tertabrak truk, tergelincir, tertimpa tandan buah, terjepit, kebisingan, paparan uap panas, tersetrum listrik, dan polusi debu. Pengendalian risiko yang direkomendasikan mencakup penerapan hierarki K3 (eliminasi, substitusi, rekayasa teknik, administratif, dan APD), seperti pemasangan rambu, SOP, perawatan rutin, pelatihan, dan penggunaan APD yang sesuai di setiap stasiun kerja. Penelitian ini menyimpulkan bahwa terdapat potensi bahaya dengan 23 risiko tinggi, 6 risiko menengah, 2 risiko rendah, dan 9 risiko ekstrem. Implementasi sistematis dari HIRADC sangat krusial untuk menciptakan lingkungan kerja yang aman dan produktif</p> <p><em>This study analyzes the Occupational Safety and Health (OHS) risks for workers at PT Perkebunan Nusantara Regional I Rambutan Tebing Tinggi Palm Oil Mill. Based on the importance of OHS management in accordance with ISO 45001 standards and Government Regulation Number 50 of 2012, as well as the high number of occupational accidents in Indonesia, this study aims to identify, assess, and control OHS risks using the HIRADC (Hazard Identification, Risk Assessment, and Determining Control) method. The methodology used is a quantitative descriptive survey with data collection through observation and interviews. The results show that almost all work stations at Rambutan PKS have potential hazards with varying levels of risk, from low to extreme. Common hazards include being hit by a truck, slipping, being crushed by fruit bunches, being trapped, disturbances, exposure to hot steam, electric shock, and dust pollution. Recommended risk controls include the implementation of the OHS hierarchy (elimination, substitution, engineering, administrative, and PPE), such as the installation of signs, SOPs, routine maintenance, training, and the use of appropriate PPE at each work station. This study concluded that there were 23 high-risk, 6 medium-risk, 2 low-risk, and 9 extreme-risk potential hazards. Systematic implementation of HIRADC is crucial for creating a safe and productive work environment.</em></p>2026-04-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilanghttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/21454PENERAPAN LATIHAN KEMAMPUAN POSITIF TERHADAP PENINGKATAN HARGA DIRI RENDAH PADA PASIEN DI RSJD DR. AMINO GONDOHUTOMO JAWA TENGAH2026-04-29T05:06:59+00:00Valentine Febiola Mawenevalentinefmawene@gmail.comDwi Indah Iswantymisskey.indah@yahoo.com<p>Latar Balakang: Harga diri merupakan aspek penting dalam pembentukan kepribadian dan kesejahteraan psikologis seseorang. Kondisi ini ditandai dengan perasaan tidak berharga, kurang percaya diri, dan kecenderungan untuk menyalahkan diri sendiri. Individu dengan harga diri rendah cenderung menarik diri dari lingkungan sosial, mudah mengalami stres, depresi, dan gangguan kecemasan. Dalam jangka panjang, hal ini dapat memengaruhi kualitas hidup seseorang secara menyeluruh, termasuk dalam aspek pendidikan, pekerjaan, dan hubungan interpersonal. Tujuan: Mengetahui dan menganalisis efektivitas penerapan latihan kemampuan positif dalam meningkatkan harga diri pada pasien dengan harga diri rendah yang menjalani perawatan di RSJD Dr. Amino Gondohutomo Jawa Tengah. Metode: Studi kasus ini melibatkan tiga pasien (Tn. A, Tn. N dan Tn. B) yang menunjukan gejala Harga Diri Rendah. Imlementasi keperawatan dilakukan selama 4 hari (29 Juli – 03 Agustus 2025) melalui pendekatan bertahap dari strategi pelaksanaan 1 – 4. Analisa data dilakukan dengan cara membaca, mempelajari, serta membandingkan data yang terkumpul dengan teori yang ada. Hasil: Latihan kemampuan positif terbukti efektif dalam meningkatkan harga diri pasien yang mengalami gangguan konsep diri, khususnya harga diri rendah. Melalui latihan ini, pasien diajak untuk mengidentifikasi dan mengembangkan kemampuan serta potensi positif yang dimiliki, sehingga timbul rasa percaya diri dan penghargaan terhadap diri sendiri.