https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/issue/feed Jurnal Kesehatan Unggul Gemilang 2026-05-30T17:52:43+00:00 Open Journal Systems https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/21932 ANALISIS IMPLEMENTASI PELAYANAN PUBLIK BERBASIS APLIKASI JAMSOSTEK MOBILE (JMO) PADA BPJS KETENAGAKERJAAN DI KOTA PALANGKA RAYA 2026-05-18T05:03:31+00:00 Helda Yulia Arianti heldayuliaarianti@gmail.com Restu Marethya Pandra marethyapandra@gmail.com Peronika Simanjuntak peronika.simanjuntak@fisip.upr.ac.id Meilianna Devita Christina meilianna.devita@fisip.upr.ac.id <p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi pelayanan publik berbasis aplikasi Jamsostek Mobile (JMO) pada BPJS Ketenagakerjaan di Kota Palangka Raya. Transformasi digital melalui Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) mendorong instansi pemerintah untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik yang efektif, efisien, dan mudah diakses masyarakat. Aplikasi JMO hadir sebagai inovasi pelayanan digital yang memungkinkan peserta BPJS Ketenagakerjaan mengakses layanan secara mandiri, seperti pengecekan saldo, pengajuan klaim Jaminan Hari Tua (JHT), dan memperoleh informasi program tanpa harus datang langsung ke kantor. Namun, implementasi aplikasi ini masih menghadapi berbagai kendala, seperti rendahnya literasi digital masyarakat, keterbatasan akses jaringan internet, serta gangguan teknis pada aplikasi. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Pemilihan informan menggunakan teknik purposive sampling dengan mempertimbangkan keterlibatan dan pemahaman informan terhadap penggunaan aplikasi JMO. Analisis data dilakukan melalui tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai efektivitas implementasi aplikasi JMO serta menjadi bahan evaluasi dalam meningkatkan kualitas pelayanan publik berbasis digital di BPJS Ketenagakerjaan Kota Palangka Raya.</p> <p>This study aims to analyze the implementation of public services through the Jamsostek Mobile (JMO) application at BPJS Ketenagakerjaan in Palangka Raya City. Digital transformation through the Electronic-Based Government System (SPBE) encourages government institutions to improve the quality of public services that are effective, efficient, and easily accessible to the community. The JMO application is a digital service innovation that enables BPJS Ketenagakerjaan participants to independently access services, such as checking balances, submitting Old Age Security (JHT) claims, and obtaining program information without having to visit the office directly. However, the implementation of this application still faces several obstacles, including low digital literacy among the public, limited internet network access, and technical disruptions within the application. This study uses a qualitative research method with a descriptive approach. Data collection techniques were carried out through observation, in-depth interviews, and documentation. Informants were selected using purposive sampling techniques by considering their involvement and understanding of the use of the JMO application. Data analysis was conducted through data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The results of this study are expected to provide an overview of the effectiveness of the JMO application implementation and serve as evaluation material in improving the quality of digital-based public services at BPJS Ketenagakerjaan in Palangka Raya City.</p> 2026-05-30T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilang https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/21462 PENERAPAN TERAPI OKUPASI MENGGAMBAR TERHADAP KEMAMPUAN MENGONTROL HALUSINASI 2026-04-29T07:44:25+00:00 Pricilia Thresia Laturette threslaturette@gmail.com Dwi Indah Iswanty misskey.indah@yahoo.com <p>Latar Belakang: Halusinasi merupakan salah satu gejala positif skizofrenia yang sering muncul dan dapat mengganggu fungsi kognitif, emosi, serta perilaku pasien. Salah satu upaya nonfarmakologis untuk mengontrol halusinasi adalah terapi okupasi menggambar. Aktivitas menggambar memberikan kesempatan kepada pasien untuk mengekspresikan emosi, meningkatkan fokus, serta menurunkan respon terhadap stimulus halusinatf. Tujuan: Mengetahui efektivitas terapi okupasi menggambar dalam meningkatkan kemampuan mengontrol halusinasi pada pasien gangguan jiwa di ruang UPIP Kresna RSJD Dr. Amino Gondohutomo Semarang.. Metode penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus terhadap tiga pasien dengan diagnosis gangguan persepsi sensori: halusinasi pendengaran. Intervensi dilakukan selama tiga hari dengan durasi 20–45 menit setiap sesi. Pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi, dokumentasi, serta lembar penilaian kemampuan mengontrol halusinasi.. Hasil: Sebelum intervensi, seluruh responden berada pada tingkat halusinasi sedang hingga meningkat. Setelah intervensi terapi menggambar dilakukan selama tiga hari, ketiga responden menunjukkan penurunan intensitas halusinasi (100%). Pasien mampu menggunakan strategi mengontrol halusinasi berupa menghardik, bercakap-cakap, meminum obat teratur, dan melakukan aktivitas terjadwal. Kesimpulan: Terapi okupasi menggambar terbukti efektif dalam menurunkan tingkat halusinasi dan meningkatkan kemampuan kontrol diri pasien. Aktivitas ini dapat dijadikan intervensi nonfarmakologis pendukung dalam asuhan keperawatan jiwa.</p> <p><em>Background: Hallucinations are one of the positive symptoms of schizophrenia that frequently occur and can disrupt patients' cognitive, emotional, and behavioral functions. One of the non-pharmacological interventions that can help control hallucinations is occupational drawing therapy. Drawing activities allow patients to express emotions, improve focus, and reduce responses to hallucinatory stimuli. Objective: To determine the effectiveness of drawing occupational therapy in improving the ability to control hallucinations in psychiatric patients in the UPIP Kresna Ward at RSJD Dr. Amino Gondohutomo Semarang. Method This study used a descriptive qualitative method with a case study approach involving three patients diagnosed with sensory perception disturbance: auditory hallucinations. The intervention was carried out for three days, with each session lasting 20–45 minutes. Data were collected through interviews, observations, documentation, and assessment sheets measuring the patients’ ability to control hallucinations. Results: Before the intervention, all respondents experienced moderate to increased levels of hallucinations. After three drawing therapy sessions, all three respondents showed a decrease in hallucination intensity (100%) and were able to apply hallucination-control strategies such as commanding the hallucination to stop, talking to others, taking medication regularly, and engaging in scheduled activities. Conclusion: Drawing occupational therapy is effective in reducing hallucination intensity and improving patients’ self-control abilities. This activity can be used as a supportive non-pharmacological intervention in psychiatric nursing care.