ZAPIN DALAM PUTARAN WAKTU: SEJARAH PERKEMBANGAN DAN VARIASI TARIAN MELAYU SEBAGAI SIMBOL KESENIAN BUDAYA MELAYU

Penulis

  • Nurhayati UIN Suska Riau
  • Nadila Ambriyani UIN Suska Riau
  • Ade Hilmi Saputra UIN Suska Riau
  • Ellya Roza UIN Suska Riau

Kata Kunci:

Zapin, Kesenian Melayu, Akulturasi Budaya, Nilai Filosofis, Identitas Budaya

Abstrak

Tari Zapin merupakan salah satu kesenian tradisional Melayu yang lahir dari akulturasi budaya Arab dan Melayu sejak abad ke-13 Masehi melalui jalur perdagangan dan dakwah Islam di pesisir Nusantara. Istilah “Zapin” berasal dari bahasa Arab Zafn yang berarti gerakan kaki cepat mengikuti irama tabuhan. Awalnya, Zapin hanya ditarikan oleh laki-laki di lingkungan istana sebagai hiburan, namun seiring perkembangan zaman, tarian ini menyebar ke masyarakat luas dan juga ditarikan oleh perempuan dengan tetap memperhatikan norma kesopanan. Tarian Zapin tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sarana penyampaian nilai-nilai agama, adat, dan filosofi kehidupan masyarakat Melayu. Musik pengiringnya berupa gambus dan marwas, dengan ragam gerak yang terstruktur dan sarat makna simbolis. Saat ini, dikenal sekitar 92 jenis tari Zapin rumpun Melayu yang masing-masing mengandung nilai filosofis-religius, estetika, serta pesan moral. Dengan demikian, Zapin bukan sekadar kesenian, tetapi juga khazanah budaya yang memperlihatkan inklusivitas masyarakat Melayu dalam menerima pengaruh luar tanpa meninggalkan identitas lokalnya.

The Zapin dance is a traditional Malay art form born from the acculturation of Arab and Malay cultures since the 13th century AD through trade routes and Islamic preaching on the coast of the Indonesian archipelago. The term "Zapin" comes from the Arabic word Zafn, meaning rapid foot movements following the rhythm of percussion. Initially, Zapin was danced only by men in the palace environment as entertainment, but over time, this dance spread to the wider community and was also danced by women while still observing norms of decency. The Zapin dance serves not only as entertainment, but also a means of conveying religious values, customs, and the philosophy of life of the Malay people. The accompanying music is made up of gambus and marwas, with a variety of structured movements rich in symbolic meaning. Currently, there are around 92 types of Zapin dances from the Malay group, each of which contains philosophical-religious, aesthetic, and moral values. Thus, Zapin is not just an art form, but also a cultural treasure that demonstrates the inclusiveness of the Malay people in accepting external influences without abandoning their local identity.

Unduhan

Diterbitkan

2025-10-30