Jurnal Pendidikan Inklusif https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpi id-ID Jurnal Pendidikan Inklusif PENERAPAN TEORI BELAJAR BEHAVIORISTIK DALAM PROSES PEMBELAJARAN https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpi/article/view/22619 <p>Teori belajar behavioristik merupakan teori belajar yang lebih mengutamakan pada perubahan tingkahlaku siswa sebagai akibat adanya stimulus dan respon. Dengan kata lain, belajar merupakan bentuk perubahan yang dialami siswa dalam hal kemampuannya yang bertujuan merubah tingkah laku dengan cara interaksi antara stimulus dan respon. Menurut Watson tingkah laku siswa merupakan hasil daripembawaan genetis dan pengaruh lingkungan, sedangkan menurut Pavlov merujuk pada sejumlah prosedur pelatihan antara satu stimulus dan rangsangan muncul untuk menggantikan stimulus lain dalam mengembangkan respon, terakhir menurut Skinner hubungan antara stimulus dan respons terjadi karena melalui interaksi dengan lingkungan yang kemudian menimbulkan perubahan tingkah laku. Dengan demikian, teori belajar behavioristik lebih memfokuskan untuk mengembangkan tingkah laku siswa ke arah yang lebih baik.</p> <p><em>Behaviorist learning theory is a learning theory that emphasizes changes in student behavior as a result of stimulus and response. In other words, learning is a form of change experienced by students in their abilities with the aim of modifying behavior through the interaction between stimulus and response. According to Watson, student behavior is the result of genetic inheritance and environmental influences, while Pavlov refers to a number of training procedures in which one stimulus is paired with another stimulus to develop a response. Finally, according to Skinner, the relationship between stimulus and response occurs through interaction with the environment, which then leads to changes in behavior. Thus, behaviorist learning theory focuses on developing students’ behavior in a better direction.</em></p> Marlinda Hingtut Martha Baba Maria Sesfao Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Pendidikan Inklusif 2026-06-29 2026-06-29 10 6 STRATEGI PEMBELAJARAN IPA BERBASIS STEM DIGITAL DALAM MENGEMBANGKAN KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS SISWA SMP: LITERATURE REVIEW https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpi/article/view/22366 <p>Keterampilan berpikir kritis merupakan kompetensi fundamental abad ke-21 yang semakin mendesak untuk dikembangkan, terutama pada jenjang sekolah menengah pertama (SMP). Namun, praktik pembelajaran IPA yang berlangsung selama ini di banyak sekolah masih cenderung bersifat hafalan dan kurang memberi ruang bagi siswa untuk berpikir secara analitis dan reflektif. Pendekatan Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) yang diintegrasikan dengan media dan platform digital dipandang sebagai salah satu respons pedagogis yang relevan untuk menjawab tantangan tersebut. Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana strategi pembelajaran IPA berbasis STEM digital berkontribusi terhadap pengembangan keterampilan berpikir kritis siswa SMP, sekaligus mengidentifikasi faktor-faktor yang memoderasi efektivitasnya. Metode yang digunakan adalah systematic literature review (SLR) terhadap 17 artikel jurnal nasional dan internasional yang terbit pada periode 2021–2026, mengacu pada protokol PRISMA 2020. Hasil kajian menunjukkan bahwa integrasi STEM digital mampu meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa SMP melalui tiga mekanisme utama: stimulasi kognitif berbasis masalah autentik, scaffolding digital yang memfasilitasi pemahaman konsep abstrak IPA, serta kolaborasi interdisipliner yang terstruktur secara teknologis. Efektivitas strategi ini tidak bersifat mutlak, melainkan dimoderasi oleh kompetensi pedagogik guru, ketersediaan infrastruktur digital sekolah, dan derajat integrasi kurikulum.</p> <p><em>Critical thinking skills are fundamental 21st-century competencies that are urgently needed among junior high school students; however, conventional science learning in many schools remains dominated by rote memorization, offering little room for analytical and reflective thinking. The STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) approach, when integrated with digital media and platforms, is considered a relevant pedagogical response to this challenge. This study aims to analyze how digital STEM-based science learning strategies contribute to developing junior high school students' critical thinking skills, while also identifying moderating factors of their effectiveness. A systematic literature review (SLR) method was applied to 17 nationally accredited and internationally reputable journal articles published between 2021 and 2026, following the PRISMA 2020 protocol. The findings reveal that digital STEM integration enhances students' critical thinking through three main mechanisms: authentic problem-based cognitive stimulation, digital scaffolding that facilitates understanding of abstract science concepts, and technologically structured interdisciplinary collaboration. The effectiveness of this approach is significantly moderated by teachers' pedagogical competence, school digital infrastructure, and the degree of curricular integration.</em></p> Julia Safitri Asiyatun Noviana Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Pendidikan Inklusif 2026-06-29 2026-06-29 10 6 PENGUATAN NILAI-NILAI KARAKTER DAN ADAB PADA ANAK PANTI ASUHAN DAARUL AITAM PALEMBANG https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpi/article/view/23336 <p>Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis penguatan nilai-nilai karakter dan adab pada anak-anak panti asuhan di Yayasan Panti Asuhan Daarul Aitam Palembang. Metode pengabdian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif yang terintegrasi melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Rekognisi. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan pengasuh, dan studi dokumentasi kegiatan harian anak asuh. Berbagai program kerja diimplementasikan, meliputi pembersihan panti, mengaji terjadwal setelah ashar dan dzuhur, bimbingan muhadoroh (pidato), serta sosialisasi anti-bullying dan cyberbullying untuk membentengi moral anak di era digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola pengasuhan yang terstruktur dan pembiasaan ibadah harian secara konsisten memberikan dampak positif yang signifikan bagi peningkatan kemandirian, kedisiplinan, serta kesantunan budi pekerti anak asuh. Anak-anak yang sebelumnya awam terhadap teknik berpidato dan menghafal dalil kini telah menunjukkan peningkatan rasa percaya diri dan kemampuan berkomunikasi yang baik. Tantangan utama yang menghadapi panti asuhan meliputi keterbatasan sarana prasarana serta perbedaan latar belakang psikologis anak, namun hal ini dapat diatasi melalui kolaborasi intensif antara mahasiswa pengabdi dan pengurus yayasan.</p> <p>&nbsp;</p> <p><em>This study aims to describe and analyze the strengthening of character values and manners (adab) among children at the Daarul Aitam Orphanage in Palembang. This community service method employs a descriptive qualitative approach integrated through the Recognition Student Community Service (KKN) program. Data collection was carried out through participatory observation, in-depth interviews with caregivers, and documentation studies of the foster children's daily activities. Various work programs were implemented, including orphanage cleaning, scheduled Quranic recitation after Asr and Dhuhr, muhadoroh (speech) training, and socialization on anti-bullying and cyberbullying to shield children's morals in the digital era. The results indicate that structured parenting patterns and consistent daily worship habits significantly exert positive impacts on enhancing foster children's independence, discipline, and moral conduct. Children who were previously unfamiliar with public speaking techniques and memorizing Quranic proofs have now shown increased self-confidence and good communication skills. Through this integrative strategy, the orphanage has successfully performed its function as an agent of moral formation for Islamic youth ready to face modern challenges. The main challenges encountered include infrastructure limitations and diverse psychological backgrounds of the children, which were overcome through intensive collaboration between student volunteers and orphanage administrators</em></p> Muhammad Tegar Wibowo Viandarto Amirah Andika Rifdayanti Gracia Rahma Adryan Muhammad Pandji Aulia Syuhada Imam Dariyansyah Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Pendidikan Inklusif 2026-06-29 2026-06-29 10 6 TINJAUAN LITERATUR TENTANG TAHAPAN BELAJAR GERAK DALAM PROSES LATIHAN OLAHRAGA https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpi/article/view/22526 <p>Belajar gerak merupakan proses penting dalam pengembangan keterampilan olahraga yang menjadi dasar keberhasilan seorang atlet dalam menguasai teknik dan meningkatkan performa. Pemahaman mengenai tahapan belajar gerak diperlukan oleh pelatih untuk menyusun program latihan yang efektif dan sesuai dengan karakteristik atlet. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tahapan belajar gerak dalam proses penguasaan keterampilan olahraga melalui pendekatan studi literatur. Metode yang digunakan adalah library research dengan mengumpulkan dan menganalisis berbagai sumber ilmiah berupa buku, artikel jurnal, dan hasil penelitian yang relevan dengan konsep belajar gerak. Analisis data dilakukan melalui teknik analisis isi (content analysis) untuk mengidentifikasi konsep, teori, dan temuan yang berkaitan dengan tahapan belajar gerak. Hasil kajian menunjukkan bahwa proses belajar gerak terdiri atas tiga tahapan utama, yaitu tahap kognitif, tahap asosiatif, dan tahap otonom. Setiap tahapan memiliki karakteristik yang berbeda serta memerlukan strategi latihan yang sesuai untuk mendukung peningkatan keterampilan atlet. Selain itu, faktor motivasi, frekuensi latihan, dan umpan balik (feedback) turut berperan dalam keberhasilan proses belajar gerak. Dengan demikian, pemahaman terhadap tahapan belajar gerak dapat menjadi landasan bagi pelatih dalam merancang program latihan yang lebih efektif guna meningkatkan kualitas performa atlet.</p> <p><em>Motor learning is an essential process in the development of sports skills and serves as the foundation for athletes to master techniques and improve performance. Understanding the stages of motor learning is necessary for coaches to design effective training programs that align with athletes' characteristics. This study aims to examine the stages of motor learning in the process of acquiring sports skills through a literature review approach. The method employed is library research, involving the collection and analysis of various scientific sources, including books, journal articles, and previous studies related to motor learning concepts. Data were analyzed using content analysis techniques to identify theories, concepts, and findings associated with motor learning stages. The results indicate that motor learning consists of three main stages: the cognitive stage, associative stage, and autonomous stage. Each stage possesses distinct characteristics and requires specific training strategies to support athletes' skill development. Furthermore, factors such as motivation, training frequency, and feedback play significant roles in the success of the motor learning process. Therefore, understanding the stages of motor learning can provide a valuable foundation for coaches in designing more effective training programs to enhance athletes' performance.</em></p> Junius Malem Ateta Ginting Gio Steven Sigalingging Christian Sitopu Danuarta M Siringoringo Rivaldo H.S Simanullang Steven Julio Marselino Sihite Edo Sudoyono Manungkalit Amir Supriadi Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Pendidikan Inklusif 2026-06-29 2026-06-29 10 6 THE REPRESENTATION OF CULTURAL CONTENT IN THE ENGLISH TEXTBOOK FOR EIGHT GRADE JUNIOR HIGH SCHOOL STUDENTS https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpi/article/view/23151 <p>Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan mengeksplorasi kategori konten budaya dan bagaimana kategori-kategori tersebut direpresentasikan dalam buku teks Bahasa Inggris kelas 8 berjudul "English for Nusantara," yang merupakan bagian dari Kurikulum Merdeka. Penelitian ini mengidentifikasi kategori budaya dan tahapan yang terlibat dalam representasi konten budaya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif untuk menganalisis kategori budaya melalui kerangka kerja yang diusulkan oleh Cortazzi dan Jin (1999). Selain itu, penelitian ini memiliki empat tahapan pembelajaran konten budaya yang dijelaskan oleh Moran (2001). Hasil penelitian ini mencakup 117 poin data tentang kategori budaya, di mana 65% berasal dari budaya sumber, 22% dari budaya internasional, dan 13% dari budaya sasaran. Selain itu, temuan penelitian ini menunjukkan bahwa lima bab dalam buku teks ini secara sistematis mengintegrasikan empat tahapan pembelajaran budaya sebagaimana diuraikan oleh Moran. Temuan tersebut adalah sebagai berikut: Siswa secara aktif terlibat dalam tahap partisipasi melalui gambar atau teks pengantar, mengembangkan pemahaman dalam tahap deskripsi, menafsirkan makna budaya secara mendalam, dan merefleksikan pengalaman pribadi dalam tahap respons. Secara keseluruhan, studi ini menyimpulkan bahwa buku teks bahasa Inggris ini tidak hanya mendukung pembelajaran bahasa tetapi juga meningkatkan kompetensi budaya, kesadaran sosial, dan pengembangan karakter siswa. Terakhir, buku teks bahasa Inggris ini akan lebih baik jika berfokus pada representasi budaya sumber, budaya sasaran, dan budaya internasional untuk mencapai pembelajaran antarbudaya yang lebih komprehensif.</p> <p><em>The objective of this study is to identify and explore categories of cultural content and how these categories are represented in the 8th-grade English textbook titled "English for Nusantara," which is part of the Merdeka Curriculum. This study identified the cultural categories and stages involved in the representation of cultural content. The study used a descriptive qualitative approach to analyze the cultural categories through the framework proposed by Cortazzi and Jin (1999). In addition, the study has four stages of cultural content learning described by Moran (2001). The results of this study include 117 data points on cultural categories, of which 65% originate from the source culture, 22% from international culture, and 13% from the target culture. In addition, the findings of this study indicate that the five chapters in this textbook systematically integrate the four stages of cultural learning as outlined by Moran. These findings are as follows: Students are actively engaged in the participation stage through images or introductory texts, develop understanding in the description stage, interpret cultural meanings in depth, and reflect on personal experiences in the response stage. Overall, this study concludes that this English textbook not only supports language learning but also enhances students’ cultural competence, social awareness, and character development. Finally, this English textbook would be better served by focusing on the representation of the source culture, the target culture, and international cultures to achieve more comprehensive intercultural learning.</em></p> Yosafat Yeduhardy Gultom Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Pendidikan Inklusif 2026-06-29 2026-06-29 10 6 ANALISIS HAMBATAN INTERAKSI SOSIAL PADA ANAK YANG KURANG MENDAPAT PERHATIAN KELUARGA DI RUMAH BACA RAMBUTAN https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpi/article/view/22469 <p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hambatan interaksi sosial pada anak yang kurang mendapat perhatian keluarga di Rumah Baca Rambutan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak yang kurang mendapatkan perhatian keluarga mengalami berbagai hambatan interaksi sosial, seperti kurang percaya diri, sulit bekerja sama dengan teman, kurang aktif dalam kegiatan kelompok, mudah tersinggung, serta mencari perhatian secara berlebihan. Faktor utama yang memengaruhi kondisi tersebut adalah kurangnya komunikasi, pendampingan, dan dukungan emosional dari keluarga. Selain itu, lingkungan sosial yang positif seperti Rumah Baca Rambutan berperan dalam membantu anak mengembangkan kemampuan berkomunikasi, bekerja sama, dan berinteraksi dengan teman sebaya melalui berbagai kegiatan kelompok. Oleh karena itu, perhatian keluarga dan dukungan lingkungan sosial sangat diperlukan untuk mendukung perkembangan interaksi sosial anak secara optimal.</p> <p><em>This study aims to analyze social interaction barriers among children who receive limited family attention at Rumah Baca Rambutan. The study employed a qualitative approach using a descriptive method. Data were collected through observation, interviews, and documentation. The findings revealed that children who received less attention from their families experienced various social interaction barriers, including low self-confidence, difficulties in cooperating with peers, limited participation in group activities, emotional sensitivity, and excessive attention-seeking behavior. The main factors contributing to these conditions were the lack of communication, guidance, and emotional support from family members. Furthermore, a positive social environment such as Rumah Baca Rambutan plays an important role in helping children develop communication skills, teamwork, and social relationships through various group activities. Therefore, family attention and supportive social environments are essential for promoting children's social interaction development.