</p> <p>Background: Self-esteem is an important aspect in the formation of a person's personality and psychological well-being. This condition is characterized by feelings of worthlessness, lack of confidence, and a tendency to blame oneself. Individuals with low self-esteem tend to withdraw from social environments, easily experience stress, depression, and anxiety disorders. In the long term, this can affect a person's overall quality of life, including in aspects of education, work, and interpersonal relationships. Objective: To determine the effectiveness of the application of positive skills training in increasing self-esteem in patients with low self-esteem who are undergoing treatment at Dr. Amino Gondohutomo Mental Hospital, Central Java. Method: This case study involved three patients (Mr. A, Mr. N and Mr. B) who showed symptoms of Low Self-Esteem. The implementation of bleeding was carried out for 4 days (July 29 - August 3, 2025) through a stepwise approach from implementation strategies 1 - 4. Data analysis was carried out by reading, studying, and comparing the collected data with existing theories. Results: Positive skills training has been proven effective in increasing the self-esteem of patients who experience self-concept disorders, especially low self-esteem. Through this exercise, patients are encouraged to develop and expand their abilities and positive potential, thereby fostering a sense of self-confidence and self-esteem.</p>2026-04-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilanghttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/20824EFEKTIVITAS PIJAT COMMON COLD YANG DIKOMBINASIKAN DENGAN AROMATERAPI PEPPERMINT TERHADAP TINGKAT KESEMBUHAN PADA BAYI USIA 1-6 BULAN DI BPM SUKATMI KUDUS2026-04-05T07:35:37+00:00Tri Utamitriutami262021@gmail.comAtun Wigatiatunwigati@umkudus.ac.idDiah Andriani Kusumastutidiahandriani@umkudus.ac.id<p>Latar Belakang: Batuk pilek merupakan salah satu infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) yang sering dialami oleh bayi, khususnya usia 1–6 bulan karena sistem kekebalan tubuh yang belum berkembang sempurna. Penggunaan obat-obatan pada bayi memiliki risiko efek samping, sehingga diperlukan alternatif penanganan nonfarmakologis yang aman. Pijat batuk pilek dapat membantu meningkatkan sirkulasi darah dan daya tahan tubuh bayi, sedangkan aromaterapi peppermint yang mengandung mentol berfungsi sebagai dekongestan alami untuk membantu melegakan saluran pernapasan. Tujuan:Mengetahui efektivitas pijat batuk pilek yang dikombinasikan dengan aromaterapi peppermint terhadap tingkat kesembuhan bayi usia 1–6 bulan.Metode:Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain quasi experiment menggunakan rancangan pre-test dan post-test dengan kelompok kontrol. Populasi penelitian adalah seluruh bayi usia 1–6 bulan yang mengalami batuk pilek ringan di BPM Sukatmi Kudus. Jumlah sampel sebanyak 60 responden ditentukan menggunakan rumus Slovin dengan teknik simple random sampling. Data dikumpulkan menggunakan lembar observasi dan dianalisis menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test dan uji Mann–Whitney U Test.Hasil:Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan tingkat kesembuhan bayi yang signifikan sebelum dan sesudah perlakuan pada kelompok intervensi serta perbedaan yang signifikan antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Simpulan: Pijat batuk pilek yang dikombinasikan dengan aromaterapi peppermint efektif dalam meningkatkan tingkat kesembuhan bayi usia 1–6 bulan.</p>2026-04-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilanghttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/21427PENGARUH PEMBERIAN EDUKASI PEMBATASAN CAIRAN DAN TERAPI SLIMBER ICE CUBE TERHADAP PENURUNAN INTERDIALYTIC WEIGHT GAIN PASIEN HEMODIALISA2026-04-28T04:28:53+00:00Lutfi Wisda Hasani Peshabigupiw@gmail.com<p>Gagal ginjal kronik merupakan masalah kesehatan kronis yang memerlukan terapi hemodialisis secara berkelanjutan. Salah satu indikator utama dalam pengelolaan cairan pada pasien hemodialisis adalah Interdialytic Weight Gain (IDWG), yang mencerminkan tingkat kepatuhan pasien terhadap pembatasan asupan cairan. Peningkatan IDWG yang tidak terkontrol dapat menimbulkan komplikasi kardiovaskular, edema, serta