https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/issue/feedJurnal Kesehatan Unggul Gemilang2026-07-30T19:18:02+00:00Open Journal Systemshttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/23942HUBUNGAN AKTIVITAS FISIK DENGAN KEJADIAN HIPERTENSI PADA LANSIA: LITERATURE REVIEW2026-07-06T02:49:50+00:00Rozaq Dwi Albiyonarozaqalbiyona@gmail.comSalma Kholifatul Abidahinisayasalma@gmail.com<p>Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang paling banyak dialami oleh lansia dan menjadi penyebab utama meningkatnya risiko penyakit kardiovaskular, stroke, serta gagal ginjal. Salah satu faktor risiko yang dapat dimodifikasi adalah aktivitas fisik. Lansia dengan aktivitas fisik yang rendah cenderung memiliki risiko lebih tinggi mengalami hipertensi dibandingkan lansia yang melakukan aktivitas fisik secara teratur. Oleh karena itu, diperlukan kajian ilmiah untuk mengetahui hubungan aktivitas fisik dengan kejadian hipertensi pada lansia berdasarkan hasil penelitian yang telah dipublikasikan.</p> <p><em>Hypertension is one of the most common non-communicable diseases among older adults and is a major cause of increased risk for cardiovascular disease, stroke, and kidney failure. One of the modifiable risk factors is physical activity. Older adults with low levels of physical activity tend to have a higher risk of developing hypertension compared to those who engage in regular physical activity. Therefore, a scientific review is needed to examine the relationship between physical activity and the incidence of hypertension among older adults based on findings from published studies.</em></p>2026-07-30T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilanghttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/23731PENYULUHAN KESEHATAN SKABIES SEBAGAI UPAYA PENCEGAHAN PENYAKIT MENULAR KULIT2026-06-30T06:29:44+00:00Riska Ratnawatiriskaratnawati78@gmail.comLuluk Itsna Mukharomilulukitsna2@gmail.comMarsya Aisyah Febriliamarsyafebrilia349@gmail.comMarsya Aisyah Febriliamarsyafebrilia349@gmail.comMukarromatun Ni’mahmnmhhh22@gmail.comNabella Tintan Kusuma Ayubellanabella348@gmail.comSahira Ayuthayaayuthayasahira@gmail.com<p>Skabies merupakan penyakit kulit menular yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat, terutama pada lingkungan dengan kepadatan tinggi dan perilaku hidup bersih yang belum optimal. Kurangnya pengetahuan mengenai penyebab, penularan, dan pencegahan skabies meningkatkan risiko terjadinya penyakit tersebut. Kegiatan pengabdian ini bertujuan meningkatkan pengetahuan siswa tentang skabies melalui penyuluhan kesehatan. Kegiatan dilaksanakan pada 11 Juni 2026 di MA Pertanian Madiun dengan melibatkan 27 siswa. Metode yang digunakan meliputi penyuluhan melalui ceramah menggunakan media PowerPoint, diskusi, game edukatif, serta evaluasi menggunakan Pre-Test dan Post-Test. Hasil menunjukkan peningkatan pengetahuan siswa, ditandai dengan kenaikan kategori pengetahuan baik dari 22,22% menjadi 62,96% dan penurunan kategori pengetahuan kurang dari 44,44% menjadi 11,11%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa penyuluhan kesehatan efektif dalam meningkatkan pengetahuan siswa mengenai skabies dan upaya pencegahannya. Kegiatan ini dapat menjadi salah satu strategi promosi kesehatan untuk meningkatkan kesadaran remaja dalam menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat guna mencegah skabies.</p> <p><em>Scabies is a contagious skin disease that remains a public health problem, particularly in densely populated areas where hygiene practices are not yet optimal. A lack of knowledge regarding the causes, transmission and prevention of scabies increases the risk of contracting the disease. This community service activity aimed to improve students’ knowledge of scabies through health education. The activity was held on 11 June 2026 at the Madiun Agricultural Senior High School, involving 27 students. The methods used included health education through lectures using PowerPoint presentations, discussions, educational games, and assessment via Pre-Tests and Post-Tests. The results showed an increase in participants’ knowledge, as indicated by a rise in the ‘good’ knowledge category from 22.22% to 62.96% and a decrease in the ‘poor’ knowledge category from 44.44% to 11.11%. These results demonstrate that health education is effective in improving students’ knowledge of scabies and its prevention. This activity could serve as a health promotion strategy to raise awareness amongst adolescents regarding the adoption of clean and healthy lifestyle behaviours to prevent scabies.</em></p>2026-07-30T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilanghttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/24146FAKTOR LINGKUNGAN, PAPARAN ASAP ROKOK, DAN MORBIDITAS INFEKSI SEBAGAI DETERMINAN STUNTING PADA BALITA DI INDONESIA: LITERATURE REVIEW2026-07-12T03:47:42+00:00Siti Robiah Mubarokahsitirobiah03051976@gmail.comDewi Purnamawatidewi.purnamawati@umj.ac.id<p>Stunting pada balita masih menjadi salah satu masalah prioritas dalam pembangunan kesehatan di Indonesia karena dapat menghambat proses tumbuh kembang anak serta memengaruhi kualitas sumber daya manusia pada masa mendatang. Selain berkaitan dengan kecukupan gizi, stunting juga dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, paparan asap rokok dalam rumah tangga, serta morbiditas infeksi pada balita. Kajian ini bertujuan menyintesis bukti ilmiah mengenai hubungan faktor lingkungan, paparan asap rokok dalam rumah tangga, dan morbiditas infeksi dengan kejadian stunting pada balita di Indonesia. Literatur ditelusuri melalui Google Scholar, PubMed, dan ScienceDirect, kemudian diseleksi berdasarkan kriteria inklusi sehingga diperoleh sembilan penelitian empiris sebagai dasar sintesis tematik. Hasil sintesis menunjukkan bahwa keterbatasan akses terhadap air bersih, sanitasi yang belum memadai, serta pengelolaan limbah rumah tangga yang kurang baik berkaitan dengan meningkatnya risiko stunting pada balita. Paparan asap rokok dalam rumah tangga juga dilaporkan berkaitan dengan meningkatnya risiko gangguan pertumbuhan pada balita. Selain itu, morbiditas infeksi, terutama diare dan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang terjadi berulang, secara konsisten dilaporkan berkaitan dengan kejadian stunting. Kajian ini menegaskan bahwa perbaikan sanitasi lingkungan, pengendalian paparan asap rokok, pencegahan penyakit infeksi, serta penguatan pelayanan kesehatan dasar perlu dilakukan secara terpadu sebagai bagian dari upaya penanggulangan stunting.</p> <p><em>Stunting among children under five remains a priority issue in health development in Indonesia because it can hinder children's growth and development and affect the quality of human resources in the future. Besides being related to nutritional adequacy, stunting is also influenced by environmental conditions, household cigarette smoke exposure, and infectious morbidity in children under five. This study aims to synthesize scientific evidence regarding the relationship between environmental factors, household cigarette smoke exposure, and infectious morbidity with stunting among children under five in Indonesia. Literature was searched through Google Scholar, PubMed, and ScienceDirect, then selected based on inclusion criteria, resulting in nine empirical studies as the basis for the thematic synthesis. The results of the synthesis indicate that limited access to clean water, inadequate sanitation, and poor household waste management are associated with an increased risk of stunting in children under five. Household cigarette smoke exposure has also been reported to be associated with an increased risk of growth disorders in children under five. In addition, infectious morbidity, particularly diarrhea and recurrent acute respiratory infections (ARI), has been consistently reported to be associated with stunting.The review highlights the need for integrated stunting prevention strategies through improvements in environmental sanitation, reduction of household tobacco smoke exposure, prevention of infectious diseases, and strengthening of primary healthcare services.</em></p>2026-07-30T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilanghttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/23923DETERMINAN EPIDEMIOLOGI DEMAM BERDARAH DENGUE:DETERMINAN EPIDEMIOLOGI DEMAM BERDARAH DENGUE: ANALISIS DAMPAK VARIABILITAS IKLIM DAN RESISTENSI INSEKTISIDA ANALISIS DAMPAK VARIABILITAS IKLIM DAN RESISTENSI INSEKTISIDA2026-07-05T06:36:42+00:00Sustin Murniatimurniatisustin@gmail.comElyas Eka Wahyu Saputrailyasekawahyu@gmail.com<p>Demam Berdarah Dengue (DBD) tetap menjadi beban kesehatan masyarakat yang signifikan di Indonesia meskipun berbagai upaya pengendalian telah dilakukan. Dinamika epidemiologinya bersifat kompleks, dipengaruhi oleh faktor lingkungan alami dan tantangan teknis dalam pengendalian vektor. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis determinan epidemiologi DBD di Indonesia melalui tinjauan literatur sistematis, dengan fokus khusus pada dampak variabilitas iklim dan fenomena resistensi insektisida. Studi ini menggunakan desain Literature Review. Penelusuran artikel dilakukan melalui database Google Scholar menggunakan kata kunci "Epidemiologi DBD", "Variabilitas Iklim", dan "Resistensi Insektisida". Sebanyak 8 artikel relevan yang dipublikasikan antara tahun 2019-2025 dipilih berdasarkan kriteria inklusi. Analisis menunjukkan bahwa variabilitas iklim, khususnya kelembapan dan curah hujan, berkorelasi signifikan terhadap lonjakan kasus DBD dengan mempercepat siklus hidup nyamuk dan replikasi virus. Di sisi lain, penggunaan insektisida kimia secara masif telah memicu status "toleran" dan resistensi pada nyamuk Aedes aegypti, yang dibuktikan dengan adanya mutasi genetik Ace-1. Temuan lain menyoroti peran Aedes albopictus di area publik serta keterlambatan sistem surveilans sebagai hambatan utama. Teknologi inovatif seperti nyamuk ber-Wolbachia dan aplikasi pemantau jentik berbasis Android menunjukkan efektivitas tinggi dalam menekan insidensi kasus. Pengendalian DBD di Indonesia memerlukan transisi dari metode konvensional ke strategi terintegrasi yang menggabungkan sistem kewaspadaan dini berbasis iklim dan intervensi biologi-digital untuk mengatasi tantangan resistensi dan perubahan lingkungan.</p>2026-07-30T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilanghttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/24054PERAN AKTIVITAS FISIK DALAM PENCEGAHAN RISIKO DIABETES MELITUS TIPE 2 PADA REMAJA: LITERATURE REVIEW2026-07-09T08:22:45+00:00Wahyu Ainurrohmmahwahyuainun164@gmail.comJatayu Nur Ramadhanijatayunr@gmail.com<p>Latar Belakang: Diabetes melitus tipe 2 (DMT2) tidak lagi hanya ditemukan pada usia dewasa, tetapi juga mulai meningkat pada kelompok remaja. Perubahan gaya hidup, seperti rendahnya aktivitas fisik, pola makan yang tidak sehat, obesitas, dan perilaku sedentari, berkontribusi terhadap peningkatan risiko DMT2. Aktivitas fisik merupakan salah satu faktor yang dapat dimodifikasi sehingga berpotensi menjadi strategi utama dalam pencegahan penyakit ini. Tujuan: Menganalisis peran aktivitas fisik dalam pencegahan risiko diabetes melitus tipe 2 pada remaja berdasarkan hasil penelitian yang telah dipublikasikan. Metode: Penelitian ini menggunakan metode Narrative Literature Review dengan menelaah sepuluh artikel ilmiah yang dipublikasikan pada tahun 2020–2025. Artikel diperoleh melalui penelusuran pada database Google Scholar dan PubMed menggunakan kata kunci yang berkaitan dengan aktivitas fisik, diabetes melitus tipe 2, faktor risiko, dan remaja. Artikel diseleksi berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan, kemudian dilakukan sintesis terhadap hasil penelitian. Hasil: Hasil telaah menunjukkan bahwa aktivitas fisik berperan penting dalam menurunkan risiko diabetes melitus tipe 2 pada remaja melalui peningkatan sensitivitas insulin, pengendalian berat badan, dan perbaikan metabolisme glukosa. Selain aktivitas fisik, obesitas, pola makan yang kurang sehat, perilaku sedentari, serta riwayat keluarga juga merupakan faktor yang berhubungan dengan meningkatnya risiko DMT2 pada remaja. Kesimpulan: Aktivitas fisik merupakan faktor protektif yang berperan penting dalam pencegahan risiko diabetes melitus tipe 2 pada remaja. Penerapan aktivitas fisik secara rutin, disertai pola makan sehat dan edukasi kesehatan, perlu didukung oleh keluarga, sekolah, dan tenaga kesehatan sebagai upaya pencegahan DMT2 sejak usia dini.</p> <p>Background: Type 2 diabetes mellitus (T2DM) is no longer limited to adults but has increasingly been identified among adolescents. Lifestyle changes, including low physical activity, unhealthy dietary habits, obesity, and sedentary behavior, contribute to the increasing risk of T2DM. Physical activity is one of the modifiable risk factors and has the potential to become a key strategy in preventing the disease. Objective: To analyze the role of physical activity in preventing the risk of type 2 diabetes mellitus among adolescents based on published research findings. Methods: This study employed a Narrative Literature Review approach by reviewing ten scientific articles published between 2020 and 2025. Articles were retrieved from Google Scholar and PubMed using keywords related to physical activity, type 2 diabetes mellitus, risk factors, and adolescents. The selected articles met the predetermined inclusion and exclusion criteria, and the findings were synthesized to identify the role of physical activity in preventing T2DM among adolescents. Results: The review showed that physical activity plays an important role in reducing the risk of type 2 diabetes mellitus among adolescents by improving insulin sensitivity, maintaining healthy body weight, and enhancing glucose metabolism. In addition to physical activity, obesity, unhealthy dietary habits, sedentary behavior, and family history were identified as factors associated with an increased risk of T2DM in adolescents. Conclusion: Physical activity is an important protective factor in preventing the risk of type 2 diabetes mellitus among adolescents. Regular physical activity, combined with a healthy diet and health education, should be promoted through the support of families, schools, and healthcare professionals as part of early prevention strategies for T2DM.</p>2026-07-30T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilanghttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/23875PERCEIVED ORGANIZATIONAL SUPPORT, BURNOUT, DAN TURNOVER INTENTION PADA PERAWAT: SYSTEMATIC LITERATURE REVIEW2026-07-03T10:21:30+00:00Siswantosiswanto.kbpok@gmail.comDewi Purnamawatidewi.purnamawati@umj.ac.id<p>Tingginya angka turnover intention pada perawat menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan sistem layanan kesehatan global maupun nasional. Krisis ini semakin diperparah oleh meningkatnya prevalensi burnout di kalangan tenaga keperawatan yang bekerja dalam kondisi penuh tekanan dan keterbatasan sumber daya. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi dan mensintesis bukti ilmiah mengenai hubungan antara perceived organizational support (POS), burnout, dan turnover intention pada perawat melalui pendekatan systematic literature review. Sebanyak sepuluh artikel penelitian yang memenuhi kriteria inklusi diseleksi dari berbagai basis data elektronik bereputasi menggunakan panduan PRISMA 2020. Hasil sintesis menunjukkan bahwa POS berperan sebagai faktor protektif yang secara signifikan menekan turnover intention baik secara langsung maupun melalui mekanisme pengurangan burnout. Burnout, khususnya pada dimensi kelelahan emosional, terbukti menjadi mediator sekaligus prediktor kuat terhadap niat perawat untuk meninggalkan profesinya. Perbedaan generasi dan konteks organisasi turut memengaruhi kekuatan hubungan antarvariabel yang dikaji. Temuan ini menegaskan pentingnya intervensi multidimensional yang mengintegrasikan penguatan POS dan pengendalian burnout sebagai strategi retensi perawat yang komprehensif dan berbasis bukti ilmiah.</p> <p><em>High rates of turnover intention among nurses represent a critical threat to the sustainability of both global and national healthcare systems. This crisis is further exacerbated by the growing prevalence of burnout among nursing personnel working under conditions of intense pressure and limited resources. This study aims to identify and synthesize scientific evidence regarding the relationship between perceived organizational support (POS), burnout, and turnover intention among nurses through a systematic literature review approach. Ten research articles meeting the inclusion criteria were selected from reputable electronic databases following the PRISMA 2020 guidelines. The synthesis results indicate that POS functions as a significant protective factor that suppresses turnover intention both directly and through burnout reduction mechanisms. Burnout, particularly in the dimension of emotional exhaustion, is confirmed as both a strong mediator and predictor of nurses' intention to leave the profession. Generational differences and organizational contexts further moderate the strength of relationships among the examined variables. These findings underscore the importance of multidimensional interventions that integrate the strengthening of POS and burnout control as comprehensive, evidence-based nurse retention strategies.</em></p>2026-07-30T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilanghttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/24690HOSPITAL BRANDING SEBAGAI STRATEGI PENINGKATAN DAYA SAING RUMAH SAKIT: A SYSTEMATIC LITERATURE REVIEW2026-07-27T07:14:10+00:00Syarip Padilahsyarippadilah@gmail.comDewi Purnamawatidewi.purnamawati@umj.ac.id<p>Transformasi industri layanan kesehatan global mendorong rumah sakit untuk bersaing secara kompetitif, sehingga hospital branding menjadi instrumen strategis penting dalam meningkatkan daya saing institusi kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan pola dan tren strategi branding rumah sakit, menganalisis faktor determinan efektivitasnya, serta mengkaji kontribusinya terhadap kepuasan, loyalitas, dan keputusan pasien. Penelitian menggunakan pendekatan systematic literature review (SLR) berdasarkan pedoman PRISMA 2020, dengan penelusuran artikel melalui basis data Scopus, Google Scholar, PubMed, dan ScienceDirect, sehingga diperoleh lima belas artikel terpilih yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil kajian menunjukkan bahwa strategi branding rumah sakit telah berkembang menjadi pendekatan multidimensi yang terintegrasi dengan bauran pemasaran, ekuitas merek, transformasi digital, dan nilai institusional, dengan efektivitas yang bersifat kontekstual bergantung pada kualitas layanan dan pengalaman pasien. Secara umum, branding terbukti berkontribusi signifikan terhadap kepuasan dan loyalitas pasien, baik secara langsung maupun melalui variabel mediasi. Disimpulkan bahwa rumah sakit perlu mengintegrasikan strategi branding dengan peningkatan kualitas layanan dan teknologi digital secara berkelanjutan, serta disarankan penelitian lanjutan berbasis data primer untuk memperkuat generalisasi temuan ini.