Jurnal Pendidikan Inklusif
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpi
id-IDJurnal Pendidikan InklusifPERAN BIMBINGAN DAN KONSELING PERKEMBANGAN DALAM MENGATASI HAMBATAN BELAJAR PADA SISWA SEKOLAH DASAR
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpi/article/view/21871
<p>Hambatan belajar pada siswa sekolah dasar tetap menjadi isu penting dalam proses pendidikan karena memengaruhi perkembangan akademik, emosional, dan sosial siswa. Berbagai bentuk hambatan belajar seperti kesulitan membaca, menulis, berhitung, kurang fokus, dan disleksia sering ditemukan di kalangan siswa sekolah dasar. Studi sebelumnya telah membahas kesulitan belajar; namun, studi yang secara khusus meneliti peran layanan bimbingan dan konseling perkembangan dalam mengatasi hambatan ini masih terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk hambatan belajar yang dialami oleh siswa sekolah dasar dan menganalisis peran bimbingan dan konseling perkembangan dalam mengatasi masalah ini. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode penelitian kepustakaan. Data dikumpulkan dari buku, jurnal ilmiah, prosiding seminar, dan studi sebelumnya yang relevan terkait dengan hambatan belajar dan bimbingan serta konseling perkembangan. Temuan menunjukkan bahwa hambatan belajar dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal, termasuk kondisi neurologis, konsentrasi rendah, metode belajar yang tidak tepat, dan dukungan terbatas dari lingkungan. Disleksia diidentifikasi sebagai salah satu gangguan belajar utama yang memengaruhi kemampuan membaca dan menulis siswa meskipun memiliki tingkat kecerdasan normal. Layanan bimbingan dan konseling perkembangan memainkan peran penting melalui bimbingan belajar, konseling individu, layanan responsif, dan kolaborasi antara guru dan orang tua. Layanan ini membantu siswa meningkatkan kepercayaan diri, prestasi akademik, dan penyesuaian sosial. Studi ini menyiratkan bahwa sekolah perlu memperkuat identifikasi dini dan menyediakan sistem dukungan komprehensif untuk membantu siswa mengatasi hambatan belajar secara efektif.</p> <p><em>Learning barriers in elementary school students remain an important issue in the educational process because they affect students’ academic, emotional, and social development. Various forms of learning barriers such as difficulties in reading, writing, counting, lack of focus, and dyslexia are frequently found among elementary school students. Previous studies have discussed learning difficulties; however, studies specifically examining the role of developmental guidance and counseling services in addressing these barriers are still limited. Therefore, this study aims to describe the forms of learning barriers experienced by elementary school students and analyze the role of developmental guidance and counseling in overcoming these problems. This study employed a descriptive qualitative approach using library research methods. Data were collected from books, scientific journals, seminar proceedings, and relevant previous studies related to learning barriers and developmental guidance and counseling. The findings indicate that learning barriers are influenced by internal and external factors, including neurological conditions, low concentration, inappropriate learning methods, and limited support from the environment. Dyslexia was identified as one of the major learning disorders affecting students’ reading and writing abilities despite having normal intelligence levels. Developmental guidance and counseling services play a significant role through learning guidance, individual counseling, responsive services, and collaboration among teachers and parents. These services help students improve self-confidence, academic achievement, and social adjustment. The study implies that schools need to strengthen early identification and provide comprehensive support systems to help students overcome learning barriers effectively.</em></p>Miftahul Huzaima Awalia. HAswarIki Yusran
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Pendidikan Inklusif
2026-05-302026-05-30105OPTIMALISASI FUNGSI MASJID SEBAGAI PUSAT EDUKASI DAN SOSIAL MELALUI PROGRAM KKN DI MASJID MIFTAHUL HUDA
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpi/article/view/21585
<p><em>Miftahul Huda Mosque, located in Borang Village, Palembang, plays a crucial role in fostering the Muslim generation, yet it faces increasingly complex proselytizing (dakwah) challenges in the digital era. Current phenomena indicate a gap between the potential of the youth and traditional dakwah methods that remain collective, less interactive, and poorly adapted to developments in information technology. This community service program, conducted by KKN Group 234, aimed to optimize the mosque's function as an educational and social center through the empowerment of mosque youth and the local community. the implementation followed educational, participatory, and collaborative approaches, encompassing creative dakwah strategies and digital media integration. The results of this activity indicated that the children gained beneficial and blessed knowledge, alongside a significant increase in literacy interest regarding Iqro and the Al-Qur'an. This program has successfully strengthened the mosque's role in producing inspiring, adaptive, and transformative young preachers who uphold the values of Rahmatan lil ‘Alamin.</em></p>Achmad Abdullah BadawiNazifah Auliah HAlsya Aulia W. SuciAfif Fathan AngganaNabela MaharaniHenny Yusalia
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Pendidikan Inklusif
2026-05-302026-05-30105PENGUATAN KARAKTER BANGSA MELALUI PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpi/article/view/21818
