https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpkp/issue/feedJurnal Pemikiran dan Kajian Pendidikan2026-02-28T04:47:41+00:00Open Journal Systemshttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpkp/article/view/19682AN ANALYSIS OF SPEECH ACTS AND POLITENESS STRATEGIES IN TEACHER–STUDENT CLASSROOM INTERACTION: A PRAGMATIC STUDY2026-01-30T07:51:40+00:00Giena Almeidaitsgiee05@gmail.comNopi Oktavianinopioktaviani210@gmail.comCecep Aguscecep.prodi.inggris@gmail.com<h1><em>This study aims to examine the types of speech acts and politeness strategies used in interactions between teachers and students in the classroom from a pragmatic perspective. The method used in this study is descriptive qualitative, with data sources taken from the spoken words of teachers and students through observation, audio recordings, and transcripts of interactions during learning. Data analysis was conducted by grouping speech acts according to Searle's theory and identifying politeness strategies based on Brown and Levinson's theory. The findings of this study indicate that directive speech acts are the most frequently used type of speech act by teachers, serving to guide and regulate the learning process. In addition, positive politeness strategies were used more often than negative politeness strategies as an effort by teachers to build good interpersonal relationships and create a supportive learning environment. The conclusion of this study is that the use of speech acts accompanied by appropriate politeness strategies is very influential in creating effective learning communication and supporting student engagement.</em></h1>2026-02-28T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Pemikiran dan Kajian Pendidikanhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpkp/article/view/20048STRATEGI METAKOGNITIF DAN DAMPAKNYA TERHADAP KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH PESERTA DIDIK2026-02-10T07:24:17+00:00Aulia Putri Ramadaniauliaputriramadani006@gmail.comTassyatassyatsy@gmail.comRira Alfatihariraalfatiha@gmail.comMuhammad Alfian Akhmadmuhammadalfianakhmad@gmail.comRahmatul Hidayah Mr.h.makkulasse@gmail.comMusdalifaharsyadmusdalifah83@gmail.com<p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam pengaruh penerapan strategi metakognitif terhadap kemampuan pemecahan masalah peserta didik. Kemampuan pemecahan masalah merupakan salah satu keterampilan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking skills) yang sangat penting dalam menunjang keberhasilan akademik dan kesiapan peserta didik menghadapi tantangan kehidupan nyata. Namun, dalam praktik pembelajaran, peserta didik masih sering mengalami kesulitan dalam memahami masalah, merancang strategi penyelesaian, serta mengevaluasi hasil pemecahan masalah secara sistematis. Salah satu faktor yang memengaruhi kondisi tersebut adalah rendahnya kesadaran peserta didik terhadap proses berpikirnya sendiri. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain quasi eksperimen tipe nonequivalent control group design. Subjek penelitian terdiri atas peserta didik tingkat menengah yang dibagi ke dalam kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Kelompok eksperimen diberikan perlakuan berupa pembelajaran dengan strategi metakognitif, sedangkan kelompok kontrol mengikuti pembelajaran konvensional. Instrumen penelitian meliputi tes kemampuan pemecahan masalah dan angket kesadaran metakognitif. Analisis data dilakukan dengan menggunakan statistik deskriptif dan inferensial.</p> <p><em>This study aims to analyze in depth the effect of implementing metacognitive strategies on students' problem-solving abilities. Problem-solving is a higher-order thinking skill that is crucial for academic success and readiness to face real-life challenges. However, in practical learning, students often struggle to understand problems, devise strategies for solving them, and systematically evaluate their problem-solving outcomes. One contributing factor to this is students' low awareness of their own thinking processes. This study used a quantitative approach with a quasi-experimental nonequivalent control group design. The subjects consisted of secondary-level students divided into an experimental