MAKNA RITUAL ADAT DAB’BA ANA SEBAGAI RITUS PENGESAHAN KELAHIRAN DAN IDENTITAS BUDAYA MASYARAKAT JINGITIU DI DESA PEDARRO, KABUPATEN SABU RAIJUA
Kata Kunci:
Dab’ba Ana, Ritual Adat, Jingitiu, Makna Simbolik, Masyarakat Sabu RaijuaAbstrak
Penelitian ini bertujuan menganalisis makna ritual adat Dab’ba Ana, yaitu upacara permandian bayi secara adat pada masyarakat Jingitiu di Desa Pedarro, Kecamatan Hawu Mehara, Kabupaten Sabu Raijua. Ritual ini merupakan bagian dari tradisi kelahiran yang masih dipertahankan dan memiliki kedudukan penting dalam kehidupan sosial serta keagamaan masyarakat setempat. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain etnografi mini. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi, dokumentasi, dan studi pustaka terhadap tokoh adat serta masyarakat Jingitiu yang dipilih secara purposive. Analisis data dilakukan secara tematik dengan menggunakan perspektif Interaksionisme Simbolik Herbert Blumer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Dab’ba Ana bukan sekadar prosesi adat, melainkan mekanisme budaya untuk mengesahkan status anak dari kelahiran biologis menuju pengakuan sosial dan spiritual. Tahapan ritual meliputi persiapan di Tarru Duru, Huri Rei Ana, Pej’iu Ei Dabba, Redj’ji Nyiu Pa Wowadu Hapo, Peb’bagi Kenana nga Kelalla, dan Pemelli Manu. Setiap tahapan mengandung makna simbolik berupa penyucian diri, penyerahan anak kepada Deo Ama, harapan akan kesejahteraan hidup, serta penguatan solidaritas komunal. Penelitian ini menemukan tiga dimensi utama makna ritual, yaitu religius, historis, dan sosiologis. Secara religius, ritual menjadi sarana permohonan perlindungan dan keselamatan hidup. Secara historis, ritual merepresentasikan warisan leluhur yang menjaga memori kolektif masyarakat. Secara sosiologis, ritual memperkuat integrasi sosial, kebersamaan, dan identitas budaya komunitas Jingitiu. Di tengah perubahan sosial modern, Dab’ba Ana tetap bertahan karena dimaknai sebagai penanda identitas masyarakat Sabu.
This study aims to analyze the meaning of the Dab’ba Ana traditional ritual, a customary infant bathing ceremony practiced by the Jingitiu community in Pedarro Village, Hawu Mehara District, Sabu Raijua Regency. The ritual is part of the birth tradition that continues to be preserved and holds an important position in the social and religious life of the local community. This research employed a qualitative approach with a mini-ethnographic design. Data were collected through in-depth interviews, observation, documentation, and literature review involving customary leaders and Jingitiu community members selected purposively. Data were analyzed thematically using Herbert Blumer’s Symbolic Interactionism perspective. The findings reveal that Dab’ba Ana is not merely a customary ceremony, but a cultural mechanism that legitimizes a child’s transition from biological birth to social and spiritual recognition. The ritual stages include preparation at Tarru Duru, Huri Rei Ana, Pej’iu Ei Dabba, Redj’ji Nyiu Pa Wowadu Hapo, Peb’bagi Kenana nga Kelalla, and Pemelli Manu. Each stage contains symbolic meanings related to purification, dedication of the child to Deo Ama, hopes for prosperity, and the strengthening of communal solidarity. This study identifies three main dimensions of meaning: religious, historical, and sociological. Religiously, the ritual functions as a medium for seeking protection and blessings. Historically, it represents ancestral heritage that preserves the community’s collective memory. Sociologically, it reinforces social integration, togetherness, and the cultural identity of the Jingitiu community. Amid contemporary social change, Dab’ba Ana persists because it is understood as an important marker of Sabu identity.