<p>Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena degradasi moral dan krisis identitas nasional di kalangan generasi muda yang dipicu oleh arus globalisasi serta masifnya infiltrasi budaya asing yang tidak sesuai dengan nilai-nilai luhur Pancasila. Karakter bangsa yang kuat merupakan fondasi utama bagi keberlangsungan sebuah negara berdaulat, namun saat ini integritas tersebut mulai terkikis oleh perilaku pragmatisme dan individualisme. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis urgensi serta strategi penguatan karakter bangsa melalui optimalisasi peran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) sebagai instrumen edukasi politik dan moral. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi literatur, di mana data dikumpulkan dari berbagai jurnal ilmiah, buku, dan kebijakan pendidikan terkait untuk kemudian dianalisis secara deskriptif-analitis. Temuan penelitian menunjukkan bahwa Pendidikan Kewarganegaraan memiliki peran sentral dalam mentransformasikan nilai-nilai kebangsaan, demokrasi, dan bela negara ke dalam ranah kognitif, afektif, serta psikomotorik peserta didik. PKn bukan sekadar transfer pengetahuan mengenai struktur tata negara, melainkan sebuah proses pembentukan watak (character building) yang mampu menghasilkan warga negara yang cerdas dan bertanggung jawab. Implikasi dari penelitian ini menekankan perlunya inovasi dalam metode pembelajaran PKn yang lebih adaptif, interaktif, dan berbasis nilai-nilai kontekstual agar tidak terjebak pada formalitas administratif belaka. Penguatan kurikulum yang mengintegrasikan kecakapan abad ke-21 dengan kearifan lokal menjadi kunci dalam mencetak generasi penerus yang memiliki nasionalisme tinggi sekaligus kompetitif secara global. Sinergi antara pendidik, lembaga pendidikan, dan lingkungan sosial sangat diperlukan untuk memastikan nilai-nilai karakter tersebut terinternalisasi secara permanen dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.</p> <p><em>This research is motivated by the phenomenon of moral degradation and the crisis of national identity among the younger generation, triggered by the currents of globalization and the massive infiltration of foreign cultures that are inconsistent with the noble values of Pancasila. A strong national character is the primary foundation for the sustainability of a sovereign state; however, this integrity is currently being eroded by pragmatism and individualism. The objective of this study is to analyze the urgency and strategies for strengthening national character through the optimization of Civic Education (PKn) as an instrument for political and moral education</em></p> <p><em>. The research method employed is qualitative with a literature study approach, where data were collected from various scientific journals, books, and relevant educational policies, followed by a descriptive-analytical evaluation. The findings indicate that Civic Education plays a central role in transforming national values, democracy, and state defense into the cognitive, affective, and psychomotor domains of students. Civic Education is not merely a transfer of knowledge regarding </em></p> <p><em>state structures but a process of character building capable of producing intelligent and responsible citizens. The implications of this research emphasize the need for innovation in Civic Education learning methods that are more adaptive, interactive, and contextually grounded to avoid becoming mere administrative formalities. Strengthening the curriculum by integrating 21st-century skills with local wisdom is key to producing a successor generation that possesses high nationalism while remaining globally competitive. Synergy between educators, educational institutions, and the social environment is essential to ensure that character values are permanently internalized in the life of the community, nation, and state.</em></p>Ica Habibatul BarokahSyamzaimar
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Pendidikan Inklusif
2026-05-302026-05-30105PERAN GENERASI MUDA DALAM MELESTARIKAN BUDAYA MUSYAWARAH DI ERA DIGITAL
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpi/article/view/21790
<p>Budaya musyawarah merupakan salah satu nilai penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang mencerminkan sikap demokratis, keterbukaan, dan penghargaan terhadap perbedaan pendapat. Namun, perkembangan teknologi digital telah mengubah pola komunikasi generasi muda, sehingga praktik musyawarah mengalami pergeseran dari bentuk tatap muka menuju komunikasi berbasis digital. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peran generasi muda dalam melestarikan budaya musyawarah di era digital, serta mengidentifikasi tantangan dan upaya yang dilakukan dalam mempertahankan nilai-nilai musyawarah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Subjek penelitian adalah generasi muda yang aktif menggunakan media digital dalam kegiatan diskusi dan pengambilan keputusan. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis data kualitatif yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data dilakukan melalui triangulasi sumber dan triangulasi teknik untuk memperoleh hasil penelitian yang valid dan objektif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa generasi muda masih mempraktikkan budaya musyawarah melalui berbagai platform digital seperti WhatsApp, Zoom, dan media sosial lainnya. Generasi muda berperan dalam menjaga nilai-nilai musyawarah melalui komunikasi yang santun, keterbukaan terhadap perbedaan pendapat, serta pengambilan keputusan secara demokratis. Namun, terdapat beberapa tantangan yang dihadapi, seperti rendahnya partisipasi aktif anggota, kesalahpahaman dalam komunikasi digital, serta komunikasi yang cenderung singkat dan kurang mendalam. Untuk mengatasi tantangan tersebut, generasi muda melakukan berbagai upaya seperti mengadakan diskusi rutin, memanfaatkan fitur polling dan voting, serta menjaga etika komunikasi dalam diskusi digital. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa generasi muda memiliki peran strategis dalam melestarikan budaya musyawarah di era digital. Pemanfaatan teknologi digital tidak hanya mempermudah komunikasi, tetapi juga menjadi sarana untuk memperkuat budaya musyawarah yang demokratis dan inklusif. Oleh karena itu, diperlukan dukungan dari berbagai pihak untuk mendorong generasi muda agar terus mempertahankan nilai-nilai musyawarah sebagai bagian dari identitas budaya bangsa di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat.</p> <p><em>Deliberation culture is one of the important values in Indonesian society that reflects democratic attitudes, openness, and respect for differences of opinion. However, the development of digital technology has changed the communication patterns of the younger generation, causing the practice of deliberation to shift from face-to-face interaction to digital-based communication. This study aims to describe the role of the younger generation in preserving the culture of deliberation in the digital era, as well as to identify the challenges and efforts made in maintaining deliberative values. This research employed a qualitative approach with a descriptive method. The research subjects were young people who actively used digital media in discussion and decision-making activities. Data collection techniques included observation, interviews, and documentation. The collected data were analyzed using qualitative data analysis techniques, including data reduction, data presentation, and conclusion drawing. Data validity was ensured through source triangulation and technique triangulation to obtain valid and objective research findings. The results of the study indicate that the younger generation continues to practice deliberation through various digital platforms such as WhatsApp, Zoom, and social media. The younger generation plays a significant role in maintaining deliberative values through polite communication, openness to different opinions, and democratic decision-making processes. However, several challenges were identified, including low active participation, misunderstandings in digital communication, and brief communication that tends to be less in-depth. To address these challenges, young people implement several efforts such as conducting regular online discussions, utilizing polling and voting features, and maintaining communication ethics in digital discussions. In conclusion, the younger generation has a strategic role in preserving the culture of deliberation in the digital era. The use of digital technology not only facilitates communication but also strengthens democratic and inclusive deliberation culture. Therefore, support from various stakeholders is needed to encourage young people to continue preserving deliberative values as part of national cultural identity amid rapid technological development.</em></p>Hindun LubisSyamzaimar
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Pendidikan Inklusif
2026-05-302026-05-30105RELEVANSI PENGGUNAAN MIND MAP DI KELAS II SEKOLAH DASAR
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpi/article/view/22270
<p>Penelitian ini dilatar belakangi oleh rendahnya keterlibatan dan kemampuan berpikir kreatif murid kelas II di SDN 182/1 Hutan Lindung dalam proses pembelajaran. Dominasi metode ceramah menyebabkan murid kurang aktif dan sulit mengorganisasikan informasi secara mandiri. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji relevansi penggunaan mind map pada murid kelas dua sekolah dasar dalam meningkatkan kemampuan berpikir kreatif, pemahaman konsep, dan keterampilan menulis. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi literatur. Data dikumpulkan melalui telaah berbagai sumber jurnal nasional dan internasional yang relevan. Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil kajian menunjukkan bahwa mind map memiliki relevansi yang tinggi untuk digunakan pada murid kelas dua SD karena mampu mengakomodasi gaya berpikir visual anak usia 7–8 tahun, mendorong ekspresi ide secara bebas, dan meningkatkan kemampuan mengorganisasikan informasi. Mind map terbukti relevan dalam konteks pembelajaran tematik, keterampilan menulis, serta pengembangan kreativitas murid kelas rendah. Implikasi penelitian ini mendukung guru dalam memilih strategi pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik perkembangan kognitif murid kelas II SD.</p> <p><em>This research is motivated by the low engagement and creative thinking skills of second-grade students at SDN 182/1 Hutan Lindung in the learning process. The dominance of lecture methods makes students less active and difficult to organize information independently. The purpose of this study is to examine the relevance of using mind maps for second-grade elementary school students in improving creative thinking skills, conceptual understanding, and writing skills. This study uses a qualitative method with a literature study approach. Data were collected through a review of various relevant national and international journal sources. Data analysis was carried out descriptively qualitatively through the stages of data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The results of the study indicate that mind maps have high relevance for use with second-grade elementary school students because they are able to accommodate the visual thinking style of children aged 7–8 years, encourage free expression of ideas, and improve the ability to organize information. Mind maps are proven to be relevant in the context of thematic learning, writing skills, and developing the creativity of lower-grade students. The implications of this study support teachers in choosing learning strategies that are appropriate to the characteristics of second-grade elementary school students' cognitive development.</em></p>Jepri AlfiansyahJeremia Wijaya SidabalokM. Junaidi
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Pendidikan Inklusif
