Jurnal Pendidikan Inklusif
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpi
id-IDJurnal Pendidikan InklusifPERAN BIMBINGAN DAN KONSELING PERKEMBANGAN DALAM MENGATASI HAMBATAN BELAJAR PADA SISWA SEKOLAH DASAR
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpi/article/view/21871
<p>Hambatan belajar pada siswa sekolah dasar tetap menjadi isu penting dalam proses pendidikan karena memengaruhi perkembangan akademik, emosional, dan sosial siswa. Berbagai bentuk hambatan belajar seperti kesulitan membaca, menulis, berhitung, kurang fokus, dan disleksia sering ditemukan di kalangan siswa sekolah dasar. Studi sebelumnya telah membahas kesulitan belajar; namun, studi yang secara khusus meneliti peran layanan bimbingan dan konseling perkembangan dalam mengatasi hambatan ini masih terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk hambatan belajar yang dialami oleh siswa sekolah dasar dan menganalisis peran bimbingan dan konseling perkembangan dalam mengatasi masalah ini. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode penelitian kepustakaan. Data dikumpulkan dari buku, jurnal ilmiah, prosiding seminar, dan studi sebelumnya yang relevan terkait dengan hambatan belajar dan bimbingan serta konseling perkembangan. Temuan menunjukkan bahwa hambatan belajar dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal, termasuk kondisi neurologis, konsentrasi rendah, metode belajar yang tidak tepat, dan dukungan terbatas dari lingkungan. Disleksia diidentifikasi sebagai salah satu gangguan belajar utama yang memengaruhi kemampuan membaca dan menulis siswa meskipun memiliki tingkat kecerdasan normal. Layanan bimbingan dan konseling perkembangan memainkan peran penting melalui bimbingan belajar, konseling individu, layanan responsif, dan kolaborasi antara guru dan orang tua. Layanan ini membantu siswa meningkatkan kepercayaan diri, prestasi akademik, dan penyesuaian sosial. Studi ini menyiratkan bahwa sekolah perlu memperkuat identifikasi dini dan menyediakan sistem dukungan komprehensif untuk membantu siswa mengatasi hambatan belajar secara efektif.</p> <p><em>Learning barriers in elementary school students remain an important issue in the educational process because they affect students’ academic, emotional, and social development. Various forms of learning barriers such as difficulties in reading, writing, counting, lack of focus, and dyslexia are frequently found among elementary school students. Previous studies have discussed learning difficulties; however, studies specifically examining the role of developmental guidance and counseling services in addressing these barriers are still limited. Therefore, this study aims to describe the forms of learning barriers experienced by elementary school students and analyze the role of developmental guidance and counseling in overcoming these problems. This study employed a descriptive qualitative approach using library research methods. Data were collected from books, scientific journals, seminar proceedings, and relevant previous studies related to learning barriers and developmental guidance and counseling. The findings indicate that learning barriers are influenced by internal and external factors, including neurological conditions, low concentration, inappropriate learning methods, and limited support from the environment. Dyslexia was identified as one of the major learning disorders affecting students’ reading and writing abilities despite having normal intelligence levels. Developmental guidance and counseling services play a significant role through learning guidance, individual counseling, responsive services, and collaboration among teachers and parents. These services help students improve self-confidence, academic achievement, and social adjustment. The study implies that schools need to strengthen early identification and provide comprehensive support systems to help students overcome learning barriers effectively.</em></p>Miftahul Huzaima Awalia. HAswarIki Yusran
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Pendidikan Inklusif
2026-05-302026-05-30105OPTIMALISASI FUNGSI MASJID SEBAGAI PUSAT EDUKASI DAN SOSIAL MELALUI PROGRAM KKN DI MASJID MIFTAHUL HUDA
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpi/article/view/21585
<p><em>Miftahul Huda Mosque, located in Borang Village, Palembang, plays a crucial role in fostering the Muslim generation, yet it faces increasingly complex proselytizing (dakwah) challenges in the digital era. Current phenomena indicate a gap between the potential of the youth and traditional dakwah methods that remain collective, less interactive, and poorly adapted to developments in information technology. This community service program, conducted by KKN Group 234, aimed to optimize the mosque's function as an educational and social center through the empowerment of mosque youth and the local community. the implementation followed educational, participatory, and collaborative approaches, encompassing creative dakwah strategies and digital media integration. The results of this activity indicated that the children gained beneficial and blessed knowledge, alongside a significant increase in literacy interest regarding Iqro and the Al-Qur'an. This program has successfully strengthened the mosque's role in producing inspiring, adaptive, and transformative young preachers who uphold the values of Rahmatan lil ‘Alamin.</em></p>Achmad Abdullah BadawiNazifah Auliah HAlsya Aulia W. SuciAfif Fathan AngganaNabela MaharaniHenny Yusalia
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Pendidikan Inklusif
2026-05-302026-05-30105TEORI BELAJAR HUMANISTIK DALAM PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN: STUDI PUSTAKA
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpi/article/view/22556
<p><em>Education is a crucial process in developing human potential holistically, encompassing intellectual, emotional, social, and spiritual aspects. One relevant theory in education is humanistic learning theory, which emphasizes personality development, self-actualization, and student-centered learning. This article aims to examine the concept of humanistic learning theory and its implementation in Christian Religious Education (PAK). The method used is a literature review, collecting and analyzing various literature related to humanistic learning theory and Christian Religious Education (PAK) learning. The results of this study indicate that humanistic learning theory views the learning process as an effort to humanize people through the development of cognitive, affective, and psychomotor aspects. Key figures in this theory include Arthur Combs, Abraham Maslow, and Carl Rogers, who emphasize the importance of the meaning of learning, meeting student needs, and self-actualization. In the context of Christian Religious Education, humanistic theory can be applied through student-centered learning, the role of the teacher as a spiritual facilitator, the creation of a loving learning environment, and an emphasis on faith and character growth. Thus, humanistic learning theory has strong relevance in supporting the goals of Christian Religious Education to form students who are faithful, have character, and are able to develop their potential optimally.</em></p>Findi Alvionita Argarini LetekMarliliana MasaeAsri Lulu BaleMaria Indriani Sesfao
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Pendidikan Inklusif
2026-06-062026-06-06105PENGUATAN KARAKTER BANGSA MELALUI PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpi/article/view/21818
<p>Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena degradasi moral dan krisis identitas nasional di kalangan generasi muda yang dipicu oleh arus globalisasi serta masifnya infiltrasi budaya asing yang tidak sesuai dengan nilai-nilai luhur Pancasila. Karakter bangsa yang kuat merupakan fondasi utama bagi keberlangsungan sebuah negara berdaulat, namun saat ini integritas tersebut mulai terkikis oleh perilaku pragmatisme dan individualisme. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis urgensi serta strategi penguatan karakter bangsa melalui optimalisasi peran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) sebagai instrumen edukasi politik dan moral. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi literatur, di mana data dikumpulkan dari berbagai jurnal ilmiah, buku, dan kebijakan pendidikan terkait untuk kemudian dianalisis secara deskriptif-analitis. Temuan penelitian menunjukkan bahwa Pendidikan Kewarganegaraan memiliki peran sentral dalam mentransformasikan nilai-nilai kebangsaan, demokrasi, dan bela negara ke dalam ranah kognitif, afektif, serta psikomotorik peserta didik. PKn bukan sekadar transfer pengetahuan mengenai struktur tata negara, melainkan sebuah proses pembentukan watak (character building) yang mampu menghasilkan warga negara yang cerdas dan bertanggung jawab. Implikasi dari penelitian ini menekankan perlunya inovasi dalam metode pembelajaran PKn yang lebih adaptif, interaktif, dan berbasis nilai-nilai kontekstual agar tidak terjebak pada formalitas administratif belaka. Penguatan kurikulum yang mengintegrasikan kecakapan abad ke-21 dengan kearifan lokal menjadi kunci dalam mencetak generasi penerus yang memiliki nasionalisme tinggi sekaligus kompetitif secara global. Sinergi antara pendidik, lembaga pendidikan, dan lingkungan sosial sangat diperlukan untuk memastikan nilai-nilai karakter tersebut terinternalisasi secara permanen dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.