PERAN ORANG TUA DALAM MEMBENTUK SIKAP ANTI-KEKERASAN PADA ANAK
Kata Kunci:
Pola Asuh Orang Tua, Karakter Anti-Kekerasan, Kekerasan Terhadap Anak, Disiplin Positif, Resolusi KonflikAbstrak
Meskipun upaya dalam kerangka Sustainable Development Goals (SDGs) telah dilakukan, tingkat kekerasan terhadap anak tetap mengkhawatirkan baik secara global maupun nasional, sehingga penguatan pola asuh keluarga menjadi sangat mendesak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran orang tua dalam menanamkan karakter anti-kekerasan serta mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi konsistensi orang tua dalam menerapkan pola asuh tersebut. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif melalui wawancara mendalam dengan lima orang ibu yang memiliki anak usia dini hingga remaja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang tua menanamkan nilai anti-kekerasan terutama melalui komunikasi dialogis, strategi "pendinginan" (cooling down) saat anak emosi, dan keteladanan, yang didukung kuat oleh kesepakatan dengan pasangan, meskipun masih terkendala oleh kemampuan kontrol emosi orang tua itu sendiri. Disimpulkan bahwa pengasuhan empatik yang konsisten dan regulasi emosi merupakan kunci utama dalam mencegah perilaku kekerasan. Oleh karena itu, temuan ini mengimplikasikan perlunya penguatan keterampilan emosional orang tua untuk memutus mata rantai kekerasan dan mewujudkan generasi yang damai.
Despite efforts within the Sustainable Development Goals (SDGs) framework, violence against children remains at an alarming level globally and nationally, necessitating urgent strengthening of family parenting practices. This study aims to analyze the role of parents in instilling an anti-violence character and to identify the determinants influencing parental consistency in implementing these parenting styles. This research utilized a qualitative descriptive method involving in-depth interviews with five mothers having children aged from early childhood to adolescence. The results indicate that parents instill anti-violence values primarily through dialogical communication, "cooling down" strategies during emotional outbursts, and parental modeling, supported significantly by partner agreement, though challenged by parents' internal emotional control. It is concluded that consistent empathetic parenting and emotional regulation are pivotal in preventing violent behavior. Consequently, these findings imply a need for strengthening parental emotional skills to break the chain of violence and foster a peaceful generation.