group and a control group. The experimental group received treatment in the form of learning with metacognitive strategies, while the control group received conventional learning. The research instruments included a problem-solving ability test and a metacognitive awareness questionnaire. Data analysis was conducted using descriptive and inferential statistics. </em></p>2026-02-28T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Pemikiran dan Kajian Pendidikanhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpkp/article/view/19854DAMPAK EKSPETASI ORANG TUA TERHADAP MOTIVASI BELAJAR INTRINSIK SISWA: PERAN MEDIASI STRES AKADEMIK2026-02-03T08:27:06+00:00Marlianarhynamrliana@gmail.comNurhidayahnurrhdyh26@gmail.comMagefiratul Haerahmagefiratulhaerah2@gmail.comAndi Magfiratul Anasandimagfira727@gmail.comNuradifaadifaatljannh@gmail.comMusdalifah Arsyadarsyadmusdalifah83@gmail.com<p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh ekspektasi orang tua terhadap motivasi belajar intrinsik siswa dengan stres akademik sebagai variabel mediasi. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain explanatory research. Sampel penelitian terdiri atas 180 siswa sekolah menengah (SMA/MA/SMK) yang dipilih menggunakan teknik proportional random sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner berskala Likert lima poin yang mengukur ekspektasi orang tua, stres akademik, dan motivasi belajar intrinsik. Analisis data dilakukan menggunakan Structural Equation Modeling (SEM) berbasis Partial Least Squares (PLS) dengan bantuan perangkat lunak SmartPLS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekspektasi orang tua berpengaruh positif dan signifikan terhadap stres akademik siswa. Stres akademik berpengaruh negatif dan signifikan terhadap motivasi belajar intrinsik. Selain itu, ekspektasi orang tua juga berpengaruh negatif secara langsung terhadap motivasi belajar intrinsik. Hasil pengujian efek tidak langsung menunjukkan bahwa stres akademik memediasi secara signifikan hubungan antara ekspektasi orang tua dan motivasi belajar intrinsik. Temuan ini mengindikasikan bahwa ekspektasi orang tua berpotensi menjadi sumber tekanan psikologis apabila dipersepsikan sebagai tekanan, sehingga berdampak pada menurunnya kualitas motivasi belajar intrinsik siswa. Penelitian ini memberikan kontribusi teoretis dengan memperjelas mekanisme psikologis yang menghubungkan ekspektasi orang tua, stres akademik, dan motivasi belajar intrinsik dalam kerangka Self-Determination Theory. Secara praktis, temuan penelitian ini menegaskan pentingnya pengembangan ekspektasi akademik orang tua yang realistis dan mendukung otonomi siswa guna meminimalkan stres akademik dan meningkatkan motivasi belajar intrinsik.</p>2026-02-28T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Pemikiran dan Kajian Pendidikanhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpkp/article/view/19685THE USE OF NARRATIVE TEXT IN READING FOR VARIOUS GENRES: A QUALITATIVE STUDY ON STUDENTS’ READING COMPREHENSION2026-01-30T08:11:33+00:00Giena Almeidaitsgiee05@gmail.comCecep Aguscecep.prodi.inggris@gmail.com<h1><em>The ability to comprehend reading material is one of the most crucial basic skills in learning English as a foreign language. Reading instruction focuses not only on the ability to recognize letters and words, but also on understanding meaning, text structure, and the relationship between the content of the reading material and the knowledge and experience of the students. One method applied in reading instruction is reading various genres, which introduces students to a variety of texts with diverse characteristics. This study aims to describe the use of narrative texts in teaching reading for various genres and their role in supporting students' reading comprehension skills. This study applies a descriptive qualitative approach with the research subjects being students who take English reading lessons using narrative texts. Data collection methods were conducted through observation, interviews, and document analysis. The findings show that the use of narrative texts helps students understand the main ideas, vocabulary, and text structure more easily through a clear and contextual storyline. In addition, narrative texts also increase student participation and motivation in the reading learning process. Thus, it can be concluded that narrative texts play an important role in improving students' reading comprehension skills and creating a more interesting and meaningful reading learning atmosphere.