INTENSITAS PENGGUNAAAN MEDIA SOSIAL DENGAN KESEHATAN MENTAL PADA REMAJA DI KOTA PALEMBANG
Kata Kunci:
Media Sosial, Intensitas Penggunaan, Kesehatan Mental, RemajaAbstrak
This study aims to understand the relationship between social media usage frequency and the mental health of adolescents living in Palembang City. The approach used in this study was qualitative with a descriptive focus, involving three participants recruited through purposive sampling. Data were obtained through in-depth interviews, observations, and literature review.The results indicate that social media usage plays a significant role in adolescents' lives, with high levels of usage leading to a tendency toward dependency and a fear of missing out (FOMO). Psychologically, adolescents experienced a variety of emotions, including anxiety, confusion, frustration, and exhaustion, although they still felt social support and happiness through online interactions. These results indicate that social media has conflicting effects: providing benefits as a communication tool and a means of self-expression, but also causing emotional distress when used excessively. This study emphasizes the importance of digital literacy, supervision from family and school environments, and adolescents' skills in managing social media use in a balanced manner to ensure mental health.
Penelitian ini bertujuan untuk memahami keterkaitan antara seberapa sering media sosial digunakan dengan kesehatan mental remaja yang tinggal di Kota Palembang. Pendekatan yang diterapkan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan fokus deskriptif, melibatkan tiga orang partisipan yang diambil melalui teknik purposive sampling. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi literatur.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan media sosial memainkan peran signifikan dalam kehidupan para remaja, di mana tingkat penggunaan yang tinggi mengarah pada kecenderungan ketergantungan serta rasa takut ketinggalan (FOMO). Dari segi psikologis, remaja mengalami variasi emosi, termasuk kecemasan, kebingungan, frustrasi, dan kelelahan, meskipun mereka tetap merasakan dukungan sosial dan kebahagiaan melalui interaksi secara daring. Hasil ini menandakan bahwa media sosial memberikan dampak yang bertentangan menyediakan manfaat sebagai alat komunikasi dan sarana ekspresi diri, namun juga dapat menyebabkan tekanan emosional ketika digunakan secara berlebihan. Studi ini menekankan signifikansi literasi digital, pengawasan dari lingkungan keluarga dan sekolah, serta keterampilan remaja dalam mengatur penggunaan media sosial secara seimbang untuk memastikan kesehatan mental tetap terjaga.