2026-05-302026-05-30105JURNAL PENELITIAN PENDIDIKAN LUNTURNYA SIKAP NASIONALISME GENERASI MILENIAL TERHADAP PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpi/article/view/21717
<p><em>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penyebab lunturnya sikap nasionalisme di kalangan generasi milenial serta mengidentifikasi strategi yang efektif untuk membangkitkan kembali semangat nasionalisme melalui Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), serta melalui peran keluarga, pendidikan, dan pemerintah. Di tengah arus globalisasi yang semakin masif, generasi milenial menghadapi tantangan berupa krisis identitas nasional akibat kuatnya penetrasi budaya asing yang menggeser nilai-nilai lokal. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan yang bersumber dari jurnal, buku, artikel ilmiah, dan sumber daring yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa lunturnya nasionalisme tidak hanya ditandai oleh menurunnya rasa cinta tanah air, tetapi juga oleh pergeseran orientasi nilai akibat dominasi ruang digital yang bersifat transnasional. Generasi milenial cenderung mengadopsi gaya hidup kosmopolitan yang dianggap lebih modern dibandingkan nilai-nilai tradisional sehingga identitas nasional menjadi semakin kabur. Fenomena ini diperparah oleh rendahnya literasi digital yang menyebabkan ketidakmampuan dalam menyaring informasi dan ideologi yang bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila. Selain itu, pembelajaran PPKn yang masih bersifat konvensional dan berorientasi pada hafalan dinilai kurang mampu membangun keterlibatan emosional peserta didik. Metode pembelajaran yang kurang kontekstual menyebabkan siswa hanya memahami nilai-nilai kebangsaan secara kognitif tanpa mampu menginternalisasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Di sisi lain, adanya krisis keteladanan dari elite politik serta maraknya kasus korupsi dan ketidakadilan hukum turut memicu sikap apatis generasi milenial terhadap negara. Dalam konteks era digital, nasionalisme tidak lagi dipahami hanya sebagai patriotisme klasik, melainkan sebagai kemampuan individu dalam menyaring budaya dan menavigasi informasi di ruang digital. Oleh karena itu, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan perlu bertransformasi menjadi sarana pengembangan kecerdasan kewarganegaraan digital (digital civic intelligence). Pendekatan pembelajaran harus lebih inovatif, interaktif, dan berbasis pengalaman nyata, seperti project based learning, pemanfaatan media sosial, serta penerapan gamifikasi dalam pembelajaran. Penguatan nasionalisme juga memerlukan integrasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari melalui sinergi antara sekolah, keluarga, masyarakat, dan pemerintah. Guru berperan sebagai fasilitator dan teladan, sementara orang tua serta lingkungan sosial menjadi pendukung dalam membentuk karakter generasi muda. Pemerintah diharapkan mampu merumuskan kebijakan pendidikan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi tanpa menghilangkan nilai-nilai luhur bangsa. Dengan demikian, revitalisasi nasionalisme pada generasi milenial membutuhkan pendekatan yang komprehensif dan berkelanjutan. Integrasi teknologi digital, inovasi pedagogik, serta penguatan literasi digital menjadi kunci dalam membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara global, tetapi juga memiliki identitas nasional yang kuat. Nasionalisme di era modern harus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan esensi nilai-nilai Pancasila sebagai dasar kehidupan berbangsa dan bernegara.</em></p> <p><em>This study aims to analyze the causes of the decline of nationalism among millennial generations and to identify effective strategies to revive nationalism through Civic Education (Pancasila and Citizenship Education), as well as through the roles of family, education, and government. In the midst of increasingly massive globalization, the millennial generation faces challenges in the form of a national identity crisis due to the strong penetration of foreign cultures that shift local values. This study uses a qualitative method with a literature review approach based on journals, books, scientific articles, and relevant online sources. The findings show that the decline of nationalism is not only indicated by a decreasing sense of love for the homeland, but also by a shift in value orientation caused by the dominance of a transnational digital space. Millennials tend to adopt a cosmopolitan lifestyle that is considered more modern compared to traditional values, resulting in a blurred national identity. This phenomenon is worsened by low digital literacy, which leads to an inability to filter information and ideologies that contradict Pancasila values. In addition, Civic Education learning, which is still conventional and memorization-oriented, is considered less effective in building students’ emotional engagement. Such learning methods cause students to understand national values only at the cognitive level without being able to internalize them in real life. On the other hand, the lack of role models among political elites, along with widespread corruption and injustice in the legal system, also contributes to the apathetic attitude of millennials toward the state. In the digital era context, nationalism is no longer understood merely as classical patriotism, but as the individual’s ability to filter culture and navigate information in cyberspace. Therefore, Civic Education must be transformed into a means of developing digital civic intelligence. Learning approaches should be more innovative, interactive, and experience-based, such as project-based learning, the use of social media, and gamification in learning. The strengthening of nationalism also requires the integration of Pancasila values in daily life through synergy among schools, families, society, and the government. Teachers act as facilitators and role models, while parents and the social environment support character building among young people. The government is expected to formulate education policies that are adaptive to technological developments without neglecting the noble values of the nation. Thus, the revitalization of nationalism among millennials requires a comprehensive and sustainable approach. The integration of digital technology, pedagogical innovation, and strengthening digital literacy are key factors in shaping a generation that is not only globally competitive but also possesses a strong national identity. In the modern era, nationalism must adapt to changing times without losing the essence of Pancasila values as the foundation of national and state life.</em></p>Rossa LitaSyamzaimar
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Pendidikan Inklusif
2026-05-302026-05-30105MAKNA DAN FUNGSI SYAIR TARIAN BONET MASYARAKAT DESA OENAI KECAMATAN KIE KABUPATEN TIMOR TENGAH SELATAN
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpi/article/view/21940
<p>Skripsi ini berjudul, “Makna dan Fungsi Syair Tarian Bonet Masyarakat Desa Oenai Kecamatan Kie Kabupaten Timor Tengah Selatan”, oleh Nelda Atrio Saetban, NIM:2288201041 dibimbing oleh, Ronni M. Ndun, S.Pd,. M. Hum, sebagai pembimbing I dan John Darwis Fallo, S.Pd., M.Pd, sebagai pembimbing II, penelitian ini dilatar belakangi oleh permasalahan Makna dan Fungsi Syair Tarian Bonet Masyarakat Desa Oenai Kecamatan Kie Kabupaten Timor Tengah Selatan. Tujuan penelitian ini yaitu mendesripsikan Makna yang terkandung dalam Bonet Masyarakat Desa Oenai Kecamatan Kie Kabupaten Timor Tengah Selatan teori yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teori linguistik kebudayaan karena linguistik kebudayaan yang membahas tentang hubungan antara bahasa dan budaya, sebagaimana bahasa tidak hanya sebagai alat komunikasi tetapi juga sebagai representasi dan refleksi dari nilai, norma dan kepercayaan dalam budaya tertentu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode deskriftif kualitatif karena metode ini meneliti suatu kelompok manusia, suatu objek suatu kondisi, suatu sistem pemikiran atau kelas peristiwa sekarang. Hasil penelitian menunjukan bahwa syair (bonet) ada ketika Masyarakat ingin memuji dan memegahkan sesuatu misalnya membesarkan nama kampung dengan bonet yang mengiringi langkah kaki bonet pada sebuah acara. Dalam penelitian ini ditemukan makna kebersamaan dan persatuan, nasihat dan ajaran hidup, hubungan sosial dan kekeluargaan, ketaatan pada adat dan leluhur dan juga fungsi sosial, fungsi hiburan, fungsi ekspresif dan fungsi pemersatuan. Penelitian ini juga bermanfaat bagi generasi muda khususnya yang berada di Desa Oenai untuk mengetahui bahwa bonet adalah warisan budaya masyarakat dawan yang paling tertua dan pantun-pantunya mengandung makna yang sangat mendalam.</p> <p><em>This thesis is entitled, "The Meaning and Function of Bonet Dance Lyrics of the Oenai Village Community, Kie District, South Central Timor Regency," by Nelda Atrio Saetban, Student ID: 2288201041, under the guidance of Ronni M. Ndun, S.Pd., M.Hum, as the primary advisor, and John Darwis Fallo, S.Pd., M.Pd, as the co-advisor. This research is motivated by issues surrounding the meaning and function of the Bonet dance lyrics within the Oenai Village community, Kie District, South Central Timor Regency. The purpose of this study is to describe the meaning contained in the Bonet lyrics of the Oenai Village community. The theory applied in this research is cultural linguistics, as it explores the relationship between language and culture, establishing that language is not merely a tool for communication but also a representation and reflection of the values, norms, and beliefs within a specific culture. The method used in this research is descriptive qualitative, as it examines a group of humans, an object, a condition, a system of thought, or a class of contemporary events. The results indicate that the lyrics (bonet) exist when the community wishes to praise and glorify something, such as honoring the village's name through the bonet that accompanies their steps during an event. This study discovered meanings of togetherness and unity, advice and life lessons, social and familial relations, as well as obedience to customs and ancestors. Furthermore, it identified social, entertainment, expressive, and unifying functions. This research is also beneficial for the younger generation, particularly those in Oenai Village, to recognize that bonet is the oldest cultural heritage of the Dawan community, whose poetic verses (pantun) carry profound meanings.</em></p>Nelda Atrio SaetbanRonny M. Ndun
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Pendidikan Inklusif
2026-05-302026-05-30105PERAN MAHASISWA PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN BIAK DALAM MENGAMALKAN NILAI PANCASILA DENGAN MENJADI WARGA NEGARA DIGITAL YANG CERDAS DAN BERETIKA
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpi/article/view/21588
<p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana mahasiswa Program Studi PPKn STKIP Biak Papua dapat menjadi warga negara digital yang cerdas dan beretika di tengah perkembangan teknologi informasi. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat literasi kewarganegaraan digital mahasiswa berada pada kategori sedang, di mana kemampuan akses dan partisipasi digital cukup baik, namun pemahaman terkait etika, hukum, dan keamanan digital masih terbatas. Hal ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa mahasiswa cenderung aktif secara digital tetapi belum sepenuhnya memiliki kesadaran etika yang kuat . Selain itu, ditemukan bahwa integrasi nilai-nilai Pancasila dalam pembelajaran mampu meningkatkan kesadaran etika digital mahasiswa. Kesimpulan penelitian ini adalah pentingnya penguatan literasi digital berbasis nilai karakter dan etika kewarganegaraan guna membentuk mahasiswa yang bertanggung jawab dalam ruang digital. Disarankan agar institusi pendidikan mengembangkan model pembelajaran inovatif berbasis kasus dan teknologi untuk meningkatkan kompetensi kewarganegaraan digital mahasiswa.</p>Yohana Hulda Diawaitou
