UPAYA PELESTARIAN BUDAYA MANGGOAR ANAK DI DESA GALA BONANG KECAMATAN HURISTAK KABUPATEN PADANG LAWAS
Kata Kunci:
Manggoar Anak, Budaya Mandailing, Pelestarian Budaya, Kuliah Kerja Nyata, Padang LawasAbstrak
Manggoar anak, atau dalam sumber tertulis sering disebut manggoar dakdanak tubu, merupakan salah satu upacara adat masyarakat Mandailing yang dilaksanakan sebagai bentuk penyambutan dan pemberian nama (goar) kepada anak yang baru lahir, yang di dalamnya terkandung doa, harapan, dan nilai-nilai budaya leluhur. Di Desa Gala Bonang, Kecamatan Huristak, Kabupaten Padang Lawas, tradisi ini masih dijalankan masyarakat, namun menghadapi tantangan pelestarian akibat pergeseran nilai dan minimnya pemahaman generasi muda terhadap makna filosofis di baliknya. Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan pada hari Jumat, 10 Juli 2026, pukul 08.00–11.00 WIB, dengan tujuan membantu masyarakat melestarikan tradisi manggoar anak melalui keterlibatan langsung mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) dalam rangkaian prosesi adat, sekaligus meningkatkan pemahaman generasi muda tentang makna tradisi tersebut. Metode yang digunakan adalah pendekatan partisipatif berupa observasi, wawancara dengan tokoh adat dan tokoh agama, serta keterlibatan langsung dalam pelaksanaan acara. Kegiatan yang dilakukan mahasiswa antara lain membuka acara dengan pembacaan ayat suci Al-Qur'an (mengaji), membantu mangoloi atau melayani kebutuhan teknis dan protokoler jalannya prosesi adat sesuai arahan tokoh adat, serta mendokumentasikan dan mensosialisasikan makna tradisi kepada anak-anak dan remaja desa. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa keterlibatan mahasiswa memberikan dampak positif berupa meningkatnya partisipasi masyarakat, terjaganya kelengkapan prosesi adat, serta tumbuhnya kesadaran generasi muda akan pentingnya melestarikan tradisi manggoar anak sebagai bagian dari identitas budaya Mandailing.
Manggoar anak, referred to in the literature as manggoar dakdanak tubu, is a traditional Mandailing ceremony held to welcome and name a newborn child, embodying prayers, hopes, and ancestral cultural values. In Gala Bonang Village, Huristak Sub-district, Padang Lawas Regency, this tradition is still practiced, yet faces preservation challenges due to shifting values and limited understanding among younger generations of its philosophical meaning. This community service program was carried out on Friday, 10 July 2026, from 08.00 to 11.00 WIB, and aimed to help the community preserve the manggoar anak tradition through the direct involvement of university students (KKN) in the traditional procession, while raising young people's awareness of its meaning. A participatory approach was used, consisting of observation, interviews with traditional and religious leaders, and direct involvement in the event. Activities carried out by the students included opening the ceremony with Qur'an recitation, assisting (mangoloi) in serving the technical and protocol needs of the procession under the guidance of traditional leaders, and documenting and disseminating the meaning of the tradition to village children and youth. The results show that student involvement had a positive impact, including increased community participation, a more complete traditional procession, and growing awareness among the younger generation of the importance of preserving manggoar anak as part of Mandailing cultural identity.




