https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/issue/feedJurnal Kesehatan Unggul Gemilang2026-08-31T05:34:53+00:00Open Journal Systemshttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/25651PENGARUH INISIASI MENYUSUI DINI TERHADAP HIPOTERMI PADA BAYI BARU LAHIR2026-08-21T12:43:26+00:00Putrie Kaniea Cendrayaniputrikaniacendrayani26@gmail.comAtun Wigatiatunwigati@umkudus.ac.idDiah Andriani Kdiahandriani@umku.ac.id<p>Hipotermi pada bayi baru lahir merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas neonatus jika tidak ditangani secara cepat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Inisiasi Menyusui Dini (IMD) terhadap persentase kejadian hipotermi pada bayi baru lahir di Ruang Nursery RS Santosa Bandung Kopo Tahun 2026. Jenis penelitian yang digunakan adalah pra-eksperimental dengan rancangan one group pretest-posttest design tanpa kelompok kontrol. Populasi penelitian adalah seluruh bayi baru lahir di RS Santosa Bandung Kopo dengan jumlah sampel sebanyak 50 bayi yang diambil menggunakan teknik total sampling. Pengukuran suhu tubuh aksila dilakukan sebelum dan sesudah pelaksanaan IMD selama satu jam. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan Uji McNemar dengan tingkat signifikansi a = 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum dilakukan IMD, sebanyak 37 bayi (74,0%) mengalami hipotermi. Setelah dilakukan intervensi IMD, persentase bayi hipotermi menurun drastis menjadi 6 bayi (12,0%), sementara 44 bayi (88,0%) memiliki suhu tubuh normal. Uji statistik McNemar menghasilkan nilai p-value = 0,000 (p < 0,05), yang berarti H0 ditolak dan H1 diterima. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat pengaruh yang signifikan antara Inisiasi Menyusui Dini (IMD) terhadap penurunan persentase kejadian hipotermi pada bayi baru lahir di RS Santosa Bandung Kopo.</p> <p><em>Hypothermia in newborns is one of the primary causes of neonatal morbidity and mortality if left unmanaged. This study aimed to analyze the effect of Early Initiation of Breastfeeding (EIB/IMD) on the percentage of hypothermia in newborns at the Nursery Room of Santosa Hospital Bandung Kopo in 2026. This research applied a pre-experimental method with a one-group pretest-posttest design without a control group. The population consisted of all newborns at Santosa Hospital Bandung Kopo, with a sample size of 50 infants selected through total sampling technique. Axillary body temperature was measured before and after a one-hour IMD intervention. Data were analyzed univariately and bivariately using the McNemar Test at a significance level of a = 0.05. The results showed that prior to IMD, 37 infants (74.0%) suffered from hypothermia. Following the IMD intervention, the proportion of hypothermic infants dropped significantly to 6 infants (12.0%), whereas 44 infants (88.0%) reached normal body temperature. The McNemar test yielded a p-value = 0.000 (p < 0.05), rejecting H0 and accepting H1. In conclusion, Early Initiation of Breastfeeding significantly influences the reduction of hypothermia incidence in newborns at Santosa Hospital Bandung Kopo. </em></p>2026-08-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilanghttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/24835PENGARUH SISTEM APPOINTMENT BERBASIS APLIKASI TERHADAP EFISIENSI PELAYANAN RAWAT JALAN: LITERATURE REVIEW2026-07-30T07:55:53+00:00Febrina Anggriani Putri Putrifefebrina@gmail.comDewi Purnamawatidewi.purnamawati@umj.ac.id<p>Pelayanan rawat jalan kerap menghadapi persoalan antrean panjang dan waktu tunggu yang tidak terprediksi akibat mekanisme pendaftaran manual yang belum adaptif terhadap peningkatan jumlah kunjungan pasien. Penelitian ini bertujuan mengkaji pengaruh sistem <em>appointment</em> berbasis aplikasi terhadap efisiensi pelayanan rawat jalan melalui pendekatan <em>literature review</em>. Metode yang digunakan adalah tinjauan pustaka terhadap artikel ilmiah nasional dan internasional yang dipublikasikan dalam rentang 2022–2026, dengan tahapan identifikasi, penyaringan, penilaian kelayakan, dan sintesis tematik. Hasil kajian menunjukkan bahwa penerapan sistem <em>appointment</em> berbasis aplikasi secara konsisten menurunkan durasi waktu tunggu, mempercepat alur administrasi, serta mengurangi beban kerja petugas pendaftaran. Keberhasilan implementasi tersebut dipengaruhi oleh faktor pendukung berupa kesiapan infrastruktur jaringan, literasi digital, motivasi penggunaan teknologi, dan kualitas rancangan sistem, sementara faktor penghambat utama meliputi ketidakstabilan jaringan internet dan rendahnya pemahaman prosedural pengguna. Dari sisi kepuasan pasien, sebagian besar studi melaporkan dampak positif terhadap kepraktisan dan kecepatan layanan, meskipun beberapa temuan menunjukkan kesenjangan antara ekspektasi dan kinerja layanan yang masih perlu diperbaiki. Penelitian ini menyimpulkan bahwa digitalisasi <em>appointment</em> merupakan strategi strategis dalam meningkatkan efisiensi pelayanan kesehatan, namun keberhasilannya menuntut kesiapan organisasi secara menyeluruh.