Jurnal Psikologi Dinamika https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpd id-ID Sat, 30 May 2026 18:07:58 +0000 OJS 3.3.0.7 http://blogs.law.harvard.edu/tech/rss 60 PROSES ADAPTASI EMOSIONAL DAN PEMBENTUKAN IDENTITAS DIRI MAHASISWA RANTAU DALAM MENGHADAPI PERUBAHAN SOSIAL https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpd/article/view/21642 <p><em>This study aims to understand the process of emotional adaptation and identity formation among out-of-town university students in facing social changes. The research employed a qualitative approach using in-depth interviews with three migrant students. The findings reveal that the initial phase of living away from home is characterized by emotional ambivalence, including feelings of excitement, anxiety, loneliness, and low self-confidence. Over time, participants developed coping strategies through social support, organizational involvement, self-reflection, and selective peer relationships. This process led to improved emotional regulation, self-acceptance, independence, and stronger identity formation. Living away from home is ultimately interpreted as a process of psychological maturation and the development of a more established sense of self.</em></p> Fixel Khairunaisa, Sugeng Sejati, Dini Sekarwulan, Fredela Nesyah, Kirana Sutri Dewi, Fenti Desma Saputri Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Psikologi Dinamika https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpd/article/view/21642 Sat, 30 May 2026 00:00:00 +0000 HUBUNGAN STRATEGI COPING DENGAN PSYCHOLOGICAL DISTRESS PADA ORANG TUA ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpd/article/view/21856 <p>Orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus (ABK) menghadapi tantangan pengasuhan yang kompleks sehingga rentan mengalami psychological distress (tekanan psikologis). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara strategi coping dengan psychological distress pada orang tua anak berkebutuhan khusus di Kabupaten Pelalawan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan melibatkan 71 orang tua ABK sebagai sampel yang diambil menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan adalah Brief COPE (Carver, 1997) untuk mengukur strategi coping dan Kessler Psychological Distress Scale (K-10) (Kessler et al., 2002) untuk mengukur psychological distress. Analisis data menggunakan korelasi Product Moment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif yang signifikan antara strategi coping dengan psychological distress (r = -0,321; p = 0,006). Hal ini berarti bahwa semakin adaptif strategi coping yang digunakan orang tua, maka semakin rendah tingkat psychological distress yang dialami. Strategi coping memberikan sumbangan efektif sebesar 10,3% terhadap psychological distress, sedangkan sisanya sebesar 89,7% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Berdasarkan kategorisasi data, sebagian besar responden memiliki strategi coping pada kategori sedang (63,4%) dan psychological distress pada kategori sedang (63,4%). Temuan ini mengindikasikan bahwa kondisi orang tua ABK di Kabupaten Pelalawan berada dalam kondisi yang stabil namun masih berpeluang untuk ditingkatkan. Kesimpulan penelitian ini adalah bahwa strategi coping memiliki hubungan negatif yang signifikan dengan psychological distress pada orang tua ABK. Hasil ini mengimplikasikan perlunya pengembangan program intervensi berbasis peningkatan keterampilan coping yang adaptif, terutama problem-focused coping dan emotion-focused coping, untuk mendukung kesehatan mental orang tua anak berkebutuhan khusus.</p> Setianing Rodiyah, Yulita Kurniawaty Asra, Masyhuri Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Psikologi Dinamika https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpd/article/view/21856 Sat, 30 May 2026 00:00:00 +0000 LITERATUR REVIEW: EMOTIONAL LABOR DAN BURNOUT https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpd/article/view/21857 <p>Emotional Labour pertama kali diperkenalkan pada tahun 1979 oleh Hochschild. Emotional labor merupakan kemampuan individu dalam melakukan kontrol untuk mengelola emosi dengan menampilkannya secara profesional sesuai dengan tuntutan organisasi. Berbagai penelitian mulai berkembang untuk membahas dan memahami hubungan sebab dan akibat dari emotional labor. Tulisan ini bertujuan untuk menggali informasi dari berbagai literatur untuk mengetahui hubungan antara emotional labor dan burnout serta faktor-faktor lain yang mempengaruhinya. Menariknya ditemukan hasil yang berbeda dari keterkaitan antara masing-masing indicator emotional labor terhadap burnout. Emotional labor dapat menyebabkan kelelahan emotional yang merupakan aspek dari burnout, dimana emotional labor surface acting berhubungan positif terhadap burnout, sedangkan emotional labor deep acting memiliki hubungan negative terhadap burnout. Perbedaan hubungan antara emotional labour (surface acting dan deep acting) terhadap burnout yang dapat dipengaruhi oleh beberapa factor diantaranya kepribadian, dukungan sosial, strategi pengelolaan emosi, dan lain sebagainya yang dapat memberikan pengaruh terhadap hubungan antara emotional labor dan burnout.</p> <p><em>Emotional Labour was introduced in 1979 by Hochschild. Emotional labor is an individual's ability to exert control in managing emotions by displaying them professionally in accordance with organizational demands. Various studies have emerged to discuss and understand the cause-and-effect relationship of emotional labor. This paper aims to explore information from various literature to determine the relationship between emotional labor and burnout, as well as other influencing factors. Interestingly, different results were found regarding the correlation between emotional labor and burnout. Emotional Labour Surface Acting has a positive correlation with exhaustion (Kim, 2019), while emotional labor deep acting has a positive correlation with personal achievement (Grandey, et al., 2002), job satisfaction (Kammeyer, et al., 2013), and well-being (Johnson, et al., 2007). Other studies indicate that emotional labor can lead to emotional exhaustion, which is an aspect of burnout, where emotional labor surface acting has a positive correlation with burnout, while emotional labor deep acting has a negative correlation with burnout (Soni, 2017). The differing relationships between emotional labor (surface acting and deep acting) and burnout can be influenced by various factors, including personality (Ika, 2015; Jeung, et al., 2017), social support, emotion management strategies, and others that can impact the relationship between emotional labor and burnout.</em></p> Putri Ariestia Wulandari, Ana Nurhasanah Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Psikologi Dinamika https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpd/article/view/21857 Sat, 30 May 2026 00:00:00 +0000