</em></h1>2026-02-28T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Pemikiran dan Kajian Pendidikanhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpkp/article/view/20090PERAN ORANG TUA DALAM MENDUKUNG AKTIVITAS BELAJAR SISWA SELAMA MASA LIBUR SEMESTER (Studi Deskriptif Pada Siswa Lintas Jenjang)2026-02-11T09:52:29+00:00Ulfatul Auliaulfatulauliya003@gmail.comMarsella Akmauliamarsellaakmaulia28@gmail.comSulfanisulfani020@gmail.comEsi Sunaltiesisunalti2802@gmail.comNur Hikmahnurhkmaawlia15@gmail.comMusdalifaharsyadmusdalifah83@gmail.com<p>Masa libur semester sering kali menjadi tantangan bagi kontinuitas akademik siswa karena minimnya supervisi formal dari pihak sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peran orang tua dalam mendukung aktivitas belajar siswa selama masa libur semester. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif deskriptif dengan teknik survei. Data dikumpulkan melalui kuesioner daring yang melibatkan 32 responden siswa lintas jenjang yang dipilih melalui teknik convenience sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran orang tua secara umum berada pada kategori sangat positif, terutama pada dimensi dukungan afektif dan motivasi (96,9%) serta tingkat kepedulian terhadap perkembangan belajar (100%). Namun, tantangan ditemukan pada dimensi manajerial, khususnya dalam penyediaan waktu khusus belajar (21,9% responden menyatakan tidak tersedia) dan pengawasan penggunaan gawai (18,7% kurang terawasi). Penelitian ini menyimpulkan bahwa meskipun dukungan moral orang tua sangat tinggi, diperlukan peningkatan sinergi dalam pengaturan jadwal belajar yang lebih terstruktur untuk memitigasi risiko learning loss selama masa libur.</p> <p><em>The semester break often poses a challenge to students' academic continuity due to the lack of formal supervision from schools. This study aims to describe the role of parents in supporting students' learning activities during the semester break. The research method employed is descriptive quantitative using a survey technique. Data were collected through an online questionnaire involving 32 students across various education levels selected via convenience sampling. The results indicate that the role of parents is generally in a very positive category, particularly in the dimensions of affective support and motivation (96.9%) and the level of concern for learning progress (100%). However, challenges were identified in the managerial dimension, specifically regarding the provision of dedicated study time (21.9% of respondents stated it was unavailable) and the supervision of gadget usage (18.7% lacked supervision). This study concludes that while parental moral support is exceptionally high, improved synergy in organizing structured learning schedules is required to mitigate the risk of learning loss during holidays. </em></p>2026-02-28T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Pemikiran dan Kajian Pendidikanhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpkp/article/view/19946DETERMINASI FAKTOR INTERNAL DAN EKSTERNAL DALAM PEMBENTUKAN MOTIVASI BELAJAR MAHASISWA GENERASI Z DI BULUKUMBA2026-02-06T01:31:32+00:00Didi Firqatun Najiahfirqatun9@gmail.comNurfadillahnurfadillah749128@gmail.comAndi Fikra Al Wakiaandifikra8@gmail.comAsnila Syarahasnilasyarah061121@gmail.comEgi Adrianegiadrian629@gmail.comMusdalifaarsyadmusdalifah83@gmail.com<p>Transformasi digital dan perubahan sosial-budaya telah membentuk karakteristik belajar mahasiswa Generasi Z dengan dinamika yang semakin kompleks, terutama dalam konteks lokal nonperkotaan seperti Kabupaten Bulukumba. Perbedaan akses, lingkungan sosial, serta nilai budaya lokal berpotensi memengaruhi pembentukan motivasi belajar mahasiswa secara unik. Penelitian ini bertujuan untuk mendeterminasi faktor-faktor internal dan eksternal yang membentuk motivasi belajar mahasiswa Generasi Z di Bulukumba, serta memahami bagaimana mahasiswa memaknai motivasi belajar mereka dalam menghadapi tuntutan akademik di era digital. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif-analitis. Subjek penelitian adalah mahasiswa Generasi Z di beberapa perguruan tinggi di Bulukumba yang dipilih secara purposive. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan dokumentasi pendukung, kemudian dianalisis menggunakan model analisis interaktif yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan dengan triangulasi sumber untuk menjaga validitas data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi belajar mahasiswa Generasi Z terbentuk melalui interaksi dinamis antara faktor internal, seperti visi masa depan, kemandirian belajar, regulasi diri, dan hasrat intelektual, serta faktor eksternal berupa dukungan keluarga, lingkungan akademik, relasi teman sebaya, dan pemanfaatan teknologi digital. Selain itu, mahasiswa menunjukkan kemampuan adaptasi akademik yang baik melalui strategi problem-focused coping dan emotion-focused coping yang terintegrasi dengan penggunaan aplikasi produktivitas dan platform kolaboratif. Temuan ini menguatkan relevansi Self-Determination Theory dan pendekatan expectancy–value dalam menjelaskan motivasi belajar mahasiswa Generasi Z dalam konteks lokal. Penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi teoretis dan praktis bagi pengembangan strategi pembelajaran dan pendampingan akademik yang kontekstual, adaptif, dan berkelanjutan di perguruan tinggi daerah.</p>2026-02-28T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Pemikiran dan Kajian Pendidikanhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpkp/article/view/19688PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK MASA SEKOLAH MENENGAH ATAS DAN IMPLIKASINYA DALAM PEMBELAJARAN PAI(Fisik, Sosial-Emosional, Intelektual (Kognitif/Bahasa), Moral & Agama).2026-01-30T08:35:31+00:00Muhammad Iqbalmhdiqbal0628@gmail.com<p>Masa SMA merupakan tahap remaja akhir yang krusial dengan perubahan fisik pesat, emosi labil, kemampuan kognitif formal (abstrak), dan pencarian identitas moral-agama. Implikasinya dalam PAI menuntut pendekatan dialogis, kontekstual, dan bimbingan akhlak yang mendalam. Guru harus memfasilitasi diskusi kritis, menanamkan nilai moral melalui keteladanan, serta mengaitkan materi agama dengan isu sosial-emosional remaja. Perkembangan peserta didik pada jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) ditandai dengan perubahan signifikan pada berbagai aspek. Secara fisik, terjadi kematangan organ reproduksi dan perubahan bentuk tubuh. Secara kognitif, siswa SMA berada pada tahap operasional formal, yang memungkinkan mereka berpikir abstrak, hipotetis, dan kritis Scribd. Perkembangan sosial-emosional menunjukkan pencarian identitas diri yang kuat, pengaruh teman sebaya, dan emosi yang sering fluktuatif Scribd. Dalam aspek moral dan agama, remaja SMA mulai mengevaluasi nilai-nilai yang ditanamkan sebelumnya, menuju pemahaman agama yang lebih rasional dan personal Scribd.</p> <h1><em>High school is a crucial stage of late adolescence with rapid physical changes, unstable emotions, formal (abstract) cognitive abilities, and the search for moral-religious identity. The implications in Islamic Religious Education (PAI) demand a dialogical, contextual approach and in-depth moral guidance. Teachers must facilitate critical discussions, instill moral values through role models, and relate religious material to adolescent socio-emotional issues. The development of students at the Senior High School (SMA) level is marked by significant changes in various aspects. Physically, reproductive organ maturity and changes in body shape occur. Cognitively, high school students are in the formal operational stage, which enables them to think abstractly, hypothetically, and critically Scribd. Social-emotional development shows a strong search for self-identity, peer influence, and often fluctuating emotions Scribd. In the moral and religious aspects, high school adolescents begin to evaluate previously instilled values, moving towards a more rational and personal understanding of religion Scribd.</em></h1>2026-02-28T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Pemikiran dan Kajian Pendidikan