</p> <p><em>The global transformation of the healthcare industry has compelled hospitals to compete more intensively, positioning hospital branding as a strategic instrument for enhancing institutional competitiveness. This study aims to map patterns and trends in hospital branding strategies, analyze the determinant factors influencing their effectiveness, and examine their contribution to patient satisfaction, loyalty, and decision-making. A systematic literature review (SLR) approach was employed, guided by the PRISMA 2020 framework, with article searches conducted through Scopus, Google Scholar, PubMed, and ScienceDirect databases, resulting in fifteen selected articles meeting the inclusion and exclusion criteria. The findings reveal that hospital branding strategies have evolved into a multidimensional approach integrating marketing mix elements, brand equity, digital transformation, and institutional values, with effectiveness contingent on service quality and patient experience. Overall, branding significantly contributes to patient satisfaction and loyalty, both directly and through mediating variables. It is concluded that hospitals must integrate branding strategies with continuous service quality improvement and digital technology adoption, while further empirical research using primary data is recommended to strengthen the generalizability of these findings.</em></p>2026-07-30T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilanghttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/24001FAKTOR GAYA HIDUP YANG DAPAT DIMODIFIKASI SEBAGAI DETERMINAN PENYAKIT GINJAL KRONIK: NARRATIVE LITERATURE REVIEW2026-07-08T03:35:05+00:00Fannesa Maya Kusumaningrumfannesamaya@gmail.comNusaibah Radjabnusaibahradjab@gmail.com<p>Penyakit Ginjal Kronik adalah masalah kesehatan yang terjadi di seluruh dunia, dimana fungsi ginjal menurun secara perlahan selama lebih dari tiga bulan dan bisa berkembang menjadi kegagalan ginjal. Selain masalah kesehatan seperti tekanan darah tinggi dan diabetes, berbagai kebiasaan hidup yang bisa diubah juga memengaruhi peningkatan risiko terkena penyakit jantung koroner. Penelitian ini ingin melihat faktor-faktor gaya hidup yang bisa diubah sebagai penyebab penyakit ginjal kronik, berdasarkan hasil penelitian yang sudah diterbitkan. Metode yang digunakan adalah tinjauan literatur naratif dengan mencari artikel melalui Google Scholar, PubMed, dan Garuda pada periode tahun 2015 hingga 2026. Berdasarkan kriteria yang ditentukan, ditemukan delapan artikel yang memenuhi syarat untuk diperiksa ulang.Penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan merokok, mengonsumsi alkohol, makanan yang tidak sehat, minuman berenergi, penggunaan obat pereda nyeri dalam jangka panjang, serta kurangnya minum air putih adalah faktor gaya hidup yang paling umum terkait dengan terjadinya PGK. Faktor-faktor tersebut bisa membuat fungsi ginjal menurun lebih cepat dan meningkatkan kemungkinan terjadinya kerusakan ginjal yang berlangsung lama. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya promosi dan pencegahan dengan memberikan edukasi kesehatan serta mendorong masyarakat untuk menjalani gaya hidup sehat, agar risiko faktor-faktor penyebab bisa dikurangi dan jumlah kasus PGK di masyarakat bisa ditekan.</p> <p><em>Chronic Kidney Disease (CKD) is a health issue that affects people worldwide.It happens when the kidneys slowly lose their ability to work properly over a period of more than three months, and it can eventually lead to kidney failure. Besides medical conditions like high blood pressure and diabetes, certain lifestyle choices can also raise the risk of chronic kidney disease. This study tried to look at lifestyle factors that can be changed and how they affect the risk of developing chronic kidney disease, using results from published research. The approach taken was a Narrative Literature Review, and the articles were collected from Google Scholar, PubMed, and Garuda databases.These articles were published between the years 2015 and 2026. After applying the inclusion and exclusion criteria, eight articles that met the requirements were chosen for the review.The study showed that smoking, drinking alcohol, eating unhealthy food, drinking energy drinks, using pain medication for a long time, and not drinking enough water were the lifestyle factors most often linked to chronic kidney disease. These factors might cause the kidneys to work worse faster and make it more likely to have long-term kidney problems. So, it's important to focus on promoting health and preventing problems through education and by encouraging healthy habits.This can help reduce exposure to harmful factors and decrease the number of people developing chronic kidney disease in the community.</em></p>2026-07-30T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilanghttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/23826EFEKTIVITAS MOBILISASI DINI TERHADAP INTENSITAS NYERI PADA PASIEN POST OPERASI APENDIKTOMI DI RUANG RAWAT INAP SADEWA 1 RSD K.R.M.T WONGSONEGORO SEMARANG2026-07-02T08:40:57+00:00Putri Ayu Septiasariputriayuseptiasari7@gmail.comMuhammad Jamaluddinjamaluddin@stikesyahoedsmg.ac.id<p>Latar Belakang: apendisitis merupakan peradangan pada apendiks yang umumnya disebabkan oleh sumbatan lumen apendiks dan dapat menimbulkan komplikasi serius apabila tidak segera ditangani. Penatalaksanaan apendisitis sebagian besar dilakukan melalui tindakan apendiktomi, yang sering menimbulkan nyeri pascaoperasi akibat insisi dan trauma jaringan. Salah satu intervensi nonfarmakologis yang dapat digunakan untuk menurunkan intensitas nyeri adalah mobilisasi dini. Tujuan Penelitian: mengetahui efektivitas mobilisasi dini terhadap intensitas nyeri pada pasien post operasi apendiktomi di ruang rawat inap Sadewa 1 RSD K.R.M.T Wongsonegoro Semarang. Metode Penelitian: jenis penelitian ini adalah studi kasus dengan pendekatan asuhan keperawatan medikal bedah. Subjek penelitian adalah pasien post operasi apendiktomi yang diberikan intervensi mobilisasi dini sesuai prosedur. Pengukuran intensitas nyeri dilakukan sebelum dan sesudah intervensi menggunakan Numeric Rating Scale (NRS). Hasil Penelitian: hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh pasien post operasi apendiktomi mengalami penurunan intensitas nyeri setelah diberikan intervensi mobilisasi dini. Pada pasien 1 skala nyeri menurun dari 6 menjadi 4, pasien 2 dari skala 5 menjadi 3, dan pasien 3 dari skala 6 menjadi 4 berdasarkan Numeric Rating Scale (NRS). Selain itu, pasien tampak lebih rileks, tidak terlalu takut bergerak, serta mengalami peningkatan kemampuan mobilisasi seperti mampu miring di tempat tidur, duduk, berdiri, dan berjalan dengan bantuan minimal. Simpulan: mobilisasi dini terbukti efektif sebagai intervensi keperawatan nonfarmakologis dalam membantu menurunkan intensitas nyeri dan meningkatkan kemampuan mobilisasi pada pasien post operasi apendiktomi.</p> <p><em>Background: appendicitis is commonly caused by obstruction of the appendiceal lumen and may lead to serious complications if not treated promptly. the management of appendicitis is mostly performed through appendectomy, which often causes postoperative pain due to incision and tissue trauma. one of the non-pharmacological interventions that can be used to reduce pain intensity is early mobilization. Research Objective: to determine the effectiveness of early mobilization on pain intensity in post-appendectomy patients at the Sadewa 1 inpatient ward of RSD K.R.M.T. Wongsonegoro Semarang. Research Method: this study used a case study design with a medical-surgical nursing care approach. the research subjects were post-appendectomy patients who received early mobilization intervention according to the procedure. pain intensity was measured before and after the intervention using the Numeric Rating Scale (NRS). The results of the study: the results showed that all post-appendectomy patients experienced a decrease in pain intensity after receiving early mobilization intervention. in patient 1, the pain scale decreased from 6 to 4; in patient 2, from 5 to 3; and in patient 3, from 6 to 4 based on the Numeric Rating Scale (NRS). in addition, patients appeared more relaxed, less afraid to move, and showed improved mobility abilities such as turning in bed, sitting, standing, and walking with minimal assistance. Conclusion: early mobilization has proven to be effective as a non-pharmacological nursing intervention in reducing pain intensity and improving mobility in post-appendectomy patients.