Jurnal Kesehatan Unggul Gemilang
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug
id-IDJurnal Kesehatan Unggul GemilangEKSPLORASI SENYAWA BIOKIMIA TANAMAN OBAT BERBASIS KEARIFAN LOKAL SUKU ANAK DALAM DI TAMAN NASIONAL BUKIT DUABELAS KABUPATEN TEBO
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/18712
<p>Pemanfaatan tanaman obat oleh Suku Anak Dalam (SAD) di Taman Nasional Bukit Duabelas merupakan bentuk kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun dan berperan penting dalam pemeliharaan kesehatan serta konservasi biodiversitas. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi jenis tanaman obat yang digunakan masyarakat SAD serta mengeksplorasi kandungan senyawa biokimianya melalui analisis fitokimia kualitatif dan uji aktivitas biologis. Penelitian dilakukan dengan metode deskriptif kualitatif melalui observasi lapangan, wawancara etnobotani, identifikasi botani, serta uji fitokimia terhadap ekstrak tanaman menggunakan pereaksi standar. Hasil penelitian menemukan 93 spesies tanaman obat dari 48 famili, dengan bagian tanaman yang paling banyak dimanfaatkan adalah daun (59,13%) dan metode pengolahan dominan berupa perebusan (67,74%). Senyawa metabolit sekunder yang paling umum ditemukan meliputi flavonoid, tanin, alkaloid, saponin, terpenoid, steroid, serta senyawa khusus seperti xanton dan withanolida. Senyawa-senyawa tersebut berperan dalam aktivitas antioksidan, antibakteri, antiinflamasi, antidiabetes, antipiretik, antikanker, serta penyembuhan luka. Beberapa tanaman seperti Garcinia mangostana, Curcuma zedoaria, Physalis angulata, dan Eurycoma longifolia menunjukkan potensi farmakologis yang kuat sesuai penggunaan tradisional. Temuan ini menunjukkan adanya keselarasan antara pengetahuan lokal dan bukti fitokimia modern, sehingga tanaman obat SAD berpotensi dikembangkan sebagai sumber obat herbal alami dan mendukung konservasi kearifan lokal serta keanekaragaman hayati.</p> <p><em>The use of medicinal plants by the Suku Anak Dalam (SAD) in Bukit Duabelas National Park is a form of local wisdom that has been passed down from generation to generation and plays an important role in maintaining health and conserving biodiversity. This study aims to identify the types of medicinal plants used by the SAD community and explore their biochemical compound content through qualitative phytochemical analysis and biological activity testing. The study was conducted using a qualitative descriptive method through field observations, ethnobotanical interviews, botanical identification, and phytochemical testing of plant extracts using standard reagents. The results found 93 species of medicinal plants from 48 families, with the most widely used plant part being the leaves (59.13%) and the dominant processing method being boiling (67.74%). The most commonly found secondary metabolites include flavonoids, tannins, alkaloids, saponins, terpenoids, steroids, and specific compounds such as xanthones and withanolides. These compounds play a role in antioxidant, antibacterial, anti-inflammatory, antidiabetic, antipyretic, anticancer, and wound healing activities. Several plants, such as Garcinia mangostana, Curcuma zedoaria, Physalis angulata, and Eurycoma longifolia, demonstrate strong pharmacological potential consistent with traditional uses. These findings demonstrate the alignment between local knowledge and modern phytochemical evidence, thus demonstrating the potential for developing SAD medicinal plants as a source of natural herbal medicines and supporting the conservation of local wisdom and biodiversity.</em></p>Agnia SafadiniDesmaraIndy Debillia PutriNabila OkdaniaNovia RahmadaniArdi Mustakim
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilang
2026-01-302026-01-30101HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN TINDAKAN PERSONAL HYGIENE SAAT MENTRUASI PADA REMAJA: SCOPING REVIEW
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/18418
<p>Perawatan kebersihan selama menstruasi merupakan aspek penting dalam menjaga kesehatan reproduksi remaja putri. Kurangnya praktik personal hygiene yang tepat dapat meningkatkan risiko infeksi pada organ reproduksi. Pengetahuan yang memadai mengenai manajemen kebersihan menstruasi diharapkan mampu membentuk perilaku kesehatan yang positif pada remaja. Tujuan artikel ini adalah untuk mengidentifikasi hubungan antara tingkat pengetahuan dan tindakan personal hygiene saat menstruasi pada remaja melalui pendekatan scoping review. Metode yang digunakan adalah scoping review dengan pencarian literatur pada database ScienceDirect dan PubMed, serta mesin pencari Google Scholar. Artikel diseleksi berdasarkan kriteria inklusi, yaitu artikel penelitian asli, berbahasa Indonesia dan Inggris, serta dipublikasikan dalam rentang tahun 2020–2025. Hasil pencarian memperoleh 1.823 artikel, dan setelah proses seleksi diperoleh 10 artikel yang memenuhi kriteria. Hasil kajian menunjukkan bahwa sebagian besar remaja memiliki tingkat pengetahuan yang masih kurang terkait personal hygiene menstruasi, yang berdampak pada praktik kebersihan yang tidak optimal. Selain itu, ditemukan hubungan yang konsisten antara tingkat pengetahuan dan tindakan personal hygiene menstruasi, di mana remaja dengan pengetahuan yang lebih baik cenderung menerapkan praktik kebersihan yang lebih baik. Simpulan scoping review ini menunjukkan bahwa peningkatan pengetahuan melalui edukasi kesehatan reproduksi serta dukungan lingkungan yang memadai sangat diperlukan untuk memperbaiki praktik personal hygiene menstruasi pada remaja.</p> <p><em>Menstrual hygiene is a crucial aspect of maintaining adolescent reproductive health, as inadequate hygiene practices can increase the risk of reproductive tract infections. Adequate knowledge of menstrual hygiene management is expected to promote positive health behaviors among adolescents. Objective: This scoping review aims to examine the relationship between knowledge and personal hygiene practices during menstruation among adolescents. Methods: A scoping review approach was employed by searching literature from ScienceDirect and PubMed databases, as well as Google Scholar. Articles were selected based on inclusion criteria, including original research articles published in Indonesian or English between 2020 and 2025. Results: A total of 1,823 articles were identified, and after screening, 10 articles met the inclusion criteria. The findings indicate that most adolescents have insufficient knowledge regarding menstrual hygiene, which is associated with suboptimal hygiene practices. A consistent relationship was identified between knowledge level and menstrual hygiene practices, with better knowledge linked to improved hygiene behavior. Conclusion: This review highlights the importance of strengthening reproductive health education and providing supportive environments to enhance menstrual personal hygiene practices among adolescents.</em></p>MachfudlohSintia Sari
Hak Cipta (c) 2025 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilang
2026-01-302026-01-30101HUBUNGAN SHIFT KERJA DENGAN KELELAHAN KERJA PADA SATUAN PENGAMAN DI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUMATERA UTARA MEDAN
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/18763
<p>Kelelahan kerja merupakan salah satu masalah kesehatan kerja yang berdampak pada penurunan produktivitas, konsentrasi, dan peningkatan risiko kecelakaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara shift kerja dengan kelelahan kerja pada satpam di Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Medan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara shift kerja dengan kelelahan kerja pada satpam di Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Medan. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 132 orang satpam, namun peneliti hanya mengambil sebagian dari kampus utama yaitu Kampus Tuntungan, Pancing, dan Sutomo. Jumlah sampel yang digunakan adalah 111 orang, yang ditentukan menggunakan rumus Lemeshow, dengan teknik proportional random sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara menggunakan kuesioner Industrial Fatigue Research Committee (IFRC) kemudian dianalisis dengan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 52 satpam, sebanyak 42 orang (80,8%) mengalami kelelahan kerja sedang, sedangkan 10 orang (19,2%) mengalami kelelahan kerja ringan. Uji statistik Chi-Square diperoleh nilai p = 0,000 (p < 0,05) yang berarti terdapat hubungan signifikan antara shift kerja dengan kelelahan kerja pada satpam di Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Medan. Disarankan kepada pihak pengelola keamanan agar meninjau kembali sistem shift kerja, memberikan waktu istirahat yang memadai seperti waktu istirahat yang cukup sesuai dengan kebutuhan tubuh pekerja agar dapat memulihkan tenaga, mengurangi kelelahan, dan menjaga konsentrasi selama bekerja, serta mengadakan pelatihan terkait Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) khususnya bagi satpam untuk mengurangi risiko kelelahan kerja.</p> <p><em>Work fatigue is an occupational health problem that impacts decreased productivity, concentration, and increased risk of accidents. This study aims to determine the relationship between work shifts and work fatigue in security guards at the State Islamic University of North Sumatra, Medan. This study aims to determine the relationship between work shifts and work fatigue in security guards at the State Islamic University of North Sumatra, Medan. This study used a cross-sectional design. The population in this study amounted to 132 security guards, but the researcher only took part of the main campus, namely the Tuntungan, Pancing, and Sutomo Campuses. The number of samples used was 111 people, which was determined using the Lemeshow formula, with a proportional random sampling technique. Data were collected through interviews using the Industrial Fatigue Research Committee (IFRC) questionnaire and then analyzed using the Chi-Square test. The results showed that of the 52 security guards, 42 people (80.8%) experienced moderate work fatigue, while 10 people (19.2%) experienced mild work fatigue. The Chi-Square statistical test obtained a p value = 0.000 (p < 0.05) which means there is a significant relationship between work shifts and work fatigue in security guards at the State Islamic University of North Sumatra Medan. It is recommended that security management review the work shift system, provide adequate rest time such as sufficient rest time according to the workers' body needs to restore energy, reduce fatigue, and maintain concentration while working, and hold training related to Occupational Safety and Health (K3) especially for security guards to reduce the risk of work fatigue.</em></p>Putri NabilahWasiyem
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilang
2026-01-302026-01-30101GAMBARAN PENGETAHUAN DAN SIKAP PEDAGANG TENTANG KANDUNGAN FORMALIN PADA MIE KUNING BASAH DI PASAR HORAS KOTA PEMATANG SIANTAR
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/18674
<p>Keamanan pangan merupakan hal penting karena termasuk indikator dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. Banyak ditemui jenis mie basah mie yang umum ditemui adalah mie kuning basah. Makanan ada yang ditambahkan bahan tambahan pangan selama proses pengolahan. Makanan dapat menyebabkan gangguan kesehatan jika mengandung bahan tambahan makanan berbahaya. Bahan tambahan makanan berbahaya dan dilarang penggunaannya oleh pemerintah yang paling umum digunakan adalah formalin. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kandungan formalin pada mie kuning basah sekaligus pengetahuan dan sikap pedagang. Jenis penelitian kuantitatif deskriptif. Sampel terdiri dari 17 pedagang dan objek dari penelitian ini adalah 17 sampel mie kuning basah dengan metode total sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat kandungan formalin pada 17 sampel mie kuning basah sehingga memenuhi syarat sesuai. Pengetahuan pedagang mengenai kandungan formalin pada mie kuning basah berada pada kategori kurang (82,4%) dan sikap berada pada kategori baik (100%). Diharapkan instansi terkait dapat memberikan edukasi kepada para pedagang mengenai penggunaan bahan tambahan pangan serta informasi terkait izin edar dari BPOM untuk meningkatkan pengetahuan dan sikap pedagang agar mereka mampu mengantisipasi serta menjaga kualitas dan keamanan produk yang dijual. Selain itu, produsen mie kuning basah diharapkan tetap konsisten dalam tidak menggunakan formalin maupun bahan tambahan makanan yang dilarang oleh pemerintah selama proses pengolahan.</p> <p><em>Food safety is important because it is an indicator in improving the quality of public health. Many types of wet noodles are commonly found, namely wet yellow noodles. Some foods are added with food additives during the processing process. Food can cause health problems if it contains hazardous food additives. The most commonly used hazardous food additives and prohibited by the government are formalin. This study aims to analyze the formalin content in wet yellow noodles as well as the knowledge and attitudes of traders. The type of quantitative descriptive research. The sample consisted of 17 traders and the object of this study was 17 samples of wet yellow noodles with a total sampling method. The results showed that there was no formalin content in the 17 samples of wet yellow noodles so that they met the appropriate requirements. Traders' knowledge of the formalin content in wet yellow noodles is in the poor category (82,4%) and attitudes are in the good category (100%). It is hoped that related agencies can provide education to traders regarding the use of food additives and information related to distribution permits from BPOM to improve traders' knowledge and attitudes so that they are able to anticipate and maintain the quality and safety of the products sold. In addition, wet yellow noodle producers are expected to remain consistent in not using formalin or food additives prohibited by the government during the processing process.</em></p>Dian Yustika PutriSyafran Arrazy
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilang
2026-01-302026-01-30101ANALISIS FAKTOR KONSUMSI SERAT DALAM POLA MAKAN MAHASISWA UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUMATERA UTARA
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/18745
<p>Konsumsi serat merupakan komponen penting dalam pola makan sehat karena berperan dalam menjaga kesehatan pencernaan, mengatur kadar gula darah, serta mencegah penyakit degeneratif. Namun, konsumsi serat mahasiswa di Indonesia masih tergolong rendah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor yang memengaruhi konsumsi serat dalam pola makan mahasiswa UIN Sumatera Utara, seperti uang saku, pengetahuan gizi, jenis kelamin, sikap, dan tempat tinggal. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 110 mahasiswa UINSU yang diambil menggunakan teknik proportionate stratified random sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan food recall 2x24 jam. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 69,1% mahasiswa mengonsumsi serat kurang dari (27 gram) per hari, sebanyak 14,5% mahasiswa berada pada kategori cukup (27–28 gram), dan 16,4% mahasiswa mengonsumsi serat lebih dari (28 gram) per hari. Faktor uang saku (p=0,000), pengetahuan gizi (p=0,000), jenis kelamin (p=0,565), sikap (p=0,001), dan tempat tinggal (p=0,000) memiliki hubungan yang signifikan dengan konsumsi serat mahasiswa. Konsumsi serat mahasiswa UINSU masih rendah dan dipengaruhi oleh faktor uang saku, pengetahuan gizi, sikap, jenis kelamin, dan tempat tinggal. Diperlukan edukasi gizi dan peningkatan akses makanan tinggi serat untuk meningkatkan pola konsumsi serat mahasiswa.