MODERASI BERAGAMA: DALAM RANGKA MEMBANGUN HUBUNGAN MELALUI KEIKUTSERTAAN DI IDUL ADHA UNTUK MEMPERKUAT HUBUNGAN KRISTEN DAN MUSLIM, SERTA MENINGKATKAN PEMAHAMAN DAN TOLERANSI DI KELURAHAN KEBON MELATI, KECAMATAN TANAH ABANG, JAKARTA PUSAT
Kata Kunci:
Moderasi Beragama, Toleransi, Lintas Agama, Idul Adha, Pengabdian Masyarakat, Dialog Sosial, Keharmonisan SosialAbstrak
Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk memperkuat nilai-nilai moderasi beragama dan toleransi antarumat beragama melalui partisipasi lintas iman dalam perayaan Idul Adha di Kelurahan Kebon Melati, Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat. Program ini melibatkan 40 warga Muslim dan Kristen yang berpartisipasi dalam kegiatan sosial keagamaan, seperti pengemasan dan distribusi daging kurban, serta forum silaturahmi dan dialog terbuka. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan partisipatif berbasis komunitas yang menekankan interaksi langsung sebagai strategi membangun relasi sosial yang setara. Berdasarkan data survei sebelum dan sesudah pelaksanaan, terjadi peningkatan signifikan dalam pemahaman toleransi: dari 30% menjadi 65% responden yang memiliki pemahaman tinggi. Selain itu, tingkat kepuasan terhadap program juga menunjukkan hasil positif, dengan lebih dari 80% responden memberikan skor 4 dan 5 pada skala kepuasan. Hasil ini menunjukkan bahwa keikutsertaan warga lintas agama dalam kegiatan religius mampu menjadi media pembelajaran sosial yang efektif dalam membangun kohesi sosial. Meskipun demikian, keterbatasan dalam hal durasi kegiatan dan keterlibatan penuh dari seluruh lapisan masyarakat masih menjadi tantangan yang perlu diperhatikan untuk keberlanjutan program. Temuan ini memperkuat hasil penelitian sebelumnya yang menekankan pentingnya praktik langsung dalam membentuk sikap moderat dan inklusif di tengah masyarakat plural.
This community service program aimed to strengthen the values of religious moderation and interfaith tolerance through cross-faith participation in the celebration of Eid al-Adha in Kebon Melati, Tanah Abang District, Central Jakarta. The program involved 40 Muslim and Christian residents who collaborated in religious-social activities, including the packaging and distribution of sacrificial meat, as well as fellowship gatherings and open dialogue forums. The implementation adopted a community-based participatory approach that emphasized direct interaction as a strategy to build more equitable social relations. Survey data collected before and after the program indicated a significant improvement in tolerance understanding, with the percentage of respondents demonstrating high levels of tolerance increasing from 30% to 65%. Moreover, program satisfaction was notably positive, as over 80% of participants rated the activities with scores of 4 or 5 on the satisfaction scale. These findings suggest that interfaith participation in religious activities can serve as an effective medium of social learning to foster social cohesion. Nevertheless, certain challenges remain, particularly regarding the limited duration of the activities and the incomplete involvement of all community groups. This study reinforces previous research emphasizing the importance of practical, lived experiences in cultivating moderate and inclusive attitudes within pluralistic societies.



