ANALISIS MENU ANDALIMAN SEBAGAI DAYA TARIK DAN IDENTITAS KULINER DI BINANGA CAFE KABUPATEN TOBA
Kata Kunci:
Andaliman, Identitas Kuliner, Daya Tarik Wisata, Binanga CafeAbstrak
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran menu berbasis andaliman sebagai daya tarik dan identitas kuliner di Binanga Cafe, Kabupaten Toba. Andaliman sebagai rempah khas Batak memiliki cita rasa unik sekaligus nilai budaya yang merepresentasikan identitas masyarakat Batak Toba. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan studi kasus, melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Binanga Cafe berhasil mengolah andaliman ke dalam berbagai inovasi menu makanan dan minuman, sehingga menghadirkan pengalaman kuliner otentik yang membedakan dari kafe lain di kawasan Danau Toba. Konsumen menilai menu berbasis andaliman memiliki cita rasa khas, nilai budaya, serta daya tarik yang mendorong kunjungan ulang. Strategi diferensiasi dan promosi yang dilakukan tidak hanya memperkuat citra usaha, tetapi juga berkontribusi pada pelestarian budaya lokal dan pengembangan pariwisata berbasis kuliner di Kabupaten Toba.
This study aims to analyze the role of andaliman-based menus as a culinary attraction and cultural identity at Binanga Cafe, Toba Regency. Andaliman, a traditional Batak spice, has a distinctive flavor and cultural value that represents the identity of the Batak Toba community. This research employed a descriptive qualitative method with a case study approach through observation, interviews, and documentation. The results show that Binanga Cafe successfully incorporated andaliman into various innovative food and beverage menus, creating an authentic culinary experience that differentiates it from other cafés around Lake Toba. Consumers perceived the andaliman-based menus as having unique taste, cultural value, and strong appeal that encouraged repeat visits. The differentiation and promotion strategies implemented not only strengthened the café’s image but also contributed to the preservation of local culture and the development of culinarybased tourism in Toba Regency.



