Jurnal Pendidikan Inklusif
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpi
id-IDJurnal Pendidikan InklusifRESPON SEKOLAH TINGGI TEOLOGI TERHADAP KEBIJAKAN KERANGKA KUALIFIKASI NASIONAL INDONESIA (KKNI): SUATU KAJIAN KEPUSTAKAAN
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpi/article/view/26253
<table width="98%"> <tbody> <tr> <td width="60%"> <p>Dalam Penelitian ini mengkaji secara konseptual respons Sekolah Tinggi Teologi (STT) terhadap penerapan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI). Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode library research melalui kajian terhadap literatur, regulasi, dokumen kebijakan, dan penelitian terdahulu. Hasil kajian menunjukkan bahwa KKNI perlu diterapkan secara substantif dengan mengarahkan pendidikan teologi dari orientasi ijazah menuju pencapaian kompetensi yang terukur. Implementasinya mencakup penyelarasan profil lulusan, capaian pembelajaran, kurikulum, pembelajaran, asesmen, pengalaman praktik pelayanan, dan penjaminan mutu. Kajian juga menemukan bahwa Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) memiliki peluang strategis bagi STT untuk mengakui pengalaman belajar, pelayanan, pelatihan, dan kompetensi yang telah diperoleh sebelumnya. Dengan demikian, KKNI dan RPL dapat dikembangkan sebagai instrumen strategis untuk memperkuat mutu pendidikan serta menghasilkan lulusan teologi yang kompeten dan relevan bagi gereja dan masyarakat. Dalam Penelitian ini mengkaji secara konseptual respons Sekolah Tinggi Teologi (STT) terhadap penerapan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI). Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode library research melalui kajian terhadap literatur, regulasi, dokumen kebijakan, dan penelitian terdahulu. Hasil kajian menunjukkan bahwa KKNI perlu diterapkan secara substantif dengan mengarahkan pendidikan teologi dari orientasi ijazah menuju pencapaian kompetensi yang terukur. Implementasinya mencakup penyelarasan profil lulusan, capaian pembelajaran, kurikulum, pembelajaran, asesmen, pengalaman praktik pelayanan, dan penjaminan mutu. Kajian juga menemukan bahwa Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) memiliki peluang strategis bagi STT untuk mengakui pengalaman belajar, pelayanan, pelatihan, dan kompetensi yang telah diperoleh sebelumnya. Dengan demikian, KKNI dan RPL dapat dikembangkan sebagai instrumen strategis untuk memperkuat mutu pendidikan serta menghasilkan lulusan teologi yang kompeten dan relevan bagi gereja dan masyarakat.</p> <p><em>This study conceptually examines the response of Theological Schools (Sekolah Tinggi Teologi or STT) to the implementation of the Indonesian National Qualifications Framework (Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia or KKNI). The research employs a qualitative approach with a library research method by analyzing literature, regulations, policy documents, and previous studies. The findings indicate that the KKNI needs to be implemented substantively by shifting the orientation of theological education from a degree-oriented approach toward the achievement of measurable competencies. Its implementation encompasses aligning graduate profiles, learning outcomes, curriculum, instruction, assessment, practical ministry experience, and quality assurance. Furthermore, the study reveals that Recognition of Prior Learning (Rekognisi Pembelajaran Lampau or RPL) offers a strategic opportunity for STT to acknowledge prior learning experiences, ministry, training, and competencies previously acquired. Thus, KKNI and RPL can be developed as strategic instruments to enhance educational quality and produce competent theological graduates who are relevant to both the church and society.</em></p> </td> </tr> </tbody> </table>Sipikir HondroStefanus Dully
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Pendidikan Inklusif
2026-09-292026-09-29109PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS TEKS EKSPLANASI MELALUI MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE LEARNING TIPE STAD SISWA KELAS XI SMA NEGERI 1 LINGGA BAYU
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpi/article/view/27730
<p>Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan menulis teks eksplanasi siswa melalui penerapan model pembelajaran Cooperative Learning tipe Student Teams Achievement Division (STAD). Penelitian ini dilaksanakan di kelas XI SMA Negeri 1 Lingga Bayu dengan jumlah subjek sebanyak 21 siswa. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilakukan dalam dua siklus, masing-masing terdiri atas tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, tes menulis, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran Cooperative Learning tipe STAD mampu meningkatkan kemampuan menulis teks eksplanasi siswa secara signifikan. Pada siklus I, jumlah siswa yang mencapai ketuntasan minimal (KKM 75) sebanyak 14 siswa atau 66,67%, sedangkan 7 siswa atau 33,33% belum tuntas dengan nilai rata-rata kelas sebesar 79,6. Pada siklus II terjadi peningkatan yang signifikan, dimana seluruh siswa (100%) mencapai ketuntasan dengan nilai rata-rata meningkat menjadi 82,0. Peningkatan ini terjadi karena model STAD mendorong siswa untuk aktif bekerja sama dalam kelompok, saling membantu memahami materi, serta meningkatkan tanggung jawab individu dalam belajar. Dengan demikian, model pembelajaran Cooperative Learning tipe STAD terbukti efektif dalam meningkatkan kemampuan menulis teks eksplanasi siswa.</p> <p><em>This study aims to improve students' explanatory text writing skills through the application of the Student Teams Achievement Division (STAD) cooperative learning model. This study was conducted in grade 11 of SMA Negeri 1 Lingga Bayu, with 21 students as subjects. The study used Classroom Action Research (CAR) in two cycles, each consisting of planning, implementation, observation, and reflection. Data collection techniques included observation, writing tests, and documentation. The results showed that the application of the STAD cooperative learning model significantly improved students' explanatory text writing skills. In cycle I, 14 students (66.67%) achieved the minimum passing grade (KKM 75), while 7 students (33.33%) failed to complete the task, with a class average score of 79.6. In cycle II, significant improvement occurred, with all students (100%) achieving passing grades, with an average score of 82.0. This improvement occurred because the STAD model encouraged students to actively collaborate in groups, help each other understand the material, and increase individual responsibility for learning. Thus, the STAD cooperative learning model has proven effective in improving students' explanatory text writing skills.</em></p> Mulyadi Lili Herawati ParapatNur Afifah
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Pendidikan Inklusif
2026-09-292026-09-29109RELEVANSI PERAN GURU ABAD 21 DI TENGAH PERKEMBANGAN TEKNOLOGI SAAT INI
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpi/article/view/26609
<p>Perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang pesat pada abad ke-21 telah mengubah paradigma pendidikan serta cara peserta didik mengakses informasi. Kemudahan akses pengetahuan secara instan menimbulkan tantangan baru terkait validitas informasi, ketergantungan digital, dan penurunan pemahaman konseptual, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis relevansi dan pergeseran peran guru di abad ke-21 di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif berbasis studi pustaka (Iibrary review) dengan mengkaji berbagai referensi jurnal ilmiah dan dokumen pendidikan yang relevan. Hasil analisis dari beberapa literatur menunjukkan bahwa peran guru tidak tergantikan oleh teknologi, melainkan mengalami transformasi mendasar dari sekadar penyampai materi menjadi fasilitator pembelajaran digital, pembimbing bernalar kritis, serta pembimbing sosio-emosional. Integrasi teknologi informasi dan AI yang diimbangi dengan literasi digital guru yang memadai terbukti secara signifikan meningkatkan partisipasi aktif, fleksibilitas pembelajaran, dan kemandirian belajar siswa. Keberhasilan pendidikan abad ke-21 tetap berpusat pada kepemimpinan pedagogis dan keteladanan moral guru dalam mengarahkan pemanfaatan teknologi secara bijak.