</p> <p><em>Outpatient services frequently face problems of long queues and unpredictable waiting times due to manual registration mechanisms that have not adapted to the rising number of patient visits. This study aims to examine the influence of application-based appointment systems on outpatient service efficiency through a literature review approach. The method employed was a review of national and international scientific articles published between 2022 and 2026, following stages of identification, screening, eligibility assessment, and thematic synthesis. The findings indicate that the implementation of application-based appointment systems consistently reduces waiting time duration, accelerates administrative processes, and eases the workload of registration staff. The success of this implementation is influenced by supporting factors such as network infrastructure readiness, digital literacy, technology adoption motivation, and system design quality, while the main inhibiting factors include unstable internet connectivity and users' limited procedural understanding. In terms of patient satisfaction, most studies reported positive effects on service practicality and speed, although some findings revealed gaps between expectations and actual service performance that still require improvement. This study concludes that appointment digitalization represents a strategic approach to enhancing healthcare service efficiency, yet its success depends on comprehensive organizational readiness.</em></p>2026-08-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilanghttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/25643FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEJADIAN KETUBAN PECAH DINI PADA IBU BERSALIN DI SANTOSA HOSPITAL BANDUNG KOPO TAHUN 20252026-08-21T09:58:04+00:00Ririn Nilasari Situmorangririnilasari6366@gmail.comNasriyahnasriyah@umkudus.ac.idNor. Asiyahnorasiyah@umkudus.ac.idSalis Nur Hidayahsalisnur@umkudus.ac.id<p>Pendahuluan: Ketuban Pecah Dini (KPD) merupakan komplikasi obstetri yang berkontribusi terhadap peningkatan morbiditas dan mortalitas maternal serta perinatal. Berbagai faktor, seperti usia ibu, paritas, anemia, kelainan letak janin, dan kehamilan ganda diduga berperan dalam kejadian KPD. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi kejadian KPD pada ibu bersalin di Santosa Hospital Bandung Kopo Tahun 2025. Metode: Penelitian ini menggunakan desain analitik kuantitatif dengan pendekatan retrospektif. Populasi penelitian berjumlah 163 ibu bersalin dengan sampel sebanyak 116 responden yang dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Data diperoleh dari rekam medis. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan uji Chi-Square, dan multivariat menggunakan regresi logistik ganda dengan tingkat kemaknaan α=0,05. Hasil: Proporsi kejadian KPD sebesar 75,9%. Analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara usia ibu (p=0,009), paritas (p=0,041), dan kelainan letak janin (p=0,017) dengan kejadian KPD. Sementara itu, anemia (p=0,067) dan kehamilan ganda (p=0,728) tidak berhubungan dengan kejadian KPD. Analisis multivariat menunjukkan tidak terdapat faktor yang berpengaruh secara independen terhadap kejadian KPD (p>0,05), namun usia ibu memiliki nilai Adjusted Odds Ratio (AOR) terbesar, yaitu 4,940. Kesimpulan: Usia ibu, paritas, dan kelainan letak janin berhubungan dengan kejadian KPD, sedangkan anemia dan kehamilan ganda tidak berhubungan. Meskipun tidak ditemukan faktor yang berpengaruh secara independen, usia ibu merupakan faktor yang paling dominan secara klinis terhadap kejadian KPD.</p>2026-08-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilanghttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/25811HUBUNGAN POLA MAKAN DAN KESEJAHTERAAN PSIKOLOGIS DENGAN DERAJAT KEPARAHAN DISPEPSIA PADA PASIEN RAWAT JALAN DI RUMAH SAKIT TK.II MOH RIDWAN MEURAKSA2026-08-27T03:43:25+00:00Siti Nurhayatisitinurhayatii0786@gmail.comMuhamad Jauharmuhamadjauhar@umkudus.ac.idUmi Faridahumifaridah@umkudus.ac.id<p>Dispepsia merupakan salah satu gangguan saluran cerna yang sering dijumpai pada pelayanan rawat jalan, dengan gejala seperti nyeri epigastrium, kembung, cepat kenyang, mual, dan rasa penuh setelah makan. Derajat keparahan dispepsia dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, di antaranya pola makan yang tidak teratur dan kondisi kesejahteraan psikologis pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan pola makan dan kesejahteraan psikologis dengan derajat keparahan dispepsia pada pasien rawat jalan di Rumah Sakit TK II Moh. Ridwan Meuraksa. Penelitian ini menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari 2026 dengan sampel sebanyak 100 pasien rawat jalan yang didiagnosis dispepsia oleh dokter dan memenuhi kriteria inklusi. Sampel diperoleh menggunakan teknik consecutive sampling dan dihitung menggunakan rumus Slovin. Instrumen penelitian meliputi kuesioner pola makan, Ryff’s Psychological Well-Being Scale (RPWB) untuk menilai kesejahteraan psikologis, serta Leeds Dyspepsia Questionnaire (LDQ) untuk menilai derajat keparahan dispepsia. Analisis data dilakukan menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pasien memiliki pola makan kategori baik (86,0%) dan kesejahteraan psikologis kategori rendah (60,0%). Mayoritas pasien mengalami derajat keparahan dispepsia kategori sedang (89,0%). Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara pola makan (p=0,007) dan kesejahteraan psikologis (p=0,022) dengan derajat keparahan dispepsia pada pasien rawat jalan di Rumah Sakit TK II Moh. Ridwan Meuraksa. Kesimpulannya, pola makan dan kesejahteraan psikologis berhubungan dengan derajat keparahan dispepsia pada pasien rawat jalan. Rumah sakit disarankan meningkatkan edukasi pola makan sehat dan layanan pendampingan psikologis untuk membantu menurunkan keparahan dispepsia.