https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpkp/issue/feedJurnal Pemikiran dan Kajian Pendidikan2026-09-29T16:48:41+00:00Open Journal Systemshttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpkp/article/view/27640PANCASILA SEBAGAI DASAR ETIKA KESEHATAN MASYARAKAT: SEBUAH TINJAUAN LITERATUR2026-09-26T07:37:13+00:00Carissa Theona Natali Aritonangcarissarisa212@gmail.comAyuni Safitriayunisafitrilove@gmail.comNian Kristiani Zagotonianzgt@gmail.comSarfina Zahrafinasarzhra@gmail.comSri Yunitasr.yunita@unimed.ac<p>Pancasila sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangsa Indonesia tidak hanya berfungsi sebagai landasan politik dan hukum, tetapi juga sebagai kerangka etika yang relevan dalam bidang kesehatan masyarakat. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana nilai-nilai Pancasila dapat menjadi dasar etika dalam penyelenggaraan pelayanan dan kebijakan kesehatan masyarakat di Indonesia. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan (literature review) dengan menelaah artikel-artikel ilmiah nasional yang membahas keterkaitan Pancasila dengan etika dan pelayanan kesehatan. Hasil tinjauan menunjukkan bahwa kelima sila Pancasila memiliki relevansi langsung terhadap prinsip-prinsip etika kesehatan masyarakat, meliputi penghormatan terhadap keyakinan pasien (sila pertama), perlakuan yang adil dan manusiawi (sila kedua), semangat gotong royong dan solidaritas dalam pelayanan (sila ketiga), musyawarah dalam pengambilan keputusan kebijakan kesehatan (sila keempat), serta pemerataan akses layanan kesehatan bagi seluruh masyarakat (sila kelima). Implementasi nilai-nilai tersebut tampak dalam kebijakan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) melalui BPJS Kesehatan, meskipun pelaksanaannya masih menghadapi berbagai tantangan seperti kesenjangan akses, minimnya pemahaman tenaga kesehatan terhadap nilai Pancasila, dan lemahnya pengawasan etika pelayanan. Artikel ini menyimpulkan bahwa penguatan internalisasi nilai-nilai Pancasila perlu terus dilakukan melalui pendidikan profesi kesehatan dan penguatan kebijakan publik agar tercipta sistem kesehatan yang adil, merata, dan berkeadaban.</p> <p><em>Pancasila, as the foundational philosophy of the Indonesian state, functions not only as a political and legal basis but also as an ethical framework relevant to public health. This article aims to examine how the values of Pancasila can serve as an ethical foundation for public health services and policy in Indonesia. A literature review method was employed by analyzing national scientific articles discussing the relationship between Pancasila and health ethics. The review shows that the five principles of Pancasila are directly relevant to public health ethics, including respect for patients' beliefs, fair and humane treatment, solidarity in service delivery, deliberation in health policy decision-making, and equitable access to health services. These values are reflected in Indonesia's National Health Insurance (JKN) policy through BPJS Kesehatan, although implementation still faces challenges such as unequal access, limited understanding of Pancasila values among health workers, and weak ethical oversight. This article concludes that continuous internalization of Pancasila values is needed through health profession education and stronger public policy to achieve a fair, equitable, and civilized health system</em></p>2026-09-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Pemikiran dan Kajian Pendidikanhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpkp/article/view/27724MODEL-MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS AL-QUR’AN DAN HADIS NABI2026-09-27T06:32:53+00:00Muhammad Fahmi Cholqi244120600042@mhs.uinsaizu.ac.idNurfuadinurfuadi@uinsaizu.ac.id<h1 style="margin-left: 0in; text-align: justify; text-indent: 0in; line-height: normal;"><span style="font-size: 11.0pt; font-weight: normal;">Model pembelajaran berbasis Al-Qur’an dan hadis Nabi merupakan pendekatan pendidikan yang menekankan nilai-nilai ajaran Islam dalam proses belajar mengajar. Artikel ini membahas berbagai model pembelajaran yang mengintegrasikan Al-Qur’an dan hadis sebagai landasan utama dalam pengembangan kompetensi peserta didik. Metode yang digunakan adalah studi literatur dari sumber primer dan sekunder yang relevan dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir. Penelitian ini menemukan bahwa model pembelajaran seperti pembelajaran kooperatif berbasis grup investigasi, model pembelajaran reflektif, dan model pembelajaran kontekstual sangat efektif dalam menanamkan nilai-nilai Islam dan meningkatkan kompetensi abad 21. Integrasi antara pendidikan agama dan keterampilan kritis serta kreatif menjadi kunci utama dalam model ini.