penurunan kualitas hidup, sehingga diperlukan intervensi keperawatan yang efektif dan mudah diterapkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh edukasi pembatasan cairan dan terapi Slimber Ice Cube terhadap penurunan IDWG pada pasien hemodialisis di RS Mitra Keluarga Bina Husada Cibinong. Penelitian menggunakan desain kuasi-eksperimental dengan pendekatan pretest–posttest dengan kelompok kontrol. Sampel penelitian berjumlah 30 responden yang dibagi menjadi kelompok intervensi (n = 15) dan kelompok kontrol (n = 15). Kelompok intervensi mendapatkan edukasi pembatasan cairan dan terapi Slimber Ice Cube, sedangkan kelompok kontrol hanya memperoleh edukasi pembatasan cairan. Pengukuran IDWG dilakukan sebelum dan sesudah intervensi dan dianalisis menggunakan uji Paired t-test. Hasil analisis menunjukkan nilai p-value sebesar 0,052 pada kelompok kontrol dan 0,000 pada kelompok intervensi, yang menandakan adanya penurunan IDWG yang bermakna secara statistik pada kelompok intervensi. Kesimpulan: Kombinasi edukasi pembatasan cairan dan terapi Slimber Ice Cube efektif menurunkan IDWG serta direkomendasikan sebagai intervensi non-farmakologis yang aman dan aplikatif dalam praktik keperawatan klinik.</p> <p><em>Chronic kidney disease is a chronic health problem that requires long-term hemodialysis therapy. One of the main indicators in fluid management for hemodialysis patients is Interdialytic Weight Gain (IDWG), which reflects the level of patient adherence to fluid intake restrictions. Uncontrolled increases in IDWG can lead to cardiovascular complications, edema, and decreased quality of life; therefore, effective and easily applicable nursing interventions are needed. This study aimed to determine the effect of fluid restriction education and Slimber Ice Cube therapy on reducing IDWG in hemodialysis patients at Mitra Keluarga Bina Husada Hospital, Cibinong. This study employed a quasi-experimental design with a pretest–posttest control group approach. The sample consisted of 30 respondents who were divided into an intervention group (n = 15) and a control group (n = 15). The intervention group received fluid restriction education combined with Slimber Ice Cube therapy, while the control group received fluid restriction education only. IDWG was measured before and after the intervention and analyzed using the paired t-test. The results showed a p-value of 0.052 in the control group and 0.000 in the intervention group, indicating a statistically significant reduction in IDWG in the intervention group. Conclusion: The combination of fluid restriction education and Slimber Ice Cube therapy is effective in reducing IDWG and is recommended as a safe and applicable non-pharmacological intervention in clinical nursing practice.</em></p>2026-04-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilanghttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/20964PENERAPAN FOOT MASSAGE THERAPY TERHADAP PENURUNAN TEKANAN DARAH PADA LANSIA DENGAN HIPERTENSI BERBASIS ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA DI WILAYAH PUSKESMAS KEDUNGMUNDU2026-04-11T10:59:50+00:00Dian Wahyu Andrianidianwahyuandriani34@gmail.comFery Agusman Motuho Mendrofafery.mendrofa21@gmail.com<p>Latar belakang: Lanjut usia mengalami penurunan fungsi fisik dan perubahan sistem kardiovaskular seiring bertambahnya usia yang dapat meningkatkan risiko terjadinya hipertensi. Hipertensi pada lansia sering sulit dikendalikan dan berisiko menimbulkan komplikasi serius apabila tidak ditangani secara optimal. Selain terapi farmakologis, diperlukan pendekatan nonfarmakologis yang aman, mudah diterapkan, dan minim efek samping. Salah satu terapi nonfarmakologis yang dapat digunakan adalah terapi pijat kaki (foot massage therapy), yang bermanfaat meningkatkan sirkulasi darah, merelaksasikan otot, menurunkan stres, serta memberikan rasa nyaman sehingga berkontribusi dalam menurunkan tekanan darah pada lansia. Tujuan Penelitian: Mengetahui efektifitas penerapan foot message therapy terhadap penurunan tekanan darah pada lansia dengan hipertensi berbasis