</em></p> 2026-05-30T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilang https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/21805 MAYER-ROKITANSKY-KÜSTER-HAUSER SYNDROME (MRKH) IN ADOLESCENTS: CHALLENGES IN DIAGNOSTIC AND HOLISTIC MANAGEMENT IN CLINICAL PRACTICE 2026-05-12T10:40:22+00:00 Irpan Wahid Karyanto irfwac@gmail.com Rusnaidi rusnaidi@usk.ac.id Hasanuddin hasan.spog@yahoo.co.id Munizar munizar.nb@gmail.com <p>Sindrom Mayer-Rokitansky-Küster-Hauser (MRKH) merupakan kelainan kongenital langka yang ditandai oleh agenesis atau hipoplasia uterus dan dua pertiga bagian atas vagina pada perempuan dengan fenotipe normal, ovarium fungsional, serta perkembangan karakter seksual sekunder yang normal. Kondisi ini umumnya terdeteksi pada masa remaja ketika pasien datang dengan keluhan amenore primer, yang dapat menimbulkan tantangan diagnostik sekaligus psikologis.Seorang anak perempuan berusia 15 tahun datang dengan keluhan belum pernah mengalami menstruasi tanpa adanya nyeri siklik. Pemeriksaan fisik menunjukkan genitalia eksterna normal dengan ukuran vagina yang pendek &lt; 1 cm, Hasil ultrasonografi pelvis memperlihatkan uterus sulit dinilai sehingga dicurigai adanya agenesis uterus. Pemeriksaan MRI pelvis tanpa kontras mengonfirmasi tidak tampaknya uterus dan serviks, dengan ovarium tampak normal di sisi lateral, sesuai dengan diagnosis sindrom MRKH tipe II. Tidak ditemukan kelainan ginjal maupun skeletal. Pasien disarankan menjalani terapi non-bedah berupa dilatasi vagina bertahap, dengan pilihan vaginoplasti bila tidak berhasil. Sindrom MRKH terjadi akibat kegagalan perkembangan duktus Müllerian selama masa embrional, menyebabkan agenesis uterovaginal meskipun fungsi ovarium dan profil hormonal tetap normal. MRI merupakan gold standar dalam penegakan diagnosis karena mampu memberikan visualisasi anatomi pelvis secara detail. Penatalaksanaan berfokus pada rekonstruksi vagina fungsional serta dukungan psikososial. Opsi fertilitas dapat dilakukan melalui teknologi reproduksi berbantu menggunakan oosit pasien dengan surrogate, atau transplantasi uterus yang masih bersifat eksperimental.Diagnosis dini sindrom MRKH melalui pendekatan multidisipliner dan berpusat pada pasien sangat penting untuk mengatasi tantangan anatomi, psikologis, dan reproduksi. Dukungan konseling komprehensif dan perawatan holistik berperan besar dalam meningkatkan kualitas hidup pasien.</p> 2026-05-30T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilang https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/21761 ANALISIS BAHAYA DAN PENGENDALIAN RISIKO PADA PEKERJA PENGHASIL KERUPUK OPAK MENGGUNAKAN JOB SAFETY ANALYSIS 2026-05-11T07:33:28+00:00 Talitha Zulaika thalitazulaikha1502@gmail.com Tri Niswati Utami guest@oaj.jurnalhst.com <p>Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) merupakan aspek penting yang sering diabaikan di industri rumahan seperti UDDK Kembar Jaya yang memproduksi kerupuk opak secara tradisional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi bahaya kerja dan pengendalian risikonya dengan menggunakan metode Job Safety Analysis (JSA). Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif melalui observasi dan wawancara terhadap pekerja pada lima tahapan proses produksi, yaitu pengupasan, pencucian, pengukusan, penggilingan-pencetakan, dan pengemasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pekerja menghadapi risiko seperti luka karena alat tajam, terpeleset, luka bakar, gangguan muskuloskeletal akibat postur kerja yang tidak ergonomis, serta minimnya penggunaan Alat Pelindung Diri (APD). Tidak adanya SOP dan pelatihan keselamatan kerja memperburuk kondisi tersebut. Melalui pendekatan JSA, langkah pengendalian risiko seperti eliminasi bahaya, substitusi, rekayasa teknik, kontrol administratif, dan penggunaan APD dapat diterapkan. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan JSA efektif untuk mengidentifikasi dan mengendalikan risiko kerja di industri skala kecil. Disarankan untuk perusahaan menyediakan SOP tertulis, pelatihan keselamatan kerja secara rutin, serta memperbaiki desain kerja agar sesuai prinsip ergonomi demi meningkatkan keselamatan dan kesejahteraan pekerja.</p> <p><em>Occupational Safety and Health (K3) is a crucial aspect that is often overlooked in small-scale industries such as UDD Kembar Jaya, which produces traditional lopak crackers. This study aims to analyze hazard and risk control in the workplace using the Job Safety Analysis (JSA) method. This study uses a qualitative approach through observation and interviews with workers in five production stages: peeling, washing, steaming, milling-forming, and packaging. The results show that workers are exposed to various risks such as injuries from sharp tools, slips, burns, and musculoskeletal injuries. Disorders due to poor posture, and a lack of Personal Protective Equipment (PPE). The absence of SOPs and safety training exacerbates these conditions. By using JSA, risk control measures such as elimination, substitution, engineering controls, administrative controls, and the use of PPE can be implemented. The conclusion shows that JSA is effective in identifying and controlling work-related risks in small industries. It is recommended that companies provide written SOPs, regular safety training, and economic improvements to improve worker safety and well-being. </em></p> 2026-05-30T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilang https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/22080 EVALUASI IMPLEMENTASI SISTEM PENDAFTARAN ONLINE TERHADAP EFISIENSI WAKTU TUNGGU PASIEN RAWAT JALAN DI RUMAH SAKIT 2026-05-21T10:00:48+00:00 Sri Hajijah Purba srihajijahpurba@uinsu.ac.id Salsabila Lubis salsabilalubis611@gmail.com Siti Rahmawati sitirahmawatii415@gmail.com Suci Ramadani Rangkuti suciramadhani6546@gmail.com Audy Vimala sari audyvimala@gmail.com <p>Latar Belakang : Waktu tunggu pelayanan rawat jalan merupakan salah satu indikator utama mutu pelayanan rumah sakit yang memiliki korelasi langsung terhadap kepuasan pasien. Penumpukan antrean fisik pada loket administrasi konvensional sering kali menjadi sumber inefisiensi operasional. Implementasi sistem pendaftaran daring (online) berbasis multi-platform merupakan salah satu langkah strategis transformasi digital kesehatan untuk mereduksi durasi tunggu tersebut. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk melakukan evaluasi sistematis terhadap efektivitas kebijakan implementasi pendaftaran daring dalam meningkatkan efisiensi waktu tunggu pasien rawat jalan, serta memetakan determinan keberhasilan dan hambatan implementasi berdasarkan model interaksi manusia, organisasi, dan teknologi. Metode: Penelitian ini menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) yang disusun mengikuti pedoman Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA). Pencarian naskah sekunder dilakukan secara komprehensif pada database elektronik bereputasi, meliputi Google Scholar, Garuda, PubMed, dan Scopus untuk artikel yang dipublikasikan dalam rentang tahun 2020–2025. Dari total 45 artikel yang diidentifikasi pada tahap awal, diperoleh 15 artikel final yang memenuhi seluruh kriteria inklusi dan eksklusi untuk diekstraksi dan disintesis secara kualitatif menggunakan teknik content analysis Hasil: Hasil sintesis literatur menunjukkan bahwa adopsi sistem pendaftaran digital melalui platform Mobile JKN, portal web internal rumah sakit, maupun integrasi WhatsApp API secara signifikan mampu mereduksi durasi waktu tunggu pasien hingga 40–60% dibandingkan metode konvensional. Penurunan durasi terjadi akibat pergeseran beban pendaftaran dari waktu pelayanan (on-site) ke pra-pelayanan (remote). Kendati demikian, efektivitas sistem ini belum merata akibat adanya hambatan struktural: interaksi teknologi yang belum sinkron dengan SIMRS (aspek teknologi), rendahnya literasi digital pada kelompok pasien geriatri (aspek manusia), serta keterbatasan komitmen pemeliharaan sistem dan anggaran dari pihak manajemen (aspek organisasi). Kesimpulan: Kebijakan pendaftaran online terbukti efektif memangkas birokrasi waktu tunggu klinis. Namun, keberlanjutan dan optimalisasi sistem memerlukan keselarasan yang dinamis (fit) antara peningkatan keandalan infrastruktur TI, penyediaan media edukasi yang inklusif bagi pasien, serta penguatan regulasi operasional internal faskes.</p> <p><em>Background : Outpatient waiting time is a fundamental indicator of hospital service quality that directly affects patient satisfaction. Physical crowding at conventional administration desks remains a major source of operational inefficiency. The implementation of multi-platform online registration systems serves as a strategic intervention within digital health transformation to reduce waiting durations. Objective: This study aims to systematically evaluate the effectiveness of online registration implementation on outpatient waiting time efficiency and map the determinants of success and implementation barriers through the human, organizational, and technological interaction model. Methods: This study employed a Systematic Literature Review (SLR) method aligned with the Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA) guidelines. A comprehensive secondary literature search was conducted across reputable electronic databases, including Google Scholar, Garuda, PubMed, and Scopus, focusing on articles published between 2020 and 2025. Out of 45 initially identified articles, 15 final studies met all strict inclusion and exclusion criteria to be extracted and qualitatively synthesized using content analysis. Results: The literature synthesis demonstrates that the adoption of digital registration systems via Mobile JKN, internal hospital web portals, and WhatsApp API integration significantly reduces patient waiting times by 40–60% compared to conventional methods. This reduction is driven by a shift in administrative load from on-site to remote pre-services. However, systematic effectiveness remains suboptimal due to structural barriers: unsynchronized technology with the Hospital Information System/SIMRS (technology aspect), low digital health literacy among geriatric patients (human aspect), and limited management commitment regarding system maintenance and budget allocations (organizational aspect). Conclusion: Online registration policies are highly effective in streamlining clinical waiting time processes. Nevertheless, sustainable optimization requires a dynamic alignment (fit) between upgrading IT infrastructure reliability, providing inclusive educational support for patients, and strengthening internal hospital operational policies.</em></p> 2026-05-30T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilang https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/21706 TINJAUAN LITERATURE REVIEW: STRATEGI INOVATIF PEMBERDAYAAN REMAJA DALAM MENCEGAH PERNIKAHAN DINI DAN KEHAMILAN REMAJA 2026-05-08T07:59:30+00:00 Oktaviani Rosari vanirosari@gmail.com Patrisia Destriani destrianipatrisia22@gmail.com Rofina Kurniati Ihul rofinakurniatiihul@gmail.com Yasinta Paskalina Jelu acyinjelu@gmail.coom Roselina mulia sastri roselinamuliasastri@gmail.com Prisilia Kurniawati Mbing prisiliambing5@gmail.com Theresia Putri Andini thresiaputriandini@gmail.com Reineldis E Trisnawati reineldys@gmail.com Makrina sedista Manggul manggulsedista077@gmail.com <p>Pendahuluan: Angka pernikahan dini dan kehamilan remaja di Indonesia terutama di perkotaan maupun perdesaan&nbsp; masih memprihatinkan dan berdampak serius pada kesehatan fisik, psikologis, serta keberlanjutan pendidikan remaja perempuan.Data Badan Pusat Statistik (2023) mencatat bahwa sekitar 1 dari 9 remaja perempuan Indonesia pernah menikah sebelum usia 18 tahun, dengan variasi prevalensi yang signifikan antara wilayah urban dan rural. Di perkotaan, kompleksitas masalah dipengaruhi oleh derasnya arus informasi digital yang tidak selalu disertai literasi kesehatan reproduksi yang memadai, serta pergeseran nilai sosial akibat modernisasi. Sementara di perdesaan, tantangan utama bersumber dari kuatnya pengaruh norma adat dan budaya patriarkal, keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan dan pendidikan, serta kondisi ekonomi keluarga yang mendorong praktik pernikahan usia anak sebagai solusi instan. Tujuan : Mengevaluasi efektivitas intervensi peer educator melalui remaja influencer media sosial dalam meningkatkan pengetahuan, mengubah persepsi, dan mendorong komitmen penundaan pernikahan dini pada remaja putri di wilayah perkotaan dan pedesaan Indonesia berdasarkan sintesis bukti penelitian yang ada.Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan desain studi literatur sistematis. Proses peninjauan mengikuti pedoman PRISMA (Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses) untuk memastikan transparansi dan ketelitian. Pencarian komprehensif dilakukan di empat basis data elektronik: PubMed, Scopus, Google Scholar, dan Garuda (Garba Rujukan Digital). Strategi pencarian menggunakan kombinasi kata kunci yang meliputi "pernikahan dini," "kehamilan remaja," "pendidik sebaya," "influencer media sosial," "pendidikan kesehatan remaja," dan "Indonesia." Kriteria inklusi meliputi: (1) artikel yang telah melalui peer review dan diterbitkan antara tahun 2018 hingga 2024, (2) penelitian yang dilakukan di Indonesia atau memiliki relevansi dengan konteks Indonesia, (3) penelitian yang berfokus pada intervensi atau strategi terkait pencegahan pernikahan dini, dan (4) artikel yang tersedia dalam teks lengkap. Sebanyak 347 artikel awalnya diidentifikasi, dan setelah melalui penyaringan untuk duplikasi, relevansi, dan penilaian kualitas menggunakan daftar periksa CASP (Critical Appraisal Skills Programme), 28 artikel dimasukkan dalam sintesis akhir. Data diekstraksi menggunakan formulir terstandar dan dianalisis menggunakan sintesis tematik untuk mengidentifikasi pola-pola kunci, strategi intervensi, dan hasil efektivitas. Hasil: Sintesis literatur mengungkapkan bahwa intervensi peer educator melalui influencer media sosial menunjukkan efektivitas yang menjanjikan dalam mengatasi pernikahan dini di kalangan remaja Indonesia. Studi-studi yang ditinjau menunjukkan bahwa pengetahuan tentang risiko pernikahan dini meningkat secara signifikan setelah terpapar konten yang dipimpin influencer, dengan ukuran efek berkisar dari sedang hingga besar (Cohen's d antara 0,6 hingga 1,2). Pergeseran persepsi mengenai pentingnya pendidikan di atas pernikahan dini secara konsisten dilaporkan dalam 22 dari 28 studi. Komitmen untuk menunda pernikahan diidentifikasi sebagai hasil utama dalam 19 studi, dengan peningkatan yang dilaporkan berkisar antara 35% hingga 78% di antara partisipan intervensi dibandingkan dengan kelompok kontrol. Lima faktor kunci keberhasilan secara konsisten diidentifikasi di seluruh literatur: (1) hubungan emosional parasosial dengan influencer, (2) konten yang relevan secara budaya dan bahasa, (3) integrasi kearifan lokal dan tokoh masyarakat, (4) fitur interaktif yang memungkinkan diskusi sebaya, dan (5) keterlibatan berkelanjutan dari waktu ke waktu. Khususnya, studi yang dilakukan dalam konteks pedesaan melaporkan efek yang lebih kuat ketika intervensi menggabungkan tokoh adat dan bahasa daerah. Tinjauan ini juga mengidentifikasi kesenjangan dalam literatur, termasuk terbatasnya studi longitudinal dan kurangnya ukuran hasil yang terstandar. Kesimpulan: Kesimpulan: Berdasarkan tinjauan sistematis terhadap bukti yang ada, intervensi peer educator melalui influencer media sosial efektif dalam meningkatkan pengetahuan, mengubah persepsi, dan mendorong komitmen penundaan pernikahan dini pada remaja putri di konteks perkotaan dan pedesaan Indonesia. Model ini selaras dengan rekomendasi UNESCO (2022) tentang pemanfaatan teknologi digital untuk pendidikan kesehatan remaja. Sintesis bukti mendukung integrasi pendidikan sebaya berbasis influencer ke dalam kebijakan dan program nasional yang bertujuan untuk mempercepat penurunan angka pernikahan dini. Namun, penelitian lebih lanjut dengan desain yang ketat dan hasil yang terstandar diperlukan untuk memperkuat basis bukti dan memandu implementasi dalam skala yang lebih luas</p> <p><em>Introduction: Early marriage and teenage pregnancy remain serious problems in Indonesia, both in urban and rural areas. BPS (2023) data records that 1 in 9 adolescent girls marry before the age of 18. Challenges in urban areas relate to the lack of reproductive health literacy amidst the flow of digital information, while in rural areas, it is influenced by strong customary norms, limited access to health services, and economic conditions. Conventional educational approaches have not been optimal in reaching adolescents, thus innovation is needed, such as utilizing teenage influencers as peer educators. Purpose: To evaluate the effectiveness of peer educator interventions through teenage social media influencers in increasing knowledge, changing perceptions, and encouraging commitment to delaying early marriage among adolescent girls in urban and rural areas of Indonesia based on a synthesis of existing research evidence. Method: This study employed a systematic literature review design. The review process followed the PRISMA (Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses) guidelines to ensure transparency and rigor. A comprehensive search was conducted across four electronic databases: PubMed, Scopus, Google Scholar, and Garuda (Garba Rujukan Digital). The search strategy used a combination of keywords including "early marriage," "teenage pregnancy," "peer educator," "social media influencer," "adolescent health education," and "Indonesia." The inclusion criteria were: (1) peer-reviewed articles published between 2018 and 2024, (2) studies conducted in Indonesia or with relevance to the Indonesian context, (3) research focusing on interventions or strategies related to early marriage prevention, and (4) articles available in full text. A total of 347 articles were initially identified, and after screening for duplicates, relevance, and quality assessment using the Critical Appraisal Skills Programme (CASP) checklist, 28 articles were included in the final synthesis. Data were extracted using a standardized