</p> <p><em>This research is motivated by the phenomenon of moral degradation and the crisis of national identity among the younger generation, triggered by the currents of globalization and the massive infiltration of foreign cultures that are inconsistent with the noble values of Pancasila. A strong national character is the primary foundation for the sustainability of a sovereign state; however, this integrity is currently being eroded by pragmatism and individualism. The objective of this study is to analyze the urgency and strategies for strengthening national character through the optimization of Civic Education (PKn) as an instrument for political and moral education</em></p> <p><em>. The research method employed is qualitative with a literature study approach, where data were collected from various scientific journals, books, and relevant educational policies, followed by a descriptive-analytical evaluation. The findings indicate that Civic Education plays a central role in transforming national values, democracy, and state defense into the cognitive, affective, and psychomotor domains of students. Civic Education is not merely a transfer of knowledge regarding </em></p> <p><em>state structures but a process of character building capable of producing intelligent and responsible citizens. The implications of this research emphasize the need for innovation in Civic Education learning methods that are more adaptive, interactive, and contextually grounded to avoid becoming mere administrative formalities. Strengthening the curriculum by integrating 21st-century skills with local wisdom is key to producing a successor generation that possesses high nationalism while remaining globally competitive. Synergy between educators, educational institutions, and the social environment is essential to ensure that character values are permanently internalized in the life of the community, nation, and state.</em></p>Ica Habibatul BarokahSyamzaimar
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Pendidikan Inklusif
2026-05-302026-05-30105RELEVANSI PENGGUNAAN MIND MAP DI KELAS II SEKOLAH DASAR
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpi/article/view/22270
<p>Penelitian ini dilatar belakangi oleh rendahnya keterlibatan dan kemampuan berpikir kreatif murid kelas II di SDN 182/1 Hutan Lindung dalam proses pembelajaran. Dominasi metode ceramah menyebabkan murid kurang aktif dan sulit mengorganisasikan informasi secara mandiri. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji relevansi penggunaan mind map pada murid kelas dua sekolah dasar dalam meningkatkan kemampuan berpikir kreatif, pemahaman konsep, dan keterampilan menulis. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi literatur. Data dikumpulkan melalui telaah berbagai sumber jurnal nasional dan internasional yang relevan. Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil kajian menunjukkan bahwa mind map memiliki relevansi yang tinggi untuk digunakan pada murid kelas dua SD karena mampu mengakomodasi gaya berpikir visual anak usia 7–8 tahun, mendorong ekspresi ide secara bebas, dan meningkatkan kemampuan mengorganisasikan informasi. Mind map terbukti relevan dalam konteks pembelajaran tematik, keterampilan menulis, serta pengembangan kreativitas murid kelas rendah. Implikasi penelitian ini mendukung guru dalam memilih strategi pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik perkembangan kognitif murid kelas II SD.</p> <p><em>This research is motivated by the low engagement and creative thinking skills of second-grade students at SDN 182/1 Hutan Lindung in the learning process. The dominance of lecture methods makes students less active and difficult to organize information independently. The purpose of this study is to examine the relevance of using mind maps for second-grade elementary school students in improving creative thinking skills, conceptual understanding, and writing skills. This study uses a qualitative method with a literature study approach. Data were collected through a review of various relevant national and international journal sources. Data analysis was carried out descriptively qualitatively through the stages of data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The results of the study indicate that mind maps have high relevance for use with second-grade elementary school students because they are able to accommodate the visual thinking style of children aged 7–8 years, encourage free expression of ideas, and improve the ability to organize information. Mind maps are proven to be relevant in the context of thematic learning, writing skills, and developing the creativity of lower-grade students. The implications of this study support teachers in choosing learning strategies that are appropriate to the characteristics of second-grade elementary school students' cognitive development.</em></p>Jepri AlfiansyahJeremia Wijaya SidabalokM. Junaidi
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Pendidikan Inklusif
2026-05-302026-05-30105PERAN GENERASI MUDA DALAM MELESTARIKAN BUDAYA MUSYAWARAH DI ERA DIGITAL
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpi/article/view/21790
<p>Budaya musyawarah merupakan salah satu nilai penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang mencerminkan sikap demokratis, keterbukaan, dan penghargaan terhadap perbedaan pendapat. Namun, perkembangan teknologi digital telah mengubah pola komunikasi generasi muda, sehingga praktik musyawarah mengalami pergeseran dari bentuk tatap muka menuju komunikasi berbasis digital. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peran generasi muda dalam melestarikan budaya musyawarah di era digital, serta mengidentifikasi tantangan dan upaya yang dilakukan dalam mempertahankan nilai-nilai musyawarah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Subjek penelitian adalah generasi muda yang aktif menggunakan media digital dalam kegiatan diskusi dan pengambilan keputusan. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis data kualitatif yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data dilakukan melalui triangulasi sumber dan triangulasi teknik untuk memperoleh hasil penelitian yang valid dan objektif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa generasi muda masih mempraktikkan budaya musyawarah melalui berbagai platform digital seperti WhatsApp, Zoom, dan media sosial lainnya. Generasi muda berperan dalam menjaga nilai-nilai musyawarah melalui komunikasi yang santun, keterbukaan terhadap perbedaan pendapat, serta pengambilan keputusan secara demokratis. Namun, terdapat beberapa tantangan yang dihadapi, seperti rendahnya partisipasi aktif anggota, kesalahpahaman dalam komunikasi digital, serta komunikasi yang cenderung singkat dan kurang mendalam. Untuk mengatasi tantangan tersebut, generasi muda melakukan berbagai upaya seperti mengadakan diskusi rutin, memanfaatkan fitur polling dan voting, serta menjaga etika komunikasi dalam diskusi digital. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa generasi muda memiliki peran strategis dalam melestarikan budaya musyawarah di era digital. Pemanfaatan teknologi digital tidak hanya mempermudah komunikasi, tetapi juga menjadi sarana untuk memperkuat budaya musyawarah yang demokratis dan inklusif. Oleh karena itu, diperlukan dukungan dari berbagai pihak untuk mendorong generasi muda agar terus mempertahankan nilai-nilai musyawarah sebagai bagian dari identitas budaya bangsa di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat.</p> <p><em>Deliberation culture is one of the important values in Indonesian society that reflects democratic attitudes, openness, and respect for differences of opinion. However, the development of digital technology has changed the communication patterns of the younger generation, causing the practice of deliberation to shift from face-to-face interaction to digital-based communication. This study aims to describe the role of the younger generation in preserving the culture of deliberation in the digital era, as well as to identify the challenges and efforts made in maintaining deliberative values. This research employed a qualitative approach with a descriptive method. The research subjects were young people who actively used digital media in discussion and decision-making activities. Data collection techniques included observation, interviews, and documentation. The collected data were analyzed using qualitative data analysis techniques, including data reduction, data presentation, and conclusion drawing. Data validity was ensured through source triangulation and technique triangulation to obtain valid and objective research findings. The results of the study indicate that the younger generation continues to practice deliberation through various digital platforms such as WhatsApp, Zoom, and social media. The younger generation plays a significant role in maintaining deliberative values through polite communication, openness to different opinions, and democratic decision-making processes. However, several challenges were identified, including low active participation, misunderstandings in digital communication, and brief communication that tends to be less in-depth. To address these challenges, young people implement several efforts such as conducting regular online discussions, utilizing polling and voting features, and maintaining communication ethics in digital discussions. In conclusion, the younger generation has a strategic role in preserving the culture of deliberation in the digital era. The use of digital technology not only facilitates communication but also strengthens democratic and inclusive deliberation culture. Therefore, support from various stakeholders is needed to encourage young people to continue preserving deliberative values as part of national cultural identity amid rapid technological development.</em></p>Hindun LubisSyamzaimar