</p>2026-08-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilanghttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/25572HUBUNGAN PENGETAHUAN TENTANG LABEL GIZI DENGAN FREKUENSI KONSUMSI PRODUK OLAHAN KEMASAN PADA MAHASISWA NON-KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH KUDUS2026-08-18T11:39:25+00:00Amara Maulida Alezafiamaraalezafi@gmail.comIndanahindanah@umkudus.ac.idM. Ridwantoridwantomuhammad11@gmail.com<p>Latar Belakang: Tingginya konsumsi makanan olahan kemasan di kalangan mahasiswa berpotensi meningkatkan risiko masalah kesehatan jangka panjang. Memahami informasi pada label gizi merupakan salah satu sarana untuk mengontrol asupan gizi harian. Namun, mahasiswa non-kesehatan kerap kali kurang terpapar informasi mengenai pentingnya membaca label gizi dibandingkan dengan mahasiswa dari program studi kesehatan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara tingkat pengetahuan tentang label gizi dengan frekuensi konsumsi produk olahan kemasan pada mahasiswa non-kesehatan di Universitas Muhammadiyah Kudus. Metode: Penelitian kuantitatif ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian adalah mahasiswa aktif non-kesehatan Universitas Muhammadiyah Kudus. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan teknik sampling yang sesuai (seperti proportional random sampling). Data tingkat pengetahuan dan frekuensi konsumsi dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur dan Food Frequency Questionnaire (FFQ). Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji statistik Chi-Square. Hasil: (Bagian ini diisi dengan data temuan penelitian Anda, contoh: Sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan label gizi dalam kategori [baik/sedang/kurang] dan frekuensi konsumsi produk olahan kemasan dalam kategori [sering/jarang]. Hasil uji statistik menunjukkan terdapat/tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan tentang label gizi dengan frekuensi konsumsi produk olahan kemasan (p-value = 0,0xx)). Kesimpulan: Terdapat hubungan antara pengetahuan tentang label gizi dengan frekuensi konsumsi produk olahan kemasan pada mahasiswa non-kesehatan Universitas Muhammadiyah Kudus. Diharapkan universitas dapat meningkatkan literasi gizi bagi seluruh mahasiswa tanpa memandang latar belakang program studi.</p> <p><em>Background: High consumption of packaged processed foods among university students potentially increases the risk of long-term health problems. Understanding nutrition label information serves as a tool to monitor daily nutrient intake. However, non-health students often have less exposure to information regarding the importance of reading nutrition labels compared to health-related students. Objective: This study aims to analyze the relationship between knowledge level of nutrition labels and the frequency of consuming packaged processed products among non-health students at Universitas Muhammadiyah Kudus. Methods: This quantitative study used an analytical observational design with a cross-sectional approach. The study population consisted of active non-health students at Universitas Muhammadiyah Kudus. Sampling was conducted using appropriate sampling techniques (such as proportional random sampling). Data on knowledge level and consumption frequency were collected using structured questionnaires and a Food Frequency Questionnaire (FFQ). Data analysis was performed univariately and bivariately using the Chi-Square statistical test. Results: (Fill this section with your actual research findings, e.g., Most respondents had a [good/moderate/poor] level of knowledge regarding nutrition labels and a [frequent/rare] consumption frequency of packaged processed products. Statistical analysis revealed a [significant/insignificant] relationship between knowledge of nutrition labels and consumption frequency of packaged processed products (p-value = 0.0xx)). Conclusion: There is a relationship between knowledge of nutrition labels and the frequency of consuming packaged processed products among non-health students at Universitas Muhammadiyah Kudus. Universities are expected to enhance nutrition literacy for all students regardless of their study program background.</em></p>2026-08-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilanghttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/25654HUBUNGAN INKOMPATIBILITAS GOLONGAN DARAH IBU DAN BAYI DENGAN KEJADIAN HIPERBILIRUBINEMIA PADA BBL DI RS SANTOSA BANDUNG KOPO2026-08-21T13:12:30+00:00Winda Ria Apriliawindariaaprilia2@gmail.comNoor Azizahnoorazizah@umkudus.ac.id Irawati Indrianingrumirawati@umkudus.ac.id<p>Hiperbilirubinemia adalah kondisi meningkatnya kadar bilirubin dalam darah bayi baru lahir yang menyebabkan ikterus (bayi tampak kuning). Salah satu faktor risiko penting adalah inkompatibilitas golongan darah antara ibu dan bayi, terutama pada sistem ABO dan Rhesus (Rh). Hemolisis meningkatkan produksi bilirubin (hasil pemecahan hemoglobin). Bayi dengan inkompatibilitas golongan darah memiliki risiko lebih tinggi mengalami hiperbilirubinemia dibanding bayi tanpa inkompatibilitas. Inkompatibilitas ABO lebih sering ditemukan, tetapi Rh cenderung lebih berat dampaknya. Tidak semua bayi dengan inkompatibilitas mengalami hiperbilirubinemia, tetapi tetap menjadi faktor risiko signifikan. Tujuan umum penelitian ini untuk menganalisis hubungan inkompatibilitas golongan darah ibu dan bayi dengan kejadian ikterus pada BBL . Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional menggunakan data rekam medis bayi. Populasi penelitian adalah seluruh bayi baru lahir yang didiagnosis ikterus dan menjalani pemeriksaan bilirubin serta golongan darah di RS Santosa Bandung Kopo periode Januari – Desember 2025 dengan populasi sebanyak 37 bayi. Pengumpulan data diambil dengan teknik total sampling sesuai kriteria inklusi dan ekslusi. Analisis data meliputi univariat, bivariat dengan chi-square/Fisher exact, serta perhitungan odds ratio/prevalence ratio.