form and analyzed using thematic synthesis to identify key patterns, intervention strategies, and effectiveness outcomes. Result: The literature synthesis revealed that peer educator interventions through social media influencers demonstrate promising effectiveness in addressing early marriage among Indonesian adolescents. The reviewed studies showed that knowledge about the risks of early marriage increased significantly following exposure to influencer-led content, with effect sizes ranging from moderate to large (Cohen's d between 0.6 to 1.2). Perceptual shifts regarding the importance of education over early marriage were consistently reported across 22 of the 28 studies. Commitment to delaying marriage was identified as a key outcome in 19 studies, with reported increases ranging from 35% to 78% among intervention participants compared to control groups. Five key success factors were consistently identified across the literature: (1) emotional parasocial relationships with influencers, (2) culturally and linguistically relevant content, (3) integration of local wisdom and community figures, (4) interactive features enabling peer discussion, and (5) sustained engagement over time. Notably, studies conducted in rural contexts reported stronger effects when interventions incorporated traditional leaders and local languages. The review also identified gaps in the literature, including limited longitudinal studies and a lack of standardized outcome measures. Conclusion: Based on a systematic review of existing evidence, peer educator interventions through social media influencers are effective in increasing knowledge, changing perceptions, and encouraging commitment to delaying early marriage among adolescent girls in both urban and rural Indonesian contexts. This model aligns with UNESCO's (2022) recommendation on utilizing digital technology for adolescent health education. The synthesis of evidence supports the integration of influencer-based peer education into national policies and programs aimed at accelerating the reduction of early marriage. However, further research with rigorous designs and standardized outcomes is needed to strengthen the evidence base and guide implementation at scale</em></p> 2026-05-30T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilang https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/21992 FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI KEPUASAN PASIEN BPJS DI PUSKESMAS SIMPANG LIMUN PROVINSI SUMATERA UTARA 2026-05-19T10:20:26+00:00 Astrid Novitri Ramadhani Hasibuan astriddani802@gmail.com Wahyudi apt.wahyudi@uinsu.ac.id <p>Kepuasan pasien BPJS di Puskesmas merupakan aspek krusial dalam menilai kualitas pelayanan kesehatan yang diberikan oleh fasilitas kesehatan tingkat pertama. Ketidakpuasan pasien dapat berdampak pada rendahnya kepercayaan terhadap layanan BPJS, peningkatan keluhan, serta kecenderungan pasien untuk mencari layanan di tempat lain, yang dapat membebani fasilitas kesehatan lainnya. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi kepuasan Pasien BPJS di Puskesmas Simpang Limun Provinsi Sumatera Utara. Penelitian ini memakai metode penelitian kuantitatif dengan desain penelitian survei analitik serta rancangan cross sectional study guna menganalisis faktor yang pengaruhi kepuasan pasien BPJS pada satu waktu tertentu. Data dikumpulkan menggunakan instrumen kuesioner. Responden penelitian ini adalah 100 pasien BPJS. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya pengaruh 5 dimensi service quality secara simultan terhadap kepuasan pasien BPJS. Dan juga dimensi service quality punya pengaruh secara parsial pada kepuasan BPJS. Dengan variabel tangible menunjukkan nilai sig 0,009, variabel reliability, responsiveness, assurance, empahty menunjukkan nilai sig 0.000. Nilai R Square sebesar 0,944 yang membuktikan semua variabel yang diteliti pada penelitian ini memberikan besar pengaruhnya sebesar 94,4% terhadap kepuasan pasien.</p> <p style="margin: 0in; margin-bottom: .0001pt; text-align: justify;"><span lang="EN-ID" style="font-size: 11.0pt;">The satisfaction of BPJS patients at the community health center is a crucial aspect in assessing the quality of healthcare services provided by primary healthcare facilities. Patient dissatisfaction can lead to low trust in BPJS services, an increase in complaints, and a tendency for patients to seek services elsewhere, which can burden other healthcare facilities. This study aims to analyze the factors influencing BPJS patient satisfaction at the Simpang Limun community health center in North Sumatra province. This research employs a quantitative research method with an analytical survey design and a cross-sectional study design to analyze the factors affecting BPJS patient satisfaction at a specific point in time. Data were collected using a questionnaire instrument. The respondents of this study were 100 BPJS patients. The results of this study indicate that the 5 dimensions of service quality have a simultaneous effect on BPJS patient satisfaction. And also the dimension of service quality has a partial effect on BPJS satisfaction. The tangible variable shows a significance value of 0.009, while the variables of reliability, responsiveness, assurance, and empathy show a significance value of 0.000. The R Square value is 0.944, indicating that all the variables studied in this research have a significant influence of 94.4% on patient satisfaction.</span></p> 2026-05-30T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilang https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/21470 PENGARUH NATPP DAN KITOSAN DALAM PEMBENTUKAN NANOPARTIKEL KAFEIN DARI TEH HITAM (CAMELLIA SINENSIS (L.) KUNTZE) KAYU ARO KERINCI DENGAN MENGGUNAKAN METODE GELASI IONIK 2026-04-29T09:33:35+00:00 Bettya Untari bettyfarma752@gmail.com Ruri Putri Mariska guest@jurnalhst.com M. Henityo Agung As’adi guest@jurnalhst.com <p>Teh hitam mengandung kafein yang berkhasiat sebagai stimulan sistem saraf pusat dan mempercepat metabolisme (diuretik). Konsumsi kafein berguna untuk meningkatkan kewaspadaan, menghilangkan kantuk dan menaikkan mood. Menurut SNI 01-7152-2006 batas maksimum kafein dalam makanan dan minuman adalah 150 mg/hari dan 50 mg/sajian. Namun, konsumsi kafein dalam jumlah berlebihan juga dapat menimbulkan efek samping..Tujuan pembuatan nanopartikel kafein pada penelitian ini untuk menargetkan kerja kafein pada <em>site of action</em> yang spesifik, mengubah parameter farmakokinetik, mengurangi frekuensi pemberian dosis, mengontrol pelepasan obat dan perbaikan pada stabilitas sediaan. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah Gelasi Ionik. Dalam penelitian ini dilakukan ekstraksi, isolasi dan identifikasi kafein dari teh hitam. Dari 100 gram teh hitam diperoleh kristal kafein sebanyak 0,069 gram atau sekitar 0,348%. Hasil identifikasi kemurnian kafein hasil isolasi dengan spektrofotometer uv-vis dan kromatografi lapis tipis (KLT) menunjukkan bahwa kafein yang diperoleh memiliki karakteristik yang mirip dengan kafein standar. Preparasi nanopartikel kafein dilakukan menggunakan metode gelasi ionik dengan polimer NaTPP dan Kitosan serta Tween 80 sebagai <em>stabilizer</em>. Formulasi dibuat dengan beberapa variasi konsentrasi polimer. Hasil karakterisasi nanopartikel menggunakan PSA (<em>Particle Size Analyzer</em>) pada semua formula memunjukkan hasil yang baik dimana termasuk dalam rentang nanopartikel 1-1000 nm. Namun, formula terbaik yaitu pada formula 1 dengan ukuran nanopartikel 83,91 nm dan nilai <em>Polydispersity Indeks</em> (PDI) yaitu 0,3867 serta hasil uji zeta potential mendapatkan hasil 8,041 mV.</p> <p><em>Black tea contains caffeine which is effective as a central nervous system stimulant and speeds up metabolism (diuretic). Consuming caffeine is useful for increasing alertness, eliminating drowsiness and improving mood. According to SNI 01-7152-2006 the maximum limit for caffeine in food and drinks is 150 mg/day and 50 mg/serving. However, consuming excessive amounts of caffeine can also cause side effects.The aim of making caffeine nanoparticles in this research is to target the action of caffeine at a specific site of action, change pharmacokinetic parameters, reduce dosing frequency, control drug release and improve dosage stability. The method used in this research is Ionic Gelation. In this research, extraction, isolation and identification of caffeine from black tea were carried out. From 100 grams of black tea, 0.069 grams of caffeine crystals or around 0.348% are obtained. The results of identifying the purity of isolated caffeine using a UV-vis spectrophotometer and thin layer chromatography (TLC) show that the caffeine obtained has characteristics similar to standard caffeine. Caffeine nanoparticle preparation was carried out using the ionic gelation method with NaTPP polymer and Chitosan and Tween 80 as a stabilizer. Formulations are made with several variations in polymer concentration. The results of nanoparticle characterization using PSA (Particle Size Analyzer) for all formulas showed good results which were included in the 1-1000 nm nanoparticle range. However, the best formula is formula 1 with a nanoparticle size of 83.91 nm and a Polydispersity Index (PDI) value of 0.3867 and the zeta potential test results obtained a result of 8.041 mV. </em></p> 2026-05-30T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilang https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/21882 HUBUNGAN HIPERTENSI DENGAN STROKE ISKEMIK BERULANG DIRUANGAN MELATI RUMAH SAKIT TINGKAT II DR. SOEDJONO MAGELANG 2026-05-16T09:12:20+00:00 Linda Arum Safitri lindaarumsafitri30@gmqil.com Umi Farida Umifaridah@umkudus.ac.id Sri Siska Mardiana srisiska@umkudus.ac.id <p>Stroke iskemik berulang merupakan salah satu penyebab utama kecacatan dan kematian pada pasien neurologi. Hipertensi diketahui sebagai faktor risiko paling dominan yang berperan dalam terjadinya stroke iskemik berulang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan hipertensi dengan kejadian stroke iskemik berulang di Ruangan Melati Rumah Sakit Tingkat II dr. Soedjono Magelang.</p> <p>Metode penelitian menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian diambil menggunakan teknik purposive sampling pada pasien stroke iskemik yang dirawat di Ruangan Melati Rumah Sakit Tingkat II dr. Soedjono Magelang. Data diperoleh melalui rekam medis dan lembar observasi, kemudian dianalisis menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki riwayat hipertensi dan mengalami stroke iskemik berulang. Analisis statistik menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara hipertensi dengan kejadian stroke iskemik berulang dengan nilai p &lt; 0,05. Kesimpulan penelitian ini adalah hipertensi memiliki hubungan yang signifikan terhadap kejadian stroke iskemik berulang. Pengendalian tekanan darah secara rutin dan kepatuhan pengobatan hipertensi sangat penting untuk mencegah terjadinya stroke berulang.</p> <p>Recurrent ischemic stroke is one of the leading causes of disability and mortality among neurological patients. Hypertension is known as the most dominant risk factor contributing to recurrent ischemic stroke. This study aimed to determine the relationship between hypertension and recurrent ischemic stroke in the Melati Ward at Level II Hospital dr. Soedjono Magelang. This study used an observational analytic design with a cross-sectional approach. The samples were selected using purposive sampling among ischemic stroke patients treated in the Melati Ward at Level II Hospital dr. Soedjono Magelang. Data were collected through medical records and observation sheets, then analyzed using the chi-square test. The results showed that most respondents had a history of hypertension and experienced recurrent ischemic stroke. Statistical analysis indicated a significant relationship between hypertension and recurrent ischemic stroke incidence with a p-value &lt; 0.05.</p> <p>The conclusion of this study is that hypertension has a significant relationship with recurrent ischemic stroke. Routine blood pressure control and adherence to hypertension treatment are essential in preventing recurrent stroke.</p> 2026-05-30T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilang https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/21765 A RARE CASE OF OVARIAN ECTOPIC PREGNANCY WITH IUD IN SITU: A CASE REPORT 2026-05-11T08:14:31+00:00 Sofie Devianti Wahyudi sofibw@yahoo.com Rusnaidi guest@jurnalhst.com Hasanuddin guest@jurnalhst.com Sarah Ika guest@jurnal.hst.com <p>Latar belakang: Kehamilan ektopik didefinisikan sebagai implantasi sel telur di luar rahim. Komplikasi perdarahan yang melekat pada implantasi ektopik ini dapat mengancam jiwa. Kasus: Seorang wanita berusia 28 tahun datang dengan nyeri di perut bagian bawah dirasakan sejak 2 hari. Keluhan keluar darah dari vagina juga dirasakan sejak 1 minggu. Keluhan ini dirasakan pertama kali. Pasien mengaku hamil 2 bulan. Pasien menggunakan Kontrasepsi IUD (Intra Uterine Device) sejak 7 bulan.&nbsp; Pemeriksaan fisik dan penunjang menunjukkan kecurigaan terhadap kehamilan ektopik di ovarium. Operasi laparotomi darurat dilakukan. Pasien diobservasi selama dua hari pasca operasi dengan hasil yang luar biasa. Kesimpulan: Kehamilan ektopik jarang terjadi dan menimbulkan tantangan diagnostik bagi dokter karena terjadi di tempat di luar rongga rahim, namun biasanya di tempat yang berdekatan. Tingkat keparahan patologi ini terletak pada komplikasi hemoragiknya. Penatalaksanaan kehamilan ektopik telah berubah selama 20 tahun terakhir karena beberapa perkembangan penting. Pasien yang menjalani perawatan laparoskopi pada kehamilan ektopik umumnya memerlukan rawat inap kurang dari dua hari, seperti yang ditunjukkan dalam kasus ini. Pendekatan baru seperti bedah laparoskopi dapat memberikan hasil yang lebih baik, masa rawat inap yang lebih singkat, dan perbaikan yang lebih cepat.</p> 2026-05-30T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilang https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/21752 LACTOCOCCUS GARVIEAE AND FUNGAL CO-INFECTION FINDINGS IN WOMEN WITH PELVIC INFLAMMATORY DISEASE, INFERTILITY, BILATERAL TUBAL OBSTRUCTION, HYDROSALPINX, AND OVARIAN CYST 2026-05-10T12:41:04+00:00 Amal Bahrum Penas amalbahrumpenas@gmail.com Rusnaidi guest@sejurnal.com Sarah Ika guest@sejurnal.com Yusra Septivera guest@sejurnal.com <p><em>Introduction: Pelvic Inflammatory Disease (PID) is an ascending infection of the female upper genital tract, including the uterus, fallopian tubes, and other pelvic structures. It is a significant cause of reproductive morbidity, where recurrent or untreated PID episodes may lead to infertility. While the primary pathogens are Chlamydia trachomatis and Neisseria gonorrhoeae, polymicrobial infections involving anaerobic bacteria and atypical pathogens, such as Lactococcus garvieae, have emerged. L. garvieae, previously recognized as a pathogen in fish and livestock, is now identified as a cause of systemic and genitourinary infections in humans, including PID. Case Presentation: This report presents a case of PID caused by Lactococcus garvieae and Candida infection in a 25-year-old woman with bilateral tubal obstruction, hydrosalpinx, and ovarian cyst, resulting in infertility. The patient experienced chronic pelvic pain, dysmenorrhea, and a palpable abdominal mass. Transvaginal ultrasonography revealed a unilocular cystic mass in the right ovary with a ground-glass appearance, suggesting endometriosis. Laparoscopic findings confirmed a left ovarian cyst with dense adhesions, bilateral hydrosalpinx, and tubal obstruction. Microbiological examination identified L. garvieae and Candida species. Discussion:&nbsp; This case highlights the importance of considering atypical pathogens in PID diagnosis. Lactococcus garvieae, although uncommon, can lead to significant reproductive complications. Comprehensive diagnostic and therapeutic approaches are crucial in managing such infections to prevent long-term fertility issues. Conclusion: The identification of L. garvieae as an etiological agent in PID underscores the need for heightened clinical awareness. Early recognition and tailored therapy are essential to mitigate the risk of chronic pelvic adhesions and infertility. </em></p> 2026-05-30T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilang https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/22018 STRATEGI PENINGKATAN MUTU PELAYANAN KESEHATAN DI PUSKESMAS: SYSTEMATIC LITERATURE REVIEW 2026-05-20T05:45:35+00:00 Sri Hajijah Purba srihajijah20@gmail.com Aprillia Dwi Astuti apriliadwiastuti03@gmail.com Sry Wulan Silaban srywulansilaban19@gmail.com Khairunnisa Afriani kharunnisaafriani@gmail.com Ajeng Andini ajengandini734@gmail.com <p>Peningkatan kualitas layanan kesehatan di Puskesmas adalah aspek penting dalam memperkuat sistem pelayanan kesehatan primer di Indonesia. Tantangan yang bervariasi seperti kurangnya tenaga kerja, belum maksimalnya penggunaan teknologi informasi, serta akreditasi yang belum merata masih berdampak pada mutu layanan kesehatan. Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi berbagai pendekatan yang diterapkan dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan di Puskesmas melalui tinjauan literatur sistematis. Metode penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif melalui studi literatur sistematis yang mengacu pada pedoman PRISMA, dengan penilaian kualitas artikel menggunakan adaptasi CASP Checklist. Pencarian dilaksanakan menggunakan tiga database (Google Scholar, PubMed, dan Semantic Scholar) dengan rentang publikasi 2022–2025 dari 235 artikel yang awalnya ditemukan, terpilih 15 artikel yang sesuai dengan kriteria inklusi. Hasil penelitian mengindikasikan bahwa perbaikan kualitas layanan kesehatan dipengaruhi oleh penguatan layanan dasar, penggunaan teknologi digital kesehatan, peningkatan kemampuan tenaga kesehatan, kepemimpinan organisasi, pelaksanaan akreditasi, serta strategi manajemen mutu seperti PDCA, TQM, dan POCQI. Namun, pelaksanaan strategi tersebut masih terhambat oleh disparitas infrastruktur, kesiapan sumber daya manusia, dan integrasi kebijakan yang belum optimal. Studi ini memberikan kontribusi dengan mengintegrasikan enam dimensi strategis pelayanan primer, yaitu teknologi, SDM, kepemimpinan, akreditasi, dan manajemen mutu dalam sebuah kerangka analisis menyeluruh yang belum pernah dilakukan secara terpadu dalam penelitian sebelumnya.