MANAJEMEN ASUHAN KEBIDANAN PADA REMAJA DENGAN TUBERKULOSIS PARU DI RSU HAJI MEDAN PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2025
Kata Kunci:
Tuberkulosis Paru, Remaja, Asuhan Kebidanan, Manajemen KebidananAbstrak
Tuberkulosis (TB) paru merupakan penyakit infeksi menular kronis yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis dan masih menjadi masalah kesehatan masyarakat utama di Indonesia. Remaja merupakan kelompok rentan terhadap TB paru karena aktivitas sosial yang tinggi, kurangnya kesadaran terhadap gejala awal, serta keterlambatan dalam pencarian pelayanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan secara komprehensif manajemen asuhan kebidanan pada remaja dengan TB paru di Ruang Ar’Rijal RSU Haji Medan tahun 2025.Penelitian ini menggunakan metode studi kasus dengan pendekatan deskriptif melalui penerapan manajemen kebidanan Helen Varney. Subjek penelitian adalah seorang remaja laki-laki usia 18 tahun dengan diagnosis TB paru. Pengumpulan data dilakukan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, observasi klinis, serta telaah rekam medis dan pemeriksaan penunjang. Asuhan kebidanan dianalisis melalui tujuh langkah manajemen kebidanan, yaitu pengumpulan data dasar, interpretasi data, penetapan diagnosis dan masalah potensial, tindakan segera, perencanaan, implementasi, dan evaluasi. Hasil asuhan menunjukkan bahwa pasien mengalami TB paru aktif dengan gejala utama batuk berdahak disertai darah, demam, kelelahan, dan penurunan berat badan. Permasalahan kebidanan yang ditemukan meliputi gangguan kenyamanan, risiko penurunan status gizi, kelelahan, serta risiko penularan kepada lingkungan sekitar. Intervensi kebidanan difokuskan pada pemantauan kondisi umum dan tanda vital, kolaborasi pemberian terapi medis, edukasi kepatuhan minum obat anti tuberkulosis, pencegahan penularan, serta dukungan psikologis kepada pasien dan keluarga. Kesimpulan dari studi kasus ini menunjukkan bahwa manajemen asuhan kebidanan yang komprehensif, sistematis, dan berkesinambungan berperan penting dalam mendukung keberhasilan pengobatan TB paru, meningkatkan kepatuhan pasien terhadap terapi, serta berkontribusi dalam pencegahan penularan di masyarakat.



