GERAKAN TRANSNASIONAL HIZBUT TAHRIR INDONESIA: TANTANGAN BAGI IDEOLOGI PANCASILA
Kata Kunci:
HTI, Pasca-Pembubaran, Resistensi Digital, Pancasila, Political Opportunity StructureAbstrak
Pembubaran Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) pada tahun 2017 melalui mekanisme hukum Perppu Ormas menandai tertutupnya peluang politik formal bagi gerakan pengusung khilafah di Indonesia. Namun, hilangnya legalitas organisasi ternyata tidak serta-merta mematikan eksistensi ideologisnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis transformasi strategi gerakan HTI pasca-pembubaran dan implikasinya terhadap ketahanan ideologi Pancasila. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan (library research), penelitian ini membedah dinamika adaptasi gerakan dalam kurun waktu 2020–2025 melalui kerangka Teori Struktur Peluang Politik (Political Opportunity Structure). Hasil penelitian menunjukkan bahwa HTI telah bermetamorfosis dari organisasi massa terbuka menjadi gerakan resistensi hibrida yang memadukan "gerilya maya" di media sosial dan konsolidasi jaringan klandestin (bawah tanah) melalui komunitas informal. Gerakan ini melakukan kamuflase narasi dengan membingkai isu ketidakadilan tanpa menampilkan simbol organisasi secara vulgar, yang secara efektif mengerosi identitas nasional di kalangan generasi muda. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pendekatan represif negara memiliki keterbatasan dalam membendung arus ideologi cair ini, sehingga diperlukan pergeseran strategi dari sekadar pelarangan legal menuju penguatan kontra-narasi holistik dan moderasi beragama di ruang publik digital.