</p> <p><em>The rapid development of digital technology and artificial intelligence (AI) in the 21st century has transformed the educational paradigm and how students access information. While instant access to knowledge offers convenience, it also introduces new challenges regarding information validity, digital dependence, and a decline in conceptual understanding. This study aims to analyze the relevance and shifting roles of teachers in the 21st century amidst the rapid advancements in information technology. Using a descriptive qualitative approach based on a library review, this research synthesizes relevant scientific journal articles and educational documents. The findings indicate that the role of teachers cannot be replaced by technology; rather, it has undergone a fundamental transformation from a mere content transmitter into a digital learning facilitator, critical thinking mentor, and socio-emotional guide. The integration of information technology and AI, balanced with adequate teacher digital literacy, significantly enhances students' active participation, learning flexibility, and self-directed learning. Ultimately, success in 21st-century education relies on the pedagogical leadership and moral guidance of teachers to direct the ethical and wise use of technology.</em></p> Alif Neiska Java Jenora SutiknoSheika Aulia Aviananda IkmawatiUsfandi Haryaka
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Pendidikan Inklusif
2026-09-292026-09-29109KONFLIK SOSIAL DALAM FILM ANDAI IBU TIDAK MENIKAH DENGAN AYAH : KAJIAN SOSIOLOGI SASTRA
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpi/article/view/27548
<p>Film merupakan karya sastra audio visual yang tidak hanya berfungsi sebagai media hiburan, tetapi juga merepresentasikan berbagai realitas sosial yang terjadi di dalam kehidupan masyarakat, termasuk konflik sosial. Film Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah menampilkan berbagai persoalan keluarga yang dipengaruhi oleh kondisi ekonomi, hubungan antartokoh, dan perbedaan kepentingan sehingga menarik untuk dikaji melalui pendekatan sosiologi sastra. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi, mengklasifikasi, menganalisis, dan mendeskripsikan jenis konflik sosial yang terdapat dalam film tersebut. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan sosiologi sastra. Sumber data berupa dialog dan adegan dalam film yang dikumpulkan melalui teknik simak dan teknik catat. Data dianalisis menggunakan teori konflik sosial Soerjono Soekanto (1990). Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat dua jenis konflik sosial, yaitu konflik pribadi dan konflik antarkelas sosial. Konflik pribadi merupakan jenis konflik paling dominan, yang disebabkan oleh perbedaan pendapat, kesalahpahaman, kekecewaan, dan kurangnya komunikasi antartokoh. Sementara itu, konflik antarkelas sosial muncul akibat masalah ekonomi, kesenjangan sosial, dan perbedaan kondisi kehidupan para tokoh. Temuan ini menunjukan bahwa film tersebut merepresentasikan realitas kehidupan keluarga melalui berbagai jenis konflik sosial yang dekat dengan kehidupan masyarakat..</p> <p><em>Flm is anaudiovisual literary work that serves not only as a medium of entertainment but also as a representation of various social realities in society, including social conflicts within the family. The film Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah portrays a range of family problems influenced by economic conditions, interpersonal relationships, and differences in interests, making it relevant to be examined through the sociology of literature approach. This study aims to identify, classify, analyze, and describe the types of social conflict represented in the film. The research employed a qualitative descriptive method using the sociology of literature approach. The data consisted of dialogues and scenes from the film, which were collected through observation and note-taking techniques. The data were analyzed using Soerjono Soekanto's (1990) theory of social conflict. The findings reveal two types of social conflict, namely personal conflict and interclass social conflict. Personal conflict is the most dominant form, arising from differences in opinion, misunderstandings, disappointment, and poor communication among the characters. Meanwhile, interclass social conflict is caused by economic problems, social inequality, and differences in the characters' living conditions. These findings indicate that the film represents the reality of family life through various forms of social conflict that reflect social conditions in society</em></p>Arline Gafrilla ElunganStella S.M. KarouwDjeinnie Imbang
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Pendidikan Inklusif
2026-09-292026-09-29109