ECHO-CHAMBER DAN ALIENASI DIRI – MENGEMBALIKAN KEAUTENTIKAN DIRI MELALUI KRITIK AGAMA LUDWIG FEUERBACH
Kata Kunci:
Echo-Chamber, Ludwigh Feuerbach, Alienasi Diri, Kritik AgamaAbstrak
Suatu keniscayaan masyarakat modern saat ini adalah fakta pluralisme. Fakta pluralisme ini ditandai oleh lemahnya kekuatan besar terhadap kelompok-kelompok kecil dalam masyarakat. Itu artinya tidak ada hegemoni dalam kehidupan bersama. Setiap kelompok dalam masyarakat mengekspresikan diri dalam kehidupan publik tanpa adanya tekanan atau intervensi dari pihak lain. Penelitian ini pun ditulis untuk mengulas salah satu fenomena yang lahir dari fakta pluralisme tersebut, yaitu fenomena echo-chamber. Selain disokong oleh fakta pluralisme, fenomena echo-chumber juga disokong oleh media sosial dengan kecerdasan algoritmanya. Kecerdasan algoritma dalam media sosial mampu menciptkan polarisasi dalam masyarakat dengan mengkondisikan setiap individu untuk mengikuti kepentingan sepihak. Hal inilah yang dilihat sebagai bahaya alienasi diri dari fenomena echo-chumber. Setiap individu dininabobokan dengan sentiment kelompok atau kepentingan tertentu. Konsekuensinya adalah setiap kritikan, masukan dan saran dari kelompok lain yang berbeda haluan dari kepentingan kelompok sendiri ditolak atau tidak diterima dengan baik. Sebaliknya, segala informasi yang berasal dari kelompok sendiri, kendati tidak benar dianggap sebagai kebenaran yang harus diterima dan dianut. Keadaan alienasi diri seperti ini disandingkan dengan kritik agama dari Ludwig Feuerbach. Feuerbach melihat agama sebagai proyeksi manusia belaka. Agama hanya buah dari pikiran manusia saja. Dengan demikian tujuan kritik agama dari Ludwigh feuerbach adalah untuk mengembalikan manusia kepada kemanusiaannya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Hasil dari penelitan ini adalah kritik agama Feuerbach telah menghasilkan pribadi yang autentik. Pribadi yang autenti memiliki dua arti yaitu sebagai pribadi yang berpikir kritis dan pribadi yang mampu mengambil tindakan atau keputusan secara otonom, tanpa intervensi dari pihak luar. Dengan demikian keadaan dunia bersama dapat ditata dengan baik atau dibangun dengan baik.



