JEJAK TAFSIR NUSANTARA: STUDI NASKAH TARJUMAN AL MUSTAFID KARYA ABDUR RAUF AS SINGKILI
Kata Kunci:
Tafsir Nusantara, Abdul Rauf Al-Singkili, Turjumān Al-MustafīdAbstrak
Artikel ini mengkaji secara komprehensif metodologi penafsiran dalam Turjumān al-Mustafīd, karya tafsir pertama berbahasa Melayu yang ditulis oleh Abdur Rauf al-Singkili dan menjadi fondasi awal perkembangan tafsir Al Quran di Nusantara. Lahir dalam konteks sosio-keagamaan Aceh abad ke-17, tafsir ini berfungsi sebagai sarana dakwah dan instrumen pendidikan masyarakat yang tidak menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa keseharian. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi kepustakaan dengan menelaah sumber primer berupa naskah Turjumān al-Mustafīd serta berbagai literatur sekunder terkait sejarah dan tradisi tafsir Melayu. Temuan penelitian menunjukkan bahwa al-Singkili menerapkan metode tahlīlī dengan pola tartīb al-muṣḥafī, memadukan pendekatan bi al-ra’yi dan riwayat klasik, serta mengacu pada sejumlah rujukan otoritatif seperti Tafsīr al-Jalalayn, Tafsīr al-Baiḍāwī, dan Tafsīr al-Khāzin, sehingga membentuk karakter penafsiran yang bercorak intertekstual. Kajian ini menegaskan bahwa Turjumān al-Mustafīd bukan sekadar adaptasi dari sumber-sumber sebelumnya, melainkan karya tafsir independen yang berperan signifikan dalam pembentukan epistemologi tafsir Nusantara. Penelitian ini memberikan kontribusi teoretis bagi penguatan studi tafsir Indonesia dan memperkaya pemahaman akademik mengenai warisan intelektual Islam Melayu.
This article offers a comprehensive examination of the exegetical methodology in Turjumān al-Mustafīd, the first complete Malay-language Qur’anic commentary authored by Abdur Rauf al-Singkili, which became a foundational work in the early development of Qur’anic exegesis in the Malay–Indonesian archipelago. Produced within the socio-religious context of seventeenth-century Aceh, the tafsir functioned as both a vehicle of Islamic propagation and an educational instrument for communities unfamiliar with Arabic as their everyday language. Employing a qualitative library-based research approach, this study analyzes the primary manuscript of Turjumān al-Mustafīd alongside relevant secondary literature on the history and tradition of Malay Qur’anic interpretation. The findings reveal that al-Singkili employs the tahlīlī method with a tartīb al-muṣḥafī structure, integrating bi al-ra’yi reasoning with classical transmitted reports, and drawing heavily on authoritative exegetical sources such as Tafsīr al-Jalalayn, Tafsīr al-Baiḍāwī, and Tafsīr al-Khāzin, resulting in a distinctly intertextual exegetical character. The study argues that Turjumān al-Mustafīd is not merely an adaptation of earlier works but an independent tafsir that significantly contributes to the formation of Nusantara’s exegetical epistemology. This research provides theoretical contributions to the advancement of Indonesian Qur’anic studies and enriches academic understanding of the intellectual heritage of Malay Islamic scholarship.