</p> <p><em>Enhancing the quality of healthcare services in Community Health Centers (Puskesmas) is a vital component of reinforcing the primary healthcare framework in Indonesia. Multiple issues, such as insufficient human resources, poor use of information technology, and inconsistent accreditation application, persistently affect the quality of healthcare services. This research sought to determine methods for enhancing healthcare service quality in Puskesmas by utilizing a systematic literature review approach aligned with the PRISMA framework, with article quality assessed using an adapted CASP Checklist. Searches were conducted across three databases (Google Scholar, PubMed, and Semantic Scholar) for articles published from 2022 to 2025 out of an initial collection of 235 articles, 15 satisfied the criteria for inclusion in the analysis. The results indicated that enhancing healthcare quality is impacted by bolstering primary healthcare services, adopting digital health technologies, advancing healthcare workforce skills, providing effective organizational leadership, employing accreditation methods, and utilizing quality management approaches like PDCA, TQM, and POCQI. Nonetheless, the execution of these strategies is still limited by infrastructure disparities, preparedness of human resources, and inadequate policy integration. This research contributes by integrating six strategic dimensions primary care, technology, human resources, leadership, accreditation, and quality management into one comprehensive analytical framework that has not been systematically synthesized in earlier reviews.</em></p> 2026-05-30T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilang https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/21695 INOVASI PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DALAM MENGATASI KETIMPANGAN GENDER PADA PROGRAM KELUARGA BERENCENA DI MASYARAKAT LUJANG DESA PONG LENGOR 2026-05-07T12:02:25+00:00 Yopiana Archangela Adur yopianaarchangelaadur@gmail.com Patrisiana Efrin patrisianaefrinn@gmail.com Sophia Ketriny Jemimu shopiaketringjemima@gmail.com Rofina Sanung Rofinasanung@gmail.com Oktaviana Rosari Awus noyapampung99@gmail.com Yunita Nani cilimimor@gmail.com Wilfrida Sarina wilfridasarinagamu@gmail.com Reineldis Trisnawati reineldys@gmail.com <p>Keluarga berencana (KB) merupakan salah satu program yang digagas pemerintah guna mewujudkan kesejahteraan keluarga melalui pengaturan serta perencanaan kehamilan. Program ini berfungsi sebagai sarana bagi setiap keluarga dalam merancang terbentuknya keluarga yang ideal, yakni keluarga dengan jumlah anggota yang tidak terlalu banyak, harmonis, dan hidup sejahtera. Namun hingga kini, pelaksanaan program KB di Indonesia dinilai belum sepenuhnya mempertimbangkan dimensi kesetaraan gender, karena pelayanan KB masih lebih banyak berfokus pada perempuan. Tujuan: Kegiatan ini bertujuan memberdayakan warga Kampung Lujang dengan menyampaikan bahwa penggunaan kontrasepsi bukan semata-mata tanggung jawab perempuan, melainkan laki-laki pun berhak dan perlu terlibat. Di samping itu, perempuan juga berhak memiliki suara dalam setiap pengambilan keputusan yang menyangkut urusan rumah tangga. Metode Penelitian: Pendekatan yang diterapkan dalam kegiatan ini berupa edukasi berbasis presentasi PowerPoint yang membahas tema pemberdayaan perempuan dalam konteks ketimpangan gender di Desa Pong Lengor. Selain itu, kuesioner juga digunakan sebagai instrumen untuk mengukur pemahaman pasangan suami istri mengenai program KB di Kampung Lujang. Hasil: Berdasarkan hasil pre-test, dari 10 pasangan yang turut berpartisipasi dalam kegiatan ini, hanya 2 pasangan yang telah memiliki pemahaman yang memadai tentang manfaat penggunaan alat kontrasepsi serta pentingnya pengambilan keputusan secara bersama di dalam keluarga. Sementara itu, 8 pasangan lainnya masih memiliki keterbatasan pengetahuan terkait program KB. Setelah dilaksanakannya sesi edukasi dan diskusi bersama, hasil post-test memperlihatkan peningkatan yang signifikan: 7 pasangan telah memiliki pengetahuan yang baik, sementara 3 pasangan lainnya berada pada kategori pengetahuan yang cukup.Kesimpulan: Berdasarkan kegiatan yang telah dilaksanakan di Desa Pong Lengor mengenai pemberdayaan perempuan dalam menyikapi ketimpangan gender pada program keluarga berencana, dapat ditarik kesimpulan bahwa tingkat pemahaman pasangan suami istri terhadap manfaat alat kontrasepsi masih tergolong rendah. Kondisi ini tercermin dari fakta bahwa hanya dua dari sepuluh pasangan yang benar-benar memahami kegunaan kontrasepsi, sedangkan mayoritas lainnya masih kekurangan informasi. Namun pasca kegiatan edukasi, terjadi peningkatan pengetahuan yang berarti di antara para peserta.</p> <p><em>Family planning (KB) is a government initiative designed to promote family welfare by regulating and managing pregnancies. The program serves as a framework for families to build an ideal household structure one that is small in number, harmonious, and prosperous. Nevertheless, the implementation of family planning in Indonesia has yet to fully incorporate gender equality principles, as KB services continue to be primarily directed toward women. Objective: This activity aimed to empower the residents of Kampung Lujang by emphasizing that contraceptive use is not exclusively a woman's responsibility men are equally entitled and encouraged to participate. Furthermore, women deserve an equal voice in household decision-making processes. Research Method: The approach used was educational sessions delivered via PowerPoint presentations on women's empowerment and gender inequality in Pong Lengor Village. Questionnaires were also administered to assess the knowledge of married couples regarding the family planning program in Kampung Lujang. Results: Pre-test findings revealed that of the 10 participating couples,only 2 demonstrated adequate knowledge about contraceptive benefits and the importance of shared decision-making within the family, while the remaining 8 couples showed limited understanding of the family planning program. Following the education and group discussions, post-test results indicated a marked improvement: 7 couples achieved a good level of knowledge, while 3 couples reached a sufficient level. Conclusion: Based on activities conducted in Pong Lengor Village on women's empowerment and gender equality in family planning, it can be concluded that married couples' understanding of contraceptive benefits remains low. Only two out of ten couples demonstrated awareness of these benefits, while most others lacked sufficient understanding. However, following the education sessions, a notable increase in knowledge was observed among the participants. </em></p> 2026-05-30T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilang