INTEGRASI AL-QUR’AN DAN HADIST SEBAGAI WAHYU: TELAAH TERHADAP OTORITAS DAN VALIDITASNYA

Penulis

  • Abdurrohman Sholeh Universitas Al-Qolam Malang
  • Sehid Universitas Al-Qolam Malang
  • Fathul Bari Universitas Al-Qolam Malang
  • Achmad Mudzakkkir Yusuf Universitas Al-Qolam Malang
  • Abdurrahman Universitas Al-Qolam Malang

Kata Kunci:

Al-Qur’an, Hadis, Wahyu, Otoritas, Validitas

Abstrak

Al-Qur'an dan Hadis terintegrasi sebagai dua jenis wahyu Islam, dengan penekanan pada kekuatan dan kebenarannya dalam membentuk sistem epistemologi Islam. Sementara Al-Qur'an dianggap sebagai wahyu yang bersifat qaṭ'I al-tsubut dan qaṭ'i al-dalalah, Hadis, terutama yang ṣaḥīḥ, dianggap sebagai wahyu ghayr matluw yang berfungsi untuk menjelaskan, mendalami, dan melengkapi Al-Qur'an. Dalam penelitian ini, metodologi kualitatif digunakan dan literatur kontemporer dan klasik dipelajari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun hadis tidak memiliki otoritas mutlak seperti Al-Qur'an, ia masih memiliki kekuatan normatif jika memenuhi kriteria validitas melalui kritik sanad dan matan. Untuk memahami wahyu secara utuh dan relevan dengan dinamika zaman, diperlukan pendekatan integratif yang menggabungkan metode tekstual dan kontekstual . Kajian ini juga menekankan pentingnya merekonstruksi metodologi pemahaman hadis yang berbasis maqāṣid al-syarī'ah agar tetap aplikatif dalam konteks modern. Jadi, ketika Al-Qur'an dan Hadis diintegrasikan ke dalam wahyu, mereka tidak hanya memperkuat landasan hukum dan etika Islam, tetapi juga membangun sistem pengetahuan yang rasional, spiritual, dan kontekstual.

The Qur’an and Hadith are integrated as two forms of Islamic revelation, with emphasis on their authority and truth in shaping the epistemological system of Islam. While the Qur’an is considered a revelation with definitive authenticity and clarity (qaṭ’ī al-tsubūt and qaṭ’ī al-dalālah), Hadith—especially those classified as ṣaḥīḥ—are regarded as ghayr matlūw revelation that serves to explain, deepen, and complement the Qur’an. This study employs a qualitative methodology and examines both classical and contemporary literature. The findings indicate that although Hadith does not possess the same absolute authority as the Qur’an, it retains normative strength when it meets the criteria of validity through rigorous sanad and matan criticism. To fully understand revelation in a way that is relevant to contemporary dynamics, an integrative approach combining textual and contextual methods is required. The study also highlights the importance of reconstructing Hadith interpretation methodologies based on maqāṣid al-sharī‘ah to ensure their applicability in modern contexts. Thus, when the Qur’an and Hadith are integrated as revelation, they not only reinforce the foundations of Islamic law and ethics but also contribute to the development of a rational, spiritual, and contextually responsive knowledge system.

Unduhan

Diterbitkan

2025-11-30