NEGOSIASI MAKNA BUDAYA DALAM TRADISI SIRAM RAMPE DI TENGAH DOMINASI NILAI KEAGAMAAN KRISTEN PROTESTAN
Kata Kunci:
Efektivitas, Sistem Pendataan, Pelayanan Pajak Daerah, Pendapatan Asli Daerah, Bapenda Ogan IlirAbstrak
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis negosiasi makna sosial dan budaya dalam tradisi Siram Rampe di Desa Poto, Kecamatan Fatuleu Barat, Kabupaten Kupang, di tengah dominasi nilai keagamaan Kristen Protestan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif, serta berlandaskan pada teori interaksionisme simbolik Herbert Blumer. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam terhadap enam informan yang terdiri dari tokoh adat, tokoh agama, perempuan adat, dan anggota keluarga, serta dokumentasi. Analisis data dilakukan menggunakan model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara sosial, tradisi Siram Rampe berfungsi sebagai media integrasi keluarga, penguatan solidaritas sosial, serta ruang dukungan emosional. Secara budaya, tradisi ini dimaknai sebagai simbol penghormatan kepada leluhur, warisan turun-temurun, dan identitas budaya masyarakat. Dalam konteks agama Kristen Protestan, tradisi ini mengalami proses reinterpretasi sehingga tetap dipertahankan sebagai praktik budaya tanpa dianggap bertentangan dengan ajaran iman. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan bahwa tradisi Siram Rampe merupakan hasil konstruksi makna yang dinegosiasikan secara dinamis antara adat dan agama dalam kehidupan sosial masyarakat.
This study aims to analyze the negotiation of social and cultural meanings within the Siram Rampe tradition in Poto Village, Fatuleu Barat District, Kupang Regency, in the context of the dominance of Protestant Christian values. This research employs a qualitative approach with a descriptive method, grounded in Herbert Blumer’s theory of symbolic interactionism. Data were collected through observation, in-depth interviews with six informants consisting of traditional leaders, religious leaders, customary women, and family members, as well as documentation. Data analysis was conducted using the Miles and Huberman interactive model, which includes data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings reveal that, socially, the Siram Rampe tradition functions as a medium for family integration, the strengthening of social solidarity, and a space for emotional support. Culturally, the tradition is interpreted as a symbol of respect for ancestors, a hereditary legacy, and a marker of the community’s cultural identity. Within the context of Protestant Christianity, the tradition undergoes a process of reinterpretation, allowing it to be maintained as a cultural practice without being perceived as contradictory to religious teachings. Therefore, this study confirms that the Siram Rampe tradition represents a socially constructed meaning that is dynamically negotiated between customary values and religious beliefs in the social life of the community.




