INTEGRASI FIQIH LINGKUNGAN DAN KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT BLIMBING MALANG DALAM MENGHADAPI BANJIR

Penulis

  • Khabibah Maharani Universitas Al Qolam Malang
  • Aulia Rohmataz Zubaidah Universitas Al Qolam Malang
  • Marzelia Faida Rahma Universitas Al Qolam Malang
  • Muhammad Rohid Universitas Al Qolam Malang

Kata Kunci:

Mitigasi Banjir, Lubang Resapan Biopori, Modal Sosial, Fikih Lingkungan, Kearifan Lokal

Abstrak

Pertumbuhan pesat Kota Malang telah memicu banjir lintasan di Kecamatan Blimbing akibat alih fungsi lahan yang masif. Kondisi ini mendesak adanya evaluasi terhadap mitigasi infrastruktur keras berbasis pompa yang terbukti hanya bersifat reaktif dan kurang efektif. Penelitian ini menawarkan model mitigasi terpadu melalui pendekatan kualitatif fenomenologi yang mengintegrasikan kearifan lokal sambatan, modal sosial berbasis pengajian, dan wawasan Fikih Lingkungan. Temuan menunjukkan adanya modal sosial pengikat (bonding social capital) yang kuat di masyarakat, yang menjadi landasan strategis untuk merekomendasikan transisi dari penggunaan pompa air menuju pembuatan Lubang Resapan Biopori (LRB). Secara teologis, penerapan biopori direkonstruksi menggunakan perspektif Yusuf al-Qaradhawi sebagai manifestasi prinsip Al-'Imarah wa At-Tatsmir (memakmurkan dan mendayagunakan bumi) serta upaya Islah (perbaikan) untuk memulihkan tanah yang mengalami penurunan kualitas fungsi. Studi ini menegaskan bahwa keberlanjutan penanggulangan banjir menuntut sinergi teknologi tepat guna, kearifan lokal, dan nilai spiritual untuk mengubah perilaku adaptasi warga: dari sekadar memompa air sebagai upaya kuratif sementara, menjadi meresapkan air sebagai langkah preventif dan pelestarian.

The rapid urban expansion of Malang City has triggered surface runoff flooding in Blimbing District due to massive land conversion. This condition necessitates a critical re-evaluation of pump-based hard infrastructure mitigation strategies, which have proven to be merely reactive and ineffective. This study proposes an integrated mitigation model using a qualitative phenomenological approach that synthesizes local wisdom (sambatan), faith-based social capital (religious study groups), and insights from Environmental Jurisprudence (Fiqh al-Bi'ah). The findings reveal strong bonding social capital within the community, serving as a strategic foundation for recommending a transition from water pumps to Biopore Infiltration Holes (LRB). Theologically, the implementation of biopores is reconstructed through Yusuf al-Qaradhawi’s perspective as a manifestation of Al-’Imarah wa At-Tatsmir  (prospering and utilizing the earth) and Islah (improvement) to restore soil that has undergone functional degradation. This study emphasizes that sustainable flood management requires the synergy of appropriate technology, local wisdom, and spiritual values to transform community adaptive behavior: from merely pumping water as a temporary curative measure to infiltrating water as a preventive and conservationist approach.

Unduhan

Diterbitkan

2026-01-30