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Pendidikan Inklusif
2026-05-302026-05-30105PENGUATAN KARAKTER DISIPLIN CARA BELAJAR PESERTA DIDIK MELALUI PEMBELAJARAN PENDIDIKAN PANCASILA
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpi/article/view/22837
<p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Pancasila dalam membentuk dan memperkuat karakter disiplin cara belajar peserta didik, kendala yang dihadapi dalam proses pembentukannya, serta upaya yang dilakukan untuk mengatasi kendala tersebut di SMA Negeri 12 Bandung. Karakter disiplin cara belajar merupakan sikap yang ditunjukkan melalui ketepatan waktu, kepatuhan terhadap aturan pembelajaran, tanggung jawab dalam menyelesaikan tugas, serta kemampuan mengatur waktu belajar secara teratur. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Subjek penelitian ini terdiri atas Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, guru Pendidikan Pancasila, dan peserta didik. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran Pendidikan Pancasila memiliki peran penting dalam membentuk dan memperkuat karakter disiplin cara belajar peserta didik melalui perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, serta berbagai pembiasaan yang diterapkan selama proses pembelajaran. Karakter disiplin muncul pada peserta didik menunjukkan sikap disiplin melalui kedisiplinan hadir tepat waktu di kelas, mematuhi aturan pembelajaran, menyelesaikan tugas dengan tepat waktu, dan mengatur waktu belajar. Namun demikian, masih ditemukan beberapa kendala yang berasal dari faktor internal maupun faktor eksternal peserta didik, lingkungan sekolah, lingkungan keluarga, lingkungan pertemanan, serta pengaruh perkembangan teknologi digital. Untuk mengatasi kendala tersebut, guru dan pihak sekolah melakukan berbagai upaya melalui pembiasaan karakter disiplin, penguatan aturan sekolah, pembinaan secara personal, koordinasi antarwarga sekolah, serta penerapan strategi pembelajaran yang kreatif dan kontekstual. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran Pendidikan Pancasila memberikan kontribusi positif dalam membentuk dan memperkuat karakter disiplin cara belajar peserta didik sehingga peserta didik menjadi lebih tertib, bertanggung jawab, dan mampu mengelola kegiatan belajar secara lebih teratur</p> <p><em>This study aims to examine the implementation of Pancasila Eucation Learning in shaping and strengthening students’ learning discipline character, the obstacles encountered during the process, and the efforts made to overcome those obstacles at SMA Negeri 12 Bandung. Learning discipline character refers to attitudes demonstrated through punctuality, compliance with learning regulations, responsibility in completing assignments, and the ability to manage study time effectively and consistently. This research employed a qualitative approach using a case study method. The research participants consisted of the Vice Principal for Curiculum Affairs, a Pancasila Education teacher,and students. Data were collected through interviews, observations, and documentation. The findings indicate that Pancasila Education plays a significant role in shaping and strengthening students’ learning discipline character through lesson planning, learning implementation, and various disciplinary habituation practites applied during the learning process. The development of learning discipline character among students was reflected in punctual atteandance in class, compliance with learning regulations, timely completion of assigments, and effective managements of study time. However, several challenges were identified, originating from both internal and external factors, including students’ personal characteristics, school environment, family environment, peer influence, and the impact of digital technology development. To address these challenges, teachers and scholl authorities implemented various efforts, including disciplinary habituation, reinforcements of scholl regulations, personal guidance, cooridination among school stakeholders, and the application of creative and contextual learning strategies. Based on the findings, it canbe concluded that Pancasila Education learning contributes positively to shaping and strengthening students’ learning discipline character, enabling students to become more orderly, responsible, and capable of managing their learning activities more efferctively.</em></p>Tiara Isnain PutriCahyono Delila Kania
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Pendidikan Inklusif
2026-06-102026-06-10105POTENSI SUMBER DAYA MANUSIA (SDM) DALAM PENGEMBANGAN USAHA MASYARAKAT DI DUSUN III DESA SIALANG MUDA KECAMATAN HAMPARAN PERAK KABUPATEN DELI SERDANG
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpi/article/view/22239
<p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi sumber daya manusia (SDM) masyarakat dalam pengembangan usaha pembuatan tempe di Dusun III Desa Sialang Muda Kecamatan Hamparan Perak Kabupaten Deli Serdang, mengetahui peran usaha pembuatan tempe terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat, serta mengetahui hubungan struktur sosial masyarakat dengan keberadaan usaha pembuatan tempe. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Subjek penelitian terdiri atas pemilik usaha, pekerja, dan masyarakat sekitar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Dusun III Desa Sialang Muda memiliki potensi sumber daya manusia yang cukup baik dalam mendukung perkembangan usaha pembuatan tempe. Keterlibatan masyarakat dalam proses produksi menunjukkan adanya kemampuan kerja sama, produktivitas, serta solidaritas sosial yang baik. Keberadaan usaha pembuatan tempe juga memberikan dampak positif terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat melalui pembukaan lapangan pekerjaan dan peningkatan pendapatan keluarga, khususnya bagi ibu rumah tangga. Selain itu, hubungan sosial antara pemilik usaha dan pekerja menunjukkan adanya struktur sosial yang saling mendukung dalam kehidupan masyarakat desa. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kualitas sumber daya manusia memiliki peran penting dalam pengembangan usaha masyarakat dan peningkatan kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat desa.</p>Ibnu Hajar DamanikAnifahPutri Inaya DarmayanaApiza AuliaAnna Yudita SimanullangNursita Win TambahZahra WidiyaNingsih HasibuanMardiyah Balqis Ritonga
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Pendidikan Inklusif
2026-05-302026-05-30105JURNAL PENELITIAN PENDIDIKAN LUNTURNYA SIKAP NASIONALISME GENERASI MILENIAL TERHADAP PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpi/article/view/21717
<p><em>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penyebab lunturnya sikap nasionalisme di kalangan generasi milenial serta mengidentifikasi strategi yang efektif untuk membangkitkan kembali semangat nasionalisme melalui Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), serta melalui peran keluarga, pendidikan, dan pemerintah. Di tengah arus globalisasi yang semakin masif, generasi milenial menghadapi tantangan berupa krisis identitas nasional akibat kuatnya penetrasi budaya asing yang menggeser nilai-nilai lokal. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan yang bersumber dari jurnal, buku, artikel ilmiah, dan sumber daring yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa lunturnya nasionalisme tidak hanya ditandai oleh menurunnya rasa cinta tanah air, tetapi juga oleh pergeseran orientasi nilai akibat dominasi ruang digital yang bersifat transnasional. Generasi milenial cenderung mengadopsi gaya hidup kosmopolitan yang dianggap lebih modern dibandingkan nilai-nilai tradisional sehingga identitas nasional menjadi semakin kabur. Fenomena ini diperparah oleh rendahnya literasi digital yang menyebabkan ketidakmampuan dalam menyaring informasi dan ideologi yang bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila. Selain itu, pembelajaran PPKn yang masih bersifat konvensional dan berorientasi pada hafalan dinilai kurang mampu membangun keterlibatan emosional peserta didik. Metode pembelajaran yang kurang kontekstual menyebabkan siswa hanya memahami nilai-nilai kebangsaan secara kognitif tanpa mampu menginternalisasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Di sisi lain, adanya krisis keteladanan dari elite politik serta maraknya kasus korupsi dan ketidakadilan hukum turut memicu sikap apatis generasi milenial terhadap negara. Dalam konteks era digital, nasionalisme tidak lagi dipahami hanya sebagai patriotisme klasik, melainkan sebagai kemampuan individu dalam menyaring budaya dan menavigasi informasi di ruang digital. Oleh karena itu, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan perlu bertransformasi menjadi sarana pengembangan kecerdasan kewarganegaraan digital (digital civic intelligence). Pendekatan pembelajaran harus lebih inovatif, interaktif, dan berbasis pengalaman nyata, seperti project based learning, pemanfaatan media sosial, serta penerapan gamifikasi dalam pembelajaran. Penguatan nasionalisme juga memerlukan integrasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari melalui sinergi antara sekolah, keluarga, masyarakat, dan pemerintah. Guru berperan sebagai fasilitator dan teladan, sementara orang tua serta lingkungan sosial menjadi pendukung dalam membentuk karakter generasi muda. Pemerintah diharapkan mampu merumuskan kebijakan pendidikan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi tanpa menghilangkan nilai-nilai luhur bangsa. Dengan demikian, revitalisasi nasionalisme pada generasi milenial membutuhkan pendekatan yang komprehensif dan berkelanjutan. Integrasi teknologi digital, inovasi pedagogik, serta penguatan literasi digital menjadi kunci dalam membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara global, tetapi juga memiliki identitas nasional yang kuat. Nasionalisme di era modern harus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan esensi nilai-nilai Pancasila sebagai dasar kehidupan berbangsa dan bernegara.</em></p> <p><em>This study aims to analyze the causes of the decline of nationalism among millennial generations and to identify effective strategies to revive nationalism through Civic Education (Pancasila and Citizenship Education), as well as through the roles of family, education, and government. In the midst of increasingly massive globalization, the millennial generation faces challenges in the form of a national identity crisis due to the strong penetration of foreign cultures that shift local values. This study uses a qualitative method with a literature review approach based on journals, books, scientific articles, and relevant online sources. The findings show that the decline of nationalism is not only indicated by a decreasing sense of love for the homeland, but also by a shift in value orientation caused by the dominance of a transnational digital space. Millennials tend to adopt a cosmopolitan lifestyle that is considered more modern compared to traditional values, resulting in a blurred national identity. This phenomenon is worsened by low digital literacy, which leads to an inability to filter information and ideologies that contradict Pancasila values. In addition, Civic Education learning, which is still conventional and memorization-oriented, is considered less effective in building students’ emotional engagement. Such learning methods cause students to understand national values only at the cognitive level without being able to internalize them in real life. On the other hand, the lack of role models among political elites, along with widespread corruption and injustice in the legal system, also contributes to the apathetic attitude of millennials toward the state. In the digital era context, nationalism is no longer understood merely as classical patriotism, but as the individual’s ability to filter culture and navigate information in cyberspace. Therefore, Civic Education must be transformed into a means of developing digital civic intelligence. Learning approaches should be more innovative, interactive, and experience-based, such as project-based learning, the use of social media, and gamification in learning. The strengthening of nationalism also requires the integration of Pancasila values in daily life through synergy among schools, families, society, and the government. Teachers act as facilitators and role models, while parents and the social environment support character building among young people. The government is expected to formulate education policies that are adaptive to technological developments without neglecting the noble values of the nation. Thus, the revitalization of nationalism among millennials requires a comprehensive and sustainable approach. The integration of digital technology, pedagogical innovation, and strengthening digital literacy are key factors in shaping a generation that is not only globally competitive but also possesses a strong national identity. In the modern era, nationalism must adapt to changing times without losing the essence of Pancasila values as the foundation of national and state life.</em></p>Rossa LitaSyamzaimar
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Pendidikan Inklusif
2026-05-302026-05-30105TEORI BELAJAR REVOLUSI SOSIO-KULTURAL DALAM PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpi/article/view/22715
<p>Penelitian ini membahas teori belajar revolusi sosio-kultural dalam Pendidikan Agama Kristen. Penelitian bertujuan untuk mengkaji relevansi, implementasi, tantangan, dan peluang teori sosio-kultural dalam mendukung proses pembelajaran Pendidikan Agama Kristen di tengah masyarakat modern. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka (library research) melalui analisis berbagai jurnal nasional dan internasional, buku, serta referensi ilmiah yang berkaitan dengan teori belajar sosio-kultural dan Pendidikan Agama Kristen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teori sosio-kultural menekankan pentingnya interaksi sosial, budaya, bahasa, dan pengalaman komunitas dalam membentuk perkembangan kognitif, spiritual, dan karakter peserta didik. Dalam Pendidikan Agama Kristen, pendekatan ini membantu peserta didik memahami nilai-nilai kekristenan secara kontekstual melalui pembelajaran kolaboratif, interaksi sosial, dan pengalaman budaya. Implementasi teori sosio-kultural dapat dilakukan melalui pembelajaran kontekstual, diskusi kelompok, integrasi budaya lokal, serta pemanfaatan teknologi digital dalam pembelajaran. Namun, penerapannya masih menghadapi beberapa tantangan, seperti dominannya metode pembelajaran konvensional, keterbatasan kompetensi guru, dan pengaruh globalisasi terhadap perkembangan karakter peserta didik. Oleh karena itu, teori sosio-kultural memberikan peluang besar dalam mengembangkan Pendidikan Agama Kristen yang kontekstual, humanis, dan transformatif.</p> <p><em>This study discusses the socio-cultural revolutionary learning theory in Christian Religious Education. The study aims to examine the relevance, implementation, challenges, and opportunities of socio-cultural theory in supporting the learning process of Christian Religious Education in modern society. This research employed a qualitative method with a library research approach by analyzing various national and international journal articles, books, and scientific references related to socio-cultural learning theory and Christian Religious Education. The findings show that socio-cultural theory emphasizes the importance of social interaction, culture, language, and community experiences in shaping students’ cognitive, spiritual, and character development. In Christian Religious Education, this approach helps students understand Christian values contextually through collaborative learning, social interaction, and cultural experiences. The implementation of socio-cultural theory can be carried out through contextual learning, group discussions, the integration of local culture, and the use of digital technology in learning. However, several challenges remain, including the dominance of conventional teaching methods, limited teacher competence, and the influence of globalization on students’ character development. Therefore, socio-cultural theory provides significant opportunities for developing contextual, humanistic, and transformative Christian Religious Education.</em></p>Maria Indriani SesfaoDebora Seran RatuYanti SelanAngki A. Bessie
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Pendidikan Inklusif
2026-06-082026-06-08105MAKNA DAN FUNGSI SYAIR TARIAN BONET MASYARAKAT DESA OENAI KECAMATAN KIE KABUPATEN TIMOR TENGAH SELATAN
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpi/article/view/21940
