TRANSFORMASI PENDIDIKAN HUMANIS DI SEKOLAH DASAR NEGERI 123 PEKANBARU: MEMBANGUN TOLERANSI DAN MENGHAPUS INTOLERANSI DARI RUANG KELAS
Kata Kunci:
Pendidikan Humanis, Toleransi, Intoleransi, Sekolah Dasar, Karakter SiswaAbstrak
Fenomena intoleransi yang masih muncul di lingkungan sekolah dasar menunjukkan pentingnya penanaman nilai-nilai humanis sejak dini. Pendidikan humanis berperan dalam membantu siswa menghargai perbedaan serta membangun karakter yang empatik dan inklusif. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses pengenalan toleransi, upaya penghapusan sikap intoleransi, serta peran guru dan sekolah dalam menindaklanjuti pembentukan sikap toleran di SDN 123 Pekanbaru.Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan subjek penelitian terdiri atas 20 siswa dan 1 guru yang dipilih secara purposive sampling berdasarkan keberagaman agama, jenis kelamin, dan pengalaman sosial. Data dikumpulkan melalui observasi interaksi siswa di ruang kelas, wawancara semi–terstruktur dengan guru dan siswa, serta dokumentasi berupa foto kegiatan dan dokumen sekolah. Analisis data dilakukan menggunakan model Miles, Huberman, dan Saldaña (2020), meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan dengan triangulasi sumber untuk meningkatkan keabsahan temuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan sosialisasi dan pembelajaran berbasis nilai humanis mampu meningkatkan pemahaman siswa mengenai toleransi dan membantu mengurangi perilaku intoleran seperti ejekan dan pengucilan. Siswa menjadi lebih mampu menghargai perbedaan, bekerja sama, serta menunjukkan empati kepada teman. Guru dan sekolah berperan penting sebagai fasilitator, teladan, dan pengelola lingkungan yang mendukung budaya toleransi. Secara keseluruhan, pendidikan humanis terbukti efektif dalam membentuk lingkungan belajar yang aman, harmonis, dan inklusif di SDN 123 Pekanbaru.
The persistence of intolerance among elementary school students highlights the importance of instilling humanistic values from an early age. Humanistic education plays a crucial role in helping students appreciate diversity and develop empathetic and inclusive character traits. This research aims to describe the process of introducing tolerance, efforts to eliminate intolerant behaviors, and the roles of teachers and the school in fostering tolerant attitudes at SDN 123 Pekanbaru.This study employs a descriptive qualitative approach with research subjects consisting of 20 students and 1 teachers selected purposively based on religious background, gender, and social interaction experiences. Data were collected through classroom observations, semi-structured interviews with teachers and students, and documentation such as photographs and school records. Data analysis used the Miles, Huberman, and Saldaña model, which includes data reduction, data display, and conclusion drawing, supported by source triangulation to ensure validity.The findings reveal that socialization activities and learning based on humanistic values effectively enhance students’ understanding of tolerance and reduce intolerant behaviors such as teasing and exclusion. Students demonstrated improved respect for differences, cooperation skills, and empathy toward peers. Teachers and the school play significant roles as facilitators, role models, and creators of an environment that supports a culture of tolerance. Overall, humanistic education proves to be effective in creating a safe, harmonious, and inclusive learning environment at SDN 123 Pekanbaru.



