https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/issue/feedJurnal Kesehatan Unggul Gemilang2026-09-29T19:19:18+00:00Open Journal Systemshttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/26172HUBUNGAN FAKTOR GENETIK (RIWAYAT KELUARGA) DENGAN KEJADIAN HIPERTENSI PADA LANSIA DI POSYANDU LANSIA KELURAHAN SEKANAK RAYA WILAYAH KERJA PUSKESMAS BELAKANG PADANG TAHUN 20242026-09-04T03:10:44+00:00Irma Yohana Tambunanirmayhanna@gmail.comNelli Rozanelliroza101201@gmail.comLaeli Mufidahl3y.mufud@gmail.com<p>Konsep Genetika berkembang dari ilmu yang membahas tentang bagaimana sifat diturunkan menjadi lebih luas lagi yakni ilmu yang mempelajari tentang materi genetik. Tujuan Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Apakah ada Hubungan faktor genetik (Riwayat keluarga) dengan kejadian hipertensi pada lansia di posyandu lansia di kelurahan sekanak raya wilayah kerja Puskesmas belakang padang tahun 2024. Penelitian ini termasuk penelitian obeservasional analitik dengan rancangan <em>cross sectional</em>. Sampel penelitian ini sebanyak 72 responden, Dengan Teknik pengambilan sampel ini adalah <em>Probability sampling</em>. Hasil uji <em>Chi-Square. </em>didapatkan <em>p-value </em>0,000 < 0,05. Hasil ini mengindikasikan adanya hubungan yang signifikan antara faktor genetik (Riwayat keluarga) dan kejadian hipertensi pada lansia.</p> <p><em>The concept of genetics has evolved from a science that discusses how traits are inherited to a broader science that studies genetic material. The purpose of this study is to determine whether there is a relationship between genetic factors (family history) and the incidence of hypertension in the elderly at the elderly health post in Sekanak Raya Village, the working area of the Belakang Padang Health Center in 2024. This study includes analytical observational research with a cross-sectional design. The sample of this study was 72 respondents, with the sampling technique being Probability sampling. The results of the Chi-Square test. obtained a p-value of 0.000 <0.05. These results indicates existence significant relationship between factor genetics (family history) and occurrence hypertension in the elderly.</em></p>2026-09-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilanghttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/27504STUDI KUALITATIF TENTANG PERILAKU MEROKOK STAF TERHADAP PENERAPAN KEBIJAKAN KAWASAN TANPA ROKOK (KTR) DI PDAM TIRTA BULIAN KOTA TEBING TINGGI2026-09-24T03:28:00+00:00 Angelica Taniaangellicatania@gmail.com Reni Agustina Harahapreniagustina@uinsu.ac.id Fitriani Pramita Gurningfitrianigurning@uinsu.ac.idNadya Ulfa Tanjungnadyaulfatanjung@uinsu.ac.idIsmailismailmarzuki@uinsu.ac.id<p>Perilaku merokok di tempat kerja masih menjadi tantangan dalam penerapan Kebijakan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di PDAM Tirta Bulian Kota Tebing Tinggi. Meskipun kebijakan KTR telah diterapkan, masih ditemukan staf yang merokok di lingkungan kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui secara mendalam perilaku merokok staf terhadap penerapan kebijakan KTR di PDAM Tirta Bulian Kota Tebing Tinggi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan fenomenologi. Informan dipilih secara purposive, terdiri dari kasubag, staf perokok, staf tidak merokok, Direktur, dan Satuan Pengawas Internal (SPI). Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar staf mengetahui dan mendukung penerapan KTR karena manfaatnya bagi kesehatan dan kenyamanan lingkungan kerja. Namun, kepatuhan belum optimal karena dipengaruhi kebiasaan merokok, pengaruh lingkungan kerja, belum tersedianya area khusus merokok, serta pengawasan dan penerapan sanksi yang belum optimal. Sebagian staf telah mengubah perilaku dengan merokok di luar ruangan dan mengurangi frekuensi merokok, tetapi pelanggaran masih ditemukan ketika pengawasan tidak konsisten. Penerapan KTR perlu diperkuat melalui sosialisasi, pengawasan berkelanjutan, penyediaan sarana pendukung, dan penegakan aturan secara konsisten.