ETIKA BERMEDIA SOSIAL DALAM AL-QUR’AN: ANALISIS PENAFSIRAN AYAT-AYAT TABAYYUN TERHADAP FENOMENA HOAKS DI ERA DIGITAL
Kata Kunci:
Era Digital, Etika Bermedia Sosial, Hoaks, Surah Al-Hujurat Ayat 6, TabayyunAbstrak
Di era digital, integrasi sosial dan validitas informasi sangat terancam oleh maraknya hoaks serta disinformasi di jejaring sosial. Lewat studi kepustakaan berbasis metode kualitatif dan pendekatan tafsir tematik (maudhu'i), penelitian ini mengeksplorasi etika digital dengan membedah interpretasi ayat-ayat tabayyun, terutama Surah Al-Hujurat [49]: 6. Temuan studi mengindikasikan bahwa tabayyun bukan sekadar validasi teori, melainkan sebuah tanggung jawab moral dan spiritual yang menuntut pemeriksaan mendalam terhadap asal-usul (as-sanad) serta substansi (al-matn) berita. Di dunia maya, prinsip ini dapat diwujudkan menjadi panduan bermedia sosial yang menekankan pemikiran kritis, kehati-hatian dalam menyebarkan konten, serta keberpihakan pada kepentingan masyarakat demi menekan peredaran berita bohong.
In the digital era, social integration and the validity of information are severely threatened by the rampant spread of hoaxes and disinformation on social networks. Through a qualitative library research method and a thematic exegesis (maudhu'i) approach, this study explores digital ethics by dissecting the interpretation of tabayyun verses, particularly Surah Al-Hujurat [49]: 6. The study's findings indicate that tabayyun is not merely a theoretical validation, but a moral and spiritual responsibility that demands a profound examination of both the source (as-sanad) and the substance (al-matn) of the news. In the cyber world, this principle can be manifested into social media guidelines that emphasize critical thinking, caution in sharing content, and alignment with the public interest in order to suppress the circulation of fake news.




