JURNAL PENELITIAN PENDIDIKAN LUNTURNYA SIKAP NASIONALISME GENERASI MILENIAL TERHADAP PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN

Penulis

  • Rossa Lita Institut Sains Al-Qur'an Syekh Ibrahim Pasir Pengaraian Kabupaten Rokan Hulu
  • Syamzaimar Institut Sains Al-Qur'an Syekh Ibrahim Pasir Pengaraian Kabupaten Rokan Hulu

Kata Kunci:

Nasionalisme, Generasi Milenial, Pendidikan Pancasila Dan Kewarganegaraan (Ppkn), Globalisasi, Literasi Digital, Inovasi Pembelajaran

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penyebab lunturnya sikap nasionalisme di kalangan generasi milenial serta mengidentifikasi strategi yang efektif untuk membangkitkan kembali semangat nasionalisme melalui Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), serta melalui peran keluarga, pendidikan, dan pemerintah. Di tengah arus globalisasi yang semakin masif, generasi milenial menghadapi tantangan berupa krisis identitas nasional akibat kuatnya penetrasi budaya asing yang menggeser nilai-nilai lokal. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan yang bersumber dari jurnal, buku, artikel ilmiah, dan sumber daring yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa lunturnya nasionalisme tidak hanya ditandai oleh menurunnya rasa cinta tanah air, tetapi juga oleh pergeseran orientasi nilai akibat dominasi ruang digital yang bersifat transnasional. Generasi milenial cenderung mengadopsi gaya hidup kosmopolitan yang dianggap lebih modern dibandingkan nilai-nilai tradisional sehingga identitas nasional menjadi semakin kabur. Fenomena ini diperparah oleh rendahnya literasi digital yang menyebabkan ketidakmampuan dalam menyaring informasi dan ideologi yang bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila. Selain itu, pembelajaran PPKn yang masih bersifat konvensional dan berorientasi pada hafalan dinilai kurang mampu membangun keterlibatan emosional peserta didik. Metode pembelajaran yang kurang kontekstual menyebabkan siswa hanya memahami nilai-nilai kebangsaan secara kognitif tanpa mampu menginternalisasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Di sisi lain, adanya krisis keteladanan dari elite politik serta maraknya kasus korupsi dan ketidakadilan hukum turut memicu sikap apatis generasi milenial terhadap negara. Dalam konteks era digital, nasionalisme tidak lagi dipahami hanya sebagai patriotisme klasik, melainkan sebagai kemampuan individu dalam menyaring budaya dan menavigasi informasi di ruang digital. Oleh karena itu, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan perlu bertransformasi menjadi sarana pengembangan kecerdasan kewarganegaraan digital (digital civic intelligence). Pendekatan pembelajaran harus lebih inovatif, interaktif, dan berbasis pengalaman nyata, seperti project based learning, pemanfaatan media sosial, serta penerapan gamifikasi dalam pembelajaran. Penguatan nasionalisme juga memerlukan integrasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari melalui sinergi antara sekolah, keluarga, masyarakat, dan pemerintah. Guru berperan sebagai fasilitator dan teladan, sementara orang tua serta lingkungan sosial menjadi pendukung dalam membentuk karakter generasi muda. Pemerintah diharapkan mampu merumuskan kebijakan pendidikan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi tanpa menghilangkan nilai-nilai luhur bangsa. Dengan demikian, revitalisasi nasionalisme pada generasi milenial membutuhkan pendekatan yang komprehensif dan berkelanjutan. Integrasi teknologi digital, inovasi pedagogik, serta penguatan literasi digital menjadi kunci dalam membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara global, tetapi juga memiliki identitas nasional yang kuat. Nasionalisme di era modern harus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan esensi nilai-nilai Pancasila sebagai dasar kehidupan berbangsa dan bernegara.

This study aims to analyze the causes of the decline of nationalism among millennial generations and to identify effective strategies to revive nationalism through Civic Education (Pancasila and Citizenship Education), as well as through the roles of family, education, and government. In the midst of increasingly massive globalization, the millennial generation faces challenges in the form of a national identity crisis due to the strong penetration of foreign cultures that shift local values. This study uses a qualitative method with a literature review approach based on journals, books, scientific articles, and relevant online sources. The findings show that the decline of nationalism is not only indicated by a decreasing sense of love for the homeland, but also by a shift in value orientation caused by the dominance of a transnational digital space. Millennials tend to adopt a cosmopolitan lifestyle that is considered more modern compared to traditional values, resulting in a blurred national identity. This phenomenon is worsened by low digital literacy, which leads to an inability to filter information and ideologies that contradict Pancasila values. In addition, Civic Education learning, which is still conventional and memorization-oriented, is considered less effective in building students’ emotional engagement. Such learning methods cause students to understand national values only at the cognitive level without being able to internalize them in real life. On the other hand, the lack of role models among political elites, along with widespread corruption and injustice in the legal system, also contributes to the apathetic attitude of millennials toward the state. In the digital era context, nationalism is no longer understood merely as classical patriotism, but as the individual’s ability to filter culture and navigate information in cyberspace. Therefore, Civic Education must be transformed into a means of developing digital civic intelligence. Learning approaches should be more innovative, interactive, and experience-based, such as project-based learning, the use of social media, and gamification in learning. The strengthening of nationalism also requires the integration of Pancasila values in daily life through synergy among schools, families, society, and the government. Teachers act as facilitators and role models, while parents and the social environment support character building among young people. The government is expected to formulate education policies that are adaptive to technological developments without neglecting the noble values of the nation. Thus, the revitalization of nationalism among millennials requires a comprehensive and sustainable approach. The integration of digital technology, pedagogical innovation, and strengthening digital literacy are key factors in shaping a generation that is not only globally competitive but also possesses a strong national identity. In the modern era, nationalism must adapt to changing times without losing the essence of Pancasila values as the foundation of national and state life.

Unduhan

Diterbitkan

2026-05-30