</em></p>2026-07-30T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilanghttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/24269HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN TENTANG MASA SUBUR DENGAN PERILAKU PEMANTAUAN SIKLUS MENSTRUASI PADA REMAJA PUTRI DI SMK TERPADU AL FARABI KECAMATAN SUNGGAL2026-07-15T04:50:04+00:00Rifa Safirarifasafira12ab@gmail.comReni Agustina Harahapreniagustina@uinsu.ac.idDelfriana Ayu Astutydelfrianaayu@uinsu.ac.idRani Surayaranisuraya@uinsu.ac.idMhd Furqanmhd.furqan@uinsu.ac.id<p>Pengetahuan mengenai masa subur merupakan salah satu faktor penting yang dapat memengaruhi perilaku pemantauan siklus menstruasi pada remaja putri. Rendahnya pemahaman tentang masa subur dapat menyebabkan remaja kurang mampu mengenali siklus menstruasi secara tepat sehingga berpotensi memengaruhi kesehatan reproduksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan tentang masa subur dengan perilaku pemantauan siklus menstruasi pada remaja putri di SMK Terpadu Al Farabi Kecamatan Sunggal. Penelitian ini menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian adalah seluruh remaja putri kelas X dan XI yang telah mengalami menstruasi di SMK Terpadu Al Farabi Kecamatan Sunggal. Sampel berjumlah 42 responden yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitas, kemudian dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kepercayaan 95% (α=0,05). Sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan tentang masa subur pada kategori cukup (66,7%) dan perilaku pemantauan siklus menstruasi pada kategori cukup (61,9%). Hasil analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan tentang masa subur dengan perilaku pemantauan siklus menstruasi (p=0,001). Responden yang memiliki tingkat pengetahuan baik memiliki peluang enam kali lebih besar untuk memiliki perilaku pemantauan siklus menstruasi yang baik (PR=6,00; 95% CI: 2,36–15,26). Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan tentang masa subur dengan perilaku pemantauan siklus menstruasi pada remaja putri di SMK Terpadu Al Farabi Kecamatan Sunggal. Peningkatan edukasi kesehatan reproduksi, khususnya mengenai masa subur dan siklus menstruasi, diharapkan dapat meningkatkan perilaku pemantauan siklus menstruasi pada remaja putri.</p> <p><em>Knowledge of the fertile period is an important factor influencing menstrual cycle monitoring behavior among adolescent girls. Limited understanding of the fertile period may reduce adolescents' ability to recognize their menstrual cycle accurately, thereby affecting reproductive health. This study aimed to determine the relationship between the level of knowledge about the fertile period and menstrual cycle monitoring behavior among adolescent girls at SMK Terpadu Al Farabi, Sunggal District. This study employed a quantitative analytic observational design with a cross-sectional approach. The study population consisted of all female students in grades X and XI who had experienced menstruation at SMK Terpadu Al Farabi, Sunggal District. A total of 42 respondents were selected using the total sampling technique. Data were collected using validated and reliable questionnaires and analyzed through univariate and bivariate analyses using the Chi-Square test with a 95% confidence level (α = 0.05). Most respondents had a moderate level of knowledge regarding the fertile period (66.7%) and moderate menstrual cycle monitoring behavior (61.9%). Bivariate analysis revealed a significant relationship between knowledge of the fertile period and menstrual cycle monitoring behavior (p = 0.001). Respondents with good knowledge were six times more likely to demonstrate good menstrual cycle monitoring behavior than those with moderate knowledge (PR = 6.00; 95% CI: 2.36–15.26). There was a significant relationship between the level of knowledge about the fertile period and menstrual cycle monitoring behavior among adolescent girls at SMK Terpadu Al Farabi, Sunggal District. Improving reproductive health education, particularly regarding the fertile period and menstrual cycle, is expected to enhance menstrual cycle monitoring behavior among adolescent girls.</em></p>2026-07-30T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilanghttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/23948APLIKASI AUDIOVISUAL STORYTELLING TERHADAP KECEMASAN ANAK USIA PRASEKOLAH DENGAN HOSPITALISASI DI RSUD K.R.M.T SEMARANG2026-07-06T04:51:50+00:00Dian Astika Leiwakabessyastikad625@gmail.comNs. Dwi Kustriyantidwikus3yanti@gmail.com<p>Latar Belakang: Hospitalisasi pada anak usia prasekolah merupakan suatu proses yang sering kali menimbulkan stres dan kecemasan bagi anak. Lingkungan rumah sakit yang tidak biasa serta tindakan medis yang menimbulkan ketidaknyamanan membuat anak merasa takut, rewel, sering menangis, hingga menolak tindakan keperawatan. Dampak kecemasan ini dapat memperlambat proses penyembuhan karena berpotensi menurunkan sistem imun anak. Oleh karena itu, diperlukan sarana terapi bermain yang dapat mengalihkan perhatian dan membuat anak mengekspresikan emosinya, salah satunya melalui media audiovisual storytelling. Tujuan: memahami dan mengaplikasikan intervensi audiovisual storytelling dalam mengatasi masalah kecemasan akibat hospitalisasi pada anak usia prasekolah di RSUD K.R.M.T Wongsonegoro Semarang. Metode: menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan studi kasus pada dua pasien anak usia prasekolah yang dirawat di ruang anak. Intervensi diberikan berupa penayangan video storytelling melalui media handphone dengan durasi 3-5 menit, frekuensi 1 kali sehari selama 3 hari berturut-turut. Instrumen pengukuran tingkat kecemasan sebelum dan setelah pemberian intervensi diukur menggunakan face anxiety scale (FAS). Hasil: pengkajian awal menunjukan kedua pasien mengalami reaksi hospitalisasi berupa sikap kurang kooperatif, sering menangis, tampak takut saat melihat perawat, serta selalu meminta pulang ke rumah. Setelah diberikan penerapan terapi audiovisual storytelling selama 3 hari berturut-turut, kedua anak menunjukan respons adaptif yang positif. Tingkat kecemasan pada kedua anak pasien mengalami penurunan, anak menjadi lebih tenang, lebih kooperatif saat dilakukan tindakan medis atau keperawatan, serta pola istirahat tidur mereka membaik. Kesimpulan: aplikasi audiovisual storytelling efektif dalam menurunkan tongkat kecemasan pada anak usia prasekolah yang mengalami hospitalisasi. Intervensi ini dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif asuhan keperawatan berbasis bermain teraupetik untuk meningkatkan kenyamanan dan kerja sama anak selama masa perawatan di rumah sakit.</p> <p><em>Background: Hospitalization is a process that often causes stress and anxiety for preschool-aged children. Unfamiliar hospital environments and uncomfortable medical procedures can lead to fear, irritability, frequent crying, and even refusal of nursing care. This anxiety can hinder the healing process by potentially suppressing the child's immune system. Therefore, play therapy interventions—such as audiovisual storytelling—are needed to distract the child and facilitate emotional expression. Objective: To understand and apply an audiovisual storytelling intervention to address hospitalization-related anxiety in preschool-aged children at K.R.M.T. Wongsonegoro Regional General Hospital (RSUD), Semarang. Methods: A descriptive method using a case study approach was employed with two preschool-aged patients admitted to the pediatric ward. The intervention consisted of showing a 3-to-5-minute storytelling video on a mobile phone once daily for three consecutive days. Anxiety levels before and after the intervention were measured using the Face Anxiety Scale (FAS). Results: Initial assessments revealed that both patients exhibited reactions to hospitalization, including uncooperative behavior, frequent crying, fear upon seeing nurses, and repeated requests to go home. Following the three-day audiovisual storytelling intervention, both children demonstrated positive adaptive responses. Their anxiety levels decreased; they became calmer and more cooperative during medical or nursing procedures, and their sleep patterns improved. Conclusion: Audiovisual storytelling is effective in reducing anxiety levels among hospitalized preschool-aged children. This intervention serves as a viable alternative for therapeutic play-based nursing care, enhancing the child's comfort and cooperation during their hospital stay</em></p>2026-07-30T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilanghttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/23768BULLYING SEBAGAI FAKTOR RISIKO GANGGUAN PSIKOLOGIS PADA REMAJA: STUDI PADA SISWA SMAN 6 MADIUN2026-07-01T02:27:03+00:00Riska Ratnawatiriskaratnawati78@gmail.comAfifah Qoyumi Shagiraafifahqs5@gmail.comAlvian Shahevyshahevy@gmail.comBima Sandrika Auria Caktibimasandrika165@gmail.comKayla Naffi Putri Ngestikaylanaffiputringesti@gmail.comZulia Kusumawatizulialiakusuma@gmail.com<p>Bullying sebagaimana kasus yang kerap kali muncul di sekolahan pun akhirnya menimbulkan berbagai gangguan mental pada remaja, termasuk kecemasan, stres, rendahnya rasa percaya diri, dan depresif. Program pengabdian terhadap masyarakat dituju guna memperluas pemahaman sekaligus rasa sadar siswa tentang konsekuensi perundungan terhadap kesehatan mental serta langkah-langkah pencegahannya. Metode yang diterapkan berupa edukasi kesehatan kepada siswa SMAN 6 Madiun menggunakan presentasi PowerPoint yang dilengkapi dengan sesi tanya jawab kepada siswa. Pengetahuan yang disalurkan melingkupi arti bullying, macam bullying, dampak terhadap kesehatan mental, upaya pencegahan, dan penanganan di lingkungan sekolahan. Hasil program ini menunjukkan bahwasanya siswa mengikuti edukasi dengan berpartisipasi aktif. Kegiatan ini memberi pemahaman kepada siswa akan krusialnya mencipta ruang belajar yang tenang, aman, serta terbebas dari tindak bully. Oleh karena itu, edukasi kesehatan dapat berfungsi sebagai langkah preventif guna meningkatkan rasa sadar siswa terkait kesehatan mental pun mendorong upaya pencegahan bullying di sekolah.