</span></h1>2026-09-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Pemikiran dan Kajian Pendidikanhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpkp/article/view/27836KESIAPAN GURU DALAM PENERAPAN TAKSONOMI SOLO PADA PEMBELAJARAN SOSIOLOGI DI SMA NEGERI 1 KARTASURA2026-09-28T13:38:48+00:00Felisitas Jeinnica Intan Puspitasarijeinnicaintan@student.uns.ac.idSiany Indria Liestyasarisianyindria@staff.uns.ac.id<h1 style="margin-left: 0in; text-align: justify; text-indent: 0in; line-height: normal;"><span style="font-size: 11.0pt; font-weight: normal;">Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kesiapan guru dalam penerapan Taksonomi Structure of the Observed Learning Outcome (SOLO) pada pembelajaran Sosiologi di SMA Negeri 1 Kartasura dan mengidentifikasi hambatan yang memengaruhi kesiapan tersebut. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Data diperoleh melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Informan penelitian terdiri atas dua guru Sosiologi dan Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum. Data dianalisis melalui reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan dan verifikasi. Keabsahan data diperiksa melalui triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru telah memiliki kesiapan awal untuk mendukung penerapan Taksonomi SOLO. Pada aspek pemahaman, guru telah mengenal SOLO melalui konteks Pembelajaran Mendalam dan forum MGMP, tetapi pemahaman mengenai penerapan praktisnya masih terbatas. Pada aspek perencanaan, guru telah menyesuaikan perangkat dan aktivitas pembelajaran dengan karakteristik peserta didik, tetapi SOLO belum digunakan secara eksplisit sebagai dasar penyusunan perangkat. Pada aspek pelaksanaan, guru telah menggunakan pembelajaran aktif dan kontekstual melalui studi kasus, diskusi, proyek, serta Discovery Learning, tetapi belum mengaitkannya secara eksplisit dengan level SOLO. Pada aspek asesmen, guru telah menggunakan tugas dan soal yang menuntut kemampuan berpikir, sedangkan kisi-kisi yang dianalisis masih menggunakan Taksonomi Bloom. Hambatan yang ditemukan meliputi keterbatasan pemahaman operasional, belum adanya pelatihan khusus yang aplikatif, kebiasaan menggunakan Taksonomi Bloom, keterbatasan waktu dan beban pekerjaan, serta belum adanya tuntutan khusus dari sekolah.</span></h1> <h1 style="margin-left: 0in; text-align: justify; text-indent: 0in; line-height: normal;"><em><span style="font-size: 11.0pt; font-weight: normal;">This study aimed to describe teachers’ readiness for implementing the Structure of the Observed Learning Outcome (SOLO) Taxonomy in Sociology learning at SMA Negeri 1 Kartasura and to identify the obstacles affecting such readiness. The study employed a qualitative approach with a descriptive research type. Data were collected through interviews, observation, and documentation. The informants consisted of two Sociology teachers and the Vice Principal for Curriculum. Data were analyzed through data reduction, data display, and conclusion drawing and verification. Data validity was examined through source and technique triangulation. The findings indicate that the teachers demonstrated an initial readiness to support the implementation of the SOLO Taxonomy. In terms of understanding, the teachers had been introduced to SOLO through the context of Deep Learning and the Sociology MGMP, but their practical understanding remained limited. In lesson planning, the teachers had adapted learning activities to students’ characteristics, yet SOLO had not been explicitly used as a framework for planning. In lesson implementation, teachers had employed active and contextual learning through case studies, discussions, projects, and Discovery Learning, but these practices had not been explicitly aligned with SOLO levels. In assessment, teachers had used tasks and questions requiring analytical thinking, while the assessment blueprint examined still employed Bloom’s Taxonomy. The identified obstacles included limited operational understanding, the absence of specific practice-oriented training, established familiarity with Bloom’s Taxonomy, limited time and workload, and the absence of specific school requirements regarding SOLO implementation.</span></em></h1>2026-09-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Pemikiran dan Kajian Pendidikan