MODERASI BERAGAMA DALAM KURIKULUM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI PERGURUAN TINGGI
Kata Kunci:
Moderasi Beragama, Pendidikan Agama Islam, Kurikulum, Perguruan Tinggi, Generasi ZAbstrak
Fenomena globalisasi, perkembangan teknologi digital, serta dinamika sosial-politik kontemporer telah membawa dampak signifikan terhadap pola pikir dan praktik keberagamaan mahasiswa di perguruan tinggi. Akses informasi yang luas melalui media digital membuka peluang bagi pengayaan pengetahuan keagamaan, namun sekaligus menghadirkan tantangan berupa munculnya intoleransi, radikalisme, dan polarisasi identitas keagamaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis urgensi integrasi moderasi beragama dalam kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) di perguruan tinggi, menelaah realitas implementasi kurikulum PAI yang ada, serta mengkaji strategi pengembangan kurikulum yang relevan dengan karakteristik mahasiswa Generasi Z. Melalui pendekatan kualitatif berbasis studi pustaka, penelitian ini menemukan bahwa kurikulum PAI di sebagian besar perguruan tinggi masih bersifat normatif dan tekstual, dengan penekanan pada hafalan dan doktrin keagamaan. Kondisi ini belum sepenuhnya menjawab kebutuhan mahasiswa Generasi Z yang kritis, adaptif terhadap teknologi, dan terbiasa dengan interaksi global. Oleh karena itu, integrasi moderasi beragama dalam kurikulum menjadi langkah strategis untuk menanamkan nilai-nilai toleransi, pluralisme, keadilan, dan kemanusiaan. Strategi yang dapat dilakukan meliputi penguatan materi ajar yang kontekstual, penerapan metode pembelajaran partisipatif seperti project-based learning dan experiential learning, serta pemanfaatan teknologi digital dan media sosial sebagai sarana internalisasi nilai moderasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi moderasi beragama berdampak positif terhadap pembentukan karakter mahasiswa Generasi Z. Mahasiswa yang memperoleh pendidikan agama berbasis moderasi lebih mampu berpikir kritis, memiliki literasi digital keagamaan yang baik, serta bersikap inklusif dan toleran dalam menghadapi keragaman. Dalam jangka panjang, kurikulum PAI berbasis moderasi dapat melahirkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berperan sebagai agen perdamaian, penjaga harmoni sosial, serta penggerak Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Dengan demikian, integrasi moderasi beragama dalam kurikulum PAI di perguruan tinggi merupakan kebutuhan mendesak sekaligus strategi penting dalam membangun masyarakat multikultural yang damai dan berkeadilan.
The phenomena of globalization, digital technology development, and contemporary socio-political dynamics have significantly influenced the mindset and religious practices of university students. The wide access to information through digital media provides opportunities for enriching religious knowledge, but at the same time poses challenges in the form of intolerance, radicalism, and religious identity polarization. This study aims to analyze the urgency of integrating religious moderation into the Islamic Religious Education (PAI) curriculum in higher education, examine the reality of the existing curriculum implementation, and explore strategies for curriculum development relevant to the characteristics of Generation Z students. Using a qualitative approach with a literature study method, this research reveals that the current PAI curriculum in most universities remains normative and textual, focusing on rote learning and doctrinal teachings. Such an approach has not sufficiently addressed the needs of Generation Z, who are critical, technologically adaptive, and globally connected. Therefore, integrating religious moderation into the curriculum becomes a strategic step to instill values of tolerance, pluralism, justice, and humanity. Strategies include strengthening contextual teaching materials, applying participatory learning methods such as project-based learning and experiential learning, as well as utilizing digital technology and social media as instruments for internalizing the values of moderation. The findings show that implementing religious moderation has a positive impact on shaping the character of Generation Z students. Students who receive Islamic education based on moderation are more capable of critical thinking, possess better digital religious literacy, and demonstrate inclusive and tolerant attitudes in facing diversity. In the long term, a moderation-based PAI curriculum can produce graduates who are not only academically competent but also serve as peace agents, social harmony guardians, and promoters of Islam as rahmatan lil ‘alamin. Thus, integrating religious moderation into the PAI curriculum in higher education is both an urgent necessity and a strategic effort in building a multicultural society that is peaceful and just.



