INTERPRETASI ESTETIKA DAN NILAI ADAT PADA SULAM SUJI CAIR KOTO GADANG
Kata Kunci:
Sulam Suji Cair, Koto Gadang, Estetika, Nilai Adat, Teknik Sulam, MinangkabauAbstrak
Interpretasi estetika dan nilai adat pada sulam suji cair Koto Gadang sebagai salah satu bentuk kriya tekstil tradisional Minangkabau yang memiliki ciri khas dari segi visual, teknik, dan makna budaya. Sulam suji cair dikenal melalui pemilihan motif flora, khususnya motif bunga mawar, komposisi warna bergradasi, serta penggunaan teknik sulaman seperti suji cair dan kapalo samek yang menunjukkan tingkat keterampilan tinggi para perajinnya. Unsur-unsur tersebut tidak hanya menampilkan keindahan visual, tetapi juga mencerminkan nilai filosofis yang diwariskan secara turun-temurun. Selain aspek estetika, penelitian ini juga menelaah nilai adat yang melekat pada selendang suji cair seperti aturan penggunaan warna berdasarkan status sosial, larangan pemakaian warna tertentu, serta ketentuan khusus bagi perempuan yang belum menikah. Temuan menunjukkan bahwa sulam suji cair tidak dapat dipisahkan dari sistem adat masyarakat Koto Gadang karena setiap warna, motif, dan teknik sulaman berfungsi sebagai bentuk komunikasi simbolik dalam kehidupan sosial. Ciri khas, sejarah, dan keberlanjutan tradisi sulam suji cair yang hingga kini tetap dipertahankan sebagai warisan budaya Minangkabau. Dengan demikian, sulam suji cair dipahami bukan hanya sebagai karya estetis, tetapi juga sebagai refleksi nilai adat dan identitas budaya masyarakat Koto Gadang.
Interpretation of aesthetics and traditional values in Koto Gadang liquid suji embroidery as a form of traditional Minangkabau textile craft that has distinctive characteristics in terms of visuals, techniques, and cultural meaning. Liquid suji embroidery is known for its selection of floral motifs, especially rose motifs, graded color compositions, and the use of embroidery techniques such as liquid suji and kapalo samek which demonstrate the high level of skill of the craftsmen. These elements not only display visual beauty, but also reflect philosophical values passed down from generation to generation. In addition to the aesthetic aspect, this study also examines the traditional values attached to the liquid suji shawl such as rules for using colors based on social status, prohibitions on the use of certain colors, and special provisions for unmarried women. The findings show that liquid suji embroidery cannot be separated from the customary system of the Koto Gadang community because each color, motif, and embroidery technique functions as a form of symbolic communication in social life. The characteristics, history, and sustainability of the liquid suji embroidery tradition are still maintained as a cultural heritage of Minangkabau. Thus, liquid suji embroidery is understood not only as an aesthetic work, but also as a reflection of the traditional values and cultural identity of the Koto Gadang community.



