Jurnal Penelitian Ilmu Humaniora https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpih id-ID Jurnal Penelitian Ilmu Humaniora PERAN KELUARGA ANAK JALANAN DALAM PENDIDIKAN ANAK DI KELURAHAN TIMBANG DELI KECAMATAN MEDAN AMPLAS KOTA MEDAN https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpih/article/view/20409 <p>Keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama dan utama bagi anak, karena mereka menerima bimbingan, pendidikan, dan pengaruh yang mendalam. Keluarga berperan penting dalam membentuk karakter, nilai, dan perilaku anak, serta menjadi landasan bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Namun, kemiskinan dan pendidikan merupakan dua aspek yang saling terkait dalam menentukan kesejahteraan masyarakat. Keterbatasan ekonomi dapat menghambat akses terhadap pendidikan yang berkualitas, sehingga memperburuk kondisi kemiskinan. Dalam mendalami peran keluarga di kelurahan timbang deli dalam medalami permasalahan dalam teori Menurut Friedman 2020 peran keluarga dapat diklasifikasi menjadi dua kategori, yaitu peran formal dan peran informal. Pendidikan adalah tanggung jawab Bersama antara keluarga, Masyarakat dan pemerintah. Adapun ruang lingkup Pendidikan, meliputi Joko Sutarto, 2007 dikategorikan menjadi tiga pendidikan informal, pendidikan formal, dan pendidikan non formal. Jenis penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan teknik pengumpulan data yakni wawancara (interview), pengamatan (observasi), dan dokumen. Analisis data yang digunakan dalam penelitian meliputi: Pengumpulan Data, Reduksi Data, Penyajian Data dan Kesimpulan Data. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa peranan keluarga merupakan suatu hal yang menjadi bagian penting bagi seluruh anggota keluarga. Keluarga memiliki peran yang penting dalam pembentukan perilaku, karakter dan perkembangan emosional anak, maka oleh sebab itu diharapkan keluarga mampu menjalankan fungsinya dengan baik yaitu dengan memenuhi kebutuhan anak baik secara fisik maupun psikis dengan baik. Pembentukan perilaku seorang anak tercipta dari lingkungan keluarga terlebih dahulu sehingga sebagai orang tua dalam memperlakukan anaknya harus ada rasa percaya yang ditimbulkan dari perilaku di kehidupan sehari-hari. Dalam pelaksanaanya semua anggota keluarga memiliki peran dan fungsi dalam pendidikan akhlak anak yang bisa tercapai secara optimal ketika peran keluarga dilakukan dengan maksimal agar selaras. Namun kemiskinan dan kondisi perekonomian keluarga anak jalanan menjadi penghambat mereka untuk menempuh pendidikan yang lebih layak.</p> <p><em>Families are the first and foremost educational environment for children, as they receive profound guidance, education, and influence. Families play an important role in shaping the child's character, values, and behavior and becoming the foundation for the child's growth and development. However, poverty and education are two related aspects of determining public welfare. Economic limitations can hinder access to quality education, thus exacerbating poverty. In deepening the role of the family in families consideration the issue in theories according to friedman 2020, the role of the family can be classified into two categories, those of formal and informal roles. Education is a Shared responsibility between family, community and government. As for the scope of education, including joko sutarto, 2007 is categorized as three informal education, formal education, and non formal education. This type of research is qualitative with the data-collection techniques of interviews, observations, and documents. The data analysis used in research includes: data collection, data reduction, data presentation and data conclusion. he results of this study may be concluded that the role of the family is an important part of all family members. As families play an important role in shaping a child's behavior, character and emotional development, it is therefore expected that the family will be able to function well enough to provide for the child's needs both physically and psychologically. A child’s formative behavior is created from the family circle in the first place so that asa parent it is necessary to treat a child to have confidence that behavior in the everyday life entails. The performance of all family members has an role and function in child sexual education that can be achieved optimally when the roles of the family are done to harmonize. Yet the poverty and economic conditions of street children are a hindrance to better education.</em></p> Gaberiel Riskia Surbakti Husni Thamrin Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Penelitian Ilmu Humaniora 2026-03-31 2026-03-31 9 3 ANALISIS KONDISI SOSIAL MAHASISWA PENERIMA PROGRAM KIP KULIAH DALAM PERSPEKTIF DRAMATURGI DI FISIP USU https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpih/article/view/20474 <p>Penelitian ini menganalisis kondisi sosial mahasiswa penerima Program Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sumatera Utara (USU) dalam perspektif dramaturgi Erving Goffman. Program KIP Kuliah, sebagai bentuk jaminan sosial pendidikan, bertujuan untuk mengatasi ketimpangan akses pendidikan tinggi bagi mahasiswa dari keluarga kurang mampu. Namun, di balik bantuan finansial, mahasiswa seringkali menghadapi dinamika sosial yang kompleks, termasuk stigma dan ekspektasi lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana mahasiswa mengelola peran sosial mereka di ruang publik kampus (<em>front stage</em>) dan di ruang privat (<em>back stage</em>), serta mengidentifikasi tantangan sosial yang mereka hadapi. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis deskriptif-analitik dan paradigma interpretatif, penelitian ini melibatkan lima informan mahasiswa penerima KIP Kuliah di FISIP USU yang dipilih melalui <em>purposive sampling</em> hingga mencapai saturasi data. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi. Analisis data menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldana, sementara keabsahan data dijamin melalui triangulasi sumber, <em>member check</em>, <em>peer debriefing</em>, dan <em>audit trail</em>. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa penerima KIP Kuliah secara aktif terlibat dalam "pertunjukan" sosial yang kompleks. Di <em>front stage</em>, mereka menampilkan citra mandiri, berprestasi, dan "normal" untuk menghindari stigma dan memenuhi ekspektasi sosial, seringkali melalui strategi <em>impression management</em> seperti penyamaran status ekonomi dan penonjolan prestasi akademik. Sebaliknya, di <em>back stage</em>, mereka mengungkapkan realitas ekonomi dan psikologis yang lebih rentan, seperti kesulitan pengelolaan dana dan tekanan untuk mempertahankan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) agar beasiswa tidak dicabut. Stigma sosial, meskipun tidak selalu dialami secara langsung, tetap menjadi kekhawatiran yang mempengaruhi perilaku mereka, termasuk kehati-hatian dalam penampilan di media sosial. Meskipun demikian, ditemukan pula adanya solidaritas dan komunitas informal yang menjadi sumber dukungan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa KIP Kuliah, meskipun sangat membantu secara finansial, menciptakan beban sosial-psikologis yang memerlukan perhatian lebih. Implikasi temuan ini menekankan perlunya peningkatan seleksi dan pengawasan program, penyediaan dukungan psikososial yang komprehensif, pendidikan anti-stigma di lingkungan kampus, serta peningkatan transparansi dan perlindungan privasi bagi penerima. Secara teoritis, penelitian ini memperkaya penerapan dramaturgi Goffman dalam konteks kebijakan sosial, menunjukkan bahwa mahasiswa bukan hanya penerima pasif, melainkan aktor sosial reflektif yang menunjukkan ketahanan luar biasa dalam menavigasi realitas sosial yang kompleks.</p> <p><em>This study analyses the social conditions of students receiving the Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah Programme at the Faculty of Social and Political Sciences (FISIP), University of Sumatera Utara (USU), from Erving Goffman's dramaturgical perspective. The KIP Kuliah Programme, as a form of social welfare in education, aims to address inequalities in access to higher education for students from underprivileged families. However, beyond financial assistance, students often face complex social dynamics, including stigma and environmental expectations. This research aims to understand how students manage their social roles on the campus's front stage and in their back stage private spaces, as well as to identify the social challenges they encounter. Employing a qualitative approach with a descriptive-analytic type and an interpretive paradigm, this study involved five student informants receiving KIP Kuliah at FISIP USU, selected through purposive sampling until data saturation was achieved. Data collection was conducted through in-depth interviews, participant observation, and documentation studies. Data analysis utilised Miles, Huberman, and Saldana's interactive model, while data trustworthiness was ensured through source triangulation, member checks, peer debriefing, and an audit trail. The findings indicate that KIP Kuliah recipient students actively engage in complex social "performances". On the front stage, they present themselves as independent, high-achieving, and "normal" individuals to avoid stigma and meet social expectations, often through impression management strategies such as disguising their economic status and highlighting academic achievements. Conversely, on the back stage, they reveal more vulnerable economic and psychological realities, such as difficulties in managing funds and pressure to maintain their Grade Point Average (GPA) to prevent scholarship revocation. Social stigma, though not always directly experienced, remains a concern influencing their behaviour, including caution in their social media presence. Nevertheless, solidarity and informal communities were also found to be sources of support. This research concludes that KIP Kuliah, while financially very helpful, creates a psychosocial burden that requires more attention. The implications of these findings highlight the need for improved programme selection and oversight, comprehensive psychosocial support, anti-stigma education within the campus environment, and enhanced transparency and privacy protection for recipients. Theoretically, this study enriches the application of Goffman's dramaturgical theory in the context of social policy, demonstrating that students are not merely passive recipients but reflective social actors who exhibit remarkable resilience in navigating complex social realities. </em></p> Harrys Cristian Vieri Randa Putra Kasea Sinaga Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Penelitian Ilmu Humaniora 2026-03-31 2026-03-31 9 3 ANALISIS DAMPAK KEKERASAN TERHADAP ANAK DALAM KELUARGA PADA KONDISI PSIKOSOSIAL ANAK https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpih/article/view/20658 <p>Kekerasan terhadap anak dalam keluarga merupakan permasalahan sosial yang berdampak serius terhadap perkembangan psikososial anak. Anak yang seharusnya memperoleh perlindungan dan kasih sayang justru berisiko mengalami gangguan emosional dan sosial ketika keluarga menjadi pelaku kekerasan. Data dari (UNICEF, 2023) menunjukkan bahwa kekerasan terhadap anak masih menjadi isu global, sementara laporan dari (Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, 2024) mengungkapkan bahwa sebagian besar kasus terjadi dalam lingkup keluarga di Indonesia.Artikel ini bertujuan untuk menganalisis dampak kekerasan dalam keluarga terhadap perkembangan psikososial anak. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan menelaah berbagai sumber ilmiah dan penelitian terbaru tahun 2023–2025. Hasil kajian menunjukkan bahwa kekerasan dalam keluarga berdampak pada munculnya gangguan emosional, rendahnya harga diri, kesulitan adaptasi sosial, serta peningkatan risiko perilaku maladaptif hingga dewasa, sebagaimana dijelaskan oleh (Zastrow, 2023).Kesimpulannya, kekerasan dalam keluarga memiliki pengaruh signifikan terhadap perkembangan psikososial anak dan memerlukan upaya pencegahan serta penanganan yang komprehensif dari keluarga, masyarakat, dan pemerintah.&nbsp;</p> Rachel Aisya Lutfia Yani Achdiani Gina Indah Permata Nastia Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Penelitian Ilmu Humaniora 2026-03-31 2026-03-31 9 3