<p>Skripsi ini berjudul, “Makna dan Fungsi Syair Tarian Bonet Masyarakat Desa Oenai Kecamatan Kie Kabupaten Timor Tengah Selatan”, oleh Nelda Atrio Saetban, NIM:2288201041 dibimbing oleh, Ronni M. Ndun, S.Pd,. M. Hum, sebagai pembimbing I dan John Darwis Fallo, S.Pd., M.Pd, sebagai pembimbing II, penelitian ini dilatar belakangi oleh permasalahan Makna dan Fungsi Syair Tarian Bonet Masyarakat Desa Oenai Kecamatan Kie Kabupaten Timor Tengah Selatan. Tujuan penelitian ini yaitu mendesripsikan Makna yang terkandung dalam Bonet Masyarakat Desa Oenai Kecamatan Kie Kabupaten Timor Tengah Selatan teori yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teori linguistik kebudayaan karena linguistik kebudayaan yang membahas tentang hubungan antara bahasa dan budaya, sebagaimana bahasa tidak hanya sebagai alat komunikasi tetapi juga sebagai representasi dan refleksi dari nilai, norma dan kepercayaan dalam budaya tertentu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode deskriftif kualitatif karena metode ini meneliti suatu kelompok manusia, suatu objek suatu kondisi, suatu sistem pemikiran atau kelas peristiwa sekarang. Hasil penelitian menunjukan bahwa syair (bonet) ada ketika Masyarakat ingin memuji dan memegahkan sesuatu misalnya membesarkan nama kampung dengan bonet yang mengiringi langkah kaki bonet pada sebuah acara. Dalam penelitian ini ditemukan makna kebersamaan dan persatuan, nasihat dan ajaran hidup, hubungan sosial dan kekeluargaan, ketaatan pada adat dan leluhur dan juga fungsi sosial, fungsi hiburan, fungsi ekspresif dan fungsi pemersatuan. Penelitian ini juga bermanfaat bagi generasi muda khususnya yang berada di Desa Oenai untuk mengetahui bahwa bonet adalah warisan budaya masyarakat dawan yang paling tertua dan pantun-pantunya mengandung makna yang sangat mendalam.</p> <p><em>This thesis is entitled, "The Meaning and Function of Bonet Dance Lyrics of the Oenai Village Community, Kie District, South Central Timor Regency," by Nelda Atrio Saetban, Student ID: 2288201041, under the guidance of Ronni M. Ndun, S.Pd., M.Hum, as the primary advisor, and John Darwis Fallo, S.Pd., M.Pd, as the co-advisor. This research is motivated by issues surrounding the meaning and function of the Bonet dance lyrics within the Oenai Village community, Kie District, South Central Timor Regency. The purpose of this study is to describe the meaning contained in the Bonet lyrics of the Oenai Village community. The theory applied in this research is cultural linguistics, as it explores the relationship between language and culture, establishing that language is not merely a tool for communication but also a representation and reflection of the values, norms, and beliefs within a specific culture. The method used in this research is descriptive qualitative, as it examines a group of humans, an object, a condition, a system of thought, or a class of contemporary events. The results indicate that the lyrics (bonet) exist when the community wishes to praise and glorify something, such as honoring the village's name through the bonet that accompanies their steps during an event. This study discovered meanings of togetherness and unity, advice and life lessons, social and familial relations, as well as obedience to customs and ancestors. Furthermore, it identified social, entertainment, expressive, and unifying functions. This research is also beneficial for the younger generation, particularly those in Oenai Village, to recognize that bonet is the oldest cultural heritage of the Dawan community, whose poetic verses (pantun) carry profound meanings.</em></p>Nelda Atrio SaetbanRonny M. Ndun
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Pendidikan Inklusif
2026-05-302026-05-30105PERAN MAHASISWA PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN BIAK DALAM MENGAMALKAN NILAI PANCASILA DENGAN MENJADI WARGA NEGARA DIGITAL YANG CERDAS DAN BERETIKA
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpi/article/view/21588
<p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana mahasiswa Program Studi PPKn STKIP Biak Papua dapat menjadi warga negara digital yang cerdas dan beretika di tengah perkembangan teknologi informasi. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat literasi kewarganegaraan digital mahasiswa berada pada kategori sedang, di mana kemampuan akses dan partisipasi digital cukup baik, namun pemahaman terkait etika, hukum, dan keamanan digital masih terbatas. Hal ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa mahasiswa cenderung aktif secara digital tetapi belum sepenuhnya memiliki kesadaran etika yang kuat . Selain itu, ditemukan bahwa integrasi nilai-nilai Pancasila dalam pembelajaran mampu meningkatkan kesadaran etika digital mahasiswa. Kesimpulan penelitian ini adalah pentingnya penguatan literasi digital berbasis nilai karakter dan etika kewarganegaraan guna membentuk mahasiswa yang bertanggung jawab dalam ruang digital. Disarankan agar institusi pendidikan mengembangkan model pembelajaran inovatif berbasis kasus dan teknologi untuk meningkatkan kompetensi kewarganegaraan digital mahasiswa.</p>Yohana Hulda Diawaitou
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Pendidikan Inklusif
2026-05-302026-05-30105PEMANFAATAN VIDEO INTERAKTIF UNTUK MENINGKATKAN LITERASI DIGITAL ANAK USIA DINI
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpi/article/view/22600
<p>Rendahnya kemampuan siswa dalam aspek kognitif disebabkan kurangnya materi dan media pembelajaran yang mendukung siswa dalam proses belajar. Penelitian ini bertujuan menghasilkan video pembelajaran berbasis multimedia interaktif pada aspek kognitif khususnya kemampuan klasifikasi pada anak usia dini. Jenis penelitian ini adalah penelitian dan pengembangan (Research dan Development) dengan menggunakan model ADDIE. Subjek dalam penelitian ini adalah satu uji coba ahli materi, satu uji coba ahli media, satu uji coba ahli desain media pembelajaran dan tiga uji coba perorangan yang dilakukan tiga orang siswa. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini yaitu wawancara, observasi dan angket. Instrumen yang digunakan dalam pengumpulan data yaitu kuesioner/ angket. Teknik yang digunakan dalam menganalisis data yaitu data kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian ini yaitu Video pembelajaran berbasis multimedia interaktif dengan hasil penilaian yang dilakukan ahli materi, ahli media, ahli desain pelajaran dan perorangan dengan persentase penilaian rata-rata 88,5% dengan kualifikasi baik. Maka, video pembelajaran berbasis multimedia interaktif pada aspek kognitif anak usia dini valid dan layak diterapkan pada proses pembelajaran. Implikasi dari penelitian pengembangan video berbasis multimedia interaktif pada aspek kognitif dapat dijadikan salah satu solusi pada permasalahan yang ada, yaitu dapat digunakan pada pembelajaran untuk meningkatkan aspek kognitif siswa salah satunya klasifikasi. Selain itu media ini dapat membuat pembelajaran menjadi lebih variatif sehingga pembelajaran lebih menarik dan dapat memberikan pengalaman belajar bagi anak.</p> <p><em>The low ability of students in cognitive aspects is caused by the lack of learning materials and media that support students in the learning process. This study aims to produce interactive multimedia-based learning videos on cognitive aspects, especially classification abilities in early childhood. This type of research is research and development (R&D) using the ADDIE model. The subjects in this study were one trial of material experts, one trial of media experts, one trial of learning media design experts and three individual trials conducted by three students. Data collection techniques in this study were interviews, observations and questionnaires. The instruments used in data collection were questionnaires. The techniques used in analyzing data were qualitative and quantitative data. The results of this study are interactive multimedia-based learning videos with assessment results carried out by material experts, media experts, lesson design experts and individuals with an average assessment percentage of 88.5% with good qualifications. Thus, interactive multimedia-based learning videos on the cognitive aspects of early childhood are valid and suitable for application in the learning process. The implications of research on the development of interactive multimedia-based videos on cognitive aspects can be used as a solution to existing problems, namely they can be used in learning to improve students’ cognitive aspects, one of which is classification. In addition, this media can make learning more varied so that learning is more interesting and can provide learning experiences for children.</em></p>Elisabeth Jesika Deo
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Pendidikan Inklusif
2026-06-112026-06-11105PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN BERBASIS STUDENT-CENTERED SEBAGAI STRATEGI TEPAT UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJARSISWA KELAS IV SD NEGERI 183/IV RENAH KEMUMU
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpi/article/view/21866
