https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpih/issue/feedJurnal Penelitian Ilmu Humaniora2026-04-29T15:47:19+00:00Open Journal Systemshttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpih/article/view/20765ANALISIS DAMPAK PENGGUNAAN SMARTPHONE PADA PERKEMBANGAN REMAJA DI KELURAHAN SUNGGAL2026-04-01T08:59:21+00:00Muhammad Aimar Zaiddanzaidanaimar55@gmail.comAgus Suriadiagus4@usu.ac.id<p>Smartphone telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan remaja pada era digital saat ini. Perangkat ini menawarkan kemudahan akses informasi, hiburan, dan komunikasi, tetapi juga menimbulkan risiko terhadap perkembangan remaja, khususnya pada aspek kognitif, sosial, dan emosional. Di Kelurahan Sunggal, Kecamatan Medan Sunggal, Kota Medan, penggunaan smartphone pada remaja tergolong sangat tinggi, didukung oleh infrastruktur internet yang mudah diakses, banyaknya warung kopi dan warnet dengan Wi-Fi berbiaya rendah, serta budaya berkumpul setelah pulang sekolah. Berdasarkan Teori Perkembangan Remaja (Steinberg, 2014; Erikson, 1968; Piaget, 1972), masa remaja merupakan periode rentan karena ketidakseimbangan neurologis (sistem reward yang hiperaktif dibandingkan pengendalian impuls yang belum matang), kemampuan kognitif tinggi namun pengendalian diri masih lemah, serta kebutuhan yang kuat akan identitas dan pengakuan dari teman sebaya. Teori Uses and Gratifications (Katz, Blumler, & Gurevitch, 1974) menjelaskan bahwa remaja secara aktif memilih smartphone untuk memenuhi kebutuhan hiburan, pelarian, integrasi sosial, dan ekspresi identitas. Teori Sistem Ekologi Bronfenbrenner (1979) menggambarkan bahwa pola ini diperkuat oleh lingkungan mikro (teman sebaya dan warung kopi), meso (sekolah-keluarga), ekso (kesibukan orang tua dan harga kuota murah), makro (budaya urban), serta krono (kesenjangan digital antargenerasi). Sementara itu, Teori Pengasuhan Orang Tua (Baumrind, 1991; Bowlby, 1969) menekankan bahwa gaya otoritatif dengan aturan jelas, komunikasi terbuka, dan ikatan emosi aman menjadi kunci pengelolaan yang efektif. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam terhadap tiga remaja laki-laki, tiga orang tua, dan satu warga sekitar, serta observasi partisipatif selama dua minggu di lokasi berkumpul remaja. Analisis data dilakukan melalui tahapan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan smartphone pada remaja di Kelurahan Sunggal sangat intensif (5–9 jam/hari), didominasi aktivitas hiburan dan media sosial. Penggunaan ini memengaruhi perkembangan kognitif dengan melemahkan pengendalian diri dan perencanaan, perkembangan sosial dengan mengurangi kualitas interaksi tatap muka meskipun meningkatkan koneksi digital, serta perkembangan emosional dengan memberikan pelarian instan namun menciptakan kecemasan ketika tidak terhubung. Peran orang tua sangat menentukan: gaya otoritatif terbukti paling efektif dalam mengurangi intensitas dan dampak negatif, sementara gaya permisif atau otoriter menghasilkan pengawasan lemah. Fenomena ini merupakan hasil interaksi ekologis yang kompleks antara kerentanan perkembangan remaja, gratifikasi instan dari smartphone, lingkungan urban yang mendukung, dan pengasuhan yang belum optimal. Penelitian merekomendasikan intervensi holistik berbasis keluarga (pengasuhan digital otoritatif), sekolah (kebijakan smartphone dan ekstrakurikuler alternatif), serta komunitas (ruang remaja sehat digital) untuk mengarahkan penggunaan smartphone menjadi lebih seimbang dan mendukung perkembangan remaja secara optimal.</p> <p><em>Smartphones have become an inseparable part of teenagers' lives in the current digital era. These devices offer easy access to information, entertainment, and communication, but they also pose risks to adolescent development, particularly in cognitive, social, and emotional aspects. In Kelurahan Sunggal, Kecamatan Medan Sunggal, Kota Medan, smartphone use among teenagers is very high, supported by easily accessible internet infrastructure, numerous coffee shops and internet cafes with low-cost Wi-Fi, and the culture of hanging out after school. According to the Theory of Adolescent Development (Steinberg, 2014; Erikson, 1968; Piaget, 1972), adolescence is a vulnerable period due to neurological imbalance (hyperactive reward system compared to immature impulse control), high cognitive abilities but weak self-regulation, and strong needs for identity and peer recognition. The Uses and Gratifications Theory (Katz, Blumler, & Gurevitch, 1974) explains that teenagers actively choose smartphones to fulfill needs for entertainment, escape, social integration, and identity expression. Bronfenbrenner's Ecological Systems Theory (1979) illustrates that this pattern is reinforced by the microsystem (peers and coffee shops), mesosystem (school-family), exosystem (parents' busyness and affordable data packages), macrosystem (urban culture), and chronosystem (intergenerational digital gap). Meanwhile, the Theory of Parental Parenting (Baumrind, 1991; Bowlby, 1969) emphasizes that an authoritative style with clear rules, open communication, and secure emotional bonds is the key to effective management. This research is qualitative in nature, using data collection techniques through in-depth interviews with three male teenagers, three parents, and one local resident, as well as participatory observation for two weeks at teenagers' hangout locations. Data analysis was carried out through stages of data collection, data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The research results show that smartphone use among teenagers in Kelurahan Sunggal is very intensive (5–9 hours/day), dominated by entertainment activities and social media. This use affects cognitive development by weakening selfregulation and planning, social development by reducing the quality of face-toface interactions despite increasing digital connections, and emotional development by providing instant escape but creating anxiety when disconnected. The role of parents is highly determining: an authoritative style proves most effective in reducing intensity and negative impacts, while permissive or authoritarian styles result in weak supervision. This phenomenon is the result of complex ecological interactions between adolescents' developmental vulnerabilities, instant gratification from smartphones, a supportive urban environment, and suboptimal parenting. The research recommends holistic interventions based on family (authoritative digital parenting), school (smartphone policies and alternative extracurriculars), and community (healthy digital youth spaces) to direct smartphone use toward a more balanced approach and optimally support adolescent development.</em></p>2026-04-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Penelitian Ilmu Humaniorahttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpih/article/view/21084FAKTOR FAKTOR PENGHAMBAT KESEJAHTERAAN PETANI SAWAH DI DESA TOMOK KECAMATAN SIMANINDO KABUPATEN SAMOSIR2026-04-16T09:11:38+00:00Ester H Sitindaonesterhizkyatindaon@gmail.comRanda Putra Kasea Sinagarandasinaga@usu.ac.id<p>Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan faktor-faktor penghambat kesejahteraan petani di Desa Tomok, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir. Populasi dalam penelitian ini adalah petani padi. Metode pengambilan sampel dilakukan dengan teknik random sampling sederhana terhadap 3 (tiga) orang petani, serta beberapa sumber yang terlibat dalam factor eksternal. Data yang diperoleh dalam penelitian ini dianalisis secara deskriptif kualitatif. Faktor penghambat kesejahteraan petani padi di Desa Sangia Makmur adalah variabel jumlah anggota keluarga, luas lahan, dan pinjaman modal yang memiliki korelasi signifikan dengan kesejahteraan. Berdasarkan hasil pembahasan mengenai hubungan faktor penghambat kesejahteraan terhadap kesejahteraan petani padi sawah di Desa Tomok, dapat disimpulkan bahwa kesejahteraan petani padi di desa ini dapat dikategorikan sebagai berada di garis kemiskinan. Namun, beberapa petani masih menghadapi kendala seperti tingginya jumlah tanggungan keluarga, pinjaman modal, dan luas lahan. Hubungan antara faktor penghambat kesejahteraan petani padi sawah di Desa Tomok menunjukkan bahwa factor internal seperti jumlah tanggungan keluarga, jenjang pendidikan, factor usia produktif, serta nilai jual hasil panen mempengaruhi kehidupan kesejahteraan petani sawah. Begitupun juga factor eksternal dari pendampingan PPL serta bantuan dari kepala desa berpengaruh terhadap advokasi pelaksanaan praktik pertanian di Desa Tomok.</p> <p><em>The purpose of this research is to identify the factors that hinder the welfare of farmers in Tomok Village, Simanindo Subdistrict, Samosir Regency. The population in this study consists of rice farmers. The sampling method used was simple random sampling involving three (3) farmers, as well as several sources related to external factors. The data obtained in this study were analyzed using qualitative descriptive methods. The inhibiting factors affecting the welfare of rice farmers in Sangia Makmur Village are the number of family members, land area, and capital loans, all of which have a significant correlation with welfare. Based on the discussion of the relationship between the inhibiting factors and the welfare of rice farmers in Tomok Village, it can be concluded that the welfare of rice farmers in this village is generally at the poverty line. However, some farmers still face challenges such as a high number of dependents, capital loans, and limited land area. The relationship between the inhibiting factors and the welfare of rice farmers in Tomok Village indicates that internal factors such as the number of dependents, level of education, productive age, and the selling price of harvests affect the livelihood and welfare of rice farmers. Likewise, external factors such as agricultural extension support (PPL) and assistance from the village head influence the advocacy and implementation of farming practices in Tomok Village.</em></p>2026-04-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Penelitian Ilmu Humaniorahttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpih/article/view/20816KERAJAAN GOWA-TALLO DALAM SEJARAH INDONESIA MASA ISLAM: ISLAMISASI, PERDAGANGAN MARITIM, DAN DINAMIKA KEKUASAAN ABAD XVII2026-04-04T13:33:56+00:00Flora Elsita Perdosielsitaflora@gmail.comKristiani Della Magdalena Nauli Manurungkristianimannnurung12@gmail.comRizka Afaniriskabb52@gmail.comZuhro Tamnanna Daulayzuhrotamannadaulay12@gmail.comCitra Anggraini Sihalohoanggrainicitra597@gmail.comPristi Suhendro Lukitoyosuhendropristi1@gmail.com<p>Artikel ini membahas Kerajaan Gowa-Tallo sebagai salah satu kerajaan Islam terpenting di kawasan timur Nusantara dalam konteks Sejarah Indonesia Masa Islam. Fokus kajian diarahkan pada proses terbentuknya Gowa-Tallo sebagai kerajaan kembar, masuk dan berkembangnya Islam, peran elite kerajaan dan saudagar Melayu dalam islamisasi, perkembangan Gowa-Tallo sebagai pusat perdagangan maritim melalui Pelabuhan Somba Opu, serta dinamika politik kerajaan hingga kemundurannya akibat konflik dengan VOC. Penulisan ini menggunakan metode studi pustaka dengan pendekatan deskriptif-historis melalui pengkajian berbagai jurnal, artikel ilmiah, dan dokumen pendukung yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa Gowa-Tallo berkembang dari kekuatan lokal menjadi kesultanan Islam yang berpengaruh setelah Islam resmi diterima pada awal abad ke-17. Perkembangan tersebut didukung oleh jaringan perdagangan, dakwah ulama, keterbukaan terhadap pedagang asing, dan kebijakan pemerintahan yang memperkuat posisi Makassar sebagai bandar niaga internasional. Di samping itu, Gowa-Tallo juga berperan penting dalam penyebaran Islam ke wilayah lain di Indonesia timur. Namun, dominasi politik dan ekonomi kerajaan mengalami kemunduran setelah tekanan VOC dan lahirnya Perjanjian Bongaya yang sangat merugikan pihak Gowa-Tallo. Dengan demikian, Kerajaan Gowa-Tallo menempati posisi penting dalam sejarah perkembangan Islam, politik, dan perdagangan maritim di Indonesia.</p> <p><em>This article discusses the Gowa-Tallo Kingdom as one of the most important Islamic kingdoms in the eastern part of the Indonesian archipelago in the context of Indonesian History during the Islamic Era. The focus of the study is directed at the process of the formation of Gowa-Tallo as a twin kingdom, the entry and development of Islam, the role of the royal elite and Malay merchants in Islamization, the development of Gowa-Tallo as a maritime trade center through Somba Opu Port, and the political dynamics of the kingdom until its decline due to conflict with the VOC. This writing uses a literature study method with a descriptive-historical approach through the review of various journals, scientific articles, and relevant supporting documents. The results of the study show that Gowa-Tallo developed from a local power into an influential Islamic sultanate after Islam was officially accepted in the early 17th century. This development was supported by trade networks, preaching by ulama, openness to foreign traders, and government policies that strengthened Makassar's position as an international trading port. In addition, Gowa-Tallo also played an important role in the spread of Islam to other regions in eastern Indonesia. However, the kingdom's political and economic dominance declined following pressure from the Dutch East India Company (VOC) and the Treaty of Bongaya, which severely disadvantaged Gowa-Tallo. Thus, the Gowa-Tallo Kingdom holds a crucial position in the history of Islam, politics, and maritime trade in Indonesia.</em></p>2026-04-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Penelitian Ilmu Humaniorahttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpih/article/view/21010FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB PENYALAHGUNAAN NAPZA DI PUSAT REHABILITASI YAYASAN IPWL NAZAR2026-04-14T03:24:08+00:00Roihan Ramadhanrezarevino6@gmail.comAgus Suriadiagus4@usu.ac.id<p>Penyalahgunaan NAPZA merupakan permasalahan sosial yang terus meningkat dan berdampak pada aspek fisik, psikologis, sosial, hingga spiritual individu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis faktor-faktor yang menyebabkan penyalahgunaan NAPZA pada residen yang menjalani rehabilitasi di Pusat Rehabilitasi Yayasan IPWL Nazar Provinsi Sumatera Utara. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif, melalui wawancara mendalam, observasi langsung, dan dokumentasi. Informan dalam penelitian ini terdiri dari Ketua Yayasan sebagai informan kunci, empat residen sebagai informan utama, serta satu anggota keluarga sebagai informan tambahan, yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyalahgunaan NAPZA dipicu oleh faktor internal dan eksternal yang saling berkaitan. Faktor internal meliputi rasa ingin tahu, kondisi emosional yang labil, serta ketidakmampuan individu mengendalikan diri terhadap tekanan hidup. Sementara faktor eksternal mencakup pengaruh teman sebaya, lingkungan pergaulan yang bebas, keluarga yang tidak harmonis dan minim pengawasan, serta mudahnya akses terhadap narkotika di lingkungan tempat tinggal. Penelitian juga menemukan bahwa dinamika keluarga, lemahnya komunikasi, serta ketidakhadiran figur pengasuhan yang memadai memperkuat kerentanan residen terhadap perilaku penyalahgunaan. Selain itu, program rehabilitasi yang dijalankan IPWL Nazar meliputi konseling, edukasi, pembinaan spiritual, dan forum silaturahmi memiliki peran penting dalam membantu proses pemulihan serta mencegah kekambuhan. Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa penyalahgunaan NAPZA merupakan perilaku yang terbentuk dari interaksi antara kondisi psikologis individu dan pengaruh lingkungan sosial. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu Kesejahteraan Sosial serta menjadi masukan bagi lembaga rehabilitasi dalam meningkatkan efektivitas program pencegahan dan pemulihan penyalahguna NAPZA.</p> <p><em>Drug abuse (NAPZA) remains a serious social issue with increasing prevalence and significant impacts on individuals’ physical, psychological, social, and spiritual well being. This study aims to identify and analyze the factors that contribute to drug abuse among residents undergoing rehabilitation at the IPWL Nazar Rehabilitation Center in North Sumatra. Using a qualitative descriptive method, data were collected through indepth interviews, direct observations, and documentation. The informants consisted of the Head of the Foundation as the key informant, four residents as main informants, and one family member as an additional informant, selected through purposive sampling. The findings show that drug abuse is influenced by interrelated internal and external factors. Internal factors include curiosity, emotional instability, and an inability to cope with stress and life pressures. External factors consist of peer influence, a permissive social environment, dysfunctional family conditions with minimal communication and supervision, as well as the easy availability of narcotics in the community. The study also reveals that weak family dynamics, lack of parental presence, and poor emotional support increase residents’ vulnerability to drug abuse. Additionally, the rehabilitation programs implemented at IPWL Nazar including counseling, education, spiritual guidance, and post rehabilitation support groups play an important role in the recovery process and in preventing relapse. Overall, this study concludes that drug abuse arises from the interaction between individual psychological conditions and social environmental influences. The results are expected to contribute to the development of Social Welfare Science and provide practical input for rehabilitation institutions in improving their prevention and recovery programs for drug users.</em></p>2026-04-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Penelitian Ilmu Humaniora