https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/issue/feedJurnal Kesehatan Unggul Gemilang2026-10-31T05:55:40+00:00Open Journal Systemshttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/28635DIAGNOSTIC CHALLENGES OF ENDOMETRIAL CARCINOMA MIMICKING PROLAPSED LEIOMYOMA IN A VIRGIN PATIENT: A CASE REPORT2026-10-17T13:23:05+00:00Noni Gusmawannonigusmawan.dr@gmail.comRusnaidirusnaidi@usk.ac.id<p><em>Introduction: Endometrial carcinoma predominantly affects postmenopausal women, yet up to 25% of cases occur in reproductive-aged individuals. Diagnostic challenges arise when patients maintain virginity status, limiting internal gynecological examination. Prolapsed or pedunculated endometrial masses may mimic benign leiomyoma, potentially leading to delayed diagnosis and suboptimal management.</em> <em>Case Presentation: We present a case of a 36-year-old virgin woman with chronic heavy menstrual bleeding, recurrent anemia requiring multiple transfusions, and ultrasonographic findings suggestive of submucosal leiomyoma. Internal gynecological examination was deferred due to virginity considerations. Despite medical management including GnRH agonist therapy, symptoms persisted. Laparotomy revealed a friable mass expelling porridge-like material from the uterine cavity. Histopathological examination confirmed well-differentiated endometrioid adenocarcinoma.</em> <em>Discussion: This case illustrates the diagnostic dilemma when endometrial carcinoma mimics benign leiomyoma in young virgin patients. Sociocultural factors limiting invasive diagnostic procedures, coupled with atypical clinical presentation, contributed to delayed definitive diagnosis. The failure of GnRH agonist therapy and unique intraoperative findings provided critical clues distinguishing malignancy from benign disease. Alternative diagnostic modalities including MRI and transrectal ultrasound should be considered earlier in such cases.</em> <em>Conclusion: Clinicians must maintain high suspicion for malignancy in young women with refractory abnormal uterine bleeding, even when virginity status limits diagnostic options. Adoption of non-invasive or alternative imaging modalities and comprehensive counselling regarding diagnostic procedures are essential to avoid delayed diagnosis of endometrial malignancies</em><em>.</em></p>2026-10-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilanghttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/28046HUBUNGAN PERSEPSI TEMAN SEBAYA TERHADAP TINDAKAN BULLYING PADA SISWA SMAN 1 BANJARSARI2026-10-02T05:14:26+00:00Rahmat Hidayatrahmathidatat43@gmail.comDiny Nur Fauziahguest@jurnalhst.com<p>Bullying merupakan perilaku agresif yang dilakukan secara berulang oleh seseorang atau kelompok terhadap individu lain yang dianggap lebih lemah, baik secara fisik, verbal, maupun psikologis. Perilaku ini sering terjadi di lingkungan sekolah dan dapat menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan mental, hubungan sosial, serta prestasi belajar siswa. Salah satu faktor yang dapat memengaruhi terjadinya bullying adalah persepsi teman sebaya. Teman sebaya memiliki peran penting dalam kehidupan remaja karena dapat memengaruhi sikap, perilaku, dan cara berpikir siswa. Persepsi yang kurang baik dari teman sebaya dapat mendorong munculnya perilaku bullying. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara persepsi teman sebaya dengan tindakan bullying pada siswa SMAN 1 Banjarsari Kabupaten Ciamis, serta menggambarkan persepsi teman sebaya dan tingkat tindakan bullying pada siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara persepsi teman sebaya dengan tindakan bullying pada siswa SMAN 1 Banjarsari Kabupaten Ciamis. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas XI SMAN 1 Banjarsari, dengan jumlah sampel sebanyak 80 siswa yang dipilih sesuai kriteria inklusi. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner persepsi teman sebaya dan kuesioner tindakan bullying yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Data dianalisis menggunakan analisis univariat dan bivariat dengan u ji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara persepsi teman sebaya dengan tindakan bullying pada siswa SMAN 1 Banjarsari. Siswa dengan persepsi teman sebaya yang kurang baik cenderung memiliki tingkat bullying yang lebih tinggi. Hasil penelitian mengindikasikan bahwa persepsi teman sebaya berperan dalam memengaruhi tindakan bullying pada siswa. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk meningkatkan persepsi positif antar siswa melalui pendidikan, bimbingan konseling, dan program pencegahan bullying di sekolah.</p> <p><em>Bullying is aggressive behavior carried out repeatedly by an individual or group toward other individuals who are considered weaker, whether physically, verbally, or psychologically. This behavior often occurs in school environments and can have negative impacts on students’ mental health, social relationships, and academic achievement. One factor that can influence the occurrence of bullying is peer perception. Peers play an important role in adolescents’ lives because they can influence students’ attitudes, behaviors, and ways of thinking. Poor peer perceptions can encourage the emergence of bullying behavior. This study aimed to determine the relationship between peer perception and bullying behavior among students of SMAN 1 Banjarsari, Ciamis Regency, as well as to describe peer perception and the level of bullying behavior among students. This study used a quantitative method with a cross-sectional approach. The research population consisted of all eleventh-grade students of SMAN 1 Banjarsari, with a total sample of 80 students selected based on inclusion criteria. Data were collected using peer perception questionnaires and bullying behavior questionnaires that had been tested for validity and reliability. Data were analyzed using univariate and bivariate analysis with the chi-square test. The results showed a significant relationship between peer perception and bullying behavior among students of SMAN 1 Banjarsari. Students with poor peer perceptions tended to have higher levels of bullying behavior. The conclusion of this study is that peer perception is related to bullying behavior among students. Therefore, efforts are needed to improve positive peer perceptions through education, counseling guidance, and school-based bullying prevention programs.</em></p>2026-10-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilanghttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/28535HUBUNGAN TINGKAT SELF-STIGMA DENGAN KEPATUHAN PENGOBATAN PADA PENDERITA DM TIPE 2 DI PUSKESMAS BAGO2026-10-15T04:21:27+00:00Maria Ulfaulfamrlf@gmail.comDodik Hartonoguest@jurnalhst.comAlwin Widhiyantoguest@jurnalhst.com<p>Diabetes Melitus (DM) tipe 2 merupakan penyakit kronis yang memerlukan kepatuhan pengobatan untuk mengendalikan kadar glukosa darah dan mencegah komplikasi. Salah satu faktor yang diduga memengaruhi kepatuhan pengobatan adalah self-stigma. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat self-stigma dengan kepatuhan pengobatan pada penderita DM tipe 2. Penelitian ini menggunakan desain analitik korelasional dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian berjumlah 50 penderita DM tipe 2 dengan sampel 44 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Alat ukur variabel self-stigma menggunakan Diabetes Self-Stigma Scale (DSSS), sedangkan alat ukur variabel kepatuhan pengobatan menggunakan Morisky Medication Adherence Scale-8 (MMAS-8). Analisis data menggunakan uji Spearman's rho. Penelitian ini telah memperoleh layak etik dari Universitas Hafshawaty Zainul Hasan Nomor 453/KEPK-UNHASA/III/2026. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden memiliki tingkat self-stigma tinggi sebanyak 17 responden (38,6%) dan kepatuhan pengobatan rendah sebanyak 27 responden (61,4%). Hasil uji Spearman's rho diperoleh nilai p = 0,059 dengan koefisien korelasi r = -0,287, sehingga tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat self-stigma dengan kepatuhan pengobatan pada penderita DM tipe 2. Tidak ditemukannya hubungan yang signifikan menunjukkan bahwa kepatuhan pengobatan pada penderita DM tipe 2 tidak hanya dipengaruhi oleh self-stigma, tetapi juga diduga dipengaruhi oleh faktor lain seperti tingkat pengetahuan, dukungan keluarga, motivasi, dan akses terhadap pelayanan kesehatan.</p> <p><em>Type 2 Diabetes Mellitus (T2DM) is a chronic disease that requires medication adherence to control blood glucose levels and prevent complications. One of the factors suspected to influence medication adherence is self-stigma. This study aimed to determine the correlation between self-stigma levels and medication adherence among patients with Type 2 Diabetes Mellitus. This study employed a correlational analytic design with a cross-sectional approach. The study population consisted of 50 patients with Type 2 Diabetes Mellitus, with a sample of 44 respondents selected using purposive sampling. Self-stigma was measured using the Diabetes Self-Stigma Scale (DSSS), while medication adherence was assessed using the Morisky Medication Adherence Scale-8 (MMAS-8). Data were analyzed using Spearman's rho test. This study received ethical approval from Hafshawaty Zainul Hasan University with Ethical Clearance Number 453/KEPK-UNHASA/III/2026. The results showed that most respondents had a high level of self-stigma (17 respondents, 38.6%), while the majority had low medication adherence (27 respondents, 61.4%). The Spearman's rho test yielded a p-value of 0.059 with a correlation coefficient of r = -0.287, indicating that there was no statistically significant correlation between self-stigma levels and medication adherence among patients with Type 2 Diabetes Mellitus. The absence of a significant correlation suggests that medication adherence among patients with Type 2 Diabetes Mellitus is not solely influenced by self-stigma. Other factors, such as the level of knowledge, family support, motivation, and access to healthcare services, may also contribute to medication adherence.</em></p>2026-10-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilanghttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/28531PENGARUH EPSOM SALT FOOT SOAK THERAPY TERHADAP PENURUNAN TEKANAN DARAH PADA PENDERITA HIPERTENSI STUDI: DI DESA BANYUANYAR KIDUL2026-10-15T02:42:25+00:00Eni Mala Kamaliamalakamalia11504@gmail.comSunantoguest@jurnalhst.comIin Aini Isnawatiguest@jurnalhst.com<p>Hipertensi merupakan masalah kesehatan yang dapat menyebabkan komplikasi serius apabila tidak terkontrol. Salah satu intervensi nonfarmakologis yang dapat membantu menurunkan tekanan darah adalah Epsom salt Foot soak therapy, yaitu terapi rendam kaki menggunakan air hangat yang dicampur garam Epsom. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh Epsom salt Foot soak therapy terhadap penurunan tekanan darah pada penderita hipertensi di Desa Banyuanyar Kidul. Penelitian ini menggunakan desain pra eksperimental dengan pendekatan one group pretest posttest. Populasi berjumlah 29 penderita hipertensi dengan teknik total sampling. Intervensi dilakukan selama dua minggu dengan frekuensi dua kali seminggu. Tekanan darah diukur sebelum dan sesudah pemberian terapi menggunakan sphygmomanometer digital, kemudian dianalisis menggunakan uji Shapiro Wilk dan Paired Sample T Test. Penelitian telah memperoleh persetujuan etik Nomor 473/KEPK-UNHASA/VI/2026. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata tekanan darah sistolik sebelum terapi sebesar 156,97 mmHg dan diastolik 98,14 mmHg. Setelah terapi, rata-rata tekanan darah sistolik menurun menjadi 139,93 mmHg dan diastolik menjadi 90,97 mmHg. Hasil Paired Sample T Test menunjukkan nilai p=0,000 (p<0,05), sehingga terdapat pengaruh Epsom salt Foot soak therapy terhadap penurunan tekanan darah pada penderita hipertensi. Tingginya tekanan darah sebelum intervensi menunjukkan adanya faktor risiko yang belum terkendali. Penurunan tekanan darah setelah terapi terjadi akibat efek vasodilatasi dari air hangat yang bersifat sementara, dan efek relaksasi otot polos pembuluh darah oleh ion magnesium dari garam Epsom yang terserap secara transdermal, sehingga efeknya lebih terarah secara fisiologis dibandingkan rendam kaki dengan air hangat biasa tanpa kandungan magnesium. Terapi ini dapat menjadi alternatif nonfarmakologis yang aman, murah, dan mudah diterapkan untuk membantu mengontrol tekanan darah.