PRODUKSI FILM DOKUMENTER TRASFORMASI RATOK BAWAK DARI RITUAL ADAT KE PERTUNJUKAN SENI
Kata Kunci:
Ratok Bawak, Transformasi Budaya, Film DokumenterAbstrak
Skripsi penciptaan karya seni ini mengangkat fenomena transformasi budaya pada tradisi Ratok Bawak di Nagari Bukik Limbuku, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Ratok Bawak pada awalnya merupakan ritual kematian sakral yang dikhususkan bagi Raja, yang ditandai dengan ratapan pilu dan hentakan kaki di atas kulit kerbau (bawak). Namun, pelaksanaan ritual ini terhenti total pada tahun 1968 akibat putusnya garis keturunan raja dan adanya benturan dengan syariat Islam yang melarang praktik meratapi jenazah (niyahah). Sejak tahun 1983, tradisi ini mengalami alih wahana menjadi seni pertunjukan yang dikenal sebagai Tari Rantak Bawak demi tujuan pelestarian. Penciptaan film dokumenter ini bertujuan untuk merekam jejak historis dan proses transformasi tersebut sebagai media edukasi dan arsip budaya. Metode penciptaan yang digunakan adalah metode produksi film dokumenter dengan pendekatan gaya expository. Gaya ini dipilih untuk membangun argumentasi yang logis dan informatif melalui penggunaan narasi (voice over) yang memandu penonton memahami fakta sejarah, didukung oleh visual reka adegan (reenactment), wawancara mendalam dengan tokoh adat, dan dokumentasi tari kontemporer. Landasan teori yang digunakan meliputi teori film dokumenter (Bill Nichols) dan teori transformasi budaya (Edi Setiawati). Hasil dari penciptaan ini adalah sebuah film dokumenter berdurasi ±16 menit yang memvisualisasikan perjalanan Ratok Bawak dari ranah sakral ke ranah profan. Karya ini menyimpulkan bahwa transformasi budaya bukanlah bentuk pengikisan nilai, melainkan strategi adaptasi masyarakat Minangkabau untuk mempertahankan identitas lokal di tengah tuntutan agama dan modernisasi. Film ini diharapkan dapat menjadi referensi visual bagi generasi muda dan berkontribusi pada pelestarian Warisan Budaya Takbenda Indonesia.
This art creation thesis explores the cultural transformation phenomenon of the Ratok Bawak tradition in Nagari Bukik Limbuku, Lima Puluh Kota Regency, West Sumatra. Ratok Bawak was originally a sacred death ritual exclusively for the King, characterized by mournful wailing and stomping on buffalo skin (bawak). However, the ritual ceased completely in 1968 due to the extinction of the king's lineage and conflicts with Islamic law prohibiting excessive wailing (niyahah). Since 1983, this tradition has been transformed into a performing art known as Tari Rantak Bawak for preservation purposes.This documentary film aims to record the historical traces and the transformation process as an educational medium and cultural archive. The creation method used is documentary film production with an expository style approach. This style was chosen to build logical and informative arguments through the use of narration (voice-over) that guides the audience in understanding historical facts, supported by visual reenactments, in-depth interviews with traditional leaders, and contemporary dance documentation. The theoretical foundation includes documentary film theory (Bill Nichols) and cultural transformation theory (Edi Setiawati).The result of this creation is a ±16-minute documentary film visualizing the journey of Ratok Bawak from the sacred to the profane realm. This work concludes that cultural transformation is not an erosion of values, but rather an adaptation strategy of the Minangkabau society to maintain local identity amidst religious and modernization demands. This film is expected to serve as a visual reference for the younger generation and contribute to the preservation of Indonesia's Intangible Cultural Heritage.



