PERPADUAN BUDAYA DALAM ARSITEKTUR ISTANA MAIMUN DI MEDAN
Kata Kunci:
Istana Maimun, Kesultanan Deli, Arsitektur, Akulturasi Budaya, SejarahAbstrak
Artikel ini mengkaji Istana Maimun sebagai salah satu bangunan bersejarah yang menjadi ikon Kota Medan sekaligus peninggalan penting Kesultanan Deli. Istana ini dibangun pada masa pemerintahan Sultan Ma'mun Al Rashid Perkasa Alamsyah pada tahun 1888 dan selesai pada tahun 1891. Penelitian ini berfokus pada analisis perpaduan unsur budaya yang tercermin dalam arsitektur Istana Maimun, yang meliputi pengaruh budaya Melayu, India, Timur Tengah, dan Eropa. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan studi literatur dan analisis historis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perpaduan berbagai unsur budaya tersebut tidak hanya memperkaya nilai estetika bangunan, tetapi juga mencerminkan dinamika sosial dan interaksi budaya pada masa Kesultanan Deli. Dengan demikian, Istana Maimun memiliki nilai historis dan kultural yang tinggi sebagai representasi akulturasi budaya dalam arsitektur.
This article examines Maimun Palace as a historical building that serves as an icon of Medan City and an important legacy of the Deli Sultanate. The palace was constructed during the reign of Sultan Ma'mun Al Rashid Perkasa Alamsyah in 1888 and completed in 1891. This study focuses on analyzing the cultural fusion reflected in the architecture of Maimun Palace, which includes influences from Malay, Indian, Middle Eastern, and European cultures. The research employs a qualitative approach using literature review and historical analysis. The findings reveal that the integration of these diverse cultural elements not only enhances the aesthetic value of the building but also reflects the social dynamics and cultural interactions during the Deli Sultanate era. Therefore, Maimun Palace holds significant historical and cultural value as a representation of cultural acculturation in architecture.