<p>Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan metode pembelajaran berbasis Student-Centered (berpusat pada siswa) yang tepat dan efektif diterapkan di Kelas IV SD Negeri 183/IV Renah Kemumu. Pergeseran paradigma pembelajaran dari berpusat pada guru menjadi berpusat pada siswa merupakan tuntutan kurikulum dan kebutuhan perkembangan anak. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kondisi di lapangan yang menunjukkan pembelajaran masih didominasi metode konvensional atau ceramah, sehingga siswa kurang aktif, cepat bosan, dan pemahaman materi belum maksimal. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif melalui observasi, kajian literatur, dan analisis karakteristik siswa serta potensi lingkungan sekolah. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa siswa Kelas IV berada pada tahap operasional konkret yang membutuhkan benda nyata dan pengalaman langsung, serta tumbuh di lingkungan pedesaan yang kaya akan budaya gotong royong dan potensi alam. Metode pembelajaran yang paling tepat dan relevan diterapkan adalah metode pembelajaran kooperatif, metode penemuan (Discovery Learning), dan metode pembelajaran berbasis lingkungan. Ketiga metode ini terbukti efektif meningkatkan keaktifan, rasa ingin tahu, dan hasil belajar siswa karena menempatkan siswa sebagai subjek pembelajaran dan memanfaatkan kekayaan lingkungan Desa Renah Kemumu sebagai sumber belajar utama.</p> <p><em>This study aims to describe an appropriate and effective student-centered learning method implemented in fourth grade at SD Negeri 183/IV Renah Kemumu. The shift in learning paradigm from teacher-centered to student-centered is a curriculum requirement and a child developmental need. This research is motivated by field conditions that indicate learning is still dominated by conventional methods or lectures, resulting in students being less active, easily bored, and not achieving optimal understanding of the material. The research method used is descriptive qualitative through observation, literature review, and analysis of student characteristics and the potential of the school environment. The results indicate that fourth grade students are at the concrete operational stage, requiring tangible objects and direct experience, and growing up in a rural environment rich in mutual cooperation and natural resources. The most appropriate and relevant learning methods to implement are cooperative learning, discovery learning, and environment-based learning. These three methods have proven effective in increasing student engagement, curiosity, and learning outcomes because they position students as the subject of learning and utilize the rich environment of Renah Kemumu Village as the primary learning resource.</em></p>EtismawatiAriya Mera
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Pendidikan Inklusif
2026-05-302026-05-30105AN ANALYSIS OF STUDENTS’ NARRATIVE WRITING - BASED ON GENERIC STRUCTURE AT SMPN 35 MEDAN
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpi/article/view/22292
<p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kemampuan menulis teks naratif siswa berdasarkan generic structure di SMPN 35 Medan. Penelitian ini berfokus pada bagaimana siswa mengorganisasikan teks naratif melalui orientation, complication, sequence of events, resolution, dan coda. Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif kualitatif. Subjek penelitian ini adalah lima siswa kelas VIII-C SMPN 35 Medan. Data dikumpulkan melalui tugas membaca dan analisis serta didukung dengan dokumentasi video recorder. Siswa diminta menganalisis teks naratif “Snow White” dan menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan generic structure teks naratif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa umumnya memahami orientation dan resolution dalam cerita. Sebagian besar siswa mampu mengidentifikasi tokoh utama dan menjelaskan bagaimana masalah diselesaikan. Namun, siswa masih mengalami kesulitan dalam mengorganisasikan sequence of events secara kronologis dan mengembangkan penjelasan secara rinci. Beberapa siswa juga mencampurkan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dalam menyampaikan nilai moral cerita. Penelitian ini menyimpulkan bahwa siswa memiliki pemahaman dasar tentang struktur teks naratif, tetapi masih perlu meningkatkan kemampuan dalam mengorganisasikan ide secara koheren, menggunakan kosakata yang tepat, dan mengembangkan komponen naratif secara efektif. Oleh karena itu, guru bahasa Inggris disarankan memberikan lebih banyak bimbingan dan latihan dalam kegiatan menulis teks naratif.</p> <p><em>This study aimed to analyze students’ narrative writing based on generic structure at SMPN 35 Medan. The research focused on how students organized narrative texts through orientation, complication, sequence of events, resolution, and coda. This study used a qualitative descriptive research design. The subjects of this research were five students of Grade VIII Class C at SMPN 35 Medan. The data were collected through reading and analysis tasks and supported by video recording documentation. Students were asked to analyze the narrative text “Snow White” and answer questions related to the generic structure of narrative texts. The findings showed that students generally understood the orientation and resolution of the story. Most students were able to identify the main character and explain how the problem was solved. However, students experienced difficulties in organizing the sequence of events chronologically and developing detailed explanations. Some students also mixed Indonesian and English in expressing the moral value of the story. The study concludes that students have a basic understanding of narrative structure, but they still need improvement in organizing ideas coherently, using appropriate vocabulary, and developing narrative components effectively. Therefore, English teachers are encouraged to provide more guidance and practice in narrative writing activities.</em></p>Jumita SimbolonNatasya Yosefa Sinulingga
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Pendidikan Inklusif
2026-05-302026-05-30105PENGGUNAAN MEDIA PERMAINAN KARTU SUSUN UNTUK PENINGKATAN KEMAMPUAN SISWA DALAM MENGANALISIS TEKS ARAB DALAM EVALUASI PEMBELAJARAN MUTHOLA’AH
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpi/article/view/21799
<p>Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam kemampuan siswa kelas XII B MA Persatuan Islam Kota Bandung dalam memahami teks Arab pada pembelajaran muthola’ah, baik sebelum maupun sesudah penerapan media permainan kartu susun, sekaligus mengidentifikasi tingkat peningkatan yang terjadi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan melibatkan 25 siswa sebagai subjek melalui teknik total sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan memanfaatkan instrumen tes untuk mengukur kemampuan kognitif, serta observasi dan dokumentasi untuk melengkapi data proses pembelajaran. Analisis data dilakukan secara sistematis menggunakan perhitungan rata-rata, persentase, serta perbandingan hasil pretest dan posttest. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan awal siswa berada pada kategori sangat rendah dengan nilai rata-rata 41,92, terutama pada aspek i’rab, kaidah kebahasaan, dan penguasaan kosakata. Setelah diterapkannya media permainan kartu susun, terjadi peningkatan nilai rata-rata menjadi 56,36. Hasil uji statistik menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,001, yang mengindikasikan adanya peningkatan yang signifikan secara empiris. Meskipun demikian, peningkatan tersebut belum mencapai tingkat optimal. Media kartu susun terbukti mampu meningkatkan keterlibatan dan motivasi belajar siswa melalui aktivitas yang interaktif. Oleh karena itu, diperlukan integrasi dengan strategi pembelajaran lain agar peningkatan kemampuan analisis teks Arab dapat dicapai secara lebih maksimal dan berkelanjutan.</p> <p><em>This study aims to comprehensively examine the ability of Grade XII B students at MA Persatuan Islam Bandung in understanding Arabic texts in muthola’ah learning, both before and after the implementation of a card-sorting game as an instructional medium, while also identifying the level of improvement achieved. The study employed a descriptive quantitative approach involving 25 students as participants through a total sampling technique. Data were collected using test instruments to measure cognitive ability, as well as observation and documentation to support data on the learning process. Data analysis was conducted systematically using mean scores, percentages, and comparisons of pretest and posttest results. The findings indicate that the students’ initial ability was categorized as very low, with an average score of 41.92, particularly in aspects of i‘rab, grammatical rules, and vocabulary mastery. After the implementation of the card-sorting game, the average score increased to 56.36. The statistical test results showed a significance value of 0.001, indicating a statistically significant improvement. However, the improvement has not yet reached an optimal level. The card-sorting game proved effective in enhancing student engagement and learning motivation through interactive activities. Therefore, it is necessary to integrate this medium with other instructional strategies to achieve more optimal and sustainable improvement in students’ Arabic text analysis skills.</em></p>Alvin Tubagus Cahya NugrahaIsop Syafei
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Pendidikan Inklusif
2026-05-302026-05-30105TANTANGAN PENGELOLAAN LEMBAGA PAUD DALAM MENINGKATKAN PARTISIPASI DAN KETERLIBATAN ORANG TUA
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpi/article/view/22924