</p> <p><em>Bullying is a common issue in schools and can lead to various psychological problems among adolescents, including anxiety, stress, low self-esteem, and depression. This community service programme want to improves students' understanding also awareness of the consequences of bullying on mental health and the strategies for its prevention. Health education delivered to students of SMAN 6 Madiun through a PowerPoint presentation accompanied by an interactive question-and-answer session was the method in this research. The educational materials covered the definition of bullying, types of bullying, its impact on mental health, prevention strategies, and ways to address bullying within the school environment. The results of this activity showed that students actively participated in the educational session. The program enhanced students' understanding of the importance of creating a safe, supportive, and bullying-free school environment. Therefore, health education can serve as a preventive measure to raise students' awareness of mental health issues and encourage efforts to prevent bullying in schools.</em></p>2026-07-30T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilanghttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/24197PENERAPAN SISTEM INFORMASI MANAJEMEN RUMAH SAKIT DALAM PEMANTAUAN DAN PENGENDALIAN INFEKSI LUKA OPERASI PASIEN ORTOPEDI: ANALISIS LITERATURE REVIEW2026-07-14T04:03:38+00:00Abdurrafi Ghifari Wahyuedu.rafi@hotmail.comDewi Purnamawatidewi.purnamawati@umj.ac.id<p>Latar belakang: Infeksi Luka Operasi (ILO) pada pasien ortopedi menimbulkan dampak klinis, fungsional, dan ekonomi yang besar, terutama pada tindakan artroplasti dan operasi yang menggunakan implan. Surveilans manual masih membutuhkan waktu yang panjang, bergantung pada telaah rekam medis, dan rentan terhadap variasi penilaian antarpetugas. Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS), rekam medis elektronik, dan sistem surveilans digital membuka peluang untuk menghasilkan data yang lebih akurat, cepat, dan dapat ditindaklanjuti. Tujuan: Kajian ini menganalisis pemanfaatan teknologi informasi untuk meningkatkan pemantauan dan pengendalian ILO pada pasien ortopedi serta mengidentifikasi praktik terbaik penerapan SIMRS. Metode: Penelitian menggunakan literature review terstruktur dengan kerangka PICO. Literatur berbahasa Indonesia dan Inggris tahun 2020 sampai 2026 ditelusuri melalui PubMed, Scopus, Google Scholar, ScienceDirect, ProQuest, Garuda, dan portal jurnal nasional. Sebanyak 18 artikel yang memenuhi fokus kajian dianalisis secara deskriptif kualitatif. Hasil: Sistem semi-otomatis menunjukkan keseimbangan terbaik antara keselamatan, akurasi, dan efisiensi. Algoritma berbasis data mikrobiologi, penggunaan antibiotik, lama rawat, kunjungan ulang, readmission, dan operasi ulang mencapai sensitivitas 90,3 sampai 100 persen pada sejumlah studi serta menurunkan beban telaah manual sebesar 59,7 sampai 98 persen. Model machine learning memberi hasil lebih baik ketika menggabungkan data terstruktur dengan catatan klinis. Namun, kualitas data, interoperabilitas, konsistensi kode, validasi lokal, kesiapan sumber daya manusia, dan potensi alert fatigue tetap menjadi kendala utama. Kesimpulan: SIMRS dapat memperkuat surveilans ILO ortopedi apabila sistem mengintegrasikan sumber data lintas unit, menggunakan algoritma yang divalidasi secara lokal, mempertahankan konfirmasi klinis oleh tim PPI, dan menyediakan dashboard serta peringatan yang mendukung tindakan manajerial secara cepat.</p>2026-07-14T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilanghttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/23940EFEKTIVITAS MEDIA EDUKASI PHBS UNTUK PENCEGAHAN DIARE PADA ANAK SEKOLAH DASAR2026-07-06T01:33:59+00:00Diva Diah Ayuningrum Puspitasaridivadiah71@gmail.comFerry Affridayantiferryaffrida02@gmail.com<p>Diare masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang sering terjadi pada anak usia sekolah dasar dan berkaitan erat dengan rendahnya penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Edukasi kesehatan melalui berbagai media merupakan salah satu upaya promotif yang dapat meningkatkan pengetahuan anak dalam menerapkan PHBS sebagai pencegahan diare. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas berbagai media edukasi PHBS dalam meningkatkan pengetahuan sebagai upaya pencegahan diare pada anak sekolah dasar berdasarkan hasil penelitian yang telah dipublikasikan. Penelitian ini menggunakan metode literature review. Penelusuran artikel dilakukan melalui Google Scholar, Pub Med dengan menggunakan kata kunci Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), media edukasi, pengetahuan, diare, dan anak sekolah dasar. Artikel diseleksi berdasarkan kriteria inklusi, yaitu penelitian yang membahas efektivitas media edukasi PHBS terhadap peningkatan pengetahuan pencegahan diare pada anak sekolah dasar, dipublikasikan pada tahun 2021–2025, tersedia dalam teks lengkap, dan berbahasa Indonesia. Berdasarkan proses seleksi diperoleh 10 artikel yang memenuhi kriteria untuk dianalisis. Hasil sintesis menunjukkan bahwa seluruh media edukasi yang digunakan, seperti video animasi, video pembelajaran, leaflet, Healthy Motion Magazine (Hema-Magz), serta penyuluhan yang dipadukan dengan demonstrasi, efektif meningkatkan pengetahuan PHBS pada anak sekolah dasar. Di antara berbagai media tersebut, media audiovisual menunjukkan efektivitas yang paling konsisten karena mampu meningkatkan perhatian, pemahaman, dan keterlibatan siswa selama proses pembelajaran. Edukasi PHBS melalui berbagai media terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan anak sekolah dasar sebagai upaya pencegahan diare. Pemanfaatan media yang interaktif dan sesuai dengan karakteristik peserta didik, khususnya media audiovisual yang dipadukan dengan demonstrasi, direkomendasikan sebagai strategi promosi kesehatan di lingkungan sekolah untuk mendukung penerapan PHBS secara berkelanjutan.</p>2026-07-30T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilanghttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/24065TRUST, PRIVACY DAN PATIENT SATISFACTION DALAM TELEMEDICINE DI INDONESIA: LITERATURE REVIEW2026-07-09T10:57:55+00:00Aulia Ramadhanauliaramadhan.86.ar@gmail.comDewi Purnamawatidewi.purnamawati@umj.ac.id<p>Perkembangan telemedicine di Indonesia mengalami akselerasi pesat pascapandemi COVID-19, namun kepuasan pengguna pada dimensi keamanan data dan privacy masih berada di bawah ambang yang diharapkan. Penelitian ini bertujuan menganalisis keterkaitan antara trust, privacy, dan patient satisfaction dalam layanan telemedicine di Indonesia, mengidentifikasi faktor determinan kepercayaan dan persepsi privasi pengguna, serta mengevaluasi kontribusi regulasi perlindungan data terhadap kepuasan pasien. Metode yang digunakan adalah kajian kepustakaan (literature review) kualitatif terhadap dua belas artikel ilmiah terseleksi dari basis data Google Scholar, PubMed, dan ScienceDirect, terbitan 2021–2025. Hasil kajian menunjukkan bahwa trust dan privacy merupakan dua variabel yang saling terkait erat dan secara simultan memengaruhi kepuasan pasien. Tiga dimensi determinan teridentifikasi, yakni dimensi teknis, relasional, dan institusional. Kerangka regulasi Indonesia belum sepenuhnya mampu menghasilkan structural assurance yang dirasakan pengguna secara nyata. Disimpulkan bahwa penguatan kepercayaan, perlindungan privasi, dan kepuasan pasien memerlukan sinergi antara peningkatan standar teknis platform, kompetensi tenaga kesehatan digital, dan penegakan regulasi secara konsisten.</p> <p><em>The adoption of telemedicine in Indonesia has accelerated significantly in the post-COVID-19 era; however, user satisfaction regarding data security and privacy remains below the expected threshold. This study aims to analyze the relationship between trust, privacy, and patient satisfaction in Indonesian telemedicine services, identify determinant factors shaping user trust and privacy perceptions, and evaluate the contribution of data protection regulations to patient satisfaction. A qualitative literature review was conducted on twelve selected scientific articles sourced from Google Scholar, PubMed, and ScienceDirect, published between 2021 and 2025. Findings reveal that trust and privacy are two closely interrelated variables that simultaneously influence patient satisfaction. Three determinant dimensions were identified: technical, relational, and institutional. Indonesia's existing regulatory framework has yet to generate tangible structural assurance for users. It is concluded that strengthening trust, privacy protection, and patient satisfaction requires synchronized efforts across platform technical standards, digital health workforce competency, and consistent regulatory enforcement.