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Pendidikan Inklusif
2026-05-302026-05-30105PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN BERBASIS STUDENT-CENTERED SEBAGAI STRATEGI TEPAT UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJARSISWA KELAS IV SD NEGERI 183/IV RENAH KEMUMU
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpi/article/view/21866
<p>Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan metode pembelajaran berbasis Student-Centered (berpusat pada siswa) yang tepat dan efektif diterapkan di Kelas IV SD Negeri 183/IV Renah Kemumu. Pergeseran paradigma pembelajaran dari berpusat pada guru menjadi berpusat pada siswa merupakan tuntutan kurikulum dan kebutuhan perkembangan anak. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kondisi di lapangan yang menunjukkan pembelajaran masih didominasi metode konvensional atau ceramah, sehingga siswa kurang aktif, cepat bosan, dan pemahaman materi belum maksimal. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif melalui observasi, kajian literatur, dan analisis karakteristik siswa serta potensi lingkungan sekolah. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa siswa Kelas IV berada pada tahap operasional konkret yang membutuhkan benda nyata dan pengalaman langsung, serta tumbuh di lingkungan pedesaan yang kaya akan budaya gotong royong dan potensi alam. Metode pembelajaran yang paling tepat dan relevan diterapkan adalah metode pembelajaran kooperatif, metode penemuan (Discovery Learning), dan metode pembelajaran berbasis lingkungan. Ketiga metode ini terbukti efektif meningkatkan keaktifan, rasa ingin tahu, dan hasil belajar siswa karena menempatkan siswa sebagai subjek pembelajaran dan memanfaatkan kekayaan lingkungan Desa Renah Kemumu sebagai sumber belajar utama.</p> <p><em>This study aims to describe an appropriate and effective student-centered learning method implemented in fourth grade at SD Negeri 183/IV Renah Kemumu. The shift in learning paradigm from teacher-centered to student-centered is a curriculum requirement and a child developmental need. This research is motivated by field conditions that indicate learning is still dominated by conventional methods or lectures, resulting in students being less active, easily bored, and not achieving optimal understanding of the material. The research method used is descriptive qualitative through observation, literature review, and analysis of student characteristics and the potential of the school environment. The results indicate that fourth grade students are at the concrete operational stage, requiring tangible objects and direct experience, and growing up in a rural environment rich in mutual cooperation and natural resources. The most appropriate and relevant learning methods to implement are cooperative learning, discovery learning, and environment-based learning. These three methods have proven effective in increasing student engagement, curiosity, and learning outcomes because they position students as the subject of learning and utilize the rich environment of Renah Kemumu Village as the primary learning resource.</em></p>EtismawatiAriya Mera
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Pendidikan Inklusif
2026-05-302026-05-30105PENGGUNAAN MEDIA PERMAINAN KARTU SUSUN UNTUK PENINGKATAN KEMAMPUAN SISWA DALAM MENGANALISIS TEKS ARAB DALAM EVALUASI PEMBELAJARAN MUTHOLA’AH
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpi/article/view/21799
<p>Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam kemampuan siswa kelas XII B MA Persatuan Islam Kota Bandung dalam memahami teks Arab pada pembelajaran muthola’ah, baik sebelum maupun sesudah penerapan media permainan kartu susun, sekaligus mengidentifikasi tingkat peningkatan yang terjadi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan melibatkan 25 siswa sebagai subjek melalui teknik total sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan memanfaatkan instrumen tes untuk mengukur kemampuan kognitif, serta observasi dan dokumentasi untuk melengkapi data proses pembelajaran. Analisis data dilakukan secara sistematis menggunakan perhitungan rata-rata, persentase, serta perbandingan hasil pretest dan posttest. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan awal siswa berada pada kategori sangat rendah dengan nilai rata-rata 41,92, terutama pada aspek i’rab, kaidah kebahasaan, dan penguasaan kosakata. Setelah diterapkannya media permainan kartu susun, terjadi peningkatan nilai rata-rata menjadi 56,36. Hasil uji statistik menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,001, yang mengindikasikan adanya peningkatan yang signifikan secara empiris. Meskipun demikian, peningkatan tersebut belum mencapai tingkat optimal. Media kartu susun terbukti mampu meningkatkan keterlibatan dan motivasi belajar siswa melalui aktivitas yang interaktif. Oleh karena itu, diperlukan integrasi dengan strategi pembelajaran lain agar peningkatan kemampuan analisis teks Arab dapat dicapai secara lebih maksimal dan berkelanjutan.</p> <p><em>This study aims to comprehensively examine the ability of Grade XII B students at MA Persatuan Islam Bandung in understanding Arabic texts in muthola’ah learning, both before and after the implementation of a card-sorting game as an instructional medium, while also identifying the level of improvement achieved. The study employed a descriptive quantitative approach involving 25 students as participants through a total sampling technique. Data were collected using test instruments to measure cognitive ability, as well as observation and documentation to support data on the learning process. Data analysis was conducted systematically using mean scores, percentages, and comparisons of pretest and posttest results. The findings indicate that the students’ initial ability was categorized as very low, with an average score of 41.92, particularly in aspects of i‘rab, grammatical rules, and vocabulary mastery. After the implementation of the card-sorting game, the average score increased to 56.36. The statistical test results showed a significance value of 0.001, indicating a statistically significant improvement. However, the improvement has not yet reached an optimal level. The card-sorting game proved effective in enhancing student engagement and learning motivation through interactive activities. Therefore, it is necessary to integrate this medium with other instructional strategies to achieve more optimal and sustainable improvement in students’ Arabic text analysis skills.</em></p>Alvin Tubagus Cahya NugrahaIsop Syafei
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Pendidikan Inklusif
2026-05-302026-05-30105AN ANALYSIS OF STUDENTS’ NARRATIVE WRITING - BASED ON GENERIC STRUCTURE AT SMPN 35 MEDAN
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpi/article/view/22292
<p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kemampuan menulis teks naratif siswa berdasarkan generic structure di SMPN 35 Medan. Penelitian ini berfokus pada bagaimana siswa mengorganisasikan teks naratif melalui orientation, complication, sequence of events, resolution, dan coda. Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif kualitatif. Subjek penelitian ini adalah lima siswa kelas VIII-C SMPN 35 Medan. Data dikumpulkan melalui tugas membaca dan analisis serta didukung dengan dokumentasi video recorder. Siswa diminta menganalisis teks naratif “Snow White” dan menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan generic structure teks naratif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa umumnya memahami orientation dan resolution dalam cerita. Sebagian besar siswa mampu mengidentifikasi tokoh utama dan menjelaskan bagaimana masalah diselesaikan. Namun, siswa masih mengalami kesulitan dalam mengorganisasikan sequence of events secara kronologis dan mengembangkan penjelasan secara rinci. Beberapa siswa juga mencampurkan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dalam menyampaikan nilai moral cerita. Penelitian ini menyimpulkan bahwa siswa memiliki pemahaman dasar tentang struktur teks naratif, tetapi masih perlu meningkatkan kemampuan dalam mengorganisasikan ide secara koheren, menggunakan kosakata yang tepat, dan mengembangkan komponen naratif secara efektif. Oleh karena itu, guru bahasa Inggris disarankan memberikan lebih banyak bimbingan dan latihan dalam kegiatan menulis teks naratif.</p> <p><em>This study aimed to analyze students’ narrative writing based on generic structure at SMPN 35 Medan. The research focused on how students organized narrative texts through orientation, complication, sequence of events, resolution, and coda. This study used a qualitative descriptive research design. The subjects of this research were five students of Grade VIII Class C at SMPN 35 Medan. The data were collected through reading and analysis tasks and supported by video recording documentation. Students were asked to analyze the narrative text “Snow White” and answer questions related to the generic structure of narrative texts. The findings showed that students generally understood the orientation and resolution of the story. Most students were able to identify the main character and explain how the problem was solved. However, students experienced difficulties in organizing the sequence of events chronologically and developing detailed explanations. Some students also mixed Indonesian and English in expressing the moral value of the story. The study concludes that students have a basic understanding of narrative structure, but they still need improvement in organizing ideas coherently, using appropriate vocabulary, and developing narrative components effectively. Therefore, English teachers are encouraged to provide more guidance and practice in narrative writing activities.</em></p>Jumita SimbolonNatasya Yosefa Sinulingga
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Pendidikan Inklusif
2026-05-302026-05-30105PERAN PEMBELAJARAN PPKN DALAM MEMBENTUK SIKAP DEMOKRATIS SISWA
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpi/article/view/21750
<p>Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) dalam membentuk sikap demokratis siswa, mengidentifikasi strategi pembelajaran yang efektif, serta mengetahui hambatan yang dihadapi dalam proses pelaksanaannya. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada kenyataan bahwa melemahnya nilai-nilai demokrasi di kalangan generasi muda, seperti rendahnya toleransi, kurangnya partisipasi, dan memudarnya semangat musyawarah, menjadi persoalan yang perlu segera ditangani melalui jalur pendidikan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui studi literatur terhadap berbagai jurnal ilmiah, buku, dan dokumen kebijakan pendidikan yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran PPKn memiliki peran yang sangat signifikan dalam membentuk sikap demokratis siswa, terutama ketika proses pembelajaran dilaksanakan secara aktif, partisipatif, dan kontekstual. Strategi pembelajaran seperti diskusi kelompok, simulasi musyawarah, debat, dan proyek sosial terbukti lebih efektif dalam menanamkan nilai-nilai demokratis dibandingkan metode ceramah yang bersifat satu arah. Selain itu, guru PPKn yang berperan sebagai fasilitator sekaligus teladan moral di kelas memberikan pengaruh yang besar terhadap proses internalisasi nilai demokrasi pada diri siswa. Di sisi lain, terdapat sejumlah hambatan yang perlu diatasi, antara lain perbedaan karakteristik siswa, kurangnya dukungan lingkungan keluarga, pengaruh negatif budaya digital, serta keterbatasan kompetensi guru dalam menerapkan metode pembelajaran yang bervariasi. Kesimpulan dari penelitian ini menegaskan bahwa PPKn menempati posisi strategis dalam sistem pendidikan nasional sebagai wahana utama pembentukan karakter demokratis generasi muda Indonesia.</p> <p><em>This study aims to examine the role of Pancasila and Civic Education (PPKn) learning in shaping students' democratic attitudes, to identify effective learning strategies, and to determine the obstacles encountered during its implementation. The background of this study is based on the reality that the weakening of democratic values among the younger generation, such as low tolerance, lack of participation, and the fading spirit of deliberation, has become an issue that needs to be addressed urgently through education. This study employed a descriptive qualitative approach with data collection techniques through literature review of various scientific journals, books, and relevant educational policy documents. The results show that PPKn learning has a very significant role in shaping students' democratic attitudes, especially when the learning process is carried out in an active, participatory, and contextual manner. Learning strategies such as group discussions, deliberation simulations, debates, and social projects have proven to be more effective in instilling democratic values compared to one-way lecture methods. Furthermore, PPKn teachers who act as facilitators and moral role models in the classroom have a major influence on the process of internalizing democratic values in students. On the other hand, there are several obstacles that need to be overcome, including differences in student characteristics, lack of family support, negative influences of digital culture, and limitations in teacher competence in applying varied learning methods. This study concludes that PPKn holds a strategic position in the national education system as the primary vehicle for shaping the democratic character of Indonesia's younger generation.</em></p>Dina NovitaSyamzaimar
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Pendidikan Inklusif
2026-05-302026-05-30105POTENSI SUMBER DAYA MANUSIA (SDM) DALAM PENGEMBANGAN USAHA MASYARAKAT DI DUSUN III DESA SIALANG MUDA KECAMATAN HAMPARAN PERAK KABUPATEN DELI SERDANG
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpi/article/view/22239
<p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi sumber daya manusia (SDM) masyarakat dalam pengembangan usaha pembuatan tempe di Dusun III Desa Sialang Muda Kecamatan Hamparan Perak Kabupaten Deli Serdang, mengetahui peran usaha pembuatan tempe terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat, serta mengetahui hubungan struktur sosial masyarakat dengan keberadaan usaha pembuatan tempe. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Subjek penelitian terdiri atas pemilik usaha, pekerja, dan masyarakat sekitar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Dusun III Desa Sialang Muda memiliki potensi sumber daya manusia yang cukup baik dalam mendukung perkembangan usaha pembuatan tempe. Keterlibatan masyarakat dalam proses produksi menunjukkan adanya kemampuan kerja sama, produktivitas, serta solidaritas sosial yang baik. Keberadaan usaha pembuatan tempe juga memberikan dampak positif terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat melalui pembukaan lapangan pekerjaan dan peningkatan pendapatan keluarga, khususnya bagi ibu rumah tangga. Selain itu, hubungan sosial antara pemilik usaha dan pekerja menunjukkan adanya struktur sosial yang saling mendukung dalam kehidupan masyarakat desa. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kualitas sumber daya manusia memiliki peran penting dalam pengembangan usaha masyarakat dan peningkatan kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat desa.</p>Ibnu Hajar DamanikAnifahPutri Inaya DarmayanaApiza AuliaAnna Yudita SimanullangNursita Win TambahZahra WidiyaNingsih HasibuanMardiyah Balqis Ritonga
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Pendidikan Inklusif
2026-05-302026-05-30105KONSEP HAK DAN KEWAJIBAN BERWARGANEGARAAN DALAM PERSPEKTIF ISLAM SERTA RELEVANSINYA DENGAN HUKUM POSITIF INDONESIA
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpi/article/view/21703
<p>Penelitian ini membahas konsep hak dan kewajiban berwarganegaraan dalam perspektif Islam serta relevansinya dengan hukum positif Indonesia. Hak dan kewajiban merupakan dua unsur mendasar dalam kehidupan bernegara yang harus berjalan seimbang demi terciptanya masyarakat yang adil, tertib, dan sejahtera. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan library research melalui kajian terhadap Al-Qur’an, Hadis, peraturan perundang-undangan, buku, dan jurnal ilmiah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Islam mengakui hak-hak dasar warga negara, seperti hak hidup, hak memperoleh keadilan, hak beragama, hak pendidikan, hak kepemilikan harta, serta hak menyampaikan pendapat dalam batas kemaslahatan umum. Di sisi lain, Islam juga menegaskan kewajiban warga negara, seperti menaati pemimpin yang adil, menjaga keamanan dan persatuan, membayar zakat atau pajak yang sah, serta berpartisipasi dalam pembangunan masyarakat. Konsep tersebut memiliki kesesuaian yang kuat dengan hukum positif Indonesia, terutama sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 mengenai hak asasi manusia, persamaan di hadapan hukum, kebebasan beragama, hak pendidikan, dan kewajiban bela negara. Penelitian ini menyimpulkan bahwa nilai-nilai Islam dan hukum nasional saling mendukung dalam membentuk warga negara yang sadar hak, bertanggung jawab terhadap kewajiban, serta menjunjung keadilan sosial. Sinergi keduanya penting untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang religius, demokratis, dan harmonis.</p>Rizky Rival RamadhanAnwar Sidik
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Pendidikan Inklusif
2026-05-302026-05-30105