</em></p> Sani Susanti Michael Yudha Pratama Lidya Maulidzha Nabila Simamora Salsa Billah Sumah Yossy Meliyani Br Ginting Angel Marantika Siregar Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Pendidikan Inklusif 2026-06-29 2026-06-29 10 6 SISTEM, PROBLEMATIKA, DAN KEBIJAKAN PENDIDIKAN DI ARAB SAUDI https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpi/article/view/23646 <p>Artikel ini bertujuan mengkaji secara komprehensif sistem pendidikan Arab Saudi mencakup latar belakang historis, konsep dan filosofi pendidikan, problematika yang dihadapi, serta respons kebijakan pemerintah dalam rangka transformasi sistem pendidikan nasional. Dengan menggunakan pendekatan studi literatur sistematis dan analisis kebijakan, penelitian ini mengidentifikasi empat dimensi utama kajian: (1) konteks historis dan geopolitik yang membentuk sistem pendidikan Arab Saudi; (2) konsep pendidikan berbasis nilai Islam yang menjadi fondasi sistem; (3) problematika multidimensional yang mencakup relevansi kurikulum, ketimpangan gender, kualitas tenaga pendidik, dan kesenjangan pendidikan-pasar kerja; serta (4) kebijakan reformasi khususnya dalam kerangka Saudi Vision 2030. Temuan menunjukkan bahwa Arab Saudi telah melakukan reformasi pendidikan yang signifikan, namun menghadapi tantangan struktural berupa ketegangan antara nilai keagamaan tradisional dengan tuntutan modernisasi ekonomi. Artikel ini merekomendasikan pendekatan reformasi inklusif yang mengintegrasikan nilai budaya lokal dengan kompetensi global.</p> <p><em>This article comprehensively examines Saudi Arabia's education system, covering its historical background, educational concepts and philosophy, systemic problems, and government policy responses in the context of national education transformation. Using systematic literature review and policy analysis, this study identifies four main dimensions: (1) historical and geopolitical context shaping the Saudi education system; (2) Islamic-based educational concepts as the system's foundation; (3) multidimensional problems including curriculum relevance, gender inequality, teacher quality, and the education-labor market gap; and (4) reform policies particularly within the Saudi Vision 2030 framework. Findings indicate that Saudi Arabia has undertaken significant educational reforms but faces structural challenges stemming from tensions between traditional religious values and economic modernization demands. This article recommends an inclusive reform approach that integrates local cultural values with global competencies.</em></p> Rita Fammula Neneng Hasanah Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Pendidikan Inklusif 2026-06-29 2026-06-29 10 6 ANALISIS MISKONSEPSI SEMANTIK: PADA ISTILAH KIMIA TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP KIMIA https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpi/article/view/22774 <table width="97%"> <tbody> <tr> <td width="60%"> <p>Karakteristik ilmu kimia yang abstrak, bertingkat, dan melibatkan multipel representasi (makroskopis, mikroskopis, dan simbolik) sering kali memicu hambatan belajar berupa miskonsepsi semantik. Miskonsepsi semantik terjadi di mana istilah ilmiah yang bersifat spesifik disalahartikan berdasarkan makna bahasa sehari-hari (kasual/leksikal). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis miskonsepsi semantik pada berbagai istilah kimia esensial serta mengevaluasi dampaknya terhadap pemahaman konsep siswa secara fundamental dalam pembelajaran kimia. Pendekatan deskriptif kualitatif dengan metode studi literatur (library research) diterapkan dalam penelitian ini. Sumber data sekunder diperoleh dari artikel jurnal ilmiah bereputasi, buku teks pedagogi kimia, dan laporan penelitian terdahulu yang disaring dari basis data Google Scholar dan Garuda dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir. Hasil penelitian menunjukkan adanya miskonsepsi semantik yang signifikan pada 15 istilah kimia esensial, dengan lokus utama pada istilah 'netral', 'spontan', 'gas ideal', 'larutan jenuh', dan 'senyawa organik'. Peserta didik cenderung membawa asumsi non-ilmiah (intuisi sosial-biologis) ke dalam konteks kimia, yang pada gilirannya menciptakan tumpang tindih regulasi kognitif dan merapuhkan struktur pengetahuan baru. Kesimpulannya, interferensi makna bahasa sehari-hari terbukti menghambat proses asimilasi dan akomodasi konsep kimia yang utuh. Oleh karena itu, penerapan strategi dekonstruksi istilah dan klarifikasi definisi operasional terminologi di awal pembelajaran sangat disarankan sebagai langkah preventif untuk mereduksi bias kebahasaan siswa.</p> <p><em>&nbsp;</em></p> <p>&nbsp;</p> <p><em>The abstract, multi-layered nature of chemistry, which involves multiple representations (macroscopic, microscopic, and symbolic), often triggers learning obstacles in the form of semantic misconceptions. Semantic misconceptions occur when specific scientific terms are misinterpreted based on the meaning of everyday (casual/lexical) language. This study aimed to analyze semantic misconceptions in various essential chemical terminologies and evaluate their impact on students' fundamental understanding of concepts in chemistry learning. A descriptive qualitative approach utilizing the library research method was applied in this study. Secondary data sources were obtained from reputable scientific journal articles, chemistry pedagogy textbooks, and prior research reports filtered from the Google Scholar and Garuda databases published within the last ten years. The results showed significant semantic misconceptions in 15 essential chemical terms, with primary loci on the terms 'neutral', 'spontaneous', 'ideal gas', 'saturated solution', and 'organic compound'. Students tend to bring non-scientific assumptions (social-biological intuition) into the chemical context, which in turn creates overlapping cognitive regulations and weakens the structure of new knowledge. In conclusion, the interference of everyday language meanings is proven to hinder the process of complete chemical concept assimilation and accommodation. Therefore, the implementation of explicit term deconstruction strategies and clarification of operational definitions of terminology at the beginning of learning is highly recommended as a preventive measure to reduce students' language bias.</em></p> </td> </tr> </tbody> </table> Jonathan P Nainggolan Muhammad Danil Pa Gresia Gembira Hutagaol Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Pendidikan Inklusif 2026-06-29 2026-06-29 10 6 PENGEMBANGAN PERMAINAN TRADISIONAL “LAMPU MERAH-HIJAU” UNTUK MELATIH KETERAMPILAN BERBICARA DAN FOKUS ANAK https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpi/article/view/22402 <p>Permainan<sup> i</sup>tradisional<sup> i</sup>merupakan<sup> i</sup>salah<sup> i</sup>satu<sup> i</sup>media<sup> i</sup>pembelajaran<sup> i</sup>yang<sup> i</sup>dapat<sup> i</sup>digunakan<sup> i</sup>untuk<sup> i</sup>mendukung<sup> i</sup>perkembangan<sup> i</sup>anak<sup> i</sup>usia<sup> i</sup>dini,<sup> i</sup>termasuk<sup> i</sup>keterampilan<sup> i</sup>berbicara.<sup> i</sup>Namun,<sup> i</sup>masih<sup> i</sup>diperlukan<sup> i</sup>kajian<sup> i</sup>mengenai<sup> i</sup>manfaat<sup> i</sup>permainan<sup> i</sup>lampu<sup> i</sup>merah-hijau<sup> i</sup>dalam<sup> i</sup>mengembangkan<sup> i</sup>kemampuan<sup> i</sup>berbicara<sup> i</sup>anak.<sup> i</sup>Penelitian<sup> i</sup>ini<sup> i</sup>bertujuan<sup> i</sup>untuk<sup> i</sup>mendeskripsikan<sup> i</sup>manfaat<sup> i</sup>permainan<sup> i</sup>lampu<sup> i</sup>merah-hijau<sup> i</sup>terhadap<sup> i</sup>keterampilan<sup> i</sup>berbicara<sup> i</sup>anak<sup> i</sup>usia<sup> i</sup>dini.<sup> i</sup>Penelitian<sup> i</sup>ini<sup> i</sup>menggunakan<sup> i</sup>metode<sup> i</sup>studi<sup> i</sup>literatur<sup> i</sup>dengan<sup> i</sup>pendekatan<sup> i</sup>kualitatif<sup> i</sup>deskriptif.<sup> i</sup>Subjek<sup> i</sup>penelitian<sup> i</sup>berupa<sup> i</sup>berbagai<sup> i</sup>jurnal,<sup> i</sup>artikel<sup> i</sup>ilmiah,<sup> i</sup>dan<sup> i</sup>sumber<sup> i</sup>pustaka<sup> i</sup>yang<sup> i</sup>relevan,<sup> i</sup>sedangkan<sup> i</sup>objek<sup> i</sup>penelitian<sup> i</sup>adalah<sup> i</sup>permainan<sup> i</sup>lampu<sup> i</sup>merah-hijau<sup> i</sup>dan<sup> i</sup>keterampilan<sup> i</sup>berbicara<sup> i</sup>anak<sup> i</sup>usia<sup> i</sup>dini.<sup> i</sup>Instrumen<sup> i</sup>penelitian<sup> i</sup>berupa<sup> i</sup>lembar<sup> i</sup>dokumentasi<sup> i</sup>dan<sup> i</sup>pencatatan<sup> i</sup>data<sup> i</sup>dari<sup> i</sup>berbagai<sup> i</sup>sumber<sup> i</sup>literatur.<sup> i</sup>Data<sup> i</sup>dianalisis<sup> i</sup>menggunakan<sup> i</sup>teknik<sup> i</sup>analisis<sup> i</sup>isi<sup> i</sup>(content<sup> i</sup>analysis).<sup> i</sup>Hasil<sup> i</sup>kajian<sup> i</sup>menunjukkan<sup> i</sup>bahwa<sup> i</sup>permainan<sup> i</sup>lampu<sup> i</sup>merah-hijau<sup> i</sup>dapat<sup> i</sup>mendukung<sup> i</sup>perkembangan<sup> i</sup>keterampilan<sup> i</sup>berbicara<sup> i</sup>anak<sup> i</sup>melalui<sup> i</sup>kegiatan<sup> i</sup>mendengarkan<sup> i</sup>instruksi,<sup> i</sup>menjawab<sup> i</sup>pertanyaan,<sup> i</sup>berdiskusi,<sup> i</sup>dan<sup> i</sup>berinteraksi<sup> i</sup>dengan<sup> i</sup>teman<sup> i</sup>maupun<sup> i</sup>guru.<sup> i</sup>Selain<sup> i</sup>itu,<sup> i</sup>permainan<sup> i</sup>ini<sup> i</sup>juga<sup> i</sup>membantu<sup> i</sup>meningkatkan<sup> i</sup>kemampuan<sup> i</sup>konsentrasi,<sup> i</sup>pengendalian<sup> i</sup>diri,<sup> i</sup>interaksi<sup> i</sup>sosial,<sup> i</sup>dan<sup> i</sup>motorik<sup> i</sup>anak.</p> <p><em>Traditional<sup> i</sup>games<sup> i</sup>are<sup> i</sup>a<sup> i</sup>learning<sup> i</sup>medium<sup> i</sup>that<sup> i</sup>can<sup> i</sup>be<sup> i</sup>used<sup> i</sup>to<sup> i</sup>support<sup> i</sup>early<sup> i</sup>childhood<sup> i</sup>development,<sup> i</sup>including<sup> i</sup>speaking<sup> i</sup>skills.<sup> i</sup>However,<sup> i</sup>further<sup> i</sup>research<sup> i</sup>is<sup> i</sup>needed<sup> i</sup>to<sup> i</sup>examine<sup> i</sup>the<sup> i</sup>benefits<sup> i</sup>of<sup> i</sup>the<sup> i</sup>red-green<sup> i</sup>light<sup> i</sup>game<sup> i</sup>in<sup> i</sup>developing<sup> i</sup>children's<sup> i</sup>speaking<sup> i</sup>skills.<sup> i</sup>This<sup> i</sup>study<sup> i</sup>aims<sup> i</sup>to<sup> i</sup>describe<sup> i</sup>the<sup> i</sup>benefits<sup> i</sup>of<sup> i</sup>the<sup> i</sup>red-green<sup> i</sup>light<sup> i</sup>game<sup> i</sup>on<sup> i</sup>early<sup> i</sup>childhood<sup> i</sup>speaking<sup> i</sup>skills.<sup> i</sup>This<sup> i</sup>study<sup> i</sup>used<sup> i</sup>a<sup> i</sup>literature<sup> i</sup>review<sup> i</sup>method<sup> i</sup>with<sup> i</sup>a<sup> i</sup>descriptive<sup> i</sup>qualitative<sup> i</sup>approach.<sup> i</sup>The<sup> i</sup>research<sup> i</sup>subjects<sup> i</sup>were<sup> i</sup>various<sup> i</sup>journals,<sup> i</sup>scientific<sup> i</sup>articles,<sup> i</sup>and<sup> i</sup>relevant<sup> i</sup>literature<sup> i</sup>sources,<sup> i</sup>while<sup> i</sup>the<sup> i</sup>research<sup> i</sup>objects<sup> i</sup>were<sup> i</sup>the<sup> i</sup>red-green<sup> i</sup>light<sup> i</sup>game<sup> i</sup>and<sup> i</sup>early<sup> i</sup>childhood<sup> i</sup>speaking<sup> i</sup>skills.<sup> i</sup>The<sup> i</sup>research<sup> i</sup>instruments<sup> i</sup>were<sup> i</sup>documentation<sup> i</sup>sheets<sup> i</sup>and<sup> i</sup>data<sup> i</sup>recordings<sup> i</sup>from<sup> i</sup>various<sup> i</sup>literature<sup> i</sup>sources.<sup> i</sup>The<sup> i</sup>data<sup> i</sup>were<sup> i</sup>analyzed<sup> i</sup>using<sup> i</sup>content<sup> i</sup>analysis<sup> i</sup>techniques.<sup> i</sup>The<sup> i</sup>results<sup> i</sup>of<sup> i</sup>the<sup> i</sup>study<sup> i</sup>indicate<sup> i</sup>that<sup> i</sup>the<sup> i</sup>red-green<sup> i</sup>light<sup> i</sup>game<sup> i</sup>can<sup> i</sup>support<sup> i</sup>the<sup> i</sup>development<sup> i</sup>of<sup> i</sup>children's<sup> i</sup>speaking<sup> i</sup>skills<sup> i</sup>through<sup> i</sup>activities<sup> i</sup>such<sup> i</sup>as<sup> i</sup>listening<sup> i</sup>to<sup> i</sup>instructions,<sup> i</sup>answering<sup> i</sup>questions,<sup> i</sup>discussing,<sup> i</sup>and<sup> i</sup>interacting<sup> i</sup>with<sup> i</sup>peers<sup> i</sup>and<sup> i</sup>teachers.<sup> i</sup>Furthermore,<sup> i</sup>this<sup> i</sup>game<sup> i</sup>also<sup> i</sup>helps<sup> i</sup>improve<sup> i</sup>children's<sup> i</sup>concentration,<sup> i</sup>self-control,<sup> i</sup>social<sup> i</sup>interaction,<sup> i</sup>and<sup> i</sup>motor<sup> i</sup>skills.</em></p> Abu Bakar Jeni Afriani Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Pendidikan Inklusif 2026-06-29 2026-06-29 10 6 PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER ISLAMI DAN KEMANDIRIAN ANAK DI PANTI ASUHAN DARUL AITAM PALEMBANG https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpi/article/view/23504 <p>Pembentukan karakter Islami serta penumbuhan kemandirian bagi anak yatim dan dhuafa di lingkungan lembaga sosial panti asuhan menghadapi tantangan yang semakin kompleks pada era transformasi digital global. Artikel ilmiah ini bertujuan untuk mengalisis secara kritis implementasi intervensi pengabdian masyarakat terstruktur yang dilaksanakan melalui Kuliah Kerja Nyata (KKN) Rekognisi Mahasiswa UIN Raden Fatah Palembang di Panti Asuhan Darul Aitam Palembang. Menggunakan pendekatan deskriptif-kualitatif yang dikombinasikan dengan metode aksi partisipatif (Participatory Action Research), program ini mengintegrasikan delapan pilar kerja holistik selama 180 jam kerja efektif yang setara dengan bobot akademik 4 SKS. Intervensi mencakup internalisasi nilai teologis berbasis media digital 3D, bimbingan moralitas berbasis kitab Akhlakul Lil Banin, akselerasi kompetensi akademik-bahasa dengan model problem solving, serta pembekalan kecakapan hidup (life skill) berupa literasi keuangan digital (QRIS), pemanfaatan platform Canva, dan manajemen psikososial melalui art therapy berbasis media clay. Evaluasi komparatif komprehensif mengonfirmasi adanya eskalasi signifikan dalam ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik anak asuh. Model intervensi ini membuktikan bahwa harmonisasi metode pengajaran interaktif modern dengan nilai teologis spiritual tradisional mampu menstimulasi kemandirian berkelanjutan serta ketahanan moral anak asuh dalam menghadapi dinamika era digital.</p> Abdillah Zahid Fathimah Hanun Fatimah Hilwa Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Pendidikan Inklusif 2026-06-29 2026-06-29 10 6 PERAN PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DALAM MEMBANGUN SIKAP TOLERANSI DI MASYARAKAT MAJEMUK https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpi/article/view/22696 <p>Toleransi antaragama merupakan prasyarat utama bagi stabilitas sosial bangsa Indonesia yang majemuk. Di tengah meningkatnya kasus intoleransi, radikalisme, dan segregasi sosial berbasis identitas keagamaan, pendidikan agama dituntut memainkan peran yang lebih strategis bukan sekadar sebagai wahana transfer dogma, melainkan sebagai medium pembentukan karakter yang inklusif, kritis, dan humanis. Pendidikan Agama Kristen (PAK) sebagai bagian integral dari sistem pendidikan nasional memiliki sumber daya teologis dan pedagogis yang kaya untuk merespons tantangan tersebut. Artikel ini bertujuan mengkaji secara komprehensif peran PAK dalam membangun sikap toleransi melalui perspektif teologis, pedagogis, dan kontekstual. Metode yang digunakan adalah kajian pustaka sistematis (systematic literature review) dengan pendekatan deskriptif-analitis terhadap literatur ilmiah mutakhir periode 2020–2025. Hasil kajian menunjukkan bahwa: (1) PAK memiliki landasan teologis yang kokoh melalui doktrin Imago Dei, etika kasih universal (agape), teologi rekonsiliasi dan shalom, serta pneumatologi kemajemukan; (2) nilai-nilai inti PAK seperti agape, keadilan restoratif, kerendahan hati epistemis, dan pengampunan secara organis mendukung pembentukan sikap toleran yang autentik; dan (3) strategi pedagogis meliputi pedagogi transformatif kritis, pembelajaran berbasis narasi alkitabiah, dialog antaragama terstruktur, pendidikan perdamaian, dan literasi media kritis dapat diintegrasikan secara efektif ke dalam kurikulum PAK. Temuan ini memiliki implikasi signifikan bagi reformasi kurikulum, peningkatan kompetensi guru PAK, serta penguatan peran gereja sebagai agen perdamaian sosial di Indonesia.</p> <p><strong><em>ABSTRA</em></strong><strong><em>CT</em></strong></p> <p><em>Interreligious tolerance is a primary prerequisite for the social stability of pluralistic Indonesia. Amid rising cases of intolerance, radicalism, and identity-based social segregation, religious education is called to play a more strategic role not merely as a vehicle for doctrinal transfer, but as a medium for forming inclusive, critical, and humanist character. Christian Religious Education (CRE), as an integral part of the national education system, possesses rich theological and pedagogical resources to respond to this challenge. This article aims to comprehensively examine the role of CRE in building tolerant attitudes through theological, pedagogical, and contextual perspectives. The method employed is a systematic literature review with a descriptive-analytical approach to recent scientific literature from 2020 to 2025. Results indicate that: (1) CRE has a solid theological foundation through the Imago Dei doctrine, the ethics of universal love (agape), reconciliation and shalom theology, and a pneumatology of plurality; (2) core CRE values such as agape, restorative justice, epistemic humility, and forgiveness organically support the formation of authentic tolerance; and (3) pedagogical strategies including critical transformative pedagogy, biblical narrative-based learning, structured interfaith dialogue, peace education, and critical media literacy can be effectively integrated into the CRE curriculum. These findings carry significant implications for curriculum reform, competency development of CRE teachers, and strengthening the role of the church as an agent of social peace in Indonesia.</em></p> Ferdianto Dimu Norina Liranti Pellokila Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Pendidikan Inklusif 2026-06-29 2026-06-29 10 6 PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN SEBAGAI PENDIDIKAN KARAKTER DI PERSEKOLAHAN https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpi/article/view/22395 <table width="98%"> <tbody> <tr> <td width="60%"> <p>Penelitian ini mengeksplorasi peran strategis Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) sebagai instrumen utama dalam pembentukan karakter peserta didik di lingkungan persekolahan. Latar belakang penelitian ini didasari oleh fenomena degradasi moral dan memudarnya nilai-nilai kebangsaan di kalangan generasi muda di tengah arus globalisasi. Tujuan utama dari kajian ini adalah untuk menganalisis bagaimana kurikulum PKn diintegrasikan dengan nilai-nilai karakter untuk menciptakan warga negara yang cerdas dan baik (smart and good citizen). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kepustakaan dengan pendekatan deskriptif kualitatif, di mana data dikumpulkan melalui analisis literatur terkait kebijakan pendidikan, kurikulum, dan teori pendidikan karakter. Temuan penelitian menunjukkan bahwa PKn bukan sekadar mata pelajaran hafalan mengenai struktur kenegaraan, melainkan sebuah laboratorium demokrasi yang mampu menanamkan nilai religiusitas, nasionalisme, kemandirian, gotong royong, dan integritas melalui model pembelajaran aktif. Implementasi pendidikan karakter dalam PKn terbukti efektif ketika guru mampu mentransformasikan nilai-nilai abstrak menjadi praktik nyata dalam interaksi sosial di sekolah. Implikasi dari penelitian ini menekankan pentingnya pengembangan inovasi pedagogis dan penguatan kompetensi kepribadian guru PKn sebagai teladan karakter. Keberhasilan integrasi ini diharapkan dapat memperkuat pondasi moral peserta didik sehingga mampu menghadapi tantangan global tanpa kehilangan identitas nasionalnya sebagai bangsa Indonesia.</p> </td> </tr> </tbody> </table> Salsabilla Najwa Syamzaimar Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Pendidikan Inklusif 2026-06-29 2026-06-29 10 6 TEKNOLOGI MEDIA PEMBELAJARAN BAHASA ARAB DI ABAD KE-21: KAJIAN KRITIS TERHADAP PEMANFAATAN MEDIA AUDIO, VISUAL, DAN AUDIOVISUAL https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpi/article/view/23378 <p>Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis hakikat, karakteristik, jenis-jenis, serta penerapan teknologi media pembelajaran bahasa yang meliputi media audio (al-Wasā'il al-Sam'iyyah), media visual (al-Wasā'il al-Baṣariyyah), dan media audiovisual (al-Wasā'il al-Sam'iyyah al-Baṣariyyah) dalam konteks pembelajaran bahasa Arab di abad ke-21. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research), melalui teknik pengumpulan data dokumentasi dan analisis data model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil kajian menunjukkan bahwa ketiga jenis media tersebut memiliki peran yang saling melengkapi: media audio melatih kepekaan fonologis dan kemahiran menyimak, media visual memperkuat pemahaman makna melalui representasi ikonik dan grafis, sementara media audiovisual menghadirkan pengalaman belajar paling mendekati komunikasi nyata dengan menstimulasi dua indera secara bersamaan. Meskipun demikian, implementasinya menghadapi sejumlah tantangan nyata seperti kesenjangan infrastruktur, ketimpangan kompetensi digital guru, dan keterbatasan konten berbahasa Arab yang sesuai level siswa. Penelitian ini menyimpulkan bahwa keberhasilan pemanfaatan teknologi media pembelajaran bahasa sangat bergantung pada kompetensi pedagogis guru dalam memilih, merancang, dan mengintegrasikan media secara tepat, kontekstual, dan bermakna sesuai kebutuhan peserta didik.</p> Alwi Salam Abdul Jabbar Mukhtar Alvin Tubagus Cahya Nugraha Acep Hermawan Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Pendidikan Inklusif 2026-06-29 2026-06-29 10 6 PENGEMBANGAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpi/article/view/22596 <p><em>Critical thinking skills are among the essential competencies that students must possess in the 21st century. In the context of Christian Religious Education (CRE), critical thinking not only helps students understand biblical teachings more deeply but also enables them to analyze various life issues based on Christian values. However, CRE learning is often still oriented toward memorization and knowledge transfer, providing limited opportunities for students to develop critical thinking skills. This article aims to examine the importance of developing critical thinking skills in Christian Religious Education and to identify learning strategies that can support their development. The study employs a library research method by analyzing relevant books, journals, and academic articles. The findings indicate that Problem-Based Learning, Inquiry Learning, Contextual Teaching and Learning, and Reflective Discussion can effectively enhance students' critical thinking skills in CRE. Therefore, Christian Religious Education teachers should develop active, reflective, and contextual learning approaches to help students integrate faith with everyday life experiences</em></p> Maria Sesfao Ronaldi Tere Subu Marfin Tuke Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Pendidikan Inklusif 2026-06-29 2026-06-29 10 6 HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN GADGET DAN KEMAMPUAN LITERASI MEMBACA MAHASISWAA IAKN KUPANG https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpi/article/view/23268 <p><em>The rapid development of digital technology has brought significant changes to various aspects of life, including higher education. Gadgets such as smartphones, tablets, and laptops have become an inseparable part of students' daily activities. These devices provide numerous benefits, serving not only as communication tools but also as platforms for accessing information, storing data, and supporting learning processes. Through internet connectivity, students can easily access a wide range of digital learning resources, including e-books, academic journals, scholarly articles, and online learning platforms that contribute to the enhancement of their knowledge and literacy skills. On the other hand, excessive and uncontrolled use of gadgets may have negative effects on students' reading habits. When gadget use is predominantly directed toward entertainment activities such as social media, online gaming, and streaming services, it may reduce the time available for reading and academic pursuits. This situation can affect reading literacy skills, which are among the most essential competencies required in higher education. Reading literacy encompasses not only the ability to understand written texts but also the capacity to analyze, evaluate, and interpret information critically. Based on this phenomenon, this study aims to examine the relationship between gadget use and the reading literacy skills of students at the Indonesian Christian State Institute (IAKN) Kupang. The research employed a quantitative approach using a correlational research design to identify the degree of relationship between the two variables. The study sample consisted of IAKN Kupang students selected through purposive sampling based on predetermined criteria. Data on gadget use were collected through questionnaires, while reading literacy skills were measured using a reading literacy test designed to assess students' abilities to comprehend, interpret, and evaluate texts. The collected data were analyzed using the Pearson Product-Moment Correlation test to determine the strength and direction of the relationship between gadget use and students' reading literacy skills. The findings revealed a significant relationship between gadget use and the reading literacy skills of IAKN Kupang students. Students who utilized gadgets for academic purposes, such as reading digital books, accessing scientific journals, and searching for learning references, tended to demonstrate better reading literacy skills. In contrast, students whose gadget use was primarily focused on entertainment activities showed a tendency toward lower reading interest and less optimal reading literacy performance. These findings indicate that gadgets function not only as tools for communication and entertainment but also as effective instruments for enhancing reading literacy when used wisely and productively. Therefore, students, lecturers, and educational institutions should encourage the educational and constructive use of gadgets to support the development of literacy culture and improve the quality of learning in higher education.</em></p> Ester Rohi Haba Ronal Aryanto Ton Yutilda Feka Haba Maria Indriani Sesfao Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Pendidikan Inklusif 2026-06-29 2026-06-29 10 6 AN ANALYSIS OF READING MATERIALS IN THE ENGLISH TEXTBOOK TALK ACTIVE 2 FOR 11TH GRADE OF ACCOUNTING STUDENTS BASED ON TOMLINSON’S PRINCIPLES https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpi/article/view/22473 <p>Penelitian ini mengkaji bahan bacaan berdasarkan prinsip-prinsip Tomlinson (2012). Studi ini menerapkan metodologi kualitatif, dengan menggunakan data yang diperoleh dari bahan bacaan dan tugas-tugas di dalam buku teks. Data dikumpulkan melalui dokumentasi dan dianalisis menggunakan analisis konten. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Tiga prinsip tercermin: instructional, eliciting, dan exploratory. 2) Dua prinsip tidak tercermin: informative dan experiential. Sebagian besar bahan bacaan mencakup latihan terstruktur, pertanyaan diskusi, dan aktivitas yang mendorong siswa untuk mengeksplorasi teks. Namun, bahan-bahan tersebut tidak mencakup konten terkait akuntansi dan konteks dunia kerja nyata. Oleh karena itu, bahan bacaan dalam Talk Active 2 tidak sepenuhnya sesuai untuk siswa akuntansi kejuruan. Diharapkan penelitian ini dapat bermanfaat bagi guru dan peneliti masa depan dalam mengevaluasi buku teks bahasa Inggris.</p> <p><em>This research examines reading materials based on Tomlinson’s (2012) principles. This study applies qualitative methodology, using data derived from reading material and assignments inside the textbook. The data are gathered through documentation and examined by content analysis. The study showed that: 1) Three principles are reflected: instructional, eliciting, and exploratory. 2) Two principles are not reflected: informative and experiential. Most of the reading materials include organised exercises, discussion questions, and activities that encourage students to explore the text.&nbsp; However, the materials do not include accounting related content and real world workplace context. Therefore, the reading materials in Talk Active 2 are not fully appropriate for vocational accounting students. It is hoped that this research can be useful for teachers and future researchers in evaluating English textbooks.</em></p> Elisa Br Sebayang Ariatna Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Pendidikan Inklusif 2026-06-29 2026-06-29 10 6 PENINGKATAN KEAKTIFAN DAN HASIL BELAJAR IPAS MELALUI MODEL PROBLEM-BASED LEARNING (PBL) PADA SISWA KELAS IV SDN 282 BANGKO https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpi/article/view/23945 <p>Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini bertujuan untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar kognitif IPAS materi Siklus Air melalui model Problem-Based Learning (PBL) pada siswa kelas IV SDN 282 Bangko. Subjek penelitian berjumlah 20 siswa. Desain penelitian menggunakan model spiral Kemmis &amp; McTaggart yang terdiri dari dua siklus. Data dikumpulkan melalui lembar observasi keaktifan belajar (non-tes) dan tes evaluasi tertulis (tes). Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan dari kondisi awal (Pra-Siklus) hingga Siklus II. Rata-rata persentase keaktifan klasikal naik dari 42% (Kurang Aktif) pada Pra-Siklus menjadi 64% (Cukup) pada Siklus I, dan melesat hingga 83,6% (Aktif) pada Siklus II, melampaui target keberhasilan sebesar 75%. Peningkatan keaktifan ini berdampak positif pada hasil belajar kognitif, di mana nilai rata-rata kelas meningkat dari 61,5 (Pra-Siklus) menjadi 72,0 (Siklus I) dan mencapai 81,5 (Siklus II). Persentase ketuntasan klasikal juga melonjak tajam dari 30% pada Pra-Siklus menjadi 65% pada Siklus I, hingga akhirnya mencapai 85% pada Siklus II, melampaui target ketuntasan klasikal yang ditetapkan sebesar 80%. Kesimpulannya, implementasi model PBL terbukti efektif dalam mendongkrak keaktifan dan hasil belajar kognitif IPAS siswa Sekolah Dasar.</p> <p><em>This Classroom Action Research (CAR) aims to improve student activity and cognitive learning outcomes in science and social studies (IPAS) specifically on the Water Cycle material using the Problem-Based Learning (PBL) model for fourth-grade students at SDN 282 Bangko. The subjects were 20 students. The research design followed the Kemmis &amp; McTaggart spiral model consisting of two cycles. Data were collected using learning activity observation sheets (non-test) and written evaluation tests (test). The results showed a significant increase from the initial condition (Pre-Cycle) to Cycle II. The average classical learning activity percentage rose from 42% (Less Active) in Pre-Cycle to 64% (Sufficient) in Cycle I, and soared to 83.6% (Active) in Cycle II, exceeding the target of 75%. This improvement in activity positively impacted cognitive learning outcomes, where the class average score increased from 61.5 (Pre-Cycle) to 72.0 (Cycle I) and reached 81.5 (Cycle II). The classical mastery percentage also jumped sharply from 30% in Pre-Cycle to 65% in Cycle I, and finally reached 85% in Cycle II, surpassing the classical mastery target set at 80%. In conclusion, the implementation of the PBL model is proven effective in boosting both learning activity and cognitive outcomes of elementary school students in IPAS.</em></p> Surnilawati Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Pendidikan Inklusif 2026-07-10 2026-07-10 10 6 KETAHANAN DIRI DI TENGAH ARUS GLOBALISASI: PERSEPSI PESERTA DIDIK GENERASI Z MENGENAI PEMAHAMAN TERHADAP PENDIDIKAN PANCASILA https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpi/article/view/22884 <p>Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pesatnya perkembangan globalisasi yang memengaruhi pola pikir, perilaku, dan kehidupan sosial peserta didik Generasi Z, khususnya melalui teknologi digital dan media sosial. Kondisi tersebut menjadi tantangan dalam pembentukan karakter dan ketahanan diri peserta didik, sehingga Pendidikan Pancasila dipandang penting dalam menghadapi pengaruh negatif globalisasi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pemahaman peserta didik kelas XI terhadap nilai-nilai Pancasila, persepsi mengenai peran Pendidikan Pancasila dalam membentuk ketahanan diri, serta implementasi nilai-nilai Pancasila di SMAN 1 Margaasih. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Informan penelitian terdiri atas enam peserta didik kelas XI, satu guru Pendidikan Pancasila, satu Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, dan satu Kepala Sekolah. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan studi dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman peserta didik terhadap nilai-nilai Pancasila bervariasi, mulai dari pemahaman konseptual hingga penerapan dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan Pancasila dipandang berperan dalam membantu peserta didik menyikapi perkembangan teknologi, media sosial, dan lingkungan pergaulan secara lebih bijak. Implementasi nilai-nilai Pancasila tercermin melalui sikap toleransi, kerja sama, disiplin, tanggung jawab, dan hubungan sosial yang baik, meskipun penerapannya belum sepenuhnya konsisten karena dipengaruhi lingkungan sosial dan arus globalisasi.</p> <p><em>This study was motivated by the rapid development of globalization, which influences the mindset, behavior, and social lives of Generation Z students, particularly through digital technology and social media. This condition poses challenges to the development of students’ character and resilience, making Pancasila Education essential in addressing the negative impact of globalization. This study aimed to describe eleventh-grade students’ understanding of Pancasila values, their perceptions of the role of Pancasila Education in fostering resilience, and the implementation of Pancasila values at SMAN 1 Margaasih. This study employed a qualitative approach using a descriptive method. The research informants consisted of six eleventh-grade students, one Pancasila Education teacher, one Vice Principal for Curriculum Affairs, and one Principal. Data were collected through observation, interviews, and documentation studies, and were analyzed using the Miles and Huberman model. The findings revealed that students’ understanding of Pancasila values varied, ranging from conceptual understanding to implementation in daily life. Pancasila Education was perceived to play an important role in helping students respond more wisely to technological developments, social media, and social environments. The implementation of Pancasila values was reflected in attitudes of tolerance, cooperation, discipline, responsibility, and positive social relationships, although their application was not yet fully consistent due to the influence of social environments and the flow of globalization.</em></p> Neng Delisa Cahyono Delila Kania Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Pendidikan Inklusif 2026-06-29 2026-06-29 10 6 PEMBELAJARAN BELAJAR GERAK DALAM MENINGKATKAN KETERAMPILAN MOTORIK ATLET https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpi/article/view/22419 <p>Pembelajaran belajar gerak merupakan salah satu aspek fundamental dalam ilmu kepelatihan olahraga yang berperan penting dalam meningkatkan keterampilan motorik atlet. Proses ini tidak hanya melibatkan penguasaan teknik, tetapi juga mencakup tahapan adaptasi, koordinasi, serta pengembangan kemampuan fisik dan kognitif secara terintegrasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam konsep, prinsip, dan tahapan pembelajaran belajar gerak serta kontribusinya dalam meningkatkan kualitas performa atlet. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan dengan mengkaji berbagai sumber ilmiah yang relevan, seperti buku, jurnal, dan hasil penelitian terdahulu. Hasil kajian menunjukkan bahwa pembelajaran belajar gerak yang dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan mampu meningkatkan efektivitas penguasaan keterampilan motorik, mempercepat proses adaptasi gerakan, serta meminimalkan kesalahan teknik pada atlet. Selain itu, penerapan prinsip-prinsip belajar gerak yang tepat juga berkontribusi dalam membentuk konsistensi dan efisiensi gerakan. Dengan demikian, pembelajaran belajar gerak memiliki peran strategis sebagai fondasi utama dalam pengembangan keterampilan dan performa atlet secara optimal.</p> <p><strong><em>ABSTRACT</em></strong></p> <p><em>Motor learning-based instruction is a fundamental aspect in the science of sports coaching that plays a crucial role in improving athletes’ motor skills. This process involves not only technical mastery but also stages of adaptation, coordination, and the integrated development of physical and cognitive abilities. This study aims to comprehensively examine the concepts, principles, and stages of motor learning instruction and its contribution to enhancing athletes’ performance quality. The method used in this study is a library research approach by reviewing various relevant scientific sources, including books, journals, and previous research findings. The results of the study indicate that systematic and continuous motor learning instruction can effectively improve the mastery of motor skills, accelerate movement adaptation, and minimize technical errors among athletes. Furthermore, the proper application of motor learning principles contributes to the development of consistency and efficiency in movement execution. Therefore, motor learning-based instruction plays a strategic role as a fundamental foundation in optimizing athletes’ skills and performance.</em></p> Radhika Putri Gleadys Trieuniqe Damanik Daniel Pirmana Barus Marudut Royto Manalu Ekyanto Baresta Barus Amir Supriadi Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Pendidikan Inklusif 2026-06-29 2026-06-29 10 6 ANALISIS KESALAHAN SISWA DALAM PENYELESAIAN SOAL CERITA MATERI VEKTOR DENGAN METODE FONG'S SCHEMATIC MODEL FOR ERROR ANALYSIS https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpi/article/view/23551 <table> <tbody> <tr> <td> <p>Matematika merupakan ilmu pengetahuan dasar yang sangat diperlukan dalam kehidupan. Namun pada kenyataannya, masih banyak siswa yang memiliki masalah dalam menyelesaikan soal cerita. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan jenis kesalahan, tingkat kemampuan siswa, serta faktor-faktor penyebab kesalahan yang dialami siswa kelas X SMA YLPI Pekanbaru dalam menyelesaikan soal cerita pada materi vektor berdasarkan Fong's Schematic Model for Error Analysis. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Subjek penelitian melibatkan 20 siswa kelas X IPA, dengan pengumpulan data melalui tes uraian 4 butir soal cerita dan wawancara mendalam terhadap 4 siswa representatif. Teknik analisis data mencakup reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan klasifikasi kemampuan siswa terdiri dari 5 siswa berkemampuan tinggi, 6 siswa berkemampuan sedang, dan 9 siswa berkemampuan rendah. Jenis kesalahan paling dominan adalah kesalahan konsep/teorema (K2) sebanyak 15 kasus, diikuti kesalahan operasi/berhitung (K1) sebanyak 13 kasus. Faktor penyebab kesalahan pada siswa berkemampuan tinggi dan sedang bersifat teknis nonkonseptual akibat keterburu-buruan dan kurang teliti, sedangkan siswa berkemampuan rendah mengalami kendala sistematis berupa ketidakpahaman aturan dasar, kebingungan memahami soal, dan lupa rumus inti materi vektor.</p> <table> <tbody> <tr> <td> <p><em>Mathematics is a fundamental science that is essential in everyday life. However, in reality, many students still have difficulties in solving word problems. This study aims to describe the types of errors, students' capability levels, and the causal factors of errors faced by tenth-grade students at SMA YLPI Pekanbaru in solving word problems on vector topics based on Fong's Schematic Model for Error Analysis. This study applied a qualitative approach with a descriptive method. The subjects involved 20 science stream students, with data collected through an essay-based test of 4 word problems and in-depth interviews with 4 representative students. Data analysis included reduction, display, and conclusion drawing. Results showed 5 high-capability, 6 moderate-capability, and 9 low-capability students. The most dominant error type was conceptual/theorem errors (K2) with 15 cases, followed by operational/computation errors (K1) with 13 cases. High and moderate-capability students' errors were technical and non-conceptual, triggered by being rushed and lacking accuracy, while low-capability students experienced systematic obstacles, including misunderstanding basic rules, confusion, and forgetting core vector formulas.</em></p> </td> </tr> </tbody> </table> </td> </tr> </tbody> </table> Dwy Ramadani Sindi Amelia Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Pendidikan Inklusif 2026-06-29 2026-06-29 10 6 MANAJEMEN KESISWAAN DALAM MENINGKATKAN PRESTASI SISWA NON AKADEMIK DI MI UNGGULAN ASSA’ADAH SURABAYA MELALUI PROGRAM TMCA https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpi/article/view/22764 <p>Prestasi non akademik merupakan salah satu indikator keberhasilan sekolah dalam mengembangkan potensi peserta didik secara holistik. Namun, pada praktiknya, pengelolaan prestasi non akademik di sekolah masih bersifat sporadis dan belum terintegrasi dalam sistem manajemen kesiswaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis manajemen kesiswaan dalam meningkatkan prestasi siswa non akademik melalui Program Talent Mapping and Character Action (TMCA) sebagai model inovatif yang belum pernah dipublikasikan sebelumnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan teknik reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa manajemen kesiswaan berbasis pemetaan bakat dan penguatan karakter melalui aksi nyata mampu meningkatkan prestasi non akademik siswa secara signifikan, baik dalam bidang olahraga, seni, kepemimpinan, serta ketrampilan. Program TMCA juga mendorong keterlibatan aktif siswa dan pembina dalam pembinaan berkelanjutan. Penelitian ini memberikan kontribusi konseptual berupa model manajemen kesiswaan inovatif yang dapat diadaptasi oleh sekolah lain.</p> Rozaq Maulana Ahmad Thohirin Suyitno Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Pendidikan Inklusif 2026-06-29 2026-06-29 10 6 KONSEP KESEHATAN MENTAL DALAM AL QUR’AN: KAJIAN TAFSIR TEMATIK TERHADAP OVERTHINKING, ANXIETY DAN KETENANGAN JIWA https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpi/article/view/22400 <p>Kesehatan mental merupakan aspek penting dalam kehidupan manusia yang berkaitan dengan keseimbangan emosi, pola pikir, dan perilaku. Di era modern, berbagai permasalahan psikologis seperti overthinking, anxiety (kecemasan), dan hilangnya ketenangan jiwa semakin banyak dialami akibat tekanan sosial, tuntutan hidup, serta krisis spiritual. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji konsep kesehatan mental dalam perspektif Al-Qur’an melalui pendekatan tafsir tematik khususnya terkait fenomena overthinking, kecemasan, dan ketenangan jiwa. Metode penelitian yang digunakan adalah studi pustaka (library research) dengan menganalisis ayat-ayat Al-Qur’an, tafsir para ulama, serta literatur yang relevan mengenai kesehatan mental dalam Islam. Hasil kajian menunjukkan bahwa Al-Qur’an memberikan pedoman yang komprehensif dalam menjaga kesehatan mental melalui penguatan keimanan, pengendalian pikiran, serta penyucian jiwa. Konsep kesehatan mental dalam Al-Qur’an berlandaskan pada keseimbangan antara hati, akal, dan perilaku manusia. Beberapa prinsip utama yang ditemukan meliputi fitrah manusia, tazkiyatun nafs (penyucian jiwa), tawakal, sabar, qana’ah, istiqamah, dzikir, serta menjaga hubungan sosial yang harmonis. Al-Qur’an juga menegaskan bahwa ketenangan jiwa dapat diperoleh melalui kedekatan kepada Allah Swt., sebagaimana dijelaskan dalam QS. Ar-Ra’d ayat 28 bahwa hati menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Selain itu, kajian ini menemukan bahwa overthinking dan anxiety dalam perspektif Al-Qur’an muncul akibat lemahnya kontrol diri, rasa takut berlebihan terhadap masa depan, serta jauhnya manusia dari nilai-nilai spiritual. Oleh karena itu, Al-Qur’an menawarkan solusi berupa penguatan iman, optimisme, pengendalian emosi, serta sikap berserah diri kepada Allah Swt. Nilai-nilai tersebut tidak hanya berfungsi sebagai terapi spiritual, tetapi juga mampu membantu manusia menghadapi tekanan hidup secara lebih tenang dan bijaksana. Dengan demikian, konsep kesehatan mental dalam Al-Qur’an relevan untuk diterapkan dalam kehidupan modern sebagai upaya mencapai ketenangan jiwa, kebahagiaan, dan keseimbangan hidup, baik di dunia maupun di akhirat.</p> <p><em>Mental health is an important aspect of human life related to emotional balance, mindset, and behavior. In the modern era, various psychological problems such as overthinking, anxiety, and the loss of inner peace are increasingly experienced due to social pressure, life demands, and spiritual crises. This article aims to examine the concept of mental health in the perspective of the Qur’an through a thematic interpretation approach (tafsir maudhu’i), especially regarding the phenomena of overthinking, anxiety, and inner peace. The research method used is library research by analyzing verses of the Qur’an, interpretations of Islamic scholars, and relevant literature related to mental health in Islam. The results of this study show that the Qur’an provides comprehensive guidance in maintaining mental health through strengthening faith, controlling thoughts, and purifying the soul. The concept of mental health in the Qur’an is based on the balance between the heart, mind, and human behavior. Several main principles found in this study include human nature (fitrah), tazkiyatun nafs (purification of the soul), tawakal (trust in Allah), patience, qana’ah (contentment), istiqamah (steadfastness), remembrance of Allah (dzikir), and maintaining harmonious social relationships. The Qur’an also emphasizes that inner peace can be attained through closeness to Allah SWT, as stated in Surah Ar-Ra’d verse 28, which explains that hearts find tranquility in the remembrance of Allah. In addition, this study finds that overthinking and anxiety from the Qur’anic perspective arise from weak self-control, excessive fear of the </em></p> <p><em>future, and the distance of humans from spiritual values. Therefore, the Qur’an offers solutions in the form of strengthening faith, optimism, emotional control, and surrendering oneself to Allah SWT. These values not only function as spiritual therapy but also help humans face life’s pressures more calmly and wisely. Thus, the concept of mental health in the Qur’an is relevant to be applied in modern life as an effort to achieve inner peace, happiness, and balance in life, both in this world and in the hereafter.</em></p> Meri Noktaria Ulil Albab Muhamad Takrip Arin Setiani M. Arridho Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Pendidikan Inklusif 2026-06-29 2026-06-29 10 6 PERAN KEGIATAN EKSTRAKURIKULER KEPRAMUKAAN DALAM MEMBENTUK CIVIC SKILLS PESERTA DIDIK https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpi/article/view/23428 <p>Kegiatan ekstrakurikuler kepramukaan merupakan salah satu wadah pendidikan untuk mengembangkan berbagai keterampilan kewarganegaraan dengan berbagai kegiatan yang dilakukan yang bisa membentuk kerja sama, komunikasi, berpikir kritis, tanggung jawab, dan partisipasi sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan kegiatan kepramukaan dalam membentuk <em>civic skills</em> peserta didik, peran kegiatan kepramukaan, bentuk <em>civic skills</em> yang berkembang melalui kegiatan kepramukaan, dan faktor-faktor yang mendukung dan menghambat pembentukan <em>civic skills</em> peserta didik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara, dan dokumentasi. Narasumber terdiri dari guru PPKn, pembina pramuka, wakil kepala sekolah bidang kurikulum dan peserta didik. Hasil penelitian menunjukkan kegiatan ekstrakurikuler kepramukaan di SMP Negeri 14 Bandung sudah dilaksanakan secara terencana seperti latihan rutin, perkemahan, pengujian SKU, musyawarah regu, dan perlombaan. Kegiatan tersebut sangat berperan penting untuk membentuk <em>civic skills</em> yang meliputi kerja sama, komunikasi, berpikir kritis, tanggung jawab, dan partisipasi sosial. Faktor pendukung kegiatan kepramukaan yaitu dukungan sekolah, pembina pramuka, guru, orang tua, partisipasi peserta didik, dan lingkungan pertemanan, sedangkan faktor penghambat yaitu keterbatasan waktu, ketersediaan fasilitas, pendanaan, jumlah peserta didik yang beragam, minat dan lingkungan pertemanan peserta didik. &nbsp;</p> <p><em>Scouting extracurricular activities are an educational platform for developing various civic skills through various activities that can foster cooperation, communication, critical thinking, responsibility, and social participation. This study aims to determine the implementation of scouting activities in developing students' civic skills, the role of scouting activities, the forms of civic skills developed through scouting activities, and the factors that support and hinder the development of students' civic skills. This study uses a qualitative approach with descriptive methods. Data collection techniques are carried out through observation, interviews, and documentation. The informants consist of PPKn teachers, scout leaders, vice principals for curriculum, and students. The results show that scouting extracurricular activities at SMP Negeri 14 Bandung have been implemented in a planned manner, such as routine training, camping, SKU testing, team meetings, and competitions. These activities play a very important role in developing civic skills, which include cooperation, communication, critical thinking, responsibility, and social participation. The supporting factors for scouting activities are support from schools, instructors, teachers, parents, student participation, and the friendship environment, while the inhibiting factors are limited time, availability of facilities, funding, the diverse number of students, interests and the friendship environment of students.</em></p> <p>&nbsp;</p> Firyal Salsabila Rahman Delila Kania Asep Deni Normansyah Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Pendidikan Inklusif 2026-06-29 2026-06-29 10 6