</em></p>2026-07-30T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilanghttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/23922OPTIMALISASI LITERASI KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA SEBAGAI UPAYA PREVENTIF SEKS BEBAS DI SMAN 6 KOTA MADIUN2026-07-05T05:07:27+00:00Riska Ratnawatiriskaratnawati78@gmail.comAnisa Kusumaning Putrianisakusumaning351@gmail.comDavid Meyza Pradanadavidpradana256@gmail.comDewi Safitridewisa1002@gmail.comIndra Arya Abimanyudewisa1002@gmail.comKayla Salsabila Maharanisalsabilakayla2006@gmail.com<p>Perilaku seks bebas pada remaja merupakan salah satu ancaman serius yang berdampak buruk pada kesehatan fisik, psikologis, serta masa depan generasi muda. Kurangnya pemahaman yang benar mengenai kesehatan reproduksi sering kali menjadi pemicu utama meningkatnya risiko perilaku menyimpang tersebut. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk mengoptimalisasi literasi kesehatan reproduksi remaja sebagai upaya preventif terhadap perilaku seks bebas di SMAN 6 Kota Madiun. Mitra dalam kegiatan ini adalah siswa-siswi SMAN 6 Kota Madiun dengan jumlah peserta sebanyak 25 siswa. Metode pelaksanaan kegiatan meliputi tiga tahapan utama, yaitu: 1) tahap persiapan melalui koordinasi dan pemetaan awal (pre-test) yang dilakukan secara terbuka; 2) tahap pelaksanaan berupa penyampaian materi bahaya fisik, dampak dan resiko serta cara ampuh untuk mencegah terjadinya seks bebas serta 3) tahap evaluasi menggunakan post-test yang dilakukan melalui pemberian angket. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan literasi dan pemahaman siswa secara signifikan. Skor rata-rata pengetahuan siswa meningkat dari kurangnya pemahaman siswa terhadap materi seks bebas pada saat pre-test menjadikan para siswa mampu memahami dan manjabarkan mengenai seks bebas pada saat post-test. Selain itu, siswa menunjukkan sikap positif dan berkomitmen untuk menjaga kesehatan reproduksi serta menghindari perilaku berisiko. Kesimpulan dari kegiatan ini adalah edukasi kesehatan reproduksi yang optimal efektif membangun kesadaran preventif remaja dalam membentengi diri dari bahaya seks bebas.</p> <p><em>Free sex behavior among adolescents is a serious threat that has a negative impact on the physical and psychological health, as well as the future of the younger generation. A lack of proper understanding of reproductive health is often the main trigger for increasing the risk of this deviant behavior. This community service activity aims to optimize adolescent reproductive health literacy as a preventive effort against free sex behavior at SMAN 6 Kota Madiun. Partners in this activity are students of SMAN 6 Kota Madiun with a total of 25 students participating. The implementation method of the activity includes three main stages, namely: 1) the preparation stage through coordination and initial mapping (pre-test) which is carried out openly; 2) the implementation stage in the form of delivering material on physical dangers, impacts and risks as well as effective ways to prevent free sex; and 3) the evaluation stage using a post-test conducted through the administration of a questionnaire. The results of the activity showed a significant increase in student literacy and understanding. The average score of students' knowledge increased from a lack of students' understanding of free sex material during the pre-test, making students able to understand and explain free sex during the post-test. In addition, students demonstrated a positive attitude and commitment to maintaining reproductive health and avoiding risky behavior. The conclusion of this activity is that optimal reproductive health education is effective in building preventive awareness among adolescents in protecting themselves from the dangers of free sex.</em></p>2026-07-30T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilanghttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/24691PERILAKU PEMELIHARAAN KESEHATAN IBU NIFAS DALAM PERSPEKTIF BUDAYA MELAYU DI KELURAHAN KAMPUNG MESJID KECAMATAN KUALUH HILIR2026-07-27T07:48:08+00:00Yulia Rahmadaniyuliarahmadani0011@gmail.comReni Agustina Harahapreniagustina@uinsu.ac.idZuhrina Aidhazuhrinaaidha@uinsu.ac.idDewi Agustinadewiagustina@uinsu.ac.idKasron Nasutionkasron@uinsu.ac.id<p>Masa nifas merupakan masa pemulihan setelah persalinan yang berlangsung selama kurang lebih 42 hari dan memerlukan perawatan yang optimal untuk mencegah terjadinya komplikasi. Dalam masyarakat Melayu, perilaku pemeliharaan kesehatan ibu nifas masih dipengaruhi oleh nilai-nilai budaya dan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun. Berbagai praktik budaya seperti masa pantang, konsumsi jamu, penggunaan pilis, betangas, stagen atau gurita, pijat, serta pantangan makanan masih banyak dilakukan oleh ibu nifas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku pemeliharaan kesehatan ibu nifas dalam perspektif budaya Melayu di Kelurahan Kampung Mesjid Kecamatan Kualuh Hilir. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Melayu di Kelurahan Kampung Mesjid masih mempertahankan berbagai praktik budaya dalam pemeliharaan kesehatan ibu nifas, seperti menjalani masa pantang selama 40–44 hari, mengonsumsi jamu tradisional, menggunakan pilis, melakukan betangas, memakai stagen atau gurita, menjalani pijat tradisional, serta membatasi konsumsi beberapa jenis makanan dan aktivitas tertentu. Praktik-praktik tersebut diyakini dapat membantu proses pemulihan ibu nifas, namun beberapa di antaranya berpotensi memengaruhi pemenuhan kebutuhan gizi dan kesehatan apabila dilakukan secara berlebihan. Oleh karena itu, diperlukan peran tenaga kesehatan untuk memberikan edukasi agar praktik budaya yang dijalankan tetap sejalan dengan prinsip kesehatan.</p> <p><em>The postpartum period is a recovery phase after childbirth that lasts approximately 42 days and requires optimal care to prevent complications. In the Malay community, postpartum maternal health maintenance behaviors are still influenced by cultural values and traditions that have been passed down from generation to generation. Various cultural practices such as postpartum confinement, consumption of traditional herbal medicine, the use of pilis, betangas, abdominal binders (stagen or gurita), massage, and dietary restrictions are still commonly practiced by postpartum mothers. This study aimed to describe postpartum maternal health maintenance behaviors from the perspective of Malay culture in Kampung Mesjid Village, Kualuh Hilir District. This study employed a qualitative research method with a phenomenological approach. Data were collected through in-depth interviews, observations, and documentation. The results showed that the Malay community in Kampung Mesjid Village still maintains various cultural practices in postpartum health maintenance, including a 40–44 day confinement period, consumption of traditional herbal medicine, the use of pilis, betangas, abdominal binders, traditional massage, and restrictions on certain foods and activities. These practices are believed to support the mother's recovery process; however, some of them may affect nutritional intake and maternal health if practiced excessively. Therefore, the role of health workers is needed to provide education so that these cultural practices remain in harmony with modern health principles.</em></p>2026-07-30T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilanghttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/24020FAKTOR-FAKTOR ADMINISTRASI PEMICU DISPUTE KLAIM BPJS KESEHATAN DI FASILITAS KESEHATAN RUJUKAN TINGKAT LANJUTAN (FKRTL): LITERATURE REVIEW2026-07-08T10:53:27+00:00Ramadhanty Brillyantariramadhantydira@gmail.comDewi Purnamawatidewi.purnamawati@umj.ac.id<p>Pelaksanaan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di Indonesia mengharuskan adanya efisiensi dalam pengelolaan administrasi klaim pada setiap Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan (FKRTL). Namun, proses klaim yang kompleks sering kali memicu dispute atau pengembalian berkas oleh BPJS Kesehatan, yang berimplikasi pada gangguan arus kas dan efisiensi operasional rumah sakit. Kajian ini disusun sebagai literature review naratif-terstruktur dengan menelaah lebih dari 10 artikel yang relevan mengenai faktor-faktor administratif yang menjadi pemicu utama terjadinya dispute klaim BPJS Kesehatan di FKRTL serta memberikan implikasi manajerial bagi manajemen rumah sakit. Hasil Tinjauan literatur menunjukkan bahwa faktor administratif yang berperan sebagai pemicu dispute klaim mencakup: (1) rendahnya kualitas dan kelengkapan dokumentasi rekam medis oleh tenaga medis, (2) ketidakakuratan pengodean diagnosis (ICD-10) dan prosedur (ICD-9-CM), (3) keterbatasan kompetensi SDM di unit koding dan verifikasi, (4) hambatan pada integrasi sistem informasi manajemen (SIMRS) dengan aplikasi V-Claim, serta (5) minimnya kepatuhan terhadap regulasi dan Perjanjian Kerja Sama (PKS) yang dinamis. Review ini menyimpulkan bahwa Dispute klaim di FKRTL merupakan permasalahan yang memerlukan pendekatan manajemen terpadu. Implikasi manajerial yang krusial meliputi penguatan kolaborasi lintas profesi antara dokter dan koder, peningkatan kompetensi SDM melalui pelatihan berkelanjutan, digitalisasi sistem informasi yang seamless, serta penguatan mekanisme audit internal sebagai langkah mitigasi risiko finansial. Temuan ini menegaskan bahwa optimalisasi revenue cycle management melalui perbaikan administratif adalah prasyarat mutlak bagi keberlanjutan pelayanan kesehatan di era JKN.