SEJARAH PERKEMBANGAN DAN DINAMIKA ISLAM DI SINGAPURA DAN BRUNAI DARUSSALAM
Kata Kunci:
Perkembangan Islam, Brunei Darussalam, Singapura, Melayu Islam Beraja (Mib), Sekulerisme, Dinamika Agama-PolitikAbstrak
Brunei Darussalam telah berdiri sebagai kerajaan sejak abad ke-7 atau ke-8 dan menjadi pusat perdagangan penting di Laut Cina Selatan sejak masa itu. Sejarah mencatat bahwa Islam telah mencapai Brunei sejak abad ke-7 melalui jalur perdagangan oleh pedagang Arab dan Gujarat, meskipun berkembang pesat dengan pola top down setelah Sultan Muhammad Shah memerintah pada tahun 1383 sebagai sultan Muslim pertama yang menggabungkan kepemimpinan kerajaan dan agama. Singapura, sebagai negara kota yang beragam, menerima Islam pada abad ke-13 melalui pelabuhan Temasek yang ramai, dengan imigran Melayu, Arab, dan Gujarati sebagai penggerak penyebarannya. Makalah ini bertujuan untuk menganalisis secara rinci sejarah perkembangan Islam di kedua negara, serta dinamika interaksi antara agama, politik, budaya Melayu, dan tantangan kontemporer. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka dan analisis kontekstual terhadap sumber primer dan sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Brunei, Islam menjadi ideologi nasional melalui konsep Melayu Islam Beraja (MIB) yang mengintegrasikan kesetiaan kepada raja, ajaran Islam Sunni Ahlussunnah Waljamaah, dan identitas Melayu. Di Singapura, Islam berkembang dalam kerangka negara sekuler yang mempromosikan kebebasan beragama dan kebersamaan antarumat beragama, dengan Majlis Ugama Islam Singapura (MUIS) sebagai lembaga pengatur urusan agama Muslim. Kedua negara menghadapi tantangan terkait radikalisme, modernisasi, dan integrasi sosial, namun menanganinya dengan cara yang berbeda sesuai konteks politik dan budaya masing-masing.
Brunei Darussalam has existed as a kingdom since the 7th or 8th century and became an important trading center in the South China Sea from that time. History records that Islam reached Brunei as early as the 7th century through trade routes by Arab and Gujarati merchants, although it developed rapidly through a top-down pattern after Sultan Muhammad Shah ruled in 1383 as the first Muslim sultan who combined state and religious leadership. Singapore, as a diverse city-state, received Islam in the 13th century through the bustling port of Temasek, with Malay, Arab, and Gujarati immigrants as the drivers of its spread. This paper aims to analyze in detail the history of the development of Islam in both countries, as well as the dynamics of interaction between religion, politics, Malay culture, and contemporary challenges. This research uses a qualitative approach with the literature study method and contextual analysis of primary and secondary sources. The results show that in Brunei, Islam became the national ideology through the concept of Malay Islamic Monarchy (MIB) which integrates loyalty to the king, the teachings of Sunni Ahlussunnah Waljamaah Islam, and Malay identity. In Singapore, Islam develops within the framework of a secular state that promotes religious freedom and interfaith harmony, with the Islamic Religious Council of Singapore (MUIS) as the institution regulating Muslim religious affairs. Both countries face challenges related to radicalism, modernization, and social integration, but address them in different ways according to their respective political and cultural contexts.



