PEMETAAN DESTINASI PARIWISATA BERBASIS KERENTANAN RESIKO BAHAYA BENCANA GUNUNG MERAPI DAN TANAH LONGSOR DI DAERAH ISTIMEWA YOGYKARTA

Penulis

  • Suhada' Arif Universitas Sahid
  • Bayu Dwi Fachruzy Universitas Sahid
  • Linggar Ismara Universitas Sahid
  • Annisa Nur Khalifah Universitas Sahid
  • Annisa Cahyani Universitas Sahid
  • Winda Amelia Sari Universitas Sahid
  • Maysuri Farkhah Universitas Sahid
  • Annisa Safrilia Universitas Sahid
  • Natalis Situmorang Universitas Sahid

Kata Kunci:

Pariwisata, Kerentanan, Risiko, Bahaya, Pemetaan

Abstrak

Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan sebuah daerah yang berada di selatan Provinsi Jawa Tengah dengan nuansa kebudayaan yang kental serta keindahan alam yang beragam. Kondisi tersebut menjadikan Yogyakarta sebagai salah satu daerah tujuan wisata utama yang sering dikunjungi oleh masyarakat, baik wisatawan lokal maupun internasional. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah rata-rata wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta pada bulan Mei 2025 mencapai 9.699 kunjungan, dengan peningkatan sebesar 35,94%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui cakupan risiko bencana pada destinasi pariwisata yang berada di sekitar kawasan wisata, baik di wilayah Gunung Merapi, pantai selatan, maupun kawasan Gunungkidul. Metode yang digunakan meliputi pengumpulan data dan pemetaan risiko bencana, serta penentuan kriteria terhadap jenis bencana yang berpotensi terjadi dengan mengacu pada Standar Operasional Prosedur (SOP) Krisis Kepariwisataan yang disesuaikan dengan kondisi di lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari total 46 lokasi pariwisata di kawasan Daerah Istimewa Yogyakarta, terdapat 3 kawasan wisata yang berada pada kategori risiko “Sedang” dengan parameter kerusakan akibat bencana longsor. Sementara itu, sebanyak 43 lokasi pariwisata lainnya masuk dalam kategori risiko “Rendah”. Berdasarkan temuan tersebut, upaya yang perlu dilakukan adalah pelaksanaan mitigasi bencana pada tiga kawasan pariwisata yang berada di wilayah Gunungkidul. Bentuk mitigasi tersebut meliputi pembuatan jalur evakuasi, pemasangan rambu-rambu jalur evakuasi, penguatan tebing, serta penetapan kawasan hutan untuk mencegah penebangan pohon secara berlebihan yang dapat memicu terjadinya longsor. Selain itu, diperlukan pula penyusunan aturan bagi wisatawan dan pengelola destinasi wisata untuk menjaga keamanan serta kebersihan lingkungan di kawasan rawan bencana.

The Special Region of Yogyakarta is an area located in the south of Central Java Province with a strong cultural atmosphere and abundant natural beauty, making Yogyakarta a major tourist destination that is often visited by both local and international visitors. According to data from the Central Statistics Agency (BPS), the average number of tourists visiting Yogyakarta in May 2025 reached 9,699 visits, representing an increase of 35.94%. The purpose of this study is to determine the scope of disaster risk in tourist destinations located around tourist areas, including Mount Merapi, the southern coast, and Gunung Kidul, using data collection and disaster risk mapping methods, as well as to determine criteria for disasters that occur in accordance with the Tourism Crisis SOP, which is adapted to conditions in the field. The research results identified 46 tourist sites in the Yogyakarta area, with 3 tourist areas classified as “Moderate” based on landslide damage parameters and 43 others classified as “Low.” Therefore, mitigation measures need to be implemented in the 3 tourist areas located in the GunungKidul region, such as creating evacuation routes, evacuation route signs, slope reinforcement, and the designation of forest areas to prevent excessive tree felling, thereby mitigating landslides in disaster-prone areas. Additionally, regulations should be established for tourism activities in the destination area to ensure environmental protection and cleanliness.

Unduhan

Diterbitkan

2026-01-30