KEPEMIMPINAN MELAYU: ANALISIS TERHADAP NILAI DAN PRAKTIK

Penulis

  • Daniatul Maghfiroh UIN Suska Riau
  • Isma Fatonah UIN Suska Riau
  • Mila Sebmi Angglepi UIN Suska Riau
  • Ellya Roza UIN Suska Riau

Kata Kunci:

Kepemimpinan Melayu, Adat, Syarak, Amanah, Nilai Tradisional

Abstrak

Kepemimpinan Melayu dipandang sebagai sebuah amanah yang berlandaskan pada perpaduan adat istiadat dan ajaran Islam. Pemimpin diibaratkan sebagai nahkoda yang mengarahkan rakyat menuju tujuan dengan selamat, sehingga dituntut memiliki kecerdasan, keteladanan, kejujuran, serta kemampuan mengoptimalkan potensi masyarakat. Nilai dasar kepemimpinan ini mencakup sifat amanah, siddiq, fathanah, dan tabligh, yang menegaskan bahwa kepemimpinan bukan sekadar urusan duniawi, tetapi juga amanah ukhrawi yang kelak dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Dalam praktik sosial, pemimpin Melayu berperan sebagai pengayom, teladan, dan pelindung rakyat dengan menjadikan adat dan syarak sebagai pedoman utama. Namun, arus modernisasi dan globalisasi menghadirkan tantangan baru berupa melemahnya pemahaman adat, munculnya sikap pragmatis, dan berkurangnya wibawa pemimpin. Oleh sebab itu, revitalisasi kepemimpinan berbasis adat dan syarak sangat diperlukan agar tetap relevan, dipercaya, serta mampu menjaga identitas budaya Melayu di tengah perubahan zaman.

Malay leadership is viewed as a mandate based on a combination of customs and Islamic teachings. Leaders are likened to captains who guide the people safely toward their destination, and are therefore required to possess intelligence, exemplary character, honesty, and the ability to optimize the potential of the community. The basic values of this leadership include trustworthiness, sincerity, wisdom, and communication, which emphasize that leadership is not merely a worldly matter, but also a spiritual mandate that will be accounted for before Allah SWT. In social practice, Malay leaders act as guardians, role models, and protectors of the people, using customs and Islamic law as their main guidelines. However, the currents of modernization and globalization present new challenges in the form of a weakening understanding of customs, the emergence of pragmatic attitudes, and a decline in the authority of leaders. Therefore, the revitalization of leadership based on customs and syarak is essential in order to remain relevant, trusted, and capable of preserving the Malay cultural identity amid changing times.

Unduhan

Diterbitkan

2025-10-30