</p>2026-08-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilanghttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/24840ASPEK KEUANGAN, LEGALITAS, DAN TATA KELOLA DALAM PENGEMBANGAN HOMECARE RUMAH SAKIT: A SYSTEMATIC LITERATURE REVIEW2026-07-30T08:54:02+00:00Rhany Ramadhanydoctorrhany@gmail.comDewi Purnamawatidewi.purnamawati@umj.ac.id<p>Pengembangan layanan homecare rumah sakit merupakan bentuk perluasan pelayanan kesehatan yang menghadirkan tenaga medis langsung ke rumah pasien guna menjaga kontinuitas asuhan tanpa membebani kapasitas rawat inap. Keberhasilan model ini sangat ditentukan oleh tiga pilar utama, yaitu pengelolaan keuangan, kepatuhan hukum, serta penerapan good governance, yang selama ini masih dikaji secara terpisah dalam literatur. Penelitian ini bertujuan menganalisis dan mensintesis temuan ilmiah terkait ketiga aspek tersebut melalui pendekatan Systematic Literature Review (SLR) berbasis kerangka PRISMA. Penelusuran dilakukan pada basis data Google Scholar, Scopus, ScienceDirect, Garuda, dan SINTA dengan rentang publikasi 2021–2025, menghasilkan 15 artikel yang memenuhi kriteria kelayakan dari total 309 dokumen awal. Hasil sintesis menunjukkan bahwa efisiensi biaya layanan berbasis rumah dapat tercapai tanpa mengorbankan mutu klinis, namun tetap membutuhkan kompetensi manajerial yang memadai dalam penganggaran. Dari sisi legalitas, kepatuhan terhadap regulasi formal terbukti membangun legitimasi dan kepercayaan publik terhadap program. Sementara itu, tata kelola yang efektif memerlukan standar prosedur yang jelas, pengaturan beban kerja realistis, serta kolaborasi lintas profesi yang berkelanjutan. Kajian ini menyimpulkan bahwa ketiga aspek tersebut saling terkait dan tidak dapat dipisahkan dalam mendukung keberlanjutan pengembangan homecare di lingkungan rumah sakit.</p> <p><em>The development of hospital-based homecare services represents an extension of healthcare delivery in which medical personnel visit patients directly at home to maintain continuity of care while easing inpatient capacity burdens. The success of this model largely depends on three interconnected pillars: financial management, legal compliance, and good governance practices, which have generally been examined separately in prior literature. This study aims to analyze and synthesize scientific findings related to these three aspects through a Systematic Literature Review (SLR) approach guided by the PRISMA framework. The search was conducted across Google Scholar, Scopus, ScienceDirect, Garuda, and SINTA databases within the 2021–2025 publication range, resulting in 15 eligible articles selected from an initial pool of 309 documents. The synthesis reveals that cost efficiency in home-based services can be achieved without compromising clinical quality, provided it is supported by adequate managerial competence in budgeting. Regarding legality, adherence to formal regulations proves essential in building program legitimacy and public trust. Meanwhile, effective governance requires clear operational standards, realistic workload arrangements, and sustained interprofessional collaboration. This study concludes that the three aspects are mutually reinforcing and inseparable in supporting the sustainable development of hospital homecare services.</em></p>2026-08-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilanghttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/25652PENGARUH PEMBERIAN AROMATERAPI LAVENDER TERHADAP KECEMASAN DAN INTENSITAS NYERI PERSALINAN KALA I FASE AKTIF PADA IBU BERSALIN2026-08-21T12:48:43+00:00 Fitria Fadhila Achmadfitriafadhila2003@gmail.comFania fanianurul@umkudus.ac.idNasriyahnasriyah@umkudus.ac.id<p>Persalinan merupakan proses fisiologis yang dialami ibu hamil di seluruh dunia. Meskipun menjadi momen yang dinantikan, persalinan sering disertai rasa takut dan cemas, terutama akibat nyeri. Salah satu metode nonfarmakologis untuk mengurangi kecemasan dan nyeri adalah aromaterapi lavender. Aromaterapi ini mengandung linalool dan linalyl yang memiliki efek relaksasi melalui stimulasi sistem limbik sehingga dapat membantu menurunkan kecemasan dan persepsi nyeri. Namun, efektivitasnya masih memerlukan pembuktian ilmiah. Berdasarkan studi pendahuluan di Rumah Sakit Santosa Bandung Kopo, belum ada ibu bersalin yang menggunakan aromaterapi lavender untuk mengatasi kecemasan dan nyeri selama persalinan. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh aromaterapi lavender terhadap tingkat kecemasan dan intensitas nyeri persalinan kala I fase aktif pada ibu bersalin di Rumah Sakit Santosa Bandung Kopo. Penelitian menggunakan desain quasi eksperimen one group pretest-posttest dengan sampel 36 ibu bersalin yang dipilih melalui teknik accidental sampling. Aromaterapi diberikan selama 20 menit. Tingkat kecemasan diukur dengan Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS) dan intensitas nyeri dengan Visual Analog Scale (VAS). Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji wilcoxon pada variabel kecemasan karena data tidak berdistribusi normal dengan nilai p <0,001. Dan uji t berpasangan pada variabel nyeri karena data berdistribusi normal dengan nilai p <0,001 yang menunjukkan terdapat pengaruh aromaterapi lavender terhadap kecemasan dan nyeri persalinan kala I fase aktif pada ibu bersalin di Rumah Sakit Santosa Bandung Kopo tahun 2026.