</p> <p><em>Smoking behavior in the workplace remains a challenge in the implementation of the Smoke-Free Area (SFA) Policy at PDAM Tirta Bulian, Tebing Tinggi City. Although the SFA Policy has been implemented, some staff members are still found smoking in the workplace. This study aimed to explore staff smoking behavior toward the implementation of the SFA Policy at PDAM Tirta Bulian, Tebing Tinggi City. This study used a descriptive qualitative method with a phenomenological approach. Informants were selected purposively and consisted of Subdivision Head, smoking staff, non-smoking staff, the Director, and the Internal Supervisory Unit (SPI). Data were collected through in-depth interviews, observation, and documentation. The results showed that most staff were aware of and supported the implementation of the SFA Policy because of its benefits for health and workplace comfort. However, compliance was not optimal due to smoking habits, workplace environmental influences, the absence of a designated smoking area, and suboptimal supervision and enforcement of sanctions. Some staff had changed their behavior by smoking outdoors and reducing smoking frequency, but violations were still found when supervision was inconsistent. The implementation of the SFA Policy needs to be strengthened through socialization, continuous supervision, supporting facilities, and consistent enforcement of regulations.</em></p>2026-09-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilanghttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/26947HUBUNGAN SELF MANAGEMENT, LEVEL OF KNOWLEDGE DAN STATUS GIZI DENGAN KADAR GULA DARAH PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 DI PUSKESMAS PATI 12026-09-14T12:13:30+00:00Fabio Raynaldo Tunjung Alfaresfabioraynaldo2@gmail.comRusnotorusnoto@umkudus.ac.idSukesihsukesih@umkudus.ac.id<p>Diabetes melitus tipe 2 merupakan penyakit kronis yang membutuhkan pengelolaan secara mandiri untuk menjaga kadar gula darah tetap terkendali. Self management, tingkat pengetahuan, dan status gizi merupakan beberapa faktor yang dapat berhubungan dengan pengendalian kadar gula darah pada pasien diabetes melitus tipe 2. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan self management, level of knowledge, dan status gizi dengan kadar gula darah pada pasien diabetes melitus tipe 2 di Puskesmas Pati 1. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain penelitian yang disesuaikan dengan karakteristik responden dan data penelitian. Data diperoleh dari pasien diabetes melitus tipe 2 di Puskesmas Pati 1 melalui instrumen penelitian dan pengukuran status gizi serta kadar gula darah. Data dianalisis untuk mengetahui hubungan antara self management, tingkat pengetahuan, dan status gizi dengan kadar gula darah. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan pengendalian kadar gula darah pada pasien diabetes melitus tipe 2 serta menjadi bahan pertimbangan dalam meningkatkan pengelolaan diabetes di tingkat pelayanan kesehatan primer.</p>2026-09-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilanghttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/26879"PERAN PENDAMPINGAN KELUARGA BERBASIS 1000 HPK DALAM MENINGKATKAN PERILAKU SEHAT IBU HAMIL DAN MENCEGAH STUNTING DI DESA JATIMULYA"2026-09-14T03:42:01+00:00Fajarsayafajar55@gmail.comRusyidah Nur Shaleharusyidahnur30@gmail.comDelfina Belinda Utamidelfinabelinda1@gmail.comRidha Siti Nurjanahridhasitinur@gmail.comAldi Misbahul Maadmisbahulmaad80@gmail.comAnisa Sri Aprilianianisasriapriliani0@gmail.comRido Rivana Ariswandiridorivana177@gmail.comFebi Tivani Amelia Putrifebitivani@gmail.comKirana Fitri Aji Sakakiranairen411@gmail.comDesti Noviantydestiinovianty@gmail.comResti Ernawatirestiernawati18@gmail.com<p>Stunting merupakan masalah gizi kronis yang perlu dicegah sejak periode 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), termasuk sejak masa kehamilan. Pendampingan keluarga melalui pemberian Makanan Tambahan (PMT) berupa telur dan penyuluhan gizi diharapkan dapat membantu meningkatkan status gizi ibu hamil serta mengurangi risiko Kekurangan Energi Kronis (KEK) dan stunting. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perubahan berat badan dan Lingkar Lengan Atas (LILA) ibu hamil setelah memperoleh intervensi gizi berbasis protein hewani di Desa Jatimulya. Penelitian menggunakan rancangan deskriptif observasional dengan pendekatan pretest-posttest. Partisipan penelitian berjumlah 16 ibu hamil yang direkrut menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan melalui pengukuran berat badan dan LILA sebelum serta setelah pemberian PMT telur dan edukasi gizi. Hasil pemantauan menunjukkan bahwa sebagian besar ibu hamil mengalami peningkatan berat badan, sedangkan ukuran LILA sebagian besar stabil atau meningkat. Namun, tiga responden memiliki LILA di bawah ambang batas 23,5 cm, yaitu Ny. E, Ny. A, dan Ny. F, sehingga berisiko mengalami KEK. Ny. A dan Ny. F juga mengalami penurunan LILA, sementara Ny. P mengalami penurunan berat badan yang memerlukan evaluasi lebih lanjut. Pemberian PMT berbasis telur dan pendampingan keluarga secara umum menunjukkan dampak positif terhadap status gizi ibu hamil. Pemantauan antropometri berkelanjutan, edukasi gizi, serta kolaborasi antara bidan, kader, Tim Pendamping Keluarga, dan keluarga diperlukan untuk memperkuat pencegahan stunting.</p> <p>Stunting is a chronic nutritional problem that must be prevented during the first 1,000 days of life, including the pregnancy period. Family support through the provision of supplementary food in the form of eggs and nutrition education is expected to improve the nutritional status of pregnant women and reduce the risk of chronic energy deficiency and stunting. This study aimed to describe changes in body weight and mid-upper arm circumference (MUAC) among pregnant women after receiving an animal-protein-based nutritional intervention in Jatimulya Village. The study used a descriptive observational design with a pretest–posttest approach. The participants consisted of 16 pregnant women recruited through total sampling. Data were collected by measuring body weight and MUAC before and after the provision of egg-based supplementary food and nutrition education. The monitoring results showed that most pregnant women experienced an increase in body weight, while their MUAC measurements generally remained stable or increased. However, three participants had MUAC measurements below the 23.5 cm threshold: Mrs. E, Mrs. A, and Mrs. F, indicating a risk of chronic energy deficiency. Mrs. A and Mrs. F also experienced a decrease in MUAC, while Mrs. P experienced weight loss and required further evaluation. Overall, the provision of egg-based supplementary food and family support had a positive effect on the nutritional status of pregnant women. Continuous anthropometric monitoring, nutrition education, and collaboration among midwives, health cadres, Family Support Teams, and families are needed to strengthen stunting prevention efforts.</p>2026-09-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilanghttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/26439PENGARUH PROMOSI KESEHATAN MENGGUNAKAN VIDEO ANIMASI TERHADAP PENGETAHUAN DAN SIKAP TENTANG BULLYING PADA REMAJA DI SEKOLAH DASAR NEGERI 066429 MEDAN2026-09-07T12:47:47+00:00Nadia Shalsabilanadiashalsabilaaa@gmail.comFatma Indrianiguest@jurnalhst.comNadya Ulfa Tanjungguest@jurnalhst.comNurhayatiguest@jurnalhst.comRahmat Hidayatguest@jurnalhst.com<p>Bullying merupakan permasalahan yang dapat memberikan dampak negatif terhadap perkembangan siswa sehingga diperlukan upaya pencegahan melalui edukasi yang menarik dan sesuai dengan karakteristik siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh promosi kesehatan menggunakan video animasi terhadap pengetahuan dan sikap tentang bullying pada siswa kelas V dan VI di SDN 066429 Medan. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain pre-experimental one group pretest-posttest. Sampel berjumlah 147 siswa yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner pengetahuan dan sikap sebelum dan sesudah diberikan intervensi video animasi, kemudian dianalisis menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata skor pengetahuan meningkat dari 63,88 menjadi 96,76, sedangkan rata-rata skor sikap meningkat dari 42,88 menjadi 52,35. Hasil uji Wilcoxon menunjukkan nilai p-value = 0,000 (p < 0,05) pada pengetahuan dan sikap. Dengan demikian, promosi kesehatan menggunakan video animasi berpengaruh signifikan terhadap peningkatan pengetahuan dan sikap siswa tentang bullying. Video animasi dapat menjadi salah satu media edukasi dalam upaya pencegahan bullying pada siswa sekolah dasar.</p> <p><em>Bullying is a problem that can negatively affect students’ development, requiring preventive efforts through education that is engaging and appropriate to students’ characteristics. This study aimed to determine the effect of health promotion using animated videos on students’ knowledge and attitudes toward bullying among fifth- and sixth-grade students at SDN 066429 Medan. This quantitative study used a pre-experimental one-group pretest-posttest design. The sample consisted of 147 students selected using total sampling. Data were collected using knowledge and attitude questionnaires before and after the animated video intervention and analyzed using the Wilcoxon Signed Rank Test. The results showed that the mean knowledge score increased from 63.88 to 96.76, while the mean attitude score increased from 42.88 to 52.35. The Wilcoxon test showed a p-value of 0.000 (p < 0.05) for both knowledge and attitude. Therefore, health promotion using animated videos had a significant effect on improving students’ knowledge and attitudes toward bullying. Animated videos can be used as an educational medium to support bullying prevention among elementary school students.</em></p>2026-09-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilanghttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/26957PENERAPAN PIJAT OKSITOSIN TERHADAP PRODUKSI ASI PADA IBU POST PARTUM DI RUANG BROTOJOYO 3 RSD K.R.M.T WONGSONEGORO SEMARANG2026-09-15T06:15:27+00:00Kezia Putri Angelinaakezia47@gmail.comBoediarsihboediarsih@stikesyahoedsmg.ac.id<p>Latar Belakang: Masa postpartum merupakan periode pemulihan setelah persalinan yang disertai proses laktasi. Salah satu masalah yang sering terjadi adalah produksi dan pengeluaran ASI yang kurang lancar. Pijat oksitosin merupakan salah satu intervensi nonfarmakologis yang dapat merangsang pelepasan hormon oksitosin sehingga membantu meningkatkan produksi dan kelancaran pengeluaran ASI. Tujuan Penelitian: mengetahui penerapan pijat oksitosin terhadap produksi ASI pada ibu postpartum di Ruang Brotojoyo 3 RSUD K.R.M.T. Wongsonegoro Semarang. Metode Penelitian: jenis penelitian ini adalah studi kasus dengan pendekatan asuhan keperawatan maternitas. Subjek penelitian adalah ibu postpartum yang mengalami masalah produksi atau pengeluaran ASI. Intervensi pijat oksitosin dilakukan sesuai prosedur, kemudian produksi dan kelancaran pengeluaran ASI dievaluasi sebelum dan sesudah intervensi. Hasil Penelitian: hasil penerapan menunjukkan bahwa setelah diberikan pijat oksitosin terjadi peningkatan produksi dan kelancaran pengeluaran ASI. Ibu juga tampak lebih rileks dan nyaman selama proses menyusui. Simpulan: penerapan pijat oksitosin dapat membantu meningkatkan produksi dan kelancaran pengeluaran ASI pada ibu postpartum.</p> <p><em>Background: The postpartum period is a recovery period following childbirth that involves the lactation process. One of the common problems is insufficient breast milk production and ineffective milk ejection. Oxytocin massage is a non-pharmacological intervention that can stimulate the release of the hormone oxytocin, thereby helping to increase breast milk production and facilitate milk ejection. Objective: To determine the application of oxytocin massage to breast milk production in postpartum mothers in the Brotojoyo 3 Ward of RSUD K.R.M.T. Wongsonegoro Semarang. Method: This study used a case study design with a maternity nursing care approach. The subjects were postpartum mothers experiencing problems with breast milk production or ejection. Oxytocin massage was administered according to the standard procedure, and breast milk production and milk ejection were evaluated before and after the intervention. Results: The results showed that following oxytocin massage, there was an increase in breast milk production and improvement in milk ejection. The mothers also appeared more relaxed and comfortable during breastfeeding. Conclusion: The application of oxytocin massage can help increase breast milk production and facilitate milk ejection in postpartum mothers.</em></p>2026-09-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilanghttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/26922PENGARUH BEN-CLASS (BENSON DAN CLASSIC MUSIC) TERHADAP TEKANAN DARAH DAN KUALITAS TIDUR PASIEN HIPERTENSI DI RUMAH SAKIT TK. II dr. SOEDJONO MAGELANG2026-09-14T08:27:36+00:00Nora Andrianinoraandriani09@gmail.com<p>Hipertensi merupakan penyakit tidak menular yang menjadi masalah kesehatan utama karena dapat menyebabkan komplikasi kardiovaskular dan gangguan kualitas tidur. Salah satu intervensi nonfarmakologis yang dapat digunakan untuk membantu mengendalikan tekanan darah dan memperbaiki kualitas tidur adalah terapi BEN-CLASS (Benson dan Classical Music). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh terapi BEN-CLASS terhadap tekanan darah dan kualitas tidur pasien hipertensi di Ruang Melati Rumah Sakit Tingkat II dr. Soedjono Magelang. Penelitian menggunakan desain quasi experiment dengan pendekatan one group pre-test post-test without control group. Sampel penelitian berjumlah 30 pasien hipertensi yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Pengukuran tekanan darah dilakukan menggunakan tensimeter digital, sedangkan kualitas tidur diukur menggunakan kuesioner Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Analisis data menggunakan Paired Sample t-test untuk kualitas tidur dengan tingkat signifikansi α < 0,05. Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan tekanan darah yang bermakna setelah pemberian terapi BEN-CLASS (Z = -4,824; p < 0,001). Selain itu, rerata skor kualitas tidur menurun dari 22,47 ± 2,50 menjadi 12,30 ± 2,32, dengan hasil uji Paired Sample t-test menunjukkan nilai t = 74,581 dan p < 0,001. Disimpulkan bahwa terapi BEN-CLASS berpengaruh signifikan terhadap penurunan tekanan darah dan peningkatan kualitas tidur pada pasien hipertensi. Terapi ini direkomendasikan sebagai intervensi keperawatan nonfarmakologis yang dapat diterapkan dalam pelayanan kesehatan serta perlu diteliti lebih lanjut dengan desain penelitian yang lebih kuat dan jumlah sampel yang lebih besar.</p>2026-09-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilanghttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/26544HUBUNGAN ANTARA WAKTU TUNGGU PELAYANAN DENGAN LUARAN KLINIS PASIEN DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) DI UNIT GAWAT DARURAT RS TK II MOH. RIDWAN MEURAKSA JAKARTA TIMUR2026-09-10T04:18:20+00:00Siti Marwiahicen2199@gmail.comNoor Hidayahnoorhidayah@umkudus.ac.idYulisetyaningrumyulisetyaningrum@umkudus.ac.id<p>Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan masalah kesehatan masyarakat yang masih menjadi beban signifikan di Indonesia, khususnya di wilayah endemis seperti DKI Jakarta. Jakarta Timur tercatat sebagai salah satu wilayah dengan angka kejadian DBD tertinggi, yang berdampak pada meningkatnya kunjungan pasien ke Unit Gawat Darurat (UGD). Kecepatan pelayanan di UGD, terutama waktu tunggu sejak pasien datang hingga mendapatkan penanganan medis awal, menjadi faktor krusial dalam menentukan luaran klinis pasien DBD mengingat risiko progresi cepat menuju syok dan perdarahan berat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara waktu tunggu pelayanan dengan luaran klinis pasien DBD di Unit Gawat Darurat RS TK II Moh. Ridwan Meuraksa Jakarta Timur. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan korelasional. Populasi penelitian adalah seluruh pasien DBD yang datang ke UGD RS TK II Moh. Ridwan Meuraksa pada periode Agustus–Oktober 2025 sebanyak 237 pasien, dengan sampel minimal 71 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data diperoleh dari rekam medis pasien, meliputi waktu tunggu pelayanan dan luaran klinis pasien. Waktu tunggu dikategorikan menjadi cepat (≤30 menit), sedang (31–60 menit), dan lambat (>60 menit), sedangkan luaran klinis diklasifikasikan menjadi luaran baik dan luaran buruk. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi α = 0,05. Sebagian besar pasien DBD dalam penelitian ini mengalami luaran klinis buruk (60,6%), menunjukkan bahwa lebih dari setengah responden belum mencapai kondisi optimal setelah pelayanan. Mayoritas waktu tunggu pelayanan berada pada kategori sedang (59,2%), menandakan masih adanya peluang perbaikan sistem pelayanan di UGD RS Tk II Moh. Ridwan Meuraksa. Selain itu, terdapat hubungan bermakna antara waktu tunggu pelayanan dan luaran klinis pasien DBD (p = 0,039).</p>2026-09-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilang