TUTTI FRUTTI COLLECTIVE : UPAYA PENYAMPAIAN ISU KRISIS IDENTITAS DIRI DALAM KARYA SENI INSTALASI
Kata Kunci:
Seni, Instalasi, Isu, Krisis IdentitasAbstrak
Abstrak pada jurnal ini membahas mengenai penyampaian isu identitas wanita oleh seniman kolektif yang berasal dari Yogyakarta bernama Tutti Frutti collective. penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan tujuan menghasilkan jurnal yang informatif serta diharapkan membuka wawasan bagi para pembaca. Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data berupa wawancara dan observasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa seniman kolektif Tutti Frutti dapat menyampaikan pesan serta isu krisis identitas yang mereka angkat melalui sebuah karya seni instalasi berjudul 'racikan keluarga' yang mereka display pada pameran yayasan Biennale Asana Bina Seni pada Juni 2023 dengan tajuk “(Se)tempat”, sebuah instalasi seni rupa berbentuk rumah-rumahan yang terinspirasi dari masa kecil dengan sentuhan warna-warna didalamnya bermediakan kain perca, baju baju bekas dan benda-benda dari masa kecil yang erat ada disekitar. Diharapkan penelitian ini tidak hanya memberikan kontribusi bagi perkembangan seni rupa kontemporer di Indonesia, tetapi juga menginspirasi masyarakat untuk terus membuka dialog dan mendukung keberagaman identitas gender dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, kolaborasi ini juga menjadi contoh bagaimana seni dapat menjadi sarana yang kuat untuk menyuarakan isu-isu sosial yang relevan dan penting bagi masyarakat.
The abstract in this journal discusses the submission of the issue of female identity by a collective artist from Yogyakarta named Tutti Frutti collective. The research uses qualitative descriptive methods with the aim of producing a journal that is informative and is expected to open insights for readers. This research uses data collection techniques such as interviews and observations. The research shows that Tutti Frutti collective artists can convey the message as well as identity crisis issues they raise through an installation artwork entitled 'family racing' that they display at the Biennale Asana Bina Art Foundation exhibition in June 2023 under the title “(Se)tempat”, an art installation in the shape of houses inspired by childhood with a touch of colours in it interspersed with permafrost fabrics, worn clothes and objects from childhood that are closely surrounded. It is hoped that this research will not only contribute to the development of contemporary visual arts in Indonesia, but also inspire people to continue to open up dialogue and promote gender identity diversity in everyday life. Besides, this collaboration is also an example of how art can be a powerful means of expressing social issues that are relevant and important to society.


