https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpit/issue/feed Jurnal Pendidikan Ilmiah Transformatif 2026-04-29T15:31:47+00:00 Open Journal Systems https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpit/article/view/20797 THE IMPLEMENTATION OF CURRICULUM POLICIES BASED ON TYLER MODEL AT SITUATIONAL ENGLISH COURSE 2026-04-03T08:17:28+00:00 Tiurma Ida Geofani Nababan tiurmaidageofani@gmail.com Neni Afrida Sari Harahap neniharahap@unimed.ac.id Asrita Sari asritasari3112@gmail.com <p><em>Curriculum policy plays an important role in determining how learning objectives, instructional activities, and evaluation are implemented in educational institutions. Tyler’s (1949) curriculum model provides a systematic framework for curriculum development through four main components: educational objectives, learning experiences, organization of learning experiences, and evaluation. This study aims to analyze the implementation of curriculum policy at Situational English Course Medan using Tyler’s curriculum model as the analytical framework. This research employed a qualitative approach. The data were collected through semi-structured interviews with two participants who are directly involved in the learning process, namely the course manager and an English teacher. The collected data were transcribed and analyzed through data reduction, categorization, and interpretation based on Tyler’s four curriculum components. The findings indicate that the curriculum implementation at Situational English Course Medan focuses on developing students’ communicative competence in real-life contexts. The learning objectives emphasize practical English communication such as self-introductions, discussions, and presentation skills. Learning experiences are implemented through interactive classroom activities including role plays, speaking practices, and group discussions. The learning materials are organized progressively from basic communication skills to more advanced speaking activities. In terms of evaluation, students’ performance is assessed through speaking tasks, classroom participation, and presentation activities. These findings suggest that Tyler’s curriculum model provides a practical framework for organizing English language learning programs in non-formal education settings that emphasize communicative competence. </em></p> 2026-04-29T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Pendidikan Ilmiah Transformatif https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpit/article/view/21361 PENGARUH GAYA MENGAJAR INKLUSIF TERHADAP KEPERCAYAAN DIRI DAN KETERAMPILAN MOTORIK SISWA SMA 2026-04-26T07:50:10+00:00 Kaesia Tambunan kesyatambunan652@gmail.com Jelita Optiani Laoli laolijelita737@gmail.com Annisa Mayla Pithri annisamayla56@gmail.com Naila Adha Zulaika nailaadhaz3012@gmail.com Denrio Tarindak I.M Tambunan denrio111@sma.belajar.id Thariq Maulana Harahap thariqharahap6@gmail.com Rayhan Kurnia Syahputra rayhankurniaa97@gmail.com Nur Kholilah Harahap nurkholilahhrp18@gmail.com Muhammad Irfan guest@jurnalhst.com <p>Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tantangan dalam pembelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) di tingkat SMA yang seringkali menghadapi keberagaman kemampuan fisik dan motorik siswa. Pembelajaran konvensional dengan standar tunggal seringkali memicu kecemasan bagi siswa pemula dan kebosanan bagi siswa mahir. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penerapan gaya mengajar inklusif terhadap peningkatan kepercayaan diri dan keterampilan motorik siswa. Gaya inklusi memberikan kesempatan bagi siswa untuk menentukan tingkat kesulitan tugas gerak mereka sendiri melalui prinsip Slanted Pole (tiang miring). Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah deskriptif kualitatif dengan observasi langsung pada materi sepak bola. Hasil kajian menunjukkan bahwa melalui modifikasi alat dan diferensiasi tugas, seperti penyesuaian jarak operan dan target gawang, siswa merasa lebih aman dan berdaya dalam berpartisipasi. Simpulan dari penelitian ini adalah gaya mengajar inklusif efektif dalam meningkatkan efikasi diri siswa dan mengoptimalkan Waktu Aktif Belajar (WAB) secara merata di lingkungan sekolah menengah atas.</p> 2026-04-29T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Pendidikan Ilmiah Transformatif https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpit/article/view/20887 HUBUNGAN POLA ASUH ORANG TUA DENGAN KEMANDIRIAN BELAJAR ANAK USIA 6–7 TAHUN DI SD NEGERI 101797 DELI TUA 2026-04-08T09:46:56+00:00 Aqillah Nazli aqillahnazli1@gmail.com Fajar Sidik Siregar guest@jurnalhst.com Robenhart Tamba guest@jurnalhst.com Husna Parluhutan Tambunan guest@jurnalhst.com Natalia Silalahi guest@jurnalhst.com <p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pola asuh orang tua dengan kemandirian belajar anak usia 6–7 tahun di SD Negeri 101797 Deli Tua. Kemandirian belajar merupakan kemampuan siswa untuk belajar secara mandiri, memiliki inisiatif, serta bertanggung jawab terhadap tugas-tugasnya. Pola asuh orang tua menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi kemampuan tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan jenis penelitian korelasional. Populasi penelitian berjumlah 187 siswa kelas I, dengan sampel sebanyak 46 siswa yang dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Teknik pengumpulan data menggunakan angket pola asuh orang tua dan angket kemandirian belajar. Analisis data dilakukan melalui analisis univariat, bivariat, serta uji korelasi Product Moment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar orang tua menerapkan pola asuh demokratis (56,5%) dan sebagian besar siswa memiliki kemandirian belajar tinggi (60,9%). Terdapat hubungan yang kuat antara pola asuh orang tua dengan kemandirian belajar anak (r = 0,734; p = 0,000). Dengan demikian, semakin baik pola asuh orang tua, khususnya pola asuh demokratis, maka semakin tinggi kemandirian belajar anak.