ETNOMATEMATIKA PADA KETERKAITAN PENGARUH UKURAN VOLUME KETENG KETENG DALAM MENGHASILKAN SUARA
Kata Kunci:
Etnomatematika, Volume Tabung, Keteng-Keteng, Pembelajaran Matematika Berbasis BudayaAbstrak
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keterkaitan konsep volume tabung dengan karakter suara pada alat musik tradisional keteng-keteng masyarakat Karo melalui pendekatan etnomatematika. Objek penelitian berupa keteng-keteng berbahan bambu dengan diameter dalam 10 cm dan panjang ruas bambu 60 cm. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif-deskriptif dengan analisis matematis terhadap dimensi fisik instrumen serta pengukuran karakteristik bunyi yang dihasilkan. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa volume ruang resonansi keteng-keteng sebesar 4,7 liter menghasilkan frekuensi suara rata-rata antara 190–220 Hz. Temuan ini menunjukkan bahwa ukuran diameter dan volume tabung bambu berpengaruh signifikan terhadap frekuensi bunyi, di mana volume ruang resonansi yang lebih kecil menghasilkan frekuensi suara yang lebih tinggi, sedangkan volume yang lebih besar menghasilkan suara yang lebih rendah dan berdengung. Hasil penelitian ini sejalan dengan prinsip dasar akustika yang menyatakan bahwa frekuensi bunyi berbanding terbalik dengan volume ruang resonansi. Selain itu, penelitian ini mengungkap bahwa praktik pembuatan keteng-keteng oleh pengrajin Karo secara intuitif telah menerapkan konsep matematika, khususnya pengukuran dan estimasi volume tabung, meskipun tanpa menggunakan rumus formal. Dengan demikian, pembuatan keteng-keteng mengandung unsur etnomatematika yang kuat dan berpotensi dijadikan sebagai konteks pembelajaran matematika yang kontekstual sekaligus mendukung pelestarian budaya lokal.
This study aims to analyze the relationship between the concept of cylindrical volume and sound characteristics of the traditional musical instrument keteng-keteng from the Karo community through an ethnomathematics approach. The object of the study was a bamboo keteng-keteng with an inner diameter of 10 cm and a length of 60 cm. The research employed a qualitative descriptive method combined with mathematical analysis of the instrument’s physical dimensions and measurement of the resulting sound characteristics. The calculation results indicate that a resonance volume of 4.7 liters produces an average sound frequency ranging from 190 to 220 Hz. These findings demonstrate that the diameter and volume of the bamboo cylinder significantly affect the sound frequency, where a smaller resonance volume generates higher frequencies, while a larger volume produces lower and more resonant sounds. This result supports the fundamental principle of acoustics stating that sound frequency is inversely proportional to the volume of the resonance chamber. Furthermore, this study reveals that the traditional process of making keteng-keteng by Karo artisans intuitively applies mathematical concepts, particularly measurement and estimation of cylindrical volume, even without the use of formal mathematical formulas. Therefore, the construction of keteng-keteng embodies strong ethnomathematical elements and has the potential to serve as a contextual learning resource for mathematics while contributing to the preservation of local cultural heritage.