<p>Partisipasi orang tua merupakan elemen penting dalam optimalisasi layanan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Namun, di berbagai daerah keterlibatan orang tua masih rendah, yang berdampak pada tidak optimalnya perkembangan anak serta terbatasnya mutu layanan lembaga. Artikel ini bertujuan menganalisis tantangan pengelolaan PAUD dalam meningkatkan keterlibatan orang tua, faktor penyebab rendahnya partisipasi, dampaknya, serta strategi yang dapat diterapkan lembaga. Metode yang digunakan adalah studi pustaka dengan menganalisis teori dan hasil penelitian terkait manajemen PAUD dan keterlibatan keluarga. Hasil kajian menunjukkan bahwa rendahnya partisipasi orang tua dipengaruhi oleh faktor ekonomi, pendidikan, budaya, keterbatasan waktu, serta minimnya strategi komunikasi lembaga. Dampak rendahnya keterlibatan mencakup tidak adanya kesinambungan pembelajaran rumah–sekolah, menurunnya dukungan emosional anak, dan rendahnya kualitas layanan PAUD. Artikel ini merekomendasikan strategi pengelolaan berupa program parenting, kolaborasi rumah–sekolah, pemberdayaan ekonomi keluarga, fleksibilitas komunikasi, serta kemitraan komunitas. Dengan demikian, pengelolaan PAUD harus berorientasi pada kolaborasi holistik antara lembaga, keluarga, dan masyarakat. Salah satu faktor kunci yang berkontribusi pada keberhasilan PAUD adalah keterlibatan orang tua. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan.untuk mengidentifikasi strategis- strategi Efektif yang dapat meningkatkan keterlibatan orang tua. dalam pendidikan anak usia dini. Melalui pendekatan kualitatif, penelitian ini mengeksplorasi berbagai teknik dan pendekatan yang telah terbukti meningkatkan partisipasi orang tua dalam aktivitas pendidikan anak-anak mereka, seperti komunikasiyang terbuka antara orang tua dan pendidik, pengorganisasian kegiatan keluarga yang mendukung pembelajaran, serta pemberian informasi yang mudah diakses tentang perkembangan anak. Selain itu, penelitian ini juga membahas tantangan yang sering dihadapi oleh orang tua dan lembaga pendidikan dalam membangun keterlibatan ini, sertapentingnya menciptakan lingkungan yang inklusif dan mendukung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan orang tua yang lebih tinggi berhubungan langsung dengan peningkatan perkembangan anak, baik dari segi kognitif maupun sosial. Oleh karena itu, strategi-strategi yang melibatkan kolaborasi antara orang tua, pendidik, dan masyarakat sekitar perlu diperkuat untuk menciptakan pengalaman pendidikan yang optimal bagi Anak usia dini.</p> <p><em>Early childhood education (ECE) plays a crucial role in a child's overall development, particularly in building a strong foundation for future academic and social success. One key factor contributing to the success of ECE is parental involvement. This study aims to identify effective strategies to enhance parental engagement in early childhood education. Using a qualitative approach, this research explores various techniques and approaches that have been proven to increase parental participation in their children's educational activities, such as open communication between parents and educators, organizing family activities that support learning, and providing easily accessible information about the child's development. Additionally, this study discusses the challenges often faced by parents and educational institutions in fostering this involvement, as well as the importance of creating an inclusive and supportive environment. The findings suggest that higher parental involvement is directly linked to improved child development, both cognitively and socially. Therefore, strategies that involve collaboration between parents, educators, and the surrounding community should be strengthened to create an optimal educational experience for young children.</em></p>Elisabet Karlin
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Pendidikan Inklusif
2026-06-122026-06-12105ANALISIS TEORI PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN DALAM PEMBELAJARAN BELAJAR GERAK
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpi/article/view/22265
<p>Pertumbuhan dan perkembangan merupakan dua aspek penting yang sangat memengaruhi proses pembelajaran belajar gerak dalam pendidikan jasmani dan olahraga. Pertumbuhan berkaitan dengan perubahan fisik yang bersifat kuantitatif, sedangkan perkembangan berhubungan dengan perubahan kemampuan individu secara kualitatif, termasuk perkembangan motorik, koordinasi, serta keterampilan gerak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis teori pertumbuhan dan perkembangan dalam pembelajaran belajar gerak melalui pendekatan studi pustaka. Metode penelitian yang digunakan adalah library research dengan mengumpulkan berbagai sumber berupa jurnal ilmiah, buku, artikel, dan penelitian terdahulu yang relevan dengan topik penelitian. Hasil kajian menunjukkan bahwa proses belajar gerak dipengaruhi oleh faktor pertumbuhan biologis, kematangan sistem saraf, lingkungan, aktivitas fisik, motivasi, serta pengalaman belajar. Selain itu, perkembangan motorik memiliki hubungan yang erat dengan keberhasilan peserta didik dalam menguasai keterampilan gerak dasar maupun keterampilan olahraga yang lebih kompleks. Teori pertumbuhan dan perkembangan memberikan kontribusi penting dalam penyusunan model pembelajaran pendidikan jasmani yang sesuai dengan karakteristik usia dan kemampuan peserta didik. Dengan memahami konsep pertumbuhan dan perkembangan, guru pendidikan jasmani dapat merancang pembelajaran yang efektif, aman, dan sesuai dengan tahapan perkembangan peserta didik sehingga tujuan pembelajaran gerak dapat tercapai secara optimal.</p> <p><em>Growth and development are two important aspects that greatly influence the learning process of motor learning in physical education and sports. Growth is related to quantitative physical changes, while development is associated with qualitative changes in individual abilities, including motor development, coordination, and movement skills. This study aims to analyze theories of growth and development in motor learning through a library research approach. The research method used is library research by collecting various sources such as scientific journals, books, articles, and previous studies relevant to the research topic. The results of the study indicate that the motor learning process is influenced by biological growth, nervous system maturity, environment, physical activity, motivation, and learning experiences. In addition, motor development has a close relationship with students' success in mastering basic movement skills and more complex sports skills. Theories of growth and development provide important contributions in designing physical education learning models that are appropriate to the age characteristics and abilities of students. By understanding the concepts of growth and development, physical education teachers can design learning that is effective, safe, and in accordance with the developmental stages of students so that motor learning objectives can be achieved optimally.</em></p>Gideon GohaeDita Uli Lumban GaolCyndi aulia hutabaratAlfrian Sisko HutaurukFiktor Putra Mei Nitema HalawaAmir Supriadi
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Pendidikan Inklusif
2026-05-302026-05-30105PERAN PEMBELAJARAN PPKN DALAM MEMBENTUK SIKAP DEMOKRATIS SISWA
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpi/article/view/21750
<p>Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) dalam membentuk sikap demokratis siswa, mengidentifikasi strategi pembelajaran yang efektif, serta mengetahui hambatan yang dihadapi dalam proses pelaksanaannya. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada kenyataan bahwa melemahnya nilai-nilai demokrasi di kalangan generasi muda, seperti rendahnya toleransi, kurangnya partisipasi, dan memudarnya semangat musyawarah, menjadi persoalan yang perlu segera ditangani melalui jalur pendidikan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui studi literatur terhadap berbagai jurnal ilmiah, buku, dan dokumen kebijakan pendidikan yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran PPKn memiliki peran yang sangat signifikan dalam membentuk sikap demokratis siswa, terutama ketika proses pembelajaran dilaksanakan secara aktif, partisipatif, dan kontekstual. Strategi pembelajaran seperti diskusi kelompok, simulasi musyawarah, debat, dan proyek sosial terbukti lebih efektif dalam menanamkan nilai-nilai demokratis dibandingkan metode ceramah yang bersifat satu arah. Selain itu, guru PPKn yang berperan sebagai fasilitator sekaligus teladan moral di kelas memberikan pengaruh yang besar terhadap proses internalisasi nilai demokrasi pada diri siswa. Di sisi lain, terdapat sejumlah hambatan yang perlu diatasi, antara lain perbedaan karakteristik siswa, kurangnya dukungan lingkungan keluarga, pengaruh negatif budaya digital, serta keterbatasan kompetensi guru dalam menerapkan metode pembelajaran yang bervariasi. Kesimpulan dari penelitian ini menegaskan bahwa PPKn menempati posisi strategis dalam sistem pendidikan nasional sebagai wahana utama pembentukan karakter demokratis generasi muda Indonesia.</p> <p><em>This study aims to examine the role of Pancasila and Civic Education (PPKn) learning in shaping students' democratic attitudes, to identify effective learning strategies, and to determine the obstacles encountered during its implementation. The background of this study is based on the reality that the weakening of democratic values among the younger generation, such as low tolerance, lack of participation, and the fading spirit of deliberation, has become an issue that needs to be addressed urgently through education. This study employed a descriptive qualitative approach with data collection techniques through literature review of various scientific journals, books, and relevant educational policy documents. The results show that PPKn learning has a very significant role in shaping students' democratic attitudes, especially when the learning process is carried out in an active, participatory, and contextual manner. Learning strategies such as group discussions, deliberation simulations, debates, and social projects have proven to be more effective in instilling democratic values compared to one-way lecture methods. Furthermore, PPKn teachers who act as facilitators and moral role models in the classroom have a major influence on the process of internalizing democratic values in students. On the other hand, there are several obstacles that need to be overcome, including differences in student characteristics, lack of family support, negative influences of digital culture, and limitations in teacher competence in applying varied learning methods. This study concludes that PPKn holds a strategic position in the national education system as the primary vehicle for shaping the democratic character of Indonesia's younger generation.</em></p>Dina NovitaSyamzaimar
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Pendidikan Inklusif
2026-05-302026-05-30105UPAYA PENINGKATAN KOMPETENSI GURU DAN PROFESIONALITAS GURU MELALUI PENGEMBANGAN DIRI
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpi/article/view/22761
<table> <tbody> <tr> <td> <p>Pengembangan diri dan profesional dianggap vital di kalangan guru untuk mendukung peran mereka sebagai agen perubahan dalam lingkungan pendidikan.</p> </td> </tr> </tbody> </table> <p>Namun, sedikit perhatian ditujukan pada masalah bagaimana guru membangun, memperkuat dan memelihara pengembangan diri dan profesional mereka, terutama di tingkat sekolah menengah di Indonesia. Oleh karena itu, program ini bertujuan untuk memfasilitasi guru dalam membangun, mengembangkan dan merefleksikan pengembangan diri dan profesional mereka melalui menulis.Dalama pengembangan ini membantu guru mengembangkan pengembangan diri dan profesional mereka melalui kegiatan menulis (Kemmis, et. al. 2014). Kegiatan program ini meliputi empat tahapan besar, yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Hasil pelatihan ini menunjukkan bahwa guru mampu mendorong pengembangan diri dan profesional mereka melalui menulis cerita. Selain itu, mereka menganggap bahwa menulis merupakan strategi yang efektif untuk merefleksikan pengalaman dan persepsi mereka. Juga, menulis membantu mereka mengomunikasikan apa yang tidak terucapkan. Selanjutnya, menulis memotivasi mereka untuk lebih produktif dalam kehidupan pribadi, akademik dan profesional mereka. Berdasarkan fakta ini, memberdayakan guru untuk memiliki pengetahuan dan praktik yang memadai dalam menulis cerita memungkinkan mereka untuk melakukan pengembangan diri dan profesional secara berkelanjutan, memperkuat kegiatan refleksi secara personal dan menjadi pendidik yang produktif.</p>Filladela Lay Kanny
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Pendidikan Inklusif
2026-06-122026-06-12105NILAI-NILAI KARAKTER PEDULI SESAMA DALAM PEMBIASAAN SHALAT DHUHA BERJAMAAH SISWA MADRASAH IBTIDAIYAH
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpi/article/view/22225
<p>Pendidikan karakter menjadi salah satu fokus penting dalam dunia pendidikan karena bertujuan membentuk perilaku dan sikap sosial peserta didik sejak usia dini. Salah satu karakter yang perlu ditanamkan adalah karakter peduli sesama melalui kegiatan pembiasaan religius di sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis nilai-nilai karakter peduli sesama dalam pembiasaan shalat dhuha berjamaah siswa Madrasah Ibtidaiyah. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi literatur melalui pengkajian berbagai jurnal ilmiah, buku, dan sumber akademik yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembiasaan shalat dhuha berjamaah mampu membentuk karakter peduli sesama, seperti empati, kerja sama, disiplin, tanggung jawab, dan sikap saling menghormati antar peserta didik. Selain itu, kegiatan tersebut juga membantu menciptakan lingkungan sekolah yang religius dan harmonis. Faktor pendukung keberhasilan kegiatan ini meliputi peran guru, lingkungan sekolah, serta dukungan orang tua. Penelitian ini memberikan manfaat dalam pengembangan pendidikan karakter berbasis nilai keagamaan serta dapat menjadi referensi bagi sekolah dalam menerapkan kegiatan pembiasaan religius untuk membentuk karakter sosial peserta didik sejak usia dini</p> <p><em>Character education has become an important focus in the educational field because it aims to shape students’ behavior and social attitudes from an early age. One of the important characters that should be developed is caring for others through religious habituation activities at school. This study aims to analyze the values of caring character in the habituation of congregational dhuha prayer among Madrasah Ibtidaiyah students. This research employed a descriptive qualitative approach using a literature study method by reviewing various scientific journals, books, and relevant academic sources. The results showed that the habituation of congregational dhuha prayer was able to build caring characters such as empathy, cooperation, discipline, responsibility, and mutual respect among students. In addition, the activity also helped create a religious and harmonious school environment. Supporting factors for the success of this activity include the role of teachers, the school environment, and parental support. This research contributes to the development of character education based on religious values and can serve as a reference for schools in implementing religious habituation activities to strengthen students’ social character from an early age.</em></p>Zahra Asy'ariSyamzaimar
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Pendidikan Inklusif
2026-06-012026-06-01105KONSEP HAK DAN KEWAJIBAN BERWARGANEGARAAN DALAM PERSPEKTIF ISLAM SERTA RELEVANSINYA DENGAN HUKUM POSITIF INDONESIA
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpi/article/view/21703
<p>Penelitian ini membahas konsep hak dan kewajiban berwarganegaraan dalam perspektif Islam serta relevansinya dengan hukum positif Indonesia. Hak dan kewajiban merupakan dua unsur mendasar dalam kehidupan bernegara yang harus berjalan seimbang demi terciptanya masyarakat yang adil, tertib, dan sejahtera. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan library research melalui kajian terhadap Al-Qur’an, Hadis, peraturan perundang-undangan, buku, dan jurnal ilmiah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Islam mengakui hak-hak dasar warga negara, seperti hak hidup, hak memperoleh keadilan, hak beragama, hak pendidikan, hak kepemilikan harta, serta hak menyampaikan pendapat dalam batas kemaslahatan umum. Di sisi lain, Islam juga menegaskan kewajiban warga negara, seperti menaati pemimpin yang adil, menjaga keamanan dan persatuan, membayar zakat atau pajak yang sah, serta berpartisipasi dalam pembangunan masyarakat. Konsep tersebut memiliki kesesuaian yang kuat dengan hukum positif Indonesia, terutama sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 mengenai hak asasi manusia, persamaan di hadapan hukum, kebebasan beragama, hak pendidikan, dan kewajiban bela negara. Penelitian ini menyimpulkan bahwa nilai-nilai Islam dan hukum nasional saling mendukung dalam membentuk warga negara yang sadar hak, bertanggung jawab terhadap kewajiban, serta menjunjung keadilan sosial. Sinergi keduanya penting untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang religius, demokratis, dan harmonis.</p>Rizky Rival RamadhanAnwar Sidik
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Pendidikan Inklusif
2026-05-302026-05-30105PERAN GURU TERHADAP PERKEMBANGAN KARAKTER ANAK USIA DINI DI PAUD TKN LELAK
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpi/article/view/22646
<p>Indonesia saat ini tengah menghadapi krisis moral yang mengkhawatirkan sehingga pendidikan karakter sejak usia dini menjadi kebutuhan mendesak. Guru memiliki peran strategis dalam proses ini, tidak hanya sebagai pengajar tetapi juga teladan, pembimbing, motivator, evaluator, dan mitra orang tua. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan peran guru dalam pembentukan karakter anak usia dini di PAUD TKN LELAK Nuralima, Kecamatan ketang, Kabupaten manggarai tengah. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, melibatkan kepala sekolah dan guru sebagai subjek penelitian. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan, dengan uji keabsahan data menggunakan triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru konsisten menjalankan perannya dalam pembentukan karakter. Sebagai teladan, guru membiasakan anak melaksanakan praktik religius, berbahasa santun, dan berpakaian syar’i. Sebagai pembimbing, guru melatih kemandirian anak melalui rutinitas harian seperti melepas sepatu, menata tas, dan berdoa sebelum belajar. Peran motivator terlihat dari pemberian pujian dan penghargaan sederhana, sedangkan evaluasi dilakukan melalui observasi dan catatan perkembangan. Kolaborasi dengan orang tua juga memperkuat keberhasilan pembentukan karakter. Simpulan penelitian ini menegaskan bahwa peran guru sangat signifikan dan sesuai dengan kompetensi dalam Permendiknas No. 16 Tahun 2007 serta tujuan pendidikan nasional dalam UU No. 20 Tahun 2003. Implikasinya, penguatan peran guru dan kerja sama sekolah–orang tua menjadi kunci keberhasilan pendidikan karakter anak usia dini.</p>Angelina Jeta
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Pendidikan Inklusif
2026-06-102026-06-10105