ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PENERAPAN TERAPI HANDICRAFT ‘MERONCE’ TERHADAP MASALAH HALUSINASI PENDENGARAN DI RUANGAN MANDAU 1 RS JIWA TAMPAN PROVINSI RIAU

Penulis

  • Dewi Marsela Institut Kesehatan Payung Negeri Pekanbaru
  • M. Zul'Irfan Institut Kesehatan Payung Negeri Pekanbaru
  • Rina Herniyanti Institut Kesehatan Payung Negeri Pekanbaru
  • Afrida Sriyani Harahap Institut Kesehatan Payung Negeri Pekanbaru

Kata Kunci:

Halusinasi Pendengaran, Terapi Meronce, Terapi Okupasi, EBP

Abstrak

Halusinasi pendengaran merupakan gejala positif yang paling sering ditemukan pada pasien skizofrenia dan dapat berdampak pada perilaku agresif, isolasi sosial, serta penurunan kemampuan fungsi sehari-hari. Penatalaksanaan halusinasi tidak hanya dilakukan secara farmakologis, tetapi juga memerlukan intervensi nonfarmakologis sebagai terapi pendamping. Salah satu intervensi yang dapat diterapkan adalah terapi handicraft “meronce” sebagai bagian dari terapi okupasi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan asuhan keperawatan jiwa berbasis Evidence Based Practice (EBP) melalui terapi meronce terhadap penurunan frekuensi halusinasi pendengaran di Ruangan Mandau 1 RSJ Tampan Provinsi Riau. Metode yang digunakan adalah studi kasus deskriptif dengan diagnosa gangguan persepsi sensori: halusinasi pendengaran. Intervensi dilakukan selama tiga hari, yaitu pada tanggal 18–20 Desember 2025, dengan durasi 30 menit setiap sesi Evaluasi menggunakan menggunakan format buku SAK dan SOAP. Hasil menunjukkan adanya penurunan frekuensi dan intensitas gejala halusinasi setelah penerapan terapi meronce. Pada hari ketiga, kedua pasien melaporkan frekuensi halusinasi berkurang dibandingkan sebelum intervensi, pasien tampak lebih fokus, mampu mengalihkan perhatian dari stimulus internal, serta menunjukkan penurunan perilaku melamun, mondar-mandir, dan berbicara sendiri. Meskipun halusinasi belum sepenuhnya hilang. Disimpulkan bahwa terapi handicraft meronce efektif sebagai intervensi nonfarmakologis pendamping dalam membantu menurunkan frekuensi halusinasi pendengaran. Rekomendasi dari penelitian ini adalah agar terapi meronce dapat dijadikan sebagai salah satu intervensi rutin dalam asuhan keperawatan jiwa di ruang rawat inap, serta dikembangkan lebih lanjut pada.

Auditory hallucinations are the most common positive symptoms found in patients with schizophrenia and can lead to aggressive behavior, social isolation, and decreased ability to perform daily activities. The management of hallucinations is not only carried out pharmacologically but also requires non-pharmacological interventions as complementary therapy. One intervention that can be applied is handicraft therapy “beading” (meronce) as part of occupational therapy. This study aimed to describe the implementation of Evidence-Based Practice (EBP)-based psychiatric nursing care through beading therapy in reducing the frequency of auditory hallucinations in Mandau 1 Ward at RSJ Tampan, Riau Province. The method used was a descriptive case study with the nursing diagnosis of sensory perception disturbance: auditory hallucinations. The intervention was conducted over three days, from December 18–20, 2025, with a duration of 30 minutes for each session. Evaluation was carried out using the SAK and SOAP documentation formats. The results showed a decrease in the frequency and intensity of hallucinatory symptoms after the implementation of beading therapy. On the third day, both patients reported a reduced frequency of hallucinations compared to before the intervention. Patients appeared more focused, were able to divert attention from internal stimuli, and showed a decrease in daydreaming, pacing, and talking to themselves, although the hallucinations had not completely disappeared. It can be concluded that handicraft beading therapy is effective as a complementary non-pharmacological intervention in helping to reduce the frequency of auditory hallucinations. The recommendation from this study is that beading therapy can be implemented as a routine intervention in psychiatric inpatient nursing care and further developed in broader clinical settings.

Unduhan

Diterbitkan

2026-03-30