</p>2026-08-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilanghttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/24837STRATEGI MANAJEMEN RUMAH SAKIT DALAM MEMPERKUAT IMPLEMENTASI PROGRAM PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN INFEKSI (PPI): A LITERATURE REVIEW2026-07-30T08:17:13+00:00Odilla Meissy Adyatmaodillameissy01@gmail.comDewi Purnamawatidewi.purnamawati@umj.ac.id<p>Infeksi nosokomial (Healthcare-Associated Infections/HAIs) merupakan salah satu indikator mutu pelayanan dan keselamatan pasien di rumah sakit. Keberhasilan Program Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) dipengaruhi oleh peran manajemen rumah sakit dalam menyusun kebijakan, mengelola sumber daya, serta melakukan monitoring dan evaluasi secara berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan menganalisis strategi manajemen rumah sakit dalam memperkuat implementasi Program PPI berdasarkan hasil penelitian yang telah dipublikasikan. Metode yang digunakan adalah literature review dengan menelaah artikel ilmiah nasional dan internasional yang membahas manajemen rumah sakit dan Program PPI. Hasil kajian menunjukkan bahwa strategi yang berperan dalam keberhasilan implementasi PPI meliputi komitmen kepemimpinan, penerapan fungsi manajemen (POAC), penguatan Komite PPI, peningkatan kompetensi sumber daya manusia, penyediaan sarana dan prasarana, surveilans infeksi, audit kepatuhan, serta penerapan budaya keselamatan pasien.bahwa strategi manajemen rumah sakit memiliki peran penting dalam meningkatkan efektivitas Program PPI, menurunkan angka infeksi nosokomial, serta mendukung peningkatan mutu pelayanan dan keselamatan pasien.</p>2026-08-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilanghttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/25647EFFECTIVENESS OF DEEP BREATHING RELAXATION ON ANXIETY LEVELS PRIOR TO CONTRACEPTIVE IMPLANT INSERTION2026-08-21T10:48:37+00:00Krisnasari Nur Apriyantikrisnasarinurapriyanti@gmail.comAna anazumrotun@umkudus.ac.idIslamiislami@umkudus.ac.id<p>Kecemasan sebelum pemasangan kontrasepsi implan dapat memengaruhi kenyamanan dan kesiapan psikologis calon akseptor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas teknik relaksasi napas dalam terhadap penurunan tingkat kecemasan pada pemasangan KB implan di Puskesmas Cibeunying Kabupaten Bandung tahun 2026. Penelitian kuasi-eksperimental ini menggunakan rancangan pretest-posttest with control group design. Sampel berjumlah 30 akseptor yang dipilih secara total sampling dan dibagi menjadi kelompok intervensi (n=15) serta kelompok kontrol (n=15). Tingkat kecemasan diukur menggunakan skala Hamilton Rating Scale for Anxiety (HARS) sebelum dan sesudah tindakan. Kelompok intervensi diberikan teknik relaksasi napas dalam selama 5 menit sebelum pemasangan, sedangkan kelompok kontrol mendapatkan pelayanan standar. Analisis data menggunakan Uji Wilcoxon Signed Rank dan Uji Mann–Whitney U (a=0,05). Hasil penelitian menunjukkan penurunan tingkat kecemasan pada kelompok intervensi secara signifikan (Z=-3,417; p=0,001). Pada kelompok kontrol, penurunan kecemasan juga signifikan (Z=-2,979; p=0,003). Namun, perbandingan skor posttest menunjukkan perbedaan yang bermakna secara signifikan antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol (U=0,000; Z=-4,695; p=0,000). Teknik relaksasi napas dalam efektif menurunkan tingkat kecemasan sebelum pemasangan KB implan, sehingga dapat dipertimbangkan sebagai intervensi nonfarmakologis mandiri dalam pelayanan kebidanan.</p> <p><em>Anxiety prior to implant contraceptive insertion can affect the physical comfort and psychological readiness of potential acceptors. This study aimed to determine the effectiveness of deep breathing relaxation techniques in reducing anxiety levels before implant insertion at Cibeunying Public Health Center, Bandung Regency, in 2026. This quasi-experimental study employed a pretest-posttest with control group design. A sample of 30 acceptors was selected using total sampling and divided into an intervention group (n=15) and a control group (n=15). Anxiety levels were measured using the Hamilton Rating Scale for Anxiety (HARS) before and after the procedure. The intervention group received a 5-minute deep breathing relaxation technique prior to insertion, whereas the control group received standard care. Data were analyzed using the Wilcoxon Signed Rank Test and Mann–Whitney U Test (a=0.05). The results demonstrated a significant reduction in anxiety levels within the intervention group (Z=-3.417; p=0.001). The control group also showed a significant reduction (Z=-2.979; p=0.003). However, the posttest comparison revealed a statistically significant difference between the intervention and control groups (U=0.000; Z=-4.695; p=0.000). Deep breathing relaxation techniques are effective in reducing anxiety levels before implant insertion and can be considered a non-pharmacological intervention in midwifery services.</em></p> <p> </p>2026-08-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilanghttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/25637PENGARUH PIJAT AKUPRESUR PADA TITIK LI4 DAN SP6 TERHADAP LAMA KALA II2026-08-21T08:59:23+00:00Indi Auliyawatiahzarumi96@gmail.comNor Asiyahnorasiyah@umkudus.ac.idFania Nurul Khoirunnisafanianurul@umkudus.ac.id<p>Lama kala II persalinan merupakan salah satu indikator kemajuan persalinan yang berkaitan dengan keselamatan ibu dan bayi. Pijat akupresur pada titik LI4 (Hegu) dan SP6 (Sanyinjiao) merupakan intervensi komplementer nonfarmakologis yang dapat digunakan untuk mendukung kemajuan persalinan. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pijat akupresur titik LI4 dan SP6 terhadap lama kala II persalinan di Rumah Sakit Santosa Bandung Kopo Tahun 2026. Penelitian menggunakan desain quasi experimental dengan rancangan posttest-only. Sebanyak 50 ibu bersalin normal yang memenuhi kriteria penelitian terdiri atas 25 responden kelompok intervensi yang mendapatkan pijat akupresur LI4 dan SP6 serta 25 responden kelompok pendamping yang mendapatkan teknik relaksasi pernapasan. Data lama kala II diperoleh dari waktu pembukaan lengkap sampai bayi lahir dan dianalisis secara univariat serta bivariat. Uji Shapiro–Wilk menunjukkan data tidak berdistribusi normal pada kedua kelompok (p=0,000), sehingga digunakan uji Mann–Whitney U. Median lama kala II pada kelompok intervensi adalah 7 menit (minimum 5; maksimum 45), sedangkan kelompok pendamping 15 menit (minimum 5; maksimum 87). Hasil Mann–Whitney menunjukkan U=118,000, Z=-3,787, p=0,000. Dengan demikian, terdapat pengaruh pemberian pijat akupresur titik LI4 dan SP6 terhadap lama kala II persalinan. Pijat akupresur dapat dipertimbangkan sebagai salah satu intervensi komplementer nonfarmakologis dalam mendukung kemajuan persalinan normal.</p> <p><em>The duration of the second stage of labor is an important indicator of labor progress and is associated with maternal and neonatal safety. Acupressure at LI4 (Hegu) and SP6 (Sanyinjiao) is a complementary non-pharmacological intervention that may support labor progress. This study aimed to determine the effect of LI4 and SP6 acupressure on the duration of the second stage of labor at Santosa Bandung Kopo Hospital in 2026. A quasi-experimental posttest-only design was used. Fifty women with normal labor who met the study criteria were included, consisting of 25 participants in the intervention group receiving LI4 and SP6 acupressure and 25 participants in the accompanying group receiving breathing relaxation techniques. The duration of the second stage was measured from complete cervical dilatation until birth and analyzed using univariate and bivariate analyses. The Shapiro–Wilk test showed that the data were not normally distributed in both groups (p=0.000); therefore, the Mann–Whitney U test was applied. The median duration of the second stage was 7 minutes (minimum 5; maximum 45) in the intervention group and 15 minutes (minimum 5; maximum 87) in the accompanying group. The Mann–Whitney test yielded U=118.000, Z=-3.787, and p=0.000. Thus, LI4 and SP6 acupressure had a significant effect on the duration of the second stage of labor. Acupressure may be considered a complementary non-pharmacological intervention to support normal labor progress.</em></p>2026-08-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilanghttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/25655PENGARUH INTERVENSI MINDFULNESS TERHADAP KESEHATAN PSIKOLOGIS IBU POST PARTUM SECTIO CAESARIA DI RUANGAN NIFAS SANTOSA HOSPITAL BANDUNG KOPO2026-08-21T13:20:43+00:00Ajeung Ervina Septiani Supriatnaajeung.er@gmail.comUmmiummikulsum@umkudus.ac.idDwi Astutidwiastuti@umkudus.ac.id<p>Masa postpartum merupakan periode enam minggu setelah persalinan yang ditandai dengan pemulihan fisik dan adaptasi psikologis. Ibu pasca persalinan sectio caesarea berisiko mengalami gangguan psikologis akibat nyeri pasca operasi, keterbatasan aktivitas, pemulihan lebih lama, serta adaptasi peran baru. Salah satu intervensi nonfarmakologis untuk meningkatkan kesehatan psikologis ibu adalah mindfulness. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh intervensi mindfulness terhadap kesehatan psikologis ibu postpartum sectio caesarea di Ruang Nifas Santosa Hospital Bandung Kopo. Metode penelitian menggunakan kuantitatif pra-eksperimental (one group pre-test–post-test design). Pengambilan sampel dilakukan secara total sampling sebanyak 60 ibu postpartum sectio caesarea. Kesehatan psikologis diukur dengan instrumen Edinburgh Postnatal Depression Scale (EPDS) sebelum dan sesudah intervensi. Data dianalisis menggunakan uji Shapiro–Wilk dan uji Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil menunjukkan sebelum intervensi, 54 responden (90,0%) berada pada kategori baik, sedangkan sesudah intervensi seluruh responden (100,0%) berada pada kategori baik. Uji Wilcoxon menunjukkan seluruh responden mengalami penurunan skor EPDS (peringkat negatif = 60; peringkat positif = 0; nilai sama = 0) dengan Z = -6,782 dan p = 0,000 (p < 0,05). Hal ini membuktikan bahwa intervensi mindfulness berpengaruh signifikan terhadap kesehatan psikologis ibu postpartum sectio caesarea. Mindfulness dapat diterapkan sebagai intervensi nonfarmakologis dalam pelayanan kebidanan untuk mendukung pemulihan dan kesejahteraan psikologis ibu.</p> <p><em>The postpartum period is a six-week duration following childbirth, characterized by physical recovery and psychological adaptation. Mothers undergoing caesarean section face higher risks of psychological distress due to postoperative pain, restricted activity, prolonged recovery, and new maternal role adjustments. Mindfulness serves as a non-pharmacological intervention to support maternal mental health. This study aims to analyze the effect of mindfulness intervention on the psychological health of postpartum caesarean section mothers in the Postpartum Ward at Santosa Hospital Bandung Kopo. A quantitative approach with a pre-experimental design (one-group pre-test–post-test) was applied. Using total sampling, 60 postpartum caesarean section mothers were selected. Psychological health was measured using the Edinburgh Postnatal Depression Scale (EPDS) before and after the intervention. Data were analyzed using the Shapiro–Wilk and Wilcoxon Signed-Rank tests. Results showed that before the intervention, 54 respondents (90.0%) were in the good psychological health category, which increased to all 60 respondents (100.0%) post-intervention. The Wilcoxon test revealed a reduction in EPDS scores across all respondents (negative ranks = 60; positive ranks = 0; ties = 0) with Z = -6.782 and p = 0.000 (p < 0.05). This confirms that mindfulness significantly improves the psychological health of postpartum caesarean section mothers. Consequently, mindfulness can be integrated as a non-pharmacological midwifery intervention to enhance maternal well-being during the postpartum period.</em></p>2026-08-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilanghttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/24870FAKTOR PENYEBAB DAN STRATEGI MITIGASI OVERCROWDING RUMAH SAKIT PERKOTAAN2026-07-31T08:40:34+00:00Desi Komalasaridesideone05@gmail.comDewi Purnamawatidewi.purnamawati@umj.ac.id<p>Latar Belakang: Overcrowding (kepadatan berlebih) pada rumah sakit perkotaan merupakan persoalan krusial yang berpotensi menurunkan keselamatan pasien dan kualitas pelayanan. Tujuan: Menelaah faktor penentu, konsekuensi, serta strategi penanggulangan overcrowding dengan merujuk pada literatur nasional dan internasional. Metode: Tinjauan pustaka sistematis dengan pendekatan naratif dilakukan melalui PubMed, Google Scholar, dan publikasi resmi Kemenkes RI untuk periode (2018-2026). Hasil: Faktor yang memengaruhi overcrowding mencakup aspek sosial (keterbatasan akses terhadap layanan primer dan rendahnya status ekonomi), lingkungan (urbanisasi dan polusi), serta sistem (pengelolaan kapasitas dan kebijakan boarding). Konsekuensi utamanya berupa kenaikan mortalitas, kesalahan pengobatan, failure to rescue, dan burnout pada tenaga medis. Upaya yang dinilai efektif meliputi optimalisasi SIMRS melalui real-time bed management dan early warning system, penerapan fast-track dan discharge planning, serta penguatan mekanisme rujukan berjenjang. Kesimpulan: Overcrowding mencerminkan gangguan aliran pelayanan secara sistemik, bukan semata-mata keterbatasan kapasitas fisik. Karena itu, diperlukan solusi terpadu yang menyelaraskan teknologi dengan pengelolaan arus pasien.</p> <p><em>Background: Overcrowding in urban hospitals is a critical problem that can compromise patient safety and the quality of care. Objective: To examine the determinants, consequences, and mitigation approaches associated with overcrowding by drawing on national and international literature. Methods: A systematic narrative literature review was conducted using PubMed, Google Scholar, and official publications of the Indonesian Ministry of Health covering the period (2018-2026). Results: The determinants of overcrowding comprise social conditions (restricted access to primary care and low socioeconomic status), environmental pressures (urbanization and pollution), and system-related factors (capacity management and boarding policies). Its principal consequences include higher mortality, medication errors, failure to rescue, and burnout among healthcare personnel. Effective responses involve optimizing hospital information systems through real-time bed management and early warning systems, implementing fast-track and discharge-planning policies, and reinforcing tiered referral pathways. Conclusion: Overcrowding reflects a systemic breakdown in patient flow rather than merely inadequate physical capacity. Integrated measures that align technology with patient-flow management are therefore essential.</em></p>2026-08-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilanghttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/25653FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PREEKLAMPSIA PADA IBU HAMIL DI SANTOSA HOSPITAL BANDUNG KOPO2026-08-21T13:01:40+00:00Monica Niken Nurazizahmonicaniken16@gmail.comIndah Puspitasariguest@oaj.jurnalhst.comIndah Risnawatiguest@oaj.jurnalhst.comAnggun Fitri Handayangianggunfitri@umkudus.ac.id<p>Latar Belakang: Preeklampsia merupakan salah satu komplikasi kehamilan yang menjadi penyebab utama morbiditas dan mortalitas maternal maupun neonatal. Identifikasi faktor risiko sangat penting untuk pencegahan dan penanganan dini.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian preeklampsia pada ibu hamil di Santosa Hospital Bandung Kopo.Metode: Penelitian ini menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional (atau case-control). Pengambilan sampel dilakukan menggunakan teknik purposive sampling dengan jumlah responden sebanyak [Isi Jumlah] ibu hamil. Pengumpulan data dilakukan melalui rekam medis. Analisis data menggunakan uji statistik Chi-Square dan regresi logistik.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara usia ibu (p-value = [Isi]), paritas (p-value = [Isi]), riwayat hipertensi (p-value = [Isi]), dan Indeks Massa Tubuh/IMT (p-value = [Isi]) dengan kejadian preeklampsia. Analisis multivariat menunjukkan bahwa [Faktor Paling Dominan] merupakan faktor yang paling dominan mempengaruhi kejadian preeklampsia (OR = [Isi]).Kesimpulan: Usia, paritas, riwayat hipertensi, dan IMT berpengaruh terhadap kejadian preeklampsia pada ibu hamil di Santosa Hospital Bandung Kopo. Disarankan bagi tenaga kesehatan untuk meningkatkan skrining antenatal care (ANC) secara rutin guna mendeteksi dini faktor risiko preeklampsia.