KONSEP TANA WA AWANG ETA: EKOESKATOLOGI DALAM SIMBOLISME ALAM BUDAYA MANGGARAI

Penulis

  • Georgius Y. A. Subantar Institut Filsafat Dan Teknologi Kreatif Ledalero
  • Varena Hariyanto Fepi Institut Filsafat Dan Teknologi Kreatif Ledalero
  • Remigius Rasul Institut Filsafat Dan Teknologi Kreatif Ledalero
  • Fidelis Situ Institut Filsafat Dan Teknologi Kreatif Ledalero

Kata Kunci:

Ekoeskatologi, Budaya Manggarai, Simbolisme Alam, Spiritualitas Ekologis, Teologi Kontekstual

Abstrak

Fenomena degradasi lingkungan yang semakin meluas telah mendorong lahirnya pendekatan teologis yang mengintegrasikan dimensi ekologis dan eskatologis, dikenal sebagai ekoeskatologi. Kajian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis simbol-simbol alam dalam kebudayaan masyarakat Manggarai, Flores, sebagai representasi spiritual yang mengandung makna tentang asal-usul, perjalanan hidup, kematian, dan harapan akan pemulihan kosmik. Dengan menggunakan pendekatan teologis-kultural dan metode etnografis, penelitian ini menelaah elemen-elemen alam seperti tanah, air, gunung, dan langit yang diposisikan secara sakral dalam ritus dan narasi kolektif masyarakat Manggarai. Hasil kajian menunjukkan bahwa relasi antara manusia dan alam dalam budaya Manggarai tidak hanya bersifat ekologis, tetapi juga mengandung dimensi transendental yang merefleksikan kesadaran akan keterhubungan kosmik. Temuan ini memperlihatkan bahwa spiritualitas ekologis berbasis kearifan lokal dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap pengembangan wacana ekoeskatologi yang kontekstual dan relevan dalam menghadapi tantangan krisis lingkungan global.

The phenomenon of widespread environmental degradation has led to the emergence of a theological approach that integrates ecological and eschatological dimensions, known as eco-eschatology. This study aims to identify and analyze natural symbols in the culture of the Manggarai people of Flores as spiritual representations that contain meanings about origins, life journeys, death, and hopes for cosmic restoration. Using a theological-cultural approach and ethnographic methods, this study examines natural elements such as soil, water, mountains, and  the sky, which are positioned as sacred in the rituals and collective narratives of the Manggarai people. The results of the study show that the relationship between humans and nature in Manggarai culture is not only ecological but also contains a transcendental dimension that reflects an awareness of cosmic interconnectedness. These findings show that ecological spirituality based on local wisdom can make a significant contribution to the development of a contextual and relevant eco-eschatological discourse in facing the challenges of the global environmental crisis.

Unduhan

Diterbitkan

2026-02-28