</p> <p><em>Fiber consumption is an important component of a healthy diet because it plays a role in maintaining digestive health, regulating blood sugar levels, and preventing degenerative diseases. However, fiber consumption among college students in Indonesia is still relatively low. This study aims to analyze factors that influence fiber consumption in the dietary patterns of UIN Sumatera Utara students, such as pocket money, nutritional knowledge, gender, attitudes, and residence. This study used a quantitative design with a cross-sectional approach. The study sample consisted of 110 UINSU students selected using a proportionate stratified random sampling technique. Data were collected through questionnaires and 2x24-hour food recalls. Data analysis was performed univariately and bivariately using the chi-square test. The results showed that 69.1% of students consumed less than 27 grams of fiber per day, 14.5% of students were in the sufficient category (27–28 grams), and 16.4% of students consumed more than 28 grams of fiber per day. Pocket money (p=0.000), nutritional knowledge (p=0.000), gender (p=0.565), attitude (p=0.001), and residence (p=0.000) were significantly associated with student fiber consumption. UINSU students' fiber consumption remains low and is influenced by pocket money, nutritional knowledge, attitude, gender, and residence. Nutrition education and increased access to high-fiber foods are needed to improve student fiber consumption.</em></p>Fadhilah Rahmadani FathinEliska
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilang
2026-01-302026-01-30101EFFECT OF PRENATAL MASSAGE ON REDUCING BACK PAIN IN THIRD-TRIMESTER PREGNANT WOMEN AT UPTD PUSKESMAS AIR MOLEK, PASIR PENYU DISTRICT, INDRAGIRI HULU REGENCY
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/18658
<p>Nyeri punggung merupakan keluhan muskuloskeletal yang dominan pada ibu hamil trimester III, terjadi pada 60-80% kasus akibat perubahan hormon relaksin, peningkatan beban uterus, dan pergeseran pusat gravitasi. Di UPTD Puskesmas Air Molek, survei awal menunjukkan tingginya keluhan nyeri punggung yang mengganggu aktivitas harian ibu hamil. Pijat prenatal sebagai terapi non-farmakologis terbukti efektif mengurangi nyeri melalui relaksasi otot, peningkatan sirkulasi, dan stimulasi endorfin, namun belum ada data empiris local. Menganalisis pengaruh pijat prenatal terhadap penurunan nyeri punggung pada ibu hamil trimester III di UPTD Puskesmas Air Molek Kecamatan Pasir Penyu Kabupaten Indragiri Hulu. Penelitian kuantitatif quasi-eksperimental dengan desain one-group pretest-posttest design. Sampel 20 ibu hamil trimester III dipilih purposive sampling. Intervensi pijat prenatal (20 menit/sesi, 1x/minggu, 4 minggu) menggunakan skala nyeri ordinal (1=tidak pernah, 4=sangat sering). Analisis univariat (frekuensi, mean) dan bivariat (uji Wilcoxon Signed Rank) menggunakan SPSS 25. Pretest: 80% responden kategori sering/sangat sering (mean 2,45±0,89); posttest: 90% tidak nyeri (mean 1,10±0,30). Uji Wilcoxon Z=-3,456 (p=0,001<0,05) menunjukkan pengaruh signifikan. Pijat prenatal efektif menurunkan nyeri melalui mekanisme fisiologis (sirkulasi, endorfin) dan mekanis (relaksasi otot lumbar), sejalan dengan penelitian Fitriyah (2020) dan Lusi Haryanti (2023). Modul pelatihan pijat prenatal untuk bidan Puskesmas dan artikel jurnal kebidanan. Pijat prenatal berpengaruh signifikan terhadap penurunan nyeri punggung ibu hamil trimester III (p=0,001).</p> <p><em>Low back pain is a predominant musculoskeletal complaint among third-trimester pregnant women, affecting 60–80% of cases and often disrupting daily activities and quality of life. This study aimed to analyze the effect of prenatal massage on reducing back pain in third-trimester pregnant women at UPTD Puskesmas Air Molek, Pasir Penyu District, Indragiri Hulu Regency. This quantitative quasi-experimental research used a one-group pretest–posttest design with 20 third-trimester pregnant women selected by purposive sampling. Prenatal massage was administered once weekly for four weeks (20 minutes per session) following a standardized operating procedure focusing on the lumbar and back area. Back pain intensity was measured using an ordinal pain scale (1=never, 4=very frequent). Data were analyzed using descriptive statistics and the Wilcoxon Signed Rank test with a significance level of 0.05. Before the intervention, 80% of respondents reported frequent/very frequent back pain with a mean pretest score of 2.45±0.89. After four weeks of prenatal massage, 90% of respondents reported no pain, and the mean score decreased to 1.10±0.30. The Wilcoxon test showed Z = -3.456 with p = 0.001 (p < 0.05), indicating a significant reduction in back pain. Prenatal massage effectively reduces back pain in third-trimester pregnant women through physiological (circulatory and endorphin-mediated) and mechanical (muscle relaxation) mechanisms, and can be recommended as a safe complementary therapy in antenatal care at primary health care settings.</em></p>Mega Sufa MashitohNia DesrivaYesi Septina WatiMeirita Herawati
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilang
2026-01-302026-01-30101REVIEW ARTIKEL: POLIMER ALAMI DALAM SEDIAAN FARMASI
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/19673
<p>Polimer alami semakin banyak dimanfaatkan dalam berbagai bentuk sediaan farmasi karena sifatnya yang biokompatibel, biodegradable, dan mudah dimodifikasi. Review ini merangkum 40 artikel mengenai pemanfaatan selulosa dan turunannya, kitosan, alginat, gelatin, pati, serta polisakarida fermentasi seperti dextran dalam formulasi tablet, kapsul, suspensi, gel, film, hingga sistem penghantaran obat modern seperti mikropartikel, nanopartikel, dan NLC. Analisis menunjukkan bahwa polimer alami tidak hanya mampu menggantikan polimer sintetis, tetapi juga memberikan peningkatan stabilitas, efisiensi pelepasan obat, dan keamanan formulasi. Banyak polimer berbasis sumber lokal, seperti MCC dari limbah pertanian, kitosan dari keong mas, dan gelatin ikan, juga menunjukkan potensi tinggi untuk dikembangkan sebagai eksipien farmasi. Secara keseluruhan, polimer alami memiliki prospek signifikan dalam inovasi sediaan farmasi dan sangat relevan untuk kebutuhan industri.</p> <p><em>Natural polymers are increasingly utilized in pharmaceutical dosage forms due to their biocompatibility, biodegradability, and high modifiability. This review summarizes 40 articles discussing the application of cellulose and its derivatives, chitosan, alginate, gelatin, starch, and fermentation-based polysaccharides such as dextran in tablets, capsules, suspensions, gels, films, and advanced drug delivery systems including microparticles, nanoparticles, and NLCs. The analysis shows that natural polymers not only serve as effective alternatives to synthetic polymers but also enhance formulation stability, drug release efficiency, and overall safety. Several locally sourced polymers, such as MCC from agricultural waste, chitosan from golden apple snails, and fish-derived gelatin, demonstrate strong potential as pharmaceutical excipients. Overall, natural polymers represent a significant opportunity for innovation in pharmaceutical formulation and hold strong relevance for industrial development.</em></p>Tiara Putri Silviayani Nadiah Alyka Haifa Aurora Elpa Giovana Zola
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilang
2026-01-302026-01-30101HUBUNGAN POLA KONSUMSI MAKANAN CEPAT SAJI DAN PERILAKU SEDENTARI DENGAN OBESITAS DI SD SWASTA F. TANDEAN
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/18724
<p>Obesitas pada anak menjadi masalah kesehatan yang terus meningkat, salah satunya dipengaruhi oleh pola konsumsi makanan cepat saji dan perilaku sedentari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pola konsumsi makanan cepat saji dan perilaku sedentari dengan obesitas di SD Swasta F.Tandean. Penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif dengan rancangan cross-sectional. Sampel sebanyak 73 siswa dipilih dengan menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner Food Frequency Questionnaire (FFQ) dan kuisioner Adolcent Sedentary Activity Questionnaire (ASAQ), kemudian dianalisis menggunaka uji chi-square. Hasil menunjukkan bahwa terdapat 33 siswa (45,2%) yang mengalami obesitas. Hasil penelitian menggunakan uji chi-square menunjukkan adanya hubungan signifikan antara konsumsi makanan cepat saji dengan obesitas (p= 0,002), dengan kategori obesitas terdapat 28 siswa yang sering mengkonsumsi makanan cepat saji dan 5 siswa dengan kategori jarang. Selain itu, terdapat hubungan signifikan antara perilaku sedentari dengan obesitas (p= 0,001), dengan kategori obesitas terdapat 27 siswa dikategorikan tinggi dalam perilaku sedentari dan 6 siswa dengan kategori rendah. Dengan demikian, kesimpulan dari penelitian ini adalah konsumsi makanan cepat saji yang sering dan perilaku sedentari yang tinggi berhubungan dengan kejadian obesitas pada siswa/i di sekolah dasar.</p> <p><em>Childhood obesity is an increasing health problem influenced by various factors, including fast food consumption patterns and sedentary behavior. This study aimed to examine the relationship between fast food consumption patterns and sedentary behavior with obesity among students at F. Tandean Private Elementary School. A quantitative approach with a cross-sectional design was employed, involving 73 students selected through purposive sampling. Data were collected using the Food Frequency Questionnaire (FFQ) and the Adolescent Sedentary Activity Questionnaire (ASAQ), and analyzed with the chi-square test. The results showed that 33 students (45.2%) were classified as obese. A significant association was found between fast food consumption and obesity (p= 0.002), with 28 obese students in the high-consumption category and 5 obese students in the low-consumption category. Moreover, a significant association was also identified between sedentary behavior and obesity (p= 0.001), with 27 obese students classified as having high sedentary behavior and 6 students classified as low. In conclusion, frequent fast food consumption and high sedentary behavior are significantly associated with obesity among elementary school students.</em></p>Salwa Salsabila SiregarNadya Ulfa Tanjung
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilang
2026-01-302026-01-30101INOVASI CAIRAN PEMBERSIH LANTAI RAMAH LINGKUNGAN DARI KULIT JERUK DAN CUKA DAPUR
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/18607
<p>Sampah organik rumah tangga, khususnya kulit jeruk, masih belum dimanfaatkan secara optimal dan umumnya berakhir sebagai limbah. Di sisi lain, penggunaan pembersih lantai berbahan kimia sintetis berpotensi menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan manusia dan lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan cairan pembersih lantai ramah lingkungan berbahan dasar kulit jeruk dan cuka dapur serta menguji efektivitasnya dalam membersihkan lantai dan menurunkan jumlah mikroorganisme. Penelitian ini menggunakan desain eksperimen kuasi dengan variasi rasio formulasi kulit jeruk, cuka dapur, dan air. Uji efektivitas dilakukan melalui pengamatan kemampuan pembersihan kotoran, pengurangan bau, pengukuran pH, serta penurunan angka kuman pada permukaan lantai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formulasi dengan rasio kulit jeruk dan cuka dapur yang seimbang menghasilkan pH asam yang stabil, aroma alami yang lebih diterima, serta efektivitas pembersihan dan penurunan angka kuman yang sebanding dengan pembersih lantai komersial. Pemanfaatan kulit jeruk sebagai bahan baku pembersih lantai juga berkontribusi terhadap pengurangan limbah organik rumah tangga. Dengan demikian, cairan pembersih lantai berbahan kulit jeruk dan cuka dapur berpotensi menjadi alternatif pembersih yang efektif, aman, dan ramah lingkungan.</p> <p><em>Household organic waste, particularly orange peels, is still not optimally utilized and generally ends up as waste. At the same time, the use of floor cleaners containing synthetic chemicals may pose potential risks to human health and the environment. This study aimed to develop an environmentally friendly floor cleaning liquid made from orange peels and kitchen vinegar and to evaluate its effectiveness in cleaning floors and reducing microbial counts. A quasi-experimental design was employed with variations in the formulation ratios of orange peels, kitchen vinegar, and water. Effectiveness testing was conducted through observations of cleaning performance, odor reduction, pH measurement, and reduction of microbial counts on floor surfaces. The results showed that a formulation with a balanced ratio of orange peels and kitchen vinegar produced a stable acidic pH, a more acceptable natural aroma, and cleaning effectiveness as well as microbial reduction comparable to commercial floor cleaners. In addition, the utilization of orange peels as a raw material for floor cleaners contributes to the reduction of household organic waste. Therefore, floor cleaning liquids made from orange peels and kitchen vinegar have the potential to serve as an effective, safe, and environmentally friendly alternative for household use.</em></p>SusilawatiZahra Kayla MazrilAudy Vimala SariRiska Rahmadianti
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilang
2026-01-302026-01-30101UJI PERBEDAAN METODE REBA DAN RULA UNTUK MENGANALISIS POSTUR KERJA PADA PEKERJA SABINA COLLECTION
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/18899
<p>Penggunaan metode RULA dan REBA dalam analisis postur kerja di industri konveksi sangat penting untuk mengidentifikasi potensi risiko ergonomis dan menerapkan perbaikan yang diperlukan. Pendekatan ini tidak hanya membantu meningkatkan kesehatan dan keselamatan pekerja, tetapi juga berkontribusi pada peningkatan produktivitas dan kualitas kerja. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan pengukuraan metode Rula dan Reba. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif. Penelitian ini melibatkan 15 responden dan analisa data menggunakan uji paired simple t – test untuk melihat perbedaan pengukuran metode RULA dan REBA. Berdasarkan uji Paired Simple T-test terdapat nilai P-Value 0,000 < 0,05 yang menandakan adanya nilai perbedaan metode REBA dan RULA untuk pengukuran postur kerja. Untuk penelitian selanjutnya, disarankan agar sampel diperluas untuk mencakup berbagai jenis pekerjaan di industri konveksi agar hasil lebih representatif. Selain itu, implementasi perbaikan ergonomis berdasarkan temuan RULA dan REBA sebaiknya dipantau secara berkala untuk menilai efektivitasnya terhadap kesehatan pekerja dan peningkatan produktivitas.</p> <p><em>The use of RULA and REBA methods in analyzing work posture in the garment industry is crucial for identifying potential ergonomic risks and implementing necessary improvements. This approach not only helps enhance workers’ health and safety but also contributes to increased productivity and work quality. The aim of this study was to determine the differences in measurements between the RULA and REBA methods. This research employed a quantitative method, involving 15 respondents, and data analysis was conducted using the paired simple t-test to examine differences in RULA and REBA measurements. Based on the Paired Simple T-test, the P-Value was 0.000 < 0.05, indicating a significant difference between the REBA and RULA methods in assessing work posture. For future research, it is recommended to expand the sample to include various types of jobs in the garment industry to achieve more representative results. Additionally, the implementation of ergonomic improvements based on RULA and REBA findings should be monitored regularly to evaluate their effectiveness in improving workers’ health and productivity.</em></p>Mutiara SofiDelfriana Ayu Astuty
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilang
2026-01-302026-01-30101FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN STATUS GIZI KURANG PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PATUMBAK
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/18713
<p>Masalah gizi kurang pada balita masih menjadi isu kesehatan masyarakat yang serius di Indonesia, khususnya di Kabupaten Deli Serdang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian gizi kurang pada balita di wilayah kerja Puaskesmas Patumbak. Desain penelitian ini adalah kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 95 responden yang diambil melalui teknik purposive sampling. Data dikumpulkan dengan kuesioner dan dianalisis menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pendapatan keluarga (p = 0,001), status pekerjaan ibu (p = 0,041), pemberian ASI eksklusif (p = 0,010), riwayat penyakit infeksi balita (p = 0,001), pengetahuan ibu (p = 0,031), dan jumlah anggota keluarga (p = 0,031) dengan status gizi kurang pada balita. Temuan ini menunjukkan bahwa faktor pendapatan keluarga, status pekerjaan ibu, pemberian ASI Ekslusif, riwayat penyakit infeksi balita, pengetahuan ibu, dan jumlah anggota keluarga memainkan peran penting dalam menentukan status gizi anak. Penelitian ini menyarankan perlunya peningkatan edukasi gizi bagi ibu, peningkatan akses terhadap pelayanan kesehatan, dan program intervensi spesifik seperti promosi ASI eksklusif dan pencegahan penyakit infeksi untuk menurunkan angka kejadian gizi kurang. Intervensi multi-sektoral diperlukan untuk mengatasi determinan sosial dari gizi buruk pada balita secara berkelanjutan.</p> <p><em>The problem of malnutrition in toddlers is still a serious public health issue in Indonesia, especially in Deli Serdang Regency. This study aims to find out the factors related to the incidence of malnutrition in toddlers in the work area of Puaskesmas Patumbak. The design of this study is quantitative with a cross sectional approach. The sample in this study was 95 respondents taken through purposive sampling techniques. Data were collected by questionnaire and analyzed using the chi-square test. The results showed that there was a significant relationship between family income (p = 0.001), maternal employment status (p = 0.041), exclusive breastfeeding (p = 0.010), history of infectious diseases of toddlers (p = 0.001), maternal knowledge (p = 0.031), and number of family members (p = 0.031) with poor nutritional status in toddlers. These findings show that family income factors, maternal employment status, exclusive breastfeeding, history of infectious diseases in toddlers, maternal knowledge, and number of family members play an important role in determining children's nutritional status. This study suggests the need to improve nutrition education for mothers, increase access to health services, and specific intervention programs such as exclusive breastfeeding promotion and prevention of infectious diseases to reduce the incidence of malnutrition. Multi-sectoral interventions are needed to address the social determinants of malnutrition in toddlers in a sustainable manner.</em></p>Citra Rahmi BaharEliska
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilang
2026-01-302026-01-30101PEMANFAATAN AIR HUJAN TERNETRALKAN UNTUK MENURUNKAN KADAR TOTAL DISSOLVED SOLIDS (TDS) PADA AIR PESISIR DENGAN INTRUSI RINGAN
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/18594
<p>Wilayah pesisir dengan tingkat intrusi air laut ringan berpotensi mengalami penurunan kualitas air, salah satunya ditandai dengan peningkatan kadar Total Dissolved Solids (TDS). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas pemanfaatan air hujan yang telah dinetralkan menggunakan kapur pertanian (CaCO₃) dalam menurunkan kadar TDS air pesisir. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan perlakuan pencampuran air pesisir dan air hujan netralisasi pada beberapa rasio, yaitu P₀ (100% air pesisir), P₁ (75% : 25%), P₂ (50% : 50%), dan P₃ (25% : 75%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar TDS awal air pesisir sebesar 148 mg/L dan air hujan sebesar 9 mg/L. Setelah perlakuan, kadar TDS menurun menjadi 122 mg/L pada P₁, 76 mg/L pada P₂, dan 37 mg/L pada P₃. Hasil uji One Way ANOVA menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan kadar TDS antar perlakuan (p < 0,05). Penelitian ini menunjukkan bahwa air hujan netralisasi berpotensi dimanfaatkan sebagai teknologi sederhana untuk menurunkan kadar TDS air pesisir dengan intrusi ringan, khususnya untuk keperluan non-konsumsi.</p> <p><em>Coastal areas experiencing mild seawater intrusion are prone to gradual degradation of water quality, one of which is indicated by increased Total Dissolved Solids (TDS) levels. This study aimed to analyze the effectiveness of utilizing rainwater neutralized with agricultural lime (CaCO₃) in reducing TDS levels in coastal water. An experimental method was applied by mixing coastal water and neutralized rainwater at different ratios, namely P₀ (100% coastal water), P₁ (75%: 25%), P₂ (50%: 50%), and P₃ (25%: 75%). The results showed that the initial TDS levels of coastal water and rainwater were 148 mg/L and 9 mg/L, respectively. After treatment, TDS levels decreased to 122 mg/L in P₁, 76 mg/L in P₂, and 37 mg/L in P₃. One Way ANOVA analysis indicated a significant difference in TDS levels among treatments (p < 0.05). This study demonstrates that neutralized rainwater has the potential to be utilized as a simple and appropriate technology for reducing TDS levels in coastal water affected by mild seawater intrusion, particularly for non-consumptive purposes.</em></p>SusilawatiAbid Farhan
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilang
2026-01-302026-01-30101FAKTOR PENGHAMBAT PENGGUNAAN ALAT PELINDUNG TELINGA DI KALANGAN PEKERJA DEPO LOKOMOTIF PT KERETA API INDONESIA MEDAN PERSERO
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/18775
<p>Lingkungan kerja dengan tingkat kebisingan tinggi berpotensi menimbulkan gangguan pendengaran pada pekerja apabila tidak disertai dengan penerapan keselamatan dan kesehatan kerja yang optimal. Depo Lokomotif PT Kereta Api Indonesia Medan Persero merupakan salah satu tempat kerja dengan tingkat kebisingan yang mendekati nilai ambang batas, namun kepatuhan pekerja dalam penggunaan alat pelindung telinga (APT) masih rendah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor penghambat penggunaan alat pelindung telinga di kalangan pekerja Depo Lokomotif PT Kereta Api Indonesia Medan Persero. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan telaah dokumen terhadap enam orang informan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor penghambat penggunaan APT meliputi kebijakan perusahaan yang belum tegas, lemahnya pengawasan dan sanksi, serta faktor individu pekerja seperti rasa tidak nyaman, lupa, dan menganggap penggunaan APT merepotkan. Meskipun pekerja memiliki pengetahuan tentang bahaya kebisingan, hal tersebut belum cukup mendorong perubahan perilaku secara konsisten. Diperlukan penguatan kebijakan, pengawasan yang berkelanjutan, serta peningkatan kesadaran pekerja untuk meningkatkan kepatuhan penggunaan APT.</p>Sarda MauliyandNurhayati
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilang
2026-01-302026-01-30101HUBUNGAN KECANDUAN GAME ONLINE DAN KUALITAS TIDUR DENGAN TINGKAT STRES MAHASISWA PRODI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUMATERA UTARA
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/18676
<p>Perkembangan teknologi digital menyebabkan peningkatan penggunaan game online yang berdampak pada pola tidur dan kondisi psikologis mahasiswa. Mahasiswa sebagai kelompok usia remaja akhir sangat rentan mengalami stres akibat berbagai faktor, termasuk kebiasaan bermain game dan kualitas tidur yang buruk. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kecanduan bermain game online dan kualitas tidur dengan tingkat stres pada mahasiswa Prodi Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Islam Negeri Sumatera Utara tahun 2025. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross sectional. Pengambilan sampel dilakukan secara proporsional terhadap mahasiswa aktif dengan menggunakan kuesioner Game Addiction Scale (GAS), Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI), dan Perceived Stress Scale (PSS). Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kecanduan bermain game online dengan tingkat stres (p < 0,05), serta terdapat hubungan yang signifikan antara kualitas tidur dengan tingkat stres (p < 0,05). Mayoritas responden dengan tingkat kecanduan game tinggi dan kualitas tidur buruk memiliki tingkat stres yang lebih tinggi. Terdapat hubungan yang bermakna antara kecanduan bermain game online dan kualitas tidur dengan tingkat stres mahasiswa.</p> <p><em>Digital technology has led to increased use of online games, which can negatively impact sleep patterns and the psychological condition of students. As late adolescents, university students are highly vulnerable to stress due to various factors, including online gaming habits and poor sleep quality. This study aims to determine the relationship between online game addiction and sleep quality with stress levels among students of the Public Health Study Program at the State Islamic University of North Sumatra in 2025.This research employed a quantitative approach with a cross-sectional design. Samples were proportionally selected from active students using the Game Addiction Scale (GAS), Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI), and Perceived Stress Scale (PSS). Data were analyzed using univariate and bivariate analysis with the chi-square test. The results showed a significant relationship between online game addiction and stress levels (p < 0.05), as well as a significant relationship between sleep quality and stress levels (p < 0.05). Most respondents with high game addiction and poor sleep quality experienced higher levels of stress. There is a significant relationship between online game addiction and sleep quality with student stress levels.</em></p>Shindu KeysahWahyudi
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilang
2026-01-302026-01-30101PENGARUH PEMBERIAN AROMATERAPI TERHADAP STRES KERJA PADA GURU YAYASAN PENDIDIKAN PRAMA ARTHA JAYA KABUPATEN SIMALUNGUN
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/18752
<p>Ketidakseimbangan antara beban kerja dan kemampuan guru dapat memicu stres kerja, yang juga dipengaruhi oleh faktor mental psikologis di lingkungan kerja. Aromaterapi lavender diketahui mampu memberikan efek relaksasi melalui stimulasi sistem limbik dalam pengendalian emosi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh aromaterapi lavender terhadap tingkat stres kerja guru di Yayasan Pendidikan Prama Artha Jaya Kabupaten Simalungun. Penelitian menggunakan desain pre-eksperimental dengan pendekatan one group pretest-posttest. Sampel penelitian berjumlah 41 guru yang ditentukan melalui total sampling. Pengukuran tingkat stres dilakukan menggunakan kuesioner Teacher Stress Inventory (TSI) sebelum dan sesudah pemberian aromaterapi lavender melalui metode reed diffuser. Data dianalisis menggunakan uji Paired Sample T-Test dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil analisis menunjukkan terdapat perbedaan signifikan tingkat stres kerja sebelum dan sesudah intervensi dengan nilai p = 0,000 (<0,05). Temuan ini membuktikan bahwa aromaterapi lavender efektif menurunkan stres kerja guru dan berpotensi diterapkan sebagai metode nonfarmakologis untuk menciptakan lingkungan kerja yang sehat dan kondusif.</p> <p><em>Imbalance between workload and teachers’ abilities can lead to work-related stress, which is also influenced by psychological factors within the work environment. Lavender aromatherapy is known to provide relaxation effects by stimulating the limbic system involved in emotional regulation. This study aimed to examine the effect of lavender aromatherapy on teachers’ work stress at Prama Artha Jaya Educational Foundation, Simalungun Regency. A pre-experimental design with a one-group pretest–posttest approach was employed. The sample consisted of 41 teachers selected using total sampling. Work stress levels were measured using the Teacher Stress Inventory (TSI) questionnaire before and after the administration of lavender aromatherapy through a reed diffuser method. Data were analyzed using the Paired Sample T-Test with a 95% confidence level. The results showed a significant difference in work stress levels before and after the intervention, with a p-value of 0.000 (<0.05). These findings indicate that lavender aromatherapy is effective in reducing teachers’ work stress and can be considered a non-pharmacological method to promote a healthier and more supportive work environment.</em></p>Putri Cahya Wulandari Fatma Indriani
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilang
2026-01-302026-01-30101ANALISIS KANDUNGAN SENYAWA BIOAKTIF DAN AKTIVITAS FARMAKOLOGI TANAMAN OBAT TRADISIONAL INDONESIA
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/18673
<p>Indonesia merupakan negara dengan biodiversitas tinggi yang memiliki kekayaan tanaman obat tradisional yang telah dimanfaatkan secara turun-temurun oleh masyarakat. Tanaman obat tersebut mengandung berbagai senyawa bioaktif seperti flavonoid, alkaloid, saponin, tanin, terpenoid, dan minyak atsiri yang berpotensi memberikan efek terapeutik. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis kandungan senyawa bioaktif dan aktivitas farmakologi dari sepuluh tanaman obat tradisional Indonesia serta menelaah relevansi penggunaan tradisional dengan temuan ilmiah modern. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan analisis deskriptif melalui studi kepustakaan terhadap jurnal ilmiah nasional dan internasional yang relevan dan mutakhir. Hasil kajian menunjukkan bahwa tanaman obat Indonesia memiliki aktivitas farmakologi yang luas, meliputi antioksidan, antiinflamasi, antibakteri, antidiabetes, antipiretik, dan imunomodulator, yang berkorelasi erat dengan kandungan senyawa bioaktifnya. Temuan ini menguatkan bahwa pengetahuan etnomedis memiliki dasar ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan. Kesimpulannya, tanaman obat tradisional Indonesia memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai bahan baku fitofarmaka berbasis bukti ilmiah yang aman dan efektif.</p> <p><em>Indonesia is one of the world’s megabiodiversity countries, possessing a vast variety of traditional medicinal plants that have long been used in community-based healthcare practices. These plants contain diverse bioactive compounds such as flavonoids, alkaloids, saponins, tannins, terpenoids, and essential oils that contribute to their therapeutic properties. This article aims to analyze the bioactive compound content and pharmacological activities of ten Indonesian traditional medicinal plants and to evaluate the relevance of traditional usage in relation to modern scientific findings. The study employed a qualitative descriptive method based on a literature review of recent and credible national and international scientific publications. The findings indicate that Indonesian medicinal plants exhibit a broad range of pharmacological activities, including antioxidant, anti-inflammatory, antibacterial, antidiabetic, antipyretic, and immunomodulatory effects, which are closely associated with their phytochemical profiles. These results support the scientific validity of ethnomedicinal knowledge. In conclusion, Indonesian traditional medicinal plants demonstrate significant potential to be developed as evidence-based phytopharmaceutical raw materials with promising efficacy and safety profiles.</em></p>Luciana Bunga SariPutrianiSetiana SafitriTiara Nabilah Putri
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilang
2026-01-302026-01-30101UJI DAYA TERIMA DAN NILAI KANDUNGAN GIZI TEH KULIT RAMBUTAN (Nephelium lappaceum L.)
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/18736
<p>Kulit buah rambutan (Nephelium lappaceum L.) merupakan limbah organik yang berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan dasar teh herbal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya terima, kandungan gizi, serta perbedaan tingkat kesukaan antara teh kulit rambutan dan teh Camellia sinensis. Penelitian menggunakan desain eksperimen post-test only control group dengan melibatkan 30 panelis tidak terlatih yang menilai empat parameter organoleptik, yaitu aroma, warna, rasa, dan tekstur. Analisis laboratorium dilakukan untuk mengetahui kandungan protein dan serat, sedangkan uji beda menggunakan Wilcoxon Signed-Rank Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teh kulit rambutan diterima panelis dengan kategori “suka” pada semua parameter. Uji laboratorium menunjukkan teh kulit rambutan mengandung protein sebesar 4,94 g dan serat kasar 19,3 g per 100 g, sedangkan teh Camellia sinensis mengandung protein 24,5 g dan serat 8,7 g per 100 g. Hal ini menegaskan bahwa meskipun kandungan protein teh kulit rambutan lebih rendah, produk ini memiliki keunggulan dalam kandungan serat yang bermanfaat bagi kesehatan pencernaan. Hasil uji beda memperlihatkan adanya perbedaan signifikan pada parameter aroma (p=0,037), warna (p=0,021), rasa (p=0,034), dan tekstur (p=0,026) antara kedua produk. Secara keseluruhan, temuan ini menunjukkan bahwa teh kulit rambutan tidak hanya dapat diterima secara sensoris, tetapi juga memiliki kandungan gizi yang berkontribusi terhadap kesehatan. Dengan demikian, teh kulit rambutan dapat direkomendasikan sebagai alternatif minuman herbal yang mendukung asupan serat masyarakat serta berpotensi digunakan dalam program edukasi gizi untuk meningkatkan pola konsumsi pangan sehat dan bergizi.</p> <p><em>Rambutan peel (Nephelium lappaceum L.) is an organic by-product that has the potential to be utilized as a raw material for herbal tea. This study aimed to evaluate the acceptability, nutritional content, and differences in preference between rambutan peel tea and Camellia sinensis tea. The research applied a post-test only control group experimental design involving 30 untrained panelists who assessed four organoleptic parameters, namely aroma, color, taste, and texture. Laboratory analyses were conducted to determine protein and crude fiber content, while differences between treatments were tested using the Wilcoxon Signed-Rank Test.The results showed that rambutan peel tea was generally well accepted by panelists, falling into the “like” category across all parameters. Laboratory tests revealed that rambutan peel tea contained 4.94 g protein and 19.3 g crude fiber per 100 g, while Camellia sinensis tea contained 24.5 g protein and 8.7 g fiber per 100 g. These findings indicate that although rambutan peel tea has lower protein content, it provides a substantial advantage in fiber content, which is essential for digestive health. Statistical analysis confirmed significant differences in aroma (p=0.037), color (p=0.021), taste (p=0.034), and texture (p=0.026) between the two tea types.In conclusion, rambutan peel tea is not only acceptable from a sensory perspective but also offers nutritional benefits that may contribute to public health. Therefore, it can be recommended as an alternative functional herbal beverage that supports both fiber intake and may be promoted in nutrition education programs to encourage healthier dietary patterns.</em></p>JusmainiEliska
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilang
2026-01-302026-01-30101EKSPLORASI SENYAWA BIOKIMIA TANAMAN OBAT BERBASIS KEARIFAN LOKAL SUKU ANAK DALAM DI TANJUNG JABUNG BARAT
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/18609
<p>Suku Anak Dalam (SAD) di Tanjung Jabung Barat memiliki kearifan lokal yang kaya dalam memanfaatkan tanaman obat hutan sebagai bagian dari pengobatan tradisional. Praktik ini diwariskan secara turun-temurun dan digunakan untuk menangani berbagai keluhan kesehatan seperti demam, infeksi, gangguan pencernaan, hingga peradangan. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi kandungan senyawa biokimia dari sepuluh tanaman obat utama yang digunakan SAD, yaitu padipayo, jerna, rotan, pisang kaya, sagu, labu prenggi, durian hutan, cupak, kasai, dan buah kepayang. Identifikasi senyawa dilakukan melalui telaah literatur terkini (2020–2024) serta pemetaan metabolit sekunder yang umumnya ditemukan pada spesies berkerabat. Analisis potensi farmasi mencakup aktivitas antibakteri, antioksidan, antidiabetes, antiradang, dan antiparasit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar tanaman mengandung flavonoid, alkaloid, terpenoid, tanin, dan saponin yang memiliki prospek tinggi dalam pengembangan obat berbasis bahan alam. Studi ini menegaskan pentingnya dokumentasi ilmiah terhadap pengetahuan etnobotani SAD sebagai langkah awal dalam konservasi dan pemanfaatan tanaman obat secara berkelanjutan.</p> <p><em>The Suku Anak Dalam (SAD) community of Tanjung Jabung Barat possesses rich indigenous knowledge regarding the use of forest medicinal plants for traditional healing practices. These remedies, passed down through generations, are applied to treat various health issues including fever, infections, digestive disturbances, inflammation, and general aches. This study aims to explore the biochemical compounds present in ten key medicinal plants traditionally used by SAD, namely padipayo, jerna, rotan, pisang kaya, sagu, labu prenggi, durian hutan, cupak, kasai, and buah kepayang. Compound identification was carried out through recent literature (2020–2024) and comparative mapping of secondary metabolites commonly found in related species. The pharmaceutical potential evaluated includes antibacterial, antioxidant, anti-inflammatory, antidiabetic, and antiparasitic activities. The results reveal that most plants contain flavonoids, alkaloids, terpenoids, tannins, and saponins, which hold significant promise for the development of natural-based therapeutic agents. This study highlights the importance of scientifically documenting SAD’s ethnobotanical knowledge as a foundation for future conservation efforts and sustainable medicinal plant utilization.</em></p>MarsyaMaryamNadiahDinda Fadilah NajihMarsyalenaAlika Haifah AuroraArdi Mustakim
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilang
2026-01-302026-01-30101HUBUNGAN ANTARA STRES DAN MINDFUL EATING DENGAN PERILAKU DIET PADA REMAJA PUTRI DI SMK NEGERI 1 KUDUS
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/19440
<p>Perilaku diet pada remaja putri sering dipengaruhi oleh faktor psikologis, salah satunya stres, serta pola makan yang tidak disadari atau kurang mindful. Stres yang tinggi dapat mendorong remaja melakukan perilaku diet yang tidak sehat, sedangkan mindful eating berperan dalam meningkatkan kesadaran terhadap pola makan yang lebih baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara stres dan mindful eating dengan perilaku diet pada remaja putri di SMK Negeri 1 Kudus. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain korelasional dan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian adalah remaja putri yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner untuk mengukur tingkat stres, mindful eating, dan perilaku diet. Analisis data dilakukan menggunakan uji statistik yang sesuai. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara stres dengan perilaku diet serta hubungan antara mindful eating dengan perilaku diet pada remaja putri. Penelitian ini menyimpulkan bahwa stres dan mindful eating memiliki peran penting dalam membentuk perilaku diet pada remaja putri, sehingga diperlukan upaya edukasi untuk mengelola stres dan meningkatkan kesadaran makan.</p> <p><em>Dietary behavior in adolescent girls is influenced by psychological factors, including stress and eating awareness or mindful eating. High levels of stress may lead adolescents to engage in unhealthy dieting behaviors, while mindful eating contributes to better awareness and healthier eating patterns. This study aimed to determine the relationship between stress and mindful eating with dietary behavior among adolescent girls at SMK Negeri 1 Kudus. This study employed a quantitative method with a correlational design and a cross-sectional approach. The sample consisted of adolescent girls selected using purposive sampling. Data were collected using questionnaires to assess stress levels, mindful eating, and dietary behavior. Statistical analysis was conducted using appropriate tests. The results indicated a significant relationship between stress and dietary behavior as well as between mindful eating and dietary behavior among adolescent girls. This study concludes that stress and mindful eating play important roles in shaping dietary behavior, highlighting the need for educational interventions to manage stress and promote mindful eating.</em></p>Cindy Mutiara FitriyaniIndanahNs. Ashri Maulida R
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilang
2026-01-302026-01-30101ANALISIS FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI STRESS KERJA PADA PERAWAT DI RUMAH SAKIT UMUM SINAR HUSNI KOTA MEDAN
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/18721
<p>Stres kerja merupakan salah satu permasalahan serius yang sering dialami oleh tenaga keperawatan dan dapat berdampak negatif terhadap kesehatan fisik, psikologis, serta kualitas pelayanan kepada pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh masa kerja, beban kerja, dan shift kerja terhadap tingkat stres kerja pada perawat di Rumah Sakit Sinar Husni Kota Medan. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif dengan pendekatan desain cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perawat yang ada di ruang rawat inap dengan total sampel sebanyak 89 responden dengan menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitas, kemudian dianalisis dengan uji chi-square dan regresi logistik untuk melihat hubungan dan pengaruh antar variabel. Hasil menunjukkan bahwa 19,1% responden mengalami stres kerja. Terdapat hubungan signifikan antara masa kerja (p=0,003), beban kerja (p=0,001), dan shift kerja (p=0,034) dengan stres kerja. Hasil regresi logistik menunjukkan bahwa masa kerja (OR=0,181), beban kerja (OR=3,002), dan shift kerja (OR=0,278) berpengaruh signifikan terhadap stres kerja. Beban kerja berat menjadi faktor dominan penyebab stres. Temuan ini menekankan pentingnya manajemen beban kerja dan penjadwalan kerja yang lebih efektif untuk meminimalisir resiko stress kerja pada perawat.</p> <p><em>Work stress is one of the serious problems that are often experienced by nursing personnel and can have a negative impact on physical, psychological, and quality of service to patients. This study aims to analyze the effect of work period, workload, and work shifts on the level of work stress in nurses at Sinar Husni Hospital, Medan City. This study uses a type of quantitative research with a cross sectional design approach. The population in this study is all nurses in the inpatient room with a total sample of 89 respondents using the total sampling technique. Data was collected through a questionnaire that had been tested for validity and reliability, then analyzed with chi-square tests and logistic regression to see the relationships and influences between variables. The results showed that 19.1% of respondents experienced work stress. There was a significant relationship between working time (p=0.003), workload (p=0.001), and work shifts (p=0.034) and work stress. The results of the logistics regression showed that the working period (OR=0.181), workload (OR=3.002), and work shifts (OR=0.278) had a significant effect on work stress. Heavy workload is the dominant factor causing stress. These findings emphasize the importance of workload management and more effective work scheduling to minimize the risk of work stress in nurses.</em></p>Maulida Neza Hayati SitompulSalianto
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilang
2026-01-302026-01-30101EKSPLORASI SENYAWA BIOKIMIA TANAMAN OBAT BERBASIS KEARIFAN LOKAL SUKU ANAK DALAM DI SUNGAI GELAM MUARO JAMBI
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/18603
<p>Suku Anak Dalam di kawasan Sungai Gelam, Muaro Jambi, memiliki kearifan lokal yang kaya dalam pemanfaatan vegetasi hutan sebagai obat tradisional. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi profil biokimia dan potensi farmakologis dari tanaman obat yang digunakan oleh masyarakat tersebut. Penelitian menggunakan metode etnofarmakologi deskriptif melalui observasi lapangan, dokumentasi morfologi, serta analisis fitokimia berbasis studi literatur. Hasil inventarisasi mengidentifikasi 15 spesies tanaman obat unggulan dengan kandungan metabolit sekunder dominan meliputi Flavonoid, Kurkuminoid, Terpenoid, dan Minyak Atsiri. Analisis struktur kimia dasar menunjukkan adanya hubungan erat antara gugus fungsi senyawa seperti kerangka C6-C3-C6 pada flavonoid dan struktur diarilheptanoid pada kurkuminoid dengan aktivitas biologisnya. Temuan ini memvalidasi secara ilmiah khasiat tradisional tanaman tersebut sebagai agen anti-inflamasi, antioksidan, dan antimikroba, serta potensinya sebagai bahan baku fitofarmaka.</p> <p><em>The Suku Anak Dalam community in the Sungai Gelam region, Muaro Jambi, possesses distinct local wisdom in utilizing forest vegetation as traditional medicine. This study aims to explore the biochemical profile and pharmacological potential of medicinal plants used by this community. The research employed a descriptive ethnopharmacological method through field observation, morphological documentation, and literature-based phytochemical analysis. The inventory results identified 15 superior medicinal plant species with dominant secondary metabolites including Flavonoids, Curcuminoids, Terpenoids, and Essential Oils. Basic chemical structure analysis revealed a strong correlation between functional groups such as the C6-C3-C6 backbone in flavonoids and the diarylheptanoid structure in curcuminoidsand their biological activities. These findings scientifically validate the traditional efficacy of these plants as anti-inflammatory, antioxidant, and antimicrobial agents, as well as their potential as raw materials for phytopharmaceuticals.</em></p>Citra Bunga LestariDea LestariHasanah Alifah MarsyaSuci FabillaTiara Putri SilviayaniArdi Mustakim
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilang
2026-01-302026-01-30101ANALISIS FAKTOR KEPATUHAN PEMAKAIAN ALAT PELINDUNG DIRI DI PT. PUTRA TUNAS MEGAH MEDAN
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkug/article/view/18831
<p>Kepatuhan dalam pemakaian Alat Pelindung Diri (APD) merupakan salah satu aspek penting dalam penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di lingkungan industri, khususnya pada sektor yang memiliki risiko tinggi seperti di PT. Putra Tunas Megah Medan. Rendahnya kepatuhan terhadap penggunaan APD dapat meningkatkan risiko terjadinya kecelakaan kerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi kepatuhan pemakaian APD di PT. Putra Tunas Megah Medan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain penelitian cross-sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode total sampling dengan jumlah responden sebanyak 65 pekerja. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dianalisis menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan (p = 0,008), sikap (p = 0,012), pengawasan (p = 0,005), dan ketersediaan APD (p = 0,017) dengan kepatuhan pemakaian APD. Oleh karena itu, disarankan kepada perusahaan untuk meningkatkan edukasi dan pelatihan mengenai pentingnya penggunaan APD, memperkuat sistem pengawasan, serta memastikan ketersediaan APD yang memadai guna menciptakan budaya kerja yang aman dan patuh terhadap prosedur K3.</p> <p><em>Compliance with the use of Personal Protective Equipment (PPE) is a crucial aspect of implementing Occupational Safety and Health (OSH) in industrial environments, especially in high-risk sectors such as at PT. Putra Tunas Megah Medan. Low compliance with PPE usage can increase the risk of workplace accidents. This study aims to analyze the factors influencing PPE compliance at PT. Putra Tunas Megah Medan. The study used a quantitative approach with a cross-sectional design. The sampling technique employed total sampling, with 65 workers as respondents. Data were collected using questionnaires and analyzed using the chi-square test. The results showed significant relationships between knowledge (p = 0.008), attitude (p = 0.012), supervision (p = 0.005), and PPE availability (p = 0.017) and compliance with PPE usage. Therefore, the company is advised to enhance education and training on the importance of PPE, strengthen the supervision system, and ensure adequate PPE availability to foster a safe work culture and adherence to OSH procedures.</em></p>Yasmine Anta SyahriDelfriana Ayu Astuty
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Unggul Gemilang
2026-01-302026-01-30101