</p> <p><em>Background: Preeclampsia is a pregnancy complication that serves as a major cause of maternal and neonatal morbidity and mortality. Identifying risk factors is crucial for early prevention and management. Objective: This study aims to analyze the factors influencing the incidence of preeclampsia among pregnant women at Santosa Hospital Bandung Kopo.Methods: This study utilized an observational analytic design with a cross-sectional (or case-control) approach. Sampling was conducted using a purposive sampling technique with a total of [Insert Number] pregnant women as respondents. Data were collected from medical records and analyzed using the Chi-Square test and logistic regression. Results: The findings revealed a significant relationship between maternal age (p-value = [Insert]), parity (p-value = [Insert]), history of hypertension (p-value = [Insert]), and Body Mass Index/BMI (p-value = [Insert]) with the incidence of preeclampsia. Multivariate analysis indicated that [Most Dominant Factor] was the most dominant factor influencing preeclampsia (OR = [Insert]). Conclusion: Age, parity, history of hypertension, and BMI significantly affect the occurrence of preeclampsia in pregnant women at Santosa Hospital Bandung Kopo. Healthcare providers are recommended to enhance routine Antenatal Care (ANC) screening for early detection of preeclampsia risk factors. </em></p>2026-08-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilanghttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/24838STRATEGI IMPLEMENTASI ARTIFICIAL INTELLIGENCE (AI) DALAM MENINGKATKAN EFISIENSI MANAJEMEN RUMAH SAKIT: A LITERATURE REVIEW2026-07-30T08:36:24+00:00Dimas Aqiel Baihaqi Prayugodimasaqiel.jbi@gmail.comDewi Purnamawatidewi.purnamawati@umj.ac.id<p>Transformasi digital di sektor kesehatan mendorong rumah sakit mengadopsi Artificial Intelligence (AI) sebagai inovasi untuk meningkatkan efisiensi manajemen melalui optimalisasi proses operasional, pengambilan keputusan, efisiensi administrasi, serta peningkatan kualitas pelayanan. Namun, implementasi AI masih menghadapi berbagai tantangan, seperti keterbatasan infrastruktur teknologi, kesiapan sumber daya manusia, tata kelola data, serta aspek etika dan regulasi. Literature review ini bertujuan untuk menganalisis perkembangan penelitian mengenai strategi implementasi AI dalam manajemen rumah sakit, mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi keberhasilan implementasi, serta mengevaluasi dampaknya terhadap efisiensi operasional dan tata kelola rumah sakit. Penelitian ini menggunakan metode Narrative Literature Review dengan menelaah berbagai artikel ilmiah yang relevan mengenai implementasi Artificial Intelligence (AI) dalam manajemen rumah sakit yang dipublikasikan pada periode 2021–2026. Hasil kajian menunjukkan bahwa implementasi AI mampu meningkatkan efisiensi manajemen melalui otomatisasi proses administrasi, optimalisasi penjadwalan layanan, sistem pendukung keputusan, prediksi okupansi tempat tidur, serta pengelolaan data yang lebih akurat. Keberhasilan implementasi dipengaruhi oleh kesiapan organisasi, dukungan kepemimpinan, kompetensi sumber daya manusia, kualitas infrastruktur teknologi informasi, interoperabilitas sistem, dan tata kelola data, sedangkan keterbatasan investasi, resistensi terhadap perubahan, serta keamanan data menjadi hambatan utama. Dengan demikian, AI berpotensi menjadi strategi transformasi digital yang efektif dalam meningkatkan efisiensi manajemen rumah sakit apabila didukung oleh tata kelola organisasi, infrastruktur, kebijakan, dan pengembangan kompetensi sumber daya manusia yang memadai.</p> <p><em>Digital transformation in the healthcare sector has encouraged hospitals to adopt Artificial Intelligence (AI) as an innovative approach to improve management efficiency through the optimization of operational processes, decision-making, administrative efficiency, and service quality. However, the implementation of AI in hospitals continues to face several challenges, including limited technological infrastructure, inadequate human resource readiness, data governance issues, as well as ethical and regulatory concerns. This literature review aims to analyze recent developments in research on AI implementation strategies in hospital management, identify the factors influencing successful implementation, and evaluate its impact on operational efficiency and hospital governance. This study employed a Narrative Literature Review approach by examining relevant scientific articles on the implementation of Artificial Intelligence in hospital management published between 2021 and 2026. The findings indicate that AI implementation contributes significantly to improving hospital management efficiency through the automation of administrative processes, optimization of service scheduling, decision support systems, hospital bed occupancy prediction, and more accurate data management. The success of AI implementation is influenced by organizational readiness, leadership support, human resource competencies, information technology infrastructure, system interoperability, and effective data governance, while limited investment, resistance to organizational change, and data security issues remain major barriers. Therefore, AI has substantial potential as a digital transformation strategy to enhance hospital management efficiency, provided that its implementation is supported by strong organizational governance, adequate technological infrastructure, supportive policies, and continuous human resource capacity development.</em></p>2026-08-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilang