ANALISIS EKO SASTRA DALAM CERPEN “SAAT LAUT TERLUKA MANGROVE BERDOA” KARYA TRY WIDYA ANDINI

Penulis

  • Ira Noventy Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara
  • Tya Nabila Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara
  • Muhammad Isman Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara

Kata Kunci:

Ekosastra, Ekokritik, Lawrence Buell, Mangrove, Krisis Lingkungan, Cerpen

Abstrak

This study aims to examine the representation of nature, the relationship between humans and the environment, and the message of ecological awareness in Try Widya Andini's short story "When the Sea Is Wounded, the Mangroves Pray" using Lawrence Buell's eco-literary (ecocritical) approach. This approach is used to examine how nature is positioned in literary texts, not merely as a setting for the story, but as an entity possessing intrinsic value and experiencing suffering due to human exploitation. The research method used is descriptive qualitative, with data collection techniques including reading and note-taking. The research data consists of text units including words, phrases, sentences, and paragraphs that describe coastal ecosystem damage, conflicts between human perspectives on nature, and the characters' attitudes and awareness in responding to the environmental crisis. The results show that this short story depicts coastal nature, particularly the sea and mangrove forests, as victims of human economic interests through land conversion into shrimp ponds and tourist areas. Mangrove damage has resulted in decreased fishing catches, coastal erosion, and increased village vulnerability to storms and tidal flooding. This short story also demonstrates the conflict between an anthropocentric perspective that positions nature as an object of exploitation and an ecocentric perspective that views nature as a vital part of life that must be maintained in balance. Ecological awareness is demonstrated through the changing attitudes of the Cempaka Village community, who begin to take responsibility for the environment by collectively replanting mangroves. Thus, this short story emphasizes the role of literature as an ethical medium and agent of social change in building community ecological awareness and responsibility.

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji representasi alam, relasi manusia dan lingkungan, serta pesan kesadaran ekologis dalam cerpen “Saat Laut Terluka, Mangrove Berdoa” karya Try Widya Andini dengan menggunakan pendekatan ekosastra (ekokritik) Lawrence Buell. Pendekatan ini digunakan untuk menelaah bagaimana alam diposisikan dalam teks sastra, tidak hanya sebagai latar cerita, tetapi sebagai entitas yang memiliki nilai intrinsik dan mengalami penderitaan akibat eksploitasi manusia. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa baca dan catat. Data penelitian berupa satuan teks yang meliputi kata, frasa, kalimat, dan paragraf yang menggambarkan kerusakan ekosistem pesisir, konflik cara pandang manusia terhadap alam, serta sikap dan kesadaran tokoh dalam merespons krisis lingkungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cerpen ini merepresentasikan alam pesisir, khususnya laut dan hutan mangrove, sebagai korban dari kepentingan ekonomi manusia melalui alih fungsi lahan menjadi tambak udang dan kawasan wisata. Kerusakan mangrove berdampak pada menurunnya hasil tangkapan nelayan, abrasi pantai, serta meningkatnya kerentanan desa terhadap bencana badai dan banjir rob. Cerpen ini juga memperlihatkan pertentangan antara pandangan antroposentris yang menempatkan alam sebagai objek eksploitasi dan pandangan ekosentris yang memandang alam sebagai bagian penting dari kehidupan yang harus dijaga keseimbangannya. Kesadaran ekologis ditampilkan melalui perubahan sikap masyarakat Desa Cempaka yang mulai bertanggung jawab terhadap lingkungan dengan melakukan penanaman kembali mangrove secara kolektif. Dengan demikian, cerpen ini menegaskan peran sastra sebagai media etis dan agen perubahan sosial dalam membangun kesadaran serta tanggung jawab ekologis masyarakat.

Unduhan

Diterbitkan

2026-01-30