</p> <p><em>Hypertension is a health problem that can lead to serious complications when left uncontrolled. One nonpharmacological intervention that can help lower blood pressure is Epsom salt Foot soak therapy, a foot bath therapy using warm water mixed with Epsom salt. This study aimed to analyze the effect of Epsom salt Foot soak therapy on blood pressure reduction in hypertensive patients in Banyuanyar Kidul Village.</em> <em>This study used a pre-experimental design with a one group pretest posttest approach. The population consisted of 29 hypertensive patients, selected through total sampling. The intervention was carried out for two weeks with a frequency of twice a week. Blood pressure was measured before and after the therapy using a digital sphygmomanometer, then analyzed using the Shapiro Wilk test and Paired Sample T Test. This study obtained ethical approval Number 473/KEPK-UNHASA/VI/2026.</em> <em>The results showed that the mean systolic blood pressure before therapy was 156.97 mmHg and the mean diastolic blood pressure was 98.14 mmHg. After therapy, the mean systolic blood pressure decreased to 139.93 mmHg and the mean diastolic blood pressure decreased to 90.97 mmHg. The Paired Sample T Test showed a p value of 0.000 (p < 0.05), indicating that Epsom salt Foot soak therapy has an effect on blood pressure reduction in hypertensive patients.</em> <em>The high blood pressure before the intervention indicates the presence of risk factors that had not yet been controlled. The decrease in blood pressure after therapy occurred due to the temporary vasodilation effect of warm water, and the relaxing effect of magnesium ions from Epsom salt on vascular smooth muscle after transdermal absorption, making the effect more physiologically targeted compared to a plain warm water foot soak without magnesium content. This therapy can serve as a safe, inexpensive, and easily applicable nonpharmacological alternative to help control blood pressure.</em></p>2026-10-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilanghttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/28349HUBUNGAN KEBIASAAN KONSUMSI TINGGI GULA DAN STRES DENGAN SIKLUS MENTRUASI PADA REMAJA PUTRI di MADRASAH ALIYAH KETERAMPILAN AL IRSYAD GAJAH2026-10-09T06:34:33+00:00Ahmad Busro Latifbusroahmad797@gmail.comEdy Soesantoedysoesanto@umkudus.ac.idSri Karyatisrikaryati@umkudus.ac.id<p>Gangguan siklus menstruasi pada remaja putri merupakan masalah kesehatan reproduksi yang sering dijumpai dan dapat dipengaruhi oleh gaya hidup serta kondisi psikologis. Kebiasaan konsumsi makanan atau minuman tinggi gula serta tingkat stres yang tinggi diduga memiliki keterkaitan dengan ketidakseimbangan hormon yang mengatur siklus menstruasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kebiasaan konsumsi tinggi gula dan tingkat stres dengan siklus menstruasi pada remaja putri di Madrasah Aliyah Keterampilan Al Irsyad Gajah. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain korelasional dan pendekatan cross-sectional. Data konsumsi tinggi gula diperoleh menggunakan kuesioner frekuensi makan (Food Frequency Questionnaire), tingkat stres diukur menggunakan instrumen kuesioner stres yang terstandar, dan data siklus menstruasi diperoleh melalui pencatatan riwayat menstruasi responden. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji statistik yang sesuai. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai besarnya pengaruh konsumsi gula dan stres terhadap kesehatan reproduksi remaja, serta menjadi dasar edukasi pola hidup sehat di lingkungan sekolah.</p> <p><em>Menstrual cycle disorders among adolescent girls are a common reproductive health issue influenced by lifestyle and psychological conditions. High sugar consumption habits and elevated stress levels are suspected to be linked to hormonal imbalances that regulate the menstrual cycle. This study aims to analyze the relationship between high sugar consumption habits and stress levels with the menstrual cycle among adolescent girls at Madrasah Aliyah Keterampilan Al Irsyad Gajah. A quantitative research design with a correlational cross-sectional approach was employed. Data on high sugar intake were collected using a Food Frequency Questionnaire (FFQ), stress levels were measured using a standardized stress assessment instrument, and menstrual cycle data were gathered through self-reported menstrual history records. Data analysis was conducted using univariate and bivariate statistical tests. The findings are expected to provide insights into the impact of sugar intake and stress on adolescent reproductive health, serving as a foundation for promoting healthy lifestyle education within school environments.</em></p>2026-10-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilanghttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/28292STUDI KUALITATIF TENTANG PERILAKU MEROKOK STAF TERHADAP PENERAPAN KEBIJAKAN KAWASAN TANPA ROKOK (KTR) DI PDAM TIRTA BULIAN KOTA TEBING TINGGI2026-10-08T06:07:10+00:00Dhea Zalsa PrayokoDHEAZALZAPRAYOKO@gmail.con Anny Rosiana Masithohguest@jurnalhst.com<p>Perilaku merokok di tempat kerja masih menjadi tantangan dalam penerapan Kebijakan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di PDAM Tirta Bulian Kota Tebing Tinggi. Meskipun kebijakan KTR telah diterapkan, masih ditemukan staf yang merokok di lingkungan kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui secara mendalam perilaku merokok staf terhadap penerapan kebijakan KTR di PDAM Tirta Bulian Kota Tebing Tinggi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan fenomenologi. Informan dipilih secara purposive, terdiri dari kasubag, staf perokok, staf tidak merokok, Direktur, dan Satuan Pengawas Internal (SPI). Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar staf mengetahui dan mendukung penerapan KTR karena manfaatnya bagi kesehatan dan kenyamanan lingkungan kerja. Namun, kepatuhan belum optimal karena dipengaruhi kebiasaan merokok, pengaruh lingkungan kerja, belum tersedianya area khusus merokok, serta pengawasan dan penerapan sanksi yang belum optimal. Sebagian staf telah mengubah perilaku dengan merokok di luar ruangan dan mengurangi frekuensi merokok, tetapi pelanggaran masih ditemukan ketika pengawasan tidak konsisten. Penerapan KTR perlu diperkuat melalui sosialisasi, pengawasan berkelanjutan, penyediaan sarana pendukung, dan penegakan aturan secara konsisten.</p> <p><em>Smoking behavior in the workplace remains a challenge in the implementation of the Smoke-Free Area (SFA) Policy at PDAM Tirta Bulian, Tebing Tinggi City. Although the SFA Policy has been implemented, some staff members are still found smoking in the workplace. This study aimed to explore staff smoking behavior toward the implementation of the SFA Policy at PDAM Tirta Bulian, Tebing Tinggi City. This study used a descriptive qualitative method with a phenomenological approach. Informants were selected purposively and consisted of Subdivision Head, smoking staff, non-smoking staff, the Director, and the Internal Supervisory Unit (SPI). Data were collected through in-depth interviews, observation, and documentation. The results showed that most staff were aware of and supported the implementation of the SFA Policy because of its benefits for health and workplace comfort. However, compliance was not optimal due to smoking habits, workplace environmental influences, the absence of a designated smoking area, and suboptimal supervision and enforcement of sanctions. Some staff had changed their behavior by smoking outdoors and reducing smoking frequency, but violations were still found when supervision was inconsistent. The implementation of the SFA Policy needs to be strengthened through socialization, continuous supervision, supporting facilities, and consistent enforcement of regulations.</em></p>2026-10-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilanghttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/28634CHALLENGES IN DISTINGUISHING CERVICAL CANCER FROM ENDOMETRIAL CANCER: AN ACADEMIC HOSPITAL CASE REPORT2026-10-17T13:05:07+00:00Pocut Adillaulfamrlf@gmail.comMunizarmunizar.nb@gmail.com<p>Latar belakang: Karsinoma serviks dan karsinoma endometrium seringkali memberikan temuan klinis dan morfologi yang tumpang tindih, sehingga penentuan asal primer tumor sering menghadapi tantangan diagnostik. Kesalahan klasifikasi dapat mempengaruhi staging, pilihan terapi, dan prognosis. Pemeriksaan imunohistokimia menjadi pilihan dalam menentukan diagnosis yang tepat. Kasus: Dilaporkan kasus seorang wanita berusia 47 tahun dengan riwayat perdarahan pervaginam persisten selama enam bulan yang memburuk dalam satu bulan terakhir. Pemeriksaan awal dan pencitraan menimbulkan kecurigaan karsinoma serviks, namun pemeriksaan ultrasonografi menunjukkan massa yang mengisi kavum uteri dengan invasi miometrium lebih dari lima puluh persen dan perluasan ke serviks. Pasien menjalani laparotomi eksplorasi dan debulking tumor; intraoperasi terdapat keterlibatan rektosigmoid sehingga dilakukan reseksi usus dan anastomosis. Pemeriksaan histopatologi menunjukkan pola asiner, tubular, solid, dan trabekular dengan komponen skuamosa sehingga sesuai dengan diagnosis karsinoma adenoskuamosa. Pemeriksaan imunohistokimia menunjukkan ekspresi vimentin positif dan p16 negatif, sehingga menetapkan asal primer tumor dari korpus uteri. Ovarium bilateral menunjukkan serous cystadenoma tanpa bukti metastasis. Diagnosis akhir adalah karsinoma endometrium tipe adenoskuamosa stadium IVA. Kondisi pascaoperasi stabil dan pasien direncanakan untuk evaluasi lebih lanjut serta perencanaan terapi adjuvan multidisipliner. Kesimpulan: Pendekatan multidisipliner yang mengintegrasikan temuan klinis, pencitraan, temuan intraoperatif, histopatologi, dan panel imunohistokimia untuk menentukan asal primer nekrosis uterovaginal. Pemeriksaan imunohistokimia khususnya kombinasi penanda vimentin dan p16 memberikan kontribusi diagnostik penting dalam membedakan karsinoma endometrium dari karsinoma serviks. Pemeriksaan molekuler tambahan dan stratifikasi risiko menurut FIGO direkomendasikan untuk menentukan modalitas adjuvan yang tepat.</p>2026-10-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilanghttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/28534PENGARUH TEKNIK ECOPRINT TERHADAP MOTORIK KASAR ANAK USIA 5-6 TAHUN DI TK NEGERI PEMBINA KEC.SUMBERASIH KAB.PROBOLINGGO2026-10-15T03:43:55+00:00Nely Dwi Agustinnelidwi188@gmail.comRizka Yunitaguest@jurnalhst.comWardatul Washilahguest@jurnalhst.com<p>Prasekolah merupakan periode penting dalam tumbuh kembang. Motorik kasar adalah kemampuan gerak yang melibatkan otot-otot besar. Ecoprint adalah mencetak daun diatas kain. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh teknik ecoprint terhadap motorik kasar anak usia 5–6 tahun di TK Negeri Pembina Sumberasih Probolinggo. Penelitian ini menggunakan pra-eksperimental dengan desain one group pretest-posttest. Populasi penelitian seluruh anak usia 5–6 tahun yang motorik kasarnya belum berkembang dan mulai berkembang sebanyak 40 respoden. Teknik sampling menggunkan total sampling dengan sampel seluruh anak usia 5–6 tahun yang motorik kasarnya belum berkembang dan mulai berkembang sebanyak 40 respoden. Instrumen yang digunakan lembar observasi motorik kasar dan dikumpulkan melalui proses editing,coding,scoring, dan tabulating, kemudian dianalisis menggunakan Uji Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil penelitian menunjukkan sebelum diberikan ecoprint 40 responden (100%)tergolong mulai berkembang. Setelah diberikan ecoprint, 3 responden (7,5%)tergolong berkembang sesuai harapan dan 37 responden (92,5%)tergolong berkembang sangat baik. Hasil uji statistik menunjukkan nilai p-value =0,000 (α<0,05)sehingga ada pengaruh teknik ecoprint terhadap motorik kasar anak usia 5–6 tahun. Ecoprint dengan menjiplak tumbuhan diatas kain dengan palu lalu menjemur mampu merangsang sistem saraf motorik, proprioseptif, dan vestibular yang berperan dalam koordinasi gerak,keseimbangan,kontrol postur, serta penguatan otot-otot besar sehingga mendukung motorik kasar anak.