PEMBELAJARAN MENDALAM BAGI SISWA TUNARUNGU: STUDI IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA DI SLBN BUGIH PAMEKASAN
Kata Kunci:
Kurikulum Merdeka, Siswa Tunarungu, Sekolah Luar Biasa, Pembelajaran Adaptif, AsesmenAbstrak
Implementasi Kurikulum Merdeka pada pendidikan khusus menuntut pendekatan pembelajaran yang adaptif dan kontekstual sesuai dengan karakteristik peserta didik. Dalam konteks siswa tunarungu, kurikulum tidak hanya dipahami sebagai dokumen kebijakan, tetapi sebagai kerangka pedagogis yang perlu disesuaikan dengan kemampuan aktual siswa. Artikel ini mengkaji implementasi Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran siswa tunarungu di SLBN Bugih Pamekasan dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan guru serta analisis dokumen pembelajaran. Hasil kajian menunjukkan bahwa sekolah menerapkan adaptasi kurikulum melalui penyesuaian capaian pembelajaran berdasarkan kemampuan siswa, penggunaan strategi pembelajaran berbasis demonstrasi dan media benda konkret, serta penerapan sistem asesmen yang mengombinasikan penilaian kualitatif dan kuantitatif. Selain itu, tindak lanjut pembelajaran dilakukan melalui kolaborasi antara sekolah dan orang tua. Temuan ini menegaskan bahwa keberhasilan implementasi Kurikulum Merdeka pada pendidikan khusus sangat ditentukan oleh fleksibilitas kurikulum, kreativitas guru, dan sinergi antara sekolah dan keluarga.
The implementation of the Merdeka Curriculum in special education requires adaptive and contextual learning approaches that align with students’ characteristics. In the context of deaf students, the curriculum should be understood not merely as a policy document but as a pedagogical framework that must be adjusted to learners’ actual abilities. This article examines the implementation of the Merdeka Curriculum in teaching deaf students at SLBN Bugih Pamekasan using a qualitative descriptive approach. Data were collected through in-depth interviews with teachers and analysis of relevant instructional documents. The findings indicate that the school applies curriculum adaptation by adjusting learning outcomes to students’ abilities, employing demonstration-based strategies and concrete learning media, and implementing an assessment system that combines qualitative and quantitative evaluation. In addition, learning follow-up is strengthened through collaboration between the school and parents. These findings suggest that the successful implementation of the Merdeka Curriculum in special education depends on curriculum flexibility, teachers’ pedagogical competence, and strong school, family collaboration.