</p> <p><em>This study aims to determine the relationship between parenting styles and the learning independence of children aged 6–7 years at SD Negeri 101797 Deli Tua. Learning independence is defined as students’ ability to learn independently, take initiative, and be responsible for their tasks. Parenting style is one of the important factors influencing this ability. This study employed a quantitative method with a correlational research design. The population consisted of 187 first-grade students, with a sample of 46 students selected using a simple random sampling technique. Data collection techniques included a parenting style questionnaire and a learning independence questionnaire. Data analysis was conducted through univariate and bivariate analysis, as well as the Product Moment correlation test. The results showed that most parents applied a democratic parenting style (56.5%), and most students had high learning independence (60.9%). There is a strong relationship between parenting style and children’s learning independence (r = 0.734; p = 0.000). Thus, the better the parenting style applied especially democratic parenting the higher the children’s learning independence.</em></p> 2026-04-29T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Pendidikan Ilmiah Transformatif https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpit/article/view/20826 PERAN FILSAFAT SEBAGAI LANDASAN BERPIKIR KRITIS DALAM PENDIDIKAN MODERN 2026-04-05T08:39:45+00:00 Gabriel Angelo Gedi gabrielangelogedi@gmail.com Aurelius Mosa aureliusmosa2@gmail.com Ferdinan Selestino Trifon ferdinanselestinotrifon@gmail.com Molsiprimka Trio D. M. Asiki molsiprimkaasiki@gmail.com Oktavianus Nong Vicky vickyjunior373@gmail.com <p>Pendidikan modern menuntut kemampuan berpikir kritis untuk menghadapi tantangan informasi yang kompleks dan dinamis. Namun, praktik pendidikan saat ini masih cenderung menekankan pada hafalan dibandingkan dengan pemikiran reflektif dan analitis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran filsafat sebagai landasan epistemologis dalam mengembangkan berpikir kritis dalam pendidikan modern. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan melalui analisis jurnal ilmiah dan sumber akademik relevan dalam sepuluh tahun terakhir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa filsafat memiliki peran fundamental dalam membentuk berpikir kritis melalui struktur epistemologis, penalaran reflektif, dan analisis logis. Berpikir kritis bukan sekadar keterampilan teknis, melainkan hasil dari proses kognitif mendalam yang berakar pada pemikiran filosofis. Selain itu, pendidikan yang tidak berbasis filsafat cenderung menghasilkan pemahaman yang dangkal. Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa integrasi filsafat dalam sistem pendidikan sangat penting untuk membentuk individu yang kritis, rasional, dan reflektif. Penelitian selanjutnya disarankan untuk mengkaji implementasi pendekatan filosofis secara empiris dalam praktik pembelajaran.</p> <p><em>Modern education requires critical thinking skills to face complex and dynamic information challenges. However, current educational practices still tend to emphasize memorization rather than reflective and analytical thinking. This study aims to analyze the role of philosophy as an epistemological foundation in developing critical thinking within modern education. The research employs a qualitative approach using a literature study method by analyzing scientific journals and relevant academic sources published in the last decade. The findings indicate that philosophy plays a fundamental role in shaping critical thinking through epistemological structures, reflective reasoning, and logical analysis. Critical thinking is not merely a technical skill but a result of deep cognitive processes grounded in philosophical inquiry. Furthermore, education lacking a philosophical foundation tends to produce superficial understanding rather than deep learning. The study concludes that integrating philosophy into educational systems is essential to foster critical, rational, and reflective learners. Future research is recommended to explore empirical implementations of philosophical approaches in classroom practices. </em></p> 2026-04-29T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Pendidikan Ilmiah Transformatif https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpit/article/view/20938 TINJAUAN KOMPARATIF ADSORPSI PEWARNA KATIONIK DAN ANIONIK (METHYLENE BLUE DAN ACID ORANGE 7) MENGGUNAKAN BERBAGAI MATERIAL ADSORBEN 2026-04-10T08:24:44+00:00 Wikrama Sarweswara sarweswara.wikrama@gmail.com Mirad Fahri miradfahri@gmail.com Rahmat Basuki rhmtbsq@gmail.com <p>Pewarna sintetis seperti Methylene Blue (MB) kationik dan Acid Orange 7 (AO7) anionik merupakan polutan persisten utama dalam air limbah tekstil yang menimbulkan risiko toksik dan karsinogenik. Review literatur sistematis ini membandingkan perilaku adsorpsi keduanya pada adsorben berbasis karbon, biomassa, oksida logam, dan komposit, dengan fokus pada pengaruh muatan ionik, pH optimum, kapasitas adsorpsi (q_max hingga 757,6 mg/g untuk AO7 dan &gt;1000 mg/g untuk MB), model isoterm/kinetika (Langmuir/PSO dominan), mekanisme (elektrostatik, π–π, hidrogen), serta regenerasi (retensi &gt;90% setelah 5–10 siklus). Hasil menunjukkan MB lebih mudah diadsorpsi pada permukaan negatif dengan regenerasi sederhana, sementara AO7 bergantung pada situs positif; adsorben biomassa murah menjanjikan keseimbangan tekno-ekonomi untuk aplikasi berkelanjutan. Kajian merekomendasikan pengembangan material selektif untuk limbah campuran guna mendukung pengolahan limbah industri efisien dan ramah lingkungan.</p> <p><em>Synthetic dyes such as cationic Methylene Blue (MB) and anionic Acid Orange 7 (AO7) are persistent pollutants in textile wastewater, posing toxic and carcinogenic risks. This systematic literature review compares their adsorption behavior on carbon-based, biomass, metal oxide, and composite adsorbents, emphasizing ionic charge effects, optimum pH, adsorption capacity (q_max up to 757.6 mg/g for AO7 and &gt;1000 mg/g for MB), isotherm/kinetics models (Langmuir/PSO predominant), mechanisms (electrostatic, π–π, hydrogen bonding), and regeneration (retention &gt;90% over 5–10 cycles). Findings reveal MB adsorbs readily on negative surfaces with simple regeneration, while AO7 requires positive sites; low-cost biomass adsorbents offer optimal techno-economic balance for sustainable applications. The review advocates selective material development for mixed wastewater to enable efficient, eco-friendly industrial treatment.</em></p> 2026-04-29T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Pendidikan Ilmiah Transformatif https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpit/article/view/20828 KONSEP KESEDERHANAAN DALAM TAOISME SEBAGAI KRITIK TERHADAP MATERIALISME MODERN 2026-04-05T09:25:35+00:00 Gabriel Angelo Gedi gabrielangelogedi@gmail.com Aurelius Mosa aureliusmosa2@gmail.com Ferdinan Selestino Trifon ferdinanselestinotrifon@gmail.com Molsiprimka Trio D. M. Asiki molsiprimkaasiki@gmail.com Oktavianus Nong Vicky vickyjunior373@gmail.com <p>Penelitian ini dilatarbelakangi oleh berkembangnya nilai-nilai materialisme dalam masyarakat modern yang menempatkan kekayaan dan kepemilikan materi sebagai ukuran utama keberhasilan dan kebahagiaan hidup. Kondisi tersebut mendorong perlunya kajian terhadap tradisi filsafat yang menawarkan perspektif alternatif mengenai kehidupan manusia, salah satunya adalah Taoisme. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep kesederhanaan dalam Taoisme serta mengkaji relevansinya sebagai kritik filosofis terhadap materialisme modern. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan. Data penelitian diperoleh dari sumber primer berupa teks klasik <em>Tao Te Ching</em> serta berbagai literatur ilmiah yang relevan sebagai sumber sekunder. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi dokumentasi, sedangkan analisis data menggunakan metode deskriptif-interpretatif untuk menafsirkan makna filosofis dalam konteks kehidupan modern. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesederhanaan dalam Taoisme tidak hanya dipahami sebagai gaya hidup, tetapi juga sebagai prinsip etika yang menjaga harmoni antara manusia dan alam. Selain itu, konsep kesederhanaan dalam Taoisme dapat dipahami sebagai kritik terhadap orientasi materialistik yang mendorong konsumsi berlebihan dan ketidakseimbangan sosial maupun ekologis. Dengan demikian, nilai kesederhanaan dalam Taoisme menawarkan kerangka etis alternatif yang menekankan keseimbangan kehidupan serta hubungan yang berkelanjutan antara manusia, masyarakat, dan alam.</p> <p><em>Modern society is increasingly characterized by materialistic values that prioritize wealth, consumption, and material ownership as indicators of success and happiness. This condition raises the need to re-examine philosophical traditions that offer alternative perspectives on human life, including Taoism. This study aims to analyze the concept of simplicity in Taoism and examine its relevance as a philosophical critique of modern materialism. The research employs a qualitative approach with a library research method, using primary sources from the classic Taoist text Tao Te Ching and secondary sources from relevant academic literature. Data were collected through documentation techniques and analyzed using descriptive-interpretative analysis to interpret philosophical meanings within the context of contemporary life. The findings indicate that simplicity in Taoism is not merely a lifestyle but an ethical principle that maintains harmony between humans and nature. Furthermore, the concept of simplicity in Taoism serves as a philosophical critique of materialistic orientations that often lead to excessive consumption and imbalance in social and ecological life. The study also reveals that Taoist values of moderation and harmony remain relevant in addressing modern challenges such as consumerism and environmental degradation. In conclusion, the principle of simplicity in Taoism offers an alternative ethical framework that encourages balanced living and sustainable relationships between humans, society, and nature. </em></p> 2026-04-29T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Pendidikan Ilmiah Transformatif