</p>2026-07-30T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilanghttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/23864EFEKTIVITAS EDUKASI PERSONAL HYGIENE INTERAKTIF TERHADAP PENGETAHUAN REMAJA PUTRI DI SMA KYAI AGENG BASYARIYAH KABUPATEN MADIUN2026-07-03T07:35:33+00:00Riska Ratnawatiriskaratnawati78@gmail.comAdhelia Wahyu Ahmadiadelwahyu65@gmail.comArdhila Gustiya Narendraniardhilagustiya13@gmail.comAz- Zahra Maya Kartikasarimaayyaakartika@gmail.comCintya Pinta Melindacintyapinta12@gmail.comNicholas David Setiawannicholasdavid1413@gmail.com<p>Rendahya pemahaman tentang kebersihan diri di kalangan remaja perempuan meningkatkan kemungkinan munculnya masalah kulit dan kesehatan lainnya, sedangkan program pendidikan yang fokus pada lingkungan sekolah dan interaksi sosial sehari-hari masih jarang tersedia secara menyeluruh. Kegiatan pengabdian masyarakat ini menilai efektivitas dari edukasi interaktif “Glow Up Inside Out: Membangun Gaya Hidup Bersih di Sekolah dan Tongkrongan” dalam meningkatkan pengetahuan dan kesadaran tentang kebersihan pribadi remaja putri di SMA Kyai Ageng Basyariyah Kabupaten Madiun, dilaksanakan pada 11 Juni 2026. Desain pre-post test kelompok diterapkan pada 15 peserta kelas XI (usia 16–18 tahun, data berpasangan), dengan intervensi meliputi ceramah interaktif, sesi tanya jawab berhadiah, serta pengukuran pengetahuan menggunakan kuesioner Google Form. Hasil menunjukkan pola yang bertentangan dengan asumsi awal: rata-rata skor pengetahuan justru berkurang dari 90,7% pada pre-test menjadi 84,0% pada post-test, sedangkan proporsi peserta yang menjawab benar semua pertanyaan tetap konsisten pada 73,3% di kedua pengukuran. Pencarian data individu menunjukkan bahwa penurunan skor kelompok tidak mencerminkan kegagalan intervensi, melainkan disebabkan oleh dua peserta yang memberikan jawaban tidak konsisten pada post-test diduga karena menurunnya konsentrasi menjelang istirahat siang, serta oleh efek langit-langit, di mana skor pre-test yang tinggi sejak awal membatasi kesempatan peningkatan secara statistik. Kepuasan peserta terhadap pelaksanaan kegiatan sangat memuaskan (rata-rata 4,83 dari skala 5), menunjukkan adanya kesenjangan antara penerimaan emosional dan capaian kognitif yang terukur. Penemuan ini menekankan bahwa evaluasi pendidikan kesehatan pada kelompok dengan pengetahuan dasar yang tinggi memerlukan alat yang lebih sensitif serta harus diperluas ke aspek sikap dan perilaku, bukan hanya sebatas pengetahuan kognitif.</p> <p><em>Low awareness of personal hygiene among adolescent girls increases the likelihood of skin problems and other health issues, while educational programs focusing on the school environment and daily social interactions remain rarely available on a comprehensive scale. This community service activity assessed the effectiveness of the interactive education program “Glow Up Inside Out: Building a Clean Lifestyle at School and Hangouts” in improving knowledge and awareness of personal hygiene among teenage girls at SMA Kyai Ageng Basyariyah, Madiun Regency, conducted on June 11, 2026. A pre-post test group design was applied to 15 participants from the 11th grade (aged 16–18 years, paired data), with the intervention comprising interactive lectures, a Q&A session with prizes, and knowledge measurement using a Google Form questionnaire. The results revealed a pattern that contradicted initial assumptions: the average knowledge score actually decreased from 90.7% on the pre-test to 84.0% on the post-test, while the proportion of participants who answered all questions correctly remained consistent at 73.3% in both measurements. An analysis of individual data showed that the decline in the group score did not reflect a failure of the intervention. Instead, it was caused by two participants who gave inconsistent answers on the post-test presumably due to declining concentration as lunchtime approached, as well as a ceiling effect, where initially high pre-test scores limited the potential for statistically significant improvement. Participant satisfaction with the implementation of the activity was highly positive (averaging 4.83 on a 5-point scale), indicating a gap between emotional reception and measurable cognitive achievement. These findings emphasize that evaluating health education in groups with high baseline knowledge requires more sensitive tools and should be expanded to include attitude and behavioral aspects, rather than being limited solely to cognitive knowledge.</em></p>2026-07-30T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilanghttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/24444HUBUNGAN TINGKAT STRES DENGAN KEJADIAN GASTROESOPHAGEAL REFLUX DISEASE (GERD) PADA MAHASISWA: LITERATURE REVIEW2026-07-20T02:46:30+00:00Angela Yoke Al Majidangelayokeal29@gmail.comAdinda Wahyu Permatasariadindawahyup27@gmail.com<p>Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) merupakan gangguan pencernaan yang ditandai dengan naiknya asam lambung ke esofagus yang dapat menurunkan kualitas hidup. Mahasiswa merupakan kelompok yang rentan mengalami GERD akibat berbagai faktor, terutama tingginya tingkat stres akademik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat stres dan kejadian GERD pada mahasiswa melalui kajian literatur terhadap 10 artikel ilmiah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 9 artikel (90%) melaporkan adanya hubungan yang signifikan antara tingkat stres dan GERD, sedangkan 1 artikel (10%) tidak menemukan hubungan yang signifikan.Kesimpulannya, tingkat stres yang lebih tinggi berhubungan dengan peningkatan risiko GERD pada mahasiswa, sehingga pengelolaan stres menjadi penting untuk mencegah GERD dan meningkatkan kualitas hidup. Oleh karena itu, institusi pendidikan perlu mendorong program manajemen stres dan penerapan gaya hidup sehat untuk mengurangi risiko terjadinya GERD.</p> <p><em>Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) is a digestive disorder characterized by the backflow of stomach acid into the esophagus, which can reduce quality of life. University students are particularly vulnerable to GERD due to various factors, especially high levels of academic stress. This study aimed to determine the relationship between stress levels and the incidence of GERD among students through a literature review of 10 scientific articles. The results showed that 9 articles (90%) reported a significant association between stress levels and GERD, while 1 article (10%) found no significant relationship. In conclusion, higher stress levels are associated with an increased risk of GERD among students, highlighting the importance of stress management in preventing GERD and improving quality of life. Therefore, educational institutions should promote stress-management programs and healthy lifestyles to reduce the risk of GERD</em></p>2026-07-30T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilanghttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/23971EDUKASI BAHAYA BEGADANG SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN KESADARAN KESEHATAN PADA SISWA KELAS XI SMA KYAI AGENG BASYARIAH2026-07-06T13:16:42+00:00Riska Ratnawatiriskaratnawati78@gmail.comAndita Margaretha Frisca Ningtyasandhitamargaretha@gmail.comMelani Amelia Nirmalamelaniamelia2005@gmail.comNur Hidayatul Mufidanhidayatulmufida@gmail.comNadia Ayu Pratiwina.pratiwii25@gmail.comNasywa Haura Azzahranaswanas763@gmail.com<p>Kebiasaan begadang masih sering terjadi pada remaja karena mereka menggunakan media sosial, bermain game online, menonton video, atau menyelesaikan tugas hingga tengah malam. Kebiasaan itu bisa memengaruhi kesehatan tubuh, kesehatan pikiran, kemampuan fokus belajar, serta hasil belajar akademik. Sebab itu, perlu dilakukan pendidikan kesehatan agar para siswa memahami betapa pentingnya menjaga kebiasaan tidur yang baik. Edukasi dilakukan pada hari Kamis, 11 Juni 2026 di SMA Kyai Ageng Basyariah, dan melibatkan 30 siswa laki-laki dari kelas XI. Pengajaran dilakukan dengan memberikan materi melalui media PowerPoint, kemudian dilanjutkan dengan diskusi, tanya jawab, dan pengecekan pemahaman berupa kuis online menggunakan aplikasi Blooket yang berisi 10 soal. Hasil penilaian menunjukkan bahwa peserta memahami materi dengan baik, dengan persentase jawaban yang benar mencapai 82%. Selain itu, peserta juga terlibat secara aktif selama acara berlangsung. Kegiatan pembelajaran ini membantu siswa memahami dampak dari kebiasaan begadang dan pentingnya menjaga pola tidur yang baik sebagai cara untuk menjaga kesehatan tubuh.