</p> <p><em>Preschool is a crucial period for growth and development. Gross motor skills involve large muscle movements. Ecoprinting involves printing leaves onto fabric. This study aimed to determine the effect of the ecoprinting technique on the gross motor skills of 5–6-year-old children at the Sumberasih State Kindergarten in Probolinggo. This study used a pre-experimental design with a one-group pretest-posttest. The study population was all children aged 5–6 years whose gross motor skills have not yet developed and are starting to develop, totaling 40 respondents. The sampling technique used total sampling with a sample of all children aged 5–6 years whose gross motor skills have not yet developed and are starting to develop, totaling 40 respondents. The instrument used was a gross motor observation sheet and was collected through a process of editing,coding,scoring,and tabulating,then analyzed using the Wilcoxon Signed Rank Test. The results of the study showed that before being given ecoprint, 40 respondents (100%) were classified as starting to develop. After being given ecoprint, 3respondents (7.5%) were classified as developing as expected and 37 respondents (92.5%)were classified as developing very well. The results of the statistical test showed a p-value=0.000 (α <0.05)so there is an effect of the ecoprint technique on the gross motor skills of children aged 5–6 years. Ecoprinting, which involves tracing plants onto fabric with a hammer and then drying them in the sun,stimulates the motor,proprioceptive,and vestibular nervous systems,which play a role in movement coordination,balance,postural control,and strengthening large muscles,thus supporting children's gross motor skills.</em></p>2026-10-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilanghttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/28402ANALISIS GAYA HIDUP SEDENTARI TERHADAP POLA MAKAN DAN STATUS GIZI REMAJA DI ERA DIGITAL DI SMA COKROAMINOTO TAMALANREA MAKASSAR TAHUN 20252026-10-10T03:26:05+00:00Nurfhianurfhiaega8@gmail.comRina Silvana Jamalrinasilvanajamal@gmail.comRusdi Razakrazakrusdi@gmail.com<p>Kemajuan teknologi digital telah memberikan kemudahan dalam kehidupan remaja, tetapi penggunaan perangkat elektronik yang berlebihan juga berkontribusi terhadap meningkatnya gaya hidup sedentari, rendahnya aktivitas fisik, serta perubahan pola makan. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi status gizi remaja, baik berupa gizi kurang maupun gizi lebih dan obesitas, meskipun hubungan antara gaya hidup sedentari dan status gizi dapat dipengaruhi pula oleh berbagai faktor lain, seperti pola konsumsi makanan, aktivitas fisik, genetik, dan kondisi sosial ekonomi. Tujuan Penelitian : Penelitian ini bertujuan Menganalisis Gaya Hidup Sedentari Terhadap Pola Makan Dan Status Gizi Remaja Di Era Digital Di Sma Cokroaminoto Tamalanrea Makassar Tahun 2025. Metode Penelitian : Penelitian menggunakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan deskriptif analitik dan observasional. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan uji chi-square. Hasil Penelitian : Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara gaya hidup sedentari dengan pola makan (p = 0,220), tidak terdapat hubungan yang signifikan antara gaya hidup sedentari dengan status gizi pada siswa (p = 0,989). Kesimpulan : Gaya Hidup Sedentari Terhadap Pola Makan Dan Status Gizi Remaja tidak terdapat hubungan yang signifikan.