asuhan keperawatan keluarga di Wilayah Puskesmas Kedungmundu. Metode penelitian: Jenis penelitian ini adalah studi kasus dengan pendekatan asuhan keperawatan keluarga. Subjek penelitian adalah lansia dengan hipertensi yang diberikan intervensi terapi foot massage secara rutin sesuai prosedur. Pengukuran tekanan darah dilakukan sebelum dan sesudah intervensi. Hasil penelitian: Menunjukkan adanya penurunan tekanan darah sistolik dan diastolik setelah diberikan terapi foot massage. Selain itu, lansia merasakan tubuh lebih rileks, nyaman, dan tingkat stres menurun. Dapat disimpulkan bahwa terapi foot massage efektif sebagai intervensi keperawatan nonfarmakologis dalam membantu menurunkan tekanan darah pada lansia dengan hipertensi dan dapat diterapkan dalam asuhan keperawatan keluarga. Simpulan: Terapi pijat kaki (foot massage therapy) terbukti efektif sebagai intervensi keperawatan nonfarmakologis dalam membantu menurunkan dan mengontrol tekanan darah pada lansia dengan hipertensi.</p> <p><em>Background: Elderly individuals experience a decline in physical function and changes in the cardiovascular system with increasing age, which can increase the risk of developing hypertension. Hypertension in the elderly is often difficult to control and may lead to serious complications if not managed optimally. In addition to pharmacological therapy, safe, easily applicable, and low–side effect nonpharmacological approaches are needed. One such nonpharmacological therapy is foot massage therapy, which helps improve blood circulation, relax muscles, reduce stress, and provide comfort, thereby contributing to the reduction of blood pressure in the elderly. Research Objective: To determine the effectiveness of foot massage therapy in reducing blood pressure among elderly patients with hypertension based on family nursing care in the Kedungmundu Primary Health Care area. Research method: This study employed a case study design with a family nursing care approach. The subjects were elderly patients with hypertension who received routine foot massage therapy according to established procedures. Blood pressure measurements were taken before and after the intervention. The results of the study: The results showed a decrease in both systolic and diastolic blood pressure after the administration of foot massage therapy. In addition, the elderly participants reported feeling more relaxed, comfortable, and experienced reduced stress levels. These findings indicate that foot massage therapy is effective as a nonpharmacological nursing intervention in helping to reduce blood pressure in elderly patients with hypertension and can be applied in family nursing care. Conclusion: Foot massage therapy has been proven effective as a nonpharmacological nursing intervention in helping to reduce and control blood pressure in elderly patients with hypertension.</em></p>2026-04-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilanghttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/20857FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI IBU HAMIL DALAM PEMERIKSAAN ANTENATAL CARE (ANC) DI RSU CUT MEUTIA KOTA LHOKSEUMAWE2026-04-07T08:02:46+00:00Saimahimasaimah224@gmail.comYenni Fitri Wahyuniyeyenogem12@gmail.comNurdahliananurdahliana1969@gmail.com<p>Latar Belakang: Kesehatan ibu dan bayi menjadi indikator penting dalam pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ketiga yang menargetkan penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). Meskipun pemeriksaan Antenatal Care (ANC) terbukti efektif dalam mendeteksi dini risiko komplikasi kehamilan, cakupan pemeriksaan ANC yang sesuai standar di Indonesia masih belum optimal. Di Kabupaten Aceh Utara, termasuk di wilayah rujukan RSU Cut Meutia, tantangan seperti keterbatasan pengetahuan ibu hamil, hambatan ekonomi, sosial budaya, serta akses terhadap layanan kesehatan masih menjadi penghalang dalam pelaksanaan ANC secara tepat waktu dan berkualitas. Tujuan penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi kepatuhan kunjungan ANC pada ibu hamil di RSU Cut Meutia, Kota Lhokseumawe tahun 2025. Metode penelitian: Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan rancangan cross-sectional, melibatkan 40 responden yang dipilih melalui purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan yang tinggi sebesar 62,5%, namun sikap negatif terhadap pemeriksaan ANC masih mendominasi pada 55% responden. Ketepatan kunjungan ANC ditemukan pada 77,5% responden. Analisis bivariat menggunakan uji Chi-Square menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan (ρ = 0,005), sikap (ρ = 0,002), dan dukungan suami (ρ= 0,025) dengan ketepatan kunjungan ANC pada ibu hamil. Kesimpulan: Pengetahuan, sikap ibu, dan dukungan suami secara signifikan memengaruhi kepatuhan kunjungan ANC. Saran: Intervensi edukatif dan keterlibatan keluarga sangat penting dalam meningkatkan partisipasi ANC untuk mendukung kesehatan ibu dan janin.</p> <p><em>Background: Maternal Mortality Rate (MMR) and Infant Mortality Rate (IMR) remain global health challenges, including in Indonesia. Antenatal Care (ANC) plays a crucial role in the early detection of pregnancy complications to reduce both MMR and IMR. Research Objective: This study aims to analyze the factors that influence the timeliness of ANC visits among pregnant women at Cut Meutia General Hospital, Lhokseumawe City. Research Method: This study employed a quantitative approach with a cross- sectional design, involving 40 respondents selected through purposive sampling. Data were collected using a questionnaire and analyzed using univariate and bivariate methods with the Chi-Square test. Research Results: The results showed that the majority of respondents had a high level of knowledge (62.5%), although negative attitudes toward ANC were still dominant (55%). Timely ANC visits were observed in 77.5% of respondents. Bivariate analysis using the Chi-Square test indicated a significant relationship between knowledge level (ρ = 0.005), attitude (ρ = 0.002), and husband’s support (ρ = 0.025) with the timeliness of ANC visits among pregnant women. Conclusion: Knowledge, maternal attitudes, and husband’s support significantly influence compliance with ANC visits. Recommendation: Educational interventions and family involvement are essential to improving ANC participation and supporting maternal and fetal health..</em></p>2026-04-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilanghttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/21461PENGARUH TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK STIMULASI PERSEPSI PADA PASIEN HALUSINASI PENDENGARAN DI RSJD DR. AMINO GONDOHUTOMO SEMARANG JAWA TENGAH2026-04-29T07:41:04+00:00Adventya Clarintha Latuheruadventya.12@gmail.comDwi Indah Iswantymisskey.indah@yahoo.com<p>Latar Belakang: Halusinasi pendengaran bentuk gangguan persepsi sensori yang ditandai dengan mendengar suara atau bisikan yang tidak nyata. Gejala ini dapat memicu perilaku agresif dan kecenderungan isolasi sosial. Pendekatan non-farmakologis seperti terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi dinilai bermanfaat dalam membantu pasien mengelola halusinasi secara mandiri. Tujuan: Mendekripsikan penerapan terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi dalam asuhan keperawatan pada Pasien dengan masalah gangguan persepsi sensori: halusinasi pendengaran di RSJD Dr. Amino Gondohutomo Semerang. Metode: Studi kasus ini melibatkan tiga pasien (Tn. W, Tn. A, dan Tn. N) yang menunjukkan gejala halusinasi pendengaran. Implementasi keperawatan dilakukan pada tanggal 29 Juli 2025 selama 3 minggu melalui pendekatan bertahap, yaitu teknik menghardik halusinasi, bercakap-cakap, membuat jadwal kegiatan harian, dan edukasi minum obat. Analisa data yang digunakan yaitu distribusi frekuensi dan persentase. Hasil: Adanya penurunan signifikan pada indikator verbalisasi mendengar bisikan dan perilaku halusinasi. Skor ketiga pasien mengalami penurunan dari kategori “meningkat” pada hari pertama menjadi “menurun” pada hari ketiga, yang menunjukkan efektivitas dari intervensi art therapy. Kesimpulan: Terapi Aktivitas Kelompok Stimulasi Persepsi terbukti efektif dalam mengurangi intensitas dan frekuensi halusinasi pendengaran pada pasien dengan gangguan persepsi sensori. Intervensi ini dapat dijadikan sebagai alternatif terapi non-farmakologis dalam praktik keperawatan jiwa.