</p> <p><em>Late-night habits remain common among adolescents due to the use of social media, playing online games, watching videos, or completing school assignments until midnight. These habits can negatively affect physical health, mental health, concentration, and academic performance. Therefore, health education is needed to increase students' awareness of the importance of maintaining healthy sleep habits. This educational activity was conducted on Thursday, June 11, 2026, at SMA Kyai Ageng Basyariah and involved 30 male students from Grade XI. The educational session was delivered using a PowerPoint presentation, followed by a discussion, a question-and-answer session, and an online quiz consisting of 10 questions through the Blooket application to assess students' understanding. The evaluation results showed that the participants demonstrated a good understanding of the material, with an average correct response rate of 82%. In addition, the participants actively engaged throughout the activity. This educational program helped students understand the negative impacts of staying up late and the importance of maintaining healthy sleep habits to support their overall health.</em></p>2026-07-30T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilanghttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/23790EFEKTIVITAS TEKNIK DISTRAKSI MUSIK KLASIK MOZART TERHADAP PENURUNAN SKALA NYERI PADA PASIEN FRAKTUR POST ORIF DI RUANG RAWAT INAP SADEWA 2 RSD K.R.M.T WONGSONEGORO SEMARANG2026-07-01T09:23:46+00:00Nury Setyorininuryseptyo@gmail.comMuhammad Jamaluddinjamaluddin@stikesyahoedsmg.ac.id<p>Fraktur merupakan kondisi terputusnya kontinuitas tulang akibat trauma yang dapat menyebabkan nyeri, gangguan mobilitas, dan penurunan kemampuan fungsional. Salah satu penatalaksanaan fraktur adalah tindakan Open Reduction Internal Fixation (ORIF). Nyeri pascaoperasi ORIF menjadi masalah utama yang sering dialami pasien akibat kerusakan jaringan selama prosedur pembedahan. Selain terapi farmakologis, intervensi nonfarmakologis seperti terapi distraksi musik klasik Mozart dapat digunakan untuk membantu menurunkan intensitas nyeri. Musik Mozart memberikan efek relaksasi, mengalihkan perhatian pasien dari rasa nyeri, serta merangsang pelepasan hormon endorphin. Tujuan Penelitian: Mengetahui efektivitas terapi distraksi musik klasik Mozart terhadap penurunan skala nyeri pada pasien fraktur post ORIF di Ruang Rawat Inap Sadewa 2 RSD K.R.M.T. Wongsonegoro Semarang. Metode Penelitian: Jenis penelitian ini adalah studi kasus dengan pendekatan asuhan keperawatan medikal bedah. Subjek penelitian adalah pasien fraktur post ORIF yang diberikan intervensi terapi distraksi musik klasik Mozart sesuai prosedur. Pengukuran skala nyeri dilakukan sebelum dan sesudah pemberian terapi menggunakan Numeric Rating Scale (NRS). Hasil Penelitian: Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh pasien fraktur post ORIF mengalami penurunan intensitas nyeri setelah diberikan intervensi terapi musik klasik Mozart. Pada pasien 1 skala nyeri menurun dari 7 menjadi 5, pasien 2 dari skala 6 menjadi 4, dan pasien 3 dari skala 7 menjadi 5 berdasarkan Numeric Rating Scale (NRS). Selain itu, pasien tampak lebih rileks, lebih nyaman, tidak gelisah, serta menunjukkan peningkatan kemampuan mobilisasi secara bertahap dan melakukan aktivitas ringan dengan bantuan minimal. Simpulan: Penerapan terapi musik klasik Mozart pada pasien fraktur post ORIF selama tiga hari perawatan terbukti efektif sebagai intervensi keperawatan nonfarmakologis yang efektif untuk mengurangi nyeri, menurunkan kecemasan, meningkatkan kenyamanan, dan mendukung proses pemulihan pasien post ORIF.</p> <p><em>Fracture is a condition characterized by the disruption of bone continuity due to trauma, which can cause pain, impaired mobility, and decreased functional ability. One of the treatments for fractures is the Open Reduction Internal Fixation (ORIF) procedure. Postoperative pain following ORIF is a major problem commonly experienced by patients due to tissue damage during surgery. In addition to pharmacological therapy, non-pharmacological interventions such as Mozart classical music distraction therapy can be used to help reduce pain intensity. Mozart's music provides a relaxation effect, distracts patients from pain, and stimulates the release of endorphins. Research Objective: To determine the effectiveness of Mozart classical music distraction therapy in reducing pain intensity among post-ORIF fracture patients in the Sadewa 2 Inpatient Ward at K.R.M.T. Wongsonegoro Regional Hospital, Semarang. Methods: This study employed a case study design using a medical-surgical nursing care approach. The subjects were post-ORIF fracture patients who received Mozart classical music distraction therapy according to the established procedure. Pain intensity was measured before and after the intervention using the Numeric Rating Scale (NRS). Results: The results showed that all post-ORIF fracture patients experienced a reduction in pain intensity after receiving Mozart classical music therapy. Patient 1's pain score decreased from 7 to 5, Patient 2's from 6 to 4, and Patient 3's from 7 to 5 based on the Numeric Rating Scale (NRS). In addition, patients appeared more relaxed, comfortable, less anxious, and demonstrated gradual improvements in mobility, including performing light activities with minimal assistance. Conclusion: The implementation of Mozart classical music therapy for post-ORIF fracture patients over three days of treatment was proven effective as a non-pharmacological nursing intervention to reduce pain, alleviate anxiety, improve comfort, and support the recovery process of post-ORIF patients.</em></p>2026-07-30T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilanghttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/24200HUBUNGAN BEBAN KERJA DENGAN TINGKAT BURNOUT PADA DOKTER UMUM DI INSTALASI GAWAT DARURAT (IGD): LITERATURE REVIEW2026-07-14T04:19:24+00:00Nisya Putri Ardianingrumnisyaaputri@gmail.comDewi Purnamawatidewi.purnamawati@umj.ac.id<p>Dokter umum yang bertugas di Instalasi Gawat Darurat (IGD) menghadapi tekanan kerja tinggi akibat volume pasien yang tidak terprediksi, tuntutan pengambilan keputusan cepat, rotasi shift, dan keterbatasan sumber daya rumah sakit. Kondisi ini menempatkan dokter umum IGD pada risiko tinggi mengalami burnout, yaitu sindrom psikologis akibat paparan kronis terhadap stresor pekerjaan yang ditandai oleh kelelahan emosional, depersonalisasi, dan penurunan pencapaian pribadi. Literature review naratif ini bertujuan mereview dan mensintesis 15 studi empiris dan tinjauan sistematis mengenai hubungan antara beban kerja dan tingkat burnout pada dokter dan tenaga medis di IGD, terdiri atas delapan studi internasional dan tujuh studi pada konteks Indonesia, guna merumuskan kerangka konsep untuk penelitian lanjutan pada dokter umum IGD. Penelusuran dilakukan pada basis data PubMed/MEDLINE, ScienceDirect, Google Scholar, serta repositori jurnal nasional terindeks SINTA dan Garuda, menggunakan kombinasi kata kunci workload, burnout, emergency physician, dan dokter IGD. Hasil sintesis terhadap 15 studi menunjukkan bahwa beban kerja kuantitatif maupun kualitatif pada umumnya berhubungan dengan tingkat burnout, dengan prevalensi burnout pada dokter dan tenaga medis IGD dilaporkan bervariasi antara 18% hingga lebih dari 70% tergantung instrumen dan populasi penelitian, meskipun satu studi pada populasi terbatas di Indonesia tidak menemukan hubungan yang signifikan secara statistik. Kerangka Job Demands-Resources (JD-R) memberikan penjelasan teoretis bahwa burnout muncul ketika tuntutan pekerjaan secara konsisten melebihi sumber daya yang tersedia bagi individu. Implikasi manajerial dari tinjauan ini menegaskan pentingnya intervensi tingkat organisasi, seperti pengaturan rasio dokter-pasien, manajemen shift, dan penguatan dukungan psikososial, sebagai strategi rumah sakit dalam mencegah burnout serta menjaga mutu dan keselamatan pelayanan gawat darurat.</p> <p><em>General practitioners working in the Emergency Department (ED) face high job pressure due to unpredictable patient volume, demands for rapid clinical decision-making, shift rotation, and limited hospital resources, placing them at high risk of burnout, a psychological syndrome characterized by emotional exhaustion, depersonalization, and reduced personal accomplishment. This narrative literature review aims to review and synthesize 15 empirical and systematic-review studies on the relationship between workload and burnout among physicians and healthcare workers in the ED, comprising eight international studies and seven studies from the Indonesian context, in order to propose a conceptual framework for further research on ED general practitioners. A search was conducted on PubMed/MEDLINE, ScienceDirect, Google Scholar, and SINTA/Garuda-indexed national journal repositories using combinations of the keywords workload, burnout, emergency physician, and dokter IGD. The synthesis of the 15 studies indicates that both quantitative and qualitative workload are generally associated with burnout level, with reported prevalence ranging from 18% to over 70% depending on the instrument and study population, although one study on a limited Indonesian population found no statistically significant association. The Job Demands-Resources (JD-R) framework explains that burnout emerges when job demands consistently exceed available resources. The managerial implications emphasize organizational-level interventions such as physician-to-patient ratio regulation, shift management, and psychosocial support to prevent burnout and maintain the quality and safety of emergency care.</em></p>2026-07-30T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilang