DINAMIKA SOSIAL POLITIK DAN BUDAYA UMAT ISLAM DI FILIPINA SELATAN

Penulis

  • Dian Pratiwi UIN Suska Riau
  • Diva Zuleiqa Ananta UIN Suska Riau
  • Ellya Roza UIN Suska Riau

Kata Kunci:

Islam, Filipina, Kesultanan Sulu, Kesultanan Maguindanao, Bangsamoro

Abstrak

Islam memiliki perjalanan sejarah yang panjang di Filipina yang dimulai sejak abad ke-14 melalui jalur perdagangan maritim Asia Tenggara. Para pedagang, ulama, dan mubaligh dari Arab, India, serta Kesultanan Melayu membawa ajaran Islam ke wilayah selatan Filipina, khususnya Sulu dan Mindanao. Kehadiran Islam membawa perubahan besar, tidak hanya dalam bidang keagamaan, tetapi juga pada struktur sosial, budaya, dan politik masyarakat setempat. Berdirinya Kesultanan Sulu dan Kesultanan Maguindanao menjadi pusat kekuatan Islam yang berfungsi sebagai otoritas politik, pusat perdagangan, serta wadah penyebaran agama. Selain itu, kedua kesultanan ini memainkan peran penting dalam melawan ekspansi kolonial Spanyol dan Amerika yang berusaha menundukkan masyarakat Muslim Filipina. Warisan sejarah Islam tetap hidup hingga saat ini dalam identitas masyarakat Bangsamoro, yang mempertahankan tradisi, hukum adat, serta budaya Islam meskipun mengalami marginalisasi selama berabad-abad. Terbentuknya Bangsamoro Autonomous Region in Muslim Mindanao (BARMM) pada tahun 2019 menjadi bukti nyata keberhasilan perjuangan umat Islam Filipina dalam mempertahankan hak politik, budaya, dan identitas keagamaannya. Artikel ini menguraikan dinamika panjang sejarah Islam di Filipina dengan menekankan aspek politik, sosial, dan budaya, sekaligus menunjukkan kontribusi Islam dalam membentuk peradaban lokal yang kuat dan berkelanjutan.

Islam has a long and significant history in the Philippines, beginning in the 14th century through the maritime trade routes of Southeast Asia. Muslim traders, scholars, and missionaries from Arabia, India, and the Malay Sultanates introduced Islam to the southern regions of the Philippines, particularly Sulu and Mindanao. The arrival of Islam brought profound transformations not only in religion but also in the social, cultural, and political structures of local communities. The establishment of the Sultanate of Sulu and the Sultanate of Maguindanao became central pillars of Islamic power, serving as political authorities, centers of trade, and hubs for Islamic propagation. These sultanates also played a crucial role in resisting Spanish and American colonial expansion, defending both their territories and Islamic identity. The legacy of Islam continues to thrive today in the identity of the Bangsamoro people, who preserve their traditions, customary law, and Islamic culture despite centuries of marginalization. The creation of the Bangsamoro Autonomous Region in Muslim Mindanao (BARMM) in 2019 stands as a milestone in the long struggle of Filipino Muslims to safeguard their political rights, cultural heritage, and religious identity. This article elaborates on the long historical journey of Islam in the Philippines, highlighting its political, social, and cultural dynamics, and demonstrating the enduring contribution of Islam to the development of a resilient and lasting local civilization.

Unduhan

Diterbitkan

2025-12-30