</p> <p><em>Background: Auditory hallucinations are a form of sensory perception disorder characterized by hearing unreal voices or whispers. This symptom can trigger aggressive behavior and a tendency for social isolation. Non-pharmacological approaches such as perception stimulation group activity therapy are considered useful in helping patients manage hallucinations independently. Objective: To describe the application of perception stimulation group activity therapy in nursing care for patients with sensory perception disorders: auditory hallucinations at Dr. Amino Gondohutomo Regional Mental Hospital, Semerang. Method: This case study involved three patients (Mr. W, Mr. A, and Mr. N) who showed symptoms of auditory hallucinations. Nursing implementation was carried out on July 29, 2025 for 3 weeks through a gradual approach, namely the technique of reprimanding hallucinations, talking, making daily activity schedules, and education on taking medication. Data analysis used was frequency distribution and percentage. Results: There was a significant decrease in the indicators of verbalization of hearing whispers and hallucinatory behavior. The scores of all three patients decreased from "increased" on the first day to "decreased" on the third day, indicating the effectiveness of the art therapy intervention. Conclusion: Perceptual Stimulation Group Activity Therapy has been shown to be effective in reducing the intensity and frequency of auditory hallucinations in patients with sensory perception disorders. This intervention can be used as an alternative non-pharmacological therapy in psychiatric nursing practice.</em></p>2026-04-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilanghttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/20842LITERATURE RIVIEW : MANAJEMEN KESEHATAN LINGKUGAN DAN LIMBAH RUMAH SAKIT DI INDONESIA DALAM PERBANDINGAN INTERNASIONAL2026-04-07T01:25:19+00:00Ahmad Faridsinshefarid@gmail.comSyafa'atul Ula Fin Nukhanisvafinnukha23@gmail.com<p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengelolaan limbah rumah sakit di Indonesia dalam konteks perbandingan internasional dengan menggunakan metode kualitatif berbasis tinjauan pustaka. Studi ini mencakup analisis delapan jurnal ilmiah yang memuat data dari Indonesia dan negara-negara lain seperti Korea Selatan, Malaysia, dan Taiwan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan limbah medis di Indonesia masih menemui berbagai tantangan, seperti keterbatasan infrastruktur, lemahnya regulasi, dan kurangnya pelatihan bagi tenaga kesehatan. Di sisi lain, negara-negara lain telah mengimplementasikan teknologi mutakhir dan sistem yang lebih terstruktur. Studi ini merekomendasikan peningkatan kapasitas sistem pengelolaan limbah medis di Indonesia dengan menerapkan kebijakan yang konsisten, menyediakan pelatihan berkelanjutan, dan menyediakan fasilitas yang ramah lingkungan.</p> <p><em>This study aims to analyze hospital waste management in Indonesia through an international comparative perspective using a qualitative method based on a literature review. The study covers the analysis of eight scientific journals containing data from Indonesia (Java, Kalimantan, Sulawesi, Sumatra) and other countries such as South Korea, Malaysia, and Taiwan. The findings reveal that medical waste management in Indonesia still faces various challenges, including limited infrastructure, weak regulations, and insufficient training for healthcare workers. In contrast, other countries have implemented advanced technologies and more structured systems. This study recommends strengthening the capacity of medical waste management systems in Indonesia by implementing consistent policies, providing continuous training, and developing environmentally friendly facilities.</em></p>2026-04-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilang