ANALISIS FEMINISME SASTRA DALAM CERPEN "TIURMAIDA" KARYA HASAN AL BANNA
Kata Kunci:
Feminisme, Cerpen Indonesia, Hasan Al Banna, Tiurmaida, Patriarki, Emansipasi PerempuanAbstrak
Artikel ini menganalisis cerpen "Tiurmaida" karya Hasan Al Banna melalui perspektif kritik sastra feminisme, dengan fokus pada representasi perjuangan perempuan dalam menghadapi tekanan patriarki dan sistem sosial yang opresif. Menggunakan teori feminisme liberal, feminisme sosial, dan feminisme marxis, penelitian ini mengeksplorasi bagaimana tokoh utama Tiurmaida mencerminkan resistensi terhadap norma patriarki, subordinasi perempuan, dan pencarian identitas diri di tengah penderitaan. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan struktural feminisme. Analisis dilakukan terhadap unsur intrinsik cerpen yang merepresentasikan penindasan gender, kekerasan simbolik, dan perjuangan emansipasi perempuan. Hasil kajian menunjukkan bahwa cerpen ini mengkritik struktur sosial dan budaya Batak yang membatasi kebebasan perempuan melalui praktik adat seperti larangan mangidolong (meminta cerai), tekanan untuk menikah lagi, dan beban ganda sebagai istri yang merawat suami sakit jiwa sekaligus pencari nafkah. Tiurmaida digambarkan sebagai sosok perempuan yang tangguh namun terperangkap dalam sistem patriarki yang eksploitatif, di mana ia harus bekerja keras memecah batu sambil menanggung stigma sosial dan pengabaian keluarga. Penelitian ini berkontribusi pada kajian sastra feminis Indonesia kontemporer dengan mengungkap bagaimana sastra dapat menjadi medium kritik sosial terhadap ketidakadilan gender dalam masyarakat tradisional.
This article analyzes the short story "Tiurmaida" by Hasan Al Banna through the perspective of feminist literary criticism, focusing on the representation of women's struggles against patriarchal pressure and oppressive social systems. Using liberal feminism, social feminism, and Marxist feminism theories, this research explores how the main character Tiurmaida reflects resistance to patriarchal norms, women's subordination, and the search for self-identity amid suffering. The research method used is descriptive qualitative with a structural feminist approach. The analysis examines intrinsic elements of the short story that represent gender oppression, symbolic violence, and women's emancipation struggles. The findings show that this short story critiques Batak social and cultural structures that limit women's freedom through customary practices such as the prohibition of mangidolong (requesting divorce), pressure to remarry, and the double burden as a wife caring for a mentally ill husband while being the breadwinner. Tiurmaida is portrayed as a resilient woman trapped in an exploitative patriarchal system, where she must work hard breaking stones while bearing social stigma and family neglect. This research contributes to contemporary Indonesian feminist literary studies by revealing how literature can serve as a medium for social criticism of gender injustice in traditional society.