</p> <p><em>Advances in digital technology have provided convenience in adolescents’ daily lives; however, excessive use of electronic devices also contributes to an increasingly sedentary lifestyle, reduced physical activity, and changes in dietary patterns. These conditions may affect adolescents’ nutritional status, including undernutrition, overweight, and obesity, although the relationship between sedentary lifestyle and nutritional status may also be influenced by various other factors, such as dietary intake, physical activity, genetics, and socioeconomic conditions. Objective: This study aimed to analyze the relationship between sedentary lifestyle, dietary patterns, and nutritional status among adolescents in the digital era at SMA Cokroaminoto Tamalanrea Makassar in 2025. Methods: This study employed a quantitative research design with a descriptive-analytical and observational approach. Data were collected using questionnaires and analyzed using the chi-square test. Results: There was no significant relationship between sedentary lifestyle and dietary patterns (p = 0.220). There was also no significant relationship between sedentary lifestyle and students’ nutritional status (p = 0.989). Conclusion: There was no significant relationship between sedentary lifestyle, dietary patterns, and nutritional status among adolescents.</em></p>2026-10-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilanghttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/28340HUBUNGAN BEBAN KERJA FISIK DENGAN HIPERTENSI PADA BURUH TANI DI DESA BRAKAS KABUPATEN DEMAK2026-10-09T05:40:37+00:00Adelia Salsabilaadeliasalsabila82@gmail.comDewi Hartinahdewihartinah@umkudus.ac.idRizka Himawanrizkahimawan@umkudus.ac.id<p>Hipertensi merupakan salah satu masalah kesehatan global yang dapat dipicu oleh berbagai faktor, termasuk aktivitas dan beban kerja fisik yang berat. Buruh tani di wilayah pedesaan sering kali terpapar aktivitas fisik dengan intensitas tinggi, durasi kerja yang panjang, serta paparan lingkungan yang dapat meningkatkan risiko peningkatan tekanan darah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara beban kerja fisik dengan kejadian hipertensi pada buruh tani di Desa Brakas, Kabupaten Demak. Penelitian ini menggunakan desain korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian mencakup seluruh buruh tani di Desa Brakas, dengan teknik pengambilan sampel yang disesuaikan untuk memperoleh responden yang mewakili. Data beban kerja fisik diukur menggunakan variabel aktivitas dan denyut nadi kerja, sedangkan tekanan darah diukur menggunakan tensimeter. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji statistik yang sesuai. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai tingkat risiko beban kerja terhadap tekanan darah serta menjadi dasar penyusunan intervensi kesehatan kerja yang lebih adaptif bagi masyarakat petani di pedesaan.</p> <p><em>Hypertension is a global health issue that can be triggered by various factors, including strenuous physical workload. Agricultural laborers in rural areas are frequently exposed to high-intensity physical activities, long working hours, and environmental conditions that may increase the risk of elevated blood pressure. This study aims to analyze the relationship between physical workload and the incidence of hypertension among agricultural laborers in Brakas Village, Demak Regency. A correlational research design with a cross-sectional approach was employed in this study. The study population comprised agricultural laborers in Brakas Village, with sampling techniques applied to obtain a representative group of respondents. Physical workload data were measured through activity variables and working heart rate, while blood pressure was measured using a sphygmomanometer. Data analysis was conducted using univariate and bivariate statistical tests. The findings are expected to provide insights into the risk level of physical workload on blood pressure and serve as a foundation for developing more adaptive occupational health interventions for rural farming communities.</em></p>2026-10-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilang