ANALISIS KESENJANGAN PENDAPATAN NELAYAN TRADISIONAL DAN NELAYAN PENGGUNA BAGAN (PERANGKAP) IKAN BILIH DALAM PERSPEKTIF EKONOMI SYARIAH
(Studi Kasus Nelayan di Nagari Sumpur Batipuh Selatan Tanah Datar)
Kata Kunci:
Kesenjangan Pendapatan, Nelayan Tradisional, Bagan, Ikan Bilih, Ekonomi SyariahAbstrak
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh munculnya kesenjangan pendapatan yang signifikan di kalangan nelayan di Nagari Sumpur, Kecamatan Batipuh Selatan, Kabupaten Tanah Datar, akibat perbedaan teknologi dalam praktik penangkapan ikan bilih. Pemanfaatan alat tangkap modern seperti bagan memberikan keunggulan ekonomi bagi kelompok nelayan tertentu, namun sekaligus menimbulkan kerugian bagi nelayan tradisional yang masih mengandalkan metode konvensional. Kondisi ini menciptakan ketimpangan ekonomi yang bertentangan dengan prinsip keadilan distributif dalam ekonomi syariah. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi lapangan untuk memperoleh pemahaman mendalam terkait realitas sosial-ekonomi yang dihadapi masyarakat nelayan. Teknik pengumpulan data mencakup wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi. Proses analisis dilakukan secara induktif untuk mengidentifikasi pola-pola empiris serta keterkaitannya dengan prinsip-prinsip Islam. Hasil penelitian menunjukkan adanya disparitas pendapatan yang tajam antara nelayan pengguna bagan dan nelayan tradisional. Kelompok nelayan bagan memperoleh hasil tangkapan dan pendapatan bersih yang jauh lebih besar berkat efisiensi alat tangkap modern yang mereka gunakan. Sebaliknya, nelayan tradisional menghadapi keterbatasan dalam volume tangkapan, akses pasar, serta daya tawar ekonomi. Dalam perspektif ekonomi Islam, praktik ini menimbulkan persoalan keadilan (`adl), indikasi kerusakan lingkungan (fasād), serta ketidakseimbangan dalam akad ekonomi (akad tarāḍin). Lebih jauh, penggunaan bagan telah dilarang secara resmi melalui Peraturan Gubernur Sumatera Barat Nomor 4 Tahun 2023 karena dinilai merusak ekosistem Danau Singkarak dan berpotensi memicu konflik horizontal antar nelayan. Temuan ini menegaskan pentingnya kebijakan pengelolaan perikanan yang adil, berkelanjutan, dan sejalan dengan nilai-nilai syariah.
This study is driven by the growing income disparity among fishermen in Sumpur Village, Batipuh Selatan District, which stems from technological differences in bilih (Mystacoleucus padangensis) fishing practices. The adoption of modern fishing tools such as bagan (lift nets) significantly benefits its users in terms of catch volume and profitability, while simultaneously disadvantaging traditional fishermen who rely on conventional methods. This condition reflects a form of economic inequality that contradicts the principles of distributive justice in Islamic economics. Employing a descriptive qualitative approach through field research, this study collects primary data via in-depth interviews, direct observation, and documentation. The data are analyzed inductively to provide a comprehensive understanding of the fishermen’s economic conditions and the extent to which these practices align with sharia economic principles. The findings reveal a substantial income gap between traditional fishermen and those utilizing bagan, with the latter group consistently achieving higher catches and net income due to more efficient fishing technologies. In contrast, traditional fishermen face structural limitations, including restricted access to markets and lower yields, leading to persistently low income levels. From the perspective of Islamic economics, the widespread use of bagan raises critical concerns related to justice (‘adl), environmental degradation (fasād), and the lack of fairness in economic transactions (akad tarāḍin). Furthermore, the use of bagan has been officially prohibited by West Sumatra Governor Regulation No. 4 of 2023, as it poses a threat to the sustainability of Lake Singkarak’s ecosystem and has the potential to exacerbate social tensions among local fishing communities.



